Search blog.co.uk

Saatnya Kembangkan Industri Hilir Sawit

by jakarta @ 2008-03-31 - 13:36:22

Oleh : Taufan I. D.

Melihat rumput tetangga yang lebih hijau dari milik sendiri memang membuat kita heran dan timbul hasrat sesegera mungkin untuk menghijaukan rumput sendiri, minimal sama hijaunya dengan punya tetangga. Akan tetapi, kita jarang berpikir bagaimana rumput tetangga itu bisa lebih hijau. Mungkin sikap seperti itu dapat dianalogikan dalam pengembangan industri hilir kelapa sawit di Indonesia saat ini. Pemerintah tampaknya baru menyadari bahwa industri hilir sawit Indonesia jauh tertniggal dibandingkan Malaysia si tetangga.

Suatu ironi memang bila membandingkan industri hilir sawit Indonesia dengan Malaysia. Bagaimana tidak, Malaysia kini tidak lagi semata-mata ekspor dalam bentuk CPO, tetapi tidak kurang dari 90% CPO-nya sudah diolah dan diekspor dalam bentuk oleo pangan maupun oleo kimia. Walaupun akhir-akhir ini memang ekspor CPO-nya kembali meningkat, tetapi sebenarnya bukan langkah sembarangan, karena ekspor CPO itu untuk memasok kebutuhan pabrik pengolahan milik pengusaha Malaysia yang ada di Belanda. Hal ini dilakukan untuk menyiasati kebijakan Eropa yang menaikkan bea masuk bagi produk industri hilir sawit.

Sekedar untuk diketahui, produksi CPO Indonesia pada tahun 2006 telah mencapai 15 juta ton dan yang diekspor mencapai 11,5 juta ton. Dari jumlah ekspor tersebut, sekitar 60% dalam bentuk oleo pangan (olein, stearin, dll) dan hanya sekitar 600-700 ribu ton dalam bentuk oleo kimia dan sisanya tetap dalam bentuk CPO. Malaysia lebih unggul dalam hal ini, dari 13,5 juta ton ekspor CPO-nya, sekitar 90% sudah dalam bentuk oleo pangan maupun oleo kimia. Dalam eskpor oleo kimia, Malaysia jauh lebih unggul dengan jumlah lebih dari 2 juta ton dibandingkan Indonesia yang baru mencapai 700 ribu ton.

Beberapa waktu lalu, pemerintah berniat mengembangkan industri hilir kelapa sawit. Tujuannya, mungkin biar tidak ketinggalan kereta dibandingkan dengan saudara serumpunnya. Alih-alih dapat mengembangkan industri hilir, yang terjadi malah pemerintah menaikkan pajak ekspor CPO dan menetapkan kuota ekspor CPO yang katanya dapat menekan laju naiknya harga minyak goreng dalam negeri. Kebijakan tersebut jelas-jelas tidak efektif karena sampai saat ini harga minyak goreng masih tinggi dan berfluktuasi.

Belum jelas benar dasar apa yang digunakan sehingga dua pilihan tersebut diterapkan. Sebenarnya, menaikkan pajak ekspor CPO ujung-ujungnya akan menekan harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani. Selain itu, menaikkan pajak CPO sama saja mengurangi daya saing sawit Indonesia di pasar internasional. Padahal, untuk mengalahkan Malaysia justru daya saing kita di pasar internasional harus ditingkatkan.

Penetapan kuota ekspor CPO juga bukan Indonesia yang menikmatinya. Hal ini karena harga lokal tertekan, sedangkan harga CPO dunia melambung tinggi (seperti yang diungkapkan Ibu Ida Kartini dalam Pontianak Post, 11 Maret 2008) seiring berkurangnya pasokan akibat dari pembatasan ekspor CPO Indonesia. Yang menikmati naiknya harga itu adalah negara-negara pengekpor CPO lainnya terutama Malaysia.

Adalah benar bahwa harga minyak goreng dalam negeri perlu ditekan dan industri hilir sawit perlu dikembangkan. Namun, kebijakan yang diambil hendaknya sedapat mungkin tidak merugikan industri hulu. Terlebih lagi, sebagian besar pelaku industri hulu adalah petani yang tidak lain adalah golongan yang seharusnya lebih diperhatikan dalam memutuskan suatu kebijakan.

Dengan ditingkatkannya pajak ekspor dan penetapan kuota ekspor, pemerintah bermaksud agar pasokan CPO untuk industri hilir dalam negeri tidak terganggu. Namun yang menjadi permasalahan, apakah industri hilir di dalam negeri sudah siap. Bahkan yang dikhawatirkan, industri hilir tidak sanggup menampung pasokan CPO dalam negeri yang melimpah.

Permasalahan utama industri hilir sawit bukan pada harga dan pasokan CPO, tetapi lebih banyak pada efisiensi industri hilir sawit itu sendiri. Untuk itu, masih banyak cara yang bisa mengefisienkan industri hilir tersebut selain pajak ekspor dan kuota ekspor. Pemerintah dituntut untuk lebih kreatif terutama dalam menyusun insentif-insentif fiskal yang dapat merangsang dan mendorong investor terjun ke industri hilir sawit. Beberapa terobosan yang dapat dilakukan misalnya memberikan keringanan bea masuk untuk peralatan pabrik, keringanan pajak bagi industri hilir dalam kurun waktu tertentu, dan menyediakan infrastruktur.

Disamping itu, pemerintah diharapkan mampu menggairahkan pasar produk olahan dalam negeri. Menurut Dr. Darnoko, peneliti senior dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan (dikutip dari Agro Observer) “Pemerintah seharusnya bisa berinisiatif mengembangkan pasar oleo kimia dalam negeri dengan menargetkan penggunaan oleo kimia untuk industri deterjen misalnya”.

Yang sangat disayangkan, sampai hari ini, pemerintah dinilai belum mempunyai perencanaan ataupun blueprint mengenai pengembangan industri hilir sawit. Pengembangannya harus memperhatikan semua aspek, apakah infrastrukturnya sudah memadai, bagaimana insentifnya, dan bagaimana penerapannya. Pentingnya perencanaan atau blueprint pengembangan industri hilir sawit agar begitu diputuskan dalam suatu kebijakan, semua pihak sudah siap melaksanakannya.

Takut ketinggalan kereta boleh-boleh saja, tetapi kebijakan yang diterapkan haruslah tidak merugikan salah satu pihak. Sedapat mungkin kebijakan yang diterapkan menguntungkan semua pihak.*

*

Perjanjian Ekstradisi RI-CHINA Dipastikan Tahun Ini

Maret 29th, 2008 in International |

Beijing ( Berita ) : Perjanjian ekstradisi Indonesia dengan China dipastikan akan ditandatangani tahun ini mengingat pembahasannya sudah rampung dan tinggal menunggu kesepakatan waktu menteri luar negeri (menlu) kedua negara.

“Semuanya (naskah perjanjiannya. red) sudah selesai dibahas, tinggal kapan kedua menlu bisa bertemu dan menandatangani perjanjian ekstradisi tersebut,” kata Dubes RI untuk China Sudrajat, di Beijing, Sabtu [29/03] .

Tempat penandatangan perjanjian ekstradisi, katanya, bisa dilakukan di Indonesia atau di China tergantung kapan kesempatan kedua menlu bisa bertemu pada waktu yang tepat.

Dubes mengatakan, sekalipun kedua menlu sama-sama sibuk dengan urusannya masing-masing namun penandatanganan perjanjian ekstradisi dipastikan akan ditandatangani tahun ini juga.

Ia mengatakan akan ada beberapa kali kegiatan bilateral yang melibatkan menlu kedua negara, baik di Indonesia maupun di China, dapat bertemu dan dalam pertemuan itu kemungkinan akan “disisipkan” penandatanganan ekstradisi.

Seperti dengan rencana “ASEM Summit” yang akan berlangsung di Beijing, tanggal 24-25 Oktober 2008, yang akan dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Perjanjian ekstradisi tersebut merupakan bentuk kerja sama dari aspek hukum antara kedua negara terkait dengan salah satu pilar Kerja sama Strategis yang ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Hu Jintao, pada April 2007.

Berbagai bentuk kerja sama RI-China selama ini telah berkembang baik tidak saja dari aspek ekonomi, tapi juga dari aspek politik dan keamanan. “Tahun lalu saja kedua negara telah menandatangani kerja sama pertahanan oleh masing-masing menteri pertahanan dan akan mengambil langkah-langkah konkret ke depan,” katanya.

Pemerintah Indonesia dan Pemerintah China pada 7 November 2007 di Beijing, sepakat melakukan kerja sama bidang pertahanan sebagai tindak lanjut dari Kerjasama Strategis yang ditandatangani oleh presiden kedua negara.

Penandatanganan kerja sama pertahanan kedua negara dilakukan oleh Menhan Juwono Sudarsono dengan Menhan China Cao Gangchuan.

Menurut Dubes Sudrajat, kedua menteri telah menandatangani kerja sama di berbagai bidang pertahanan, diantaranya kerjas ama di bidang kelembagaan, kerja sama di bidang teknologi, serta bidang pendidikan dan latihan. “Kedua menhan telah membuat payung kerja sama dan tentunya nanti akan ada tindak lanjut dengan pola dialog, pola seminar yang intinya kedua negara sepakat melaksanakan kegiatan bidang pertahanan,” kata Dubes Sudrajat.

Dalam kerja sama itu, katanya, juga dimungkinkan adanya pembelian senjata yang masuk dalam bidang kerja sama bidang teknologi. ( ant )Parlemen Etnis India
Riau Rawan Sindikat Narkoba Internasional →

Perjanjian Ekstradisi RI-CHINA Dipastikan Tahun Ini

Beijing ( Berita ) : Perjanjian ekstradisi Indonesia dengan China dipastikan akan ditandatangani tahun ini mengingat pembahasannya sudah rampung dan tinggal menunggu kesepakatan waktu menteri luar negeri (menlu) kedua negara.

“Semuanya (naskah perjanjiannya. red) sudah selesai dibahas, tinggal kapan kedua menlu bisa bertemu dan menandatangani perjanjian ekstradisi tersebut,” kata Dubes RI untuk China Sudrajat, di Beijing, Sabtu [29/03] .

Tempat penandatangan perjanjian ekstradisi, katanya, bisa dilakukan di Indonesia atau di China tergantung kapan kesempatan kedua menlu bisa bertemu pada waktu yang tepat.

Dubes mengatakan, sekalipun kedua menlu sama-sama sibuk dengan urusannya masing-masing namun penandatanganan perjanjian ekstradisi dipastikan akan ditandatangani tahun ini juga.

Ia mengatakan akan ada beberapa kali kegiatan bilateral yang melibatkan menlu kedua negara, baik di Indonesia maupun di China, dapat bertemu dan dalam pertemuan itu kemungkinan akan “disisipkan” penandatanganan ekstradisi.

Seperti dengan rencana “ASEM Summit” yang akan berlangsung di Beijing, tanggal 24-25 Oktober 2008, yang akan dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Perjanjian ekstradisi tersebut merupakan bentuk kerja sama dari aspek hukum antara kedua negara terkait dengan salah satu pilar Kerja sama Strategis yang ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Hu Jintao, pada April 2007.

Berbagai bentuk kerja sama RI-China selama ini telah berkembang baik tidak saja dari aspek ekonomi, tapi juga dari aspek politik dan keamanan. “Tahun lalu saja kedua negara telah menandatangani kerja sama pertahanan oleh masing-masing menteri pertahanan dan akan mengambil langkah-langkah konkret ke depan,” katanya.

Pemerintah Indonesia dan Pemerintah China pada 7 November 2007 di Beijing, sepakat melakukan kerja sama bidang pertahanan sebagai tindak lanjut dari Kerjasama Strategis yang ditandatangani oleh presiden kedua negara.

Penandatanganan kerja sama pertahanan kedua negara dilakukan oleh Menhan Juwono Sudarsono dengan Menhan China Cao Gangchuan.

Menurut Dubes Sudrajat, kedua menteri telah menandatangani kerja sama di berbagai bidang pertahanan, diantaranya kerjas ama di bidang kelembagaan, kerja sama di bidang teknologi, serta bidang pendidikan dan latihan. “Kedua menhan telah membuat payung kerja sama dan tentunya nanti akan ada tindak lanjut dengan pola dialog, pola seminar yang intinya kedua negara sepakat melaksanakan kegiatan bidang pertahanan,” kata Dubes Sudrajat.

Dalam kerja sama itu, katanya, juga dimungkinkan adanya pembelian senjata yang masuk dalam bidang kerja sama bidang teknologi. ( ant )

~

“Orang-orang yang Optimis adalah yang benar. Demikian pula halnya dengan mereka yang pesimis. Terserah kepada Anda untuk memilih ingin menjadi bagian dari kelompok yang mana”.

Hidup ini perjuangan, kata orang-orang. Kita harus berjuang untuk memenuhi setiap tantangan dan tuntutan yang datang kepada kita. Perjuangan tersebut tidak akan pernah berhasil selama kita menganggap bahwa kita telah gagal sebelum berusaha - kita telah kalah sebelum berperang. Justeru, hal tersebut tidaklah dapat disebut sebagai suatu perjuangan; karena, apa yang Anda sedang perjuangkan jika Anda sudah merasa tidak memiliki peluang untuk menang? Bagaimana anda dikatakan telah menempuh perjuangan ketika langkah Anda masih terpaku disitu?Kondisi demikian bisa kita katakan sebagai sikap yang pesimis, malas untuk berjuang dan takut untuk menang – sikap yang hanya dimiliki oleh para pecundang!

Jika ditanyakan kepada mereka – yang gagal dalam kehidupannya – apa penyebab munculnya sikap-sikap negatif tersebut, niscaya mereka akan memberikan 1001 alasan yang – dalam kacamata mereka – sangat masuk akal. Ketika kita bertanya kepada para pengangguran yang sekian lama belum memperoleh pekerjaan, misalnya, mereka biasa berdalih : “Jaman sekarang memang susah, persaingan mencari pekerjaan semakin berat... Jika ingin diterima bekerja kita harus punya kenalan ‘orang dalam’…Memang belum rejeki, kali... [dan seterusnya.. dan seterusnya.. .]”. Begitulah, para pecundang itu sudah cukup tenang dengan hanya memberikan sekumpulan alasan ‘logis’ tentang keadaan mereka.

Kita nampaknya tak dapat berbuat banyak untuk mengubah pola pikir, sikap dan pandangan mereka jika mereka telah lebih dulu menyerah pada keadaan dan menyerahkan nasibnya pada penafsiran realitas yang mereka temui. Mengapa? Karena mereka telah memilih menjadi orang yang gagal, orang yang mudah menyerah, dan merasa tak lagi memiliki harapan untuk mewujudkan impiannya. Mereka telah menjadi orang yang pesimis dalam menjalani hidup. Mereka telah menyerah pada takdir –yang mereka buat sendiri. Dan, mereka hanya selalu menanti keajaiban untuk mengubah keadaan mereka –suatu impian utopis yang berlebihan. Namun, anehnya, mereka tetap merasa tidak bersalah – minimal merasa risih – atas keadaan nahas yang mereka alami. Mereka merasa sudah berbuat yang seharusnya, dan mengira bahwa mereka sudah berbuat yang benar. Tragis! Mereka sudah mengungkung dirinya dalam penjara persepsi yang mereka bangun sendiri. Mereka telah membawa kehidupannya (serta masa depannya) ke padang gersang yang kering kerontang. Kasihan...

Di lain pihak, kita melihat orang-orang yang begitu bersemangat menjalani hidupnya... Mereka selalu antusias, energik dan penuh gairah dalam setiap pekerjaan yang mereka lakukan. Mereka adalah orang-orang yang memandang hidup dan masa depannya dengan OPTIMIS, tanpa dihantui keragu-raguan dan ketakutan akan ancaman kehidupan yang mungkin menerjang. Mengapa mereka bisa seperti demikian? Karena mereka telah memilih untuk menjadi pemenang, yang gigih berjuang, diliputi oleh harapan dan keyakinan yang kuat untuk menyongsong impiannya.

Mereka menjalani hidup ini dengan penuh percaya diri, berbekal sikap mental yang positif. Mereka berusaha membuat takdir sejalan dengan keinginannya. Dan, mereka senantiasa bekerja keras dengan tekun dan semangat serta penuh dedikasi untuk mengubah (atau memperbaiki) keadaan mereka. Mereka tak mau berharap pada “keajaiban”, “mukjizat” yang berdasarkan pada mitos dan apatisme sesat. Mereka menganut pragmatisme logis yang diikuti dengan idealisme murni yang mencerahkan.

Uniknya, mereka selalu mau memperbaiki dirinya dari kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuatnya, serta senantiasa merasa tidak tenang atas “kenyamanan-kenyaman an” yang ada –anti kemapanan. Yang ada di benak mereka adalah bagaimana mereka mampu mempersembahkan hasil yang terbaik dalam setiap kerja-karya yang mereka lakoni. Dan itu semua sebisanya mereka wujudkan melalui poros kejujuran, kebenaran dan keadilan. Menakjubkan ! Mereka bagaikan burung yang terbang bebas di hamparan alam yang luas dalam taman kehidupan yang penuh warna. Mereka laksana pelukis abadi, yang menorehkan prestasi demi prestasi berharga di atas kanvas kehidupan yang mewah. Bukan main....

Demikianlah adanya... Orang-orang yang menganut paham fatalistis-skeptis – yakni selalu “menyerah” dan bersikap pesimistik – akan menjalani kehidupan yang sengsara dan kering dari makna. Mereka telah merugikan dan mencelakakan dirinya sendiri, karena telah menempuh jalan kehidupan yang sesat! Adapun mereka yang mengikuti paham pragmatis-idealis – yakni selalu ingin berbuat, bekerja dengan antusias diikui oleh sikap optimistik dan keyakinan hakiki serta kebijaksanaan (wisdom) – akan mendapati kehidupan yang bahagia dan penuh warna. Mereka adalah orang-orang yang beruntung – dan menguntungkan orang lain – akibat meniti jalan kehidupan yang lurus lagi bersih.

Well, kini, terserah kepada kita, apakah kita akan menjadi orang yang celaka, ataukah bahagia?! “Dan Kami telah tunjukkan padanya dua jalan” (Qur'an).

Dua Pendeta Muda

Dua orang pendeta muda datang menghadap pendeta senior. Mereka mempunyai keinginan yang sama dan berniat meminta izin kepada seniornya..

Pendeta muda pertama berkata:

1. Bapa, bolehkan saya makan ketika berdoa…?

“Tidak”, tegas sang pendeta senior, “Berdoa adalah hal yang suci. Bagaimana mungkin anda berbicara dengan Tuhan di saat mulut penuh makanan ?”

Sesaat kemudian, datanglah pendeta yang kedua. Ia meminta hal yang sama dan mengucapkan.

2. Bapa, bolehkan saya berdoa ketika makan?

“Oh, Tentu saja”, jawab sang pendeta senior, “Anda dapat bertemu dengan Tuhan kapan saja”.

Dua pertanyaan diatas, kelihatan sama, ternyata menghasilkan jawaban yang berbeda…

Pada konteks yang pertama, penekanannya terletak pada kata MAKAN, yang kedua pada kata BERDOA.

Kisah di atas menunjukan, bahwa penekanan pada kata-kata yang salah dapat memberikan hasil yang berbeda.

Penerapan pada bisnis …

Biasanya, orang lebih mengingat kata yang pertama didengar. Jadi, ucapkan terlebih dahulu kata yang Anda ingin lawan bicara anda mendengarkannya.

Tips ini dapat Anda gunakan saat berbicara dengan atasan, pelanggan, client, supplier atau siapa saja …

Saya telah mempraktekannya dalam penjualan… semoga bermanfaat…

The Emperor's Seed
« on: March 25, 2008, 12:36:25 PM »

An emperor in the Far East was growing old and knew it was time to choose his successor. Instead of choosing one of his assistants or his children, he decided something different.

He called young people in the kingdom together one day. He said, "It is time for me to step down and choose the next emperor. I have decided to choose one of you."

The kids were shocked! But the emperor continued. "I am going to give each one of you a seed today, one very special seed. I want you to plant the seed, water it and come back here one year from today with what you have grown from this one seed. I will then judge the plants that you bring, and the one I choose will be the next emperor!"

One boy named Ling was there that day and he, like the others, received a seed. He went home and excitedly told his mother the story. She helped him get a pot and planting soil, and he planted the seed and watered it carefully.

Every day he would water it and watch to see if it had grown. After about 3 weeks, some of the other youths began to talk about their seeds and the plants that were beginning to grow. Ling kept checking his seed, but nothing ever grew. 3 weeks, 4 weeks, 5 weeks went by. Still nothing.

By now, others were talking about their plants but Ling didn't have a plant, and he felt like a failure. 6 months went by; still nothing in Ling's pot. He just knew he had killed his seed. Everyone else had trees and tall plants, but he had nothing.

Ling didn't say anything to his friends. He just kept waiting for his seed to grow. A year finally went by and all the youths of the kingdom brought their plants to the emperor for inspection.

Ling told his mother that he wasn't going to take an empty pot but his Mother said he must be honest about what happened. Ling felt sick to his stomach, but he knew his Mother was right.

He took his empty pot to the palace. When Ling arrived, he was amazed at the variety of plants grown by the other youths. They were beautiful, in all shapes and sizes. Ling put his empty pot on the floor and many of the other kinds laughed at him. A few felt sorry for him and just said, "Hey nice try."

When the emperor arrived, he surveyed the room and greeted the young people. Ling just tried to hide in the back. "My, what great plants, trees and flowers you have grown," said the emperor. "Today, one of you will be appointed the next emperor!"

All of a sudden, the emperor spotted Ling at the back of the room with his empty pot. He ordered his guards to bring him to the front. Ling was terrified. "The emperor knows I'm a failure! Maybe he will have me killed!"

When Ling got to the front, the Emperor asked his name. "My name is Ling," he replied. All the kids were laughing and making fun of him. The emperor asked everyone to quiet down.

He looked at Ling, and then announced to the crowd, "Behold your new emperor! His name is Ling!" Ling couldn't believe it. Ling couldn't even grow his seed. How could he be the new emperor?

Then the emperor said, "One year ago today, I gave everyone here a seed. I told you to take the seed, plant it, water it, and bring it back to me today. But I gave you all boiled seeds, which would not grow. All of you, except Ling, have brought me trees and plants and flowers. When you found that the seed would not grow, you substituted another seed for the one I gave you.

Ling was the only one with the courage and honesty to bring me a pot with my seed in it. Therefore, he is the one who will be the new emperor!"

If you plant honesty, you will reap trust.
If you plant goodness, you will reap friends.
If you plant humility, you will reap greatness.
If you plant perseverance, you will reap victory.
If you plant consideration, you will reap harmony.
If you plant hard work, you will reap success.
If you plant forgiveness, you will reap reconciliation.
If you plant openness, you will reap intimacy.
If you plant patience, you will reap improvements.
If you plant faith, you will reap miracles.

But:

If you plant dishonesty, you will reap distrust.
If you plant selfishness, you will reap loneliness.
If you plant pride, you will reap destruction.
If you plant envy, you will reap trouble.
If you plant laziness, you will reap stagnation.
If you plant bitterness, you will reap isolation.
If you plant greed, you will reap loss.
If you plant gossip, you will reap enemies.
If you plant worries, you will reap wrinkles.
If you plant sin, you will reap guilt.

So be careful what you plant now, it will determine what you will reap tomorrow.

The seeds you now scatter will make life worse or better your life or the ones who will come after. Yes, someday, you will enjoy the fruits, or you will pay for the choices you plant today.


 
 

Indonesia Dikenal Terbesar dalam Penebangan Hutan

by jakarta @ 2008-03-27 - 08:05:34

Yogyakarta, (Analisa)

Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid menyatakan sangat prihatin Indonesia saat ini lebih dikenal sebagai negara yang melakukan kegiatan penebangan hutan terbesar di dunia.

Ketika melantik 1.000 Duta Lingkungan Cilik di kawasan Hutan Gumuk Pompeng Kaliurang,Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Minggu, ia menambahkan kini sudah saatnya digalakkan kegiatan penyelamatan lingkungan hutan agar Indonesia terbebas dari kerusakan hutan yang makin meluas.

"Keprihatinan saya dengan makin banyaknya hutan yang hilang dari bumi Indonesia, agak berkurang jika melihat semangat warga Pakem dan Kaliurang yang berada di kaki Gunung Merapi ini mengawali kegiatan penyelamatan hutan," katanya.

Ia mengharapkan agar dalam kegiatan semacam ini menjadi awal upaya penyelamatan hutan di negeri ini, sehingga kerusakan hutan di Indonesia dapat ditekan seminimal mungkin, sebab pada dasarnya tanggungjawab penyelamatan lingkungan dan hutan bukan hanya di tangan pemerintah, namun juga semua warga Indonesia.

"Saya mengharapkan agar semua warga Indonesia mempunyai kepedulian terhadap penyelamatan hutan di negeri ini, dan bisa dimulai dari lingkungan keluarga maupun tempat tinggal. Namun, paling penting mereka memiliki komitmen menegakkan dan menjaga lingkungan hutan,"katanya.

Kegiatan pelantikan duta lingkungan cilik yang diprakarsai oleh Yayasan Jaringan Pemuda Indonesia bersama Pemerintah Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem Kabupaten Sleman,bertujuan untuk menanamkan kesadaran akan kelestarian lingkungan hutan sejak kecil.

Dengan demikian, kegiatan tersebut bisa menjadi pemacu untuk meningkatkan kesadaran bersama masyarakat pentingnya kelestarian hutan,kata Kepala Desa Hargobinagun, Bejo Wirjanto.

Pada kesempatan itu, Ketua MPR Hidayat Nur Wahid menyematkan pin warna hijau bergambar pohon bertuliskan selamatkan hutan kepada perwakilan siswa SD, SMP dan SMA di sekitar Pakem dan Kaliurang. (Ant)

What Does it Take to Succeed at Your Impossible Dream? - Brand Coetze

What Does it Take to Succeed at Your Impossible Dream?
Brand Coetzee

Tim Goodenough"What will you be able to do, knowing the critical success factors that enabled a young man of 27 to secure a highly sought after appointment – at 27? Trail-blazing against the norms and the way it's always been. Would you like to know how he achieved that level of success at that young age?

Then read on, asking yourself:

* "What is my dream appointment, job, position, account, etc.?"
* "What seems similar and what feels familiar?"
* "What will it mean when I identify these?"

Recently Tim Goodenough, a colleague and friend, was appointed to his dream job. A dream he realised over a period of 5 years. Also curious as to what it takes to be appointed in your dream job, I interviewed Tim prior to the start of the 2008 Super 14. Later I also became curious about the possibility of identifying the beginnings of a template for success – in being appointed to our dream positions.

Given this:

* "What position was he appointed to, and what is so special about his appointment? "
* "What makes being appointed to this unique?"
* "Who is Tim Goodenough?"

Tim was appointed as the Mental Conditioning Coach of the Sharks for the 2008 Super 14 Rugby Union competition. In the sport of Rugby Union, the Super 14 International competition is played between provincial franchises of Australia, New Zealand and South Africa the next and highest level of playing rugby is International Tests. In Rugby Union, Super 14 is the second highest level of play to be involved in - there are roughly 8 levels of rugby below Super 14.
What Makes This So Special?

"What was it that got him there?" If it was not luck (being at the right time and the right place) and politics ( it's who you know) and if he is not a prodigy and if he has not been coaching other teams at similar or higher levels before, then what was the secret of his appointment? Where did it start? When did it start? What needed to be done?
Tim's Life-Story --- Before the Dream

Tim is 27 years old and completed his schooling in 1998, in the provincial home of the Sharks. Whilst at school he heard about NLP and decided he wanted to become a NLP Trainer. He did a whole budget, given the expenses involved of attending NLP courses in the USA, with a view to work out what he was aiming for. He realised that with the massive expenses involved, the best he could hope for was to be able to afford a NLP Practitioners qualification by the age of 30 (the first of 3 NLP qualification gradings). Tim graduated from Rhodes University with a BSc (Inf-Sys), majoring in Management, Computer Science and Information Systems in 2002.

During his final year of studies, he started working for Standard Bank, working as a bank teller, getting to know how the systems worked from the inside, so that he could further his chances to get a job with the bank after University. He believes that he needed to know and understand a system before he could hope to change or influence it. In order to be prepared for his targeted interview, Tim held interviews with other companies, even in unrelated fields – so that he could become skilled at becoming a good interviewee. He succeeded in joining Standard Bank as part of their Graduate Programme in 2003, overcoming considerable competition for his post.

While working in the financial centre of South Africa he heard about NS/NLP Practitioners being presented by Anne Renew. He approached her to learn more about what she was doing, and in the true generosity that is a hallmark of Anne's style, she offered to sponsor his first training – a NLP practitioner training, on proviso he did Meta-Coach Training (ACMC) in October 2003 in South Africa.
And so the 5 Year Dream Began

While attending the pre-courses and specifically APG (Accessing Personal Genius), Tim realised Neuro-Semantics is what he wanted to do with sport teams. While still attending ACMC, he followed his conviction and phoned the Sharks, enquiring about the possibility of coaching them. After presenting his marketing blurb and stating that:

"We have the best coaching methodology in the world and we can change you guys!"

They politely told him "No thanks, we have someone doing that." Although disappointed, because he really wanted to work with the Sharks, he immediately thought:

"OK, who's next?"

He then also contacted all the other Super Rugby franchises in South Africa, to see if there was any opportunity for him to work with them. Following up on those first contacts after ACMC, trying to get hold of decision-makers, meaning anyone involved in coaching was his thinking at the time, and explaining what he can do for them, he got told they already have their own Sport Psychologists. Although disappointed at not succeeding, he used the replies as feedback and asked himself what he needed to do and be able to do, in order to be successful in the future. During this experience of questioning why he wasn't successful Tim realised several things.

He realised that he actually did not believe he could do it; if he was to walk in on the Monday morning, he would not be able to do the job, and this created the awareness that:

"If I could not even sell me, there is no-way I could sell them."

He also realised you cannot sell coaching by saying it is the best; you need to find another way to prove the value of coaching.

Tim began to understand that he would have to differentiate himself from Sport Psychologists. He asked himself:

"What is my unique selling point? How can I prove coaching works?"

He then realised that Sport Psychologists are neither the enemy nor the competition. He also asked himself, what are Sport Psychologists doing that is working? What are they doing that is making a difference in teams; how do they fit into the system. He then focused on finding out as much as possible about how they work, the language they use, how they get their work done without receiving the glory, being the unsung guy behind the scenes. This presented a further challenge:

"How do you market yourself, when taking away credit from others is not good for business?"

Tim is the kind of guy when a question gets into his head, it stays there until it gets answered - maybe a day or a week often times much longer than that. He gathered a team of coaches with whom he could debate these aspects pragmatically. A long time ago he learnt that you don't have to be right, you just have to be articulate, because debating a point does not have any bearings on your personal value, it is about the context. Fortunately having friends and colleagues like that, have been one of his biggest value-adds both professionally, but especially personally. Without his business partner Michael, Anne and the support of many others, he believes none of what he has achieved would have been possible.
The Next Decision Step

He stopped approaching teams, firstly because he realised what he was doing was not working and secondly, he realised that he did not have the solution yet as to what will work. Realising that if he focused more on him and he refined his Inner Game strategy, he would also have more to offer. He did not want to make the same mistakes twice.

For the next two years Tim learnt the craft of Coaching - Meta-Coaching individuals to improving their sport performance, in his spare time while still working at Standard Bank. He attended ACMC as often as possible as Team-Leader in order to enhance his skills and articulation of coaching. He asked coaching friends to coach him, fine tuning his own Inner Game and coaching skills. He used his IT ability to develop a business to pay his way to attend all the advanced trainings in Neuro-Semantics. He did certification as Master Practitioner in Neuro-Semantics in March 2004.
Taking Things to the Next Level

With Tim's keen interest in sports, as well as his business partner, Michael Cooper, they set out to model what it takes for sport-persons to excel in their chosen game, interviewing 20 elite sportsmen and woman in South Africa who have excelled on the international sports stage. At the end of 2004 they decided to write a book about their progressing research on sporting excellence. Their strategy that used was, to interview a sportsperson, then for one of the pair to write a chapter after an interview and present it to the other for feedback. Tim reckons this constant feedback - timely, factual, concise and sometimes very brave feedback is one of the secrets of what has been happening to Tim in the last 5 years.

Writing the book enabled Tim to further articulate effectively what it is, what he is doing and how that is different and complementary to Sport Psychology, he learnt an important lesson when working with people new to the field of coaching or NLP/NS.

"If you really know your stuff conceptually, then use their language so you don't have to fall back to jargon. If you have to use your language (technical jargon) then you don't know your stuff well enough."

The caveat to this rule is that:

"Once you are in the system you need to use your own language, to create IP and brand distinction, obviously within reason."
Testing the Systems

Using their research, while writing the book they approached different teams and sports-people for their feedback. One of the main influences was Dr Henning Gericke, the Springboks' Sport Psychologist, with whom Tim built a mutually beneficial relationship, discussing the research Tim was doing and its application with sport teams. During this time and through nurturing this relationship over the following years, Tim enhanced his understanding of the unique requirements of Sport Teams to mentally perform at their best.

In 2005 while doing Trainers Training in Neuro-Semantics and NLP in South Africa, the same venue also hosted one of South Africa's top 5 Soccer Teams, Moroka Swallows. When, in the last days of training, one of his co-trainees suggested to Tim that they should maybe approach the Soccer Coach and Management to enquire about applying Meta-Coaching to working with the team, Tim informed him he had already approached the Soccer Coach and secured a follow-up engagement. He looked at it as an opportunity to test his readiness for approaching sport teams.

During two months of engagements with the Swallows and the subsequent, "no thank you", Tim used the interaction as feedback and all learning. Providing him the opportunity to engage and further understand the unique system a team operates in, he came to the realisation that he needed to create and present a product to the Sport Teams. Following that Tim started working in earnest on just such a product for coaching Sportsmen.
A Seeming Sideways Direction

In 2006 Tim joined the newly created Leadership Development Coaching and Mentoring Unit at Standard Bank. What then happened was 18 months of accelerated development in his coaching and management skills. Learning quickly, even after only one introduction to a concept, has always been one of Tim's personal strengths. Looking back on those 18 months Tim said:

"I could not have learnt more, even if I tried. I also could not have exposed more of my weaknesses and growth areas if I had wanted to."

One of the important lessons that he learnt for himself was:

"If I feel I have something to prove, I am probably not going to perform at my best."

During his work at the Bank, he was continually pushed outside his comfort zone and had to grow and adapt constantly. It was perfect preparation for the job ahead.
Getting Into the Game

In 2006, Tim became aware of the formation of the Castle High Performance Squad for developing rugby players in South Africa; a corporate sponsored project with the aim of accelerating the development of these players. All facets of playing rugby were addressed, including nutrition, physical conditioning and also the mental conditioning of the players. Tim and Michael tendered for the Mental Conditioning function and for many months flew around South Africa to work with these selected players. Although in terms of a coaching business it was not a model that was financially sustainable, it was an opportunity to get involved, get exposure, make a difference and create a demonstration of what they can offer. They used the emerging model from their book research, and fine-tuned the model through further review and debate. This project introduced Tim and Michael to all the major Rugby Provinces, also providing Tim the opportunity to build a working relationship with the Coach of the Sharks, Dick Muir. It was a huge learning curve for Tim providing a unique opportunity to get to understand the systems the teams operate in, even when things did not work out as planned.

In 2007, Tim through his work with the development squad and the relationship he built and nurtured with the Rugby Provinces was in the final stages of negotiating a position with the U/21 squad of Western Province, the major entity in the Stormers Super 14 franchise. Soon thereafter, Western Province released the Senior Coach and appointed the U/21 coach, as caretaker till the end of the season. Given the new and different structures the U/21 coach now worked in, the arrangement between them did not come to fruition. Although disappointed Tim's desire to work with Sport Teams was strengthened with the near-success of breaking into the Rugby coaching world.
Getting on the Map

In the ZoneIn June 2007, Tim and Michael's book on modeling top Sportsmen – "In the Zone, with South Africa's sports heroes" – was published. One of Tim's unique views on their book is:

"It is a wonderful and big business card!"

The book provides a structured process that Individuals or Teams can follow to enhance their chances of excelling in any endeavor they have chosen. The book also provided Tim with his much valued tangible product to present to Sport Teams, regarding the work he proposes to do with such a Team.

Tim promptly gave a copy of the book to the manager and coach of the Sharks, as well as other coaches and people they knew were decision-makers in Sport. Having built and maintained his relationship with the Springboks' Sport Psychologist, Tim seized the opportunity to present Henning Gericke with his book and subsequently each Springbok was given a book before their departure on their successful 2007 Rugby World Cup campaign.
Making the Final Move

In 2007, Tim applied for the mind-work position at the Sharks, presenting the coach with a formal proposal. This previously part-time position has in the years gone by been occupied by a Sport Psychologist. The Sharks Super 14 franchise was looking at continuing to work with Dr Henning Gericke as he was successful with the team during 2006. Dr Gericke however, chose to take a hiatus from the sporting world after the successful world cup in 2007, and recommended that the Sharks appoint Tim. This endorsement and the existing relationship he had with the union added to Tim being appointed for the duration of the Super 14 competition in 2008, to fulfill the task of mentally preparing and managing the Team during the competition.

Asking Tim how will he know when it is a job well done!

Tim: "Winning is the obvious goal from a professional sports team perspective, however as a goal it can be tricky to manage, because winning isn't something that is completely in your control. Too much focus on winning can be counter-productive.

From my side, I need to have done everything in my power to support the team becoming the best they can be, in whatever shape, form, action or lack of action that is."

How do you aim to do this?

Tim: "Become part of the system, and then be flexible enough to be who I need to be in the journey. I know the "In the Zone" model works, I know Meta-Coaching and NS work, I just need to adapt them to fit this unique environment. "

Lastly I asked him, how did he never give-up?

Tim: "If you want something this much, you can't fail. For a long time it was something close to an obsession - it became all consuming even when I relaxed. I also moved my success criteria from an external focus to focusing on small things internally – detail."

I, for one, am keenly anticipating the difference that Tim's work will produce in the Sharks during this year's Super 14 competition, which started in the middle of February. Tim typically aims for continuous hard work and over time a tipping-point 5% enhancement in the Team and individual players.
Summary

Tim's life story and specifically the last 5 years provided me with the following template for success.

» Lock in to your defined dreams with flexibility in execution. Be that NLP qualifications as schoolboy or job at Bank as student, or the dream of Super Rugby Coach – aimed, never waivering, always adapting.

» Act on convictions and use results as feedback. First contacts with Super Franchises, Swallows, Dr Gericke, Castle High Performance Squad, Western Province U/21, Leadership Development Coaching and Mentoring Unit at Standard Bank, In the Zone for Springboks in World Cup Squad – asking insightful questions and then improve whatever needs to be done.

» Get totally involved in your own Inner Game. Best qualifications for the dream, from NS/NLP Practitioner to Master to Trainer, ACMC, Bank's Unit and developing own Inner Skills through self-coaching, as ACMC Team-Leader and as coachee with friends and colleagues – to realise possibilities, making use of support and all available options.

» Get to know the systems you want to work in. Be that as a teller, in interviews, the competition (Sport Psychologists) , sport teams (Swallows), rugby squads (Castle Squad), rugby teams (Super Rugby Franchises) – in order to fit in and then support the team becoming the best they can be

» Develop your unique product. Basic program for Swallows, modeling sport-stars, writing a book, developing a model in the book, formal proposal and plan for Sharks – realising that conceptual talking rarely convinces someone into taking action.

» Keep on testing the market. At first Swallows, then Dr Gericke, then Castle Squad and Standard Bank, and lastly Sharks – taking your own performance and the product up the levels.

What seemed similar, what felt familiar, what sounded like a reflection of your Life story? What not? Yet again - what does it mean to have identified these? How will you apply them in your future now?

As interviewer, I want to use this opportunity to not only congratulate Tim Goodenough, a fellow Meta-Coach, but also to wish him well in his valuable work and thank him for putting Meta-Coaching on the International Sport-Map.
References

In the Zone – with South Africa's Sport Heroes by Tim Goodenough and Michael Cooper.

Pembelaan Mascherano

Liverpool - Javier Mascherano disalahkan dan dihujat karena dianggap terlalu agresif "menyerang" wasit. Sambil meminta maaf pada skuad Liverpool gelandang Argentina itu melontarkan pembelaannya.

Pertandingan Manchester United kontra Liverpool baru berlangsung 35 menit saat Mascherano mengajukan protes terhadap kartu kuning yang diterima Fernando Torres. Mungkin merasa otoritasnya ditentang dan diprotes terlalu keras, wasit Steve Bennett mengeluarkan kartu kuning kedua yang berlanjut dengan kartu merah.

"Saya tak tahu kenapa saya dikeluarkan. Saya bertanya pada wasit apa yang terjadi. Saya tidak mengumpat, saya tidak agresif dan tidak menantangnya. Yang saya lakukan hanya bertanya apa yang terjadi," ungkap Mascherano di Yahoosport.

"Jadi saat dia mengeluarkan kartu kuning kedua dan mengusir saya, saya tidak percaya itu terjadi," lanjut Mascherano.

Meski mengaku hanya bertanya, apa yang dilakukan Mascherano tak pelak mengundang banyak komentar, salah satunya dari Sir Alex Ferguson, yang intinya menyalahkan mantan pemian West Ham United itu.

Yang memberatkan Mascherano adalah tindakannya mendatangi wasit padahal saat itu jaraknya terhitung cukup jauh, usaha Xabi Alonso yang coba menghalanginya juga tak digubris. Apalagi setelah itu dia menolak meninggalkan lapangan hingga Rafael Benitez turun tangan.

"Saya meminta maaf pada teman-teman karena kartu merah itu berarti kami tinggal 10 orang dan membuat semuanya menjadi lebih sulit," sesal pesepakbola 23 tahun itu.

Karena tindakannya itu Mascherano kini terancam dijatuhi sanksi yang lebih berat dari sekedar larangan bermain satu kali. Namun berapapun jumlah larangan bertanding yang dijatuhkan pada Mascherano, itu hanya berlaku di kompetisi lokal yang berarti Liverpool bisa memainkannya menghadapi Arsenal di perempatfinal Liga Champions. (din/ian)

Riise Jajaki Pintu Keluar Anfield

Podgorica - Kebijakan rotasi Rafael Benitez membuat John Arne Riise merasa amat terpinggirkan. Tak ayal full-back tersebut pun mulai berpikir tentang masa depan di luar Liverpool.

Sudah bukan rahasia lagi kalau Benitez menerapkan strategi bongkar-pasang susunan pemain alias rotasi. Hal itu rupanya membuat Riise jengah karena merasa tak lagi menjadi komponen integral dalam laju "Si Merah".

"Saya tak senang dengan situasi ini. Saya biasanya bermain di semua partai sampai 80 persen, namun kalau saya tak bermain sebanyak yang saya inginkan, saya harus membuat keputusan musim panas ini apakah pergi atau tidak. Saya harus melihat dan menanti apa yang akan terjadi," ungkap Riise seperti dilansir Goal, Rabu (26/3/2008).

Meski merupakan salah satu penampil terkonsisten Liverpool beberapa musim belakangan, bek Internasional Norwegia tersebut mendapati dirinya tak jarang duduk di bangku cadangan, digeser Fabio Aurelio yang beroperasi di posisi bek kiri.

"Bikin frustrasi tak mengetahui apakah Anda akan bermain atau tidak di laga selanjutnya," ketus Riise.

Sepertinya pemain berusia 27 tahun tersebut memang sudah patah arang menghadapi nasib di klub Merseyside tersebut. Tak heran ketika ditanyakan Setanta Sport News seputar kemungkinan ditawarkannya kontrak baru di Liverpool, Riise menjawab sambil lalu.

"Mungkin dia (Benitez) akan menawarkan kontrak baru kepada saya, mungkin juga tidak," tutup dia.

Mempersiapkan Kilau Sesungguhnya

Tak sampai tiga bulan lagi pesta sepakbola Eropa akan digelar. Seluruh peserta tengah bersiap melakukan pemanasan penting. Bahkan, laga Rabu ini dikatakan tergolong krusial. Para pelatih mempersiapkan kilau timnya agar mencapai puncak saat kick-off, 7 Juni 2008.

Kadang butuh sebuah kegagalan untuk mengetahui di mana letak kesalahan sesungguhnya. Tentu pengalaman Inggris sebuah pengecualian. Namun, para pelatih juga dihadapkan pada harapan besar pendukung yang ogah melihat timnya kalah meski pertandingan itu berstatus uji coba.

Begitu pula publik Inggris yang ingin melihat fondasi The Three Lions bersama Fabio Capello. Pemanggilan David Beckham untuk menjajal Prancis punya nilai jual tinggi yang akan membuat setiap keputusan Capello di Paris semakin disorot.

Apakah Capello siap menghadapi pers dan publik Inggris bila timnya tampil buruk dan kalah di Prancis?

Lalu, lihatlah kondisi Spanyol. Pelatih gaek Luis Aragones (69) dalam situasi serba-tak enak. Selain desakan sejumlah pihak soal pemilihan pemain, rumor yang beredar adalah kasak-kusuk pengurus federasi sepakbola negara itu untuk mencari pelatih baru.

Aragones sudah divonis gagal sebelum kejuaraan dimulai? Itu tak penting bagi Fernando Torres dkk. Rabu ini di kota Elche, mereka menjamu Italia, sang juara dunia. Desas-desus perseteruan Aragones dengan sebagian pengurus RFEF tak akan membantu Tim Matador menyuburkan keyakinan. Tapi, kemenangan atas Italia bisa membantu persiapan tim berjuluk La Furia Roja.

Perubahan Jerman

Situasi berbeda terjadi pada Jerman sebagai salah satu kandidat dan memang selalu digolongkan begitu. Pelatih Joachim Loew telah memupus keraguan setelah kepemimpinan Juergen Klinsmann. Ia berhasil mempertahankan perubahan yang telah dilakukan Klinsi di Piala Dunia 2006.

Loew membuka pintu lebar-lebar bagi pemain debutan. Selama 12 bulan pertama bertugas, Loew sudah memanggil 13 debutan! Ini rekor di tim nasional. Ikut di dalamnya Mario Gomez, striker Stuttgart yang mentas untuk partai internasional pertama kali pada 7 Februari 2007.

Jerman kini bukan lagi tim yang menunggu lawan melakukan kesalahan. Tim Panser tampil lebih cepat, kreatif, dan menunjukkan gairah bermain. Mereka kembali disegani dunia.

Lalu, muncullah hal unik muncul di Jerman setelah Germany 2006. Tim nasional ternyata lebih populer ketimbang klub. Kenapa? Swiss akan menemukan jawabannya di kota Basel (26/3) saat menjamu Michael Ballack dkk.

Tuan rumah yang lain, Austria, juga akan mendapat pelajaran mahal dari Belanda di Wina. Kata Marco van Basten, timnya sangat menarik untuk ditonton. Tapi, menurut Josef Hickersberger, kemenangan atas Oranje bisa memulihkan rasa percaya diri Austria setelah ditekuk Jerman 0-3 awal Februari di Wina.

Bagaimana bila Hickersberger salah? Sekali lagi, butuh sebuah kegagalan untuk bisa membangun tim semakin baik. Itu juga berlaku bagi peserta lain. Mengganti pelatih dalam hitungan 70-an hari jelang kejuaraan jelas bukan sikap bijak. (Weshley Hutagalung)

Domenech Bawa Dendam

Raymond Domenech, menyimpan dendam tahun 1999. (Foto: AFP)
Di Grup C Euro 2008, Prancis kembali berhadapan dengan Italia. Ini bukan melulu soal kegagalan Les Bleus di final Piala Dunia 2006, tapi cerita Raymond Domenech yang mempertegas dirinya anti terhadap Italia. Aneh, sikap ini menyentuh pemain yang berlaga di Serie A.

Dari daftar skuad yang dipersiapkan untuk menghadapi Prancis memang tak tercantum nama David Trezeguet. Ketajaman Trezeguet bersama Juventus seolah tak menarik minat Domenech. Padahal, Trezegol kenal karakter Gianluigi Buffon, kiper Juve yang akan dihadapi Prancis nanti.

Juga Ludovic Giuly, sayap AS Roma yang masih layak menjadi pemain pengganti. Kabarnya, Domenech punya masalah pribadi dengan mantan pemain Barcelona itu.

Tapi, sang pelatih mencoba mengikis pendapat dirinya anti pemain Liga Italia dengan mencantumkan nama Sebastian Frey (Fiorentina), Philippe Mexes (AS Roma), Patrick Vieira (Internazionale) dalam daftar 39 pemain yang dipanggil. Jumlah ini akan menyusut menjadi 23 orang kala bersua Ekuador, Paraguay, dan Kolombia sebelum berlaga di Euro 2008.

Benarkah Domenech masih menyimpan luka kegagalan Prancis dalam partai play-off Olimpiade 2000? November 1999, saat Domenech menukangi timnas U-21 alias Les Bleuets, ia pernah menuding Italia menyogok wasit sehingga menggagalkan timnya tampil di Sydney 2000.

Pada jumpa pertama, 14 November, Prancis bermain 1-1 saat menjamu Italia. Nah, yang selalu dituding Domenech adalah kejadian di Taranto, 3 hari kemudian. Setelah unggul 1-0 pada menit ke-2 lewat Thierry Henry, Italia menyamakan skor jadi 1-1 melalui Commandini (59’). Petaka itu muncul ketika Andrea Pirlo mengubah keadaan pada menit 110. Skor 2-1, Prancis tersingkir.

Pelatih Italia U-21 kala itu, Marco Tardelli, dengan tegas menyindir Domenech yang dituding tak sportif menerima kegagalan. “Kami memainkan partai home and away, bagaimana mau mengatur wasit?” begitu komentarnya pada World Soccer.

Hingga kini, Domenech tak mau mencabut tuduhan tahun 1999 itu. Perseteruan Domenech dengan Italia jelas akan memanaskan Euro 2008. (wesh)


 
 
:: Next Page >>