.................................
Hati Yang Penyayang
MARIO TEGUH
Bila hatimu penyayang,
mudah bagimu untuk merasa kasihan.
Pedih orang lain adalah pedih hatimu.
Dan engkau semakin merasa pedih
melihat kesulitan orang
yang tidak merasakan kesulitannya.
Bila hatimu penyayang,
engkau pasti perduli.
Dan dalam perduli mu,
engkau mengharapkan perbaikan
bagi mereka yang kau kasihani.
Dan karena telah lama engkau bersedih
dengan rasa kasihan di hatimu,
rasa sedih mu tumbuh
menjadi penuntutan kepada alam
untuk keadilan bagi yang kau kasihani.
Dalam permintaan dan doa mu,
alam merasakan sungguh dan marah mu
atas ketidak-seimbangan perlakuan
yang menjadikan kehidupan saudara-saudaramu itu
memedihkan hatimu.
Alam tersenyum haru kepadamu,
karena walaupun engkau tidak mengerti
alasan di balik semua keputusan alam,
engkau tetap menuntut alam
untuk berlaku adil dan berkasih sayang.
Dan alam akan berkata kepadamu,
karena hatimu yang penyayang:
Ketahuilah
bahwa Aku tidak akan berlaku tidak adil;
tidak kepada mu, tidak kepada mereka,
tidak kepada siapa pun,
dan tidak kepada apa pun.
Aku tidak harus mempertahankan
dan menjelaskan keadilan-Ku
kepada siapa pun,
kecuali kepada engkau
yang hatinya penyayang.
Agar hatimu damai …,
ketahuilah
bahwa ada pada saudaramu itu
hal-hal yang harus mereka perbaiki
untuk memantaskan diri mereka
bagi kehidupan yang lebih baik.
Bila mereka berlama-lama
dalam pikiran, sikap, dan tindakan yang salah;
maka hukum sebab dan akibat
yang Aku adakan bagi alam ini –
akan menetapkan mereka dalam keadaan
yang tidak membahagiakan mereka.
Sebenarnya hukum-Ku sangat buta,
tetapi sangat setia.
Dia tidak melihat mu dan mereka,
sehingga dia tidak bisa membedakan kalian.
Tetapi dia setia kepada perintah-Ku
untuk mendahulukan keberpihakan kepada kebaikan.
Bila engkau ingin diperlakukan beda,
maka bedakanlah sebab
yang kau masukkan kedalam hukum-Ku.
Bila yang kau pikirkan - baik,
yang kau sikapkan – baik,
dan bila yang kau lakukan – baik;
sebetulnya engkau telah menjadi sebab baik
bagi akibat yang menjadi hak mu.
Ketahuilah bahwa kehidupan adalah akibat.
Akibat
yang menjadi sebab
bagi kehidupan mu yang berikut.
Dan engkau,
beserta pikiran, sikap, dan perilaku mu,
adalah sebab dari dua kehidupan itu.
Bila engkau tidak menyukai kehidupan mu sekarang,
maka berpalinglah dengan mata, telinga, dan hati
yang lebih ramah kepada pengertian baik.
Bersedih-hati-lah sebentar.
Salahkan-lah segala sesuatu sebentar.
Marah dan menangis-lah sebentar.
Setelah itu,
tidak harus setelah air mata mu kering,
pikirkanlah dengan jernih …;
bila kehidupan adalah akibat
dan engkau adalah sebabnya –
berarti keadaan yang menyedihkan mu ini
masih akan berlanjut,
kecuali bila engkau menghentikan dirimu sendiri
dari menjadi sebab
bagi kepedihan mu sendiri.
Tidak ada yang terjadi pada mu,
bahkan yang terburuk
dari yang Aku ujikan untuk mu,
yang tidak akan diubah oleh hukum Ku
untuk menjadi surga mu,
bila engkau mendahulukan sikap baik,
pikiran baik, dan perilaku baik.
Tidak ada dalam niat Ku
kecuali untuk memuliakan mu.
Maka,
masih ragu kah engkau
bahwa
engkau adalah penyebab
bagi kualitas kehidupan mu sendiri?
Sudah terasa kah bagimu sekarang?
Bahwa baru dengan mengerti saja –
mengenai keteraturan dan keadilan hukum-Ku,
lebih mudah bagimu untuk menenangkan hatimu?
Lalu,
masih tetap dengan hati yang penyayang,
engkau melanjutkan tuntutan mu kepada alam.
Bagaimana dengan saudara-saudaraku
yang belum mengerti?
Mengapakah mereka yang belum mengerti –
juga terharuskan untuk hidup dalam kesulitan?
Bagaimana bila belum datang kepada mereka
ilmu dan petunjuk jalan?
Bila mereka tidak tahu,
mengapakah mereka juga disertakan
dalam kebutaan hukum alam?
Alam tersenyum haru kepadamu,
dan engkau mendengar kata-kata ini:
Engkau yang hatinya penyayang,
ketahuilah bahwa kasih sayang di hati mu –
yang menjadi penyebab kepedihan hatimu itu,
adalah penyebab percakapan mu dengan Ku.
Dan ketahuilah,
bahwa Aku tidak pernah berbicara sedekat ini dengan mu,
kecuali dalam pembicaraan mengenai kesungguhan mu
untuk menolong saudara-saudaramu
yang sedang dalam kesedihan, kesulitan,
dan kegelapan.
Aku ijinkan engkau berdekat-dekat seperti ini,
karena keharuan mu dan keharuan Ku - sama
tentang kepedihan saudara-saudara mu,
dan niat mu dan niat Ku - sama
untuk mendatangkan kebaikan
dalam kehidupan mereka.
Engkau yang hatinya penyayang,
Aku menyayangi mu
sedalam kepedihan hati mu
atas penderitaan saudara mu.
Dan karena engkau telah bertanya,
dan bertanya dari sedekat ini,
maka Aku inginkan ini menjadi keteguhan mu;
bahwa
bila engkau bertanya
dan menuntut kasih sayang dan keadilan Ku,
karena kepedihan mu dalam menyaksikan
kelemahan kehidupan saudaramu;
maka Aku akan membuat mu tahu
apa yang ada pada mereka
yang menjadi penyebab bagi kekurangan,
kesulitan, dan kelemahan hidup mereka.
Bila engkau berkasih sayang,
Aku akan membuat mu tahu.
Lalu,
ketahuilah juga bahwa di antara engkau
yang dekat dengan Ku,
ada jiwa yang Aku banggakan.
Yaitu dia yang setelah Aku membuatnya tahu;
mengupayakan perbaikan pada sikap,
pikiran, dan perilaku saudara-saudaranya –
sebagai upaya untuk meningkatkan
kualitas hidup mereka.
Dia tidak hanya memberi yang tidak mereka miliki,
tetapi terutama – mengupayakan hilangnya penyebab
dari kekurangan dan kelemahan mereka.
Dan karena dia adalah jiwa terkasih,
maka Aku besarkan hatinya dengan perubahan-perubahan
yang aku ijinkan melalui upayanya.
Dia selalu membuat-Ku tersenyum haru,
karena dia akan menari-nari gembira,
karena upayanya untuk mendatangkan perubahan
yang bernilai dan membahagiakan –
telah Aku restui.
Dia berterima kasih kepada Ku.
Dia mengenali
bahwa Aku lah yang mengijinkannya berilmu,
bahwa Aku lah yang membuatnya tahu
apa yang diketahuinya,
bahwa Aku lah yang mengijinkan kekuatan
bagi keberhasilan upayanya,
bahwa hanya Aku lah yang berhak
untuk mendatangkan perubahan
pada kualitas hidup seseorang,
dan
dengan tulus dan rendah hati
dia berbahagia dengan perannya
yang hanyalah sebagai penyampai berita.
Dia – jiwa kecintaan Ku.
Dan tidak diketahuinya,
bahwa sebetulnya telah Aku wakilkan
di dalam kemampuannya – sedikit kewenangan-Ku
untuk menyebabkan perubahan.
Tetapi dia memiliki hati yang penyayang,
sehingga apa pun yang Aku wakilkan kepadanya,
tidak akan menjadikannya berbeda
dari diri sederhana yang menangis hatinya,
saat dia datang kepada Ku
dengan keluhan dan tuntutannya dulu;
karena dari semua yang disayanginya –
dia paling menyayangi Ku.
Dia yang hatinya penyayang, … Aku sayangi.
Hati yang penyayang
adalah juga bagian dari hati-Ku,
karena
Aku adalah Yang Maha Penyayang.
Maka cukupkanlah kasih sayang-Ku
sebagai tujuan hidup mu.
Engkau yang hatinya penyayang,
datang mendekatlah manja kepada-Ku.
Damaikanlah hati mu. Aku menyayangi mu.
Aku, Tuhan mu.
Jalan raya menuju keindahan hidup kita
adalah pengindahan kehidupan orang lain.
Semakin besar keindahan kehidupan
yang kita sebabkan
kepada semakin banyak orang,
akan semakin indah kehidupan kita.