Menguji Nyali Rijkaard
Membayangkan aksi Ronaldinho, Lionel Messi, Samuel Eto’o, dan Thierry Henry dalam satu tim bakal membuat bulu kuduk lawan berdiri sebelum bertanding. Pertanyaannya adalah cukup besarkah nyali Frank Rijkaard untuk memainkan The Fantastic Four secara berbarengan?
Pertanyaan satu ini tak hanya menyelimuti media, tapi juga tengah berkecamuk dalam kepala kuartet di atas tadi. Tak percaya? Tengok saja bagaimana intensitas Ronaldinho dalam melahap waktu demi waktu di sebuah sesi latihan. Ini suatu bukti bahwa ia ogah kehilangan posisi inti.
Dinho sempat kehilangan gairah kompetisi karena tak ikut Brasil di Copa America baru lalu. Jadi, jika bukan karena khawatir kehilangan posisi starter, bisa jadi Dinho memang menambah porsi latihan untuk mengejar status fit 100% menjelang Primera Liga bergulir.
Saat ini, Dinho sudah bergabung dengan skuad The Catalans, yang akan melakoni sejumlah partai pramusim di Skotlandia. Ia bertolak bareng Eto’o dan Henry. Sementara itu, Messi diizinkan pulang ke Argentina setelah terjun di Copa bersama Pasukan Tango.
Artinya dalam rangkaian pretemporada itu, yang akan dilanjutkan dengan kunjungan ke Beijing, Tokyo, Hong Kong, lalu Muenchen, Rijkaard tak mungkin menjajal kuartet mautnya. Paling banter Los Fantasticos akan merumput bareng di Trofeo Joan Gamper kontra Internazionale.
Meski level partai yang dimainkan untuk mengenang mendiang pendiri dan Presiden Barcelona era 1908-1923 tersebut tergolong prestisius, mengingat sang lawan adalah juara bertahan Serie A, tetap saja ujian nyali sesungguhnya baru akan tersaji pada jornada pembuka La Liga.
Murni Masalah Efektivitas
Dalam laga versus Racing Santander itu, gambaran asli Barca untuk mengarungi kompetisi penuh akan terbentuk. Beranikah Rijkaard mengabulkan “permintaan” Barcelonistas? Andaikan berani, cukup bijakkah langkah sang entrenador memilih strategi ini?
Jika bicara soal kadar kekentalan sisi ofensif, tentu kuartet ini punya kapasitas membubung untuk menebar ancaman. Namun, efektif atau tidak, ini masalah yang murni berbeda. Selain saling berebut posisi, keempatnya masih sangat mungkin bertarung dalam eksekusi bola mati.
Dinho, yang selama ini menjadi primadona (itu pun setelah “berdebat” dengan Xavi Hernandez dan Deco Souza) dalam urusan free-kick, akan mendapat pesaing pada diri Henry. Kinerja Dinho juga bakal terganggu lantaran tabiat eks kapten Arsenal ini, yang selalu menyisir sisi kiri lapangan.
Rijkaard jelas sulit mengubah skema 4-3-3 yang kadung mengakar selama empat musim terakhir ini. Lantas siapakah yang akan dikorbankan kalau Henry mendapat prioritas starter? Satu gelandang untuk mengakomodasi Henry di depan? Ini akan menggeser Dinho ke tengah, tepat di belakang trisula.
Namun, sekali lagi, pantaskah perjudian ini dilakukan jika keseimbangan lini tengah jadi terabaikan? Hanya Meneer Rijkaard yang punya jawabannya. (Sapto Haryo Rajasa)


