CANTIK BETIGA
http://www.kompas. co.id/kompas- cetak/0707/ 28/humaniora/ 3722137.htm
============ ========= ===

Jakarta, Kompas - Sejarawan Belanda, Harry A Poeze, Jumat (27/7) di
Jakarta, menjelaskan, Tan Malaka ditembak mati tanggal 21 Februari
1949. Selama ini kematian Pahlawan Nasional Tan Malaka itu menjadi
misteri sejak lebih dari setengah abad.

"Dia ditembak atas perintah Letnan Dua Soekotjo dari Batalyon Sikatan
bagian Divisi Brawijaya, yang terakhir berpangkat brigadir jenderal
dan pernah menjadi Wali Kota Surabaya. Data tersebut diperoleh dari
kesaksian pelbagai pihak, seperti rekan gerilya Tan Malaka, anggota
Batalyon Sikatan, keterangan warga desa dan tokoh-tokoh angkatan
1945," kata Poeze yang memulai riset Tan Malaka sejak tahun 1980
dengan menemui banyak tokoh nasional.

Harry Poeze yang juga Direktur KITLV Press (Institut Kerajaan Belanda
untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara) menambahkan, Tan Malaka
ditembak di Desa Selo Panggung di kaki Gunung Wilis di Jawa Timur.
Eksekusi yang terjadi selepas agresi militer Belanda ke-2 itu didasari
surat perintah Panglima Daerah Militer Brawijaya Soengkono dan
komandan brigade-nya, Soerahmat.

Petinggi militer di Jawa Timur menilai seruan Tan Malaka yang menilai
penahanan Bung Karno dan Bung Hatta di Bangka menciptakan kekosongan
kepemimpinan serta enggannya elite militer bergerilya dianggap
membahayakan stabilitas. Mereka pun memerintahkan penangkapan Tan
Malaka yang sempat ditahan di Desa Patje.

Sebelum ditangkap, Tan Malaka memimpin gerilya melawan Belanda di Desa
Belimbing. Dia juga mengimbau seluruh rakyat melakukan perjuangan
semesta melawan Belanda, seperti yang dilakukan Panglima Besar
Jenderal Soedirman.

Tan Malaka, yang pada bulan September 1945 pernah disiapkan Bung Karno
untuk memimpin Indonesia jika Proklamator mengalami bahaya sehingga
tidak mampu bertugas, sempat lolos dari tahanan bersama 50 gerilya
anti-Belanda yang dipimpinnya. Namun, Tan Malaka yang berpisah dan
bergerak dalam rombongan kecil berjumlah enam orang ditangkap Letnan
Dua Soekotjo di Desa Selo Panggung yang berakhir dengan eksekusi.

Menurut Poeze, Menteri Sosial Republik Indonesia sudah setuju untuk
mengerahkan tim forensik mencari sisa jenazah Tan Malaka. Tan Malaka
sempat dijuluki "Bapak Repoebliek Indonesia" selepas medio 1920-an
karena menerbitkan buku Naar Repoebliek Indonesia (Menuju Repoebliek
Indonesia) dalam Bahasa Belada dan Melayu tahun 1924 di Kanton
(sekarang Guangzhou), China. Diketahui, ratusan jilid buku tersebut
diselundupkan ke Hindia Belanda dan diterima para tokoh pergerakan,
termasuk pemuda Soekarno. Walhasil, Tan Malaka pun dikenal sebagai
Bapak Repoebliek Indonesia jauh sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945.

Fakta tersebut ditampilkan dalam tiga jilid buku berjudul Tan Malaka
Verguisd en Vergeten (Tan Malaka Dihujat dan Dilupakan). Edisi bahasa
Indonesia buku tersebut akan diterbitkan enam jilid selama dua tahun
hingga 2009, dimulai Senin pekan depan. (ONG)