Satu Ofensif Multi-Posisi
Sesaat sebelum melakoni partai Trophee des Champions melawan Sochaux akhir pekan ini, bos Lyon, Alain Perrin, mengisyaratkan perburuan pemain yang dilakukan pihaknya mendekati akhir. Hanya satu pemain lagi yang diincar, walau sebenarnya OL membutuhkan dua lagi.
Perrin, yang menggantikan Gerard Houllier setelah 2006/07 membawa Sochaux menjadi kampiun Piala Prancis, menyebut penutup pergerakan mereka pada jendela transfer bisa berupa seorang striker atau sayap kiri.
Tatapan mengarah ke diri pemain multiposisi, Jose Antonio Reyes. Pemain ini mampu menjalani dua peran yang disebut Perrin tadi dengan baik. Apalagi, klub yang dibela sang pemain musim silam, Real Madrid, belum kunjung memenuhi harapan si pemain untuk mengikatnya dengan kontrak permanen setelah masa peminjaman semusim.
“Saya akan menyambut gembira bila ia datang. Akan menarik pemain dengan level kemampuan seperti dirinya bergabung dengan kami. Bila ingin memainkan 4-4-2, kami butuh penyerang. Apalagi, Reyes punya kaki kiri yang mantap hingga bisa tampil baik juga di kiri. Kenyataannya ia bisa bermain di semua sisi di depan,” ucap Perrin pada L’Equipe.
Kontak yang dilakukan Lyon dengan kubu Reyes berlangsung positif. Agen sang penyerang, Jesus Rodriguez de Moya, mengatakan eks Arsenal dan Sevilla ini mempertimbangkan serius penawaran juara bertahan Ligue 1 ini.
Solusi Bek Tengah
Kesempatan Les Gones menggamit penentu titel Madrid musim lalu tersebut lumayan besar. Reyes menjadikan El Real sebagai prioritas pertama. Namun, Lyon menjadi prioritas selanjutnya setelah juara La Liga itu tidak mengajukan tawaran.
Lyon berkali-kali dihubungkan dengan beberapa penyerang menyusul minimnya amunisi tangguh di depan. Incaran sebelumnya, Fernando Morientes, sudah menegaskan tidak ingin hijrah dari Valencia. Reyes bisa jadi akan berseragam Lyon musim depan mengingat ambisi Presiden Jean-Michel Aulas menjadikannya target setelah Morientes.
Les Gones memang tinggal memfokuskan perburuan mereka untuk sisi depan. Bek sentral yang sebelumnya disebut pelatih paruh baya itu masih perlu pemain anyar sudah mendapat solusi dari Korea.
“Tiga pemain yang ada (Mueller, Cris, dan Squillaci) akan bersaing ketat. Pemain muda, Sandy Paillot, tampil bagus di Peace Cup. Ia akan menjadi bek tengah pilihan keempat. Mathieu Bodmer pun bisa menjadi jawaban,” sebut Perrin.
Tanpa banyak perekrutan, OL memang akan berharap banyak pada pemain-pemain yang ada. Reyes akan menambah paten kekuatan mereka. (Christian Gunawan)
Korea vs Jepang 0-0 (6-5 a.p.)
Pertahanan Jadi Kunci
Dalam sepakbola terdapat adagium “menyerang adalah pertahanan terbaik!” Tapi, Korea menggunakan filosofi sebaliknya dalam perebutan peringkat ketiga Piala Asia di Stadion Gelora Sriwijaya, Palembang, Sabtu (28/7).
Pertahanan solid Taeguk Warriors, ditambah penampilan heroik kiper Lee Woon-jae, membuat Jepang mati kutu dan takluk lewat adu penalti. Setelah berakhir 0-0 dalam waktu normal plus perpanjangan waktu, Korea unggul 6-5 dalam fase adu penalti.
Disaksikan sekitar 20.000 pasang mata, termasuk Presiden FIFA, Sepp Blatter, bos AFC, Mohamed bin Hammam, Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid, dan Gubernur Sulsel, Syahrial Oesman, lini belakang Korea, yang digalang kuartet muda Kim Jin-kyu, Kim Chi-woo, Kang Min-soo, dan Oh Beom-seok, tak mampu ditembus Naohiro Takahara dkk.
Padahal, para pemain Samurai Biru mendikte pertandingan di sepanjang babak pertama. Praktis, Korsel cuma bisa sesekali mengandalkan serangan balik lewat penyerang sayap lincah, Lee Chun-soo di kanan dan Yeom Ki-hun di kiri.
“Jepang memang lebih bagus di awal babak pertama. Kami dibuat kewalahan,” ujar pelatih Pim Verbeek seusai laga. “Di menit ke-20 baru kami mulai bisa mengontrol gim ini. Sayang ada insiden kartu merah yang mendadak mengubah jalannya pertandingan.”
Pada menit ke-56 wasit Ali Al-Badwawi memang mengeluarkan stoper Kang Min-soo--yang sudah terkena kartu kuning di menit ke-10--karena dianggap menyikut Takahara.
Keputusan tersebut langsung diprotes Verbeek karena persis beberapa detik sebelumnya pelanggaran Takahara terhadap Kim Chi-woo dibiarkan oleh pengadil berkepala plontos tersebut. Yang parah bukannya minta masukan hakim garis untuk merevisi keputusan, wasit asal Uni Emirat Arab itu malah mengusir Verbeek dan asistennya, Hong Myung-bo.
Psikologis
Kendati bermain dengan 10 orang, Si Merah tetap mampu meredam serbuan sang juara bertahan yang sudah menambah daya gedor dengan memasukkan bomber Hisato Sato dan Naotake Hanyu. Di perpanjangan waktu, pelatih Ivica Osim, yang mulai terlihat putus asa, mengganti Takahara dengan Kisho Yano.
Gol yang diharapkan pun tak kunjung lahir, meski peluang emas kian menggunung. Tendangan keras Hanyu di menit ke-116, misalnya, masih membentur kaki Kim Chi-gon, sementara voli kaki kiri Sato dua menit menjelang akhir laga masih bisa dijangkau Woon-jae.
Secara psikologis, Korsel lebih diuntungkan di fragmen adu penalti. Itu terbukti ketika sang kapten--yang dijuluki Tangan Laba-Laba ketika mengatasi Spanyol di adu penalti perempatfinal Piala Dunia 2002--sukses menepis eksekusi Hanyu, algojo keenam Samurai Biru yang sebetulnya nyaris jadi pahlawan pada menit-menit terakhir perpanjangan waktu.
“Kami tak bisa bikin gol. Itu penyebab kekalahan kami,” tukas Osim, yang menyalahkan faktor keletihan sebagai alasan kenapa timnya tak bisa cukup kreatif dan berkombinasi dengan baik.
“Kami juga tidak dipayungi kemujuran,” kilahnya dalam sesi jumpa pers yang juga dihadiri BOLA. “Padahal, tak ada lawan yang tampil lebih baik dibandingkan dengan kami di sepanjang turnamen ini.” (Barry Manembu)
Rekaman Pertandingan
---------------------------
Korsel vs Jepang 0-0 (6-5 a.p.)
Waktu: 28 Juli
Stadion: Gelora Sriwijaya Palembang
Wasit: Ali Al-Badwawi (UEA)
Kartu Kuning: 22-Min-soo (10', 56'), 27-Jang-eun (37'), 9-Jae-jin (85'); 21-Kaji (106')
Kartu Merah: 22-Min-soo (56')
KOREA (4-3-3): 1-Woon-jae; 3-Jin-kyu, 15-Chi-woo, 22-Min-soo, 16-Beom-sook; 17-Jung-woo, 8-Do-heon (13-Chi-gon 65'), 27-Jang-eun (6-Ho 85'); 19-Ki-hun (11-Keun-ho 39'), 9-Jae-jin, 10- Chun-soo. Pelatih: Pim Verbeek (Bld)
JEPANG (4-3-2-1): 1-Kawaguchi; 3-Komano, 22-Nakazawa, 6-Abe, 21-Kaji; 9-Yamagushi (11-Sato 78') , 14-K. Nakamura (8-Hanyu 71'), 13-Suzuki; 7-Endo, 10-S.Nakamura; 19-Takahara (20-Yano 115') Pelatih: Ivica Osim (Bih)
Siap Latih Indonesia
Enam tahun bersama Korea dianggap sudah cukup buat Pim Verbeek. Begitu Taeguk Warriors gagal melangkah ke final, sang meneer langsung meminta pihak KFA (Asosiasi Sepakbola Korea) memutus kontraknya yang sebetulnya masih sampai Olimpiade 2008.
“Saya mengalami masa-masa menyenangkan bersama timnas Korea. Namun, kini saatnya mencari tantangan baru,” ujar pria berusia 51 tahun tersebut, Sabtu (28/7). Ia resmi mengundurkan diri di Jakabaring dan mengaku bakal rihat hingga akhir tahun sebelum aktif lagi.
Secara implisit, Verbeek mengaku tak tahan dengan tekanan publik Korea. “Setiap kali para pemain mengenakan kostum timnas, kami dituntut menang mudah. Rupanya, gara-gara lolos ke semifinal Piala Dunia 2002, masyarakat masih menganggap kami tim nomor empat dunia,” cetusnya.
“Namun, saya bangga dengan tim ini. Mereka masih muda dan punya mental dan daya juang tinggi,” imbuhnya. “Kelemahan utama kami adalah tim ini tak mencetak cukup banyak gol. Toh dari segi pertahanan, tim ini sangat solid. Ini peningkatan pesat mengingat dulu masalah terbesar Korea adalah keroposnya lini belakang.”
Yang menarik eks asisten Guus Hiddink dan Dick Advocaat itu mengaku takkan kapok menangani negara-negara Asia. Bahkan saat BOLA menanyakan apakah ia bersedia menukangi timnas Indonesia, Verbeek spontan tersenyum simpul.
“Kalau memang federasi Anda datang dengan tawaran menarik, kenapa tidak?” ujarnya. “Tapi, tentu saja uang takkan jadi satu-satunya pertimbangan. Uang memang penting, tapi bukanlah hal yang terpenting.”
Jadi, hal-hal apa saja yang akan membuat Verbeek tertarik? “Harus ada tantangan, organisasi dan liga yang baik, serta visi ataupun target yang realistis,” jawabnya.
“Yang pasti saya menyukai Indonesia,” tegasnya. “Ini negara sepakbola yang besar. Para fan sungguh menakjubkan, demikian pula atmosfer di stadion. Saya baru sadar betapa masyarakat di sini sangat menggilai sepakbola.”
“Terus terang saya menikmati berada di Indonesia sejak pertama kali menginjakkan kaki di sini. Saya menikmatinya menit demi menit,” ujar Verbeek. “Saya akan serius mempertimbangkan kalau memang ada tawaran untuk melatih negeri Anda.”
Bagaimana, PSSI?