Jelang Kualifikasi Euro 2008
Terry: Rusia Lebih Tangguh
London - John Terry berharap skuad Inggris dapat mengulangi performa mereka saat melawan Rusia seperti mengalahkan Israel. Namun ia menyadari Rusia adalah lawan yang lebih berat.
Inggris bermain sangat baik dan mendominasi pertandingan saat menundukkan Israel 3-0 tiga hari lalu. Kemenangan tersebut membuat peluang Inggris di babak kualifikasi Euro 2008 Grup E lebih terbuka.
Kini Rusia akan menjadi lawan Inggris selanjutnya dan Terry menyadari lawan kali ini lebih berat. "Tidak mengecilkan Israel, namun Rusia adalah tim yang lebih terorganisir dan mungkin lebih bagus," ungkap sang kapten seperti dilansir Sky.
"Ini akan menjadi pertandingan yang sangat berat dan kami menyadari hal itu kami bisa melewati tantangan tersebut sekali lagi. Jika kami dapat melakukan sesuatu yang sama, maka kami akan menghentikan permainan mereka," kata Terry.
Meski demikian bek Chelsea ini yakin Inggris bisa meraih kemenangan. "Kami tidak bisa tinggal diam. Kami memiliki satu hasil yang baik dan satu perfoma yang cukup bagus. Namun kami butuh empat hasil yang cukup baik dan juga empat performa yang bagus." (key/a2s)
Waduh, Fergie Diserang
Jakarta - Sir Alex Ferguson lagi apes. Secara tidak terduga manajer Manchester United ini diserang orang tak dikenal di stasiun kereta api London Utara.
Seperti dilaporkan AFP, Rabu (12/9/2007), Fergie yang diduga bersama rekannya itu mendapat serangan di Stasiun Euston sekitar 4.30 sore Senin waktu setempat. Serangan tersebut membuat Fergie sedikit mengalami cedera.
"Kami bisa memastikan bahwa salah satu korbannya adalah Sir Alex Ferguson dan ia mengalami cedera pada kakinya," ujar jurubicara British Transport Police yang datang ke TKP.
Untungnya orang yang melakukan penyerangan tersebut langsung ditangkap. Belum diketahui alasan pasti adanya penyerangan itu, namun pria yang diketahui berusia 40 tahun ini langsung didakwa melakukan penyerangan, penghinaan dan mengganggu ketertiban umum.
Jelang Kualifikasi Euro 2008
Donadoni Ganti Taktik Hadapi Ukraina
Milan - Pelatih Italia Roberto Donadoni menyatakan dirinya tidak dalam tekanan karena harus menang melawan Ukraina. Namun yang pasti ia akan mengubah taktiknya.
Donadoni dan juga para skuadnya mendapatkan kritikan dari media lokal atas hasil imbang tanpa gol saat melawan Prancis. Hasil tersebut membuat Gli Azzuri berada di posisi ketiga di bawah Prancis dan Skotlandia di kualifikasi Euro 2008.
"Tidak ada tekanan, setiap pertandingan membutukan kemenangan. Setiap waktu berakhir kita mengulangi kata yang sama. Setiap pertandingan adalah penting dan kritis untuk memastikan perjalanan kami terus mendapat hasil positif," ungkap Donadoni.
Donadoni memang mendapatkan kritik dari pemilihan skuadnya, taktik dan juga pengalaman internasionalnya. Namun menghadapi Andriy Shevchenko dkk di Kiev, Donadoni akan melakukan perubahan mendasar dalam skuadnya.
"Ini akan menjadi pertandingan yang beat melawan musuh yang juga ingin menang. Kami berada di sini untuk mendapatkan hasil dan kami berperang dengan segalanya dengan yang kami miliki," ujar dia seperti dilansir Football Italia.
Kali ini Donadoni kemungkinan akan memainkan 4-2-3-1 yang biasa digunakan oleh AS Roma dengan Andrea Pirlo dan Daniele De Rossi berkreasi dari lapangan tengah. De Rossi menggantikan Gennaro Gattuso yang terkena hukuman.
Sementara Alessandro Del Piero akan start dari kursi cadangan menyusul performanya yang kurang memuaskan di San Siro. Sementara Cristiano Lucarelli akan bersaing dengan Vincenzo Iaquinta guna mendapatkan posisi striker. (key/ian)
POHON APEL & ANAK LELAKI
Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang
bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya
hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang
daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian
pula, pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.
Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi
bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi
pohon apel. Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,"
pinta pohon apel itu.
"Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi." jawab anak
lelaki itu. "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk
membelinya."
Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi kau
boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang
untuk membeli mainan kegemaranmu. "
Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada
dipohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak
pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.
Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya
datang. "Ayo bermain-main denganku lagi." kata pohon apel.
"Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk
keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau
menolongku?" "Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang
semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu." kata pohon apel.
Kemudian, anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu
dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak
lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel
itu merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa
sangat bersuka cita menyambutnya. "Ayo bermain-main lagi denganku." kata
pohon apel.
"Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang.Aku
ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk
pesiar?"
"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan
menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan
bersenang-senanglah ."
Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal
yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui
pohon apel itu.
Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.
"Maaf, anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi
untukmu."
"Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu." jawab
anak lelaki itu.
"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat." kata pohon
apel.
"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu." jawab anak lelaki itu.
"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu.Yang
tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini." kata pohon
apel itu sambil menitikkan air mata.
"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang." kata anak lelaki. "Aku hanya
membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama
meninggalkanmu. "
"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik
untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan
akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat
gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.
Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua
kita.Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita.
Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika
kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.
Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan
apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin
berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu,
tetapi kadang begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.
Sebarkan cerita ini untuk mencerahkan lebih banyak rekan. Dan, yang
terpenting: cintailah orang tua kita.
Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan
berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada
kita.
Anista Marie
RIYADH, 6 September 2007 — Just over three weeks ago a woman called up Arab News claiming to be a Sri Lankan maid who has been imprisoned and abused in the home of her sponsor for the past decade. Yesterday, Riyadh police, working with the Sri Lankan Embassy, rescued Anista Marie, 40, who has not received her salary since 1999.
“I still cannot believe that I am out of this ordeal that I have undergone for the past 10 years,” Marie told Arab News with tears flowing down her cheeks.
The rescue took place at a villa in Khansalallilah district, some 12 km away from the Riyadh city center. The maid’s sponsor refused to give up her passport to police, and it is unclear what if any punitive actions will be taken by authorities against the woman who Marie alleged has been her abusive overseer in what the maid earlier claimed was an all-woman household.
“We are thankful to the Saudi authorities for rendering necessary assistance to redeem the woman from this house where she has been a virtual slave for more than a decade,” said W.S.M.S. Wijesundera, charge d’affaires at the Sri Lankan Embassy.
He said the mission had to send a team of officials with the Saudi police to take her out from the clutches of the sponsors who were reluctant to send the maid. Police did not detain the sponsor yesterday for alleged illegal imprisonment and violation of labor laws. It is not known if Marie’s working visa is current, or if the sponsor also violated the law for allowing the visa to lapse.
Meanwhile, Marie said that she has been confined indoors during daylight hours for most of the past decade and that the bright Saudi sun is hard on her eyes. “They only took me out at night so that I could not locate the house,” she said.
When this reporter received a phone call on Aug. 14 from Marie, she told Arab News that she didn’t know where she was located. She said that the only reason why she knew she was somewhere in Riyadh was because a maid of a visiting family once told her of her general location. Now Marie, a widow with four children from an impoverished fishing family in Chilaw, 70 km from Colombo, just wants to go home.
“I do not want anything now but to fly home to see my children who have been suffering like orphans without their parents,” Marie said.
In the Aug. 14 phone call, Marie said she was paid for the first two years of her employment, and that she was allowed to go out with the family. At the time, she was under the impression that she would be eventually allowed a home visit. She said she even bought clothes for her children planning for that trip.
“Back then I bought things for my children,” she said. “They’re still packed in two suitcases and the clothes can’t be used by my children now because they’ve grown out of them.”
During this time, her husband passed away and her children have been in the care of extended family. She said it took two years for her to hear news that her husband had died.
Sri Lankan Embassy officials are making arrangements for Marie to speak to her children over the phone. Marie is currently in the care of the Sri Lankan Embassy, which like other South Asian missions, has facilities to care for runaway and abused domestic staff, mainly women working as housemaids.
According to the maid, the household consists of three women with four teenage daughters. “There were no men in the house,” she said. “They assaulted me when I would say that I wanted to go home. It was worse when I talked about the salary.”
Marie said a sympathizer helped her get in contact with Arab News.
Wijesundera said that the mission would negotiate with the sponsor to pay her past dues including her salary, holiday pay and other allowances due to her according to the local regulations.
“She comes from a poor family and she needs some money to send home. I will request my community members and the Sri Lankan Expatriates Society (SLES) in Riyadh to give her help in whatever form to rehabilitate her family back home,” the diplomat said.
It was unclear yesterday if the maid’s sponsor will face criminal charges or whether anything more than negotiating for nonpayment of eight years of salary will take place.