Search blog.co.uk

Posts archive for: 14 September, 2007
  • Ditempa di Boca Juniors

    Ditempa di Boca Juniors

    Bakat besar Lavezzi, baik sebagai pencetak gol maupun playmaker, sudah terlihat sejak kanak-kanak. Pendukung klub lokal Rosario Central tersebut menempa diri di skuad remaja Boca Juniors dari usia 10 hingga 17 tahun.

    Sesudah itu, pada 2003, Lavezzi hijrah ke Estudiantes. Ia semusim membela tim junior Estudiantes dan mencetak 17 gol dari 39 partai. Kehebatannya tercium para pemandu bakat Genoa dan pada 2004 ia diboyong ke Italia dengan harga 1 juta euro.

    Tapi, dianggap masih kurang jam terbang, Lavezzi langsung kembali ke Argentina lantaran dipinjamkan ke San Lorenzo. Di usia 19, ia sudah berjaya di Liga Apertura dengan mengoleksi enam gol dan menduduki peringkat ke-4 daftar pencetak gol liga. Kontribusinya antara lain kemenangan spektakuler melawan River Plate di El Monumental. Golnya di menit ke-69 memupuskan harapan River akan gelar juara.

    Setahun setelah on loan mestinya Lavezzi kembali ke Genoa. Namun, skandal pengaturan pertandingan memaksa Rossoblu terdegradasi ke Serie C1. Imbasnya ia dijual ke San Lorenzo dengan harga 1,2 juta euro. Di sana ia membantu klub tersebut menjuarai Clausura 2007, mengangkangi Boca Juniors dengan selisih enam poin.

    Diincar oleh sejumlah klub Eropa, Lavezzi memilih mendarat di Italia Selatan. Pada 5 Juli 2007 ia teken kontrak berdurasi lima tahun bersama Si Biru. (bry)

    Club vs Country
    Laporta Tuntut Kompensasi

    Masalah club versus country yang selama ini hanya didengar Joan Laporta akhirnya dialami sendiri oleh Presiden Barcelona tersebut. Apa lagi jika bukan soal Thierry Henry dan timnas Prancis?

    Sebelumnya, Laporta tak pernah mengalami masalah serius dengan pelepasan pemain menuju pentas internasional. Baru kali ini ia merasakan pahit layaknya para pelatih klub Premier League Inggris macam Sir Alex Ferguson dan Arsene Wenger.

    “Sangat memalukan, bahkan seperti sebuah lelucon jika kami harus meminjamkan pemain untuk sebuah partai uji coba dan pada saat bersamaan juga membayar gaji mereka (pemain) serta sama sekali tak mendapat imbalan apa-apa,” kata Laporta pada AS. “Harusnya ada kompensasi buat klub!”

    Komentar sinis Laporta mengacu pada kasus Henry, yang hingga Rabu (12/9) masih nongkrong bareng rekan-rekannya sesama Les Bleus di Paris. Padahal, sudah pasti bomber anyar The Catalans itu tak bisa merumput dalam laga kontra Skotlandia akibat hukuman.

    Henry terkena akumulasi kartu kuning pada duel di hari Sabtu (8/9) melawan Italia. Kondisi yang secara otomatis melarangnya tampil dalam midweek versus The Scots. Namun, bukannya diperbolehkan pulang ke Camp Nou, FFF (Federasi Sepakbola Prancis) justru menahan Henry.

    “Secara lisan maupun tertulis saya telah meminta agar Henry bisa dikembalikan. Tapi, permintaan itu ditolak. Ini jelas membuat saya marah,” sebut Laporta. “Saya serahkan ini pada UEFA dan FIFA. Namun, jika tak ada perubahan, lain kali saya akan melarang pemain untuk pergi.”

    Yang sudah-sudah, jika diancam seperti ini, Presiden FIFA, Sepp Blatter, justru akan lebih galak. Berbekal kekuatan absolut yang dimiliki atas anggota-anggotanya, Blatter biasanya malah menyiapkan sanksi keras jika ada pelatih klub yang menghalangi kepulangan pemain ke timnas.

    Sir Alex dan Monsieur Wenger sudah hafal betul dengan sikap pria asal Swiss tersebut. Karena itu, seberapa pun mereka mencoba untuk menahan pemain, ujung-ujungnya pasti akan takluk juga. Bagaimana dengan kasus Henry kali ini, yang jelas-jelas tak dibutuhkan tapi tetap ditahan Les Bleus? (Sapto Haryo Rajasa)

    Blunder Pertama Milan Lab

    Sejak beroperasi tahun 2002, Milan Lab sukses memelihara fisik pemain-pemain I Rossoneri. Namun, tak ada gading yang tidak retak. Milan Lab akhirnya melakukan blunder.

    Mereka salah mendiagnosis cedera striker Ronaldo. Il Fenomeno mengeluh sakit di pahanya pada 31 Juli lalu. Tim medis Milan, yang termasuk dalam Milan Lab, menyebut itu hanya cedera ringan.

    Ronaldo cuma menderita ketegangan otot. Ia diperkirakan bisa pulih saat Serie A dimulai. Namun, proses penyembuhan Ronie berjalan pelan. Sang striker terus mengeluhkan rasa sakit yang sama.

    Merasa frustrasi, Ronaldo akhirnya pulang ke Brasil untuk berkonsultasi dengan Jose Luis Runco. Dokter tim nasional Brasil itu menyebut Milan telah salah menangani cedera Il Fenomeno.

    “Diagnosis mereka salah dan proses rehabilitasi juga dijalani dengan buruk,” kata Runco. Cedera Ronaldo ternyata parah. Jaringan otot di pahanya rusak dan tidak diobati secara benar.

    Tim medis Milan yang ikut menemani Ronie ke Brasil akhirnya mengakui telah membuat kesalahan dalam diagnosis. Mereka setuju dengan hasil penelitian Runco, tapi meminta Ronaldo segera pulang ke Milanello untuk menjalani proses pengobatan yang diperlukan.

    “Milan Lab berarti fundamental dalam kesuksesan Milan beberapa tahun belakangan ini. Sebuah kesalahan bisa terjadi. Itu sangat wajar,” sebut Wakil Presiden Adriano Galliani, di acmilan.com.

    “Milan tidak kecewa pada Ronaldo, yang meninggalkan Milan Lab. Sangat bisa dimengerti dia gelisah dengan kondisinya. Itu justru menunjukkan Ronaldo ingin secepatnya pulih,” tambahnya.

    Dianggap Doping

    Runco telah menyetujui rencana kepulangan Ronaldo ke Milanello, Rabu (12/9). Tapi, masalah baru muncul. Pengobatan pengoleksi 56 gol di Serie A itu mungkin bisa dianggap sebagai doping.

    Salah satu metode pengobatan adalah penyuntikan helaian protein dari darah sehat ke jaringan otot Ronaldo yang rusak. Protein itu diharapkan merangsang pemulihan jaringan yang rusak.

    “Terapi seperti itu adalah doping,” kata Presiden Komite Olimpiade Nasional Italia, Luigi Frati. Pejabat yang berwenang dalam prosedur antidoping, Ettore Torri, mungkin akan menyelidikinya.

    “Saya masih menunggu perkembangan. Yang jelas tidak tertutup kemungkinan kami akan meneliti metode pengobatan Ronaldo,” tukas Torri seperti dikutip oleh kantor berita Italia, ANSA.

    Dilihat dari metodenya, pengobatan Ronaldo mirip dengan penyuntikan hormon EPO (erythropoietin), yang dilarang WADA (World Anti-Doping Agency). “Tapi, pengobatan seperti yang akan dijalani Ronaldo memang belum ada peraturannya,” sebut Presiden Komisi Anti-Doping FIGC, Pino Capua, yang diambil dari situs Football Italia. (Dwi Widijatmiko)

  • Donadoni vs Muenchen

    Donadoni vs Muenchen

    Perang urat saraf antara tim nasional versus klub kembali mencuat ke permukaan. Pekan lalu, arsitek tim Jerman, Joachim Loew, mengecam kubu Chelsea, yang tidak mengikutsertakan Michael Ballack dalam daftar pemain di Liga Champion.

    Kali ini giliran pelatih skuad nasional Italia, Roberto Donadoni, yang melontarkan kritik pedas terhadap kubu Bayern Muenchen. Donadoni menuding FC Hollywood telah bersikap masa bodoh terhadap cedera yang dialami oleh Luca Toni sehingga sang ujung tombak tidak dapat memperkuat Gli Azzurri pada partai kualifikasi Piala Eropa 2008.

    “Sungguh malang nasib Toni. Cedera yang dialaminya sebenarnya tidak terlalu serius, tetapi sungguh menyakitkan,” jelas Donadoni seperti dilansir situs Goal.

    “Namun, sepertinya Muenchen tidak menganggap serius masalah ini. Saya juga ragu Toni bakal bisa tampil bersama Muenchen pada laga selanjutnya,” imbuh mantan gelandang La Nazionale tersebut.

    Kubu Muenchen, yang merasa tidak pernah menelantarkan pasukannya, langsung membalas kritik tersebut.

    “Pernyataan itu sungguh tidak benar. Faktanya kami sudah melakukan segala upaya untuk memulihkan kondisi fisik Toni. Kami tidak berusaha menyembunyikan atau menganggap enteng masalah yang dialaminya,” tukas pelatih Muenchen, Ottmar Hitzfeld.

    Sebagai bukti, Hitzfeld telah memaksa Toni untuk langsung menjalani rehabilitasi ketika kembali ke Muenchen pada Senin (9/9). Ia juga berjanji untuk tidak menurunkan Toni dalam partai big match melawan Schalke jika dokter klub menyatakan mantan bomber Fiorentina itu belum seratus persen fit. (wta)

    John Terry
    Kini Kami Lebih Arogan

    Tidak ada yang meragukan kemampuan Inggris dalam hal skill individu dan organisasi permainan. Sayang, faktor nonteknis kerap jadi batu sandungan. Belum lagi persoalan pressure menghadapi tingginya ekspektasi publik.

    John Terry, ingin membalas dukungan dan kepercayaan suporter.

    Toh, menurut pengakuan John Terry, masalah tersebut sudah mulai teratasi. Ia percaya saat ini skuad The Three Lions tak hanya dibekali talenta, tapi juga self confidence untuk berprestasi di ajang akbar. Berikut petikan wawancara sang kapten seperti dilansir Team Talk.

    Apa yang berbeda dari timnas Inggris saat ini?
    Kami kini diliputi suasana kebersamaan dan juga sedikit perasaan arogan dalam konteks positif. Kepercayaan diri pemain mulai tumbuh dan kami harus bisa menjaga momentum menuju Euro 2008.

    Seberapa penting kepercayaan diri dan arogansi tersebut?
    Sangat penting. Dalam kompetisi akbar, tentu Anda juga butuh sedikit keberuntungan. Namun, keangkuhan dan confidence juga merupakan perpaduan sempurna. Ketika tim lain melihat Anda seperti itu, mereka akan merasa resah dan tertekan. Saat bertanding mereka akan berpikir, “Wah, kita takkan bisa dapat apa-apa dari mereka.”

    Tentunya reaksi positif suporter juga turut membantu…
    Jelas. Sangatlah vital untuk mendapat dukungan dan kepercayaan dari semua pihak. Tak ada yang lebih melegakan ketimbang menonton televisi dan mendengar komentar para fan yang mengaku puas dan bilang betapa bagusnya Inggris bermain.

    Anda senang melihat antusiasme suporter?
    Ya. Saat tidak sedang bertanding saya mengamati bagaimana para suporter datang sepulang kerja, menjemput anak-anak mereka di sekolah, dan memadati stadion pada malam hari. Saya juga seperti itu saat masih kanak-kanak. Ayah dan ibuku harus menabung untuk membeli tiket. Saya tahu persis bagaimana berartinya hal tersebut bagi mereka dan bagi semua orang di negeri ini. Ketika Inggris main bagus, semua menjadi bersemangat. Orang berangkat ke kantor pada Senin pagi dengan wajah berseri-seri.

    Apa target pribadi Anda?
    Saya ingin jadi kapten yang terus dikenang orang. Artinya meloloskan kami ke Euro 2008 dan berusaha memenangi sesuatu bersama Inggris. Perjalanan ke sana memang masih panjang, namun kemungkinannya tetap ada. Selama ini mungkin kami sudah terlalu banyak omong. So, biarlah permainan kami dan hasil pertandingan yang akan bicara. (Barry Manembu/Foto: Getty Images)

    Ezequiel Ivan Lavezzi
    Dewa Baru Napoletani

    Hampir semua bintang baru Argentina yang mencuat di liga-liga Eropa dilabeli the new Maradona. Tapi, sesungguhnya cuma satu pemain yang menapaktilasi jejak sang legenda dengan memilih bermain di Napoli. Namanya Ezequiel Ivan Lavezzi.

    Ezequiel Lavezzi, memuaskan dahaga tifosi Napoli.

    Mungkin memang masih terlalu dini untuk membandingkan striker muda kelahiran 3 Mei 1985 ini dengan El Pibe d’Oro. Terlebih mengingat ia belum menyumbangkan prestasi apa pun bagi para Napoletani (warga Napoli).

    Toh setidaknya ia sudah menunjukkan kapasitas untuk menjadi dewa baru di San Paolo. Maklum, belum apa-apa, pria yang lahir dan dibesarkan di Villa Gobernador Galvez, Santa Fe, tersebut telah membuat tifosi Napoli terkenang akan masa keemasan mereka sewaktu klub kesayangan masih diperkuat Diego Armando Maradona di era 1980-an.

    Faktanya Lavezzi langsung mengemas hattrick di kandang sendiri pada pekan perdananya bersama I Partenopei (orang-orang Napoli) kala klub yang baru promosi ke Serie A tersebut melibas Pisa 3-1 di Coppa Italia. Sebuah trigol yang disambut gemuruh tentunya mengingat sudah sangat lama ketajaman semacam itu tak diperlihatkan para penyerang Napoli.

    Bomber yang didatangkan dari klub Argentina, San Lorenzo, tersebut juga membuat para pengamat terbelalak ketika mengawali penampilannya di kasta tertinggi kompetisi Negeri Pasta.

    Di giornata kedua, 2 September lalu, pria berzodiak Taurus ini menjadi inspirasi kemenangan Napoli sewaktu mereka mencukur tuan rumah Udinese 5-0 di Friuli. Margin kemenangan yang demikian lebar sudah lama tak dinikmati Napoli.

    Sentuhan Mematikan

    Penyerang berjulukan El Pocho ini terlibat dalam semua proses serangan dan menyumbang sebuah gol serta dua assist di partai tersebut.

    “Bintang Napoli telah lahir,” demikian komentar pers Italia ketika itu. “Anda tak bisa meminta lebih banyak lagi. Sungguh luar biasa,” puji harian Corriere dello Sport.

    “Ia membuat semua orang ternganga,” cetus La Gazzetta dello Sport. “Dalam sepakbola diajari organisasi permainan dan pressing,” tulis koran olahraga terkemuka di Italia tersebut. “Namun, kemudian datang pemain seperti Lavezzi, yang dengan sentuhan-sentuhan mematikan meruntuhkan pelbagai teori yang dirumuskan di Coverciano (markas pemusatan latihan timnas Italia).”

    Lavezzi sendiri tak lantas besar kepala. Ia gembira bisa memuaskan rasa dahaga para tifosi Napoli. Namun, ia menolak disejajarkan dengan Maradona.

    “Saya pikir terlalu dibesar-besarkan kalau saya dibilang mirip Maradona. Saya tak ingin muluk-muluk. Saya hanya berusaha menunaikan tugas sebaik mungkin. Saya sudah cukup senang apabila bisa seperti Carlos Tevez kok,” cetus cowok berpostur 173 cm ini mengacu pada striker Albiceleste di Manchester United yang juga punya perawakan dan skill dahsyat selaku penggedor.

    “Saya pikir ada kesamaan dalam gaya bermain kami,” ujarnya di Corriere dello Sport. “Memang benar saya senang membuat assist karena saya pemain tim. Namun, di sini saya berencana mendulang lebih banyak gol.”

    “Pastinya saya harus tetap kalem dan tak terpengaruh dengan berbagai pujian tersebut,” imbuhnya. “Saya mesti banyak belajar dan terus beradaptasi di habitat baru.” (Barry Manembu/Foto: Grazia Neri)

    EZEQUIEL IVAN LAVEZZI
    ---------------------------------
    Lahir: 3 Mei 1985
    Tempat Lahir: Villa Gobernador Galvez, Argentina
    Tinggi/Berat: 173 cm/ 70 kg
    Posisi: Striker
    Julukan: El Pocho
    Klub: Napoli
    Klub Sebelumnya: San Lorenzo
    Nilai Transfer: 5,5 juta euro
    Nomor Punggung: 7

    Klub Remaja:
    - 1995–2003 Boca Juniors
    - 2003–2004 Estudiantes

    Karier Pro:
    2004–2005 Genoa -
    2004–2005 San Lorenzo (pinjam) 29 (9)
    2005–2007 San Lorenzo 55 (16)
    2007– Napoli 2 (1)

    Debut Timnas: 18 April 2007, vs Cili
    Penampilan Timnas: 2

    Nyaris Dibeli Milan

    Nyaris saja Ezequiel Lavezzi berbaju AC Milan. Pengakuan ini muncul dari kepala pemandu bakat I Rossoneri, Cesare Maldini. Ayah kandung Paolo Maldini tersebut menyatakan bahwa Milan sejak lama memonitor Lavezzi.

    Namun, begitu tersiar kabar bahwa Alexandre Pato bisa dibeli, pihak manajemen akhirnya memilih mendatangkan remaja Brasil tersebut.

    Bedanya Pato, yang kelahiran 2 September 1989, harus menunggu hingga tahun depan karena saat pendaftaran ditutup pada Agustus lalu belum memenuhi limit umur untuk bermain di Serie A. Sebaliknya El Pocho langsung bisa diturunkan dan malah sudah menunjukkan kapasitasnya.

    Maldini sendiri mengakui bahwa Gli Azzurri (julukan Napoli) memiliki permata berharga. “Sejak lama kami mengincar Lavezzi,” ungkap mantan pelatih timnas Italia tersebut. “Kami mengikutinya sejak lama dan mencatat banyak hal positif. Saya kira Napoli beruntung mendapatkan pemain tersebut.”

    Yang jelas striker Inter, Hernan Crespo, yang dulu juga pernah menjadi pemain Il Diavolo Rossi, senang dengan kehadiran juniornya di panggung Serie A.

    “Lavezzi memang pemain yang sangat menarik. Napoli benar-benar melakukan pembelian yang tepat,” tukas Crespo seperti dikutip Tribal.

    “Pilihan untuk bermain di Napoli juga bagus untuk dirinya sendiri. Jika ia terus bermain seperti yang ia tunjukkan ketika menundukkan Udinese, saya yakin El Pocho akan menyuguhkan sukacita besar kepada para suporter.” (bry)

  • Tambah Dua Tunda

    julie_estelle-20070718-002-wawan
    Lativi
    Tambah Dua Tunda

    Arsenal pada Senin, Newcastle Selasa, Tottenham Rabu, dan Man. City Kamis. Bukan siaran langsung memang, hanya tunda. Namun, di tengah kekisruhan soal monopoli televisi berlangganan atas siaran langsung Premier League di udara Nusantara, tambahan dua klub lagi di Lativi cukup menyejukkan.

    Rabu kemarin, pihak Lativi menyatakan mendapat hak siar semua partai Newcastle dan Man. City setelah sebelumnya Arsenal dan Spurs. Hanya, hak itu berbentuk siaran tunda.

    Masih ditunggu apakah langkah ini akan memastikan Lativi sebagai penayang siaran langsung Premier League yang dilepas pemilik hak siar regional, ESPN Star Sports, untuk stasiun terrestrial usai televisi berlangganan mendapat ancaman Depkominfo.

    Bagaimanapun, upaya Lativi mengusahakan kreasi lain ketika siaran langsung sukar didapat perlu dihargai. Apalagi, keberanian Lativi tampil beda terutama dalam olahraga tampak jelas ketika menyajikan partai tim-tim tersebut pada pukul 18.30 alias kala waktu prima.

    Bila tak ada siaran langsung, penggila EPL masih bisa berharap Lativi menambah tayangan tunda tiga tim papan atas, yakni Man. United, Chelsea, dan Liverpool musim depan. “Kemungkinan ini sangat terbuka,” tutur Direktur Utama Lativi, Erick Thohir. (chrs)

    Davenport, Ibu yang Baik

    Lindsay Davenport memang ibu yang baik. Pemain yang baru comeback setelah melahirkan putra pertama, Jagger, itu mengaku sulit meninggalkan anak bila harus bepergian untuk ikut turnamen. Karena itu, dibawalah Jagger, yang baru berumur tiga bulan, ke Bali. Selain itu, petenis AS ini juga didampingi oleh ibunya, Ann, dan seorang pengasuh bayi.

    Lindsay Davenport, merindukan suasana kompetisi.

    “Secara mental saya tidak merasa lelah, walaupun pikiran harus terbagi antara tenis dan anak,” ujar mantan pemain nomor satu dunia itu.

    Menurutnya, kehidupan sekarang justru lebih terorganisasi, antara urusan tenis dan di luar lapangan. Asal tahu saja, Davenport menjalani pertandingan pertama di nomor tunggal setelah comeback di turnamen Commonwealth Bank Tennis Classic, yang kini tengah berlangsung di Nusa Dua, Bali.

    Sudah hampir setahun ia tak bermain tunggal, namun keperkasaannya belum hilang total. Terbukti ia bisa menang mudah atas pemain terbaik Yunani, Eleni Daniilidou, pada babak pertama, Selasa (11/9), dengan skor telak pula, 6-2, 6-2.

    “Senang rasanya, ternyata saya masih bisa main bagus setelah lama tak bertanding,” ungkap peraih emas Olimpiade Atlanta 1996 itu. “Saya senang bisa main di tunggal lagi dan rasanya Bali tempat yang tepat untuk melakukannya.”

    Juara di Bali tahun 2005 itu malah berencana untuk tampil pada Grand Slam Australia Terbuka, Januari mendatang. Ia ingin melihat bagaimana hasil latihannya seusai melahirkan.

    “Saya sangat merindukan suasana kompetisi. Sebenarnya masih sulit ketika kita sudah punya balita dan baru kembali lagi ke pekerjaan. Jadi, saya belum membuat target yang muluk-muluk,” tegasnya.

    “Saya sendiri kaget dengan kemenangan itu. Ini semacam kejutan berharga bagi saya. Namun, saya harus tetap bekerja keras mengurangi berat badan dan menjaga selalu kondisi stamina agar tetap fit,” tambah Davenport.

    “Saya yakin apa yang saya lakukan saat ini dalam 4–6 bulan ke depan akan membuat saya bisa tampil lebih bagus dan bisa meraih apa yang menjadi kemauan saya,” ungkapnya. (yuk/yan/Foto: Arief Bagus/BOLA)

    Pesona Eropa Timur

    Tak bisa dimungkiri, wakil-wakil dari Eropa Timur menjadi primadona pada turnamen Commonwealth Bank Tennis Classic, yang tengah berlangsung di Nusa Dua, Bali, 10-16 September ini. Meski hanya ada satu pemain 10 besar, tetap saja ada daya tarik sendiri dari mereka.

    Dua bintang Eropa Timur yang mencuri perhatian itu adalah Jelena Jankovic, peringkat ketiga dunia asal Serbia. Juga si cantik Daniela Hantuchova dari Slovakia. Mereka menempati unggulan pertama dan kedua.

    Selain itu, kehadiran mantan pemain nomor satu dunia, Lindsay Davenport, juga menarik. Pasalnya inilah pertandingan pertama pemain AS itu di tunggal setelah melahirkan putra pertamanya, Jagger, 10 Juni lalu.

    “Saya berusaha untuk melupakan AS Terbuka. Jadi, saya kira kiprah saya di sini adalah permulaan yang bagus,” kata Hantuchova,

    Bisa jadi petenis cantik ini tengah mencari obat pelipur lara. Kegagalan di turnamen seri Grand Slam AS Terbuka memang sangat pahit. Di New York pekan silam, Hantuchova langsung tumbang di babak pertama.

    Pada pertandingan babak kedua turnamen yang dihelat di Pulau Dewata, Rabu (12/9), peringkat 12 dunia ini menang 7-5, 6-3 atas Elise Tamaela asal Belanda. Rupanya dia mendapat hoki. Hantuchova langsung lolos ke babak kedua setelah di babak pertama mendapat bye.

    Sementara itu, Jankovic, yang juga mendapat bye di babak pertama, berjumpa Cassey Dellacqua dari Australia. Pertandingan babak kedua ini bakal digelar hari Kamis (13/9).

    Tinggal kita tunggu apakah prestasi petenis Eropa Timur itu akan terus memesona seperti penampilan keseharian mereka di luar lapangan. (yuk/yan)

    Ulang Kejayaan di Kuala Lumpur

    Bulan lalu, ketika banyak pihak meragukan kemampuan, pebulutangkis Indonesiah malah pulang dengan dua gelar juara dunia. Kini Nova Widianto dkk. pun diharapkan mengulangi kejayaan serupa. Berapa gelar yang bisa didapat dari Jepang Super Series di Tokyo, 11-16 September?

    “Maunya sih anak-anak bisa kembali merebut dua gelar dari ganda putra dan ganda campuran,” ujar Herry Iman Pierngadi, pelatih yang mendampingi pemain di ajang berhadiah total 200 ribu dolar AS ini kepada BOLA, Senin (10/9) di Metropolitan Gymnasium, kawasan Sendagaya, Tokyo, yang menjadi arena pertandingan tahun ini.

    Menurut Herry, dari PBSI sendiri sebenarnya tidak ada target apa-apa. “PBSI secara resmi tidak memberi target apa-apa. Tapi, kalau ditanya keinginan, ya pasti kita menginginkan gelar. Paling tidak seperti tahun lalu,” ujarnya.

    Tahun lalu anak-anak Cipayung merebut gelar dari ganda campuran lewat Flandy Limpele/Vita Marissa setelah mengalahkan kompatriotnya, Nova Widianto/Lilyana Natsir. Indonesia sebenarnya juga mengoleksi setengah gelar lagi di ganda putra lewat pemain nonpelatnas, Candra Wijaya, yang tandem dengan Tony Gunawan yang mewakili AS.

    Kini dengan membawa dua juara dunia ke Tokyo, beban tersebut jelas mengarah kepada Markis Kido/Hendra Setiawan dan Nova/Lilyana. “Peluang terbaik ada di ganda campuran, baik dari Nova/Lilyana sebagai juara dunia ataupun Flandy/Vita, juara bertahan. Peluang berikutnya ada di nomor ganda putra dan tunggal putra,” kata Herry lagi.

    Undian buruk

    Hanya hasil undian di nomor harapan itu tak menguntungkan Indonesia. “Undiannya cukup jelek. Tapi mau bagaimana lagi?” kata Herry setengah bertanya. “Namanya juga super series,” sebutnya seakan menjawab pertanyaan sendiri.

    Di ganda putra, Indonesia harus kehilangan satu ganda di babak pertama ketika Kido/Hendra bertemu Hendra Gunawan/Joko Riyadi. Bahkan, Luluk Hadiyanto/Alvent Yulianto juga berada di paruh yang sama dengan kedua ganda di atas. “Gila, semua numpuk di bawah,” kata Hendra Setiawan mengomentari.

    Meskipun menyandang juara dunia dan diharapkan membawa kejayaan, perjalanan Kido/Hendra ke tangga juara tidak mudah. “Di jalur kita ada Jung Jae-sung/Lee Yong-dee (Korsel), finalis Kejuaraan Dunia lalu, serta Koo Kien Keat/Tan Boon Heong (Malaysia), unggulan kedua. Pokoknya lumayan berat,” sebut Hendra lagi.

    “Namun, kita akan berusaha keras untuk juara lagi. Peluang tetap ada,” ucap Kido.

    Di ganda campuran, kalau semua mulus, Flandy/Vita juga harus bertemu Nova/Lilyana di semifinal. Padahal, tahun lalu mereka berhasil menciptakan final sesama Indonesia. Nova/Lilyana pun menyadari masyarakat pasti berharap banyak pada mereka.

    “Ya, pasti masyarakat ingin kami juara lagi. Tapi, kami mencoba untuk rileks saja. Enggak mau terbebani. Buktinya kalau kami tidak terbebani bisa tampil maksimal.”ujar Butet, sapaan Lilyana, yang baru saja merayakan ulang tahun ke-22 pada 9 September.

    “Terus terang saya juga menginginkan gelar. Kan belum pernah. Tapi, saya belum berpikir begitu jauh. Lawan di babak pertama juga berat,” tutur gadis kelahiran Manado ini.

    Di babak pertama Nova/Butet bertemu Xu Chen/Zhao Tingting (Cina). Di ganda putri, juara Cina Super Series, Butet/Vita, berhadapan dengan pasangan kurang ternama dari Swedia, Johanna Persson/Elin Bergblom. (Irwandi, Tokyo)

  • Dua WNI Ditangkap di AS

    Gubernur NAD Tidak Tahu-menahu tentang Penahanan SA

    Jakarta, Kompas - Dua warga negara Indonesia, Selasa (11/9) waktu New York, ditangkap aparat kepolisian setempat karena dituduh melakukan kejahatan perbankan. Keduanya adalah anggota delegasi Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam yang tengah melakukan kunjungan ke Amerika Serikat.

    Juru bicara Departemen Luar Negeri Kristiarto S Legowo, ketika dikonfirmasi, Kamis, membenarkan adanya peristiwa itu. Dua anggota delegasi tersebut adalah SA dan LTM, yang disebut merupakan wakil dari unsur masyarakat di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).

    Kristiarto menjelaskan, Konsulat Jenderal RI (KJRI) di New York mendapatkan informasi perihal penangkapan dan penahanan itu hari Selasa pukul 24.00 waktu New York. Pagi harinya KJRI sudah mendapatkan akses untuk menemui mereka. "Hasilnya, LTM dibebaskan karena tak terkait kejahatan yang dituduhkan, tapi terhadap SA proses hukum dilanjutkan, " katanya.

    Menurut Kristiarto, SA dituduh melakukan tindak kejahatan perbankan saat yang bersangkutan berusaha mencairkan cek di Citibank Manhattan. Beberapa sumber menyebutkan, cek yang akan dicairkan itu berjumlah 32 juta dollar AS. "Perwakilan RI sudah melaksanakan tugas kekonsuleran dan yang bersangkutan sudah ditemui seorang pengacara untuk memastikan agar hak-hak hukumnya tidak dilanggar," ujarnya.

    Konsul Jenderal RI untuk New York Trie Edi Mulyani membenarkan bahwa SA ditahan. Trie, Rabu pagi, menghadiri sidang dengar pendapat kasus SA di pengadilan kejahatan di Manhattan. "Tadi (dalam sidang) memang disebutkan, yang bersangkutan ditangkap pihak keamanan karena dicurigai oleh pihak bank saat ia mencoba mencairkan uang dalam jumlah yang spektakuler, " ujar Trie tanpa menyebutkan jumlah yang dimaksud.

    Gubernur NAD Irwandi Yusuf menyatakan tidak tahu-menahu tentang penahanan SA. Ia juga mengungkapkan, SA bukan anggota rombongan resmi yang dibawanya untuk melawat ke AS. "Kalaupun dia pengusaha dari Aceh, dia datang dengan tim sendiri," kata Irwandi yang sedang berada di Washington.

  • Soeharto wins $129m in damages from Time

    CANTIKHF

    September 11, 2007

    JAKARTA: Indonesia's Supreme Court had awarded the former dictator Soeharto 1 trillion rupiah ($129.6 million ) in damages in a lawsuit he brought against Time magazine, a court official said yesterday.

    The decision is likely to spark outrage in Indonesia, where the ageing former president has avoided being brought to trial over persistent allegations of massive corruption during his 32 years of iron-fisted rule.

    "We accept the suit filed by Soeharto and refuse the decision of the Appeal Court and Central Jakarta District Court," a Supreme Court spokesman, Nurhadi, said, referring to rulings against Soeharto made in 2000 and 2001.

    The court, in its August 30 ruling, had ordered that Soeharto be paid 1 trillion rupiah in immaterial damages and that an apology be published in Indonesian newspapers as well as in three Time titles.

    Soeharto had been seeking more than $US27 billion ($32.7 billion) in the defamation suit filed against Time over a May 1999 article alleging he had stashed a massive amount of money abroad.

    Nurhadi said that the article was "considered inappropriate, far from decent and careless, so it is considered against the law on defamation, and against the honour of the plaintiff, who is a military general, retired, and former Indonesian president".

    "Based on those considerations, the plaintiff's civil suit and demands on immaterial damages are accepted in order to uphold justice."

    Under Indonesian law, the only legal avenue now open to Time would be to file a request for a judicial review, for which new evidence or a procedural dispute needs to be claimed.

    Before the ruling was confirmed, a lawyer for Time, Todung Mulya Lubis, told the afternoon newspaper Sinar Harapan that, if it was true, "it means they [the court] have taken a step backward".

    "What Time published was based on journalistic ethics. It was fair and covered both sides. It would be a step backward for the Indonesian press," he was quoted as saying.

    Soeharto has denied accumulating a fortune while in power. He described as "ridiculous" a Forbes magazine estimate after he stepped down that he was one of the world's richest men.

  • Losing the Battle but not the War

    GLORIA DIAZ

    Losing the Battle but not the War

    Menjadi kepala cabang dari sebuah perusahaan asing terkemuka adalah ibarat menjadi “raja kecil”. Kecuali ketika ada orang dari kantor pusat yang hadir mengunjungi cabang, praktis seorang kepala cabang adalah orang yang paling berkuasa. Bahkan ketika ada orang pusat datang ke cabang, namun jika orang tersebut bukan atasan langsung dari kepala cabang; tetap saja kepala cabang adalah yang paling berkuasa. Tak seorangpun di kantor akan berani menentang perintah kepala cabang. Paling paling orang akan menggerutu di belakang. Namun demikian, kekuasaan yang diperoleh karena jabatan yang disandang ternyata tidak menjadikan seseorang sebagai pemimpin sejati.

    Seperti yang saya alami sekitar14 tahun yang lalu, ketika saya ditunjuk manajemen menjadi kepala cabang Malang . Ceritanya, waktu itu terjadi situasi krisis yang mengharuskan terjadinya pergantian kepala cabang secara cepat. Sebelum peristiwa itu terjadi, posisi saya adalah sebagai wakil kepala cabang Surabaya . Oya, saya bekerja di sebuah perusahaan kosmetik yang menjual dengan sistim direct selling. Dengan sistim ini, para penjual adalah orang-orang yang mandiri. Mereka bukan karyawan. Dalam sistim tersebut, sales force terdiri dari dua lapisan. Yang pertama adalah sales coordinator. Yang kedua adalah dealer atau penjual.

    Kembali pada cerita tadi, saya datang ke Malang dengan istilahnya mandat penuh dari pusat untuk melakukan apapun yang dipandang penting untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Tantangannya adalah fakta bahwa kepala cabang yang saya gantikan adalah orang yang memiliki pengaruh kuat terhadap sales coordinator yang terdiri dari ibu-ibu. Namun saya tidak gentar. Karena sekarang saya adalah penguasa yang sah. Demikian pikir saya.

    Bisa dibayangkan bagaimana sikap saya waktu itu. Percaya diri saya sangat tinggi. Betapa tidak. Umur belum lagi 30. Habis promosi dari wakil kepala cabang, sekarang menjadi kepala cabang. Dapat mobil pula.

    “Wow… mantap bo,” pikir saya dalam hati.

    Di bulan pertama, saya menghabiskan waktu untuk merekrut dan melatih sales coordinator baru. Saya mengabaikan orang-orang lama, terlebih mereka yang memiliki kedekatan dengan pemimpin cabang sebelumnya. Hasil dari kerja keras merekrut orang baru memang nyata. Mereka yang saya rekrut dan saya latih berhasil meningkatkan jumlah dealer sehingga tingkat penjualanpun naik.

    “Saya akan membantu siapapun yang memang niat bekerja,” demikian saya sering katakan pada para sales coordinator di dalam sales meeting. “Yang penting, ikut cara saya.”

    “Tapi Pak, kata Bapak pimpinan cabang sebelum Bapak harusnya begini….,” pernah seorang sales coordinator menanyakan kebijakan yang saya ambil.

    “No… no… no… Sekarang kepala cabangnya saya. So, Ibu-Ibu harus ikuti saya,” jawab saya meradang

    Beberapa sales coordinator yang mengetahui adat keras yang saya miliki mencoba mengikuti ritme saya. Hal ini, makin membuat saya sombong. Saya makin merasa berkuasa. Saya makin merasa bisa melakukan apapun. Saya makin kurang peduli dengan pendapat orang lain. Pokoknya, this is my way. Ini cara saya. “Take it or leave it”, sering pula saya tiru kata bos saya yang orang Amerika.

    Hingga suatu ketika, saya baru menyadari bahwa salah satu sales coordinator yang vocal dan memiliki tingkat penjualan besar (sebut saja Ibu Setia) mulai jarang muncul di kantor. Awalnya saya masa bodoh. “Biarin. Loe kagak datang, loe sendiri yang rugi,” kata saya dalam hati. Saya tahu, ybs tidak muncul ke kantor pasti karena ada hal yang membuatnya kesal atau kecewa, karena sebelumnya ybs setiap hari selalu datang ke kantor. Namun kesombongan yang saya miliki membuat saya merasa gengsi untuk mencoba mencari tahu.

    Keadaan itu terus berlanjut. Ibu Setia betul-betul tidak pernah ke kantor. Jika ada urusan, selalu yang datang adalah suaminya. Dan saya masih juga tidak peduli. Namun saya lupa satu hal. Bagaimanapun juga, Ibu Setia adalah seorang “informal leader”. Ia memiliki pengaruh terhadap sales coordinator yang lain. Jika pada awalnya hanya Ibu Setia yang tidak ke kantor, maka belakangan sales coordinator lain yang dekat dengannya juga mulai ikut tidak aktif. Kantor menjadi makin sepi. Omzet penjualan ikut menurun. Dan saya kena batunya.

    Saat itu terjadi perang dalam batin saya. Ada rasa gengsi untuk mendekati Ibu Setia. Namun, di sisi lain ada rasa butuh. Karena ternyata tanpa Ibu Setia, cabang yang saya pimpinpun mengalami kemunduran. Maju… mundur…. Dekati…. Tidak…. Menang…. Kalah…. Hal itu berkecamuk dalam pikiran saya. Hingga suatu titik, entah bagaimana saya mulai berpikir untuk mendatangi rumah ybs. Dan begitu pikiran itu muncul, tanpa menunda banyak, tanpa memberi informasi, tanpa didampingi siapapun, siang itu saya tiba-tiba muncul di rumah ybs.

    Pertama yang menerima kehadiran saya adalah suami dari Ibu Setia. Ybs tidak bersedia menemui saya. Cukup lama saya berbicang-bincang dengan suami Ibu Setia. Merasa tidak enak, akhirnya suami dari Ibu Setia masuk dan mendorong istrinya untuk menemui saya. Tak berapa lama kemudian, Ibu Setia keluar. Tanpa senyum. Tanpa sapa. Muka menunduk. Suaminya masuk ke dalam. Di ruang tamu, kami ditinggal berdua. Tidak ada suara. Saya juga salah tingkah.

    “Apa kabar, Bu.” Kata saya mencoba mencairkan suasana. Diam. Tidak ada jawaban. Dalam kebingungan, saya akhirnya berkata “Bu, saya tidak tahu kenapa Ibu tidak pernah datang ke kantor lagi. Kalau itu disebabkan oleh kesalahan saya, saya minta maaf ya?” Dan tiba-tiba Ibu Setia menangis tersedu. Saya terdiam. Setelah beberapa saat, baru terucap bahwa Ibu Setia kecewa karena ybs merasa bahwa saya tidak pernah peduli dengan kesulitan yang dialaminya. Saya sebagai kepala cabang hanya memikirkan orang-orang baru. Saya tidak memberikan dukungan terhadap ybs. Dan seterusnya…. Dan seterusnya….

    Siang itu, saya meninggalkan rumah Ibu Setia dengan perasaan lega. Paling tidak kebekuan komunikasi karena gengsi yang saya miliki telah dicairkan. Beberapa hari setelah kedatangan saya ke rumah Ibu Setia, ybs mulai muncul kembali ke kantor. Demikian pula dengan teman-teman dekat ybs. Kantor menjadi makin ramai. Penjualanpun kembali normal. Yang paling manis dari pengalaman ini bukanlah soal penjualan kembali normal. Yang paling manis adalah kenyataan bahwa sejak saat itu, hubungan saya dengan Ibu Setia justru makin solid. Saya teringat, ketika saya dimutasikan ke Bekasi di pertengahan 1997, Ibu Setia yang pernah tidak mau menjumpai saya, justru menjadi orang yang menunjukkan expresi kehilangan paling besar.

    Bulan itu saya baru mengerti, bahwa untuk menjadi pemimpin sejati kekuatan dari jabatan (Role Power) dan pengetahuan (Knowledge Power) saja tidak cukup. Saya memerlukan kekuatan yang lain yaitu Personality Power. Dan bulan itu saya juga belajar bahwa untuk memenangkan sebuah perang, ada kalanya kita harus merelakan untuk kalah di salah satu pertempuran. Losing the battle, but not the war.

    Bagaimana menurut Anda?

  • Penjara Seumur Hidup bagi Mantan Presiden Korup

    LISHAY OK
    Manila-Mantan Presiden Filipina Joseph Estrada dijatuhi hukuman penjara seumur hidup setelah pengadilan antikorupsi negara menyatakan dirinya terbukti bersalah menjarah uang rakyat, Rabu (12/9). Pengadilan juga melarang Estrada tampil di muka publik. Sementara putranya, Jinggoy, yang juga seorang senator dinyatakan tidak bersalah. Keputusan pengadilan tersebut membuat mata uang peso menguat dan bursa saham naik.

    “Saya pikir peran pengadilan akan berkuasa, namun ini benar-benar pengadilan lelucon,” kata Joseph Estrada, mantan bintang film berusia 70-an itu kepada wartawan.

    Di luar gedung pengadilan, sekitar 300 pendukungnya menggeleng-gelengka n kepala tidak percaya, namun situasi tetap tenang. Jumlah mereka jauh lebih sedikit, dibandingkan perkiraan sebelumnya yang dinyatakan ribuan.

    Usai mendengar keputusan pengadilan, Estrada memeluk istrinya dan putrinya yang berurai air mata sebelum kembali ke vilanya sampai perintah pengadilan selanjutnya. Pengacara Estrada, Rene Saguisag, menegaskan Estrada tidak berniat menunda-nunda penahanannya. “Dia tidak berniat mencari perlakuan khusus. Dia siap dipindahkan ke Muntinlupa (penjara) hari ini,” kata Saguisag.

    Mata uang peso yang sempat turun satu persen pekan ini akibat ketidakpastian keputusan pengadilan atas kasus tersebut, hari Selasa (11/9) menguat terhadap dolar. Bursa saham juga naik 0,28 persen, setelah dua hari berturun-turut merosot. (ant/reuters/nat/ ren)

    MA Hambat Kebebasan Pers

    Oleh
    Tutut Herlina

    Jakarta – Putusan Mahkamah Agung (MA) yang memenangkan gugatan Soeharto atas majalah TIME Asia secara mutlak bisa menjadi “mimpi buruk” bagi perkembangan pers di Indonesia yang saat ini sudah mulai bebas.

    Tindakan tersebut juga menunjukkan bahwa MA tidak mendukung perkembangan saat ini, yakni kebebasan pers yang diterima baik oleh pemerintah maupun aparatnya.

    Putusan tersebut tak ubahnya seperti tindakan pembreidelan secara tidak langsung. Hal tersebut dikemukakan Ketua Dewan Pers Ichlasul Amal kepada SH di Jakarta, Rabu (12/9) pagi. Dia mengatakan putusan Mahkamah Agung tersebut bertentangan dengan harapan dari komunitas pers.

    Hampir semua instansi saat ini sudah menerima Undang-Undang Pers sebagai landasan penyelesaian bagi kasus-kasus yang melibatkan insan pers. “Keputusan yang dibuat, kalau ada berita pers yang tidak sesuai biasanya disuruh tanya pada Dewan Pers,” kata Ichlasul. Dia menambahkan penggunaan KUHP oleh Mahkamah Agung dalam putusannya dan membebankan uang ganti rugi senilai Rp 1 triliun merupakan langkah mundur. Putusan seperti itu ke depan bisa berpotensi untuk menghancurkan dunia pers dengan cara membuat kebangkrutan lewat keputusan pengadilan.

    “Kalau Mahkamah Agung menggunakan UU Pers ganti rugi maksimal adalah Rp 500 juta, itu akan sangat baik keputusannya. Keputusan seperti ini akan membuat ketakutan. Lalu tuntutan ganti rugi semuanya disetujui kan bangkrut semua. Jadi ini sebenarnya merupakan pembreidelan secara tidak langsung,” katanya.

    Segera Eksekusi
    Sementara itu, MA tengah mempersiapkan minotasi atau tahap perampungan berkas putusan kasasi perkara perdata antara Soeharto dan majalah TIME Asia. Berkas tersebut akan diserahkan ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, sebagai pengadilan pengaju perkara, untuk dijadikan dasar dilakukannya eksekusi atas putusan kasasi.

    “Eksekusi sepenuhnya kewenangan PN Jakarta Pusat. MA tidak punya kewenangan apa-apa untuk memerintahkan eksekusi, semua diserahkan ke pengadilan pengaju,” demikian disampaikan Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Kabag Humas) MA Nurhadi kepada SH ,Rabu (12/9).
    Nurhadi menjelaskan tahap minotasi saat ini berada di tangan panitera muda perdata MA yang kemudian diserahkan ke PN Pusat, setelah pemberkasan hasil putusan kasasi dianggap final. Oleh PN Pusat selanjutnya akan diberitahukan kepada para pihak, baik penggugat dan tergugat, secara langsung maupun melalui masing-masing kuasa hukumnya untuk mengambil putusan kasasi secara resmi ke pengadilan.
    Bagi penggugat yang menang, Nurhadi mengatakan akan diberi kesempatan untuk memastikan pelaksaan eksekusi kepada PN Jakarta Pusat yang kemudian akan ditindaklanjuti oleh pengadilan dengan membuat penetapan eksekusi dan menyiapkan aparat peradilan dan petugas kepolisian.

    Namun, sebelum eksekusi dilakukan, pengadilan diwajibkan terlebih dahulu memberitahukan perihal rencana pelaksanaan eksekusi kepada tergugat yang kalah.

    Dengan terpenuhinya seluruh prosedur dan syarat-syarat pelaksanaan eksekusi, tidak ada alasan bagi tergugat untuk menghalang-halangi eksekusi. “Jika tidak berkenan akan dilakukan upaya paksa, bahkan pelaksanaan eksekusi tidak menunda upaya peninjauan kembali (PK) oleh seorang tergugat yang dinyatakan kalah di tingkat kasasi. Undang-Undang berkata demikian,” papar Nurhadi.

    Sementara itu, Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Cicut Sutiyarso yang dicoba dikonfirmasi SH terkait dengan persiapan pelaksanaan eksekusi atas putusan kasasi di tingkat MA, belum dapat dimintai keterangan. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat merupakan pengadilan tingkat pertama kasus ini disidangkan.

    Sarankan PK
    Pada kesempatan lain, Ketua MA Bagir Manan mempersilakan majalah Time melakukan Peninjauan Kembali (PK) jika berkeberatan atas putusan MA yang memenangkan Soeharto di tingkat kasasi. Bagir mengaku sudah memilih hakim yang tepat, walau ketua majelis hakim memiliki latar belakang karier di bidang peradilan militer, yakni Ketua Muda MA Bidang Peradilan Militer, yakni German Hoediarto. “Dua hakim anggotanya kan memiliki pengalaman menangani perkara perdata,” kata Bagir. “Kalau keberatan, silakan saja PK,” ujar Bagir di Gedung MA, Selasa (11/9).

    Dukungan sama atas pengajuan PK dikatakan oleh Wakil Ketua Badan Kehormatan DPR Gayus Lumbuun. Guru Besar hukum administrasi UI ini mengatakan, walau terasa “pahit” bagi pers, semua pihak semestinya menghormati putusan tersebut.

    “Dua pengadilan di bawah MA memeriksa fakta- fakta sebagai judex factie. Yang diperiksa MA adalah bagaimana penerapan hukumnya di dua tingkat pengadilan itu sebagai judex juris,” katanya dalam perbincangan dengan SH, Selasa (11/9).

    Hal sama dikatakan oleh Menteri Hukum dan HAM (Menhukham) Andi Mattalata yang menyatakan tidak mau ikut campur dengan putusan kasasi MA tersebut. Ia menandaskan putusan pengadilan bersifat bebas dan tidak bisa diintervensi.

    “Kita tidak boleh ikut campur urusan pengadilan, karena pengadilan mempunyai kebebasan untuk memutuskan sesuatu,” kata Andi di Jakarta, Selasa (11/9). (leo wisnu susapto/rafael sebayang/rikando somba)

    Mesum Di Hotel, Pegawai Depag Dirazia

    Rabu 12 September 2007, Jam: 20:54:00
    SURABAYA (Pos Kota) - Lagi enak-enakan mesum di hotel di Tulunggung, pegawai negeri sipil (PNS) Departemen Agama (Depag) setempat dirazia petugas gabungan aparat Polres Tulunggagung, Selasa (11/9/) malam.

    Kedua pasangan kumpul kebo yang terkena razia itu adalah Pairin,50 PNS Depag Tulungagung dan Mujinah,45 ditemukan polisi sedang asyik di satu kamar hotel.

    Tidak hanya Pairin dan Mujinah namun ada satu pasangan lagi yang sedang asyik dibawa anggota polisi ke Polres Tulunggung.

    Aiptu Widodo, Komandan Operasi dari Polres Tulunggagung, menjelaskan operasi yang dilakukan untuk menghormati bulan suci Ramadhan. "Mereka yang terkena razia akan dibina," kata Aiptu Widodo.

    DIAMANKAN
    Razia juga dilakukan Polres Tulungagung di sejumlah tempat di antaranya cafe dan Gunungbolo tempat mangkalnya sejumlah pelacur.
    "Di Gunungblo ada delapan pelacur yang diamankan," katanya, sambil menjelaskan di hotel di Tulungagung terdapat dua pasangan kumpul kebo digaruk petugas.

    Operasi dilakukan sekitar pukul 10.00-12.00 WIB sempat bocor pasalnya ketika anggota intel datang ke hotel itu buku tamu penuh. Namun ketika digerebek dan dilihat di kamar banyak pasangan yang berlarian meninggalkan hotel melalui pintu samping, bahkan ada juga celana dalamnya masih ketinggalan.

  • Dari melek baca-tulis ke melek pengetahuan

    VIUANTILL
    Dari melek baca-tulis ke melek pengetahuan

    (Sebuah catatan pada Hari Aksara)

    Oleh Luis AmanPENDIDIKAN kita sekarang dibandingkan dengan pendidikan tahun 70-an dan 80-an, telah jauh berkembang. Angka buta huruf kian ditekan. Di mana-mana telah berdiri sekolah-sekolah, mulai dari TK, SD, sekolah menengah, sampai perguruan tinggi. Lalu, semakin banyak orang yang sadar akan arti penting pendidikan. Semakin banyak masyarakat yang menyadari bahwa kualitas hidup hanya bisa diubah dengan bersekolah; dengan mengenyam pendidikan. Ini tentu fakta yang membanggakan. Ada manfaat nyata dari pendidikan setelah sekian lama negeri ini membenahi dunia pendidikannya. Apa yang diamanatkan UUD 1945 tentang tugas negara untuk mencerdaskan kehidupan rakyat terlihat menunjukkan hasilnya.

    Pencegahan dan pemberantasan buta huruf tentu upaya yang mesti terus digalakkan, bahkan seumur hidup bangsa Indonesia. Angka buta huruf di NTT tahun 2007 adalah 117. 663 orang (Pos Kupang, Kamis, 6 September 2007). Angka ini tentu tidak bisa dianggap sepele dan mesti terus ditekan hingga terwujud NTT yang bebas buta huruf. Akan tetapi itu sesungguhnya belum apa-apa. Tujuan pendidikan di negeri ini bukan sekadar pemberantasan buta huruf, melainkan pencerdasan kehidupan masyarakat. Pemberantasan buta huruf hanyalah salah satu tahap dari upaya mencerdaskan rakyat. Hal itu tidak boleh menjadi prioritas lagi sekarang. Mencegah dan memberantas buta huruf seharusnya telah menjadi bagian yang tidak perlu dipikirkan lagi, sesuatu yang taken for granted. Ia harus sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan di dunia ini; sesuatu yang sangat vital dan otomatis diperlukan. Hal yang mesti lebih serius dipikirkan sekarang adalah ‘apa yang harus dibangun dan dilakukan negara setelah sekian banyak rakyatnya melek huruf?’

    Dulu, orang yang tahu baca-tulis adalah orang yang paling hebat dan paling beruntung. Ia bisa diterima untuk bekerja di banyak tempat. Ia dengan mudah diangkat menjadi pegawai negara dan swasta. Sekarang kita hidup di era yang amat menjunjung tinggi kualitas dan wawasan kepengetahuan, kompetensi keilmuan, kreativitas, dan daya saing, saat mana baca-tulis dilihat sebagai kemampuan dasar yang tidak perlu dipersoalkan lagi. "Bila mau hidup, harus tahu baca tulis, tetapi bila mau hidup baik, jangan hanya tahu baca-tulis." Kita hidup di dunia yang menuntut kemampuan yang lebih daripada sekadar tahu membaca dan tahu menulis. Konteks dunia dengan warna globalisasi dan modernisasi yang kental mensyaratkan manusia-manusia berkualitas, yang kritis, kreatif, analitis, inovatif, berinisiatif, mandiri, dan berdaya saing. Untuk itulah negara dituntut untuk terus ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’; guna membawa masyarakatnya kepada kualitas hidup yang semakin baik dari hari ke hari, yang senantiasa mampu menjawab tuntutan zamannya.Mencerdaskan masyarakat

    Amanat UUD 1945 untuk mencerdaskan kehidupan bangsa ini bukan tugas gampang. Setelah 62 tahun menjalankan amanat tersebut, kita masih harus menerima kenyataan bahwa sebagian besar masyarakat kita minim pengetahuannya. Kebanyakan dari kita sulit eksis dalam percaturan persaingan era global lantaran tak cukup wawasan dan kompetensi untuk berkompetisi. Ini harus menjadi hal yang dipikirkan secara serius ke depan, bila kita memang masih berpegang pada amanat UUD kita.

    Mencerdaskan masyarakat adalah visi sekaligus tugas besar yang mesti diemban pemerintah dan berbagai elemen masyarakat. Masyarakat mesti dicerdaskan agar mampu menentukan yang terbaik bagi dirinya, bisa mandiri, kreatif dan inovatif, sehingga pada akhirnya bisa bersaing dalam kancah global. Masyarakat mesti dicerdaskan dalam segala lini kehidupan agar tidak mudah menjadi ‘orang-orang kalah’ dalah ruang persaingan masyarakat modern, agar tidak gampang diperdaya dan dikorbankan dalam permainan politik kotor, serta tidak enteng dibuai dan dibuali dengan janji-janji manis muluk saat kampanye pemilu misalnya. Masyarakat harus dicerdaskan untuk bisa hidup dan berkembang sesuai tuntutan zaman saat mana masyarakat itu hidup.

    Setidaknya ada dua hal penting yang mesti diperhatikan bersama dalam rangka melahirkan masyarakat yang semakin cerdas ini; yang tidak hanya melek baca-tulis, tetapi juga melek pengetahuan. Pertama, pembenahan mutu pendidikan. Lalu kedua, menjadikan aktivitas membaca sebagai budaya. Mutu pendidikan

    Pembenahan mutu pendidikan merupakan hal yangterus-menerus diperbincangkan dan didiskusikan bersama. Pembenahan mutu pendidikan di negeri ini memang sangat urgen. Perbaikan kualitas pendidikan harus menjadi prioritas di tengah kenyataan krisis sumber daya manusia yang masih kita alami. Untuk menciptakan manusia Indonesia yang ‘melek pengetahuan’ pertama-tama mesti memperbaiki wajah dunia pendidikannya. Lahirnya manusia-manusia muda Indonesia yang tidak hanya tahu baca-tulis, tetapi juga punya wawasan luas, punya kompetensi keilmuan tinggi, kritis, kreatif, inisiatif dan berdaya saing, meniscayakan mutu pendidikan yang lebih baik daripada sekarang ini.

    Tentu ada banyak aspek yang mesti diperhatikan dalam meningkatkan mutu pendidikan. Sejak awal masa reformasi, telah didengung-dengungka n bahwa reformasi di bidang pendidikan haruslah bersifat integral, holistik, atau mencakup semua aspek. Aspek-aspek itu antara lain peningkatan kesejahteraan guru, perbaikan kurikulum dan sistem pendidikan, peningkatan kualitas dan kuantitas guru, pembenahan sarana dan prasarana pendidikan, dan upaya kerja sama dengan orangtua siswa sebagai stakeholder pendidikan. Semuanya tentu mesti diperhatikan secara integral dan proporsional.

    Semuanya itu diperhatikan guna menunjang pendidikan yang sungguh berkualitas, yang sesuai tuntutan dunia modern dan selaras perkembangan kesadaran manusia. Pendidikan yang diharapkan itu adalah pendidikan yang betul-betul menghantar para peserta didiknya untuk mampu berpikir kritis, inovatif dan berdaya juang tinggi serta berdaya saing. Pendidikan mesti menghasilkan generasi muda bangsa yang bisa aktif berkompetisi di atas pentas persaingan global. Untuk itu,gaya-gaya lama dalam pendidikan, seperti ‘guru berbicara siswa mendengar’ yang masih luas dipraktikkan di sekolah-sekolah kita harus segera mendapat perhatian serius pemerintah. Kita butuh sekolah yang menekankan otonomi dan kompetensi siswa, yang memiliki cara-cara praktis konkret untuk menciptakan iklim studi yang menyenangkan siswa, yang tidak menyiksa dan membebankan, yang membuat peserta didik aktif dan kerasan bersekolah. Model penjejalan materi, pendiktean, dan praktik kekerasan mesti diganti dengan gaya-gaya baru yang sungguh dialogal, yang menekankan partisipasi aktif siswa dalam pengembangan pengetahuan pribadinya, serta yang betul-betul memungkinkan siswa secara leluasa menemukan, menggali, mengangkat, dan mengembangkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Hanya dengan demikian pendidikan kita bisa menghasilkan out put-out put yang mampu eksis dan bertahan di atas panggung kompetisi global. Budaya membaca

    Buku adalah jendela dunia. Ungkapan ini mungkin kelihatannya tidak relevan lagi di era televisi, VCD, DVD, dan internet, sekarang ini. Akan tetapi, esensi nilai pesannya tak akan dimakan waktu. Buku akan tetap menjadi jendela dunia. Kebiasaan membaca tetap menjadi prasyarat pokok untuk bisa melihat dan mengenal dunia dan perkembangannya. Budaya membaca merupakan prasyarat dasar untuk mengetahui lebih banyak tentang kompleksitas persoalan di dunia tempat tinggal kita ini, segala harapan dan kecemasannya, serta setiap peluang dan tantangannya. Teknologi boleh maju, koran, majalah dan buku-buku boleh melimpah, internet juga boleh masuk kampung, tetapi bila masyarakatnya tidak punya minat baca,maka semuanya akan menjadi tidak berguna dan nihil makna. Kita akan tetap miskin ilmu dan miskin informasi. Kita akan tetap berada ‘dalam tempurung’. Kita akan tetap menjadi becak di tengah lalu lintas kendaraan kota besar yang supercepat.

    Tak dapat disangkal memang, budaya membaca sama sekali belum menyentuh masyarakat kita. Sering terjadi di kantor-kantor pemerintahan, ketika tak ada pekerjaan yang harus diselesaikan, para pegawainya lebih suka nongkrong daripada membaca koran, majalah atau buku; lebih suka gosip dan ngerumpi daripada mendiskusikan berita-berita aktual dari media massa. Budaya berkumpul dan budaya lisan masih sangat kuat mengikat masyarakat kita. Jangankan masyarakat non akademis, masyarakat akademis pun masih ‘jauh panggang dari api’. Minat baca dosen, guru, mahasiswa, dan siswa sangat memrihatinkan. Perpustakaan daerah yang ada di tengah kota jarang dikunjungi para guru, apalagi mahasiswa dan siswa. Usaha toko buku di ibu kota-ibu kota kabupaten pun tidak berkembang karena angka permintaan yang relatif kecil. "Adalah pemandangan biasa jika pelajar di Flotim berangkat ke sekolah tanpa tas. Mereka hanya membawa satu atau dua eksemplar buku tulis yang isinya pun tidak karuan. Anak-anak muda ini merasa ‘gensinya turun’ jika membawa tas," tulis Zefirinus K Lewoama dalam artikelnya "Ketika Guru dan Murid Jarang Baca" (Pos Kupang, 21 Juni 2007). Bukan hanya di Flotim, di tempat-tempat lainnya di NTT tak kalah ‘biasa’-nya. Dalam hal krisis minat baca kita semua sama.

    Tugas berat kita bersama ke depan adalah bagaimana meningkatkan minat baca masyarakat. Yang dibutuhkan bukan sekadar membuat masyarakat tahu membaca, melainkan terutama menjadikan aktivitas membaca itu sebagai suatubudaya. Ini sebuah cita-cita besar yang bagaimanapun juga harus dimiliki setiap bangsa dan daerah di dunia modern ini. Hal ini bukan tidak mungkin dicapai bila ada niat dan tekat kuat serta kesungguhan untuk mengusahakannya.

    Saya setuju dengan Bapak Zefirinus yang menekankan perlunya kebiasaan membaca sejak usia dini. Orangtua menjadi cermin bagi anak-anak dalam hal apa saja, termasuk dalam kebiasaan membaca. Lalu, perlu meningkatkan frekuensi pemberian hadiah berupa buku. Perayaan ulang tahun, sambut baru, dll, bukan sekadar ajang ‘kumpul amplop’ melainkan terutama sebagai ajang ‘kumpul buku’ (bdk, Ibid). Anak-anak berprestasi pun lebih baik dihadiahi buku daripada uang. Kebiasaan-kebiasaan kecil semacam ini semestinya terus-menerus dikampanye-kan pemerintah, gereja, LSM-LSM, dan pihak-pihak lainnya yang bertanggung jawab dalam upaya pencerdasan masyarakat. Kita hanya betul-betul bertekad mencerdaskan masyarakat bila tidak henti-hentinya berupaya dan tidak pernah kehabisan daya untuk mencari jalan keluar yang mungkin demi peningkatan minat baca masyarakat.

    Kemudian program penting yang perlu digalakkan lagi adalah program koran masuk desa. Desa masuk koran sudah biasa. Koran nasional seperti Kompas pun sudah sering mengangkat masalah-masalah aktual krusial di daerah-daerah terpencil di NTT. Akan tetapi, program koran masuk desa, yang seharusnya sangat penting untuk meningkatkan minat baca masyarakat, belum pernah dibuat. Jangankan koran masuk desa, koran masuk sekolah pun masih butuh perhatian serius. Banyak toh sekolah menengah di NTT yang guru dan siswanya hampir tak pernah membaca koran, sehingga tak heran bila kebanyakan masyarakat kita ketika meli-hat buku hanya sampai pada tarafmeraba- raba cover-nya, sedikit membolak-balik lembar-lembarnya, sambil mengagumi keindahannya, tanpa sedikit pun minat untuk membacanya. Anggaran pendidikan yang kini sedang ‘menuju 20%’ dari APBN, perlu juga dialokasikan untuk kepentingan- kepentingan seperti ini. Dana-dana pendidikan tidak sekadar untuk pembenahan bangunan fisik sekolah-sekolah, tetapi juga untuk pembenahan kualitas perpustakaan sekolah dan peningkatan minat baca guru dan siswa. Pembenahan perpustakaan daerah pun merupakan hal penting yang mesti direalisasi.

    Perbaikan kualitas pendidikan dan peningkatan minat baca masyarakat sungguh adalah hal yang mesti senantiasa dipikirkan secara serius. Yang kini kita harapkan bukan hanya terbentuknya masyarakat yang melek baca-tulis, melainkan terutama melek pengetahuan. Momen Hari Aksara ini merupakan momen yang tepat bagi kita untuk merefleksikan semua-nya, guna terus memikirkan dan mendiskusikan solusi-solusi yang mungkin bagi lahirnya masyarakat NTT yang cerdas, berwawasan luas, kritis, kreatif serta mampu bersaing dalam kompetisi global. *

    Sektor Informal, 'Kere-aktif' !

    H.Bambang Eka Wijaya:

    "AWAL puasa bukannya mikir cari duit buat berbuka dan Lebaran, malah bikin layangan!" gerutu istri, melihat suaminya meraut bambu dirangkai dengan benang.

    "Ini bukan layang-layang! " sambut suami. "Ini lampion kertas minyak warna-warni berbentuk bulan sabit dan bintang, lampu gantung di depan rumah saat Lebaran! Nanti diberi piting bohlam jantung dan kabel colokan listrik! Dahulu, lampunya ublik minyak tanah!"

    "Bulan puasa itu yang harus diutamakan cari duit untuk berbuka dan sahur!" entak istri. "Lampu hias Lebaran nanti-nanti saja, setelah lewat malam selikur!"

    "Justru pembuatan lampion ini disiapkan untuk cari duit buat beli bukaan dan sahur!" timpal suami. "Pasti ada orang yang nostalgis dan mau membelinya! Sekarang cari utangan dahulu, aku siapkan barang dagangan untuk membayarnya! "

    "Rupanya Abang kere-aktif juga!" sambut istri. "Cuma menjualnya di mana? Kalau di kaki lima terlalu rawan penggusuran, capek main petak umpet dengan petugas! Kalau kepergok tak sempat lari, lampion dari kertas itu bisa hancur tertimpa gerobak bakso atau lapak sayuran yang dilempar ke truk!"

    "Selain dipajang di pinggir jalan, nanti kita suruh teman menjajakan keliling perumahan!" tegas suami. "Sektor informal sebagai lahan kere yang aktif cari makan, dari zaman ke zaman digusur, digilas terus, tapi tetap hidup! Soalnya itu lahan penghidupan satu-satunya, sehingga kalau tidak aktif kaum kere seperti kita ini tak bisa makan lagi!"

    "Tapi kenapa ya, pemerintah yang secara nyata belum mampu menciptakan lapangan kerja sektor formal buat warganya, selalu mengudak-udak kere-aktif di sektor informal?" tukas istri. "Lebih mengerikan lagi di Jakarta, dibuatkan Perda yang mengancam dengan hukuman dan denda berat! Padahal, sepanjang multikrisis ekonomi sewindu lebih ini, justru sektor informal yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional dengan pertumbuhan ditopang konsumsi!"

    "Itu karena angan-angan para pemimpin bangsa ini melambung setinggi langit, hingga lupa realitas rakyatnya masih mengais pagi di makan siang, mengais siang dimakan malam!" timpal suami. "Mudah-mudahan cahaya lampion bulan dan bintang ini menerangi hati para pemimpin, hingga tidak gelap mata menggusur pedagang kaki lima dan sektor informal lainnya! Terutama dalam bulan puasa ini, agar warga kere-aktif bisa bertahan hidup dan agak tenang menikmati Lebaran Idulfitri, meski serbaprihatin! "

    "Amin!" sambut istri. "Lebih bagus lagi, kalau pembinaan sektor informal sebagai himpunan kaum kere-aktif sesuai kata dengan tindakan para pemimpin! Jangan setiap bicara sok bijaksana memperhatikan nasib kere-aktif di sektor informal, tapi tindakannya di lapangan tak henti mengubrak-abriknya! "

    "Kita doakan saja para pemimpin mendapat hidayah Ramadan, sehingga sikapnya menjadi penuh kasih sayang kepada kere-aktif di sektor informal!" tegas suami. "Doakan, saat bulan puasa ini setan-setan dibelenggu, para pemimpin kembali ke hati nuraninya yang pada dasarnya baik!"

    Warga Tionghoa Siap Balas Budi

    Makassar, Tribun - Tokoh Tionghoa di Makassar, Anton Obey dan Yonggris, mengungkapkan, warga Tionghoa siap "membalas budi" kepada kandidat yang memperhatikan mereka selama ini.
    Keduanya mengungkapkan hal tersebut kepada Tribun, Rabu (12/9) malam, saat dimintai tanggapanya seputar dukungan warga Tionghoa di Sulawesi Selatan (Sulsel) pada pemilihan kepala daerah (pilkada), 5 November mendatang.

    Sehari sebelumnya, sekitar 300 warga Tionghoa menggelar acara di Makassar Golden Hotel (MGH) bertajuk Kesadaran Warga Tionghoa Menggunakan Hak Pilih.
    Anton yang juga anggota Dewan Penasihat (Wanhat) DPD I Golkar Sulsel dan Yonggris hadir dalam pertemuan itu.
    Di tengah-tengan acara, kandidat gubernur Syahrul Yasin Limpo juga datang bersama sejumlah tim suksesnya. "Latar belakang kegiatan malam itu adalah memberikan pendidikan politik bagi warga Tionghoa yang cenderung tidak menggunakan hak pilihnya (golput)," kata Anton.

    Menurutnya, sebagian warga Tionghoa masih merasa alergi dan traumatik terhadap politik akibat berbagai peristiwa sejak gerakan 30 September 1965. "Saya mengajak teman-teman untuk menggunakan hak pilihnya di pilkada nanti karena mereka adalah warga negara yang memiliki hak yang sama. Tapi tidak ada arahan agar mereka memilih figur tertentu, hanya mengajak mereka menggunakan haknya sebagai warga negara," tambahnya.

    Soal kecenderungan pilihan, Anton melihat aspek sehari- hari warga Tionghoa yang senang diayomi dan diperhatikan. "Siapa yang mengayomi, kecenderunganhya ke sana karena warga Tionghoa pandai berbalas budi. BudayaTionghoa juga sangat menghormati sesepuh, siapa yang didukung sesepuh Tionghoa maka kecenderungannya ke sana," jelas Anton.

    Clarion
    Sementara itu, sejumlah pengusaha Tionghoa menghdiri acara malam pengumpulam sumbangan di Hotel Clarion. Acara juga dihadiri calon Gubernur Amin Syam yang diusung Partai Golkar.
    Namun Amin menyatakan pertemuan Tim Pemenangan Asmara dengan komunitas Tionghoa adalah pertemuan silaturahmi biasa.
    "Itu bukan hanya pertemuan dengan komunitas Tionghoa saja, tapi seluruh pengusaha dan mereka yang bersimpati dengan perjuangan Asmara," kata Amin saat bersilatuirahmi ke Tribun, tadi malam.
    Amin datang bersama Wali Kota Makassar Ilham Arief Siradjuddin, Kepala Biro Humas Pemprov Sulsel Annas GS, dan beberapa elite Golkar Sulsel seperti Lutfhi Kadir dan La Kama Wiyaka.
    Penegasan serupa juga dikemukakan Ilham yang juga hadir dalam petemuan malam itu. "Itu kepada siapa saja yang ingin membantu perjuangan Asmara," kata Ketua DPD Golkar Makassar ini. (opi/rex/bie)

  • title-2977156

    VIUANTILL
    Dari melek baca-tulis ke melek pengetahuan

    (Sebuah catatan pada Hari Aksara)

    Oleh Luis AmanPENDIDIKAN kita sekarang dibandingkan dengan pendidikan tahun 70-an dan 80-an, telah jauh berkembang. Angka buta huruf kian ditekan. Di mana-mana telah berdiri sekolah-sekolah, mulai dari TK, SD, sekolah menengah, sampai perguruan tinggi. Lalu, semakin banyak orang yang sadar akan arti penting pendidikan. Semakin banyak masyarakat yang menyadari bahwa kualitas hidup hanya bisa diubah dengan bersekolah; dengan mengenyam pendidikan. Ini tentu fakta yang membanggakan. Ada manfaat nyata dari pendidikan setelah sekian lama negeri ini membenahi dunia pendidikannya. Apa yang diamanatkan UUD 1945 tentang tugas negara untuk mencerdaskan kehidupan rakyat terlihat menunjukkan hasilnya.

    Pencegahan dan pemberantasan buta huruf tentu upaya yang mesti terus digalakkan, bahkan seumur hidup bangsa Indonesia. Angka buta huruf di NTT tahun 2007 adalah 117. 663 orang (Pos Kupang, Kamis, 6 September 2007). Angka ini tentu tidak bisa dianggap sepele dan mesti terus ditekan hingga terwujud NTT yang bebas buta huruf. Akan tetapi itu sesungguhnya belum apa-apa. Tujuan pendidikan di negeri ini bukan sekadar pemberantasan buta huruf, melainkan pencerdasan kehidupan masyarakat. Pemberantasan buta huruf hanyalah salah satu tahap dari upaya mencerdaskan rakyat. Hal itu tidak boleh menjadi prioritas lagi sekarang. Mencegah dan memberantas buta huruf seharusnya telah menjadi bagian yang tidak perlu dipikirkan lagi, sesuatu yang taken for granted. Ia harus sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan di dunia ini; sesuatu yang sangat vital dan otomatis diperlukan. Hal yang mesti lebih serius dipikirkan sekarang adalah ?apa yang harus dibangun dan dilakukan negara setelah sekian banyak rakyatnya melek huruf??

    Dulu, orang yang tahu baca-tulis adalah orang yang paling hebat dan paling beruntung. Ia bisa diterima untuk bekerja di banyak tempat. Ia dengan mudah diangkat menjadi pegawai negara dan swasta. Sekarang kita hidup di era yang amat menjunjung tinggi kualitas dan wawasan kepengetahuan, kompetensi keilmuan, kreativitas, dan daya saing, saat mana baca-tulis dilihat sebagai kemampuan dasar yang tidak perlu dipersoalkan lagi. "Bila mau hidup, harus tahu baca tulis, tetapi bila mau hidup baik, jangan hanya tahu baca-tulis." Kita hidup di dunia yang menuntut kemampuan yang lebih daripada sekadar tahu membaca dan tahu menulis. Konteks dunia dengan warna globalisasi dan modernisasi yang kental mensyaratkan manusia-manusia berkualitas, yang kritis, kreatif, analitis, inovatif, berinisiatif, mandiri, dan berdaya saing. Untuk itulah negara dituntut untuk terus ?mencerdaskan kehidupan bangsa?; guna membawa masyarakatnya kepada kualitas hidup yang semakin baik dari hari ke hari, yang senantiasa mampu menjawab tuntutan zamannya.Mencerdaskan masyarakat

    Amanat UUD 1945 untuk mencerdaskan kehidupan bangsa ini bukan tugas gampang. Setelah 62 tahun menjalankan amanat tersebut, kita masih harus menerima kenyataan bahwa sebagian besar masyarakat kita minim pengetahuannya. Kebanyakan dari kita sulit eksis dalam percaturan persaingan era global lantaran tak cukup wawasan dan kompetensi untuk berkompetisi. Ini harus menjadi hal yang dipikirkan secara serius ke depan, bila kita memang masih berpegang pada amanat UUD kita.

    Mencerdaskan masyarakat adalah visi sekaligus tugas besar yang mesti diemban pemerintah dan berbagai elemen masyarakat. Masyarakat mesti dicerdaskan agar mampu menentukan yang terbaik bagi dirinya, bisa mandiri, kreatif dan inovatif, sehingga pada akhirnya bisa bersaing dalam kancah global. Masyarakat mesti dicerdaskan dalam segala lini kehidupan agar tidak mudah menjadi ?orang-orang kalah? dalah ruang persaingan masyarakat modern, agar tidak gampang diperdaya dan dikorbankan dalam permainan politik kotor, serta tidak enteng dibuai dan dibuali dengan janji-janji manis muluk saat kampanye pemilu misalnya. Masyarakat harus dicerdaskan untuk bisa hidup dan berkembang sesuai tuntutan zaman saat mana masyarakat itu hidup.

    Setidaknya ada dua hal penting yang mesti diperhatikan bersama dalam rangka melahirkan masyarakat yang semakin cerdas ini; yang tidak hanya melek baca-tulis, tetapi juga melek pengetahuan. Pertama, pembenahan mutu pendidikan. Lalu kedua, menjadikan aktivitas membaca sebagai budaya. Mutu pendidikan

    Pembenahan mutu pendidikan merupakan hal yangterus-menerus diperbincangkan dan didiskusikan bersama. Pembenahan mutu pendidikan di negeri ini memang sangat urgen. Perbaikan kualitas pendidikan harus menjadi prioritas di tengah kenyataan krisis sumber daya manusia yang masih kita alami. Untuk menciptakan manusia Indonesia yang ?melek pengetahuan? pertama-tama mesti memperbaiki wajah dunia pendidikannya. Lahirnya manusia-manusia muda Indonesia yang tidak hanya tahu baca-tulis, tetapi juga punya wawasan luas, punya kompetensi keilmuan tinggi, kritis, kreatif, inisiatif dan berdaya saing, meniscayakan mutu pendidikan yang lebih baik daripada sekarang ini.

    Tentu ada banyak aspek yang mesti diperhatikan dalam meningkatkan mutu pendidikan. Sejak awal masa reformasi, telah didengung-dengungka n bahwa reformasi di bidang pendidikan haruslah bersifat integral, holistik, atau mencakup semua aspek. Aspek-aspek itu antara lain peningkatan kesejahteraan guru, perbaikan kurikulum dan sistem pendidikan, peningkatan kualitas dan kuantitas guru, pembenahan sarana dan prasarana pendidikan, dan upaya kerja sama dengan orangtua siswa sebagai stakeholder pendidikan. Semuanya tentu mesti diperhatikan secara integral dan proporsional.

    Semuanya itu diperhatikan guna menunjang pendidikan yang sungguh berkualitas, yang sesuai tuntutan dunia modern dan selaras perkembangan kesadaran manusia. Pendidikan yang diharapkan itu adalah pendidikan yang betul-betul menghantar para peserta didiknya untuk mampu berpikir kritis, inovatif dan berdaya juang tinggi serta berdaya saing. Pendidikan mesti menghasilkan generasi muda bangsa yang bisa aktif berkompetisi di atas pentas persaingan global. Untuk itu,gaya-gaya lama dalam pendidikan, seperti ?guru berbicara siswa mendengar? yang masih luas dipraktikkan di sekolah-sekolah kita harus segera mendapat perhatian serius pemerintah. Kita butuh sekolah yang menekankan otonomi dan kompetensi siswa, yang memiliki cara-cara praktis konkret untuk menciptakan iklim studi yang menyenangkan siswa, yang tidak menyiksa dan membebankan, yang membuat peserta didik aktif dan kerasan bersekolah. Model penjejalan materi, pendiktean, dan praktik kekerasan mesti diganti dengan gaya-gaya baru yang sungguh dialogal, yang menekankan partisipasi aktif siswa dalam pengembangan pengetahuan pribadinya, serta yang betul-betul memungkinkan siswa secara leluasa menemukan, menggali, mengangkat, dan mengembangkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Hanya dengan demikian pendidikan kita bisa menghasilkan out put-out put yang mampu eksis dan bertahan di atas panggung kompetisi global. Budaya membaca

    Buku adalah jendela dunia. Ungkapan ini mungkin kelihatannya tidak relevan lagi di era televisi, VCD, DVD, dan internet, sekarang ini. Akan tetapi, esensi nilai pesannya tak akan dimakan waktu. Buku akan tetap menjadi jendela dunia. Kebiasaan membaca tetap menjadi prasyarat pokok untuk bisa melihat dan mengenal dunia dan perkembangannya. Budaya membaca merupakan prasyarat dasar untuk mengetahui lebih banyak tentang kompleksitas persoalan di dunia tempat tinggal kita ini, segala harapan dan kecemasannya, serta setiap peluang dan tantangannya. Teknologi boleh maju, koran, majalah dan buku-buku boleh melimpah, internet juga boleh masuk kampung, tetapi bila masyarakatnya tidak punya minat baca,maka semuanya akan menjadi tidak berguna dan nihil makna. Kita akan tetap miskin ilmu dan miskin informasi. Kita akan tetap berada ?dalam tempurung?. Kita akan tetap menjadi becak di tengah lalu lintas kendaraan kota besar yang supercepat.

    Tak dapat disangkal memang, budaya membaca sama sekali belum menyentuh masyarakat kita. Sering terjadi di kantor-kantor pemerintahan, ketika tak ada pekerjaan yang harus diselesaikan, para pegawainya lebih suka nongkrong daripada membaca koran, majalah atau buku; lebih suka gosip dan ngerumpi daripada mendiskusikan berita-berita aktual da

  • Live or Work

    AishwaryaR67
    Live or Work

    Father was a hardworking man who delivered bread as a living to support his wife and three children. He spent all his evenings after work attending classes, hoping to improve himself so that he could one day find a better paying job. Except for Sundays, Father hardly ate a meal together with his family. He worked and studied very hard because he wanted to provide his family with the best money could buy.

    Whenever the family complained that he was not spending enough time with them, he reasoned that he was doing all this for them. But he often yearned to spend more time with his family.

    The day came when the examination results were announced. To his joy, Father passed, and with distinctions too! Soon after, he was offered a good job as a senior supervisor which paid handsomely.

    Like a dream come true, Father could now afford to provide his family with life's little luxuries like nice clothing, fine food and vacation abroad.

    However, the family still did not get to see father for most of the week. He continued to work very hard, hoping to be promoted to the position of manager. In fact, to make himself a worthily candidate for the promotion, he enrolled for another course in the open university.

    Again, whenever the family complained that he was not spending enough time with them, he reasoned that he was doing all this for them. But he often yearned to spend more time with his family.

    Father's hard work paid off and he was promoted. Jubilantly, he decided to hire a maid to relieve his wife from her domestic tasks. He also felt that their three-room flat was no longer big enough, it would be nice for his family to be ablt to enjoy the facilities and comfort of a condominium. Having experienced the rewards of his hard work many times before, Father resolved to further his studies and work at being promoted again. The family still did not get to see much of him. In fact, sometimes Father had to work on Sundays entertaining clients. Again, whenever the family complained that he was not spending enough time with them, he reasoned that he was doing all this for them. But he often yearned to spend more time with his family.

    As expected, Father's hard work paid off again and he bought a beautiful condominium overlooking the coast of Singapore. On the first Sunday evening at their new home, Father declared to his family that he decided not to take anymore courses or pursue any more promotions. From then on he was going to devote more time to his family.

    Father did not wake up the next day.

  • Bremen Tawarkan Diego Kontrak Baru

    H  Berry
    Bremen Tawarkan Diego Kontrak Baru

    Berlin - Performa Diego yang cukup memukau membuat Werder Bremen berniat mempertahankannya. Kontrak baru pun segera diajukan untuk playmaker asal Brasil itu.

    Werder Bremen sepertinya ingin menyegel pemain berkelas mereka pasca kehilangan Miroslav Klose yang hengkang ke Bayern Munich. Kontrak berdurasi panjang pun diajukan klub yang bermarkas di Weser Stadion itu.

    "Performa pemain yang menjadi pertimbangan kami ketika membuat penawaran kontrak," kata Manajer Klub Bremen Klaus Allofs mengenai Diego yang akan ditawari kontrak hingga 2012 dengan bayaran 4 juta euro per tahun.

    Pendakatan pun sudah dilakukan manajemen Bremen ayah Diego yaitu Djair Cunha, yang sekaligus bertindak sebagai agennya. Namun kemungkinan besar sudah tidak akan ada masalah karena Diego telah menyatakan keinginannya untuk tetap bersama Bremen.

    "Saya telah merasa nyaman di sini. Pihak klub telah memberikan saya kesempatan untuk menunjukkan apa yang bisa saya lakukan ke depan nanti," ungkap Diego seperti dilansir Yahoo Sport.

    Pemain berusia 22 tahun itu sendiri sebenarnya masih terikat kontrak hingga 2010. Namun jika Diego menyambut tawaran tersebut, maka ia akan menjadi pemain yang memiliki gaji tertinggi kedua di Bremen setelah Torsten Frings yang mendapatkan gaji 4,2 euro.

    Real Bujuk Ballack (Lagi)

    Madrid - Melihat kesempatan manggaet Michael Ballack kembali terbuka, Real Madrid pun bergerak cepat. Bujuk rayu pun dilancarkan untuk membawa gelandang Chelsea itu ke Bernabeu.

    Seperti diketahui Ballack benar-benar dikecewakan Chelsea. Bukan hanya karena namanya tak masuk dalam skuad Liga Champions, kesempatan untuk berfoto bersama timnas Jerman pun dilarang.

    Tak salah jika mantan gelandang Bayern Munich dan Bayer Leverkusen itu uring-uringan. Spekulasi yang mengabarkan Ballack akan segera hengkang dari Stamford Bridge pun mengemuka.

    Kabar itulah yang langsung ditindaklanjuti oleh pihak Real Madrid, dengan membuka kesempatan pemain berusia 32 tahun itu berlabuh di Bernabeu.

    "Pintu kami tidak akan tertutup untuk Ballack. Kemampuan sepakbolanya selalu ada disana, dan akan masih bertahan untuk enam bulan ke depan," terang Bernd Schuster kepada majalah olahraga Jerman Kicker.

    Namun pelatih Real Madrid itu mengungkapkan harus ada yang dikorbankan oleh Ballack jika ingin hengkang dari Chelsea dan bergabung ke Madrid. Apa itu?

    "Gaji. Ia memiliki kontrak spesial di Chelsea, seperti kesepakatan bayaran yang bisa membuat budget pengeluaran kami meledak. Tak ada pemain di eal yang mendapat bayaran sepertinya dan kami tidak ingin membuat preseden," lanjut Schuster.

    Jika Ballack mau sedikit menurunkan gajinya, bukan tidak mungikin Real Madrid, atau raksasa Eropa lainnya, bisa menggaetnya Januari nanti. Selain itu, tim manapun yang berlaga di Liga Champions bisa memakai jasanya karena tidak diikutsertakannya Ballack dalam list skuad Liga Champions Chelsea.

    Freeport Jual Unit Usaha Kabel Senilai US$ 25,9 Miliar

    [PHOENIX] Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc salah satu produsen tembaga dan emas di dunia, akan menjual bisnis kabel di dalam unit usaha mereka. Hasil penjualan senilai US$ 25,9 miliar itu akan diperuntukkan menambah kekurangan dana Freeport untuk membayar utang .

    Demikian pernyataan yang diumumkan oleh perusahaan itu, Rabu (12/9), di Phoenix, Amerika Serikat.

    Freeport-McMoran menjual unit usaha kabel, Phelps Dodge International Corp., ke General Cable Corp. Nilai penjualan itu diperkirakan mencapai US$ 735 juta. Namun di sisi lain dengan dana tersebut tampaknya Freeport juga bermaksud membayar utang US$ 620 juta.

    Di kuartal kedua, Freeport harus membayar seluruh utangnya senilai US$ 2,45 miliar dari nilai utang sebesar US$ 10 miliar. Dana untuk membayar utang itu diperkirakan berasal dari penjualan Phelps Dodge, ujar juru bicara perusahaan itu William Collier.

    Sementara transaksi itu penjualan Phelps Dodge itu diperkirakan akan rampung pada kuartal keempat tahun ini.

    General Cable yang bermarkas di Highland Heights, Kentucky Amerika Serikat, adalah perusahaan pembuat alumunium, tembaga dan kabel serat optik dan kabel jenis lainnya. Perusahaan itu mengajukan penawaran akuisisi senilai US$ 450 juta. Penawaran itu termasuk sistem pembayaran yang diusulkan dalam bentuk tunai atau menguasai persediaan barang atau gabungan keduanya.

    Perusahaan itu juga menambahkan bahwa yang sangat memungkinkan pembayaran dalam bentuk tunai. General Cable tampaknya mendapat jaminan kredit dan pinjaman darurat untuk pembayaran itu dari Merrill Lynch Capital Corp.

    Akuisisi

    Bahkan General Cable menawarkan penggunaan sebagian sumber lain untuk mendukung tercapainya proses akuisisi tersebut.

    "Akuisisi ini sebenarnya peluang yang sangat unit. Ini merupakan kesempatan besar bagi kita untuk mengakselerasikan semua inisiatif perusahaan dalam mengembangkan usaha untuk bisa lebih besar lagi, " tegas Gregory B Kenny, Presiden dan CEO General Cable dalam situs web perusahaan tersebut.

    Sesungguhnya, menurut dia, perusahaannya menggabungkan satu perusahaan yang secara prinsip berkonsentrasi di kawasan Amerika Utara, Eropa Barat, dan Oseania. Sementara perusahaan lainnya berkonsentrasi di pasar di Amerika Latin, Sub Sahara Afrika dan Asia Tenggara. [E-4]

    Indonesia Bukan Penganut Ekonomi Neoliberalisme

    Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hadir dalam peringatan Dies Natalis ke-50 Universitas Padjadjaran (Unpad) di aula Graha Sanusi Hardjadinata, Kampus Unpad, Bandung, Rabu (12/9).

    [BANDUNG] Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan, Indonesia bukan penganut ekonomi neoliberalisme, seperti dituduhkan atau dikhawatirkan sementara kalangan. Indonesia tetap konsisten pada pilihannya, yakni ekonomi terbuka berkeadilan sosial yang senapas dan sejiwa dengan UUD 1945.

    Penegasan itu dinyatakan Presiden Yudhoyono dalam Orasi Ilmiah bertema "Membangun Daya Saing Bangsa Menjadi Negara Maju", di Auditorium Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, Rabu (12/9) dalam forum Sidang Terbuka Senat Unpad, memperingati Dies Natalis ke-50. "Bagaimana pun pasar yang efisien kita perlukan, bukan pasar absolut. Oleh karena itu kita menolak market fundamentalis. Peran pemerintah sangat penting karena pasar tidak bisa mendapatkan equity, pemerataan keadilan. Mesti ada intervensi yang wajar dari pemerintah," katanya.

    Menurut Presiden Yudhoyono yang didampingi Ibu Negara Kristiani Herrawati dan beberapa menteri, peran pemerintah tetap harus ada dan bahkan penting dalam sistem ekonomi yang dianut Indonesia. Tidak bisa menyerahkan sepenuhnya pada mekanisme pasar, seperti dianut neoliberalisme. "Inilah pilihan kita, sehingga growth with equity itu betul-betul dapat kita wujudkan. Saya secara pribadi kurang percaya dengan teori trickle down effect," kata Presiden yang juga meresmikan Gedung Rektorat Unpad seusai menyampaikan orasi ilmiah.

    Dengan sistem ekonomi yang dianut ini, Presiden yakin Indonesia bisa menjadi negara maju. Terlepas dari ramalan, termasuk ramalan optimistis, Indonesia harus bekerja keras untuk mencapai semua itu. "Tidak ada jalan pintas untuk menjadi negara maju, semuanya melalui proses," kata Presiden.

    Untuk itu, katanya, pertama diperlukan sikap optimistis bukan pesimistis, apalagi hanya dengan menganggap diri rendah dan tidak mampu. Indonesia adalah negara dan bangsa yang besar dan mampu bersaing dengan bangsa dan negara lain. "Saya paling tidak suka kalau ada orang Indonesia menjelek-jelekkan bangsa Indonesia sendiri dan menganggap bangsa lain lebih hebat," kata Kepala Negara.

    Ditegaskannya, Indonesia adalah bangsa yang besar, memiliki sejarah besar, wilayah besar, potensi besar dengan penduduk besar. Semua kemajuan dan kejayaan sebagai bangsa diyakininya bisa dicapai jika rakyatnya rukun dan mau bekerja keras. Karena itu sikap optimistis sangat diperlukan, bukan pesimistis yang hanya memandang suatu masalah dari sisi kesulitan mengatasinya.

    Diingatkannya juga, globalisasi yang tidak dapat dihindari oleh siapapun makin hari makin keras, makin kejam dan bahkan tidak adil. "Globalisasi itu jahat, ada yang ingin mendominasi, ada yang ingin dapat untung sebanyak-banyaknya, ada yang ingin mengatur berlebihan, tetapi ada baiknya, teknologi, pasar, network," katanya.

    Karena itu diperlukan langkah konkret, yakni membangun daya saing, menyiapkan semua hal agar tidak dijahati, tetapi tampil menjadi pemenang dalam globalisasi ini. [Y-3/153]

  • Tak Satupun Pemain PSSI Masuk Terbaik Asia

    D Minongue
    Tak Satupun Pemain PSSI Masuk Terbaik Asia

    Jakarta (ANTARA News) - Kapten tim juara Piala Asia 2007, Irak, Younis Mahmoud, striker Arab Saudi Yasser Al Qahtani, pemain tengah Jepang Yasuhito Endo dan kiper Korsel Lee Won Jae adalah sebagian dari kandidat pemain terbaik Konfederasi Sepak bola Asia (AFC) tahun ini.

    Daftar nama ini keluar setelah pertandingan hari kedua putaran final zone Asia untuk Olimpiade Beijing pada 8 September lalu, seperti dikutip dalam situs Konfederasi Sepak bola Asia (AFC), Kamis.

    Namun, tidak ada satupun nama pemain Indonesia dalam daftar kandidat pemain terbaik Asia itu.

    Penghargaan tahunan AFC ini sendiri akan berlangsung pada 28 November 2007 di Sydney.

    Penilaian terhadap gelar ini berdasarkan poin yang diperoleh dari berbagai kompetisi AFC dan FIFA seperti Liga Champion Asia, putaran final zone Asia untuk Olimpiade Beijing 2008, Piala Asia dan kompetisi lainnya.

    Daftar nama kandidat ini terdiri atas lima pemain asal Irak, empat pemain asal Jepang, tiga pemain asal Arab Saudi, dua pemain masing-masing dari Iran, Korsel, Thailand, Kuwait, Vietnam, Oman dan Syria serta masing-maisng satu pemain asal Uni Emirat Arab, Autralia, Bahrain, Uzbekistan, Korut, Tajikistan dan Cina.

    Daftar kandidat:
    1. AKRAM Nashat (Irak)
    2. ALI Said (Irak)
    3. AL ASTAA Abdullah (Arab Saudi)
    4. AL GHWAINIM Saleh (Arab Saudi)
    5. AL IBRAHIM Mohanad (Syria)
    6. AL JENAIBI Abdul Raheem (Uni Emirat Arab)
    7. AL MAHAIJRI Ahmed (Oman)
    8. AL MUTAWA Bader (Kuwait)
    9. AL NOOBI Hani Bait (Oman)
    10. AL QAHTANI Yasser (Arab Saudi)
    11. ANH Duc Nguyen (Vietnam)
    12. CONG Vinh Le (Vietnam)
    13. DODD Travis (Australia)
    14. DONG won Han (Korsel)
    15. ENDO Yasuhito (Jepang)
    16. HASAN Ismaeel (Bahrain)
    17. HAYDAROV Azizbek (Uzbeksitan)
    18. HIRAYAMA Sota (Jepang)
    19. HOLMATOV Akmal (Tajikistan)
    20. JASSIM Karrar (Irak)
    21. KHSHEN Ala?a (Irak)
    22. KOEDPUDSA Weera (Thailand)
    23. LEE Woon Jae (Korsel)
    24. MAHMOUD Younis (Irak)
    25. MANDO Iyad (Syria)
    26. MATAR Khaled (Kuwait)
    27. MEHDI Salehi Seyed Mohamed (Iran)
    28. NAKAMURA Kengo (Jepang)
    29. NEKOUNAM Javad (Iran)
    30. ONO Shinji (Jepang)
    31. PAK Nam Chol (Korut)
    32. WANG Youngpo (Cina)
    33. WINOTHAI Teeratep (Thailand).( *)

    Kayu Curian Sepanjang Jalan

    REFLEKSI: Pencuri yang berani membeberkan barang curiannya di sepanjang jalan adalah bukan semparang pencuri, melainkan mereka yang mempunyai pendukung kuat nan raksasa di kalangan tinggi daerah mau pun di pusat kekuasan. Begitulah kenyataan negara kalau dipemerintah oleh tukang copet bin garong.

    Kayu Curian Sepanjang Jalan

    KEPALA Kepolisian RI Jenderal Sutanto dan Menteri Kehutanan M.S. Kaban seharusnya lebih sering makan siang bersama—seperti pernah me reka lakukan dulu.

    Sambil bersantap, keduanya diharapkan lebih serius membahas topik lama yang kian urgen: pencurian kayu hutan secara besar-besaran. Ini masalah besar Republik yang pencegahannya menjadi tanggung jawab dua instansi pemerintah itu. Sangat disayangkan, selama ini aparat kepolisian dan kehutanan tidak selalu sejalan mengha dapi bandit-bandit pembalak liar. Dalam kasus Riau, ketika dalam delapan bulan terakhir ini polisi berperang melawan pembalak liar, perbedaan pandangan kedua pejabat tak bisa disembunyikan.

    Padahal, akibat dari kejahatan terhadap hutan sudah begitu mengerikan. Setiap 12 detik, menurut data Bank Dunia 2002, satu lapangan bola hutan tropis Indonesia lenyap. Saban tahun rimba seluas 40 kali wilayah Jakarta hilang dari peta. Negara rugi Rp 45 triliun per tahun. Indonesia juga menyandang gelar juara pertama ”lomba” merusak hutan sedunia, dengan ”melenyapkan” dua persen hutan tropisnya setiap tahun. Sangat ironis, dalam dua tahun pertama masa reformasi, yaitu 1998-2000, pembabatan liar mencapai puncaknya.

    Akibat buruknya bisa datang setiap saat. Banjir, longsor, susutnya air bersih, kerusakan ekologi, lingkungan hi dup, pancaroba cuaca, dan masih banyak lagi. Tapi bandit - bandit hutan sepertinya tidak terusik sedikit pun untuk berhenti menguras hutan. Mereka terlalu rakus dan tak bisa disadarkan dengan alasan beradab seperti pelestarian keanekaragaman hayati atau perlindungan terhadap spesies flora fauna yang langka.

    Di kepala sang cukong hanya duit dan duit serta duit. Semua alasan dipakai, termasuk yang terdengar agak masuk akal, misalnya rakyat miskin butuh makan dan karena itu rakyat menjarah hutan. Padahal, pernyataan begini hanya kamuflase untuk terus melalap hutan. Rakyat miskin butuh makan, tapi mereka tak punya kebutuhan merebahkan pohon-pohon besar jika tidak disokong penadah kayu curian. Tidak mungkin rakyat kecil mampu membeli alat-alat berat penebang pohon jika tak ada yang memodali me re ka. Rakyat kecil bisa hidup dari hutan yang dikelola baik.

    Tentu sudah sangat terlambat mengelola hutan dengan baik sekarang ini. Yang perlu dilakukan saat ini hanyalah menahan derasnya arus kepunahan hutan kita. Ini perlu agar sekian generasi yang kelak lahir di negeri ini tidak hanya melihat hutan tropis di buku-buku sejarah, di foto-foto, atau malah di museum.

    Misi yang begini berat tak bisa jalan jika aparat hukum bergerak meng ikuti pesan ”sponsor”-nya. Kepala Polri dan Menteri Kehutanan, juga tim gabungan pena nganan illegal logging—atau entah tim apa lagi nanti—hendaknya menyama kan ”gelom bang”. Perang melawan pembalak liar ha rus dilakukan untuk menye lamatkan hutan dan lingkungan. Sebab, menyelamatkan hutan dan lingkungan pada dasarnya adalah menyelamatkan kehidupan manusia. Ini jauh lebih penting ketimbang sekadar menyelamatkan industri perkayuan. Menteri Perindustrian menga takan, pe nanganan illegal logging yang berkepanjangan di Riau membuat industri pulp and paper merugi hampir Rp 2 triliun.

    Industri perkayuan, juga pabrik bubur kertas, semesti nya tidak perlu merugi terlalu banyak—sepanjang mereka ha nya mengelola hutan kawasan industri di wilayah kerjanya. Yang bisa merugikan adalah kalau pengelola industri bermain mata dengan penadah kayu curian atau malah memodali pembalak liar. Polisi bisa menyita kayu curian mereka dan kegiatan pabrik bisa tersedot untuk urusan pemeriksaan aparat hukum dan bahkan pengadilan.

    Ketimbang terus berkutat dalam siklus ketidakpastian, harus ada langkah drastis. Di daerah kritis, misalnya Riau, disarankan semua hak pengusahaan hutan dicabut. Yang boleh dikelola hanyalah hutan tanaman industri. Dengan mencabut hak pengusahaan hutan, tak ada lagi penebang an hutan—baik itu berdasar dokumen resmi maupun ”tak resmi”. Dengan kebijakan tak ada penebangan, setiap kegiatan menumbangkan pohon adalah perbuatan terlarang. Aparat lebih mudah mengawasinya, apalagi tersedia teknologi pemantauan lewat satelit sekarang ini.

    Ekonomi rakyat tidak akan terganggu. Bersamaan de ngan pelarangan penebangan hutan, pemerintah perlu cepat-cepat melansir program reboisasi di hutan yang sudah koyak-moyak itu. Lapangan kerja tersedia, rakyat pun bisa hidup dari sistem pertanian ”tumpang sari” di wilayah reboisasi. Yang diperlukan hanyalah ketegasan sikap pemerintah dalam menjalankannya.

    Satu sikap yang sama merupakan modal penting. Kalau sikap tunggal tak ada, para petinggi sibuk berperang kata-kata, sementara penebangan hutan jalan terus. Artinya, bencana mengintai kita semua, tinggal tunggu tanggal mainnya.

    Jadi, untuk menyelamatkan hutan dan Indonesia, kapan Jenderal Sutanto dan Menteri Kaban makan siang bersama lagi....

Footer:

The content of this website belongs to a private person, blog.co.uk is not responsible for the content of this website.