
Ronaldinho Undang Chelsea
Barcelona - Ronaldinho rupanya mulai tak tertarik meneruskan karirnya di Nou Camp. Bukan hanya itu, bintang Barcelona asal Brasil itu juga membuka pintu bagi Chelsea untuk meminangnya.
Ronaldinho memang sedang merasakan kemurungan di saat rekan setimnya Lionel Messi mendapatkan pujian atas aksinya mencetak dua gol ke gawang Sevilla. Saat pertandingan tersebut ia tidak dimainkan karena cedera otot.
Namun bukan karena cedera Ronaldinho mendapatkan sorotan. Pemain terbaik dunia 2004 dan 2005 itu juga sedang dispekulasikan bahwa hubungannya dengan pelatih Frank Rijkaard sedang tidak harmonis gara-gara diganti ketika menghadapi Lyon di Liga Champions.
Itu merupakan pergantian ketiga kalinya yang dilakukan oleh Rijkaard dalam musim ini. Kabarnya pelatih asal Belanda ini tak suka dengan sikap Ronaldinho yang suka keluar dan berpesta malam sehingga membuat kondisinya kurang bugar saat akan dimainkan.
Bagi Ronaldinho berita tersebut tentu akan memunculkan citra buruk di mata fansnya. Namun yang paling mengecewakan adalah Rijkaard mencoret namanya hanya kurang dari 48 jam sebelum menjamu Sevilla di Nou Camp.
Rasa kecewa Ronaldinho pun diungkapkan oleh sang agen dan juga kakak kandungnya, Roberto de Assis. "Saya yakin ini kampanye untuk melawan Ronaldinho. Saya telah banyak membaca cerita yang tak masuk akal akan kehidupan malamnya," ungkapnya seperti dilansir The Sun.
Bahkan The Sun juga memberitakan Ronaldinho telah memberikan isyarat kepada De Assis untuk membuka penawaran dengan Chelsea. Pemilik Chelsea Roman Abramovich memang sempat mengajukan penawaran 50 juta poundsterling saat bertemu dengan De Assis bulan lalu. (key/a2s)
Roma 2007 Susuri Jejak 2001
Roma - Posisi AS Roma di kursi pucuk pimpinan sementara Serie A belum goyah. Belum terkalahkan dalam empat laga, Roma siap menapaktilasi perjalanan musim 2000/2001.
Musim gugur mungkin belum pernah seindah ini bagi Luciano Spaletti. Pelatih Roma itu sekarang sedang mengendalikan sebuah tim yang memimpin Serie A. 10 poin hasil dari tiga kemenangan dan satu hasil seri membawa Roma mantap di puncak.
Padahal tahun ini Roma tidak terlalu agresif dalam berburu pemain. Belanja mereka tidaklah spektakuler. Hanya Cicinho, Juan dan Ludovic Giuly yang bisa dianggap sebagai pemain bintang. Yang ada, I Giallorossi malah kehilangan pilar belakang Christian Chivu yang hijrah ke Inter Milan.
Dipimpin Il Principe Francesco Totti, Roma melaju mantap. Di saat para rival banyak tersandung, tiga kemenangan dalam tiga laga adalah cemerlang. Bahkan, hingga tiga partai tersebut, gawang yang dijaga kiper Doni masih belum kebobolan.
Meski kemudian pada partai keempat rekor 100% mereka putus karena tertahan Juventus 2-2, sikap Spaletti tetap tenang. "Kami tetap bekerja seperti musim lalu. Mental kami tidak akan turun hanya karena peluang yang terbuang seperti ini. Mungkin kami harus belajar untuk tidak membiarkan antusiasme kami melarutkan penampilan baik kami," ujar pelatih berkepala plontos itu kepada Channel 4.
Dengan permulaan yang bagus, Roma menempatkan diri setara dengan para kandidat scudetto lainnya seperti Inter, Milan dan Juventus. Malah sejujurnya, boleh jadi Roma-lah yang terdepan saat ini.
Lihat saja perjalanan Inter. Mereka diimbangi tim lemah Livorno setelah juga ditahan Udinese di pekan pertama. Milan dan Juve pun setali tiga uang. Milan baru sukses satu kali meraup tiga poin, sementara di tiga laga harus puas diimbangi lawan-lawannya. Sedangkan Juventus meraup hasil dua kali menang, satu kali imbang dan satu kekalahan.
Roma terakhir kali menjuarai Serie A pada musim 2000/2001. Saat itu, Il Lupo diracik oleh Sang Raja Midas, Fabio Capello. Roma musim ini memang bagai sedang menapaktilasi perjalanan enam tahun silam. Mampukah Roma benar-benar mengulangi prestasi tersebut? (arp/a2s)
Mimpi Buruk Hampiri Andrade
Turin - Belum dua bulan berada di Italia, baru tiga kali tampil membela Juventus, bek Portugal Jorge Andrade sudah diancam akan didatangi mimpi buruk berkepanjangan.
Pemain yang dibeli Juve dari Deportivo La Coruna itu mengalami cedera lutut dan ditarik keluar lapangan dengan tandu saat timnya bermain 2-2 melawan AS Roma di Stadion Olimpico hari Minggu (23/9/2007).
Skenario terburuk dari cederanya itu adalah ia harus beristirahat sampai enam bulan. Jika demikian, maka Andrade paling cepat hanya kebagian kompetisi di ujungnya saja alias bisa absen sampai hampir satu musim.
"Saya khawatir Andrade mengalami cedera pada ligamen lutut kaki kirinya," demikian pelatih Claudio Ranieri menerangkan kondisi pemain berusia 29 tahun itu dilansir Channel4.
Cedera yang dialami Andrade membuat lini belakang Bianconeri berkurang stoknya. Jonathan Zebina sedang menjalani skorsing karena memukul seorang juru kamera TV, sementara Domenico Criscito masih terlihat minim pengalaman. Buktinya ia ikut berperan atas lahirnya kedua gol Roma tadi malam.
Selain Andrade, pemain lain yang juga terjerat cedera adalah Mauro Camoranesi. Otot pahanya tertarik dan diperkirakan baru pulih setelah istirahat sekitar enam minggu.
Owen Kembali Khawatirkan Allardyce
London - Kekhawatiran akan cedera rupanya masih menghampiri Michael Owen. Striker Inggris ini kembali harus menjalani scan setelah mengeluhkan rasa sakit saat menghadapi West Ham United.
Owen mengalami rasa sakit pada pangkal pahanya saat menghadapi West Ham dalam pertandingan yang berakhir 3-1 bagi kemenangan Newcastle. Ia minta diganti saat babak kedua berjalan enam menit di St James Park, Minggu (23/9/2007).
"Kami akan tahu pada hari Senin ini. Masalahnya masih di bagian pangkal paha. Kami akan melihat itu sedikit lebih dalam karena cedera seperti ini menetap," ungkap manajer Sam Allardyce seperti dilansir Eurosport.
"Saya khawatir saat dia minta digantikan karena dia merasakan sakit. Meskipun hasil scan baik, ini adalah areal yang menetap yang bisa menjadi penyebab masalah," tukasnya.
Jika hasil scan menunjukkan masalah dan harus dilakukan operasi hernia, Allardye pun menegaskan mereka akan bergerak cepat. "Dia aset kami termahal, maka kami tidak tidak perlu waktu lama dari yang dibutuhkan, kami harus segera memulihkan dia dari cedera."
Kabar kondisi Owen tersebut bukan hanya membuat pusing Newcastle. Manajer Inggris Steve McClaren juga khawatirkan akan kondisi Owen di saat Inggris akan melakukan pertandingan kualifikasi Euro 2008 yang sangat penting menghadapi Estonia dan Rusia. (key/a2s)
PUASA Ramadhan kali ini kita dikejutkan oleh peristiwa aneh yaitu putusan Mahkamah Agung (MA) yang memenangkan gugatan mantan Presiden Soeharto atas majalah Time. MA bahkan mengharuskan Time membayar ganti rugi kepada Soeharto Rp 1 Triliun.
Keputusan itu patut disesali sebab akan menjadi preseden hukum yang dapat mematikan kebebasan pers. Putusan MA itu tidak menggunakan UU Pers (UU 40/ 1999) tetapi memakai KUHPerdata peninggalan Belanda yang jelas jelas bersemangat kolonial. Putusan MA itu juga bertolak belakang dengan putusan peradilan sebelumnya.
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tanggal 6 Juni 2000 memutuskan menolak seluruh gugatan mantan Presiden Soeharto terhadap majalah Time. Berita Time dinilai majelis hakim bukan penghinaan terhadap Soeharto, tapi digolongkan sebagai informasi yang berguna bagi kepentingan umum dan sesuai dengan tuntutan zaman. Putusan itu dibacakan ketua majelis hakim Sihol Sitompul, dan hakim anggota Endang Sumarsih dan Endang Sri Mulwati. Putusan PN Jakarta Pusat dikuatkan kembali oleh putusan banding Pengadilan Tinggi DKI Jakarta 16 Maret 2001.
Sejak dimintakan kasasi ke MA tahun 2001, kasus Soeharto vs Time bak hilang ditelan bumi. Kasus itu mengendap di MA hingga enam tahun, dan tiba-tiba muncul kembali 31 Agustus 2007 dalam bentuk putusan MA yang justru memenangkan Soeharto secara telak.
Kasasi MA diputus majelis Hakim Agung yang dipimpin Mayor Jenderal TNI (Purn) German Hoediarto (Ketua Muda MA Bidang Peradilan Militer) dengan anggota M. Taufik dan Bahaudin Qaudry. Sungguh aneh jika kasus besar semacam itu tidak segera diputus dan diendapkan hingga enam tahun, serta disidangkan oleh majelis yang dipimpin hakim peradilan militer.
Dengan menghukum Time membayar ganti rugi Rp 1 Triliun, maka terasa sekali putusan MA itu bersifat represif, bahkan berpotensi membinasakan kebebasan pers. Kalau para Hakim Agung itu menilai Time bersalah, semestinya cukup diberi sanksi pembelajaran sesuai Pasal 18 UU 40/1999 yaitu denda maksimal Rp 500 Juta.
UU Pers (UU 40/1999) bersifat khusus dan lebih baru. Dalam hukum ada dalil 'Lex specialis derogat lex generalis' artinya ketentuan undang-undang yang bersifat khusus (UU Pers) mengalahkan undang-undang yang bersifat umum (KUHPerdata) . Juga ada dalil 'Lex posteriori derogat lex priori' artinya ketentuan undang-undang yang lebih baru (UU Pers) mengalahkan undang-undang yang lama (KUHPerdata) .
Kasus Soeharto vs Time bermula dari pemberitaan majalah Time edisi 14 Mei 1999 tentang kekayaan Presiden Soeharto dengan judul "Soeharto Inc : How Indonesia?" Longtime Boss Built a Family Fortune". Pada tanggal 17 Mei 1999 majalah Time-Asia memberitakan adanya transfer dana 9 Miliar dollar AS dari Swiss ke Austria yang diduga milik Presiden Soeharto, serta mengungkap harta kekayaan anak-anak Soeharto di luar negeri. Selanjutnya Time-Asia edisi 24 Mei 1999 menurunkan hasil investigasi tentang harta kekayaan Soeharto dan keluarganya yang ditaksir mencapai 15 Miliar dollar AS.
Setelah muncul putusan MA yang aneh itu, kita dikejutkan lagi oleh adanya laporan PBB dan Bank Dunia yang menempatkan mantan Presiden Soeharto sebagai kepala negara terkorup di dunia dengan harta jarahan 15-35 Miliar dollar AS. Taksiran ini lebih besar dari perkiraan Time tahun 1999 yaitu 15 Miliar dollar AS. Urutan kedua diduduki mendiang Presiden Marcos dari Filipina dengan harta jarahan 5-10 Miliar dollar AS.
Laporan PBB dan Bank Dunia itu dirilis Senin (17-9-2007) di Markas Besar PBB, New York, saat peluncuran program 'Stolen Asset Recovery Initiative" (Prakarsa Pengembalian Harta Negara Yang Dicuri), yang dihadiri Sekjen PBB Ban Ki Moon dan Presiden Bank Dunia Robert B. Zoellick.
Pemberantasan korupsi sudah menjadi tren global. China dan Vietnam sangat gencar memberantas korupsi. Mantan PM China Zhu Rong Ji bahkan berani menyediakan 100 peti mati bagi para koruptor, termasuk satu peti mati bagi dirinya jika melakukan korupsi.
Negara miskin seperti Bangladesh berani mengadili para politisi termasuk dua mantan PM (Syeikh Hasina dan Khalida Zhia) yang diduga korupsi. Militer Bangladesh mendukung penuh tekad Pemerintah membersihan dunia politik dari para politisi korup. Mahkamah Agung Filipina menghukum seumur hidup Presiden Estrada karena korupsi. Pemerintah Filipina juga tetap memburu harta mendiang Presiden Marcos di luar negeri.
Di Korea Selatan, dua mantan Presiden (Jenderal Chun Doo Hwan dan Jenderal Roh Tae Woo) yang terbukti korup masing-masing divonis mati dan penjara 22 tahun. Kedua mantan Presiden itu kemudian diampuni dan diwajibkan hidup dalam biara Buddha. Bos Hyundai, Chung Mong Koo, juga dijatuhi hukuman tiga tahun penjara karena suap. Karena pertimbangan khusus, Bos Hyundai itu tidak dipenjara tapi hanya diwajibkan kerja sosial. Apa yang terjadi di Korsel adalah pembelajaran hukum yang mendidik.
Negara-negara di atas adalah contoh 'Negara Ajaib' karena dalam waktu singkat dapat merubah diri dari negara korup menjadi negara yang gencar memberantas korupsi.
Sayang di tengah tren dunia yang justru menggalakkan pemberantasan korupsi, MA malah membuat putusan aneh membela mantan penguasa yang diduga korup, bahkan dengan memberi 'hadiah pesangon'? Rp 1 Triliun. Putusan MA itu akan menjadi bahan tertawaan dunia dan hanya akan memperburuk citra Indonesia sebagai 'Negara Aneh'. MA benar-benar telah menjadi 'Mahkamah Aneh'! (*)
Serfianto D P, Penulis adalah Pemerhati Masalah Bangsa
Soeharto Inc. Versus Time
Oleh: Benny Rhamdani
MAJALAH Time Asia, yang berkantor di Hongkong, baru saja divonis bersalah karena mencemarkan nama baik Soeharto dalam edisi 24 Mei 1999. Kasus ini sendiri telah mengendap sejak 2001. Dalam laporan yang diberi judul ‘Soeharto Inc’, Time memperkirakan harta kekayaan keluarga Soeharto mencapai US$ 15 miliar (atau Rp 141,7 triliun).
Dalam tulisan Majalah Tempo (17-23 September), yang juga pernah dibredel oleh orang yang sama, Time dituduh bersalah karena dua hal. Pertama, Ilustrasi majalah itu yang menggambarkan Soeharto memeluk rumah besar adalah pencemaran nama baik karena itu bukan milik Soeharto. Kedua, isi berita yang menyebut ada transfer US$ 9 miliar milik Soeharto dari bank Swiss ke rekening di Austria ternyata hanya isapan jempol, alias tak bisa dibuktikan. Baik Tempo sendiri vonis Mahkamah Agung terhadap Majalah Time ini, yang keluarkan tiga hakim agungnya, adalah vonis atas kreativitas dan karya jurnalistik. Sebuah lonceng kematian bagi kebebasan pers!
Soeharto tampaknya akan terus menjadi ‘fenomena multidimensi’ di tanah air. Makna multidimensional itu memberi pengertian bahwa Soeharto selalu menarik dilihat dari banyak sudut pandang. Dari sudut pandang (antropo-logi) politik, misalnya, Niels Mulder (dalam Ruang Batin Masyarakat Indonesia, 1999), Soeharto adalah figur anak manusia Jawa, yang bukan turunan anak bangsawan, yang mampu menjadikan tiga dasawarsa kehidupan politik sebagai ruang bagi manifestasi konsepsi politik Jawa. Tiga da-sawarsa adalah buah dari politik Jawa seorang Soeharto.
Dari sudut pandang sejarah Republik, Soeharto terus menjadi teka-teki di balik tragedi pembantaian massal PKI 1965’. Peran Soeharto terus menjadi misteri, termasuk ke-wenangan dia atas Supersemar yang surat aslinya entah berada di mana. Dengan Tap MPRS, teori-teori Marxisme haram dipelajari, seolah-olah buah pikiran dalam Marxisme akan mengajak manusia Indonesia berbondong-bondong memasuki api neraka.
Dalam sudut pandang korupsi, Soeharto tak tersentuh. Kasus vonis MA atas Majalah Time adalah daftar panjang dari riwayat susahnya institusi hukum kita menjerat dan memasukkan Soeharto ke sumpeknya hotel prodeo. Hal yang sama tidak terjadi pada barisan kroninya seperi Bob Hasan, bahkan saudara tirinya sendiri, Probosutedjo mesti menikmati ‘ketidakbebasan’ dalam kamar prodeo. Jadi, Soeharto bukan saja ‘the Smiling General’, tapi juga, ‘the Untouchable General’.
Soeharto dan Agenda Reformasi yang Terbajak
Soeharto jelas nama yang sangat populer. Mungkin hanya Soeharto seorang yang paling sering dihujat jutaan demonstran yang turun ke jalan-jalan sebelum sang tiran itu jatuh Mei 1998. Tak ada penguasa di Indonesia yang begitu dihujat menjelang masa jatuhnya.
Dalam sudut pandang ama-nah reformasi, bagi penulis, susahnya menjerat seorang Soeharto menjadi pesakitan hukum, merefleksikan tiga hal: Pertama, benarlah dalil dari teori struktural yang mengatakan bahwa kejatuhan seorang Soeharto barulah menyentuh ‘sisi personifikasi, sisi figuritas’. Benar pula bahwa sejak jatuhnya Seoharto, secara gradual, terjadi proses penataan struktural, mungkin lebih tepatnya: ‘persesuaian struktural’ yang mengubah ‘tata politik, ekonomi dan hukum’ nasional. Sistem politik nasional menjadi sangat ‘liberal’, partai-partai tumbuh layaknya jamur di musim penghujan. Bahkan, dalam putusan Mahkamah Konstitusi terbaru, dimungkinkan calon perseorangan ikut dalam pemilihan umum.
Pemerintah juga mulai menangkap para koruptor, mulai dari penjahat keuangan kelas pimpinan DPRD hingga tokoh kaliber nasional. Presiden SBY bahkan pernah dianugerahi penghargaan sebagai salah satu pemimpin yang bersinar di Asia oleh Asia Week karena usaha pemberantasan korupsinya. Namun Soeharto adalah Soeharto, the Untouchable General! Dia tetap tak tersentuh, bahkan menurut Aditjondro, Soeharto adalah satu-satunya diktator di dunia yang tak tersentuh hukum, tidak seperti Marcos dan yang lainnya.
Ternyata reformasi hukum baru menangkap ‘koruptor kelas ikan teri’, belum berani menangkap ‘kelas Kakap’. Dalam konteks ini, perubahan struktural-politik, yang terjadi secara berangsur-angsur, hanyalah melahirkan elit politik yang datang dari ‘golongan tua’, atau ‘mereka yang menunggu di tikungan jalan’. Singkatnya, reformasi politik hanya melahirkan ‘kaum establish baru’ dan ‘kaum oportunis baru’. Reformasi politik tak melahirkan elit nasional yang berani bersikap tegas terhadap masa lalu!
Kedua, dalam gambar analisa yang demikian, maka strategi menjatuhkan rezim politik yang tiranik-despotik dan korup mestilah dipahami sebagai pintu masuk saja. Teori Perubahan dengan jalan revolusioner tampaknya mesti mulai dikikis dari cita-cita dan mimpi perubahan untuk kasus Indonesia. Dalam suasana dan sistem politik Liberal kayak sekarang, jalan ‘Sosial-Demokrat atau Parlementarian’ telah menjadi mekanisme utama. Hanya saja Friederich Engels telah mengingatkan, jika para sosialis memenangi pemilu, sesungguhnya para kapitalis tak akan pernah rela. Mereka akan menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan rezim sosialis. Inilah teori politik yang dibuktikan Arief Budiman (1987) ketika meneliti Rezim Sosialis Cili di bawah Salvadore Allende. Termasuk juga terhadap gerakan angkatan 98 dan angkatan-angkatan sebelumnya yang telah memberi jasa pada perubahan di Indonesia. Dalam pertemuan nasional angkatan 98 di Jakarta, Agustus silam, wacana ‘Merebut Kekuasaan’ jelas menyiratkan semangat ‘politik parlementarian’ dan ‘kegeraman pada politik konservatisme kaum tua’. Hanya saja gagasan itu mesti dikonkretkan dengan strategi perubahan yang tepat, tak lagi mengulang ‘model perubahan lama’ yang sesungguhnya hanya mencerminkan ‘perang dan perebutan kekuasaan antarelit nasional’ dan gerakan terbajak di dalamnya.
Ketiga, walau suasana dan sistem politik telah sangat liberal, itu tak berimplikasi nyata terhadap terbentuknya ‘massa partai yang terdidik, ideologis dan kritis’. Pendekatan politik mobilisasi (Mobs politics) masih menjadi instrumen utama. Perkaderan internal partai tidak juga dibangun. Dalam banyak suksesi internal partai yang lebih sering terjadi hanyalah memapankan oligarki atau dinasti keluarga dan kelompok, pada struktur inti kepengurusan. Begitulah partai yang dipelihara model politik Orde Baru.
Walau demikian situasi kepartaian nasional, tak lantas bahwa partai baru yang bermunculan menjadi alternatif jalan keluar dari kebuntuan demokrasi liberal. Cita-cita Hatta tentang partai berbasis Kader juga Tan Malaka dengan Persatuan Perjuangan, mesti direvitalisasi lagi ke dalam kultur dan strategi politik nasional. Tanpa ideologi, kader dan politik lintas golongan/aliran, niscaya tak bakal bermanfaat bagi masa depan Indonesia yang lebih baik sebagaimana dahulu di jalanan terus diteriakkan jutaan demonstran.
Penutup
Fenomena Soeharto memang multidimensional. Dalam tulisan ini, Soeharto hendak diposisikan dalam ‘refleksi politik dan amanah reformasi’ yang, sesungguhnya, telah sejak lama terbajak ‘kaum Mapan Baru’ dan ‘para oportunis di tikungan jalan’. Masih banyak kerja yang mesti dilakukan untuk memperbaiki keadaan. Semoga momentum puasa ini dapat menjadi momentum perenungan dan otokritik bersama atas apa saja yang telah dilakukan terhadap tanah Pertiwi. Ibu pertiwi mungkin belum hamil tua, namun yang jelas dia mesti mengandung benih-benih anak muda yang amanah menjadi mandat sosial rakyatnya. Semoga.
(Penulis: Anggota DPRD Propinsi Sulawesi Utara, Ketua GP Ansor Sulawesi Utara)