
Agnes Szavay
Meteor dari Kiskunhalas
Nama Agnes Szavay melesat bak meteor. Bagaimana tidak? Awal tahun ini, petenis kelahiran Kiskunhalas, Hongaria, 29 Desember 1988, itu hanya berada di peringkat ke-207. Namun, kini ia sudah bertengger di angka 20.
Agnes Szavay, meramaikan persaingan petenis belia.
Naiknya peringkat Szavay tentu tak lepas juga dari prestasi yang diraih pada tahun ini. Juli lalu, misalnya, ia meraih gelar turnamen pro pertamanya di Palermo, Italia. Pekan silam, ia menambah koleksi gelar juara dari Beijing, Cina, dengan mengalahkan pemain nomor tiga dunia asal Serbia, Jelena Jankovic, di final.
Pada Grand Slam AS Terbuka beberapa waktu lalu, ia mampu melangkah sampai perempatfinal dengan mengalahkan dua unggulan, Michaela Krajicek dari Belanda dan Nadia Petrova asal Rusia. Dengan usianya yang baru 18 tahun, bukan tak mungkin Szavay akan makin berbahaya di masa datang dan menjadi salah satu pemain papan atas.
"Pelan-pelan saja. Sudah pasti saya ingin masuk 10 besar, tapi bisa masuk 20 besar saja sudah merupakan keberhasilan besar," ungkap Szavay, seperti dikutip AFP.
Sulit Percaya
Kemenangan atas Jankovic sendiri dinilai Szavay sebagai hasil yang sulit dipercaya. Ia mengaku sampai sukar mengungkapkan rasa bahagia.
"Ayah saya langsung menelepon seusai pertandingan. Ia menonton langsung di saluran Eurosport2. Saya senang sekali. Rasanya inilah pertandingan terbaik saya," ujar sulung dari tiga bersaudara itu.
Meroketnya Szavay yang jelas membuat pertenisan papan atas putri makin menarik dengan kian banyaknya pemain muda dan kebetulan semuanya berasal dari Eropa Timur. Sebut saja Ana Ivanovic (19), peringkat ke-6 asal Serbia. Ada pula Nicole Vaidisova (18) ranking ke-14 dari Ceska, atau Tatiana Golovin (19), wakil Prancis kelahiran Rusia yang berperingkat ke-19. (Rahayu Widiyarti/Foto: AFP)
DATA DIRI
--------------------
Nama: Agnes Szavay
Lahir: Kiskunhalas, 29 Desember 1988
Postur: 172 cm/63 kg
Terjun ke Pro: 2004
Orangtua: Zsolt Szavay-Terezia Dasko
Saudara: Blanka dan Levente
Pelatih: Zoltan Kuharszky, Jozsef Bocskav
Idola: Roger Federer, Lance Armstrong
Lapangan Kesukaan: Tanah liat, keras
Pukulan Andalan: Servis
Hobi: Berenang, dengar musik pop
Prestasi:
2007- Juara Beijing, Palermo, finalis New Haven, juara ganda Budapest, perempatfinal Grand Slam AS Terbuka
Polesan Lima Pelatih
Bila prestasi Szavay sekarang sudah meroket di usia belia, itu tentu bukan tanpa kerja keras. Ia mulai mengayun raket di usia enam tahun dengan orangtua berperan sebagai pelatih dan manajer.
Setelah agak besar, ada beberapa pelatih yang pernah memoles: Zoltan Ujhidy, Levente Baratosi, dan Miklos Hornok. Sekarang Szavay ditangani duet Jozsef Bocksay dan Zoltan Kuaharszky.
Kesenangannya main tenis juga menurun ke adiknya, Blanka, yang lima tahun lebih muda dan kini sudah mulai kiprahnya di kelompok junior. (yuk)
Thomas-Uber di Jakarta
Tuan rumah Indonesia siap menggelar putaran final Piala Thomas-Uber 2008. Salah satu bentuk kesiapan tersebut adalah dengan penandatanganan perjanjian kontrak antara PBSI dengan Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) dan Trans TV.
Penandatanganan perjanjian tersebut akan dilakukan Jumat (28/9) di Kantor Gubernur DKI Jakarta. Perwakilan BWF diwakili Deputi Presiden Datuk Punch Gunalan, sementara Direktur Ishadi SK mewakili Trans TV. PB PBSI diwakili Ketua Umum Sutiyoso.
Acara tersebut menjadi bukti bahwa Indonesia sangat siap menggelar putaran final Piala Thomas-Uber tahun depan, tutur G. Sulistyanto, Direktur Hubungan Luar Negeri PB PBSI.
Rencananya putaran final Piala Thomas-Uber 2008 bakal berlangsung di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, tanggal 11-18 Mei. Selaku tuan rumah, tim putra-putri bulutangkis Indonesia bisa langsung berlaga tanpa harus melewati ajang kualifikasi.
Indonesia memenangkan pertarungan sebagai tuan rumah dalam sebuah biding di Kuala Lumpur, awal 2006. Kala itu Indonesia mengalahkan Cina dan AS, yang juga ingin menjadi tuan rumah Piala Thomas-Uber.
Trans TV mendapatkan hak siar tersebut setelah memberikan penawaran paling tinggi dibanding dengan stasiun televisi nasional yang lain. Untuk mendapatkan hak siar tersebut, Trans TV harus mengeluarkan kocek sebesar 1 juta dolar AS atau sekitar Rp 9 miliar. (bhw)