![]()

Risiko Gerrard untuk Inggris
Liverpool - Kebutuhan Steve McLaren terhadap Steven Gerrard terjawab setelah si pemain menyatakan kesiapan. Padahal risiko yang bakal ditanggung sang kapten sangat besar.
Laga menghadapi Israel dan Russia di Wembley 8 dan 12 Semptember mendatang dalam lanjutan kualifikasi Euro 2008 memang sangat krusial buat Inggris. Saat bermain di kandang inilah kesempatan besar untuk meraih poin maksimal dan beranjak ke posisi aman mengingat The Three Lions kini masih duduk di posisi empat klasemen Grup F.
Demi meraih target tersebut, McLaren tentu harus menurunkan pemain terbaiknya, termasuk Gerrard yang baru pulih dari cedera patah ibu jari. Meski Gerrard sudah menyatakan keinginannya untuk ikut merumput, namun Rafael Benitez tak setuju dengan niatan anak buahnya itu.
"Kami tidak mengambil risiko dengan Steven di Liverpool dan saya tidak berharap Inggris justru mengambil risiko dengannya," seru Benitez seperti diberitakan Yahoosport, Selasa (4/8/2007).
Rafa memang tak memainkan Gerrard saat Liverpool menggunduli Derby County 6-0 akhir pekan lalu. Maka saat sang kapten menyatakan kesediaan memakai obat penghilang sakit demi bisa berseragam Inggris, ia meminta McLaren tak membiarkan gelandang 27 tahun itu tampil dengan risiko cedera yang bisa lebih parah.
"Kami tidak mau Steven bermain untuk Inggris dengan menggunakan suntikan penahan sakit. Kami sudah melakukannya saat menghadapi Chelsea (di Premiership) dan dia butuh empat sampai lima hari untuk pulih dan bisa berlatih lagi," lanjut Rafa.
Dengan lima laga tersisa di kualifikasi yang akan menjadi penentu langkah Inggris menuju Swis-Austria 2008, McLaren memang menerapkan kebijakan yang "lebih tegas" pada pemain dalam hubungannya dengan klub. Apalagi eks pelatih Middlesbrough itu sudah dipusingkan dengan gelombang cedera pemain yang menimpa skuadnya. (din/ian)
Mourinho Prediksi Persaingan Ketat
London - Kegagalannya di laga kelima dari Aston Villa membuat pelatih Chelsea Jose Mourinho tak lagi berpikir akan dominan. Liga Inggris musim ini diprediksinya bakal ketat sampai akhir.
Bukan rahasia jika Mourinho sebelum awal musim memprediksi hanya ada dua tim yang akan bersaing yakni Manchester United dan Chelsea. Namun kini pria asal Portugal itu meralatnya.
"Tim-tim lain dari luar empat besar tahun lalu membelanjakan uang sangat banyak dan mendatangkan pemain-pemain baru untuk memperkuat tim mereka. Villa merupakan salah satu contoh, tetapi anda bisa mencari banyak contoh lainnya," ujar Mourinho seperti dilansir BBC, Senin (3/9/2007).
Mourinho merasakan kekalahan 0-2 di Villa Park, Minggu (2/9/2007) lalu. Padahal sebelumnya The Blues juga sudah bermain imbang dengan Liverpool. Sementara MU justru lebih dulu terjegal, dua kali bermain seri melawan Portsmouth dan Reading serta kalah dari rival sekotanya Manchester City.
Liverpool dan Arsenal menjadi tim paling konsisten di antara The Big Four, dengan hanya sekali gagal meraih kemenangan dari empat pertandingan yakni hasil imbang.
Meski demikian, Mourinho tidak merasa perlu untuk panik. Kompetisi masih akan bergulir sangat panjang dengan total 33 pertandingan lagi hingga Mei 2008.
"Tim-tim ini akan semakin sulit untuk ditaklukkan karena mereka menjadi lebih baik. Tetapi Ini masih pekan pertama September, dan kita baru menjalani lima pertandingan," ujar Mourinho tenang. (lom/din)
Kalau mau tour ke LN jangan Ke Malaysia
Nama saya Budiman Bachtiar Harsa, 37 tahun,
WNI asal Banten, karyawan di BUMN berkantor di
Jakarta.
Kasus pemukulan wasit Donald Peter di Malaysia, BUKAN
kejadian pertama. Behubung sdr Donald adalah seorang
"Tamu Negara" hingga kasusnya terexpose besar-besaran.
Padahal kasus serupa sering menimpa WNI di Malaysia.
BUKAN HANYA TKI Atau Pendatang Haram, tapi juga
WISATAWAN.
Tahun 2006, bulan Juni, saya dan keluarga (istri, 2
anak, adik ipar), pertama kalinya kami "melancong" ke
Kuala Lumpur Malaysia. (Kami sudah pernah berwisata ke
negara2 lain, sudah biasa dengan berbagai aturan
imigrasi).
Hari pertama dan kedua tour bersama Travel agent ke
Genting Highland, berjalan lancar, kaluarga bahagia
anak-anak gembira.
Hari ketiga city tour di KL, juga berjalan normal.
Malam harinya, kami mengunjungi KLCC yang ternyata
sangat dekat dari Hotel Nikko, tempat kami menginap.
Usai makan malam, berbelanja sedikit, adik ipar dan
anak-anak saya pulang ke hotel karena kelelahan,
menumpang shuttle service yang disediakan Nikko Hotel.
Saya dan istri berniat berjalan-jalan, menikmati udara
malam seperti yg biasa kami lakukan di Orchrad
Singapore, toh kabarnya KL cukup aman.
Mengambil jalan memutar, pukul 22.30, di dekat HSC
medical, lapangan dengan view cukup bagus ke arah Twin
Tower.
Saat berjalan santai, tiba2 sebuah mobil Proton
berhenti, 2 pria turun mendekati saya dan istri.
Mereka tiba-tiba meminta identitas saya dan istri,
saya balas bertanya apa mau mereka. Mereka bilang
"Polis", memperlihatkan kartu sekilas, lalu saya
jelaskan saya Turis, menginap di Nikko hotel. Mereka
memaksa minta passport, yang TIDAK saya bawa. (Masak
sih di negeri tetangga, sesama melayu, speak the same
language, saya dan istri bisa berbahasa inggris,
negara yg tak butuh visa, kita masih harus bawa
passport?). Salah satu "polis" ini bicara dengan HT,
entah apa yg mereka katakan dengan logat melayunya,
sementara seorang rekannya tetap memaksa saya
mengeluarkan identitas. Perliaku mereka mulai tak
sopan dan Istri saya mulai ketakutan. Saya buka
dompet, keluarkan KTP. Sambil melotot, dia tanya
:"kerja ape kau disini?" saya melongo... kan turis,
wisata. Ya jalan-jalan aja lah, gitu saya jawab. Pak
polis membentak dan mendekatkan mukanya ke wajah saya:
KAU KERJA APE? Punya Licence buat kerja?
Wah kali dia pikir saya TKI ilegal. Saya coba tetap
tenang, saya bilang saya bekerja di Jakarta, ke KL
untuk wisata. Tiba-tiba salah satu dari mereka mencoba
memegang tas istri, dan bilang: "mana kunci Hotel?
"... wah celakanya kunci 2 kamar kami dibawa anak dan
ipar saya yg pulang duluan ke hotel.
Saya ajak mereka ke hotel yang tak jauh dari lokasi
kami. Namun pak Polis malah makin marah, memegangi
tangan saya, sambil bilang: Indon... dont lie to us.
Saya kurung kalian...
Jelas saya menolak dan mulai marah. Saya ajak mereka
ke hotel Nikko, dan saya bilang akan tuntut mereka
habis2an. sambil memegangi tangan saya, tuan polis
meludah kesamping, dan bilang: kalian semua sama
saja...
Saat itu sebuah mobil polisi lainnya datang, pake logo
polisi, seorang polisi berseragam mendekat. Di dadanya
tertulis nama: Rasheed.
Saya merapat ke pagar taman sambil memegang istri yang
mulai menangis. Melawan 3 polis, tak mungkin. Mereka
berbicara beritga, mirip berunding. Wah, apa polis
malaysia juga sama aja, perlu mau nyari kesalahan
orang ujung2nya merampok?
Petugas berseragam lalu mendekati saya, meminta kami
untuk tetap tenang. Saya bertanya, apa 2 orang preman
melayu itu polisi, lalu polisi berseragam itu
mengiyakan. Rupanya karena saya mempertanyakan
dirinya, sang preman marah dan mendekati saya,
mencengkram leher jaket saya, dan siap memukul, namun
dicegah polisi berseragam.
Polisi berseragam mengajak saya kembali ke Hotel untuk
membuktikan identitas diri. saya langsung setuju,
namun keberatan bila harus menumpang mobil polisi.
Saya minta untuk tetap berjalan kaki menuju Nikko
Hotel, dan mereka boleh mengiringi tapi tak boleh
menyentuh kami. Akhirnya kami bersepakat, namun polisi
preman yang sempat hampir memukul saya sempat berkata:
if those indon run, just shoot them... katanya sambil
menunjuk istri saya. Saya cuma bisa istigfar saat itu,
ini rupanya nasib orang Indonesia di negeri tetangga
yang sering kita banggakan sebagai "sesama melayu".
Diantar polisi berseragam saya tiba di Nikko Hotel.
Saya minta resepsionis mencocokan identitas kami, dan
saya menelpon adik ipar untuk membawakan kunci. Pihak
Nikko melarang adik saya, dan mengatakan kepada sang
Polis, bahwa saya adalah tamu hotel mereka, WNI yang
menyewa suites family, datang ke Malaysia dengan
Business class pada Flight Malayasia Airlines.
Pak Polis preman mendadak ramah, mencoba menjelaskan
bahwa di Malaysia mereka harus selalu waspada.
Saya tak mau bicara apapun dan mengatakan bahwa saya
sangat tersinggung, dan akan mengadukan kasus ini, dan
"membatalkan rencana bisnis dengan sejumlah rekan di
malaysia" (padahal saya tak punya rekan bisnis di
negeri sial ini).
Polisi berseragam berusaha tersenyum semanis mungkin,
berusaha keras untuk akrab dan ramah, petugas Nikko
Hotel kelimpungan dan berusaha membuat kami tersenyum.
Setelah istri saya mulai tenang, saya mengambil HP
P9901 saya dan merekam wajah kedua polisi ini.
Keduanya berusaha menutupi wajah, meminta saya untuk
tidak merekam wajah mereka.
Istri saya minta kita mengakhiri konflik ini, dan
sayapun lelah. Kami tinggalkan melayu-melayu keparat
ini, tanpa berjabat tangan.
Sepanjang malam saya sangat gusar, dan esoknya kami
membatalkan tur ke Johor baru, mengontak travel agent
agar mencari seat ke Singapore. Siang usai makan
siang, saya tinggalkan Malaysia dengan perasaan
dongkol, dan melanjutkan liburan di Singapore.
Mungkin saya sial? ya. Mungkin saya hanya 1 dari 1000
WNI yang apes di Malaysia? bisa. Tapi saya catat bahwa
bila saya pernah dihina, diancam, bahkan hampir
dipukuli, bukan tak mungkin masih ada orang lain
mengalami hal yg sama.
Jadi, kalau hendak berlibur di Malaysia, sebaiknya
pikir masak2. Jangankan turis, Rombongan atlet saja
bisa dihajar polisi Malaysia.
Bayangkan bila perlakuan seperti ini dilakukan
dihadapan anak kita. Tentu anak akan trauma, sekaligus
sedih.
Hati-hati pada PROMOSI WISATA MALAYSIA. Di Malaysia,
WNI diperlakukan seperti Kriminal.
dilarang ngeluh
Sebuah kisah nyata...
Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki. Urusan
be-lanja, cucian, makan, kebersihan & kerapihan rumah dapat ditanganinya
dengan baik. Rumah tampak selalu rapih, bersih & teratur dan suami serta
anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu. Cuma ada satu masalah,
ibu yg pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor.
Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak
sepatu di atas karpet, dan suasana tidak enak akan ber-langsung
seharian. Padahal, dengan 4 anak laki-laki di rumah, hal ini mudah
sekali terjadi dan menyiksanya.
Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama
Virginia Satir, dan menceritakan masalahnya. Setelah mendengarkan cerita
sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum & berkata
kepada
sang ibu :
"Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan".
Ibu itu kemudian menutup matanya.
"Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang,
tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?"
Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yg murung
berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.
Virginia Satir melanjutkan; "Itu artinya tidak ada seorangpun di rumah
ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan
tawa ceria
mereka. Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi".
Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung menghilang,
na-pasnya mengandung isak. Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung
ce-mas membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya.
"Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu & kotoran
disana, artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah, orang-orang yang
ibu cintai ada bersama ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati ibu".
Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi
tsb.
"Sekarang bukalah mata ibu" Ibu itu membuka matanya.
"Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?"
Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Aku tahu maksud anda" ujar sang ibu, "Jika kita melihat dengan sudut
yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat dilihat secara positif".
Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang
kotor, karena setiap melihat jejak sepatu disana, ia tahu, keluarga yg
dikasihinya ada di rumah.
Kisah di atas adalah kisah nyata. Virginia Satir adalah seorang psikolog
ter-kenal yang mengilhami Richard Binder & John Adler untuk menciptakan
NLP
(Neurolinguistic Programming) . Dan teknik yang dipakainya di atas
disebut Reframing, yaitu bagaimana kita 'membingkai ulang' sudut pandang
kita se-hingga sesuatu yg tadinya negatif dapat menjadi positif, salah
satu caranya dengan mengubah sudut pandangnya.
Terlampir beberapa contoh pengubahan sudut pandang :
Saya BERSYUKUR;
1. Untuk istri yang mengatakan malam ini kita hanya makan mie instan,
ka-rena itu artinya ia bersamaku bukan dengan orang lain
2. Untuk suami yang hanya duduk malas di sofa menonton TV, karena itu
artinya ia berada di rumah dan bukan di bar, kafe, atau di tempat mesum.
3. Untuk anak-anak yang ribut mengeluh tentang banyak hal, karena itu
artinya mereka di rumah dan tidak jadi anak jalanan
4. Untuk Tagihan Pajak yang cukup besar, karena itu artinya saya bekerja
dan digaji tinggi
5. Untuk sampah dan kotoran bekas pesta yang harus saya bersihkan,
karena itu artinya keluarga kami dikelilingi banyak teman
6. Untuk pakaian yang mulai kesempitan, karena itu artinya saya cukup
makan
7. Untuk rasa lelah, capai dan penat di penghujung hari, karena itu
artinya saya masih mampu bekerja keras
8. Untuk semua kritik yang saya dengar tentang pemerintah, karena itu
artinya masih ada kebebasan berpendapat
9. Untuk bunyi alarm keras jam 5 pagi yg membangunkan saya, karena itu
artinya saya masih bisa terbangun, masih hidup
10. Untuk dst...
