
Menunggu Gol Pertama Cassano
Genoa - Fans pasti sudah lupa kapan terakhir kali melihat Antonio Cassano melakukan selebrasi sehabis mencetak gol. Tapi sebagai penyerang ia memang harus melakukannya lagi.
Adalah statistik yang amat menyedihkan jika dalam satu setengah musim terakhir Cassano hanya menorehkan dua gol. Bahwa itu terjadi karena ia diasingkan oleh Real Madrid, boleh jadi itu alasan mendasar. Namun dua gol juga kenyataan.
Kini penyerang Italia itu telah mendapatkan kesempatan baru. Bersama Sampdoria ia sudah bisa membuang jauh-jauh mimpi buruk di tanah Spanyol dan kembali merajut karir cemerlang di negeri sendiri.
Jadi, kapan mantan pemain Bari dan AS Roma itu bisa mencetak gol lagi? Yang jelas ia tidak melakukannya di dua pertandingan pertama Seri A, saat Il Samp menundukkan Siena 2-1 dan bermain 0-0 dengan Lazio.
Ia bahkan tidak ada lapangan maupun bench dalam laga pembuka melawan Siena. Begitu pula di Luigi Ferraris, ketika Sampdoria berduel dengan Lazio. Ada di bangku cadangan, tapi pelatih Walter Mazzarri tidak menurunkannya barang semenit. Tiga striker yang digunakan adalah Andrea Caracciolo, Claudio Belucci, dan Vincenzo Montella.
Sudahkah Cassano betul-betul kehilangan ketajaman? Semoga tidak. Bursa taruhan juga tidak melihatnya demikian. Bahwa ia pasti mengukir gol comeback-nya di Italia pasti terjadi, tinggal menunggu waktu.
Dikutip Goal, ia diyakini akan bikin gol di pertandingan ketiga saat Sampdoria melawan Napoli pekan depan. Koefisiensinya 3/1. Angka itu sama dengan prediksi ia baru menghasilkan gol di partai keempat dalam derby melawan Genoa.
Kalau tidak, Cassano punya kesempatan di giornata keenam melawan Atalatanta (6/1), lalu laga kelima melawan Inter Milan (9/1).
Yang menarik, Cassano akan bertemu klub lamanya AS Roma menjelang Natal. Berapa besar koefisiensi buat dia di pertemuan reuni itu? 150/1. Artinya apa? Sebelum jadwal itu ia diramalkan sudah mendulang gol.
Barca Pun Memuji Sneijder
Madrid - Wesley Sneijder masih banjir pujian. Bahkan Barcelona pun ikut memuji musuh besarnya, Real Madrid, karena merekrut gelandang internasional Belanda itu.
Memasuki musim ini Real memang melakukan pembenahan dalam skuadnya. Sneijder adalah satu pemain yang diboyong oleh Real dari Ajax Amsterdam dengan transfer 27 juta euro.
Ia pun langsung memberi pengaruh besar dalam serangan Real. Dua gol dan satu assist dibuat Sneijder saat menghadapi Villarreal. Total tiga gol sudah ia sumbangkan buat El Real.
Tak heran pujian pun mengalir kepadanya. Bahkan bukan hanya dari Real, namun juga dari musuh besar Real, Barca. Pelatih Frank Rijkaard menyebut Sneijder sebagai "pemain kreatif".
"Dia bermain sangat baik dengan kedua kakinya, bisa bermain sebagai gelandang atau di posisinya sentral penyerangan. Dia memiliki mental yang bagus dan karakter pemenang," puji Rijkaard seperti dilansir AFP.
"Dia adakah pemain kreatif, yang dapat melakukan umpan bagus. Dia tahu bagaimana melepaskan tembakan yang bagus dan mencetak gol," kata pelatih yang juga asal Belanda ini.
Saat ini Sneijder memakai kostum bernomor 23 yang sebelumnya dipakai oleh bintang Inggris David Beckham. Pelatih Bernd Schuster pun memuji Sneijder yang dinilai memiliki tendangan yang sama dengan Beckham.
"Beckham adalah pemain sayap kanan yang lebih dari siapa pun dan Sneijder, meskipun faktanya dia memiliki sentuhan bola yang sama dengan pemain Inggris itu, dia dapat menutupi lebih lapangan," ungkap Schuster.
"Sebelum merekrut dia, saya berbicara dengan (Mantan pelatih Belanda dan Madrid) Leo Beenhakker yang mengetahui dia sangat baik. Tendangannya akan sangat baik jika dia bermain sebagai sayap kiri," tukasnya. (key/a2s)
Tak Ada Liga Inggris, Tak Mati
Jakarta - Setelah Liga Inggris berlangsung sebulan, harapan mayoritas penggemar sepakbola untuk bisa kembali menonton gratis siaran langsung Liga Inggris tidak terwujud. Sebagian ada yang pasrah, meski tak rela.
Puluhan tahun orang Indonesia menikmati siaran langsung olahraga secara gratis. Tidak hanya sepakbola, tetapi berbagai cabang olahraga lainnya juga.
Perubahan yang terjadi tahun ini yaitu eksklusivitas siaran langsung Liga Inggris oleh stasiun televisi berbayar Astro, membuat mayoritas penggemar sepakbola geram.
Wajar, sepakbola yang tadinya merupakan bahasan yang dimengerti seluruh lapisan masyarakat, kini menjadi terbatas. Untuk bisa "ikutan bicara", ada harga yang harus dibayar yakni Rp 200 ribu per bulan sebagai biaya berlangganan ESPN dan Star Sport via Astro.
Bagi "si kaya", hal itu tidak akan masalah. Demikian juga "si medioker", yang akan bela-belain bayar meski sambil menggerutu karena terlanjur "menggilai bola".
Bagaimana mereka yang tidak bisa berbuat apa-apa? Tentu hanya bisa pasrah.
Ada beberapa komunitas yang masuk dalam kelompok ini. Pelajar dan mahasiswa yang tak bekerja misalnya. Dengan masih menggantungkan hidup dari orangtua, tidak banyak yang bisa dilakukan.
Saat nongkrong di waktu senggang, tak ada cerita soal bagaimana Wayne Rooney cedera, atau sensasi Sven Goran Eriksson saat membawa Manchester City menekuk Manchester United, juga kehebatan Aston Villa menekuk Chelsea. Ada sesuatu yang hilang, yang tidak seperti dulu lagi.
"Mau cerita, garing. Taunya hanya menang-kalah. Nggak bisa cerita bagaimana mainnya. Ngga ngelihat gol-golnya. Anak-anak di kampus pun dah malas cerita bola," ujar Ucok, mahasiswa asal Riau yang tinggal di kos-kosan di Depok.
Demikian juga pekerja berpenghasilan pas-pasan. Suami yang istrinya keberatan harus mengeluarkan biaya bulanan tambahan untuk berlangganan Astro, hanya untuk ditongkrongi Sabtu atau Minggu malam.
"Nggak mungkin dong harus berantem sama istri untuk langganan Astro?" demikian penuturan Ipung, ayah beranak satu yang juga mengontrak rumah di Depok.
Bagi mereka yang beraktivitas malam di luar rumah pun terkena imbas. Tadinya cukup mampir di warung atau bertamu di rumah teman yang punya televisi, kini tidak lagi. Mana ada warung yang pakai Astro?
Abang becak, pedagang bakso atau mi ayam, supir dan yang senasib lainnya pun, sekarang hanya bisa tersenyum kecut kalau diajak ngobrol soal Liga Inggris.
Mereka adalah orang-orang yang kecewa, hanya bisa pasrah meski sebenarnya tak rela.
Redaksi detiksport hingga hari ini masih menerima email yang mengungkapkan kekecewaan atas kondisi ini. Di tengah kepasrahannya, ada usaha untuk menghibur diri. "Tak nonton Liga Inggris, toh tak mati."
Anda punya pendapat lain? Silakan kirim email ke redaksi@staff.detik.com.
"It is courage the world needs, not infallibility...courage is always the surest wisdom."
Wilfred T. Grenfell
Author
La Liga dan Seri A Jadi Pelipur
Jakarta - Premiership boleh menjadi yang paling atraktif dan punya daya pikat dibanding liga lain. Tapi tegangnya La Liga Primera dan drama Seri A adalah kisah lain yang terlalu menarik untuk dilewatkan.
Sulit rasanya memungkiri kalau Liga Inggris adalah kompetisi liga domestik paling menarik. Mengandalkan permainan cepat dan atraktif, dihiasi bintang-bintang dari penjuru dunia plus jam tayang di Indonesia yang muncul di prime time membuat Liga Primer mampu mengikat hati gila bola tanah air.
Faktanya, di Asia, Premiership memang jadi pilihan nomor satu dibanding kompetisi domestik lainnya. Claire Kenny Tipton, Direktur Pemasaran, Media dan Komunikasi AFC beberapa waktu lalu menyebut kalau 61% dari seluruh pendapatan sepakbola di Asia mengalir ke Liga Inggris. Penjualan merchandise klub-klub negeri Pangeran Charles itu juga berada di posisi teratas.
Namun saat akses untuk mendapatkan tontonan Manchester United dkk-nya berlaga kemudian menjadi terbatas (harus membayar), gibol tanah air semestinya tak perlu meratap berlama-lama.
Liga Italia lewat Seri A-nya yang di tahun 1990-an sempat berjaya adalah tontonan yang punya magnet tak kalah besar. Apalagi musim ini Seri A memasuki sebuah era baru pasca terbongkarnya skandal Calciopoli, kompetisi pun makin sengit dengan kembalinya Juventus dari masa pembuangan dan AC Milan yang tak lagi harus memulai kompetisi dengan potongan nilai.
Hal serupa tersaji di Liga Spanyol. Ingat kalau La Liga Primera adalah kompetisi tersengit di benua biru musim lalu? Saking sengitnya penentuan juara pun baru diketahui di pekan terakhir, lewat drama penuh ketegangan antara Barcelona dan Real Madrid.
Dua negara tersebut dalam dua musim terakhir malah mampu menjadi penguasa Eropa. Di Liga Champions, AC Milan dan Barcelona gantian menjadi kampiun, sementara Sevilla memborong dua gelar Piala UEFA.
"Liga Inggris dibeli oleh Astro ya silahkan saja. Toh masih ada Liga Indonesia, Liga Italia, Liga Champions atau lainnya. Selama ada yang gratis, ngapain nonton yang bayar?" ungkap fans bernama Andina Sridewi dalam emailnya pada detiksport beberapa waktu lalu.