Apakah Tuhan Menjanjikan Anda Pasangan?
Jennifer adalah seorang wanita lajang dalam komunitas gereja saya. Dia berusia 36 tahun dan sering mengeluh bahwa hidupnya semakin jatuh, sudah 6 tahun berlalu sejak putus dengan pacarnya, dan kehidupan cintanya tetap "kosong". Jennifer meragukan apakah kapasitas hatinya masih ada untuk mencintai. Keletihan emosional inilah yang menyebabkan kebenciannya yang terpendam pada Tuhan semakin membusuk. Setelah 2 tahun menghadiri kebaktian secara rutin, tiba-tiba dia menghilang. Tiga bulan kemudian, saya bertemu dengannya di sebuah restoran, saya bertanya apakah dia telah berpindah gereja. Dia menjawab, "Tidak, aku tidak pergi ke gereja manapun. Aku tidak bisa menyembah Tuhan yang meninggalkan aku dalam kesepian." Jennifer menyimpulkan bahwa jika dia akan membiarkan Tuhan kembali dalam hidupnya, sebaiknya Dia membawakannya seorang suami, dan cepat.
Apakah Tuhan menjanjikan kita pasangan? Alkitab mengatakan "ya" dengan menggambarkan orang-orang Kristen sebagai mempelai Kristus. Pasangan sejati kita adalah Yesus. Namun banyak dari kita mengatakan, "Saya senang menikah secara rohani kepada Dia, namun saya tak bisa merasakanNya. Tidakkah lebih baik jika saya bisa menikmati cinta Tuhan dengan seseorang yang bisa disentuh?" Jadi kita berdoa kepada Tuhan untuk membawakan kita pasangan manusia.
Pencarian saya akan pasangan berubah menjadi lingkaran rasa frustasi setelah saya melalui beberapa pergumulan dalam hubungan saya dan seorang pacar yang mengabaikan saya selama 6 bulan hubunga kami. Saya mulai meragukan apakah Tuhan benar-benar peduli pada kehidupan percintaan saya. Setiap kali saya merasa kesal karena status lajang saya, saya akan duduk dan mengeluh pada Tuhan atas ketidak-adilan dalam kehidupan sosial saya. Saya pikir logis untuk mengharapkan seorang istri dari Dia yang mempunya kuasa yang tak terbatas. Kapanpun saya meminta Tuhan segera memberikan saya pasangan, bagaimanapun juga sepertinya Dia membisikkan pertanyaan ini dalam hati saya: "Rob, apakah kasih dari Yesus cukup bagimu? Apakah kamu telah mengalami pengampunanKu dengan utuh dan penerimaan tanpa syarat untuk memuaskan hatimu?" Saya menjawab, "Saya sangat bersyukur atas kasihMu Tuhan, tapi saya hanya menginginkan seorang istri." Saya yakin bahwa hati saya membutuhkan kasih sayang dari seseorang untuk membuat saya merasa utuh. Dalam hal ini, saya menilai kasih dari manusia lebih besar daripada kasihNya.
Satu hari, saya mulai melihat kembali seluruh hidup saya, termasuk beberapa hubungan saya yang tidak berhasil di masa lalu. Dalam setiap situasi, hubungan dimulai dengan romantisme namun berakhir begitu saja. Tidak peduli dengan siapapun, masalahnya seputar ini, entah saya yang terlalu menuntut atau dia yang tidak bisa menerima saya apa adanya. Tiba-tiba, sesuatu menyentak pikiran saya. Saya berpikir, "Kenapa saya begitu mengejar pernikahan padahal itu tidak bisa menyediakan cinta tanpa syarat yang diinginkan hati saya? Hanya Tuhan yang menawarkan segala yang saya butuhkan." Dengan perspektif baru ini, saya melepaskan tuntutan saya untuk segera menikah kepada Tuhan. Saya masih ingin menemukan pasangan suatu saat nanti, tapi saya tidak lagi menganggap pernikahan adalah sesuatu yang penting untuk membuat hidup saya utuh. Jika saya tetap melajang sampai sepanjang sisa hidup saya, itu tidak apa-apa, karena Tuhan berjanji untuk memenuhi hati saya.
Saat kita menuntut Tuhan untuk memberi kita pasangan, kita membatasi Dia untuk meningkatkan kehidupan sosial kita. Kemarahan dalam diri kita membangun tembok antara kita dengan Tuhan. Jika kita mau jujur dengan diri sendiri, kita akan menyadari bahwa tuntutan kita untuk pernikahan adalah sebuah penolakan terhadap cinta Tuhan karena kita menginginkan keinginan egois kita terpenuhi. Tuhan tidak akan pernah berhenti mencintai kita, namun kita mengabaikan Dia saat kita dengan putus asa mencari manusia lain untuk membuat kita bahagia dan merasa utuh. Lebih jauh lagi, apapun yang kita jadikan sebagai tempat bergantung untuk mendapatkan kebahagiaan akan mengendalikan kita dan mengemudikan hidup kita. Jika kita mempercayai bahwa kita membutuhkan pasangan manusia untuk menjadi puas dan bisa bersyukur, maka orang-lah (dan bukan Tuhan) yang akan mengarahkan kehidupan kita.
Tuhan memang memegang kendali atas semuanya, tapi Dia tidak ikut campur hanya untuk membuat hidup kita menjadi mudah. Dia tidak punya alasan untuk membuat seorang wanita muncul di hadapan dan jatuh cinta dengan saya. Namun Tuhan mau menggunakan kuasaNya untuk membuat saya menjadi makin dewasa, menjadi seseorang yang berinisiatif untuk memberikan cinta dan berkorban bagi orang lain. Saya mau mendapatkan cinta, sementara Tuhan sedang mengajar saya untuk memberikan cinta.
Sama halnya dengan saya, Tuhan sedang bekerja dalam hidup anda untuk bertemu dan mengasihi orang lain. Bagaimanapun juga, anda-lah yang memutuskan siapa yang anda terima dan siapa yang anda tolak. Saat anda berinteraksi dengan orang lain, anda bebas untuk menentukan arah dari hubungan anda. Anda dapat memilih untuk bersikap romantis, hanya menjadi teman, atau mengakhiri hubungan anda dan berpisah. Sementara itu, orang lain pun bisa memutuskan, dimana itu berarti orang lain juga dapat menentukan hasil akhirnya. Intinya, sebuah hubungan tidak akan berkembang kecuali kedua pihak memutuskan untuk mencintai satu sama lain. Dengan kata lain, jika anda atau orang lain membuat keputusan yang egois, hubungan anda mungkin akan menjadi hancur.
Keinginan untuk menikah adalah keinginan yang wajar, namun konsekuensi dari hidup dalam dunia yang sudah jatuh dapat mencegah orang untuk mencapai tujuan itu. Contohnya, anda bisa saja mendekati seseorang secara romantis, namun orang itu mungkin memilih untuk mengabaikan anda, sebuah kondisi atau penyakit mungkin menghalangi anda, atau mungkin orang itu memutuskan untuk meninggalkan anda. Dosa dari kemanusiawian kita dapat membuat halangan-halangan atas relationship yang bagus. Dan mengapa hidup itu terkadang begitu sulit? Mengapa Tuhan tidak menggunakan kekuatanNya untuk melindungi kita dari rasa sakit? Sebenarnya, Tuhan sedang bekerja, namun dengan cara yang berbeda dari yang kita sadari.
Tuhan menggunakan kuasaNya untuk mendorong orang agar saling mengasihi satu sama lain, namun Dia juga mengijinkan kita untuk membuat keputusan-keputusan egois yang bisa melukai kita sendiri. Tuhan mengijinkan keadaan-keadaan yang tidak menyenangkan agar kita bisa mengalami kehendak bebas. Tanpa kehendak bebas, anda dan saya hanya menjadi robot yang mati. Tapi untungnya, Tuhan membatasi kekuasaanNya untuk membiarkan kita membuat keputusan sendiri dalam hidup. Kehendak bebas kita tidak akan melebihi kemahakuasaanNya, karena Mazmur 37:23 mengatakan, "Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya." Tuhan begitu berkuasa sehingga Dia mengijinkan anda untuk memilih dan masih dapat ikut campur di dalamnya untuk mendatangkan kebaikan bagi kemuliaan namaNya. Mengapa kehendak bebas itu begitu penting? Tuhan ingin anda menikmati cinta sejati, dan cinta sejati tidak dapat ada tanpa sebuah pilihan atau keputusan. Jika anda dipaksa untuk mencintai Tuhan atau orang lain, maka cinta akan menghilang, dan anda akan berada di bawah manipulasi. Kehendak bebas adalah bahan dasar dari cinta yang sejati.
Saya menyadari kebenaran ini ketika saya tidak mendapatkan pasangan untuk pesta prom saya waktu masih SMA. Saya telah bertanya dan mengajak beberapa gadis, tapi semuanya menolak. Empat hari sebelum hari H, teman saya memberitahu bahwa ada seorang gadis bernama Tiffany yang juga membutuhkan pasangan untuk prom. Meskipun sebenarnya saya tidak tertarik pada gadis ini, namun akhirnya saya mengajaknya juga, karena dia pilihan terakhir. Selama pesta prom, kami sama-sama berusaha bersikap sopan, tapi makin lama makin jelas kalau kami memang tidak merasa tertarik satu sama lain. Kami tidak berbicara selama makan malam, kami tidak berdansa berdua, dan kami tidak tersenyum saat kami difoto. Kami hanya terdiam selagi duduk bersama, dan masing-masing memandang pada orang yang kami sukai. Lewat peristiwa itu, saya belajar bahwa cinta tidak akan ada kecuali kedua pihak dengan bebas memilih untuk bersama.
Maka dengan demikian, menemukan pasangan tidak akan terjadi dengan menuntut Tuhan melakukan keajaiban dengan membawa seseorang ke depan pintu rumah anda. Pernikahan bukanlah suatu proses yang sudah ditetapkan sebelumnya secara misterius. Tuhan mengijinkan kita untuk membuat keputusan, apakah ita akan mencintai atau meninggalkan. Tuhan membawa orang-orang melintasi jalan anda dan membuka kesempatan bagi anda untuk mencintai mereka, namun Dia membiarkan anda mengatur respon-respon anda terhadap hubungan-hubungan yang ada. Dengan demikian, sebuah pernikahan melibatkan kebebasan memilih untuk mencintai orang lain. Anda dapat meningkatkan kesempatan anda bagi romantisme dengan keluar dan memilih untuk memberikan kasih pada orang lain. Atau, anda dapat menjadi egois dan menghancurkan prospek hubungan anda. Kualitas dari kehidupan sosial anda tergantung dari pilihan-pilihan yang anda buat.
Apakah Tuhan menjanjikan anda pasangan? Ya, sebagai mempelai dari Yesus Kristus. Apakah Tuhan menjanjikan anda pasangan dunia? Tidak, karena menemukan pasangan adalah sebuah proses, dimana 2 orang memutuskan untuk mengorbankan diri mereka masing-masing untuk kebaikan pasangannya. Jadi, jangan biarkan keinginan untuk menikah mengontrol hidup anda, atau anda akan merasa frustasi karena anda tidak dapat mengendalikan masa depan atau kehendak bebas dari orang lain. Tuhan ingin agar pernikahan rohani anda menjadi dasar dan sumber utama anda bagi cinta dan penerimaan tanpa syarat. Hubungan manusiawi anda merupakan jalan untuk mengekspresikan kasihNya kepada orang lain. Tuhan mungkin saja tidak memberikan romantisme yang bergairah di bumi, tapi Dia menjanjikan kehidupan yang penuh gairah untuk dinikmati bersama denganNya.
Gunakan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini untuk melihat apakah keinginan anda untuk menikah telah menjadi sebuah tuntutan:
* Apakah saya berusaha menemukan pasangan yang dapat membuat saya merasa lebih baik dengan diri saya sendiri?
* Bisakah saya merasa utuh dan bersyukur kepada Tuhan dalam kondisi lajang saya?
* Apakah saya bersikap apatis atau sinis terhadap hubungan-hubungan dengan lawan jenis?
* Apakah saya takut terhadap kemungkinan untuk tidak akan pernah menikah?
* Apakah cinta dari Yesus Kristus cukup untuk saya?
Jika keinginan anda untuk menikah telah berubah menjadi satu tuntutan, renungkanlah ayat-ayat berikut ini: Filipi 4:6-13 dan 2 Korintus 12:9-10.
Takut Pada Komitmen
Dalam beberapa konseling yang saya lakukan, saya sering bertemu dengan klien-klien yang mempunyai ketakutan mendalam terhadap komitmen. Mereka mengatakan bahwa mereka ingin berada dalam hubungan yang saling mencintai, namun mereka tetap memilih "orang yang salah".
Susan, 38, meminta bantuan saya karena dia sedang berada dalam 2 hubungan dalam waktu yang sama. Ini terasa tidak benar baginya, sehingga dia tahu bahwa dia harus membuat pilihan. Namun dia seperti tidak bisa memutuskan hubungan mana yang tepat untuknya. Susan telah menjalin hubungan dengan Shawn selama 2 tahun. Shawn, 43, adalah seorang pria yang ramah, romantis, dan sopan. Namun Shawn bisa "menghilang" secara emosional untuk waktu yang agak lama, dan sudah jelas bahwa dia tidak menginginkan anak (padahal mempunyai anak adalah hal yang penting bagi Susan). Tambahannya, Shawn selalu hidup dengan pas-pas-an secara finansial.
Lalu Susan bertemu dengan Calvin, yang benar-benar berbeda dengan Shawn. Calvin selalu ada bagi Susan secara emosional, mempunyai pekerjaan yang dia cintai, penghasilan yang bagus, dan juga menginginkan anak. Susan sangat tertarik dengan Calvin dan di dalam hatinya dia tahu bahwa Calvin adalah pilihan yang jauh lebih baik dibandingkan Shawn. Namun tetap saja, dia merasa sulit melepaskan Shawn. Setelah kami teliti lebih lanjut, ternyata semakin jelas bahwa alasan mengapa Susan tidak bisa melepaskan Shawn adalah karena Susan merasa takut akan komitmen. Bersama Shawn, tidak ada kemungkinan untuk berada dalam hubungan berkomitmen, karena dia tidak tepat untuk itu. Namun Susan merasa "aman" dengan Shawn. Aman dari apa?
Susan menyadari bahwa dia sangat takut untuk benar-benar jatuh cinta, yang sangat mungkin terjadi dengan Calvin, tapi tidak dengan Shawn. Dalam pikirannya, berada dalam hubungan cinta yang dalam berarti kehilangan kebebasannya. Saat dia membayangkan dirinya bersama dengan Calvin, dia merasa seolah-olah dia tidak dapat bernafas. Konsep Susan tentang hubungan cinta dengan komitmen adalah, "Aku dan dia terus bersama sepanjang waktu. Aku tidak bisa pergi begitu saja dan berada bersama teman-temanku, atau pergi berlibur bersama temanku. Komitmen berarti tidak ada kebebasan." Tidak heran dia merasa "aman" dengan Shawn! Selama Susan merasa bahwa dia harus mengorbankan dirinya secara total untuk berada dalam sebuah hubungan cinta, dia tidak akan mampu untuk membuat komitmen.
Douglas, 34, seorang klien lain, mempunyai masalah yang sama. Saat dia sedang menjalin hubungan, dia adalah seorang pria yang baik. Dia cenderung ingin menyenangkan pasangannya karena, dalam pikirannya, mengurus diri sendiri dan melakukan hal-hal yang dia mau adalah sikap yang egois. Namun, ketika hubungan mereka semakin serius, dia mengakhiri semua sikap khususnya dan juga hubungan itu. Seperti Susan, tindakannya berdasarkan keyakinannya yang salah, bahwa dia harus mengorbankan kebebasan pribadinya untuk berada dalam hubungan cinta yang serius.
Susan dan Douglas sama-sama mempunyai keyakinan yang salah yang menyebabkan mereka takut terhadap komitmen: bahwa mencintai orang lain berarti melakukan apa yang orang lain itu inginkan, bukannya bersikap jujur terhadap diri mereka sendiri dan juga mencintai diri mereka sendiri. Mereka berdua mempunyai definisi yang salah dari kata "egois". Mereka berpikir bahwa mereka bersikap egois jika mereka mengurus diri mereka sendiri, dibanding mengurus pasangan mereka. Saya menawarkan definisi tentang egois seperti ini: Egois adalah ketika anda mengharapkan orang lain mengorbankan diri mereka untuk anda - dengan tidak melakukan apa yang sebenarnya mereka inginkan, tapi melakukan apa yang anda ingin mereka lakukan. Egois adalah ketika anda tidak mendukung orang lain untuk mengasihi diri mereka sendiri, tapi mengharapkan mereka untuk mengasihi dan mengurus anda.
Mengorbankan diri anda sendiri adalah sebuah bentuk pengendalian. Anda ingin mengendalikan bagaimana orang lain merasa atau mempunyai kesan tentang anda dengan melakukan apa yang mereka ingin anda lakukan. Ketika anda melakukan apa yang orang lain ingin anda lakukan dalam hal mengasihi, tanpa persetujuan mereka, anda akan merasa baik. Namun ketika anda mengorbankan diri anda karena anda takut terhadap kemarahan atau pemutusan hubungan oleh pasangan anda, anda akan merasa terjebak dan tertolak. Untuk berada dalam hubungan yang berkomitmen, komitmen pertama yang perlu anda lakukan adalah komitmen kepada diri anda sendiri, jujur pada diri sendiri, integritas, dan kebebasan. Belajar untuk mengasihi diri sendiri (karena anda tahu bahwa Tuhan mengasihi anda) adalah kunci untuk menyembuhkan ketakutan akan komitmen. Saat anda mengasihi diri sendiri, anda akan diisi dengan cinta dan anda akan mempunyai lebih banyak cinta untuk dibagikan kepada pasangan anda!
Celakanya Manajer Sepakbola
London - Manajer sepakbola adalah pekerjaan paling celaka dalam industri persepakbolaan. Hampir susah membayangkan adanya unsur kebahagiaan sebagai manajer di dunia yang satu ini.
Kalau tim sedang terseok-seok, siapa yang menjadi sasaran kritikan, tekanan, hinaan, sumpah serapah: manajer. Siapa yang pertama kali akan menjadi korban pemecatan? Tidaklah mungkin memecat suporter atau dewan direktur atau pemain!
Banyak yang mengatakan bahwa menjadi manajer sepakbola adalah pekerjaan paling stres di dunia. Tak banyak yang membantah. Lha, tekanan terhadap mereka bukan bersifat mingguan, tetapi harian.
Manajer sepakbola harus setiap hari dipusingkan dengan tujuan jangka pendek: melatih dan mempersiapkan tim untuk memenangi pertandingan berikutnya. Tidur tidak nyaman karena harus merancang program jangka panjang, entah itu memenangi piala tertentu, memantapkan posisi di klasemen, membina tim masa depan, menjaring pemain berbakat, sampai transfer pemain. Tidur mimpi bola, bangun didera bola.
Bahkan ketika tim bermain bagus ataupun memenangi banyak piala, Anda pikir segalanya lalu indah? Bagi para manajer ini kejayaan hanya berlangsung selama Anda mengangkat piala selama beberapa detik. Sesudahnya, Anda sudah harus kembali tersedot rutinitas untuk menjaga agar kejayaan itu tak lepas begitu saja. Tidak ada kata selesai.
Apakah Anda pikir dalam tim yang sukses hubungan antara manajer dan pemain selalu bagus? Hanya mimpi. Satu dua mungkin, tetapi tidak seluruhnya. Semua manajer top mengaku, yang penting bukan bagaimana hubungan pribadi itu bagus, tetapi fungsional atau tidak.
Kalau pemain dianggap sudah tidak lagi in tune dengan bangunan keseluruhan tim, ya apa boleh buat, manajer harus membuangnya. Bayangkan, pertarungan ego yang terjadi di dalamnya. Apalagi kalau sekumpulan pemain itu adalah pemain-pemain bintang.
Lebih celaka lagi, pernahkan Anda mendengar gaji manajer lebih tinggi dari pemain yang dibinanya? Gaji pemain biasanya berlipat-lipat kali lebih tinggi dari orang yang menjadi otak permainan tim.
Mereka juga yang menjadi pujaan penonton, bukan manajer. Ini seperti jenderal membawahi prajurit yang tidak perlu lagi harus bertempur untuk hidup. Anda keras mereka ngambek, Anda lunak mereka ngelunjak.
Dibutuhkan kemampuan manajerial di atas rata-rata untuk mendapatkan keseimbangan. Belum lagi hubungan dengan dewan direktur atau pemilik klub. Tidak perlu harus ada cerita terlalu banyak mengenai ini, tetapi semua orang tahu bahwa tarik menarik antara manajer dengan pemilik klub seperti derita tanpa akhir. Dan setiap kali ada pergulatan kekuasaan, tidak perlu diragukan lagi siapa yang akan kalah.
Kalau demikian celakanya posisi manajer sepakbola ini, mengapa masih saja ada mereka yang dengan senang hati bahkan berusaha keras untuk menjadi manajer sepakbola? Ada yang mengatakan manajer sepakbola adalah sekumpulan ras tersendiri: ras celaka.
AFC Umumkan 15 Kandidat Pemain Terbaik Asia
Kuala Lumpur - Konfederasi Sepakbola Asia (AFC) mengumumkan 15 nama pesepakbola yang dinominasikan sebagai AFC Player of the Year 2007. Nama-nama dari negara besar masih mendominasi.
Dalam rilis yang diterima detiksport, Jumat (26/10/2007), AFC menjelaskan bahwa 15 kandidat ini disaring dari 32 kandidat yang diumumkan AFC bulan lalu. Daftar 15 pemain itu dirilis AFC setelah pelaksanaan semifinal Liga Champions Asia dan Pra-Olimpiade Beijing 2008 zona Asia pekan ini.
Masih sama dengan kebiasaan beberapa tahun terakhir, nama-nama calon pemain terbaik Asia kali ini masih didominasi oleh negara-negara kuat sepakbola dari Asia Timur dan negara-negara Teluk. Di antara mereka adalah Younis Mahmoud, kapten Irak yang membawa negaranya memenangi partai final Piala Asia 2007 di Jakarta.
Di luar negara-negara tradisional tersebut terselip nama Travis Dodd (Australia) dam Azizbek Haydarov dari Uzbekistan. Sedangkan nama Teeratep Winothai (Thailand) muncul sebagai satu-satunya nomine dari kawasan Asia Tenggara.
Acara malam penghargaan AFC akan digelar pada 28 November di Sydney, Australia. Tahun lalu gelar pemain terbaik Asia jatuh ke pemain Qatar, Khalfan Ibrahim.
Kandidat Pemain Terbaik Asia:
1. Nashat Akram (Irak)
2. Abdul Al Jenaibi (Uni Emirat Arab)
3. Bader Al Mutawa (Kuwait)
4. Bait Al Noobi (Oman)
5. Yasser Al-Qahtani (Arab Saudi)
6. Travis Dodd (Australia)
7. Yasuhito Endo (Jepang)
8. Azizbek Haydarov (Uzbekistan)
9. Lee Won Jae (Korea Selatan)
10. Younis Mahmoud (Irak)
11. Salehi Mohamad Mehdi (Iran)
12. Kengo Nakamura (Jepang)
13. Javad Nekounam (Iran)
14. Shinji Ono (Jepang)
15. Teeratep Winothai (Thailand)
Always remember
Don't become so caught up in the effort itself that you lose sight of the reason for it. Always remember that there is a living, feeling, knowing person inside of you.
Don't become so overwhelmed by the consequences of your mistakes that you fail to learn their valuable lessons. Always remember that there are plenty of positive aspects to any living experience.
Don't become so angry or bitter or resentful that you bring darkness to the world in which you live. Always remember that you are connected to all you see and know.
Don't be too quick to pass judgment on the people and situations that come your way. Always remember that they are more than they first appear.
Don't use anything that has happened as an excuse to give up. Always remember that you can make a difference in this moment, and move positively forward from any setback.
Always remember that life is magical, miraculous, with possibilities that have no limit. And you are here now to live it fully.
Unburdened
Though your responsibilities and obligations are very real and pressing, they do not have to burden you. For when you are willing to accept responsibility for something, you put yourself in control of it.
Though the frustrations may be deep and numerous, they do not have to burden you. For by working your way through those frustrations, you are building valuable achievements.
Though a profound sadness may come down upon you, it does not have to burden you. For that sadness is possible only because you care so very much, and because you know without a doubt how beautiful life can be.
Though darkness may be all around you, it does not have to burden you. For that darkness only makes your own light more brightly visible.
Though the problems and distractions may seem to have no end, they do not have to burden you. For by moving through them you are moving toward your dream.
Though life may be difficult, it does not have to burden you. For you can live moment by moment by moment, joyfully making the most of each and every one.








