Search blog.co.uk

Posts archive for: 11 October, 2007
  • TOKOH G30S, KOLONEL ABDUL LATIEF

    SI PUTIJH OK
    TOKOH G30S, KOLONEL ABDUL LATIEF (7)

    Oleh: Harsutejo

    Pemeran G30S ini juga pernah menjadi anak buah Suharto di Divisi Diponegoro. Ia ikut ambil bagian sebagai salah satu komandan kompi yang berani dalam SU 1 Maret 1949 di Yogya yang dipimpin Letkol Suharto. Akhirnya Latief menjadi Komandan Brigade Infanteri I Kodam Jaya, suatu kedudukan strategis. Sebagai Komandan Kostrad pun Suharto mendekati Kolonel Latief antara lain dengan mendatangi rumahnya ketika Latief mengkhitankan anaknya. Menurut Subandrio hal ini merupakan suatu langkah “sedia payung sebelum hujan”, suatu saat ia akan dapat memanfaatkannya. Di samping itu “Latief mengantongi rahasia skandal Suharto dalam Serangan Umum 1 Maret 1949” seperti yang tercantum dalam pembelaannya di depan Mahmilub pada 27 Juni 1978.

    Letkol Suharto tidak banyak mengambil bagian dalam SU itu, ia hanya enak-enak berada di garis belakang yang aman sembari makan soto di warung sebagai yang diceritakan Latief ketika pertempuran seru terjadi dan cukup banyak korban jatuh. Adegan ‘Suharto makan soto babat’ itulah yang disebut Subandrio sebagai “skandal Suharto”. Dalam pasukan Kapten Latief yang masuk ke Yogya dari Godean itu bergabung juga laskar Pesindo yang sudah bersiap di dalam kota di bawah pimpinan Supeno dan Pramuji, menurut AM Hanafi merupakan kekuatan militan serangan umum tersebut.

    Hubungan Latief Dengan Suharto

    Latief sendiri menyatakan karier kemiliterannya nyaris selalu mengikuti jejak Suharto. Pada gilirannya membuat hubungan Latief dan Suharto bukan lagi sekedar bawahan dan atasan, melainkan sudah sebagai dua sahabat. Suharto tahu Latief tak akan melakukan sesuatu yang dapat merugikan dirinya. Sudah sejak setelah agresi kedua, Latief merasa selalu mendapatkan kepercayaan dari Suharto sebagai komandannya yakni memimpin pasukan pada saat yang sulit. Ketika Trikora pun ia masih dicari bekas komandannya itu, tetapi Latief sedang mengikuti Seskoad. Pada bulan Juni 1965 Mayjen Suharto meminta agar Latief dapat memimpin suatu pasukan di Kalimantan Timur, akan tetapi Umar Wirahadikusuma menolak melepasnya karena tenaganya diperlukan untuk tugas keamanan di Kodam V Jaya.

    Di luar dinas Latief mempunyai hubungan kekeluargsaan yang cukup akrab dengan Suharto dan sering berkunjung ke rumahnya. Ketika Sigit, anak Suharto dikhitan, isteri Latief datang. Sebaliknya ketika Latief mengkhitankan anaknya maka Suharto dan Ibu Tien juga datang ke rumahnya. Bahkan pada 28 September 1965 ketika Latief berkunjung ke rumah Suharto di Jl HA Salim, ia membicarakan soal tukar-menukar rumah dinas. Latief menawarkan rumah dinas baginya di Jl Jambu bekas kedutaan Inggris yang lebih besar untuk ditukar dengan kediaman Suharto yang lebih kecil yang sedang ditempatinya.

    Menurut Subandrio, Suharto berhasil membentuk trio bersama kedua orang tersebut di atas, keduanya memiliki posisi strategis yang lebih tinggi dibanding trio yang pernah dibentuk sebelumnya bersama Ali Murtopo dan Yoga Sugomo yang telah menghasilkan dirinya ditunjuk sebagai Panglima Diponegoro, lalu naik pangkat menjadi Kolonel dengan menggeser calon kuat Kolonel Bambang Supeno yang pengangkatannya tinggal menanti tandatangan saja.

    Kolonel Latief: “Jenderal Suharto Terlibat G30S!”

    Dalam pembelaannya Letkol Latief tetap menuduh Jenderal Suharto sebagai ikut terlibat dalam G30S. Ia tidak memiliki ilusi apa pun terhadap Jenderal Suharto yang sedang berkuasa, orang yang setiap saat dapat mengirimkan dirinya ke dunia lain atau membebaskannya, menilik dalam kenyataannya selama rezim militer Orba, Jenderal Suharto berada di atas hukum. Dapat disimpulkan ia memiliki suatu kesadaran politik cukup tinggi. Selama penahanannya Latief mengalami siksaan luar biasa seperti dipaparkan dalam pembelaannya. Menakjubkan ia masih bertahan hidup meskipun badannya cukup rusak, semangat hidupnya luar biasa. Setelah tekanan berbagai pihak di dalam dan luar negeri, ia baru dibebaskan dari penjara pada permulaan 1999. Dengan keadaan badan yang rapuh, ia terkena stroke, akan tetapi semangat hidupnya tidak pernah pudar. Sejak itu ia harus dibantu seorang “penerjemah” untuk berkomunikasi dengan orang lain. Sekalipun demikian ia tetap aktif mengikuti berbagai pertemuan, seminar, menulis makalah. Dalam suatu kesempatan bertemu dengan penulis pada permulaan 2001, ia sedang menyelesaikan bukunya tentang SU 1 Maret 1949.

    Berbagai pertanyaan timbul terhadap kenyataan bahwa seorang Latief tidak dihukum mati oleh pengadilan yang sekedar mementingkan proses formal dan mengabaikan pembuktian material. Bahkan untuk tokoh yang masih menjabat sebagai menteri pada tahun 1965 seperti Aidit dan Nyoto, dengan entengnya ‘dibereskan’ oleh penguasa militer Orba. Rupanya pengadilan terhadap mereka tidak menguntungkan sang penguasa. Sebagian orang mencurigai Latief sebagai melakukan deal tertentu dengan Suharto, sampai saat ini tanpa bukti, atau barangkali menurut logika intelijen. “Seseorang di suatu tempat dalam rezim tampaknya menghendaki ia tetap hidup,” begitu tulis Carmel Budiardjo. Seseorang itu tidak bisa lain kecuali Jenderal Suharto. Untuk kepentingan apa ia menghendaki Latief hidup, bagian dari suatu deal? Macam apa kesepakatan itu, terlalu mahal untuk Latief dan terlalu riskan untuk Suharto, ini bila ditinjau dari kacamata setelah G30S. Tentu saja Suharto pun selama berkuasa dengan amat mudahnya setiap saat dapat melenyapkan Latief bagai menepuk nyamuk.

    Kenyataan bahwa Latief tidak dihukum mati, menimbulkan suatu spekulasi bahwa ia memiliki keterangan yang lebih sempurna yang disimpan di luar Indonesia dengan pesan supaya segera diumumkan jika ia dibunuh. Dalam majalah Far Eastern Economic Review 2 Agustus 1990 diberitakan memoar Latief disimpan di sebuah bank. Keterangan Latief memang memenuhi syarat untuk menyeret Jenderal Suharto sebagai terlibat G30S golongan A, sesuai Pasal 4 Keputusan Kopkamtib 18 Oktober 1965, semua orang yang terlibat secara langsung, mereka yang mengetahui rencana kup dan lalai melaporkan kepada yang berwajib.

    Ada satu hal lagi yang amat mencolok, Kolonel Latief ditangkap sepuluh hari setelah kegagalan gerakan, tetapi ia diadili 13 tahun kemudian pada 1978. Sedang vonisnya baru mendapatkan kepastian hukum pada tahun 1982! Latief merupakan saksi kunci yang dapat menggoyahkan kedudukan Jenderal Suharto. Pada masa permulaan bahkan pada tahun-tahun permulaan pengikut BK masih cukup kuat, maka diperlukan waktu bagi Suharto untuk mengkonsolidasikan diri dan kekuasaannya. Dengan kata lain Suharto memerlukan waktu, pendeknya faktor waktu amat penting dalam hal ini. Itulah sebabnya setelah usaha menyiksa dan mengisolasi Latief habis-habisan selama 10 tahun tidak juga membunuhnya, dengan berjalannya waktu ia tidak terlalu berbahaya lagi. Suharto sudah cukup kuat dan mampu mengangkangi hukum dengan mudah. Demikian ulasan Joesoef Isak yang sangat menarik, faktor waktulah yang diperlukan oleh rezim Suharto untuk menaklukkan kesaksian dan bahan apa pun yang dimiliki Latief. Sudah jauh-jauh hari kenyataan ini telah dimanipulasikan dengan keterangan juru bicara militer yang menyatakan Latief dengan sengaja tidak mematuhi perintah dokter [berhubung luka-luka yang dideritanya] , sehingga ia tidak cukup sehat untuk muncul di pengadilan, sebagai disiarkan Kompas 26 Maret 1966.

    Peran apa sebenarnya yang telah dimainkan oleh Kolonel Latief, semata-mata sebagai seorang militer yang setia kepada Presiden Sukarno, seseorang yang terseret masuk ke dalam perangkap Syam, atau orang Suharto yang sepahnya dibuang setelah habis manis, atau yang lain? Kalau dia sepah yang dibuang seharusnya ia dilenyapkan setelah dikorek keterangan yang diperlukan kepentingan rezim, agar selanjutnya bungkam. Seseorang yang menamakan dirinya sebagai mantan intel tiga negara sekaligus RI-CIA-KGB mesinyalir Latief sebagai agen ganda, karena itu ia selamat terus (Detak 5 Oktober 1998:9). Masih dapatkah kita mengharapkan sesuatu yang lain di samping pledoinya di pengadilan, demi kepentingan sejarah bangsa? Sayang sampai meninggalnya tokoh ini pada 2005, tidak ada informasi baru yang disampaikannya.

    Trio Sel Komunis?

    Dalam berbagai diskusi informal tentang G30S sebagian orang mengutuk Latief sebagai pengkhianat karena telah melaporkan gerakan yang diikutinya sendiri kepada Jenderal Suharto. Hal ini perlu dipertanyakan apakah menemui Suharto sebagai bekas komandannya dan orang yang cukup dekat dengan dirinya itu inisiatifnya sendiri? Kalau bukan siapa yang memerintahkannya? Sebagian pihak menyatakan dia itu sebenarnya anggota trio sel bawahtanah PKI bersama Letkol Untung dan.... Jenderal Suharto di bawah binaan Syam [atau Aidit?] sebagai bagian dari BC PKI. Dalam hubungan ini tak aneh jika ada pihak yang menyebut Jenderal Suharto sebagai gembong PKI yang berkhianat. Ada cerita seorang tokoh yang tidak mau disebut namanya, pada permulaan Oktober 1965 menemui Aidit di Jawa Tengah ketika baru tiba dari Jakarta, DN Aidit menyatakan, “Wah celaka, kita ditipu oleh Suharto!”

    Di sepanjang kesaksiannya, Kolonel Latief tidak sekalipun menjatuhkan nama PKI, sangat kontras dengan Syam, Ketua BC PKI. Sayang hal-hal di atas tidak dapat dirujuk silang dengan narasumber lain maupun sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabk an [atau belum?]. Apakah kita akan mimpi mendapatkan tambahan keterangan dari Jenderal Besar (Purn) Suharto yang sedang didapuk sebagai koruptor hiu paling akbar di dunia dan baru memenangkan Rp 1 triliun di Mahkamah Agung RI menghadapi majalah Time? (Dipetik dari Harsutejo, Sejarah Gelap G30S, revisi).-

    KOLONEL LATIEF, GEMBONG ATAU KORBAN? (7a)

    Jika Latief semasa hidupnya sudi menjelaskan secara rinci, terbuka dan jujur dalam menjawab pertanyaan yang pernah diajukan kepadanya, mungkin akan lebih mudah mendudukkan dirinya, meskipun tetap saja akan terbuka kemungkinan kontroversi. Apalagi keterangan sejujur dan serinci apa pun yang diberikan setelah sekian puluh tahun terjadinya suatu peristiwa sejarah, tetap terbuka kemungkinan kerancuan. Sayang pertanyaan-pertanya an di bawah ini, yang diajukan ketika dia masih dapat berkomunikasi dengan cukup, tidak pernah dijawabnya dengan jelas. Dapat saya tambahkan bahwa pada tahun-tahun akhir hidupnya dia sulit berkomunikasi karena serangan stroke yang telah menutup harapan adanya keterangan berharga yang lain dari pihaknya, kecuali jika ada peninggalan tertulis yang belum pernah dipublikasikan. Pertanyaan tersebut di antaranya meliputi:

    (1) Dalam sejumlah pertemuan mereka yang menamakan diri Perwira Progresif (termasuk Latief) sebelum 1 Oktober 1965, dihadiri (bahkan dipimpin) sejumlah orang sipil yakni Syam, Pono dan Bono dari Biro Chusus (BC, ejaan lama) PKI. Apakah ini berarti konsep G30S dari PKI (baca: Syam/Aidit)? Bagaimana sebenarnya hubungan orang-orang militer ini dengan BC? Apa sekedar karena sama-sama alat revolusi sesuai dengan ajaran Bung Karno (BK) dan pendukung BK? Atau suatu komplotan? Hubungan ini diungkapkan dalam buku putih Orba sebagai komplotan PKI (atau sebenarnya komplotan Aidit?).

    (2) Dalam salah satu pertemuan (ke 5 pada 17 September 1965) anak buah Latief, Mayor Inf Agus Sigit, Dan Yon 203, mendebat arahan Syam tentang rencana G30S yang dipandangnya semrawut, tidak profesional. Usulan dia tentang penutupan jalan masuk ke Jakarta dari arah Bogor, Tangerang dan Bekasi pada saat gerakan, ditolak sebagai kekiri-kirian. Ia menyampaikan pertanyaan tajam, apa sebab Presiden tidak memerintahkan segera menangkap Dewan Djenderal (DD, ejaan lama)? Apa tidak mampu? Apa sebab orang-orang dalam pertemuan itu yang harus menangkapnya? Selanjutnya (karena tidak setuju) ia tidak lagi mengikuti pertemuan berikutnya, bahkan kemudian pasukannya tidak muncul.

    (3) Sebelum 1 Oktober Latief setidaknya menemui Jenderal Suharto dua kali. Siapa yang menugaskan dirinya? Apa benar dia datang di RS Gatot Subroto bersama Syam yang berada di tempat agak jauh seperti kesaksian Syam?

    (4) Latief sebagai Dan Brigif I Kodam Jaya membawahi tiga batalion tetapi yang ikut bergerak bersamanya cuma dua peleton Detasemen Kompi Markas. Lalu peran apa sebenarnya yang dilakukannya pada 1 Oktober 1965, namanya tidak tercantum dalam daftar Komando Gerakan, tetapi “hanya” sebagai anggota Dewan Revolusi, sedang dari segi pangkat dia nomor dua setelah Brigjen Suparjo. Apa sebab gerakan dipimpin Letkol Untung, kenapa bukan Brigjen Suparjo yang paling tinggi pangkatnya?

    (5) Berbagai macam persiapan (misalnya gerakan dipimpin Letkol Untung yang baru lima bulan berada di pasukan Cakrabirawa/ Jakarta, pasukan yang mengambil bagian dalam gerakan tidak jelas atau terlalu sedikit tidak seperti yang dilaporkan, logistik tidak memadai), dokumen-dokumen G30S tidak menyebut kedudukan BK. Dekrit No.1 menyebutkan, “Dengan jatuhnya segenap kekuasaan Negara ke tangan Dewan Revolusi Indonesia, maka Kabinet Dwikora dengan sendirinya berstatus demisioner”; dalam Keputusan No.2 disebut, “Berhubung segenap kekuasaan dalam Negara RI pada 30 September 1965 diambilalih oleh Gerakan 30 September...” lalu ada penurunan pangkat. Selanjutnya pasukan G30S membunuh tiga orang jenderal di tempat, membunuh sisanya di Pondokgede/Lubang Buaya. Semuanya ini mengarah pada suatu desain agar gerakan itu gagal.

    (6) G30S tidak mempunyai rencana alternatif, tetapi hanya ada satu rencana, itu merupakan permulaan kegagalan dari kacamata militer maupun politik seperti ditulis Jenderal Nasution. Atau ini sebenarnya bagian dari skenario karena G30S memang dirancang untuk gagal?

    Mantan Kolonel Inf Latief tidak pernah menjawabnya sampai maut menjemputnya pada 6 April 2005 di rumahnya di Tangerang. Kontroversi sejarah G30S masih akan panjang. (Dari berbagai sumber dan narasumber).

  • INTERVIEW

    KARENKKOOONG

    >> * INTERVIEW *
    >>
    >> Personalia : "Saya harus berkata jujur, riwayat kerjamu jelek sekali.
    >> Engkau selalu berpindah kerja karena dipecat."
    >> Calon Karyawan: "Ya .... Pak ...."
    >> Personalia : "Tidak ada hal yang positif di dalam riwayat kerjamu."
    >> Calon Karyawan: "Ada Pak ... setidaknya bukan saya yang memutuskan
    >> hubungan kerja."
    >>
    >>
    >> * RATAPAN ANAK TIRI *
    >>
    >> Ada sebuah cerita tentang seorang wanita yang diceraikan suaminya dan
    >> ia dikaruniai seorang anak laki-laki berusia 12 tahun.
    >> Kemudian ia menikah lagi dengan laki-laki lain setelah satu tahun
    >> hidup tanpa suami.
    >>
    >> Bekas suaminya agak cemas tentang keadaan anaknya. Disuatu kunjungan
    >> akhir pekan, bekas suami ini bertanya kepadanya anaknya, "Bagaimana
    >> hubunganmu dengan ayah tirimu? baik?"
    >>
    >> "Luar biasa!," jawab anaknya, "Dia membawa saya berenang setiap pagi,
    >> kami pergi ke sebuah danau. Dia mengayuhkan saya ke tengah danau dan
    >> saya berenang kembali ke tepi danau."
    >>
    >> "Bukankah itu pelajaran renang yang sangat bagus dan bermanfaat untuk
    >> seorang anak seusia kamu?" tanya si ayah.
    >>
    >> "Yaaah, lumayan juga. Hanya saja, bagian yang paling sulit adalah
    >> pada waktu saya harus berusaha berenang sambil keluar dari karung."
    >>
    >>
    >> *SUPIR GOBLOK *
    >>
    >> Ada 2 orang pengusaha yg pengen nyeritain kegoblokan supir-supirnya
    >> masing-masing.
    >> Pengusaha A : "Supir saya tuh paling bego sedunia!!! lu mau liat
    >> buktinya? PARDJONOOOO....siniiii...!!!"
    >> Pardjono : "Ya tuan... ada apa tuan...?"
    >> Pengusaha A : "Ini saya kasih uang Rp.10.000...ntar kamu ke
    >> showroom... beli Mercedes Benz yg A class..."
    >> Pardjono : "Oh...baik tuan..."
    >>
    >> Setelah itu Pardjono pergi meninggalkan ruangan dimana 2 pengusaha
    >> itu sedang ngobrol-ngobrol.
    >>
    >> Pengusaha A : "Gimana ? bego kan supir saya ?!!"
    >> Pengusaha B : " Masih begoan supir saya..... LILIEK!!!! siniiii !!!!"
    >> Liliek : " Ada apa tuan...? Tuan manggil saya...?"
    >> Pengusaha B : " Iya.Tolong donk...kamu ke rumah saya...terus coba
    >> kamu cek apa saya masih ada di rumah?"
    >> Liliek : "Baik tuan...!"
    >> Setelah itu Liliek pergi meninggalkan kedua pengusaha tersebut.
    >>
    >> Pengusaha A : "Hua ha ha ha ha... saya mengaku kalah deh...!"
    >>
    >> Di jalanan... kedua supir itu bertemu..
    >>
    >> Pardjono : "Eh...boss saya bego banget deh...masa saya di kasih uang
    >> Rp. 10.000 buat beli Mercy A-Class.... padahal sekarang kan hari
    >> minggu ya ... show room tutup.. dasar boss saya itu bego banget!"
    >>
    >> Liliek : "Boss saya lebih bego lagi.. masa saya di suruh pergi ke
    >> rumahnya untuk nge-cek dia masih ada di rumah apa nggak...padahal kan
    >> dia punya handphone..tinggal di telpon aja ya kan ....."

  • Aidit dan G30S

    Aidit dan G30S

    Oleh Iwan Gardono Sujatmiko

    Peristiwa G30S yang telah terjadi lebih dari 40 tahun lalu masih menarik dianalisis. Peristiwa tersebut dapat dilihat dari perspektif makro sebagai pembunuhan anggota PKI, penghancuran organisasi PKI, kudeta dan perebutan kekuasaan, revolusi sosial yang gagal, atau ideologi yang gagal.

    Sementara itu, secara mikro atau peran aktor, dikelompokkan menjadi enam pola: PKI dan Biro Khususnya, Klik AD, CIA/AS, Inggris-CIA, Presiden Sukarno, dan tak ada pelaku tunggal (Bayang-Bayang PKI ; ISAI, 1995). Terdapat pula analisis yang menyatakan keterlibatan Soeharto (Wertheim; Latief, Hanafi). Pembahasan berikut akan mengaitkan faktor mikro, khususnya Aidit, dengan strategi PKI dan partai-partai komunis.

    Strategi Komunis dan PKI

    Mayoritas upaya perebutan kekuasaan oleh partai komunis dilakukan dengan kekerasan dan dikategorikan menjadi empat pola (Cyril Black, 1964): "revolusi domestik" (Albania, RRT, Vietnam Utara, Yugoslavia, Rusia; namun gagal antara lain di Jerman dan Hongaria 1919); "revolusi dari luar (negeri)" (Bulgaria, Cekoslowakia, Jerman Timur, Hongaria, Mongolia, Korea Utara, Polandia, Rumania; namun gagal di Polandia/ 1920, Gilan/Iran, Finlandia/1939, Korea Selatan/1950) ; "revolusi dari atas" (Kuba); dan "revolusi melalui pemilu" (Kerala/India, San Marino/Italia, bukan tingkat nasional).

    Selain itu partai komunis juga ikut dalam koalisi di Spanyol, Prancis, Italia, Islandia, Cile, dan Guatemala. Setelah tahun 1964 terdapat beberapa negara yang (sempat) menjadi komunis seperti Afghanistan, Vietnam Selatan, dan Laos (dari luar dan dalam), dan Kamboja (kombinasi atas/Sihanouk dan dari luar/RRT).

    Saat itu PKI menerapkan strategi radikal dari dalam, yang mencakup buruh, tani dan infiltasi tentara (Metode Kombinasi Tiga Bentuk Perjuangan/MKTBP) dan mendapat tantangan dari pihak non-PKI. Upaya melalui pemilu juga terhambat karena ditundanya pemilu. Sementara itu revolusi dari luar agak sulit karena adanya "perang dingin" dan Indonesia terpisah dari negara komunis walaupun ada tawaran bantuan (senjata) dari RRT. Akhirnya, Aidit memilih "konflik elite" atau revolusi dari atas, dengan membonceng Sukarno (Nasakom) setelah mempelajari kasus Kuba dan Aljazair (Olle Tornquist, Dilemmas of Third World Communism: The Destruction of the PKI in Indonesia, 1984).

    Kasus Kuba menunjukkan bagaimana Castro yang awalnya bukan komunis menggunakan partai komunis. Dalam kasus Aljazair, partai komunisnya sebenarnya berkesempatan mengubah kudeta yang progresif (dari atas) menjadi revolusi (dari bawah).

    Peran Aidit

    John Roosa dalam bukunya, Pretext for Mass Murder: The September 30th Movement and Suharto's Coup d'Etat in Indonesia, 2006, menunjukkan bahwa peran Aidit bukan hanya pasif namun sangat dominan. Tesis ini sebenarnya telah dikemukakan dalam Nugroho Notosusanto dan Ismail Saleh; "Buku Putih Orde baru", Tornquist; Brackman; dan pernyataan Sudisman, Subekti, dan Munir di Mahmilub.

    Demikian pula Sukarno dalam pidato "Pelengkap Nawaksara" menyatakan Peristiwa G30S ditimbulkan oleh "keblingeran pimpinan PKI", selain subversi "nekolim" dan "oknum-oknum yang tidak benar". Namun Roosa mendukung tesisnya dengan berbagai sumber yang baru, yakni wawancara dengan "Hasan" (nama samaran pimpinan PKI yang mengetahui Biro Khusus), Iskandar Subekti (sekretaris pribadi Aidit), serta 30 informan termasuk beberapa rekan Aidit serta Syam. Selain itu Roosa menggunakan sumber tertulis yakni "Tiga Faktor Penyebab G30S" oleh A Karim DP (1999); Otobiografi "Hasan" (1998), dan "Dokumen Suparjo" yang menurutnya dapat dipercaya karena telah dicek silang dengan beberapa sumber.

    Dalam buku tersebut Aidit dikatakan pernah membahas kudeta di Aljazair di mana Kolonel Harri Boumediene menggulingkan Presiden Ben Bella pada 19 Juni 1965. Saat itu Aidit menyarankan agar partai komunis Aljazair mendukung kudeta progresif tersebut menjadi revolusi.

    Adanya "Dewan Revolusi" di Aljazair itu bahkan menjadi inspirasi Aidit untuk diterapkan dalam kasus Indonesia. Sebenarnya inspirasi Kuba dan Aljazair itu pernah dibahas secara singkat oleh buku Tornquist (1984) namun tidak menjadi rujukan buku Roosa.

    Dalam buku Roosa, Aidit dan kelompok kecilnya (Sudisman, Oloan Hutapea, Lukman dan Rewang) sangat terlibat dalam rencana gerakan. Dalam pertemuan mereka Aidit menyarankan pembentukan "Dewan Revolusi" sebagai upaya Nasakomisasi yang terdiri dari militer dan tidak mencerminkan PKI. Aidit menyatakan kudeta seperti di Aljazair tidak akan mengubah perimbangan kekuasaan, namun hal itu akan dapat meradikalisasi massa serta meningkatkan tuntutan (buku Tornquist). Dalam rencananya, strategi Aidit tersebut membonceng Sukarno dan akhirnya PKI diharapkan dapat berkuasa.

    Peristiwa G30S

    Berdasarkan berbagai data baru (Roosa) dan sumber lainnya dapat direkronstruksi peran Aidit, strategi PKI, dan partai komunis. Pada awalnya Aidit dan kelompok kecilnya membuat gerakan dari atas untuk melumpuhkan pimpinan AD yang akan diikuti Dewan Revolusi guna Nasakomisasi. Gerakan tersebut bersifat terbatas dan diharapkan seperti "penyulut sumbu" (istilah Suparjo) yang akan menghasilkan "bola salju" berupa Dewan Revolusi.

    Lalu Syam melakukan kontak dengan kelompok militer di Jakarta dan juga mengirim kurir ke daerah. Menjelang G30S, Latief mengontak Soeharto dan menyatakan akan melakukan gerakan sehingga Soeharto dianggap terlibat (Wertheim; Latief, Hanafi). Demikian pula Heru Atmojo mencari informasi mengenai keadaan itu dan bertemu dengan Mayor Sujono dan melaporkan pada pimpinan AURI sehingga mereka juga dianggap terlibat (Atmojo). Selanjutnya terdapat upaya yang mencoba menyatakan Sukarno juga sebenarnya mengetahui gerakan itu (Dake) pada 30 September malam, karena mendapat surat dari Untung melalui Sersan Sogol (Cakrabirawa) . Namun Sogol dan Wakil Komandan Cakrabirawa Saelan membantahnya (Saelan, 2001). Kehadiran Sukarno di Halim memang kebetulan karena Suparjo dan kedua komandan batalyon justru mencarinya di Istana untuk meminta dukungan.

    Setelah gerakan penculikan dan pengumuman di RRI, Suparjo mengadakan kontak dengan Sukarno dan pimpinan AURI untuk memperoleh surat dukungan. Sukarno tidak mendukung gerakan bahkan memintanya menghentikan konflik dan Suparjo diminta pendapat mengenai calon pengganti Achmad Yani.

    Namun, dalam pengumuman berikutnya Dekrit 1 (diketik Iskandar Subekti, buku Roosa dan Atmojo) Aidit dan Syam yang berada di Halim mendemisionerkan kabinet dan Dewan Revolusi menjadi pemegang kekuasaan. Hal itu membuat Sukarno marah ketika di Halim dan pada sidang Kabinet 6 Oktober di Bogor Sukarno membubarkan Dewan Revolusi di daerah-daerah dan perintah itu disiarkan media tanggal 7 Oktober.

    Aidit telah berupaya melakukan terobosan dan "berjudi" untuk merebut kekuasaan ("revolusi dari atas") namun gagal. Kudeta dari atas yang diharapkan akan diikuti revolusi dari bawah justru gagal dan hal itu akhirnya menggagalkan juga upaya revolusi dari bawah.

    Keadaan itu menjadi peluang emas bagi non-PKI yang bereaksi untuk menghancurkan PKI yang telah memulai aksi "senam revolusi". Strategi revolusi PKI yakni "polarisasi- kontradiksi- negasi" untuk menang total akhirnya berubah menjadi kalah total.

    Penulis adalah sosiolog FISIP-UI, Depok

    Last modified: 29/9/07

  • Pengkhianatan G-30-S/PKI!

    H.Bambang Eka Wijaya:

    "JUTAAN buku sejarah sekolah lanjutan dimusnahkan Kejaksaan Agung di seantero Tanah Air! Pasalnya, di dalamnya peristiwa pengkhianatan G-30-S tanpa menyebutkan PKI--Partai Komunis Indonesia--sebagai pelakunya!" ujar Umar. "Padahal, dalam setiap proses sejarah, pelaku atau aktornya merupakan faktor sentral!"

    "Di sisi lain, justru mengalir deras dorongan untuk mengungkap pembantaian terhadap jutaan anggota PKI dan organisasi-organisa si mantelnya!" sambut Amir. "Terkesan kuat usaha mendiskredit penguasa zaman itu dan pendukungnya telah melakukan holocaust!"

    "Pokoknya sejarah mau dibuat seperti balon!" tukas Umar. "Satu pihak memencet satu sisi untuk menggelembungkan sisi yang lain, pihak lain memencet sisi sebelah pula untuk menggelembungkan sisi lainnya!"

    "Kecenderungan seperti itu tak boleh terjadi karena dengan demikian sejarah hanya akan menjadi produk manipulasi demi kepentingan pihak-pihak tertentu saja! Sekaligus, sejarah akan kehilangan makna esensialnya, yakni kebenaran!" timpal Amir. "Sebab itu, perlu kesepakatan baru untuk menulis sejarah secara benar dan komprehensif dari semua sisinya! Hanya dengan demikian, generasi muda penerus bangsa ini bisa mempelajari sejarah secara benar, sehingga bisa menarik pelajaran agar peristiwa serupa tak terulang!"

    "Dengan pengkhianatan G-30-S/PKI itu ditulis secara benar, generasi muda akan dapat mengetahui betapa buruknya partai politik yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan seperti PKI!" tegas Umar. "Sebaliknya, jika ditulis secara benar pula, pembantaian terhadap anggota PKI itu bisa membuat generasi muda mawas diri bahwa hanya mengumbar nafsu membalas dendam manusia bisa lebih buas dari binatang!"

    "Itu menunjukkan sejarah yang benar sarat nilai yang jika dalam proses belajar mendapat pengarahan berorientasi pada keluhuran budi manusia, akan bisa membentuk kepribadian manusia makin beradab!" sambut Amir. "Nilai-nilai sejarah juga menjadi cermin bagi generasi penerus untuk melihat dirinya agar mengetahui kelemahan historis warga masyarakatnya, guna memperkokoh tekad untuk menjadi manusia yang lebih baik!"

    "Hanya kebenaran yang bisa memunculkan penilaian tentang baik dan buruk sebagai modal untuk bersikap benar menurut ajaran etika-moral! " tegas Umar. "Tanpa kebenaran sejarah, orang bisa terperosok mengagung-agungkan yang sesungguhnya salah! Jika itu terjadi, kesalahan masa lalu akan terus berlanjut, sehingga mencapai suatu posisi point of no return dalam kesalahan! Ini bisa menjerumuskan bangsa dalam kondisi serbasalah, tak mudah mencari ujung-pangkalnya untuk keluar dari situasi serbarunyam! "

    "Hal itu bisa terjadi karena beralas sejarah yang dimanipulasi, penjahat besar malah tampil sebagai pahlawan yang dipuja-puji, sedang pahlawan sesungguhnya malah tergilas!" timpal Amir. "Pengkhianatan G-30-S/PKI harus dipelajari secara komprehensif betapa buruk kejadian dan akibatnya, telah menjadi noktah hitam berkepanjangan dalam kehidupan bernegara-bangsa! "
    __._,_.___

    Penculik Jenderal2 itu Bukan Tentara Indonesia !!!

    Kejadian G30S itu memang sudah lama, tapi point2 yang sangat penting
    tak mungkin terlupakan meskipun oleh tokoh2 penting yang tahu kejadian
    ini sengaja tidak diungkapkan.

    Omar Dhani sudah dengan jelas menyatakan, bahwa G30S PKI tidak terkait
    dengan Suharto, tidak juga terkait dengan Aidit, tidak terkait dengan
    Bung Karno, karena designernya adalah BUKAN ORANG INDONESIA.

    Kalo saja anda mau lebih cermat mendalami pernyataan Omar Dhani,
    sebenarnya cukup jelas, pelaku2 penculikan jendral2 itu bukanlah
    warganegara Indonesia meskipun mereka adalah orang Indonesia. Mereka
    bukan TNI, bukan ABRI, dengan kata lain, mereka adalah tentara asing
    bukan warganegara Indonesia meskipun semuanya kelahiran Indonesia.

    Satu hal yang bisa membuktikan pernyataan saya bahwa penculik
    jenderal2 ini bukan tentara Indonesia adalah, bahwa TIDAK ADA SATUPUN
    TENTARA INDONESIA YANG TER-RENDAH PANGKATNYA SEKALIPUN YANG TIDAK
    MENGENAL JENDERAL ABDUL HARIS NASUTION.

    Dari hal ini sebenarnya gampang sekali mengungkapkan bahwa penculik
    jenderal2 itu tidak mengenal wajah Jenderal Abdul Haris Nasution. Pak
    Nasution ini adalah satu2nya jenderal yang lolos dari penculikan,
    namun anaknya Ade Irma Nasution jadi korban mati, dan menurut berbagai
    analisis2 orang2 Indonesia yang begug itu adalah bahwa Kapten Piere
    Tendean yang wajahnya mirip pak Nas telah menyebabkan para penculik
    salah menyangka, dikiranya Kapten P.Tendean itu aalah pak Nas.

    Tentu saja analisis ini sangatlah bodoh, karena, wajah Kapten
    P.Tendean jauh berbeda dan sama sekali tidak mirip dengan wajah pak
    Nas. Yang sangat menarik adalah, bahwa pak Nas sendiri dalam
    kesaksiannya menyatakan bahwa dia telah berhadapan dengan para
    penculiknya itu sendiri, namun mereka tidak mengenal pak Nas. Aneh
    bukan ???

    Silahkan kalo masih ada yang mau komentar menyangkal kenyataan2 ini.

  • Cuma Ada 3 Orang Yang Tahu Siapa Designer G30S PKI !!!

    Cuma Ada 3 Orang Yang Tahu Siapa Designer G30S PKI !!!

    Di Indonesia cuma ada 3 orang saja yang tahu pasti siapa dalang atau
    designer dari G30S PKI ini.

    Orang Pertama adalah Sukarno,
    Orang Kedua adalah Omar Dhani,
    Dan orang Ketiga adalah Suharto !!!

    Dari urut2an ketiga orang diatas yang tahu pasti siapa designer G30S
    PKI, maka yang paling rendah pengetahuannya justru Suharto !!!
    Suharto hanyalah diperintahkan begini dan begitu saja oleh sang
    designernya yang tentunya juga melalui perantara tertentu dalam
    memerintahkan ke Suharto.

    Suharto cuma planga plongo tak mengerti karena dia cuma pion yang
    paling kecil saja peranannya yaitu mengambil alih peran Sukarno.

    Setelah kejadian G30S PKI terjadi, ada tujuh jenderal yang jadi
    pager-nya Bung Karno ambruk cuma dalam beberapa jam saja. Ketujuh
    jenderal ini dieksekusi di Lubang Buaya, dan ternyata Bung Karno dan
    Omar Dhani juga ada di Lubang Buaya pada saat pembunuhan ketujuh
    jenderal itu terjadi.

    Sukarno, Omar Dhani, dan Suharto bungkem seribu bahasa sehingga G30S
    PKI se-olah2 menjadi mysteri, se-olah2 menjadi kejadian yang perlu
    diselidiki. Kolonel Latif tidak dihukum mati oleh Suharto, kenapa???
    Jawabnya sederhana, karena kolonel Latif memang sama sekali tidak
    tahu apaun juga, dan Suharto tahu kalo Kolonel Latif tidak tahu, dan
    juga tahu kalo Kolonel Latif salah memahami perintah pak Harto, itulah
    sebabnya dia dihukum saja tanpa perlu dihukum mati.

    Designer G30S PKI itu cuma satu orang, namanya Marshal Green, dia
    mendesign plot G30S PKI ini hanyalah dalam 3 bulan saja. Jadi kalo
    anda mau tahu bagaimana kejadian yang sebenarnya, anda seharusnya
    mempelajari kejadian di VietNam, bagaimana Ngo Dinh Dhiem dibunuh mati
    oleh jenderal yang paling dia percaya, bahkan jenderal ini dia sendiri
    yang mengangkatnya, dan dia tahu kesetiaannya, sama halnya Suharto
    tahu kesetiaan Kolonel Latif kepada atasannya. Tapi, design G30S PKI
    ini tidaklah serumit di vietnam, G30S pki hanyalah sandiwara yang
    sangat sederhana yang sama sekali kecil resikonya untuk gagal, bahkan
    keberhasilannya boleh dikatakan 100% dijamin Sukarno pasti jatuh.
    Sukarno juga paham, Omar Dhani juga paham, tapi Suharto hanya sedikit
    sekali pemahamannya, karena Suharto pemegang peran yang paling kecil.

    Komplotan G30S PKI ini bukan cuma berhasil menculik 7 jenderal, tapi
    juga Sukarno juga berhasil diculiknya, bahkan kemungkinan besar,
    Sukarno sendiri menyaksikan pembunuhan beberapa jenderalnya didepan
    matanya sendiri segagai gertakan atau ancaman kalo menolak
    mengundurkan diri nanti dalam waktu yang akan ditentukan kemudian,
    demikian kemudian Sukarno sengaja dilepaskan dimana Omar Dhani
    dipanggil untuk menjemputnya untuk sementara menginap di Lubang Buaya.

    Ny. Muslim binti Muskitawati.

  • Taliban: 'We will not negotiate'

    Taliban: 'We will not negotiate'

    KABUL, Afghanistan (AP) -- President Hamid Karzai's office said Sunday that there is "serious debate" among some Taliban fighters about laying down arms, while a spokesman for the militants said they will "never" negotiate with Afghan authorities until foreign troops leave.
    art.gif

    An Afghan soldier guards the site of a suicide bus blast in Kabul Saturday, as others collect evidence.

    Clashes and airstrikes, meanwhile, killed 16 people, capping a week that saw more than 270 people die in insurgency-related violence.

    Karzai said Saturday he would be willing to meet personally with Taliban leader Mullah Omar and give militants a position in government in exchange for peace. Karzai spokesman Humayun Hamidzada on Sunday stressed that the militants would have to accept Afghanistan' s constitution.

    But Taliban spokesman Qari Yousef Ahmadi repeated a position he announced earlier this month, saying there would be no negotiations until U.S. and NATO troops withdraw from Afghanistan.

    "The Taliban will never negotiate with the Afghan government in the presence of foreign forces," Ahmadi told The Associated Press. "Even if Karzai gives up his presidency, it's not possible that Mullah Omar would agree to negotiations. "

    But Karzai's spokesman said the government has information of a "serious debate" in some groups of Taliban about how long militants want to continue fighting. The U.N. and NATO have also said they see similar indications.

    "They want to live in peace and have a comfortable life with their families," Hamidzada said. "There is serious debate within their ranks, but this is a process that takes time."

    Karzai traveled to the U.N. General Assembly in New York last week, and Hamidzada said that the U.N. secretary-general and the foreign ministers of many countries, "everyone with one voice said we need a comprehensive strategy in dealing with the Taliban -- both military and diplomatic components."

    He said Karzai and President Bush also spoke generally about the Taliban reconciliation process and said Bush also supports such initiatives. It was not clear if that would include broader Taliban peace talks beyond the individual reconciliation process that has seen more than 4,500 fighters lay down their arms the last two years.

    Karzai's latest peace overture came as insurgency-related violence continued to climb. Thirty people were killed in a suicide bomb attack on a military bus Saturday in Kabul. Video Watch soldiers secure area around bombed-out bus »

    More than 270 have died in violence since last Sunday -- 180 of them militants, according to an Associated Press tally of figures from Afghan and Western officials.

    In the latest violence, insurgents ambushed a convoy of foreign troops in eastern Paktia province on Saturday. After a brief gunbattle, airstrikes were called in that killed 11 militants, a provincial police official said Sunday on condition of anonymity because he was unauthorized to speak publicly.

    The U.S. coalition said it was not involved in the battle, and NATO was looking into the report.

    Another battle in Paktia between police and militants on Saturday left one suspected insurgent dead, the police official said.

    In neighboring Ghazni province, coalition forces fought with insurgents, killing two Taliban on Saturday in Andar district, said deputy provincial police chief Mohammad Zaman.

    Police in Kandahar city discovered a landmine that exploded while they were trying to defuse it, killing two police, said Kandahar deputy provincial police chief Abdul Hakim Hungar.

    Military officials said they expected a spike in violence during the Muslim holy month of Ramadan based on an increase in attacks last year during the same period.

    The death toll this week includes more than 165 militants killed during two battles between the Taliban and joint Afghan-coalition forces, and the 30 soldiers and civilians killed in the Kabul suicide bombing.

    Militant attacks and military operations have killed more than 4,600 people so far this year, most of them insurgents, according to the AP count. E-mail to a friend E-mail to a friend

    Indonesia Gagal Jadi Dewan ICAO

    TEMPO Interaktif, Jakarta: Indonesia gagal menjadi anggota Dewan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (International Civil Aviation Organization/ ICAO) dalam sidang ICAO di Montreal, Kanada, pada 25 September lalu.

    Akibatnya, kesempatan Indonesia untuk memperjuangkan kepentingan strategis pun kandas. Dampak terbesar dari kegagalan ini adalah peluang Indonesia untuk ikut andil dalam menentukan kebijakan-kebijakan ICAO tertutup. "Contohnya seperti teritorial," kata Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal Sabtu pekan lalu dalam Apel Inspeksi Mendadak Angkutan Lebaran di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

    Pengamat penerbangan Kamis Martono menilai Indonesia tak siap sehingga kalah suara. "Ini kekalahan ketiga berturut-turut, " ujar dosen Sekolah Tinggi Manajemen Penerbangan Universitas Trisakti ini kemarin.

    Ketua Kaukus Penerbangan di parlemen Alvin Lie berpendapat, kekalahan ini berdampak langsung kepada psikologis penerbangan Indonesia. Kegagalan ini tak lepas dari sejarah penerbangan Indonesia yang buruk. "Saya menyayangkan karena negara besar seperti Indonesia kalah dari Singapura."

    Menurut Jusman, ketua delegasi kala itu, kegagalan Indonesia lebih karena minim lobi terhadap negara-negara anggota ICAO. Padahal, kondisi industri penerbangan di Tanah Air tengah menjadi sorotan publik internasional.

    Dari 170 negara-negara anggota ICAO, sebanyak 36 negara di antaranya duduk di dewan. Ada tiga kategori pengurus (konsul), yakni Kategori I (berdasarkan jumlah angkutan penerbangan terbanyak), Kategori II (negara yang mempunyai fasilitas navigasi internasional) , dan Kategori III (negara yang mempunyai keunggulan luas wilayah udara).

    Jusman menuturkan, semula Indonesia mengajukan diri menjadi anggota dewan Kategori III. Sekitar 17 negara memperebutkan anggota konsul Kategori III, padahal kursi yang tersedia hanya 13. Negara-negara yang terpilih, Kamerun, Republik Dominika, Ekuador, El Savador, Ghana, Malaysia, Namibia, Korea Selatan, Rumania, Tunisia, Uganda, Uni Emirat Arab, dan Uruguay.

    Namun, ia berpendapat, kegagalan ini tak membuat Indonesia kehilangan hak suara. Dalam sidang ICAO, delegasi Indonesia mengusulkan agar organisasi itu menetapkan standar yang jelas mengenai pelarangan terbang internasional. "Sambutannya cukup baik."

    Suharto & Sukarno Dipaksa Turun Dengan Cara Yang Sama

    Salah kalo anda masih menganggap G30S itu masih merupakan misteri
    karena dokument2 CIA sekarang sudah bebas untuk diakses yang dengan
    jelas menerangkan bagaimana CIA mendesign kejadian ini.

    Kalo anda mau tahu misteri yang anda tidak tahu, cukup kalo anda bisa
    menemukan siapa yang telah memaksa Presiden Suharto turun tahta.

    Apakah Suharto itu turun dengan kemauan sendiri? pasti tidak, dia
    justru kepingin jadi presiden lagi, dan dia mengundurkan diri justru
    setelah memenangkan pemilu dan sudah diangkat jadi presiden lagi. Dia
    tidak rela untuk turun, namun terpaksa karena dipaksa. Namun tak
    pernah ada yang menganalisanya siapa yang memaksanya turun. Suharto
    bukan turun karena demo mahasiswa, dan juga Sukarno bukan turun karena
    demo mahasiswa.

    ABRI solid mendukung Bung Karno, sama solidnya ABRI mendukung Suharto.
    Kalo posisi Sukarno dan Suharto begitu kuatnya dalam negeri, maka
    siapakah adanya orang Indonesia yang mampu memaksa kedua orang ini
    mundur? Jawabannya sama, CIA !!!

  • Tips Mudik Aman dan Nyaman

    Tips Mudik Aman dan Nyaman
    :oops:
    Lebaran sudah diambang pintu, saatnya merayakan kemenangan setelah sebulan lamanya berpuasa menahan segala lapar dan nafsu, saatnya saling memaafkan atas segala dosa yang diperbuat dan saatnya mudik ke kampung halaman. Mudik atau pulang kampung bukan suatu beban berat bagi yang kebetulan kampung halamannya bisa ditempuh dalam hitungan jam, namun bagi yang harus menempuh perjalanan seharian atau bahkan berhari-hari apalagi dengan membawa kendaraan pribadi, acara mudik harus dipersiapkan benar-benar, terutama kondisi fisik. Hal ini untuk menciptakan rasa aman dan nyaman selama perjalanan.:DD

    Yang tak kalah pentingnya adalah kondisi kendaraan, pastikan jauh-jauh hari bahwa kendaraan yang akan dipakai sudah siap 'tempur'. Berikut tips mudik bagi anda yang hendak bersilahturahmi kepada keluarga di kampung halaman :

    Meninggalkan Milis

    Bagi anda yang aktif bergabung dengan sebuah milis, pastikan anda merubah message delivery sehingga anda tidak mengalami kelebihan kapasitas yang berpotensi membuat anda kena bounching.

    Untuk perubahan ini mudah saja, anda tinggal mengirim email kepada moderator untuk permohonan berhenti dari milis atau menerima diggest (rangkuman email perhari).

    Kondisi Tubuh

    Pastikan bahwa sebelum mudik anda dan keluarga berada dalam kondisi yang fit. Terutama bagi driver

    Kondisi Mobil dan Perlengkapan Mobil

    Sebelum dipakai 'bertempur' alias mudik, periksakan kondisi kendaraan anda di bengkel langganan ((tune-up komplit, rem, ban, wiper, radiator, tali kipas/AC, aki, dll). Dan jangan lupa membawa perlengkapan alat-alat mobil (tools kit), dongkrak, tali derek, ban serep, kotak P3K, segitiga pengaman, kunci roda palang, senter,dll.

    Bawa Air Mentah

    Bawalah air mentah di dalam jerigen 5 liter atau jika tidak ada jerigen bisa memakai bekas botol air mineral besar (1 literan) untuk mengisi radiator bila kurang. Ar juga bisa untuk mencuci tangan bila selesai ganti ban kalau bocor atau kempes. Tak ada salahnya ada juga membawa sabun. Air ini juga berguna bila bawa anak kecil/bayi tiba-tiba 'pup' saat kita tengah berada di daerah yang sulit air (misalnya: sawah, hutan)

    Bekal Makanan

    Pastikan anda membawa bekal makanan yang praktis dan bisa dimakan sambil terus berkendara. Saat mudik disarankan untuk tidak asal makan di restoran/rumah makan tempat pemberhentian Bus Antar Kota karena di saat-saat seperti itu dikhawatirkan cara masak dan mencuci piringnya kurang bersih karena pengunjung sangat padat dan banyak yang harus dilayani.

    Lebih terjamin bila anda membawa makanan sendiri. Tapi kalau bekal habis anda bisa masuk ke dalam kota dimana anda lewat untuk mencari restoran fast food fried chiken. Yang pasti anak-anak suka dan lebih baik kebersihannya.

    Packing Barang/ Muatan Dengan Benar

    Urutkan barang/ muatan berdasarkan tingkat kebutuhan. Yang memiliki kemungkinan sangat besar dibutuhkan saat dalam perjalanan diletakkan di tempat atau posisi yang paling mudah dikeluarkan. Supaya tidak perlu bongkar muat tiap kali butuh sesuatu.

    Kebelet Pipis

    Ini adalah masalah rutin para pemudik. Untuk anak-anak dan laki-laki sih hal ini bukan masalah besar, tinggal berhenti saja di pinggir jalan dan beres deh. Tapi untuk para wanita ini bukanlah hal yang mudah. Untuk mengatasinya carilah pompa bensin yang besar pasti ada toiletnya yang cukup bersih, bila kotor, cari lagi berjalan beberapa kilometer. Atau anda bisa juga mencari Wartel, Kantor Polisi, Pusat Pertokoan, Losmen, Hotel, Masjid, dll.

    Raja Setan Jalanan

    Yang harus diingat adalah jika kita berkendara dengan mobil pribadi di Jalur Pantura adalah siap mengalah dengan Bus Antar Kota/Propinsi, mereka ini "Raja Setan Jalanan Pantura". Jangan coba-coba adu balap meski kita ada di jalur yang benar. Bila dari arah berlawanan tiba-tiba ada Bus yang melancangi truk gandeng yang berjalan lamban, Anda harus siap mengurangi kecepatan dan minggir ke kiri.

    Bahkan bila perlu turun/keluar dari jalan aspal. Jangan ambil resiko, lebih baik mengalah. Bukankah Anda dan keluarga ingin tiba di kampung halaman dengan selamat?

    Si Keong dan Si Kura-Kura

    Lain bus lain lagi truk gandeng maupun truk engkel. Kalau truk-truk ini dikenalnya sebagai si Keong atau si Kura-Kura karena begitu lamban jalannya. Bagi mereka yang sering lewat Pantura pasti tahu betapa menjengkelkannya kendaran ini. Sudah jalnnya lambat, mereka 'ngotot' berjalan di jalur kanan pula.

    Jika bertemu dengan tru jenis ini kita harus ekstra sabar dan hati-hati, cobalah menyalip dari sebelah kiri. Minta co-driver melihat ke depan apakah lajur depan sebelah kiri kosong dan aman untuk menyalip atau tidak? Yang perlu diperhatikan adalah apakah di kiri depan ada motor,becak, sepeda, mobil mogok/parkir, lobang, jembatan sempit, dll.

    Bila aman tak ada halangan menyaliplah "dari jalur kiri" dengan tetap waspada, apalagi kalau yang disalip itu konvoi truk yang panjang.

    Bawa Peta Jalur Mudik

    Jangan lupa membawa peta jalur mudik, karena ini sangat penting dan berguna. Hendaknya pilihlah peta yang memuat jalur-jalur alternatif secara detail, ini penting sekali apabila terjadi kemacetan di suatu titik. Dan jangan lupa peta tersebut dilengkapi dengan nomor-nomor telepon penting, info tol sepanjang Pulau Jawa, dll.

    Bawa HP & Chargernya

    Sebaiknya sebelum berangkat charge HP anda sampai penuh. Untuk daerah/area tertentu yang Anda lewati akan terjadi "blank spot" untuk kartu tertentu, lebih baik jika salah satu anggota keluarga punya HP dengan kartu yang berbeda. Jadi bila terjadi blankspot masih bisa pakai HP satunya lagi.

    Memonitor Milis

    Bila ada kesempatan, sekali-kali monitorlah milis yang anda ikuti, siapa tahu ada teman yang sedang on-line. Bagi yang tidak punya laptop, tidak perlu berkecil hati, anda tinggal mencari warnet saja bukan?

    Obat-Obatan

    Bawa obat-obatan yang biasa digunakan, jangan lupa itu! Terutama untuk anak-anak.

    Waktu Berangkat

    Jika anda berangkat pagi jam 06.00: Bisa lihat pemandangan, restoran dan bengkel mobil pasti buka, bila mobil tua dan AC kurang bagus anak- anak kasihan akan tersiksa karena panas apalagi kalau macet, sepanjang jalan yang dilewati kita akan ketemu pasar tradisional di kota kecamatan/kabupaten yang pasti macet, banyak orang menyeberang, becak, sepeda, ojek, dll, ketemu dengan "Panitia" Pembangunan Masjid yang minta sumbangan.

    Harap hati-hati dengan drum yang ditaruh di tengah-tengah jalan, jangan sampai ngebut melewati mereka. Bagi anda yang berkacamata minus sebaiknya jalan pagi saja.

    Berangkat sore/malam jam 17.00: Tidak bisa lihat pemandangan, hanya restoran dan bengkel 24 jam saja yang buka, anak-anak bisa tidur tidak ribut, tidak panas baik di dalam mobil maupun di luar, tidak ada pasar tradisional, tidak ada Panitia Pembangunan Masjid. Bila kita mau menyalip di tikungan akan kelihatan dari sinar lampu mobil dari arah berlawanan. Hanya saja kita harus ekstra hati-hati dan jangan sampai mengantuk.

    Berikan no. HP dan telepon di kampung halaman ke tetangga atau RT

    Ini dimaksutkan agar Anda bisa dihubungi kalau terjadi sesuatu di rumah Anda.

    Arus Balik dan Pulang Balik

    Harap simpan tenaga dan tetap jaga kesehatan untuk siap pulang balik setelah mudik. Jangan pulang balik di pas mepet sekali besoknya harus sudah masuk kantor dan anak-anak masuk sekolah, pasti kelelahan kan? Ada baiknya ambil waktu sehari istirahat sebelum besoknya melakukan aktifitas rutin.

    Uang Tunai

    Bawa uang tunai secukupnya, tak perlu bawa banyak-banyak, toh ATM banyak sekali dijumpai di daerah.

    Bawa Kaset/CD

    Bawalah kaset/CD yang menjadi favorit Anda, agar suasana tidak jenuh, bosan dan sekaligus membawa suasana gembira.

    Stiker

    Tempelkan stiker favorit Anda atau tanda pengenal komunitas tertentu di kaca belakang mobil /spatboard kendaraan Anda. Siapa tahu nanti di perjalanan Anda berjumpa dengan teman baru?

    Catatlah nomor telepon penting

    Dengan mengantoingi nomor telpon polisi, Jasa Marga, Info jalan tol akan sangat membantu saat anda mengalami masalah dalam perjalanan.

    Mintalah lembar informasi kepada bengkel ATPM

    Pastikan anda meminta yang sesuai merk kendaraan, anda bisa juga meminta pada Jasa Marga, biasanya mereka membuat semacam leaflet yang dibagikan secara gratis yang berisi info mudik seperti daftar posko bengkel jaga beserta nomor teleponnya, rute mudik rawan macet, restoran, SPBU, ATM di sepanjang rute perjalanan mudik.

    Frekwensi radio

    Ini akan membantu memberikan informasi mudik di sepanjang rute perjalanan Anda. Anda bisa juga mendengarkan radio untuk mendapatkan info yang Anda inginkan.

    Setelah semua hal diatas anda siapkan dengan cermat, jangan lupa untuk selalu BERDOA sebelum memulai perjalanan. Selamat mudik, semoga selamat sampai tempat tujuan.

    Sumber: http://www.republika.com

  • Kita Ini Bangsa Yang Besar

    Kita Ini Bangsa Yang Besar – Bisakah Kita Menjadi Pribadi Yang Besar Juga?>:XX

    :>>
    Kita mengklaim Indonesia sebagai negara yang sangat besar. Dengan jumlah pulau yang bisa mencapai 18,000 buah, dan populasi sekitar 226 juta jiwa; tidak ada yang meragukan kalau bangsa ini memang benar-benar bangsa yang besar. Tetapi sebagai individu, bisakah kita juga menjadi ‘besar’? Jika ada seloroh ‘how low can you go?’; maka sekarang pertanyaan itu menjadi ‘How big can we be?’ Kita ini bisa sebesar apa? Ironis juga jika kita tinggal disebuah negara yang begitu besar, tetapi sebagai penduduk dan warga negaranya kita hanya bisa menjadi pribadi-pribadi yang kerdil. Kerdil bukan dari perspektif postur tubuh; melainkan dari nilai dan kualitas kepribadian kita. Ironis bukan hanya karena kita seolah tidak bisa mewakili kebesaran bangsa ini; melainkan juga karena kita tidak berhasil mengoptimalkan seluruh potensi diri kita yang sudah pasti nilainya sangat tinggi itu. Tetapi, apakah memang seharusnya kita menjadi pribadi-pribadi yang besar?

    Sebentar dulu; sebenarnya seberapa besar sih Indonesia ini? Kita tahu itu besar; tapi ‘sebesar’ apa? Gampang; kita bandingkan saja negara ini dengan negara lain yang kita anggap besar. Sekarang coba tentukan dulu sebuah negara yang anda anggap besar. Sebut saja nama negaranya dalam hati. Apakah Amerika Serikat masuk kedalam daftar negara yang anda anggap besar? Baiklah, jika Amerika anda anggap besar; mari kita membuat perbandingan sederhana. Caranya; ambil peta negara Indonesia. Dan ambil juga peta Amerika dalam skala yang sama. Lalu, dengan bantuan komputer letakkan peta Indonesia anda tepat diatas peta Amerika. Jika ujung paling barat Indonesia itu dipadukan dengan daerah sekitar Colorado River diujung daratan Amerika, maka ujung timurnya akan melebihi batas daratan Amerika di sekitar Manhattan Island. Bagian selatan menyentuh Houston hinggá keutara melampaui Chicago bahkan nyaris menyentuh Toronto. Siapa yang tidak kenal kebesaran nama Amerika? Nah, kira-kira sebesar itulah negara kita itu loh…..

    Pertanyaannya sekarang adalah; jika sebagai negara kita ini sebesar Amerika; apakah sebagai individu kita juga bisa sebesar orang-orang Amerika? Memang, jika yang menjadi tolak ukurnya adalah pendapatan perkapita, tentu kita tidak ada apa-apanya. Kita hanya bisa meraup sekitar $1,400 setahun jika dibandingkan dengan pendapatan perkapita orang Amerika yang lebih dari $40,000. Tetapi, tentu kebesaran seorang individu tidak bisa semata-mata diukur dengan nilai pendapatannya. Lagi pula, negara-negara maju lainnya pun pendapatan perkapitanya tidak sebesar itu. Kebesaran individu lebih dalam konteks kualitas diri yang dimilikinya. Oleh karenanya, pertanyaan kita tadi bisa dibuat lebih spesifik lagi; bisakah kualitas diri kita menyamai kualitas orang Amerika? Jika kita pelajar, misalnya; bisakah kualitas pelajaran atau daya nalar kita setara dengan pelajar Amerika? Jika kita seorang pekerja; bisakah kualitas pekerjaan kita sebanding dengan bule-bule Amerika? Dalam konteks itu; kita tidak boleh kalah dengan mereka. Serius.

    Mengapa? Karena pada dasarnya Tuhan pasti memberi kita kemampuan yang tidak lebih rendah dari orang lainnya; terutama menyangkut kemampuan dasar untuk menjadi manusia yang bermartabat. Memang, seseorang bisa unggul dalam bidang eksakta, misalnya. Sedangkan orang lainnya lebih unggul dalam bidang sosial. Perbedaan itu hanyalah bersifat sektoral keahlian saja. Sengaja Tuhan buat begitu supaya manusia bisa saling mengisi dan melengkapi satu sama lain. Karena peradaban umat manusia tidak mungkin bisa dibangun hanya dari aspek matematika dan fisika saja. Oleh karenanya, jika setiap orang yang mempunyai kekurangan dan kelebihan berbeda-beda itu bisa benar-benar mengoptimalkan potensi dirinya; maka semua manusia akan sama tinggi martabatnya.

    Salah satu penyebab utama; mengapa seseorang direndahkan oleh orang lain adalah karena orang ini dianggap tidak kompeten. Mengapa ada orang-orang yang tidak kompeten? Karena mereka tidak berhasil mengoptimalkan potensi dirinya. Sebab, jika dia mampu mengoptimalkannya; tidak mungkin dia tidak kompeten. Pasti dia kompeten. Ngomong-ngomong, pernahkah anda menemukan orang yang kompeten dalam bidang tertentu tapi dia dilecehkan? Tidak pernah, bukan? Setiap orang yang kompeten, pasti dihargai tinggi. Jadi, supaya kita mendapatkan martabat yang tinggi sebenarnya cukup sederhana; yaitu memiliki kompetensi yang baik. Itu saja? Belum. Itu baru setengahnya. Yang setengah lainnya apa? Perilaku yang baik. Pendek kata; jika kita benar-benar ingin menjadi orang bermartabat; ada dua hal yang perlu kita miliki; pertama kompetensi tinggi dan kedua, perilaku yang baik.

    Bisakah kita memiliki kompetensi tinggi? Bisa, sejauh kita mampu mengoptimalkan potensi diri kita. Bisakah kita miliki perilaku yang baik? Bisa. Jika kita memang menghendakinya demikian. Tidak ada manusia yang diciptakan sempurna. Pasti ada kekurangannya. Tapi, pasti juga ada kelebihannya. Tidak ada manusia yang dilahirkan dengan hanya sifat buruk. Pasti ada sisi positif yang dibawanya ketika dia dilahirkan. Kita sendirilah yang memilih apakah hendak mengoptimalkan potensi diri yang telah Tuhan anugerahkan atau tidak. Dan kita sendirilah yang menentukan untuk memilih baik atau buruknya perilaku kita.

    Tetapi, jika kita memilih untuk mengabaikan potensi diri yang ada, maka ironis sekali. Karena, kebesaran bangsa yang tidak diragukan lagi ini. Kekayaan alam yang tidak ada tandingannya ini, sama sekali tidak akan memberikan manfaat apapun kepada kita. Jika kita memilihnya demikian, maka bersiap-siaplah. Kita akan menyaksikan orang-orang asing semakin rakus mengeksploitasi kekayaan alam kita. Sampai terkuras habis. Sehabis-habisnya. Sementara kita hanya bisa menjadi kuli kasar bagi mereka. Tukang angkut. Tukang gali. Tukang sapu. Tukang disuruh-suruh. Tukang apa aja dalam posisi kepegawaian yang paling rendah. Dan tentu saja mendapat upah sekedarnya. Yang untuk sekedar hidup layak saja belum tentu cukup. Dan ketika sumber daya alam kita sudah habis, jadilah kita manusia-manusia kalah yang terbuang dalam kubangan-kubangan sisa galian pertambangan. Terjerumus kedalam lubang-lubang sumur bekas pengeboran. Dan tersesat ditengah-tengah hutan gundul yang tidak lagi berpohon, dan berdedaunan. Tanpa daya. Tanpa pula harga diri yang layak untuk dibanggakan. Kita. Tidak mau. Seperti itu. Bukan?

    Hore,
    Hari Baru!

    Catatan Kaki:
    Sebuah bangsa hanya akan benar-benar besar jika individu-individu yang menjadi warga negaranya adalah orang-orang yang berkompetensi tinggi dan berperilaku agung. (Tidak terdengar seperti kata-kata mutiara, kan?)

  • FPI ngeri menghadapi orang Dayak

    :>>
    Sungguh-sungguh terjadi: FPI ngeri menghadapi orang Dayak:DD

    Di Pulau Jawa, semua orang takut dengan ulah FPI. Saat FPI menjalankan aksinya, tak ada yang berani melawan. Beda dengan warga Dayak di Kalimantan. Mereka berhasil menggencet ulah FPI.:yawn:

    Berita dari Tribun Kaltim, www.tribunkaltim. co.id
    FPI dan Warga Dayak Berdamai88|

    SAMARINDA, TRIBUN- Front Pembela Islam (FPI) akhirnya berdamai dengan
    warga Dayak, pasca- perselisihan saat sweeping FPI Sabtu (29/9) lalu
    di Samarinda.

    Ini disampaikan Kapoltabes Samarinda, Kombespol Marwoto Soeto di
    Samarinda, Selasa (2/10), sesuai hasil kesepakatan mereka. Kedua
    pihak bertemu dan sepakat mengakhiri perselisihan ini, Senin (1/10)
    malam.

    Marwoto mengatakan, FPI berjanji tidak akan melakukan sweeping dengan
    pendekatan seperti yang dilakukan pekan lalu. "Kami kepolisian sudah
    me-warning, kalau mau pawai atau konvoi melaporlah ke polisi supaya
    kami kawal. Kalau melakukan sweeping, sekalipun tidak berbenturan
    dengan masyarakat tetap harus lapor polisi, kan begitu. Tetap kami
    akan proses kalau mereka mukul orang," tandasnya.

    Jika FPI menemukan gejala yang meresahkan masyarakat seperti minuman
    keras dan aksi kriminalitas lainnya, Marwoto berharap, mereka
    melaporkannya secara resmi kepada pihak berwajib.

    Terkait penanahan dua oknum anggota FPI, Marwoto menegaskan, proses
    hukum terus berlanjut. Tapi penangguhan mereka disetujui. Selain itu,
    polisi masih mencari pelaku lain yang diduga terlibat pemukulan di
    Samarinda Seberang.

    Mengenai laporan senjata tajam (sajam), menurut Marwoto, cuma
    mengada-ada. "Itu kan alat mereka. Kalau orang Dayak jaga malam kan
    memang menggunakan itu, " ujarnya.

    Ia berharap kedua pihak menghormati kesepakatan yang sudah dibuat.
    "Jika terjadi perselisihan yang berujung bentrok fisik, polisi tidak
    segan-segan menindak. Siapa saja kalau anarkis dan meresahkan
    masyarakat, kami pasti tindak," tegasnya.

    Sebelumnya Ketua DPD FPI Kaltim, Muhammad Alwi Assegaf, mengatakan FPI
    hanya menggelar konvoi damai untuk menyejukkan bulan puasa. Niat untuk
    melakukan sweeping didasari kondisi Samarinda yang tidak nyaman
    selama Ramadan. (asi)

    KESEPAKATAN

    1.Pihak FPI Samarinda bersedia meminta maaf atas tindakan yang telah
    dilakukan yaitu adanya ucapan atau yel-yel yang menyinggung perasaan
    etnis Dayak

    2. Warga Dayak meminta maaf kepada FPI atas perbuatan yang terjadi
    setelah permasalahan ketersinggungan tersebut.

    3. Penyampaian permohonan maaf FPI kepada Etnis Dayak di media massa,
    diserahkan kepada Poltabes Samarinda untuk menyampaikannya

    4. Terhadap kasus pemukulan yang dilakukan oknum FPI, masing-masing
    pihak sepakat untuk menyerahkan kasus tersebut kepada Poltabes
    Samarinda untuk diproses sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

    5. Masing-masing pihak sepakat untuk meredam permasalahan yang terjadi
    agar tidak berkembang dan terulang lagi.(asi)

    KRONOLOGI PERDAMAIAN

    1 Oktober 2007

    * Pukul 10.00-11.00 - Kapoltabes bertemu Tokoh Adat Dayak di ruangan
    Kapoltabes. Mereka meminta FPI menyampaikan maaf secara terbuka kepada
    warga etnis Dayak.

    * Pukul 14.00-15.00 - Kapoltabes bertemu dengan FPI. FPI meminta
    Poltabes Samarinda memfasilitasi pertemuan FPI dengan tokoh adat
    Dayak.

    * Pukul 20.00-23.00 - pengurus FPI Samarinda dengan perwakilan Tokoh
    Adat Dayak bertemu di ruang rapat Poltabes Samarinda. Wakil dari FPI
    delapan orang sedangkan wakil Adat Dayak 12 orang. Mereka sepakat
    untuk berdamai dan mengakhiri perselisihan

    Sumber: Poltabes Samarinda (asi)

  • Seberapa Jauh Individu Dapat Memberi Warna Kepada Kelompoknya ?

    Seberapa Jauh Individu Dapat Memberi Warna Kepada Kelompoknya ?

    Anda bekerja sendirian? Saya tidak yakin. Sebab, jaman sekarang nyaris tidak ada pekerjaan yang bisa dikerjakan sendirian. Oleh karena itu, suka atau tidak, anda harus bersedia bekerjasama dengan orang lain. Dan seperti kita tahu, dalam kerjasama ada interaksi. Dan dalam interaksi, kita saling mempengaruhi. Perilaku setiap anggota kelompok menentukan corak perilaku kelompok itu. Dan itulah yang kemudian berkembang menjadi identitas kelompok. Dalam konteks ini; saya menemukan sebuah pesan. Oleh penulisnya, pesan itu dikirimkan kepada seluruh anggota team dikantornya diakhir pekan. Mari kita coba lihat, seberapa relevan pesan itu dengan kelompok anda. Begini bunyi pesannya:

    Dear Team,
    Ijinkan saya berbagi pemikiran tentang satu hal untuk kebaikan kita semua.

    Beberapa hari lalu saya mendapatkan ’teguran’ dari atasan kita tentang kedisiplinan team kita terhadap jam kerja. Jika sebelumnya beliau melakukannya secara umum melalui email, atau mungkin memanggil secara perorangan khusus ’orang-orang tertentu’, sekarang sudah dilakukan sebagai input untuk team juga. Ini menunjukkan bahwa beliau tidak melihat perbaikan bermakna; jika kita tidak boleh mengatakannya ’lebih parah’. Jujur saja, saya tidak mengharapkan itu terjadi pada team kita. Itulah kenapa saya berbawel-bawel ria beberapa waktu lalu tentang absensi; jauh-jauh hari sebelum kita harus ditegur atasan.

    Pertama, saya ingin menyampaikan terimakasih kepada teman-teman yang secara konsisten telah berdisiplin mengenai jam kerja. Saya juga menghargai teman-teman yang telah menunjukkan perbaikan pengelolaan waktu sehingga terlihat jelas perbaikan itu. Paling tidak; ada kemauan, dan komitmen nyata untuk melakukannya. Terimakasih kepada semuanya. Disisi lain, kita juga perlu mengakui bahwa setelah melakukan pembicaraan, diingatkan lewat email, dan sama-sama berkomitment, masih juga ada yang begitu terus-menerus. Jujur saja, saya kasihan kepada individu yang masih begitu, dan juga kasihan kepada kinerja team secara keseluruhan.

    Kedua, saya ingin mengajak teman-teman, untuk memperhatikan beberapa hal ini:
    A. Jam masuk dan keluar kantor

    1. Bagi yang sudah bagus;Teruskan. Itu tidak hanya baik bagi team kita, melainkan terlebih lagi bagi diri kita sendiri sebagai individu
    2. Bagi yang masih harus diperbaiki; Lakukanlah perbaikan. Tidak ada yang memaksa kita; tetapi, itu menunjukkan seberapa besar profesionalitas kita; dan yang terlebih penting lagi; seberapa sayang kita pada diri kita sendiri. Tanggung jawab setiap orang kepada dirinya sendiri. Kebaikannya toh untuk kita sendiri. Oleh karena itu, kita tidak selayaknya dipaksa atau terpaksa. Lagipula, jika kita bisa melakukannya secara sukarela, mengapa harus menunggu hingga dipaksa?

    B. Mengelola jam kerja

    1. Lihat kembali aktivitas kita pada saat jam kerja. Ada masukan untuk team kita dari orang luar; katanya kita kebanyakan ngobrol ditempat makan; pagi, siang, dan sore. Ini bukan soal salah atau benar, melainkan persepsi orang. Mereka mempersepsikan kita terlampau banyak kongkow-kongkow. Saya pikir, apa salahnya jika orang makan pagi, siang atau sore; gitu kan ya. Tapi, adakalanya kita perlu mempertimbangkan persepsi orang lain juga. Bukan untuk cari pujian, tetapi, untuk mawas diri; ’benar demikiankah atau tidak’? Jika kita yakin itu tindakan positif dan produktif; terus begitu juga tak soal. Tapi, jika memang kita kurang memanfaatkan waktu secara efisien; kita perlu mawas diri juga, ya kan.
    2. Bagi teman-teman yang berhak mendapatkan OT; jangan ragu untuk mengambil hak anda. Saya support sepenuhnya. Disisi lain, perhatikan juga point-point diatas. Ingat, kita tidak pernah tahu, kapan akan dilakukan audit jam kerja dan OT; tapi, saya yakin, suatu saat nanti mungkin itu akan dilakukan. Jika kita sudah benar melakukannya, tidak perlu khawatir. Tapi, jika kita sadar ada yang harus diperbaiki; segera perbaiki. Jadi bisa seimbang antara menuntut hak kita dan menjalankan kewajiban kita

    .

    C. Melihat Orang Lain

    1. Untuk belajar. Ada orang yang bagus; pelajari kebagusan orang itu. Ikuti perilaku positifnya. Jadilah sebagus orang itu. Jika bisa lebih bagus dari dia, maka baguslah itu. Ada juga orang yang kurang bagus. Kurang berdisiplin. Kurang bertanggungjawab. Kurang professional. Perhatikan, dan hindari perilaku orang itu. Kita tidak perlu iri kepada mereka karena terkesan bisa seenaknya; bebas, tidak bertanggungjawab. Kita perlu ingat, hal seperti itu tidak layak dimiliki oleh seorang professional. Jadi, sebisa mungkin harus kita hindari. Jadikan orang itu contoh tentang hal-hal yang layak kita jauhi.
    2. Untuk saling mengingatkan. Lihat sekali lagi teman-teman baik kita. Jika kita melihat teman itu khilaf, ingatkan dia. Kita bukan sahabat yang baik jika membiarkan teman baik kita terus menerus terjebak dalam keadaan tidak baik. Mungkin kita akan dianggap terlalu ikut campur urusan orang lain. Tidak, jika yang kita perbaiki itu urusan pekerjaan. Sebab, soal pekerjaan adalah tanggungjawab semua anggota team. Jika kita gagal mengingatkan teman dalam team, maka kegagalan itu sebenarnya bukan kegagalan teman kita; melainkan kegagalan kita sebagai sebuah team.
    3. Lihat atasan kita. Seorang atasan bukan dewa. Dia bisa benar, bisa salah. Jika atasan salah dan dibiarkan, maka kerugiannya akan diderita oleh semua anggota team. Ingatkan dia. Jika seorang atasan tidak mau diingatkan oleh anggota teamnya, tidak berarti kita boleh mengikuti perilakunya yang tidak tepat. Memang, seringkali budaya sebuah kelompok dipengaruhi oleh atasannya. Jadi, bagaimana mungkin sebuah kelompok bisa baik kalau atasannya kurang baik? Oleh karena itu, tanggungjawab kita untuk mengingatkan atasan.Tugas kita untuk mengingatkan atasan. Tapi harus ingat juga; adalah tugas kita untuk memastikan bahwa perilaku kurang baiknya tidak menular pada kita atau anggoa team lainnya.
    4. Menolong diri sendiri. Teman kerja, bawahan, atau atasan, bisa memberi pengaruh positif atau negatif kepada kita. Terserah kita mau bagaimana; apakah mau tetap positif, atau ikut-ikutan negatif. Tapi, kalau dipikir-pikir, yang untung atau rugi bukanlah orang lain yang kita ikuti; melainkan diri kita sendiri. Jika kita memilih untuk tetap positif; maka kita sendiri yang untung, bukan hanya orang lain. Dan kalau kita memilih untuk ikut negatif; kan yang rugi ya kita juga

    .

    Teman-teman, ayo kita perbaiki kinerja, dan citra diri kita masing-masing; sehingga setiap orang bisa berkontribusi positif pada kinerja team. Jika kita keberatan memikirkan orang lain; cukup dengan memikirkan diri sendiri saja juga sudah lumayan. Pikirkan masa depan kita. Pikirkan tantangan-tantangan hidup kita. Jika kita hanya memiliki kualitas biasa-biasa saja, mana bisa kita memiliki keunggulan? Apalagi jika kita membiarkan kualitas diri kita menjadi kurang kompetitif; sayang sekali masa depan kita ini sudah disia-siakan. Padahal, yang bertanggungjawab atas masa depan kita bukanlah orang lain. Melainkan diri kita sendiri. So help your self. Selamat berakhir pekan. Dan sampai jumpa senin depan.

    Catatan Kaki:
    Umpatan dari diri sendiri kadang lebih menyenangkan hati daripada sebuah teguran yang tulus dari orang lain.

  • Memasarkan Diri Sendiri – Mungkinkah Itu?

    Memasarkan Diri Sendiri – Mungkinkah Itu?

    Kita tahu bahwa produk sebagus apapun, dengan pemasaran yang jelek susah untuk laku dipasaran. Bagaimana dengan diri kita? Apakah secara serta merta kita ini akan laku dipasaran tenaga kerja? Memasarkan diri sendiri bukan semata-mata kepentingan para mahasiswa yang baru saja diwisuda. Bukan mereka yang tengah berdebar-debar melamar pekerjaan kesana-kemari. Bukan pula monopoli para peserta Indonesian idol supaya disamber para produser untuk dilejitkan menjadi seorang bintang panggung. Kita semua berkepentingan untuk memasarkan diri kita sendiri. Bahkan ketika kita sudah memiliki pekerjaan yang bagus sekalipun. Lantas, kapan kita boleh berhenti memasarkan diri? Ketika kita tidak mengharapkan apapun lagi dari lingkungan eksternal kita. Tetapi, mungkinkan itu?

    Ada beberapa langkah yang bisa kita tempuh untuk memasarkan diri kita tidak hanya secara efektif, tetapi juga positif ; Pertama, Jika kita sudah bekerja sekarang, hal pertama yang perlu kita lakukan adalah; memastikan bahwa kita benar-benar menunjukan kinerja yang istimewa pada pekerjaan kita saat ini. Di jaman ini, bekerja baik saja tidak cukup. Karena banyak sekali orang yang bekerja dengan baik. Bahkan mungkin lebih baik. Tetapi, menjadikan anda istimewa ditempat kerja, adalah sebuah langkah yang sangat sulit ditandingi oleh siapapun. Setidaknya, kualitas anda akan sangat diperhitungkan.

    Kedua, Membuka diri pada bidang yang berbeda. Banyak orang yang hanya berkutat pada bidang pekerjaan yang ditugaskan atasan kepadanya. Dengan kata lain, job description oriented. Sebaliknya, jika anda bersedia untuk berurusan dengan bidang pekerjaan lain, maka setidak-tidaknya, anda bisa terekspos pada lingkungan yang lebih luas dari sekedar kubikal atau ruang kerja anda. Ini membantu anda mendapatkan dua hal yaitu; keterampilan atau pengetahuan baru, dan memungkinkan lebih banyak orang mengetahui keungulan-keunggulan anda. Jadi, semakin anda membuka diri, semakin meningkat keunggulan anda, dan semakin banyak orang yang tahu hal itu. Nilai anda akan menjadi semakin tinggi pula.

    Ketiga, Asah dan optimalkan potensi diri anda. Banyak orang yang tidak mengoptimalkan potensi diri mereka hanya karena mereka menganggap bahwa pekerjaannya hari itu sudah selesai. Jadi mereka buru-buru pulang kerumah begitu jam pulang kantor berdentang. Coba saja anda perhatikan, berapa banyak karyawan bergelar KTG. Tahukah anda apa itu KTG? Karyawn Teng Go. Tidak peduli sebesar apa potensi diri anda; jika anda mendapatkan pekerjaan yang jauh dibawah potensi sesungguhnya dan anda langsung kabur seperti para KTG lainnya, maka potensi diri anda akan terbengkalai begitu saja. Ingatkah anda bahwa hampir semua orang memulai pekerjaannya dari level yang lebih rendah dari potensi diri yang sesungguhnya? Orang-orang istimewa tidak begitu; setelah menyelesaikan pekerjaannya hari itu, mereka datang kapada atasannya, dan bertanya; Bisakah saya membantu pekerjaan Bapak, sehingga hari ini akan menjadi lebih mudah bagi Bapak? Dia membantu atasannya, dan dia membantu dirinya sendiri untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.

    Keempat, kenali dan bangun hubungan dengan orang-orang yang bisa mempengaruhi para pengambil keputusan. Jika pekerjaan anda memungkinkan anda untuk mempunyai akses kepada para pemegang otoritas, maka hal ini tidak menjadi isu krusial lagi. Tetapi, bukankah kebanyakan kita tidak berada pada posisi se-strategis itu ? Jika anda tidak bisa menyentuh langsung para pengambil keputusan itu, maka anda harus memastikan bisa meyentuh tangan kanan mereka. Para boss tidak selalu mempunyai cukup waktu untuk melihat karyawannya satu per satu. Tetapi, para tangan kanannya bisa membantu mereka. Jika anda berhasil meyakinkan para tangan kanan mereka itu, maka nama anda akan muncul dalam daftar ‘karyawan potensial’ yang mereka sodorkan kepada boss.

    Kelima, Hindari sikap negatif. Negative attitude, jika anda ingin menyebutnya demikian. Banyak orang lupa diri. Mereka pikir, kalau lebih bagus dari orang lain, dan mereka mempunyai akses kepada para pengambil keputusan; maka mereka boleh bersikap seenak perutnya saja. Mereka salah. Para boss hebat memiliki kepekaan yang tajam. Mereka tahu bahwa kualifikasi teknis bukanlah segala-galanya. Sikap karyawan bisa menjadi faktor paling penting apakah mereka memberikan kesempatan dan tanggungjawab lebih besar atau tidak. Bahkan, mereka tahu bahwa kecerdasan atau keahlian yang tinggi, jika dikombinasikan dengan sikap yang negatif; akan sangat membahayakan. Pendek kata; mereka tahu, orang-orang yang mempunyai attitude negative harus dipromosingkirkan, bukan dipromosikan. Kita tahu bahwa dalam diri setiap orang ada sisi positif dan negatifnya. Tetapi hal itu tidak berarti kita boleh mengumbar sisi negatif kita. Sebaliknya, jika kita berhasil memupuk sisi positif kita terus-menerus; maka yang kita hasilkan akan lebih banyak positifnya juga. Dan semuanya itu akan kembali kepada kita; berupa buah kenikmatan yang menyenangkan.

    Cobain deh langkah langkah diatas itu. Lakukan secara konsisten. Saya yakin, anda tidak akan diabaikan. Bahkan anda akan muncul kepermukaan dimana setiap orang bisa mengenali, mengagumi, dan merekomendasikan anda kepada setiap orang lainnya. Kabari saya jika itu berhasil bagi anda.

    Hore,
    Hari Baru !

    Catatan kaki :
    Kecerdasan atau keahlian yang tinggi, jika dikombinasikan dengan sikap negatif; akan sangat membahayakan.

    Sepakat pak Dadang, saya sering menyampaikan esensi itu melalui beberapa ungkapan:
    1. Manusia itu produk tercanggih, namun demikian agar punya ‘Value Added in-use Product’ maksudnya produk yang mengandung nilai multiplier, produk ini harus selalu di-develop, di-controll, di-maintain…..caranya?
    2. Selftalk selalu, berdoa pada Tuhan-nya dengan suara nyaris berbisik&sepenuh hati, apa yang ingin diraihnya ucapkanlah pada keheningan malam (selftalk),keep longlife learning agar kualitas wawasan keilmuan dan kebenarannya meningkatkan kualitas selftalknya, rubah semua materi karunia Tuhan jadi energi sehingga semua sumberdaya yang dimilikinya menjadi multiplier dlm konteks ‘prosperity is the right use of one kind to lead an increase in that and other kinds’
    3. Dengan semua itu manusia akan mempunyai emotional stability, defence mechanism, integrity, interpersonalship, technical and cognitif skill yang bisa meningkatkan kualitas dirinya dan lingkunganya sebagai produk yang berakal, berbudi luhur, atau dengan kata lain bisa memanusiakan dirinya dan lingkungannya, yang bisa mangayu hayuning bawono alias mensejahterakan dirinya dan lingkungannya.
    4. Ini yang harus dipahami semua manusia, khususnya para pengelola bangsa, sehingga semua cipta, karya dan rasa mereka memunculkan perilaku sebagai membajak tanah, bagaimana manusia menjadi media yang subur untuk tumbuhnya, terealisasikannya esensi kemanusiaannya, meluhurkan dirinya dan meluhurkan lingkungannya, komunitas manusia yang bahagia, sejahtera dunia akhirat.

  • Bangun Bung; Kita Sudah Merdeka!

    Bangun Bung; Kita Sudah Merdeka!

    Sebagai bangsa, kita memang sudah merdeka. Tetapi, sebagai individu, apakah kemerdekaan itu sudah benar-benar menjadi milik kita? Jika kita hidup dijaman perbudakan; maka pertanyaan ini masih sangat relevan. Saat ini, kecil kemungkinan ada orang lain yang memperbudak kita. Karena itu dilarang. Tetapi, masalah manusia jaman sekarang adalah; memperbudak diri mereka sendiri. Kalau anda diperbudak oleh orang lain, maka Komnas HAM, Polisi, Mahasiswa, dan juga Pak RT akan berduyun-duyun membebaskan anda dari perbudakan itu. Tetapi, coba anda pikirkan; siapa yang akan membebaskan anda jika yang memperbudak anda itu adalah diri anda sendiri?

    Spiderman-3. Anda sudah menontonnya? Saya kira, film itu cukup sukses memberikan gambaran tentang betapa beratnya berhadapan dengan diri sendiri. Anda tahu, seberat apapun lawan yang dihadapi Spiderman, tidak pernah ada yang benar-benar membuatnya linglung. Jagoan kita itu selalu mampu bertempur habis-habisan; dan tentu saja akhirnya menang. Tetapi, apa yang terjadi ketika dia harus berhadapan dengan dirinya sendiri? Anda tahulah, tak mungkin baginya untuk menangkap diri sendiri seperti dia menangkap berandalan yang berkeliaran dijalan-jalan, bukan? Bahkan, dia kebingungan ketika mencoba mempertanyakan identitas dirinya sendiri. Ingat ketika Spiderman bergelantungan di gedung tinggi; memandang aneh bayangan dirinya dikaca mengenakan pakaian sakti berwarna hitam? Who the hell I am?

    Yeah, who the hell I am? Kiranya kita boleh bertanya seperti itu juga saat bercermin. Itu bukan pertanyaan tolol orang yang sedang hilang ingatan. Itu sebuah kata penggugah untuk membangunkan diri kita sendiri. Elo kira siape, lo? Begitu kira-kira. Hey, ingat; anda tidak boleh sembarangan mengucapkan kalimat itu kepada orang lain. Karena kalimat itu menyiratkan penghinaan. Orang bisa marah karenanya. Tetapi, coba anda katakan itu kepada diri anda sendiri; Elo kira siape, lo!

    Yo-i, elo kira siape lo!
    Sekarang, coba cari jawabannya. Jika elo kira elo itu mahluk lemah; maka elo belum merdeka, Coy! Jika elo kira elo itu gak bisa maju seperti orang lain; elo belum merdeka, Man! Jika elo kira elo itu the master of the failures, maka elo juga belum merdeka. Pendek kate, jika elo nyerah pada kelemahan-kelemahan, atau kegagalan-kegagalan masa lalu elo; maka sebagai individu; elo belum merdeka.

    Saya yakin, anda pernah bertemu dengan orang-orang yang menggunakan waktunya untuk hal-hal yang tidak menghasilkan sesuatu yang bisa membuatnya lebih bermartabat. Seakan-akan waktu bukan hal penting. Memang mereka tidak melakukan kejahatan atau tindakan yang merugikan orang lain. Tetapi, mereka menyia-nyiakan hidup mereka sendiri. Dikampung saya, ada istilah Hardolin. Ini singkatan dari Dahar – Modol (BAB) – Ulin (main). Hardolin. Sebutan ini merujuk kepada orang-orang yang menghabiskan hidupnya untuk sekedar Makan, Buang Air, dan Melakukan sesuatu yang tidak menghasilkan apa-apa.

    Bayangkan; tidak menghasilkan. Tidak uang. Tidak kehormatan. Tidak keterampilan. Tidak ’apapun’. Saya sengaja menggunakan tanda petik pada kata ’apapun’, sebab kita tahu setiap perbuatan yang kita lakukan pasti ada dampaknya. Tapi, karena konteks pembicaraan kita sekarang adalah ’menghasilkan’ dalam pengertian produktif-positif, maka bolehlah kita menyebutnya; tidak menghasilkan apapun. Mereka tidak menghasilkan apapun. Tetapi, disisi lain; orang-orang ini ’Makan’. Lha, terus apa yang mereka makan kalau nggak menghasilkan? Aneh kan? Pertanyaannya barangkali bukan apa yang mereka makan, melainkan bagaimana mereka makan? Jawabnya gampang; Numpang. Jadi, mereka numpang makan kepada orang lain. Bisa kepada orang tua mereka sendiri. Bisa kepada saudaranya. Bisa kepada temannya. Kepada siapa saja. Anda menyebut apa orang macam ini; benalu? (Jangan salah mengerti tentang hal ini ya, sebab; saya tidak sedang membicarakannya dalam konteks ’saling menolong’ sesama manusia ya).

    Hardolin. Dia tidak menghasilkan, dia makan, dan dia - tidak perlu pake ’(maaf)’ - Modol. Dia buang air besar. Menambah jumlah kotoran dimuka bumi ini menjadi semakin banyak! Coba anda bayangkan itu.

    Sekarang saya ajak anda untuk mencoba mengingat kembali. Para pendahulu kita telah ikut berkontribusi dalam usaha membebaskan bangsa ini dari penjajahan. Dan kemudian Indonesia menjadi negara yang merdeka. Setelah mereka berjuang habis-habisan; orang tua kita itu menasihatkan; Jauhi sifat dan perilaku Hardolin.

    Jika kamu mau hidup; ya jangan cuma bisa Dahar, Modol, dan Ulin, dong. Begitu mereka pesankan. Itu jaman dulu. Jaman dimana gairah kemerdekaan masih terasa gegap gempita. Dimana begitu banyak orang euforia; sehingga mereka menganggap ’inilah saatnya untuk menikmati hidup’ dialam kebebasan dari penjajahan. Tahukan anda, bahwa konon, dijaman penjajahan; orang-orang kekurangan makan? Maka kata ’merdeka’ diterjemahkan sebagai ’bebas makan’. Jadi mereka makan, alias Dahar. Kalau sudah makan, ya mereka Modol, toh? Dan dijaman penjajahan, boro-boro orang bisa main alias Ulin, sekedar keluar rumah saja sudah menakutkan. Maka kemerdekaan berarti kebebasan untuk pergi main sepuas-puasnya. Maka kerjaan mereka main melulu. Sehingga orang tua kita yang terluka-luka setelah perang beneran merasa khawatir dengan generasi muda ini. Oleh karena itu, sekali lagi mereka menasihatkan; Jauhi sifat dan perilaku Hardolin.

    Kita ini generasi muda yang hebat. Jadi kita tidak Hardolin. Kita adalah generasi muda yang giat bekerja dan berkarya. Benar, nggak? Yo-i, dong. Tetapi, sudahlah, kita tidak usah berpura-pura pilon; tidak gampang juga ternyata mendapatkan perkejaan dengan upah yang layak. Kita sudah berusaha mati-matianpun pekerjaan layak itu tidak kunjung kita dapat. Lalu, apa dong yang sebaiknya kita lakukan? Ya sudah, kita tidur saja. Maka, fenomena generasi muda yang kerjaannya tidur melulu, merebak dimana-mana. Tengok saja disekitar anda. Dari 10 orang anak muda yang ada di RT anda; berapa banyak dari mereka yang menghabiskan waktu ditempat tidur nyaris sepanjang hari. Generasi muda kita, telah terbenam dalam bentuk penjajahan baru; dijajah oleh tidur yang berkepanjangan. Dikampung saya, itu disebut Molor. Tidur melulu. Oleh karena itu, setelah setengah abad Indonesia merdeka sementara penyelenggara negara belum juga berhasil menyediakan lapangan kerja yang layak; maka, Hardolin kemudian berevolusi menjadi Hardolimo. Dahar. Modol. Ulin. Molor.

    Saya tahu, anda bukan benalu. Sehingga anda bukan si tukang Dahar. Saya tahu, anda bukan si penyebar sikap dan perilaku kotor; sehingga anda bukan si tukang Modol. Saya tahu, anda bukanlah orang yang mau melakukan kesia-siaan, sehingga waktu anda tidak dihabiskan hanya untuk Ulin. Tetapi saya juga tahu, tantangan hidup semakin berat menerpa kita. Untuk menjadi orang baikpun tidak mudah. Untuk menjadi orang produktif juga tidak gampang. Dan faktanya, pekerjaan dengan upah yang layak belum menjadi milik semua orang. Jika anda tengah menghadapi situasi sulit seperti itu; jangan menghibur diri dengan Molor. Sebab tidur melulu itu sifatnya adiktif. Menjadikan diri anda ketagihan. Membuat tubuh anda rapuh. Menimbulkan rasa pegal disekujur tubuh. Menyebabkan kemampuan fisik anda hilang. Dan mengakibatkan daya saing anda berkurang.

    Bangun Bung; kita sudah merdeka!

    Hore,
    Hari Baru!

    Catatan kaki:
    Boleh jadi kita sudah merdeka sebagai sebuah bangsa; tetapi makna sesungguhnya yang kita butuhkan dalam hidup adalah, merdeka sebagai manusia.

    Makna Kemerdekaan Bagi Seorang Pekerja

    Apakah anda ikut terlibat langsung dalam perang kemerdekaan? Jika ya, maka usia anda saat ini sekurang-kurangnya sudah berkepala tujuh. Dan diusia itu selayaknya anda menikmati hari tua dengan damai dan bahagia. Tetapi, jika anda tidak ikut perang itu, maka seperti orang-orang muda lainnya; anda adalah pemegang estafeta kemerdekaan ini. Jika tugas orang-orang tua kita adalah merebut kemerdekaan dari tangan penjajah; maka tugas kita adalah mengisi kemerdekaan yang mereka wariskan, dengan pertaruhan nyawa mereka sendiri. Lantas, bagaimana kita bisa ikut mengisi kemerdekaan ?

    Mungkin kita jarang menyadari bahwa dengan berkarya, kita sudah berkontribusi untuk mengisi kemerdekaan. Mengapa? Karena begitu banyak masalah yang membebani bangsa ini. Jika kita menjadi karyawan yang sukses, maka berkuranglah satu beban negara untuk menyediakan lapangan kerja. Jika kita bisa memperoleh penghasilan yang layak, maka berkurang pula keratan roti yang harus disediakan negara untuk rakyatnya. Jika kita mampu membiayai sekolah anak-anak kita, maka beban negara atas pendidikan juga berkurang. Begitulah seterusnya.

    Pendek kata, Anda bisa mengisi kemerdekaan ini dengan mengurangi beban negara atas diri Anda sendiri. Jika Anda hanya bisa melakukannya untuk diri Anda sendiri saja, maka itu sudah menjadi sumbangan bermakna. Karena di luar sana masih banyak sekali rakyat yang bahkan tidak sanggup untuk menghidupi dirinya sendiri, sehingga menambah berat beban negara ini. Anda tidak seperti mereka. Jika Anda bisa mensejahterakan keluarga Anda, maka sumbangan itu menjadi semakin bermakna. Apalagi jika kemudian Anda bisa berkontribusi kepada orang-orang lain dilingkungan Anda. Siapa bilang pejuang kemerdekaan itu hanyalah mereka yang ikut bertempur dimedan perang ? Anda juga bisa menjadi pejuang kemerdekaan dengan mengisi kemerdekaan itu sendiri.

    Bagaimana seorang pekerja seperti kita bisa berkontribusi? Dengan menjadi pekerja yang sukses. Bukan sekedar pekerja asal-asalan. Jika semakin banyak pekerja sukses, maka negara ini berangsur-angsur menjadi makmur. Tetapi, kita hanya bisa menjadi pekerja sukses jika kita sungguh-sungguh menggunakan segenap potensi yang kita miliki. Jika tidak, maka kita akan tetap tersisihkan.

    Tidak ada tempat kerja yang ideal. Jadi, dimanapun kita bekerja, pasti akan menghadapi beragam kesulitan. Karena itu, jangan pernah membiarkan kesulitan yang Anda hadapi mengubur potensi diri Anda. Sudah banyak orang cemerlang berubah menjadi pecundang, hanya karena kecewa kepada lingkungannya. Jika begitu, sesungguhnya dia tidak merugikan siapapun, selain dirinya sendiri.

    Negara ini membutuhkan orang-orang seperti Anda. Maka, berkaryalah dengan segenap kemapuan yang Anda miliki. Karena hanya dengan cara itulah saja, Anda bisa turut mengisi kemerdekaan ini.

    Hore,
    Hari Baru!

    Catatan kaki:
    Adalah kewajiban penyelenggara negara untuk menyediakan lapangan kerja yang layak bagi setiap warganya. Sedangkan kewajiban kita yang sudah memiliki pekerjaan adalah; memanfaatkannya sebaik mungkin.

  • Kapan Terakhir Kali Doa Anda Dikabulkan Seketika?

    Kapan Terakhir Kali Doa Anda Dikabulkan Seketika?

    Jika kita berdoa biasanya kita mengharapkan doa itu segera dikabulkan, bukan begitu? Bahkan, kita sering berharap agar doa itu langsung dikabulkan tepat disaat kita selesai mengucapkannya. Seketika itu juga. Memang kadang kita ini tidak realistis, sih. Tapi, sebenarnya, berharap agar Tuhan segera mengabulkan doa kita tidaklah berlebihan. Dan memang kenyataannya begitu, kok. Tuhan mengabulkan begitu banyak permintaan kita, dengan segera. Coba saja anda renungkan; kapan terakhir kali anda berdoa dan doa itu langsung dikabulkan Tuhan?

    Jika saya merenungi kembali doa-doa yang pernah saya panjatkan. Ternyata, begitu banyak doa yang dikabulkan oleh Tuhan dengan serta merta. Langsung Tuhan berikan tanpa harus menunggu lama. Terutama ketika doa itu berupa sesuatu yang tidak berhubungan dengan material duniawi seperti misalnya kesehatan dan ketenangan. Keberanian. Atau ketegaran hati. Ketika saya bilang; Tuhan, berikan saya kekuatan. Maka saya benar-benar merasa kuat. Tuhan, kumohon ketenangan hati; maka segera saja hati saya merasa tenang. Jujur saja, kadang saya lupa bahwa itu merupakan bentuk pengkabulan langsung dari Tuhan.

    Bukan itu saja, permintaan material pun tak jarang Tuhan segera kabulkan. Puji Tuhan, saya bukan orang yang berlimpah ruah dari sisi materi. Bukan orang kebanyakan uang. Sekedar cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup pada taraf yang wajar. (Jangan-jangan, ini merupakan terminologi lain dari kata ’pas-pasan’, haha.). Tetapi, saya merasa beruntung berada pada tingkatan status ekonomi yang biasa-biasa saja ini. Sebab, harus saya akui, ketika baru terima gajian; saya suka lupa untuk meminta kepada Tuhan. Lain sekali ketika dompet sedang benar-benar lepet dan kepepet; dengan Tuhan saya merasa begitu lengket. Sehingga saya merasa berhak untuk meminta kepadaNya. Jadi, Tuhan, saya tidak keberatan jika Engkau terus menerus menempatkan diri saya pada posisi pas-pasan ini. Agar saya tidak terlalu sulit untuk agak lebih sering mendekat padaMu. Untuk meminta tambahan dari kekurang-kekurangan yang kadang-kadang menyesakkan dada. Hehe, curang.

    Anda, terakhir kali doanya dikabulkan langsung oleh Tuhan, kapan? Saya mengalaminya tadi pagi. Sehabis mandi, saya berdiri tertegun dihadapan lemari pakaian. Lalu saya memandang gantungan pakaian kerja yang ada disana. Dan saya menyadari bahwa celana panjang saya, sudah pada berumur lama. Tidak belel, memang. Tetapi, jika saya mengenakannya, orang tahu bahwa itu sudah berumur lebih dari 2 atau 3 tahun. Anda sering membeli pakaian? Saya tidak. Pagi itu, saya bergumam; Oh, Tuhan, saya sudah sangat membutuhkan celana panjang yang baru.

    Tahukah anda, apa yang terjadi satu detik kemudian? Saya benar-benar mendapatkan celana panjang baru seketika itu juga!

    Sekitar 4 tahun yang lalu, kantor tempat saya bekerja membiayai pembuatan satu stel jas untuk sebuah acara resmi. Bahannya cukup bagus. Ada penjahit khusus yang ditunjuk untuk menjahitkannya pula. Jahitannya bagus. Tetapi…., entah kenapa; celana panjang yang penjahit itu buatkan untuk saya ternyata ukuran pinggangnya kebesaran. Kalaupun saya paksakan memakainya, pasti tampak kedodoran. Pagi ini, sekitar empat tahun kemudian, tepat setelah saya berkata; Oh, Tuhan, saya sudah sangat membutuhkan celana panjang yang baru, itu; saya teringat celana panjang itu. Dan tahukah anda, selama empat tahun terakhir ini tubuh saya sudah tumbuh lebih besar, terutama dibagian pinggang. Maka, jadilah celana yang dijahit empat tahun lalu itu barang baru yang benar-benar pas buat saya. Pagi ini, saya bahagia untuk dua hal. Pertama, karena doa saya terkabul Tuhan seketika itu juga. Dan kedua, ternyata, saya masih berada dalam masa ’pertumbuhan’. Alhamdulillah. Terpujilah Tuhan.

    Mungkin anda menganggap ini hal sepele. Tetapi, cobalah kembali anda renungkan; kapan terakhir kali doa anda dikabulkan Tuhan seketika itu juga? Boleh jadi selama ini kita tidak menyadari betapa Tuhan bersedia mendengarkan doa-doa kita. Bahkan mengabulkannya seketika itu juga. Dia mengabulkan doa-doa kita; sekalipun kita tidak selalu bersegera memenuhi panggilannya ketika Dia menyeru kita. Dan, hey ingat; boleh jadi doa-doa itu tidak terucapkan. Sekedar terbersit dalam hati. Tetapi, Tuhan tetap mendengarnya. Lalu Dia mengabulkannya untuk kita. Setiap malam, ketika kita pergi tidur; mungkin kita tidak mengucapkan seulas kata untuk meminta kepadaNya. Tetapi, jauh dilubuk hati yang paling dalam, kita ingin agar besok pagi bangun dalam keadaan sehat walafiat. Dan benar saja, ketika keesokan harinya kita bangun pagi; kita benar-benar sehat. Lihatlah. Bahkan, sekalipun kita tidak mengucapkannya. Tuhan masih bisa mendengarkan. Bahkan, sekalipun itu hanya tersirat dalam hati saja; Tuhan langsung mengabulkannya. Coba saja anda bayangkan; betapa seringnya kita bangun pagi dalam keadaan sehat. Sehingga pagi itu; kita terbangun dengan gairah dan kebugaran tertinggi. Setiap hari. Sementara kita tidak cukup paham bahwa itu terjadi, karena Tuhan sayang pada kita. Dan Dia mengabulkan doa-doa kita, seketika itu juga.

    Hore,
    Hari Baru!

    Catatan kaki:
    Dan jika hamba-hambaku bertanya tentangku; katakanlah bahwa Aku ini dekat.

    Apa Yang Dilindungi Oleh Asuransi: Jiwa Kita atau Nilai Ekonomi Diri Kita?

    Saya pernah menyimak pendapat beberapa orang tentang hidup. Ada yang bilang;”Hidup itu urusan Tuhan. Mengasuransikan jiwa kita berarti mendahului kehendak Tuhan.” begitu kira-kira. Dan faktanya, memang cukup banyak orang yang alergi mendengar kata ’asuransi jiwa’. Lucunya, mereka yang alergi dengan asuransi jiwa ini; sama sekali tidak sungkan untuk mengasuransikan mobil atau motor yang mereka miliki. Makanya, tidak mengejutkan jika mayoritas pemilik kendaraan bermotor melindungi nilai ekonomi kendaraannya dengan asuransi, sementara hanya sekitar 3% saja orang Indonesia yang secara sadar melindungi nilai ekonomi dirinya dengan asuransi jiwa.

    Sebenarnya, asuransi jiwa bukan untuk melindungi jiwa kita. Melainkan melindungi nilai ekonomi diri kita. Misalnya, jika saat ini kita mampu menyediakan 5 juta rupiah setiap bulan untuk keluarga kita hidup dengan layak; maka asuransi jiwa membantu kita untuk menjamin agar kehidupan ekonomi keluarga kita dengan 5 juta rupiah pengeluaran itu bisa terus terjaga, ’meskipun’ terjadi sesuatu yang menyebabkan kita tidak mampu lagi menghasilkan uang sejumlah itu. Kita tidak berharap ’sesuatu’ itu terjadi. Namun, siapa yang bisa memastikan masa depan? Oleh karena itu, coba renungkan: Jika nilai ekonomi mobil kita saja dilindungi, mengapa kita tidak melindungi nilai ekonomi diri kita? Apakah mobil lebih berharga dari diri kita sendiri?

    Jika kita karyawan, coba di cek apakah perusahaan tempat kita bekerja sudah menyediakan asuransi jiwa bagi kita. Perusahaan-perusahaan yang baik biasanya menyediakan asuransi jiwa bagi karyawan-karyawannya. Namun, ada 2 hal yang perlu kita lakukan; Pertama, tanyakan kepada HRD, apakah asuransi yang disediakan itu hanya berlaku selama kita bekerja di perusahaan, atau bisa dilanjutkan sendiri seandainya kita berhenti bekerja. Pada umumnya jika karyawan resign, atau pensiun, maka asuransi jiwanya secara otomatis akan terputus. Oleh karena itu; perlu dipertimbangkan untuk membeli asuransi jiwa sendiri. Kecuali jika kita berencana untuk bekerja terus sebagai profesional. Tetapi, perlu dipertimbangkan juga, jika kita pensiun, apakah perlindungan itu bisa dibawa pergi sebagai paket pensiun atau tidak.

    Kedua, jika perusahaan telah menyediakan asuransi jiwa yang bisa kita kelola sendiri (bisa dibawa pergi dan dilanjutkan sendiri) maka mungkin sudah waktunya untuk melakukan perencanaan keuangan atau biaya sekolah anak-anak dimasa depan. Memang ada orang yang lebih suka menabung setiap bulan di bank, dan tidak diambil-ambil. Tidak masalah jika kita bisa berdisiplin demikian. Tetapi, jika tidak, mungkin asuransi pendidikan bisa menjadi jalan keluarnya. Selain dari itu, asuransi pendidikan mempunyai kelebihan dari sisi perlindungan, yang tidak dimiliki oleh tabungan pendidikan. Prinsipnya; jika terjadi ’sesuatu’ pada diri kita, maka anak-anak kita akan tetap mendapatkan jaminan pembiayaan pendidikan sesuai dengan yang kita rencanakan.

    Ketika istri saya bilang ingin menjadi agen asuransi, saya langsung setuju. Saya mendukung penuh karena saya memandang bahwa agen asuransi itu bukan sekedar sebuah pekerjaan, melainkan; sebuah kesempatan untuk menolong orang dalam kesusahan. Justru disaat nasabah menghadapi masa-masa sulitlah seorang agen asuransi dituntut untuk mampu mengulurkan tangan, dan memastikan bahwa mereka mendapatkan nilai ekonomi seperti yang direncanakannya pada saat pembukaan polis.

    Sekalipun kita tidak berminat untuk membeli polis asuransi. Kita tidak perlu sungkan untuk berkonsultasi dengan agen asuransi. Tidak ada ruginya jika kita memahami mekanisme perencanaan keuangan model ini. Paling tidak, kita bisa membandingkannya dengan strategy perencanaan keuangan yang saat ini kita jalankan. Dimana agen asuransi bisa ditemui? Disekitar kita pasti ada agen asuransi. Meskipun kita tidak membeli polis asuransi dari mereka, biasanya mereka akan dengan senang hati membantu kita untuk mendesain rencana keuangan jangka panjang kita. Artinya, kita bisa mendapatkan konsultasi gratis tentang perencanaan keuangan kita. Lumayan, kan? Bisa juga menghubungi perusahaan asuransi lewat internet. Tidak susahlah kalau kita mau mencarinya.

    Hore,
    Hari Baru!

    Catatan kaki:

    1. Asuransi bukanlah satu-satunya model perencanaan keuangan jangka panjang yang bisa kita gunakan. Tapi, tidak ada ruginya kan kalau kita tahu tentang asuransi?
    2. Jika anda nasabah Tabungan Pendidikan di bank, coba tanyakan kepada bank anda, apakah mereka mempunyai unsur perlindungan juga. Sekarang, sudah banyak bank yang memberikan perlindungan serupa. Jadi, anda bisa mendapatkan perlindungan itu tanpa harus berpindah dari bank pengelola tabungan pendidikan anda ke pengelola jasa keuangan lainnya.
    3. Saat ini, asuransi sudah banyak yang dikombinasikan dengan investasi. Jadi, anda akan mendapatkan benefit perlindungan, sekaligus melihat porsi uang yang anda bayarkan sebagai tabungan atau investasi yang terus bertumbuh dan berkembang.

  • title-3117251

    Kapan Terakhir Kali Doa Anda Dikabulkan Seketika?

    Jika kita berdoa biasanya kita mengharapkan doa itu segera dikabulkan, bukan begitu? Bahkan, kita sering berharap agar doa itu langsung dikabulkan tepat disaat kita selesai mengucapkannya. Seketika itu juga. Memang kadang kita ini tidak realistis, sih. Tapi, sebenarnya, berharap agar Tuhan segera mengabulkan doa kita tidaklah berlebihan. Dan memang kenyataannya begitu, kok. Tuhan mengabulkan begitu banyak permintaan kita, dengan segera. Coba saja anda renungkan; kapan terakhir kali anda berdoa dan doa itu langsung dikabulkan Tuhan?

    Jika saya merenungi kembali doa-doa yang pernah saya panjatkan. Ternyata, begitu banyak doa yang dikabulkan oleh Tuhan dengan serta merta. Langsung Tuhan berikan tanpa harus menunggu lama. Terutama ketika doa itu berupa sesuatu yang tidak berhubungan dengan material duniawi seperti misalnya kesehatan dan ketenangan. Keberanian. Atau ketegaran hati. Ketika saya bilang; Tuhan, berikan saya kekuatan. Maka saya benar-benar merasa kuat. Tuhan, kumohon ketenangan hati; maka segera saja hati saya merasa tenang. Jujur saja, kadang saya lupa bahwa itu merupakan bentuk pengkabulan langsung dari Tuhan.

    Bukan itu saja, permintaan material pun tak jarang Tuhan segera kabulkan. Puji Tuhan, saya bukan orang yang berlimpah ruah dari sisi materi. Bukan orang kebanyakan uang. Sekedar cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup pada taraf yang wajar. (Jangan-jangan, ini merupakan terminologi lain dari kata ?pas-pasan?, haha.). Tetapi, saya merasa beruntung berada pada tingkatan status ekonomi yang biasa-biasa saja ini. Sebab, harus saya akui, ketika baru terima gajian; saya suka lupa untuk meminta kepada Tuhan. Lain sekali ketika dompet sedang benar-benar lepet dan kepepet; dengan Tuhan saya merasa begitu lengket. Sehingga saya merasa berhak untuk meminta kepadaNya. Jadi, Tuhan, saya tidak keberatan jika Engkau terus menerus menempatkan diri saya pada posisi pas-pasan ini. Agar saya tidak terlalu sulit untuk agak lebih sering mendekat padaMu. Untuk meminta tambahan dari kekurang-kekurangan yang kadang-kadang menyesakkan dada. Hehe, curang.

    Anda, terakhir kali doanya dikabulkan langsung oleh Tuhan, kapan? Saya mengalaminya tadi pagi. Sehabis mandi, saya berdiri tertegun dihadapan lemari pakaian. Lalu saya memandang gantungan pakaian kerja yang ada disana. Dan saya menyadari bahwa celana panjang saya, sudah pada berumur lama. Tidak belel, memang. Tetapi, jika saya mengenakannya, orang tahu bahwa itu sudah berumur lebih dari 2 atau 3 tahun. Anda sering membeli pakaian? Saya tidak. Pagi itu, saya bergumam; Oh, Tuhan, saya sudah sangat membutuhkan celana panjang yang baru.

    Tahukah anda, apa yang terjadi satu detik kemudian? Saya benar-benar mendapatkan celana panjang baru seketika itu juga!

    Sekitar 4 tahun yang lalu, kantor tempat saya bekerja membiayai pembuatan satu stel jas untuk sebuah acara resmi. Bahannya cukup bagus. Ada penjahit khusus yang ditunjuk untuk menjahitkannya pula. Jahitannya bagus. Tetapi?., entah kenapa; celana panjang yang penjahit itu buatkan untuk saya ternyata ukuran pinggangnya kebesaran. Kalaupun saya paksakan memakainya, pasti tampak kedodoran. Pagi ini, sekitar empat tahun kemudian, tepat setelah saya berkata; Oh, Tuhan, saya sudah sangat membutuhkan celana panjang yang baru, itu; saya teringat celana panjang itu. Dan tahukah anda, selama empat tahun terakhir ini tubuh saya sudah tumbuh lebih besar, terutama dibagian pinggang. Maka, jadilah celana yang dijahit empat tahun lalu itu barang baru yang benar-benar pas buat saya. Pagi ini, saya bahagia untuk dua hal. Pertama, karena doa saya terkabul Tuhan seketika itu juga. Dan kedua, ternyata, saya masih berada dalam masa ?pertumbuhan?. Alhamdulillah. Terpujilah Tuhan.

    Mungkin anda menganggap ini hal sepele. Tetapi, cobalah kembali anda renungkan; kapan terakhir kali doa anda dikabulkan Tuhan seketika itu juga? Boleh jadi selama ini kita tidak menyadari betapa Tuhan bersedia mendengarkan doa-doa kita. Bahkan mengabulkannya seketika itu juga. Dia mengabulkan doa-doa kita; sekalipun kita tidak selalu bersegera memenuhi panggilannya ketika Dia menyeru kita. Dan, hey ingat; boleh jadi doa-doa itu tidak terucapkan. Sekedar terbersit dalam hati. Tetapi, Tuhan tetap mendengarnya. Lalu Dia mengabulkannya untuk kita. Setiap malam, ketika kita pergi tidur; mungkin kita tidak mengucapkan seulas kata untuk meminta kepadaNya. Tetapi, jauh dilubuk hati yang paling dalam, kita ingin agar besok pagi bangun dalam keadaan sehat walafiat. Dan benar saja, ketika keesokan harinya kita bangun pagi; kita benar-benar sehat. Lihatlah. Bahkan, sekalipun kita tidak mengucapkannya. Tuhan masih bisa mendengarkan. Bahkan, sekalipun itu hanya tersirat dalam hati saja; Tuhan langsung mengabulkannya. Coba saja anda bayangkan; betapa seringnya kita bangun pagi dalam keadaan sehat. Sehingga pagi itu; kita terbangun dengan gairah dan kebugaran tertinggi. Setiap hari. Sementara kita tidak cukup paham bahwa itu terjadi, karena Tuhan sayang pada kita. Dan Dia mengabulkan doa-doa kita, seketika itu juga.

    Hore,
    Hari Baru!

    Catatan kaki:
    Dan jika hamba-hambaku bertanya tentangku; katakanlah bahwa Aku ini dekat.

    Apa Yang Dilindungi Oleh Asuransi: Jiwa Kita atau Nilai Ekonomi Diri Kita?

    Saya pernah menyimak pendapat beberapa orang tentang hidup. Ada yang bilang;?Hidup itu urusan Tuhan. Mengasuransikan jiwa kita berarti mendahului kehendak Tuhan.? begitu kira-kira. Dan faktanya, memang cukup banyak orang yang alergi mendengar kata ?asuransi jiwa?. Lucunya, mereka yang alergi dengan asuransi jiwa ini; sama sekali tidak sungkan untuk mengasuransikan mobil atau motor yang mereka miliki. Makanya, tidak mengejutkan jika mayoritas pemilik kendaraan bermotor melindungi nilai ekonomi kendaraannya dengan asuransi, sementara hanya sekitar 3% saja orang Indonesia yang secara sadar melindungi nilai ekonomi dirinya dengan asuransi jiwa.

    Sebenarnya, asuransi jiwa bukan untuk melindungi jiwa kita. Melainkan melindungi nilai ekonomi diri kita. Misalnya, jika saat ini kita mampu menyediakan 5 juta rupiah setiap bulan untuk keluarga kita hidup dengan layak; maka asuransi jiwa membantu kita untuk menjamin agar kehidupan ekonomi keluarga kita dengan 5 juta rupiah pengeluaran itu bisa terus terjaga, ?meskipun? terjadi sesuatu yang menyebabkan kita tidak mampu lagi menghasilkan uang sejumlah itu. Kita tidak berharap ?sesuatu? itu terjadi. Namun, siapa yang bisa memastikan masa depan? Oleh karena itu, coba renungkan: Jika nilai ekonomi mobil kita saja dilindungi, mengapa kita tidak melindungi nilai ekonomi diri kita? Apakah mobil lebih berharga dari diri kita sendiri?

    Jika kita karyawan, coba di cek apakah perusahaan tempat kita bekerja sudah menyediakan asuransi jiwa bagi kita. Perusahaan-perusahaan yang baik biasanya menyediakan asuransi jiwa bagi karyawan-karyawannya. Namun, ada 2 hal yang perlu kita lakukan; Pertama, tanyakan kepada HRD, apakah asuransi yang disediakan itu hanya berlaku selama kita bekerja di perusahaan, atau bisa dilanjutkan sendiri seandainya kita berhenti bekerja. Pada umumnya jika karyawan resign, atau pensiun, maka asuransi jiwanya secara otomatis akan terputus. Oleh karena itu; perlu dipertimbangkan untuk membeli asuransi jiwa sendiri. Kecuali jika kita berencana untuk bekerja terus sebagai profesional. Tetapi, perlu dipertimbangkan juga, jika kita pensiun, apakah perlindungan itu bisa dibawa pergi sebagai paket pensiun atau tidak.

    Kedua, jika perusahaan telah menyediakan asuransi jiwa yang bisa kita kelola sendiri (bisa dibawa pergi dan dilanjutkan sendiri) maka mungkin sudah waktunya untuk melakukan perencanaan keuangan atau biaya sekolah anak-anak dimasa depan. Memang ada orang yang lebih suka menabung setiap bulan di bank, dan tidak diambil-ambil. Tidak masalah jika kita bisa berdisiplin demikian. Tetapi, jika tidak, mungkin asuransi pendidikan bisa menjadi jalan keluarnya. Selain dari itu, asuransi pendidikan mempunyai kelebihan dari sisi perlindungan, yang tidak dimiliki oleh tabungan pendidikan. Prinsipnya; jika terjadi ?sesuatu? pada diri kita, maka anak-anak kita akan tetap mendapatkan jaminan pembiayaan pendidikan sesuai dengan yang kita rencanakan.

    Ketika istri%

  • Kapan Terakhir Kali Doa Anda Dikabulkan Seketika?

    Kapan Terakhir Kali Doa Anda Dikabulkan Seketika?

    Jika kita berdoa biasanya kita mengharapkan doa itu segera dikabulkan, bukan begitu? Bahkan, kita sering berharap agar doa itu langsung dikabulkan tepat disaat kita selesai mengucapkannya. Seketika itu juga. Memang kadang kita ini tidak realistis, sih. Tapi, sebenarnya, berharap agar Tuhan segera mengabulkan doa kita tidaklah berlebihan. Dan memang kenyataannya begitu, kok. Tuhan mengabulkan begitu banyak permintaan kita, dengan segera. Coba saja anda renungkan; kapan terakhir kali anda berdoa dan doa itu langsung dikabulkan Tuhan?

    Jika saya merenungi kembali doa-doa yang pernah saya panjatkan. Ternyata, begitu banyak doa yang dikabulkan oleh Tuhan dengan serta merta. Langsung Tuhan berikan tanpa harus menunggu lama. Terutama ketika doa itu berupa sesuatu yang tidak berhubungan dengan material duniawi seperti misalnya kesehatan dan ketenangan. Keberanian. Atau ketegaran hati. Ketika saya bilang; Tuhan, berikan saya kekuatan. Maka saya benar-benar merasa kuat. Tuhan, kumohon ketenangan hati; maka segera saja hati saya merasa tenang. Jujur saja, kadang saya lupa bahwa itu merupakan bentuk pengkabulan langsung dari Tuhan.

    Bukan itu saja, permintaan material pun tak jarang Tuhan segera kabulkan. Puji Tuhan, saya bukan orang yang berlimpah ruah dari sisi materi. Bukan orang kebanyakan uang. Sekedar cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup pada taraf yang wajar. (Jangan-jangan, ini merupakan terminologi lain dari kata ’pas-pasan’, haha.). Tetapi, saya merasa beruntung berada pada tingkatan status ekonomi yang biasa-biasa saja ini. Sebab, harus saya akui, ketika baru terima gajian; saya suka lupa untuk meminta kepada Tuhan. Lain sekali ketika dompet sedang benar-benar lepet dan kepepet; dengan Tuhan saya merasa begitu lengket. Sehingga saya merasa berhak untuk meminta kepadaNya. Jadi, Tuhan, saya tidak keberatan jika Engkau terus menerus menempatkan diri saya pada posisi pas-pasan ini. Agar saya tidak terlalu sulit untuk agak lebih sering mendekat padaMu. Untuk meminta tambahan dari kekurang-kekurangan yang kadang-kadang menyesakkan dada. Hehe, curang.

    Anda, terakhir kali doanya dikabulkan langsung oleh Tuhan, kapan? Saya mengalaminya tadi pagi. Sehabis mandi, saya berdiri tertegun dihadapan lemari pakaian. Lalu saya memandang gantungan pakaian kerja yang ada disana. Dan saya menyadari bahwa celana panjang saya, sudah pada berumur lama. Tidak belel, memang. Tetapi, jika saya mengenakannya, orang tahu bahwa itu sudah berumur lebih dari 2 atau 3 tahun. Anda sering membeli pakaian? Saya tidak. Pagi itu, saya bergumam; Oh, Tuhan, saya sudah sangat membutuhkan celana panjang yang baru.

    Tahukah anda, apa yang terjadi satu detik kemudian? Saya benar-benar mendapatkan celana panjang baru seketika itu juga!

    Sekitar 4 tahun yang lalu, kantor tempat saya bekerja membiayai pembuatan satu stel jas untuk sebuah acara resmi. Bahannya cukup bagus. Ada penjahit khusus yang ditunjuk untuk menjahitkannya pula. Jahitannya bagus. Tetapi…., entah kenapa; celana panjang yang penjahit itu buatkan untuk saya ternyata ukuran pinggangnya kebesaran. Kalaupun saya paksakan memakainya, pasti tampak kedodoran. Pagi ini, sekitar empat tahun kemudian, tepat setelah saya berkata; Oh, Tuhan, saya sudah sangat membutuhkan celana panjang yang baru, itu; saya teringat celana panjang itu. Dan tahukah anda, selama empat tahun terakhir ini tubuh saya sudah tumbuh lebih besar, terutama dibagian pinggang. Maka, jadilah celana yang dijahit empat tahun lalu itu barang baru yang benar-benar pas buat saya. Pagi ini, saya bahagia untuk dua hal. Pertama, karena doa saya terkabul Tuhan seketika itu juga. Dan kedua, ternyata, saya masih berada dalam masa ’pertumbuhan’. Alhamdulillah. Terpujilah Tuhan.

    Mungkin anda menganggap ini hal sepele. Tetapi, cobalah kembali anda renungkan; kapan terakhir kali doa anda dikabulkan Tuhan seketika itu juga? Boleh jadi selama ini kita tidak menyadari betapa Tuhan bersedia mendengarkan doa-doa kita. Bahkan mengabulkannya seketika itu juga. Dia mengabulkan doa-doa kita; sekalipun kita tidak selalu bersegera memenuhi panggilannya ketika Dia menyeru kita. Dan, hey ingat; boleh jadi doa-doa itu tidak terucapkan. Sekedar terbersit dalam hati. Tetapi, Tuhan tetap mendengarnya. Lalu Dia mengabulkannya untuk kita. Setiap malam, ketika kita pergi tidur; mungkin kita tidak mengucapkan seulas kata untuk meminta kepadaNya. Tetapi, jauh dilubuk hati yang paling dalam, kita ingin agar besok pagi bangun dalam keadaan sehat walafiat. Dan benar saja, ketika keesokan harinya kita bangun pagi; kita benar-benar sehat. Lihatlah. Bahkan, sekalipun kita tidak mengucapkannya. Tuhan masih bisa mendengarkan. Bahkan, sekalipun itu hanya tersirat dalam hati saja; Tuhan langsung mengabulkannya. Coba saja anda bayangkan; betapa seringnya kita bangun pagi dalam keadaan sehat. Sehingga pagi itu; kita terbangun dengan gairah dan kebugaran tertinggi. Setiap hari. Sementara kita tidak cukup paham bahwa itu terjadi, karena Tuhan sayang pada kita. Dan Dia mengabulkan doa-doa kita, seketika itu juga.

    Hore,
    Hari Baru!

    Catatan kaki:
    Dan jika hamba-hambaku bertanya tentangku; katakanlah bahwa Aku ini dekat.

    Apa Yang Dilindungi Oleh Asuransi: Jiwa Kita atau Nilai Ekonomi Diri Kita?

    Saya pernah menyimak pendapat beberapa orang tentang hidup. Ada yang bilang;”Hidup itu urusan Tuhan. Mengasuransikan jiwa kita berarti mendahului kehendak Tuhan.” begitu kira-kira. Dan faktanya, memang cukup banyak orang yang alergi mendengar kata ’asuransi jiwa’. Lucunya, mereka yang alergi dengan asuransi jiwa ini; sama sekali tidak sungkan untuk mengasuransikan mobil atau motor yang mereka miliki. Makanya, tidak mengejutkan jika mayoritas pemilik kendaraan bermotor melindungi nilai ekonomi kendaraannya dengan asuransi, sementara hanya sekitar 3% saja orang Indonesia yang secara sadar melindungi nilai ekonomi dirinya dengan asuransi jiwa.

    Sebenarnya, asuransi jiwa bukan untuk melindungi jiwa kita. Melainkan melindungi nilai ekonomi diri kita. Misalnya, jika saat ini kita mampu menyediakan 5 juta rupiah setiap bulan untuk keluarga kita hidup dengan layak; maka asuransi jiwa membantu kita untuk menjamin agar kehidupan ekonomi keluarga kita dengan 5 juta rupiah pengeluaran itu bisa terus terjaga, ’meskipun’ terjadi sesuatu yang menyebabkan kita tidak mampu lagi menghasilkan uang sejumlah itu. Kita tidak berharap ’sesuatu’ itu terjadi. Namun, siapa yang bisa memastikan masa depan? Oleh karena itu, coba renungkan: Jika nilai ekonomi mobil kita saja dilindungi, mengapa kita tidak melindungi nilai ekonomi diri kita? Apakah mobil lebih berharga dari diri kita sendiri?

    Jika kita karyawan, coba di cek apakah perusahaan tempat kita bekerja sudah menyediakan asuransi jiwa bagi kita. Perusahaan-perusahaan yang baik biasanya menyediakan asuransi jiwa bagi karyawan-karyawannya. Namun, ada 2 hal yang perlu kita lakukan; Pertama, tanyakan kepada HRD, apakah asuransi yang disediakan itu hanya berlaku selama kita bekerja di perusahaan, atau bisa dilanjutkan sendiri seandainya kita berhenti bekerja. Pada umumnya jika karyawan resign, atau pensiun, maka asuransi jiwanya secara otomatis akan terputus. Oleh karena itu; perlu dipertimbangkan untuk membeli asuransi jiwa sendiri. Kecuali jika kita berencana untuk bekerja terus sebagai profesional. Tetapi, perlu dipertimbangkan juga, jika kita pensiun, apakah perlindungan itu bisa dibawa pergi sebagai paket pensiun atau tidak.

    Kedua, jika perusahaan telah menyediakan asuransi jiwa yang bisa kita kelola sendiri (bisa dibawa pergi dan dilanjutkan sendiri) maka mungkin sudah waktunya untuk melakukan perencanaan keuangan atau biaya sekolah anak-anak dimasa depan. Memang ada orang yang lebih suka menabung setiap bulan di bank, dan tidak diambil-ambil. Tidak masalah jika kita bisa berdisiplin demikian. Tetapi, jika tidak, mungkin asuransi pendidikan bisa menjadi jalan keluarnya. Selain dari itu, asuransi pendidikan mempunyai kelebihan dari sisi perlindungan, yang tidak dimiliki oleh tabungan pendidikan. Prinsipnya; jika terjadi ’sesuatu’ pada diri kita, maka anak-anak kita akan tetap mendapatkan jaminan pembiayaan pendidikan sesuai dengan yang kita rencanakan.

    Ketika istri saya bilang ingin menjadi agen asuransi, saya langsung setuju. Saya mendukung penuh karena saya memandang bahwa agen asuransi itu bukan sekedar sebuah pekerjaan, melainkan; sebuah kesempatan untuk menolong orang dalam kesusahan. Justru disaat nasabah menghadapi masa-masa sulitlah seorang agen asuransi dituntut untuk mampu mengulurkan tangan, dan memastikan bahwa mereka mendapatkan nilai ekonomi seperti yang direncanakannya pada saat pembukaan polis.

    Sekalipun kita tidak berminat untuk membeli polis asuransi. Kita tidak perlu sungkan untuk berkonsultasi dengan agen asuransi. Tidak ada ruginya jika kita memahami mekanisme perencanaan keuangan model ini. Paling tidak, kita bisa membandingkannya dengan strategy perencanaan keuangan yang saat ini kita jalankan. Dimana agen asuransi bisa ditemui? Disekitar kita pasti ada agen asuransi. Meskipun kita tidak membeli polis asuransi dari mereka, biasanya mereka akan dengan senang hati membantu kita untuk mendesain rencana keuangan jangka panjang kita. Artinya, kita bisa mendapatkan konsultasi gratis tentang perencanaan keuangan kita. Lumayan, kan? Bisa juga menghubungi perusahaan asuransi lewat internet. Tidak susahlah kalau kita mau mencarinya.

    Hore,
    Hari Baru!

    Catatan kaki:

    1. Asuransi bukanlah satu-satunya model perencanaan keuangan jangka panjang yang bisa kita gunakan. Tapi, tidak ada ruginya kan kalau kita tahu tentang asuransi?
    2. Jika anda nasabah Tabungan Pendidikan di bank, coba tanyakan kepada bank anda, apakah mereka mempunyai unsur perlindungan juga. Sekarang, sudah banyak bank yang memberikan perlindungan serupa. Jadi, anda bisa mendapatkan perlindungan itu tanpa harus berpindah dari bank pengelola tabungan pendidikan anda ke pengelola jasa keuangan lainnya.
    3. Saat ini, asuransi sudah banyak yang dikombinasikan dengan investasi. Jadi, anda akan mendapatkan benefit perlindungan, sekaligus melihat porsi uang yang anda bayarkan sebagai tabungan atau investasi yang terus bertumbuh dan berkembang.

  • Ingin Menjadi Pemimpin?

    Ingin Menjadi Pemimpin?

    Mungkin, nama Christopher Morley tidak terlalu familiar ditelinga anda. Tetapi, setiap orang bisa belajar dari apa yang pernah dikatakannya : “The fellow who doesn’t need the boss, is often selected to be one”. Seseorang yang sanggup melakukan tugas-tugasnya, sekalipun tidak ada atasan yang mengawasi dan menunjukinya, seringkali adalah orang yang menjadi boss besar dikemudian hari.

    Seorang pemimpin pasti bukan orang yang melakukan tugas dengan baik hanya jika ada orang yang mengawasinya, atau atasan yang setiap saat harus menunjukinya tentang ini dan itu. Seorang pemimpin, – seperti kata Christopher Morley tadi – tidak membutuhkan orang lain untuk memacu kinerjanya secara konsisten dan produktif. Seorang pemimpin adalah orang yang sanggup untuk tetap bertengger pada puncak kinerjanya; entah ada orang lain yang menyuruhnya untuk melakukan itu, atau tidak. Morley juga mengisyaratkan bahwa kepemimpinan adalah sebuah sikap yang sangat pribadi. Karena, tak seorangpun mampu menumbuhkan sikap ini didalam diri seseorang, selain orang itu sendiri.

    Apakah “pemimpin” menduduki jabatan penting dikantornya? CEO itu jabatan penting. Middle Management penting. Tetapi, mereka tidak bisa berbuat apa-apa tanpa staf yang melaksanakan konsep bisnisnya. Jadi, kepemimpinan tidak berhubungan langsung dengan jabatan. Ada sebuah cara sederhana, untuk mengukur apakah anda berbakat untuk menjadi pemimpin atau tidak. Tanyakan pada diri anda; Apakah atasan anda terbantu atau terbebani oleh anda ? Apakah kelompok anda terangkat atau terpuruk karena anda? Apakah, sesuatu menjadi lebih baik atau lebih buruk ditangan anda? Apakah anda ‘sekedar’ bekerja atau melengkapinya dengan nilai-nilai keutamaan. et cetera.

    Apakah “kepemimpinan” muncul dengan sendirinya? Sama sekali tidak. Anda harus menanam benihnya terlebih dahulu. Dan menyiraminya setiap hari. Anda perlu berlatih untuk mematangkannya. Anda perlu bereksperimen untuk mengetahui mana yang positif dan mana yang hanya membuang sumberdaya saja; alias sekedar indah & nikmat melakukannya, tetapi tidak memberi anda manfaat dan nilai tambah apa-apa. Pendek kata: Anda perlu menciptakannya sendiri.

    Setiap orang memiliki kesempatan untuk itu, tetapi hanya sedikit saja yang mau memanfaatkannya. Dan kalau saja anda membutuhkan tempat latihan untuk itu; anda tidak usah mencari ketempat manapun didunia ini, kecuali pada tempat dimana saat ini anda berada. Pikirkan, apa yang bisa anda lakukan untuk memberikan sebuah perbedaan positif disana. Lalu lakukanlah. Anda tidak perlu takut, sebab sekalipun mungkin pada awalnya anda gagal; setiap kegagalan yang terjadi, akan membuahkan pelajaran berharga. Dan membantu anda untuk tumbuh dan berkembang, hingga akhirnya anda memiliki kualitas kepemimpinan yang tinggi itu. Dijamin.

    Hore
    Hari Baru!

    Catatan kaki:

    1. Kita sering terjebak pada jabatan. Jabatan sama sekali tidak menujukkan kualitas kepemimpinan seseorang. Banyak orang dengan jabatan tinggi, tetapi tidak memiliki kualitas kepemimpinan yang memadai. Tetapi, kita bisa menemukan orang-orang yang tidak menyandang jabatan tinggi; akan tetapi, orang-orang disekitarnya tidak meragukan kualitas kepemimpinannya.
    2. Banyak orang yang menunggu dipromosikan terlebih dahulu, baru kemudian menunjukkan kualitas kepemimpinannya. Sebuah kekeliruan besar. Justru ketika anda tidak memegang jabatanlah saat terbaik bagi anda untuk menunjukkan siapa pemimpin yang sesungguhnya.

    Hegemoni Kartu Kredit

    Saya termasuk orang yang telat berhubungan dengan kartu kredit. Diawal karir profesional saya sebagai salesman, memang saya sudah mulai dikenalkan dengan uang plastik itu. Perkenalan secara tidak langsung, sih… Di jaman itu, rekan-rekan saya yang juga salesman sudah pada mempunyai kartu kredit. Bukan cuma satu, melainkan tiga atau lebih. Surprise juga, kalau pegawai di level kami bisa mendapatkan kartu kredit sebanyak itu. Padahal, menurut perhitungan saya, paling banter kami hanya akan bisa mendapatkan satu kartu kredit dengan credit limit yang pasti tidak seberapa.

    Itu didasarkan kepada perhitungan saya atas kemampu-bayaran orang-orang dengan pendapatan sangat terbatas. Seperti saya, tentu saja. Tetapi, rupanya memang gampang untuk mendapatkan kartu kredit dari bang, eh, bank. Bahkan, di radio, saya pernah mendengar seseorang yang suaranya cukup berpengaruh menjelaskan tentang tips dan trik agar kita bisa mendapatkan approval kartu kredit dari beberapa bank sekaligus. Dan melalui internet kita bisa menemukan tips-tips jitu untuk membuat bank percaya bahwa kita adalah calon nasabah mereka yang potensial.

    Apakah itu berarti seseorang mengelabui bank? Wah, pertanyaan yang untuk menjawabnya nggak gampang. Jika seseorang berpenghasilan 2 juta, kemudian mengaku 5 juta; itu tentu saja termasuk mengelabui. Memalsukan data. Tetapi, jika data penghasilan 2 juta itu kita sebar kepada 5 bank, misalnya. Dan setiap bank menyetujui pengajuan kartu kredit kita; maka penghasilan kita seolah-olah menjadi 2 juta, dikali 5 proposal. Sama dengan 10 juta. Gak ngibul, kan? Canggih. Lagipula, coba kita lihat; sekarang bank pun begitu haus berburu nasabah. Bahkan, diantara mereka ada yang terang-terangan menyuruh nasabahnya pindah bank. “Pindahkan saldo kartu kredit anda, dan nikmati bunga nol persen selama 1 tahun.” Perang antar gang? Atau antar bank? You tell me.

    Anda yang rajin gesek kartu di supermarket, tentu sudah faham; bagaimana representatif bank nongkrong didepan kasir. Setiap kali mereka melihat anda menggesek kartu, mereka segera mengerubuti anda; dan merayu anda untuk memiliki kartu dari bank itu juga. “Kami beri limit kredit yang lebih tinggi Pak.” katanya. “Tidak perlu slip gaji. Cukup fotokopi KTP, dan struk belanja; langsung kami setujui.” lanjutnya. Ajaib sekali, anda hanya menunggu 10 sampai 15 menit; kartu kredit baru, dengan limit yang lebih tinggi, sudah bersemayam tentram didalam dompet anda.

    Saya pernah bertemu seseorang dengan deretan kartu kredit yang – ya ampuuuun – banyak banget dalam dompetnya. Dan hebatnya, semuanya masih aktif. Saya heran; seberapa banyak teman ini membelanjakan uangnya? Dan jika sebanyak itu belanjanya; seberapa kuat dia membayarnya. Dan jika sekuat itu daya bayarnya; pertanyaan saya selanjutnya (tentu saja tetap dalam hati); berapa ya gajinya? Pasti gede banget. Ya harus gede bangetlah. Jika tidak, maka dia akan menjadi penumpuk utang kartu kredit. Sebaliknya, jika teman ini bisa mengelola belanjanya, maka itu artinya dia tidak membutuhkan kartu kredit sebanyak itu.

    Jika kita mengasumsikan pada tahun pertama setiap kartu tidak memungut annual fee, maka pada tahun kedua, setiap kartu itu meminum antara 150 hingga 300 ribu rupiah dari dompetnya. Jika tidak dipakai? Wah, sayang sekali. Dikali 10 kartu; bisa melayang 3 juta sendiri dalam satu tahun. Uang banyak ya? Banyak; untuk ukuran saya.

    Pada kesempatan lain, seorang teman berterus terang kepada saya bahwa dia tengah menghadapi masalah dengan debt collector kartu kredit. Jika anda belum pernah berurusan dengan mereka, anda tidak bisa membayangkan betapa mencekamnya itu. Salah debt collector? Tidak. Mereka hanya menjalankan tugasnya, sebaik yang mereka bisa. Jika tidak, mereka tidak mendapatkan gaji untuk menghidupi keluarganya. Jadi siapa yang layak disalahkan? Bank penerbit kartu kredit? Atau orang yang senang mengoleksi kartu kredit? Silakan tentukan sendiri.

    Beberapa waktu lalu, saya mencoba memikirkan struktur belanja keuangan saya. Dan salah satu hal yang saya temukan adalah; tenyata, di dalam dompet saya sudah ada 3 kartu kredit. Yang satu disediakan oleh kantor. Jadi yang ini aman, karena digunakan hanya untuk urusan kantor. Yang 2 lagi? Punya pribadi. Nah. Inilah sumber pertanyaan saya; apakah saya membutuhkan 2 kartu kredit pribadi? Jika ya; seberapa besar urgensinya? Seperti yang bisa anda kira, akhirnya saya sampai pada sebuah kesimpulan bahwa; salah satu dari dua kartu itu harus dibebas-tugaskan.

    Tahukah anda, apa respon bank ketika saya menyatakan keinginan untuk menutup kartu yang satu itu? Don’t ask me. Tetapi, puji tuhan, saya diberi kekuatan untuk istikomah bin konsisten. Kartu itu akhirnya dieksekusi oleh gunting guillotine. Dan saya terbebas dari kewajiban membayar iuran tahunan sebesar 300 ribu rupiah. Selain itu, saya terbebas dari 2 biaya lain; pertama, biaya pembayaran atau transfer minimal senilai Rp. 7,500 per transfer. Kedua, biaya materai tanda lunas seharga Rp. 6,000 per pembayaran.

    Beberapa saat setelah peristiwa itu, saya coba mencermati; apakah saya menderita setelah menggunting salah satu kartu kredit itu? Ternyata tidak. Hidup saya normal-normal saja, tuch. Dengan jumlah dan penggunaan kartu kredit yang sewajarnya, saya merasa hidup menjadi lebih baik. Apakah anda merasakan hal yang sama?

    Hore,

    Hari Baru!

    Catatan kaki:

    1. Terimakasih kepada orang cerdas yang mempunyai gagasan menerbitkan kartu kredit. Saya sangat terbantu dalam melakukan banyak hal.
    2. Terimakasih kepada bank yang mempercayai saya untuk menjadi nasabah kartu kredit. Tetapi, mohon maaf jika saya memutuskan untuk membayar setiap tagihan sesuai dengan tanggal jatuh tempo sehingga anda tidak mendapatkan tambahan bunga atas belanja saya.
    3. Jika saya bertekad untuk membayar setiap tagihan tepat waktu, itu bukan karena uang saya melimpah ruah, melainkan karena saya hanya menggesek kartu sesuai dengan kemampu-bayaran yang saya miliki. Jika anda punya uang banyak sekali, jangan ragu untuk belanja sebanyak yang anda suka. Jika uang anda terbatas seperti saya; mungkin cara ini cocok juga buat anda.

    Membentuk Takdirmu Sendiri

    Salah satu episode yang menarik dari serial Aang-Sang Avatar adalah ketika mereka mengunjungi sebuah desa kecil dimana Bibi Wu - sang peramal - tinggal. Desa yang terletak dikaki sebuah gunung berapi. Setiap orang didesa itu percaya apa yang dikatakan Bibi Wu. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, hari ini Bibi Wu mesti meramalkan kehidupan dan nasib desa dalam satu tahun kedepan. Semua orang seisi kampung berkumpul di balairung yang terletak dilereng gunung.

    Bibi Wu bilang: ”Tahun ini panen akan sukses besar.” Semua petani bersorak-sorai. Berpelukan. Dan berlompatan.
    ”Ini akan menjadi tahun yang bagus bagi si kembar.” Lanjutnya. Orang-orang kembar kegirangan.

    Lalu Bibi Wu menatap awan yang menyelaputi gunung berapi. Dahinya mengernyit, kemudian bilang:”Tahun ini desa tidak akan hancur oleh letusan gunung berapi.” Warga desa bersorak gembira. Gunung berapi tidak meletus, pikir mereka.

    Untuk sebuah alasan percintaannya, Aang menaiki puncak gunung. Untuk mengambil sekuntum bunga lili yang sangat langka. Bunga yang hanya tumbuh dipuncak gunung berapi itu. Saka menemani Aang melakukannya. Namun, ketika mereka sampai ke puncak gunung dimana mulut kawah itu berada; mereka terkejut mendapati lahar panas siap dimuntahkan kapan saja. Gunung berapi itu segera akan meletus.

    ”Bibi Wu salah!” kata Aang dalam keterkejutannya. Gunung akan meletus. Warga desa harus segera diungsikan. Lalu, bersama Katara dan Saka, Aang menghimpun para lelaki dewasa di desa untuk membuat parit besar dan bendungan agar lahar tidak membanjiri perkampungan. Dan ketika gunung itu meletus, desa terbebas dari kerusakan. Warga desa semuanya berbahagia.

    Ketika hendak berpisah, Bibi Wu menatap Aang, dan tersenyum penuh arti. Lalu, Aang mendekat kepadanya: ”Saat kau meramalku,” katanya, ”kau tidak mengatakan yang sebenarnya; melainkan apa yang ingin aku dengarkan.” ia melanjutkan.

    Bibi Wu menjawab dengan bijak: ”Akan aku katakan sebuah rahasia kecil kepadamu,” katanya. ”Sama seperti kelak kau akan bisa membentuk awan; kau mempunyai kekuatan untuk membentuk takdirmu sendiri.”

    Anda tahu, bahwa Aang adalah seorang keturunan para pengendali udara. Dan bagi mereka, membentuk awan bagaikan sebuah permainan anak kecil yang mudah dan menyenangkan. Dengan demikian, pesan Bibi Wu begitu terang; ’Kau akan dengan mudah dapat membentuk takdirmu sendiri’.

    Anda bukan pengendali udara seperti Aang. Bukan pengendali air seperti Katara. Bukan pengendali api seperti Pangeran Muda Zhukou. Dan bukan pula si tua nyentrik, sang pengendali tanah. Anda, dan setiap manusia di jaman modern lainnya adalah pengendali udara, pengendali air, pengendali api, dan tanah dalam waktu yang bersamaan. Teknologi memungkinkan anda untuk melakukan semuanya itu. Dengan begitu, anda adalah pengendali diri anda sendiri. Jika anda bisa mengendalikan diri sendiri, maka anda adalah seorang pengendali takdir anda sendiri. Persoalannya adalah; maukah anda mengendalikan takdir anda sendiri, atau menyerahkannya kepada orang lain?

    Kitalah yang bertanggungjawab terhadap takdir kita sendiri. Namun, kebanyakan orang membiarkan pihak lain mengambil alih tanggungjawab itu. Terserah tuan, atau nyonya. Terserah atasan. Terserah teman. Dan terserah keadaan. Maaf, apakah berlebihan jika saya mengatakan bahwa; mungkin anda juga begitu. Saya tahulah…, anda tidak terima pernyataan saya yang terkahir itu. Anda tidak menyerahkan tanggungjawab kepada orang lain. Tentu saja, jika anda kira begitu. Tetapi, mari kita uji; benarkah demikian? Jika anda orang yang rajin bekerja, kemudian atasan anda bilang;”Maaf, kenaikan gajimu tahun ini hanya 1%.” Apa yang akan anda lakukan? Apakah anda akan terus menunjukkan kinerja tinggi anda? Atau anda melakukannya sesuai dengan ’takaran’ yang menurut pendapat anda sesuai dengan tingkat kenaikna gaji dari perusahaan? Jawaban anda akan menentukan apakah kata-kata saya yang anda protes tadi benar atau tidak.

    Dalam situasi yang lain; sebenarnya anda adalah orang yang bersemangat. Tapi, ketika anda menghadapi kesulitan hidup, atau… kena PHK, misalnya. Apa reaksi anda? Anda bangkit berdiri dan terus melangkah maju, atau anda akan terpuruk? Again, jawaban anda akan menentukan benar tidaknya kata-kata saya. Jika itu benar, sudahlah, anda jangan protes lagi. Akui saja. Dan mulai sekarang, berhentilah melemparkan tanggungjawab untuk membentuk takdir anda sendiri kepada orang lain. Ambillah tangungjawab itu; dan seperti Bibi Wu bilang, ’bentuklah takdirmu sendiri’.

    Kalau saya salah? Ya ndak apa-apa, toh. Saya malah senang, kalau saya yang salah. Karena selain itu menunjukkan bahwa teman-teman saya pasti akan baik-baik saja; itu juga mengindikasikan bahwa saya berada ditengah komunitas orang-orang yang berani mengambil tanggungjawab itu. Dan jika saja suatu hari nanti saya membutuhkan seseorang untuk menasihati saya. Memberi saya semangat. Untuk berani mengambil tanggungjawab terhadap diri sendiri. Berdiri tegar kala menghadapi badai kehidupan. Maka, semoga orang itu adalah anda. That’s what friends are for…., bukan begitu?

    Hore,
    Hari Baru!

    Catatan kaki:

    1. Meskipun saya sudah bukan anak-anak lagi, tapi film anak-anak masih jadi favorit saya. (You know; there is a child in every adult’s soul…)
    2. Beberapa orang akan protes, dan bilang; ”Nasib manusia ada ditangan Tuhan!”. Tipikal adu argumen tanpa akhir yang biasa kita dengar. I am out of the ring…
    3. Kalau anda suka tulisan ini, kabari teman-teman dong; biar tune in di Gue-Blog. Hehe, maunya…!
    4. Jangan lupa subscribe, untuk mendapatkan email alert artikel baru
    5. Ada yang mau bikin AFC - ’Avatar Fans Club’?

  • Menelisik Empat Dimensi Kepribadian

    Menelisik Empat Dimensi Kepribadian

    Kita barangkali akan dapat merajut jalinan interaksi yang lebih harmonis dan produktif, jika kita mampu mengenali kepribadian rekan kerja kita dengan lebih baik. Sebab, kita tahu, setiap orang memiliki tipe karakter yang unik. Dalam konteks ini, terdapat empat model kepribadian yang lazim dikenal sebagai DISC – atau singkatan dari : dominance, influence, steadiness, and conscientiousness. Mengenal lebih dalam keempat model ini barangkali akan membantu kita lebih efektif ketika membangun relasi dengan orang lain.

    Dominance Style
    Orang-orang yang masuk dalam model ini adalah mereka yang
    suka mengendalikan lingkungan mereka, serta senang menggerakkan orang-orang di sekitar mereka. Mereka adalah jenis pribadi yang suka to-the-point, tidak bertele-tele. Mereka juga senang mengambil peran penting, pembuat keputusan, problem solver, dan melaksanakan berbagai hal. Mereka cenderung menyukai posisi sebagai leader. Meskipun demikian, ketika menjadi leader, mereka cenderung akan menjadi pemimpin yang otoriter, demanding, dan kurang memiliki kesabaran serta empati pada bawahan.

    Ketika orang-orang dari model ini termotivasi secara negative, mereka dapat menjadi seorang pembangkang (rebels). Mereka juga tipe orang yang cepat menjadi bosan dengan suatu rutinitas. Mereka juga kurang suka dengan detil, karena pada dasarnya mereka cenderung tipe yang suka dengam big-view picture dan visioner. Orang dengan tipe D ini juga adalah orang yang menyukai tantangan dan berani mengambil resiko.

    Untuk menciptakan lingkungan motivasi yang benar pada model kepribadian seperti ini, kita perlu memperhatikan hal berikut:
    • Pesan harus jelas, dan langsung pada pokok pembahasan ketika kita berinteraksi dengan model kepribadian seperti ini.
    • Hindari hal-hal yg terlalu pribadi atau berbicara terlalu banyak yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.
    • Biarkan mereka tahu apa yang anda harapkan dari mereka. Jika anda harus mengarahkan mereka, berikan mereka kesempatan untuk mengambil keputusan dan berada dalam kendali.
    • Terimalah kebutuhan mereka untuk variasi dan perubahan. Jika mungkin, berikan tantangan-tantangan baru, juga kesempatan untuk mengarahkan yang lain.

    Influence Style
    Orang-orang dengan model ini adalah mereka yang suka bergaul dengan orang lain, ekstrovert, dan senang berada pada lingkaran pertemanan yang luas. Mereka benar-benar menikmati berada bersama teman-temannya. Mereka tidak suka menyelesaikan sesuatu atau bekerja sendirian (single fighter). Sebaliknya, mereka lebih suka berhubungan dan bekerja dengan orang-orang daripada sendirian.

    Orang-orang dengan model ini juga memiliki empati yang tinggi terhadap orang lain, dan mudah melibatkan perasaan ketika menjalankan aktivitasnya. Mereka pada dasarnya orang yang penuh optimisme, antusias, dan cenderung memiliki sifat dasar yang riang. Meskipun demikian, mereka bukan orang tepat ketika harus mengerjakan tugas-tugas yang menuntut ketelitian tinggi seperti akuntansi dan keuangan. Pada sisi lain, mereka dapat menjadi best promotor untuk gagasan-gagasan baru.

    Untuk memberikan motivasi bagi mereka, kita bisa melakukan hal-hal berikut:
    • Berikan waktu anda untuk berinteraksi dan mendengarkan aspirasi mereka.
    • Sediakan tugas dimana mereka memiliki kesempatan untuk membangun relasi dan berhubungan dengan orang lain dari beragam latar belakang
    • Berikan bimbingan dan arahan yang jelas – termasuk deadline, sebab tanpa panduan ini mereka sering akan “ngelantur” dan tidak mampu menyelesaikan perkerjaan dengan tepat waktu.

    Steadiness Style
    Orang-orang dalam model ini cenderung introvert, reserve, dan quiet. Mereka adalah orang-orang yang lebih suka melakukan sesuatu secara sistematis, teratur dan bertahap. Mereka juga cendrung menyukai sesuatu yang berjalan dengan konsisten, dapat diprediksi dan lingkungan kerja yang stabil dan harmonis. Orang-orang dalam model ini juga tergolong pribadi yang sabar, dapat diandalkan dan cenderung memiliki loyalitas yang tinggi.

    Pada sisi lain, mereka termasuk golongan yang kurang menyukai perubahan yang radikal dan bersifat mendadak. Juga cenderung terpaku pada sistem yang sudah berjalan; dan karena itu kurang terdorong untuk melakukan inovasi yang bersifat radikal. Ketika mereka mengalami demotivasi, mereka cenderung akan menjadi orang yang kaku, resisten dan kemudian melakukan perlawanan secara pasif.

    Untuk menciptakan iklim yang positif kepada orang-orang dengan model steadiness, kita bisa melakukan hal berikut:
    • Berikan mereka kesempatan untuk bekerja sama dalam tim untuk mencapai hasil yang diinginkan.
    • Berikan arahan-arahan yang spesifik dan sistematis
    • Ketika melakukan perubahan, pastikan dengan prosedur yang sistematis, langkah-demi-langkah dan yakinkan bahwa kekhawatiran dan kecemasan mereka tidak akan terjadi. Mereka butuh rasa aman.
    • Yakinkan mereka bahwa anda telah telah berpikir matang sebelum memutusakan perubahan. Berikan mereka kesempatan atau ruang untuk menyelesaikan masalah jika terjadi secara bertahap.

    Conscientiousness Style
    Orang-orang dalam kategori ini termasuk pribadi yang menekankan akurasi dan ketelitian. Mereka cenderung menyukai sesuatu yang direncanakan dengan matang dan bersifat menyeluruh. Mereka juga cenderung suka dengan pekerjaan yang mengacu pada prosedur dan standar operasi yang baku. Orang-orang dalam kategori ini adalah pemikir yang kritis dan suka melakukan analisa untuk memastikan akurasi.

    Pada sisi lain, karena cenderung terfokus pada keteraturan, pribadi dalam model ini cenderung skeptis terhadap gagasan-gagasan baru yang radikal. Mereka juga agak enggan menerima proses perubahan yang mendadak. Ketika mereka termotivasi secara negative, mereka akan menjadi sinis atau sangat kritis.

    Perlakuan yang optimal untuk orang-orang dalam model ini adalah sebagai berikut:
    • Memberikan tugas dimana terdapat kesempatan bagi mereka untuk mendemonstrasikan keahlian mereka
    • Memberikan tugas yang menuntut akurasi dan ketelitian
    • Memberikan tugas yang membutuhkan perencanaan yang matang dan bersifat komprehensif
    • Ketika memberikan instruksi, harus disertai dengan data dan argumen yang rasional dan disajikan secara sistematis.

    Demikianlah peta empat model kepribadian yang dapat kita eksplorasi. Dengan mengenali tipe kepribadian mitra/rekan kerja Anda, diharapkan Anda bisa membangun hubungan interpersonal yang lebih produktif nan lestari.

  • Apa Sih Kunci Buat Membangun Great Company?

    Apa Sih Kunci Buat Membangun Great Company?

    Apa sebenarnya faktor-faktor kunci penentu untuk membangun suatu great company, atau perusahaan yang unggul? Faktor-faktor yang telah membuat perusahaan unggul semacam Intel, Samsung, Nokia, dan Singapore Airline (yang gambar pramugari dan interior pesawatnya bisa Anda lihat disamping) terus menerus berada dalam ranah kejayaan? Pertanyaan ini tampaknya menjadi kian penting terutama ketika intensitas kompetisi bisnis berlangsung dengan makin kencang. Tanpa kesadaran akan faktor-faktor kunci penentu keberhasilan (key success factors), maka suatu perusahaan boleh jadi akan gagap mengelola dirinya, untuk kemudian terkapar mati ditelan arus perubahan zaman.

    Dalam konteks inilah, hasil sebuah riset yang pernah dilakukan oleh Ernst and Young menjadi punya makna. Riset ini pada dasarnya ingin mengetahui faktor-faktor apa saja yang menjadi penentu kejayaan sebuah perusahaan. Berdasar serangkaian riset dan kuesionar yang dilakukan terhadap ribuan eksekutif bisnis, maka terungkap sejumlah faktor penting penentu keberhasilan bisnis. Dan lima faktor yang dianggap paling penting adalah : 1) eksekusi strategi perusahaan, kemudian diikuti dengan 2) faktor kredibilitas manajemen, 3) faktor mutu strategi korporasi, 4) level inovasi dan 5) kemampuan untuk merekrut dan mempertahankan barisan SDM yang unggul.

    Mari kita coba diskusikan masing-masing faktor dengan dimulai dari faktor kelima, yang berkaitan dengan perekrutan karyawan-karyawati yang potensial. Faktor ini dalam kenyataannya telah menjadi salah satu elemen vitas bagi kegemilangan gerakk sebuah perusahaan. Kehebatan Microsoft atau Citibank misalnya, amat ditentukan oleh kemampuan mereka untuk merektur the best people from top universities. Faktor ini menjadi makin penting karena proses perekrutan sesungguhnya adalah filter pertama yang kelak akan menentukan bagus tidaknya barisan SDM yang bekerja dalam suatu perusahaan. Begitu Anda salah dalam merekrut orang, maka rentetan dampaknya akan panjang – dan semuanya akan berujung pada kegagalan membangun organisasi yang unggul.

    Faktor berikutnya berkaitan dengan kemampuan organisasi tersebut untuk melakukan inovasi. Kini, ketika siklus produk makin pendek, maka setiap perusahaan makin dituntut untuk selalu inovatif. Selain itu, pesaing yang kian agresif dan para pelanggan yang makin cerdas hanya bisa dikelola dengan jitu jika perusahaan tersebut selalu mampu memberikan respon yang inovatif. Tanpa kemahiran untuk berinovasi, suatu perusahaan –sebesar apapun – niscaya akan mati perlahan-lahan.

    Faktor selanjutnya yang juga penting adalah kemampuan perusahaan tersebut untuk merumuskan arah strategi yang ingin dicapai dalam masa depan. Perumusan strategi yang tepat dan adaptif terhadap perubahan zaman menjadi penting jika perusahaan itu tidak ingin ketinggalan kereta. Kini misalnya kita melihat perubahan strategi yang banyak dilakukan oleh bank-bank nasional – yang kini beramai-ramai lebih fokus pada nasabah retail, dan tidak lagi bertumpu pada pelanggan korporasi. Tentu saja, modifikasi strategi ini didorong oleh kenyataan bahwa sektor ritel (serta usaha kecil dan menengah) ternyata lebih kokoh dalam menghadapi krisis ekonomi.

    Faktor kritikal ketiga adalah kredibiltas jajaran manajemen. Hal ini bermakna bahwa keberhasilan sebuah organisasi bisnis amat ditentukan oleh sejauh mana mutu dan kapabilitas jajaran manajemennya, terutama yang berada pada top level management. Dari sejarah kita menyaksikan begitu banyak kisah keberhasilan perusahaan lantaran dikelola oleh para eksekutif bisnis yang visioner, mumpuni dan kapabel. Sebaliknya pula, kita amat kerap menyaksikan perusahaan yang terpelanting jatuh dan pingsan lantaran dikelola oleh para petinggi bisnis yang mutunya pas-pasan.

    Pada akhirnya, faktor yang dianggap paling penting dalam menentukan keberhasilan perusahaan adalah sejauh mana perusahaan itu mampu mengimplementasikan strategi yang telah dirancangnya. Disinilah, kekompakan dari segenap jajaran manajemen, dukungan sistem organisasi yang solid, serta kerja keras dari semua karyawan menjadi kata kunci agar strategi bisnis benar-benar dapat diaplikasikan secara nyata. Eksekusi strategi yang jitu dengan kata lain, akan menentukan nasib sebuah perusahaan : apakah ia layak dicatat dalam sejarah, atau sekedar hadir sebagai penggembira untuk kemudian lenyap ditelan angin.

    Drama tentang Revolusi Nokia

    Judul Buku: The Nokia Revolution : The Story of An Extraordinary Company that Transformed an Industry. Penulis : Dan Steinbock.

    Di suatu pagi yang cerah pada tahun 1865 – atau sekitar 140 tahun silam, sebuah perusahaan kecil didirikan dipinggiran sebuah kota, di negeri Finlandia. Selama puluhan dekade, perusahaan yang diberi nama Nokia itu menekuni bisnis utamanya dibidang……perkebunan karet. Ya, barangkali kita tidak pernah menyangka bahwa Nokia – yang kini telah menjelma menjadi ikon global – pada mulanya hanyalah sebuah perusahaan kecil yang bergerak dibidang perkaretan, sebuah bidang usaha yang sama sekali tidak eksotis.

    Namun sejarah kemudian telah menjadi saksi : betapa sejak awal tahun 80-an, Nokia telah mentransformasikan dirinya menjadi raksasa dunia dalam bidang telekomunikasi. Dan di segenap penjuru langit, aneka produk ponselnya yang penuh pilihan telah digenggam jutaan manusia : mulai dari kaum eksekutif berdasi hingga penjual mi tek-tek, mulai dari ibu-ibu pejabat yang parlente hingga pembantu rumah tangga kita. Di negeri ini, produk smart phone-nya telah menjadi simbol status, sementara beragam serinya merajai kios-kios di ITC Roxy. Nokia pendeknya telah menjadi dewa dalam blantika pasar ponsel – bukan saja di republik ini, namun juga di pasar global.

    nokiarevolution4.jpg Buku yang amat memikat ini bercerita tentang proses sejarah transformasi itu: bagaimana dalam kurun waktu 140 tahun kelahirannya, Nokia telah menciptakan serangkaian jejak dramatis yang mengukuhkan dirinya sebagai penguasa global. Mulai dari drama keputusannya untuk menutup bisnis perkebunan dan beralih ke bisnis ponsel; pertarungannya yang brutal dengan Motorola pada era tahun 90-an; hingga peta strategi dan inovasi masa depan yang diraciknya guna menahan gempuran Sonny-Erricson, Samsung dan Apple yang setiap saat bisa merebut singgasananya.

    Buku ini dibagi menjadi tiga bagian utama. Pada bagian pertama dikisahkan mengenai sejarah kehidupan Nokia sejak masa-masa awal kelahirannya. Pada bagian kedua diuraikan mengenai kreasi dan evolusi strategi global Nokia. Dalam bagian inilah dikisahkan betapa titik krusial Nokia terjadi pada era tahun 80 hingga era 90-an, ketika mereka bertekad untuk menjadi penguasa ponsel berteknologi digital (menggantikan model analog yang saat itu masih amat dominan). Disini Nokia beruntung karena memiliki sang CEO legendaris bernama Kari Kairamo, seorang visioner yang memimpin proses transformasi fundamental Nokia (tragisnya pada tahun 1988 Kairamo mati dengan cara bunuh diri!). Kepemimpinan Nokia diteruskan oleh penggantinya yang juga tak kalah visioner, Jorma Ollila, dan kemudian diteruskan oleh Olli-Pekka Kallasvuoa (duh, nama orang Finlandia memang unik-unik…).

    Pada bagian ketiga dinarasikan mengenai peta strategi dan inovasi masa depan Nokia. Disinilah, Nokia bertekad menguasai the next big thing yakni : mobile internet, communication and entertainment device. Nokia menganggap bahwa kedepan ponsel tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat telepon, namun juga menjadi seperangkat digital yang lengkap : mulai dari piranti kamera dengan mutu sempurna, games interaktif dengan resolusi tinggi, hingga menjadi tv mobile yang penuh pilihan. Hanya saja disini, Nokia akan menghadapi pertarungan sesungguhnya yang berdarah-darah. Sebab bukan saja ia mesti bertarung dengan musuh tradisionalnya seperti Motorala dan Samsung serta Sony, tapi juga sang raksasa Microsoft dan sang inovator, Apple.

    Dari buku ini kita juga melihat bahwa ada tiga elemen kunci yang mampu membuat Nokia menjadi pemimpin. Yang pertama adalah “global focus” atau sejumput strategi yang diberangkatkan dari sebuah pemahaman yang brilian mengenai dinamika persaingan ponsel global. Elemen kedua adalah apa yang disebut sebagai “strategic market-making” atau sebuah visi yang tajam untuk mendeteksi setiap detak perubahan dalam peta teknologi selular yang amat dinamis dan berubah-ubah. Ditengah perubahan selera pasar yang variatif, Nokia terlihat selalu mampu memberikan respon antisipatif yang jitu.

    Dan elemen terakhir adalah strategi Nokia yang bertajuk “focus on people”. Nokia selalu memperlakukan pengelolaan SDM-nya sebagai isu strategik, dan bukan sekedar pengelola administrasi belaka. Secara berkesinambungan, Nokia selalu berikhtiar untuk membangun respek pada karyawan, membangun iklim dan kultur “learning” dimana setiap karyawannya didorong untuk saling bertukar informasi dan gagasan-gasasan inovatif.

    Melihat reputasinya selama ini, barangkali Nokia akan tetap menjadi pemimpin dalam dinamika pasar ponsel global. Dan dengan itu pula, Nokia akan tetap menjadi pahlawan sejati bagi rakyat Finlandia. Dibalik tampilan aneka produknya yang cantik dan menyenangkan, Nokia memang telah menciptakan sebuah revolusi dalam sejarah peradaban umat manusia.

  • Merawat Kemampuan Kreativitas Otak

    :crazy:

    Sulit mengeluarkan ide segar saat meeting?:?:

    Sukar mencari cara terefisien melakukan pekerjaan Anda?:??:

    Tidak mampu melihat cara lain dari penyelesaian masalah praktis?:lalala:

    Keadaan di atas boleh jadi merupakan tanda-tanda benak Anda membutuhkan `makanan baru'. Rutinitas pekerjaan, tekanan produksi dan tenggat waktu yang ketat seringkali membuat kita melupakan kesempatan me-recharge baterai alami sekaligus prosesor komputer tercanggih yang kita miliki: Otak.

    Kebiasaan beraktivitas, pola makan dan teman-teman gaul Anda, perlu diperiksa lagi agar kecanggihan mesin ajaib di tubuh kita ini dalam keadaan terawat. Kebiasaan lama ibarat jalan tol sepanjang 100 km menuju lokasi tujuan yang dilalui oleh ribuan kendaraan. Namun, aktivitas baru dapat dianalogikan dengan jalan setapak sangat mungkin berjarak 50 km ke lokasi yang Anda tuju. Jadi mendengar musik yang itu-itu saja dan membaca surat kabar yang sama setiap hari membuat Anda merasa jalan tol ini adalah rute paling `dekat' menuju tujuan Anda.

    Berikut ini beberapa tips yang dapat membuat Anda lebih cepat membangun dan menemukan `jalan setapak' baru yang lebih singkat:

    1. Baca majalah/ surat kabar / buku dengan topik yang belum pernah Anda kenali sebelumnya. Informasi yang sama sekali baru, adalah bahan bakar dari proses kreatif Anda.
    2. Ikuti kelas-kelas keterampilan baru, seperti: kursus fotografi, keterampilan menulis kreatif, kursus mematung, kursus menggambar atau kursus menari India. Aktivitas motorik yang sama sekali baru dapat memberi perspektif baru dalam kegiatan sehari-hari yang Anda jalani.
    3. Hasilkan sesuatu: artikel, tulisan, gambar, sketsa dan lukisan. Anda dapat juga membuat coretan berupa simbol-simbol dari alur pekerjaan Anda. Coretan berupa simbol dapat membantu Anda berpikir secara simbolis dan visual. Bila Anda terbiasa berpikir dengan kata-kata, berpikir dengan gambar, akan memudahkan lahirnya ide baru. Perasaan produktif juga dapat memacu Anda untuk menghasilkan hal lain lagi.
    4. Lakukan Olahraga ritmis dan bersifat aerobik secara teratur. Berenang, jogging dan jalan cepat bermanfaat jika kita sedang tersendat saat berpikir suatu masalah. Aktivitas repetitif semacam ini memudahkan kegiatan berpikir di bawah sadar `meloncat' keluar.
    5. Nikmati musik. Dengarkan lagu-lagu dari jenis musik yang berbeda dari yang biasa Anda dengar. Ingin melakukan aktivitas mental yang lebih rumit? Belajar untuk memainkan instrumen musik baru.
    6. Memasak. Ini serius! Mengolah makanan yang mentah menjadi sajian yang matang dan menggoda dengan seluruh proses prosedur memasak melibatkan seluruh otak Anda. Jika ingin sekalian menikmatinya, jangan lupakan kerang, ikan laut. Makanan berprotein tinggi, adalah amunisi andalan bagi otak Anda.
    7. Bertemu dan bersosialisasi dengan orang baru. Membangun hubungan dengan orang baru menambah persepsi baru tentang hidup dan kehidupan. Pelajari cara orang lain memandang masalah dan menyelesaikannya.
    8. Lalui rute baru di perjalanan Anda. Secara aktif mencari jalur alternatif baru selain menambah peluang menghidari kemacetan juga dapat melatih kemampuan keruangan dan daya ingat.

    Jadi jangan biarkan sel-sel otak Anda diam sehingga lama-kelamaan menyusut. Rawat dan kembangkan kemampuan Anda agar benda ajaib ini dapat berproduksi optimal.

  • MANAGEMENT TIPS FOR Leadership

    MANAGEMENT TIPS

    (Leadership)

    1. Fix the problem, Not the Blame

    It is far more productive, and less expensive, to figure out what to do to fix a problem that has come up than it is to waste time trying to decide who's fault it was.

    2. Tell People what you want, not how to do it

    You will find people more responsive and less defensive if you can give them guidance not instructions. You will also see more initiative, more innovation, and more of an ownership attitude from them develop over time.

    3. Manage the function, not the paperwork

    Remember that your job is to manage a specific function within the company, whatever that may be. There is a lot of paperwork that goes with the job, but don't let that distract you from your real responsibility.

    4. Don't DO anything

    Your job as a manager is to "plan, organize, control and direct." Don't let yourself waste valuable time by falling back on what you did before you became a manager. We know you enjoy it and you are good at it. That's why you were promoted. Now you need to concentrate your efforts on managing, not on "doing".

    5. You never have to make up for a good start

    If a project or a job gets off to a bad start it can be difficult to catch up. Do your planning up front so you get a good start and you won't regret it.

    6. Get out of your office

    Management By Walking Around (MBWA) does work. You make yourself more approachable. You get information first-hand. You find out what's really happening.

    7. Lead by Example

    If you ask your employees to work overtime, be there too. Just because company policy allows it, don't fly first-class if your associates are in coach on the same plane. Be a leader - it's tougher than being a manager, but it's worth it.

    8. Delegate the easy stuff

    The things you do well are the things to delegate. Hold on to those that are challenging and difficult. That is how you will grow.

    9. Don't get caught up in looking good

    "Work happily together. Don't try to act big. Don't try to get into the good graces of important people, but enjoy the company of ordinary folks. And don't think you know it all. Never pay back evil for evil. Do things in such a way that everyone can see you are honest clear through."

    10. Quality is just conformance to requirements

    You get the behavior you critique for, so set your standards and then require conformance to them. Quality will come from that effort, not from slogans, posters, or even threats.

    11. Learn from the mistakes of others

    You can't live long enough to make them all yourself.

    12. Set SMART

    Goals you set for yourself, or others, should be Specific, Measurable, Achieveable, Realistic, and Time-based.

    13. Set an example

    "One of the most significant parts of a manger's job is for them to become a positive role model that can pull a team together and deliver the level of service expected from their customers."

    14. Know your GPM

    In engineering, gpm is gallons per minute, a design criterion. In Management GPM is an acronym for Goals, Plans, and Metrics. To achieve your goals, you must first determine what your Goals are. Then you have to develop a Plan that gets you to your goal. Finally you need Metrics (measurements) to know if you are moving toward your goal according to your plan.

    15. Train your Supervisors

    The key to your business success is the productivity of your employees. The key to employee productivity is their perception of their immediate supervisor. Invest in training your supervisors and managers. It will pay off.

    16. You can't listen with your mouth open

    Your associates, your employees, your suppliers, your customers all have something of value in what they have to say. Listen to the people around you. You will never learn what it is if you drown them out by talking all the time. Remember, the only thing that can come out of your mouth is something you already know. Shut up and learn.

    17. Practice what you preach

    To lead, you have to lead by example. Don't expect your people to work unpaid overtime if you leave early every day. Don't book yourself into a four star hotel on business trips and expect your employees to stay in the motel off the freeway.

    18. Leaders can create change

    If you lead, you will cause changes. Be prepared for them and their impact on people within, and outside, your group. If you are not making changes, you are not leading

    19. Don't limit yourself

    The difference between leaders and managers is that leaders do not set limits on themselves. There are enough people trying to limit what you can do. Don't be one of them.

    20. Anyone can steer the ship in calm waters

    What will set you apart in your career is how you perform during the tough times. Don't become complacent and relax just because things are going well. Plan ahead for the downturn.

    21. You have to make a difference

    The group you manage has to be more effective, more productive with you there than they would be if you were not. If they are as productive without you, there is no business sense in keeping you on the payroll.

    Saying "NO" vs. Offering a Positive Alternative:
    Redirecting Problem Behaviors

    by Connirae Andreas

    When a child does something annoying or destructive, it's easy for parents to get the idea that their children are intentionally trying to be mean, and want to misbehave. Even if this were true, it wouldn't be a very useful way to think about our children.

    Instead, we can think of children as interested in trying out lots of possible behaviors. That's their job. If they are going to grow up to become capable, successful adults, they need to try out lots of behaviors to find out how these behaviors work. "What happens when I do this? What response do I get from my parents? From those around me? From the environment?" By doing many things, some of which we love, and some of which we don't like at all, children find out what works and what doesn't. Rather than trying to stop children from doing things we don't like, or that will be dangerous to our child, it's our job as parents to help channel and direct a child's behavior, showing the child where each behavior will work.

    Example: Darian at 18 months has just discovered the wonders of hammering, and thinks the whole world can be divided up into "hammers" and "hammees." He grabbed a toy clarinet, walked over to me, and gave my leg a pound, looking up gleefully.

    "Darian, don't hit Mommy with your clarinet. You can tap that pillow with your clarinet, though." I show him how he can tap the pillow gently with the toy clarinet.

    This gives the child the message that he is good, and even his behavior is good, it's just a matter of learning the appropriate context in which to use the behavior--when, where, with whom or what. It's not great to hammer people, but it's fine to hammer pillows or wood.

    Without this framework/attitude, children often get the idea that they are wrong or bad. If a child is told that hammering is bad and punished for it, he may stop hammering altogether. Later he may be confused when he is encouraged to hammer nails!

    When parents act as if children should know better ahead of time, children unconsciously begin to expect the same thing of themselves, feeling they were wrong not to have known better. They may even begin to think that any new behavior may be punished, and become timid and fearful of new situations. By making it clear to the child that any behavior is useful in some situations and not useful in others, we can preserve our children's natural curiosity at the same time that we encourage their behavior in appropriate settings.

    Example: Three-year-old Darian was leaning on a kitchen chair, flinging his legs up in the air, and back down again. Mark, 8, was drawing a picture of a peacock on the other side of the table.

    "Don't bump the table, Darian," Mark requested, "I'm drawing a picture."

    Darian continued his leg flinging, ignoring Mark's request. He was obviously having a great time, and not about to stop.

    "Darian, Mark can't draw if you do that next to the table." I repeated. "Would you like to find another place to jump? That chair over there would work. You can jump on that chair if you want to. Or, you can take the kitchen chair and move it over to jump on it."

    Darian decided on the kitchen chair, and began to move it.

    "Oh, can you move that all by yourself?" I exclaimed?

    "Yeah, I can!" Darian's attention was refocused on his pleasure with his own strength. He continued his "jumping" out of range of the table.

    Example: Dana, 7, was sitting in class singing to herself during drawing period. She liked drawing, and was absorbed in her drawing and singing, however the noise was distracting to some of the other children. Mr. Shelton, the teacher, wanted to avoid having all 25 children in the class singing different songs, while being positive toward Dana.

    He moved over to Dana's desk, leaning down to Dana's eye level. "That's beautiful singing, Dana," he observed quietly. "Now is a quiet time for everyone to draw. If you want to, you can sing on the inside while you draw. Do you know how to do that?" Dana looked a bit confused, so Mr. Shelton continued. "Sometimes when I draw, I can hear a song inside my head. I can hear it, but no one else can, because I'm not singing out loud. Sometimes I like to do that, and I think it makes it easier to draw. Do you want to try doing that, and find out if you like it?"

    Dana nodded her head, and smiled. She continued with her drawing, silently. In a few minutes, she forgot about the "inside" singing, and was singing out loud again. A gentle reminder from Mr. Shelton helped her remember again.

    "Remember about the inside singing, Dana?" he asked, smiling.

    "Oh yeah. I forgot."

    "And you can sing out loud during recess, and with all of us during singing class." Several minutes later, as Mr. Shelton was circulating around the classroom, he paused by Dana's desk. Touching her gently on the shoulder, he whispered in her ear, "Thanks for singing on the inside."

    Alternative that wouldn't work:

    Dana is singing while drawing. Mr. Shelton feels annoyed that one of the children is causing trouble again. It's already been a long day. "Dana's always causing problems," he thinks to himself with exasperation. "She'll probably get the whole class going now."

    Out loud, Mr. Shelton comments sharply,"Dana, no singing."

    Dana's face drooped. She felt like she had done something wrong, and felt a little ashamed. Now she didn't feel like singing, so she wasn't a problem anymore during that drawing period. However, Dana's drawing became somehow less lively--more somber.

    Examples with Very Young Children:

    Little children are ready to try out lots of new behaviors, but they know nothing about where and when to do the behavior.

    As a small child, Mark displayed a great amount of persistence in a variety of contexts. When he wanted something, he was often quite persistent in trying to get it. Some children, for example, respond immediately when you say "No," and stop doing the problem behavior without any redirection or "consequences". Not Mark.

    As a parent, I could feel annoyed that my child was "more difficult" than some. Or, I can notice that he has the quality of persistence, and think about how that quality will be useful to him in the future. Persistence will certainly be an important ingredient in his later success in any endeavor he chooses. Already in preschool, his teacher commented on how long he stays with an art or construction project. Rather than looking for the ways in which it could limit him or me, I can look for the ways in which this quality will be useful. Both are true. By looking for how it's useful, I can help Mark channel this trait in a useful direction.

    Beginning at the age of 1, or younger, changing context has been an important way to get our children to act in ways that are both satisfying and safe for them, and acceptable to us.

    Example: Mark, at 2, took a big metal serving spoon from the kitchen, and walked over to the window to start banging on the glass with it. If I told Mark "No, you can't do that," I'd be in for a battle. Stopping a behavior is hard, maybe impossible. Instead, I took him in the kitchen to find a wooden spoon, then I took him back in the living room and showed him how to pound on the pillows and the couch with it. Mark just likes to pound. It's as much fun to pound on pillows as on windows--may be more fun, because you can fall on pillows, too. (I made sure I pointed out this advantage to Mark.)

    Each of our children went through phases when they wanted to bite on everything. (Little children do this when they are teething, or just exploring what they can do with their mouths.) Again, this behavior can be diverted. When they tried to bite us, we offered a pillow or a soft plastic toy. "Here Loren, this is to bite on."

    If the child keeps biting you, you may need to do something in addition to giving the child something else to bite. With a one-year-old who is teething, you can give a quick tap on the head to interrupt and stop the biting. If you decide to use this approach, be sure to tap the child immediately, as he is biting, so that it disrupts the biting and he connects the tap with the biting. Saying "Ouch" and jerking also works for the same purpose. If an older child bites, and redirecting doesn't work, you can consider time out, finding the positive purpose, or another method discussed in "Positive Self-Concept: Setting Your Children Up For Success" and " Positive Consequences- -Rewarding Cooperation".

    Some people prefer not to use any slapping at all, and I can certainly respect this decision. My approach is to use as little as possible. With a very small child, a light slap can provide a kinesthetic (feeling) interrupt for behavior. I may even use a small bite, to let the child know the feeling he is creating in another person. I use as little as possible of this, and watch the response of the child to guide me in deciding whether to use this approach. I don't want the child to feel punished, only to stop the biting, and know what it feels like to be on the receiving end of biting.

    Recontextualizing Behavior With Older Children:

    I think of raising children as being constantly on the lookout for positive behaviors to encourage and build on. No matter what a child is doing, there is something positive and useful about it.

    One way to think about this is that every behavior is useful in some context. When your child does something you don't like, or you think is a "bad" behavior, ask yourself, "In what context would this behavior be useful?"

    "I'm glad you know how to imitate so well, Sandy. You'll be able to imitate people who do lots of things well, and learn to do them yourself. Did you know that excellent skiers do that? They watch other really good skiers, and pretend that they're the good skier. You can use that when you want to learn to swim or ski." You can even go farther: "Who else do you want to imitate right now?"

    Even if you don't say this out loud to your child, having this idea in your mind makes the obnoxious behaviors your child will inevitably bring home more tolerable. And by responding calmly to them, these behaviors won't last as long, either.

    ------------ --------- --------- --------- --------- --------- -------

    Outline: Redirecting Behavior

    1. Think of some annoying or problem behavior that your child does.
    Jennica imitates a snotty girl in her class.

    2. Ask yourself, "In what context would this behavior be useful?" When, where, and under what circumstances would you be delighted, or at least willing, to have your child do this behavior. Every behavior is useful somewhere.

    I would like Jennica to use her ability to imitate with creative or talented individuals.

    3. Plan how to tell your child when and where this behavior will be useful, encouraging him to do it there.

    "You're sure good at imitating, Jennica. That sounds exactly like Erica. Did you know that imitating is a very important thing to know how to do?"

    (No)

    "Yeah, that's how many talented people become so talented. Good musicians usually get their start by matching the sound of someone they admire. (Jenica is interested in music) And even babies learn to talk to imitating. That's how you learned to talk."

Footer:

The content of this website belongs to a private person, blog.co.uk is not responsible for the content of this website.