SEJAK revolusi industri bergulir, pendidikan manusia telah dibatasi ruang-ruang bisu yang diberi nama sekolah. Ilmu yang diberikan pun telah dibatasi hanya untuk kepentingan dunia industri. Potensi manusia kian dikekang dengan munculnya kurikulum yang menilai prestasi hanya lewat angka-angka. Itulah sejarah munculnya sekolah yang selama berabad-abad hingga kini masih dipakai dan diandalkan untuk mendidik manusia.
Namun kini, saat revolusi industri digantikan revolusi informasi; saat belahan dunia yang terpisahkan oleh jarak bukan lagi penghalang bagi setiap orang untuk menjalin komunikasi, berbagi informasi, dan bahkan melakukan aktivitas bisnis; muncul gagasan yang bisa dikatakan paling revolusioner dalam dunia pendidikan. Meski kedengarannya klise, namun inilah konsepnya, home schooling (sekolah di rumah).
Dari mana kita harus memulai?
Komitmen awal amatlah penting. Artinya, dibutuhkan kesepakatan antara ayah dan ibu, bahwa rumah kita memang benar-benar akan dijadikan sekolah; tempat semua anggota keluarga melakukan aktivitas belajar.
Tentu saja komitmen bukanlah sebuah titik yang tidak membuahkan konsekuensi. Dengan komitmen itu justru ayah-dan ibu sebagai manajer program akan dituntut banyak berkorban. Ayah dan ibu harus menekan egonya, memikirkan solusi untuk setiap persoalan yang muncul, dan juga tentu saja harus terus menambah ilmunya.
Seorang ibu yang sudah memiliki komitmen untuk menjadikan rumahnya sebagai sekolah; terpaksa harus tetap tersenyum meski perabotan berserakan karena putri tercinta mengambilnya dari rak dan memakainya sebagai alat bermain. Atau kadangkala ayah dan ibu harus menunda jam tidur siang sang anak, karena ia sedang asyik bermain air. Kesimpulannya, memang perlu kesabaran untuk menjalankan komitmen yang kita buat. Namun bukan hal yang berlebihan jika kita berkata, "Aku Bisa!"
Siap menerima kesalahan
Setiap proses belajar akan memunculkan dua hal, yaitu benar tanpa ilmu dan benar dengan ilmu. Kegiatan belajar diperlukan untuk memproses sesuatu yang tadinya salah karena belum tahu ilmunya, menjadi benar karena sudah tahu ilmunya. Akan tetapi, belajar adalah proses, apa yang terjadi di dalamnya bukanlah akhir. Setiap orang yang belajar akan selalu bertemu dengan salah dan benar itu secara terus-menerus, sesuai dengan kapasitas ilmu yang diperolehnya.
Saat anak kita belum bisa memegang sendok sendiri untuk makan atau juga saat anak kita yang berusia dua tahun masih mengucapkan "bulung" untuk menyebut "burung" mungkinkah kita mengatakannya salah. Padahal, jelas ia tidak tahu apa-apa hingga kita memberitahukannya. Maka dari itu orang tua dianjurkan untuk terus mengatakan kata-kata dengan intonasi dan artikulasi yang jelas kepada anak agar ia terus belajar mengatakannya dengan benar.
Seringkali kita kesal dan bahkan marah karena anak kita tidak mengerti apa yang kita inginkan. Saat kita menginginkan mereka tidak ribut ketika ada tamu, atau saat kita menginginkan mereka makan dengan rapi dan bersih tanpa ceceran makanan di lantai, atau saat kita ingin mereka tak lagi pipis di celana, apa yang kita lakukan? Jika konsep belajar yang kita pegang, kita bisa ambil ucapan John F Kennedy, "What can I do for you?" (Apa yang bisa kuperbuat untukmu?) Karena sesungguhnya anak- kita sedang membutuhkan bantuan agar ia mampu melakukan sesuatu dengan benar.
Mengapa harus marah?
Kalau kita sepakat bahwa kesalahan dalam proses belajar adalah hal yang biasa dan bahkan pasti terjadi, kesalahan tentunya bukanlah masalah besar yang akan menghentikan aktivitas belajar. Dengan kata lain, tidak ada istilah salah ketika kita berada dalam proses belajar. Yang ada hanyalah istilah belum tahu, belum mengerti, atau belum bisa.
Pokok pembicaraan kita ini berkaitan dengan emosi. Ada buku bagus tentang hal ini, berjudul Mengasuh Anak dengan EQ. Orang tua sebagai orang dewasa; dengan ego yang dimilikinya, harus berperang setiap saat agar mampu menghadapi anak-anaknya justru dengan menekan egonya sendiri. Mungkin kita bertanya, mengapa harus kita tekan ego kita atau emosi kita di depan anak-anak kita? Bukankah itu penipuan terhadap mereka dan bahkan terhadap diri sendiri? Saat kita ingin marah lantas kita harus menahannya.
Memang sebuah keunikan terjadi di dunia parenting (keayahbundaan) ini. Kita bisa merujuk kepada penelitian yang sudah dilakukan para ahli di bidang ini selama bertahun-tahun. Mereka mengatakan bahwa anak belajar dengan meniru. Ketika anak-anak melakukan sesuatu, sesungguhnya mereka sedang menunggu pelajaran dari orang tuanya dengan cara melihat reaksi yang dimunculkan oleh orang tuanya.
Ketika anak menumpahkan air di lantai misalnya dan kemudian kita memarahi atau membentaknya, anak akan belajar bahwa jika air ditumpahkan di lantai dia harus marah, dan bahkan membentak dengan gaya bentakan yang sama dengan yang kita lakukan. Dan yang harus diingat, pada tahap awal anak tidak belajar atas maksud apa yang ada di balik reaksi kita, melainkan meniru apa yang bisa dia indrai dengan indra fisik mereka (penglihatan, pendengaran, dan penciuman). Semakin konsisten kita marah atau membentak anak-anak kita untuk setiap kesalahan subjektif yang mereka perbuat, yakinlah mereka pun akan melakukan hal yang sama terhadap orang lain, termasuk terhadap orang tuanya sendiri.
Oleh karena itu, kendatipun orang tua harus marah, marahlah dalam batasan yang wajar dan dianjurkan bagi orang tua untuk menjelaskan kepada anak tentang alasan kita marah. Mungkin anak yang masih sangat muda belum bisa memahaminya dengan cepat, tetapi katakan saja. Karena dengan proses pengulangan yang terjadi, lambat laun ia akan mengerti.
Carilah ilmunya!
Sesekali, karena keterbatasan ilmu kita dalam menghadapi anak mungkin saja kita masih sering kalah dan mengikuti emosi kita ketika menghadapi mereka. Hal itu bisa kita perbaiki dengan cara berburu ilmu. Karena kita harus yakin bahwa setiap hal pasti ada ilmunya, baik yang bersumber dari buku atau dari pengalaman orang lain.
Situasi yang kurang menyenangkan, kadang-kadang terjadi di dalam rumah kita. Hal itu bisa saja menyebabkan emosi kita labil dan bahkan tidak terkendali. Demi kepentingan anak-anak kita, sebaiknya kita terlebih dahulu menetralisasi suasana hati kita sebelum menghadapi mereka. Jangan sampai kerewelan anak yang mungkin muncul secara tiba-tiba, membuat kita akhirnya lupa bahwa rumah kita adalah sekolah-tempat belajar; yang di dalamnya tidak ada kata 'salah' yang berarti pula tidak ada kata 'marah'.
Tentu bukan perkara mudah untuk mempraktikan hal itu. Namun komitmen yang kita pegang akan membuat kesulitan yang kita hadapi bisa teratasi. Kuncinya adalah "belajar". Kita harus memelihara rasa haus untuk menimba ilmu. Jangan biarkan ketidaktahuan bersemayam dan bernaung nyaman di dalam diri kita.
Ciptakan alat belajar
Apa alat-alat belajar itu? Gordon Dryden dan Jeanette Vos (Revolusi Cara Belajar:2001) mengatakan, bahwa semua yang ada di alam ini adalah alat belajar. Jadi jangan batasi alat belajar bagi anak-anak kita dengan bentuk-bentuk yang kaku dan statis sebagaimana yang biasanya ada di sekolah atau di toko-toko mainan anak.
Sendok, bantal, tepung, beras, pasir, dedaunan, ranting pohon, atau apa pun yang ada di dalam dan di sekitar rumah kita bisa dijadikan alat belajar yang menyenangkan dan sekaligus membuahkan manfaat bagi anak-anak kita. Buku Montessori untuk Prasekolah atau Rujak Kreativitas- nya Andi Yudha bisa kita jadikan panduan untuk membantu kita.
Dokter wanita dan juga ahli psikologi dari Italia-Dr. Montessori, telah mencoba dan membuktikan bahwa proses belajar bisa dilakukan tanpa memisahkan anak-anak dari kehidupan keseharian mereka. Kurikulum pendidikan dan pengajaran tidak mesti harus centang perenang dengan aktivitas hidup orang dewasa. Anak-anak bisa memperoleh pelajaran yang banyak dari kegiatan orang dewasa, dengan cara melibatkan mereka dalam kegiatan tersebut; disesuaikan dengan kapasitas mereka.
Dengan konsep Montessori ini, orang tua tidak mesti melarang anak-anaknya di usia dini sekalipun untuk melakukan pekerjaan sehari-hari. ***
*****
Sejak subsidi pendidikan nyaris ditiadakan, efek yang langsung terasa oleh masyarakat, adalah mahalnya biaya sekolah. Terbukanya peluang untuk tumbuhnya pendidikan alternatif seperti homeschooling (HS) adalah kabar baik. Dengan pertimbangan finansial, HS diharapkan bisa mengabaikan unsur-unsur tertentu yang membuat biaya pendidikan menjadi mahal. Biaya gedung, seragam, atau atribut-atribut fisik lainnya dapat ditiadakan. Pemerataan pendidikan pun diharapkan akan berjalan lebih baik.
Sayanganya kini model pendidikan alternatif ini juga mengalami distorsi substansi. Munculnya lembaga-lembaga non sekolah yang membuka layanan belajar berbasis HS dengan biaya yang sangat-sangat mahal membuat HS terkesan ekslusif dan tak mungkin dilakukan oleh mereka yang ekonominya pas-pasan.
Tak Perlu Mahal
Perpindahan tempat belajar dan bervariasinya metode yang digunakan dalam bersekolah di rumah tidaklah berarti akan menambah biaya pendidikan jika seorang homeschooler bisa mengelola fasilitas yang ada di sekelilingnya dengan cermat.
Perpustakaan, museum, toku buku dan barang-barang bekas, perabotan rumah, sawah, kebun, tanaman di halaman, hewan peliharaan, dan lain sebagainya adalah contoh-contoh media belajar yang dapat dimanfaatkan tanpa harus merogoh uang terlalu besar.
Satu dari sekian prinsip yang diusung HS diantaranya adalah menghubungkan pengetahuan dengan dunia nyata, dan hal itu seringkali sangat murah. Anak-anak bisa belajar matematika saat mengeluarkan biscuit dari bungkusnya, bisa belajar bahasa inggris saat membaca petunjuk memasak mie instan, atau belajar biologi saat bermain di halaman; dengan mengamati serangga dan tumbuhan yang hidup bebas.
Informasi yang memang dianggap masih kurang oleh para peminat HS adalah aspek-aspek praktis berupa gambaran kurikulum, selain juga cara mengurus legalitas, supaya anak-anak yang melakukan HS tetap bisa memperoleh ijazah resmi sesuai jenjang pendidikan yang ditempuhnya.
Namun demikian, kalau kita mau sedikit menjelajahi internet, semua informasi itu bisa diperoleh cuma-cuma. Mengakses www.puskur.net akan membantu kita untuk mengetahui standar kurikulum nasional, sehingga kita memiliki gambaran dalam merancang kurikulum bagi anak-anak.
Beberapa panduan belajar dan kurikulum pendukung lainnya juga sebenarnya bisa kita dapatkan murah dan bahkan gratis di internet. Dari sana kita bisa mengambil pengalaman para homeschooler yang sudah lebih dulu menerapkan HS, dan kita kombinasikan dengan sedikit sentuhan kreativitas keluarga masing-masing.
HS akan menjadi sangat mahal jika para homeschooler serba membeli segala perangkat belajar yang semestinya tidak perlu dibeli.
Hindari Dokotomi
Dikotomi yang tajam antara HS dan sekolah formal sangat tidak bermanfaat untuk dikembangkan. Melihat pendidikan dalam skala makro, HS pun bisa menjadi bumerang jika hanya didefinisikan sebagai bersekolah di rumah dan tidak pergi ke sekolah. Salah-salah memberikan penjelasan, apa yang diingat dari HS justru hanyalah "tidak pergi ke sekolah", dan anak-anak malah tidak mau belajar sama sekali di manapun.
HS mungkin masih tampak asing dan eksklusif bagi mereka yang belum mengenalnya terlalu jauh. Padahal kalau kita mau membaca beragam referensi tentang HS, kita akan melihat bahwa sesungguhnya model ini sangat akrab dengan kehidupan kita dan bermanfaat bagi semua orang, termasuk bagi mereka yang akhirnya memilih sekolah formal.
Substansi HS adalah membuat belajar menjadi demikian menyenangkan, mandiri, dan sesuai minat. Tak peduli di mana pun tempatnya, baik di rumah, di pasar, di perpustakaan, ataupun di jalanan, anak-anak bisa belajar sesuatu tanpa harus dibatasi kisi-kisi materi yang mengikat.
Selain itu, prinsip dasar HS yang cukup penting adalah terlibatnya orang tua secara penuh dalam pendidikan anaknya. Sekalipun anak-anak akhirnya masuk sekolah formal, peran orang tua dalam mengelola pendidikan anaknya tidak boleh berhenti.
Meskipun HS murni (bersekolah di rumah) nampak ideal bagi sebagian orang, namun bagi orang tua lain, dengan latar belakang dan pekerjaan yang berbeda HS murni bisa jadi tidak memungkinkan. Pada kondisi inilah sekolah formal atau sekolah alternatif berupa kelas masih tetap dibutuhkan untuk mendidik anak-anak, setidaknya pada sisi koginitif. Sementara itu, menghidupkan etos belajar adalah pe er tersendiri bagi dunia sekolah.
Referensi
Beberapa buku yang membahas tema-tema seputar HS, pembelajaran mandiri, dan sekolah kreatif sudah terbit dalam bahasa Indonesia, seperti Tamasya Belajar (MLC:2005), Revolusi Belajar untuk Anak (Kaifa:2002) , Sekolah Para Juara (Kaifa:2004) , Belajar Tanpa Sekolah (Nuansa:2006) , Totto-Chan (Gramedia:2006) , Revolusi Cara Belajar (Kaifa:2001) , Homeschooling Keluarga Kak Seto (Kaifa:2007) , Ibuku Guruku: Belajar di Rumah dalam Balutan Kearifan dan Kehangatan (MLC:2005), Montessori untuk Sekolah Dasar (Pustaka Delapratasa: 2002), Accelerated Learning (Nuansa:2002) , dan lain-lain.
Membaca buku-buku tersebut, setidaknya akan membantu setiap orang untuk mengenal temuan-temuan terbaru tentang pembelajaran dan mampu melihat HS tak hanya sekedar bersekolah di rumah.
Lebih jauh menelaah HS, akan membuat kita memahami bahwa HS adalah bagian dari tanggung jawab pendidikan yang diemban orang tua. Sekalipun anak-anak kita bersekolah di sekolah formal, tidaklah hilang tanggung jawab orang tua untuk mendidik anak-anak, sehingga mereka menyukai belajar dan menjadi tumbuh positif dengan belajar.
oleh Maya A Pujiati
Denmark Super Series
Berharap Ada Gelar
Setelah hampa gelar juara pada dua turnamen terakhir, PB PBSI tentu mengharap para pemainnya bisa mendapat hasil yang lebih baik pada turnamen Denmark Super Series. Setidaknya satu gelar juara diharapkan bisa dibawa pulang dari kejuaraan berhadiah total 200 ribu dolar yang digelar di Fyn Arena, Odense, 24-28 Oktober.
Pada dua turnamen sebelumnya di Grand Prix Makau (3-7 Oktober) dan Belanda Terbuka (17-21 Oktober), para pemain pelatnas gagal meraih satu pun mahkota juara. Kini, dengan tim penuh, seharusnya pasukan Cipayung itu bisa memperoleh prestasi yang lebih baik.
Peluang untuk meraih gelar juara dinilai ada di tiga nomor, terutama di ganda putra dan campuran lewat juara dunia Markis Kido/Hendra Setiawan dan Nova Widhianto/Lilyana Natsir. Satu nomor lagi yang diharapkan adalah tunggal putra, yang menampilkan trio Taufik Hidayat, Sony Dwi Kuncoro, dan Simon Santoso.
"Peluang saya kira ada di ganda campuran. Kido/Hendra juga punya peluang. Luluk/Alven pun kalau lagi bagus bisa mengalahkan pemain-pemain top," ujar Kabid Binpres PB PBSI, Lius Pongoh.
Hanya, untuk duet Luluk Hadiyanto/Alven Yulianto, menurut Lius akan bisa bermain lebih baik bila Luluk mampu menjaga mentalnya dan komunikasi kedua pemain itu di lapangan juga lebih baik. Soal permainan dinilai tidak masalah.
Begitu juga untuk tunggal putra, sebenarnya tidak ada masalah dengan permainan. Namun, para pemain di semua nomor harus lebih bisa membuat keputusan sendiri di lapangan dan jangan hanya melulu bergantung pada pelatih.
"Tunggal putri peluang tetap berat, sedangkan ganda putri mungkin masih bisa. Sebaiknya pemain memang tak usah diberi beban karena mereka punya tanggung jawab sendiri," tutur Lius.
Belanda Terbuka
Sementara itu dari turnamen Belanda Terbuka di Almere, yang berhadiah total 50 ribu dolar, pekan silam, para wakil pelatnas gagal berbicara banyak. Ardianti Firdasari sudah tersungkur di babak kedua tunggal putri. Ia dikalahkan pemain Rusia, Ekaterina Ananina, 21-17, 17-21, 10-21.
Di ganda putri, Jo Novita/Greysia Polii tersandung di perempatfinal. Mereka menyerah di tangan wakil Singapura, Jiang Yanmei/Li Yujia, 17-21, 6-21.
Justru yang sukses adalah pemain Indonesia yang tampil bukan atas nama pelatnas, tapi mewakili klub. Terbukti dua ganda putra yang mewakili Djarum bertemu di final, yakni Rian Sukmawan/Yonathan Suryadarma mengalahkan Rendra Wijaya/Fran Kurniawan. (Rahayu Widiyarti)
PEMAIN KE DENMARK
--------------------------------------
Tunggal Putra: Taufik Hidayat, Sony Dwi Kuncoro, Simon Santoso Tunggal Putri: Adrianti Firdasari, Mari Kristin Ganda Putra: Markis Kido/Hendra Setiawan, Luluk Hadiyanto/Alven Yulianto, Joko Riyadi/Hendra Gunawan Ganda Putri: Jo Novita/Greysia Polii, Rani Mundiasti/Endang Nursugianti, Vita Marissa/Lilyana Natsir Ganda Campuran: Lilyana/Nova Widhianto, Vita M./Flandy Limpele
HASIL FINAL BELANDA TERBUKA
----------------------------------------------------------
Tunggal putra: Premislaw Wacha (Pol) vs Kendrick Lee (Sin) 22-20, 11-21, 18-21 Tunggal putri: Li Wenyan (Chn) vs Judith Meulendijks 21-18, 21-19 Ganda Putra: Rian Sukmawan/Yonathan Suryadarma 21-13, 21-12 Ganda Putri: Anastasia Rushkikh/Ekaterina Ananina (Rus) vs Nina Vislova/Valeria Sorokina (Rus) 20-22, 21-15, 21-13 Ganda Campuran: Hendra Kurniawan/Li Yujia (Sin) vs Rasmus Bond Nissen/Christina Pedersen (Den) 16-21, 14-21
Master Madrid
Hebatnya Nalbandian
David Nalbandian menemukan lagi keperkasaannya. Pemain Argentina yang tahun lalu sempat mencapai peringkat ke-3 dunia itu ternyata masih bisa disetarakan dengan para pemain terbaik di jagat ini, walaupun rangkingnya sudah melorot ke angka 25.
David Nalbandian, mimpi buruk para pemain top.
Kehebatan Nalbandian diperlihatkan pada turnamen besar Master Madrid di Spanyol, pekan silam. Gelar juara disabet pemuda berusia 25 tahun ini. Hebatnya lagi, dalam perjalanannya ke tangga juara, ia memakan korban tiga peringkat teratas dunia secara beruntun.
Korban pertamanya adalah pemain nomor dua dunia, Rafael Nadal. Bintang tuan rumah ini ditekuk Nalbandian di perempatfinal, Jumat (19/10). Sehari kemudian giliran peringkat tiga dunia asal Serbia, Novak Djokovic, yang menjadi korban pemain yang berultah setiap tahun baru itu.
Puncaknya tentu saja pada final, Minggu (21/10). Korban kali ini adalah pemain terbaik sejagat asal Swiss, Roger Federer. Pemegang 12 mahkota grand slam itu dikalahkan Nalbandian dengan skor 1-6, 6-3, 6-3.
Kemenangan yang sungguh tak terduga mengingat Nalbandian selalu kalah dari sang maestro di delapan pertemuan sebelumnya. Tapi, kemenangan ini juga bukan yang pertama karena pada November 2005 Nalbandian-lah orang yang menggagalkan ambisi Federer untuk menjuarai turnamen tutup tahun Piala Master di Shanghai. Sejak sebelum pertandingan, Federer memang telah mewaspadai Nalbandian, meskipun ia lebih sering menang.
"Kami harus melakukan beberapa pertandingan berat belakangan ini. Dia memang jenis pemain yang saya takuti," ujar Federer, seperti dikutip Reuters.
Nalbandian memang termasuk pemain yang bagus di segala jenis lapangan. Ia pernah juara di lapangan tanah dan keras dan menjadi finalis Wimbledon 2002, yang digelar di lapangan rumput.
Henin Lagi
Bila nasib pemain terbaik putra kurang bagus pada pekan lalu, tidak demikian halnya di putri. Pemain nomor satu putri, Justine Henin, masih terlalu sulit untuk dihentikan pada turnamen Zurich Terbuka di Swiss.
Secara meyakinkan bintang Belgia itu meraih gelar juaranya yang ke-9 di tahun ini dengan menundukkan wakil Prancis, Tatiana Golovin, 6-4, 6-4 di final. Ini adalah ulangan partai final GP Porsche di Jerman, dua minggu silam, juga dengan Henin keluar sebagai pemenang. (yuk/Foto: AFP)
Bojan Krkic
Rekor Pengobat Luka
Kekecewaan yang dirasakan para pemain Barcelona setelah digebuk Villarreal 1-3 di El Madrigal (20/10) sungguh tak tertahankan. Namun, Bojan Krkic punya obat mujarab yang bisa sedikit mengurangi penderitaannya.
Bojan Krkic, pencetak gol termuda Barcelona.
Pada hari yang sama, striker belia Barcelona ini berhasil menorehkan rekor baru dalam sejarah Barca. Ya, Krkic berhasil membukukan gol pertamanya sekaligus menjadi pencetak gol termuda Barca. Tepatnya pada usia 17 tahun satu bulan dan 20 hari.
“Saya sangat senang bisa mencetak gol. Di sisi lain, saya juga kecewa dengan kekalahan yang kami alami,” ucap Krkic seperti dikutip situs Goal.
Krkic berhasil mematahkan rekor yang sebelumnya diukir Lionel Messi. Pemain berkewarganegaraan Argentina itu berhasil mencetak gol perdana bagi Barcelona di usia 17 tahun sepuluh bulan dan tujuh hari dalam pertandingan melawan Albacete pada musim 2004/05.
Sebagai catatan, kini Krkic menempati peringkat ketiga dalam daftar pencetak gol termuda La Liga setelah Xisco (Villarreal), yang membukukan gol di usia 16 tahun 11 bulan dan 18 hari pada tahun 2003, serta Mena (Valencia), yang menyarangkan gol pertama di La Liga ketika berusia 17 tahun satu bulan dan enam hari pada tahun 1941.
Ramalan Eto’o
Melihat aksi gemilang Krkic, rekan setimnya, yaitu Samuel Eto’o, pun tak ragu bahwa anak pesepakbola Serbia yang juga bernama Bojan itu bakal menyaingi prestasi Messi.
“Ada seorang pemain yang terus-menerus membuat saya kagum. Namanya Bojan,” ungkap Eto’o.
“Remaja yang satu ini bisa langsung menjadi pemain nomor satu dan pasti akan bersaing ketat dengan Messi. Saya sendiri sudah tak sabar untuk bisa merumput bersamanya,” imbuh penyerang yang terpaksa absen pada duel melawan Villarreal karena belum seratus persen pulih dari cedera itu.
Walau menerima pujian dari sang senior, Krkic enggan bersikap sombong.
“Messi adalah pesepakbola yang hebat. Saya bisa bekerja sama dengannya,” ucap Krkic. “Sebagai pesepakbola muda, merumput bersama tim yang hebat seperti Barcelona sudah sangat berarti. Saya yakin bisa terus berkembang secara perlahan,” lanjut pesepakbola Spanyol yang berdarah Serbia tersebut. (Wieta Rachmatia/Foto: AFP)


