Berdayakan Aparatur Berantas Korupsi
Binsar Gultom
Berbagai kebijakan pemerintah untuk mengatasi tindak pidana korupsi tampak begitu serius. Terbukti, pemerintah mengeluarkan berbagai peraturan (regulasi), antara lain Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/ 1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, dan UU Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.
Kemudian, Keputusan Presiden Nomor 81 Tahun 1999 tentang Pembentukan Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara (KPKPN), Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2000 tentang Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (TGPTPK), UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dan UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK) lengkap dengan Pengadilan khusus Tindak Pidana Korupsi. Selanjutnya, Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi dan dibentuknya Tim Pemburu Koruptor dan Tim Koordinasi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Timtas Tipikor).
Tetapi, regulasi-regulasi tersebut tidak menjadi jaminan lenyapnya korupsi di Indonesia. Korupsi sudah merajalela dan "menggurita" dalam semua aspek kehidupan. Padahal, untuk bisa memberantas korupsi serta menegakkan hukum sangat diperlukan aparatur penegak hukum yang bermoral tinggi, berani, jujur, dan ber-ilmu. Ungkapan pakar hukum Belanda, Taverne: Berikan saya hakim yang baik, jaksa yang baik, hakim komisaris yang baik, dan pejabat polisi yang baik, maka saya akan membuat undang-undang hukum acara pidana yang jelek menjadi baik" menjadi relevan dalam penegakan hukum ini.
Kepemimpinan
Berbagai faktor yang menyebabkan terjadinya korupsi di Indonesia, antara lain, pengaruh ekonomi, lemahnya integritas moral pelaku, pengawasan lemah (atasan juga ikut korupsi), manajemen/birokrasi tertutup, situasi politik, pemerintah yang otoriter, aparat penegak hukum tidak tegas dan tidak konsekuen (karena ikut terlibat korupsi), dan peraturan yang silih-berganti sehingga menimbulkan celah-celah hukum. Kalau kondisi ini dibiarkan berlarut-larut jangan hanya bawahan yang disalahkan. Sebab keberhasilan suatu organisasi/lembaga/ instansi sangat bergantung pada kepemimpinan seseorang sebagai pemimpin. Jika pimpinan tertinggi dan pimpinan terendah punya komitmen tegas memberantas korupsi pasti anak buahnya takut melakukan penyimpangan.
Satu-satunya harapan, masyarakat dan pemerintah sepakat memberikan kepercayaan dan kewenangan penuh kepada KPK untuk memberantas korupsi sesuai dengan UU No. 30 Tahun 2002.
Penulis heran, mengapa polisi, jaksa, dan hakim tertarik masuk menjadi pimpinan KPK. Apakah karena pimpinannya tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk menduduki posisi strategis. Atau karena sistem birokrasi dan manajemen di KPK lebih bagus? Atau prinsip konsistensi di KPK lebih baik karena bisa leluasa menggebrak koruptor. Atau karena gaji/kesejahteraan pimpinan KPK begitu menggiurkan? Jika itu, masalahnya, mengapa pemerintah tidak tegas mengambil sikap untuk segera membangun dan menata kembali berbagai kekurangan pada lembaga/instansi yang sudah ada serta memberdayakan pejabatnya, sehingga tidak ada lagi aparatur penegak hukum yang nakal?
Sekarang, disebut-sebut pengadilan kurang dipercayai oleh publik. Alasannya macam-macam. Padahal, aktor intelektualnya tidak hanya terbatas pada pejabat peradilan, tetapi semua lembaga pemerintahan (eksekutif, legislatif, dan komisi-komisi negara), dan pihak swasta.
Kita tidak bisa memungkiri bahwa bisa saja seseorang itu sekarang sifatnya baik, tetapi dalam keadaan tertentu (circumstances) sifat baik tadi berubah drastis menjadi jahat, karena peluang untuk itu cukup tinggi. Jika itu masalahnya, mengapa pemerintah harus terburu-buru mengembangkan atau membentuk berbagai lembaga komisi negara, berbagai pengadilan khusus? Belum tentu lembaga itu "steril" dari aroma korupsi, kolusi dan nepotisme. Seolah-olah hakim karier yang ada selama ini dianggap tak mampu menangani kasus Tipikor. Padahal, hakim itu selalu siap menangani setiap perkara, hanya karena kesempatan itu tidak diberikan kepadanya.
Para hakim karier secara diam-diam telah belajar meningkatkan kemampuannya untuk bersaing secara sehat dengan dunia luar. Sekarang sudah banyak hakim karier yang berpendidikan strata dua dan tiga. Bahkan telah ratusan hakim karier memperoleh tambahan pendidikan khusus dari Mahkamah Agung untuk persiapan menangani kasus korupsi jika sewaktu-waktu kasus korupsi masuk ke peradilan umum.
Seharusnya mereka ini diberdayakan dan diefektifkan untuk menangani kasus yang dilimpahkan ke pengadilan. Percuma gaji hakim akan dinaikkan pemerintah jika hakim karier yang berprestasi itu tidak diberdayakan.
Bukankah dengan membentuk berbagai lembaga baru akan membuang dana negara secara berlipat ganda alias "lebih besar pasak dari pada tiang". Artinya, uang yang diperoleh dari koruptor jauh lebih sedikit daripada pengeluaran untuk pembentukan UU, prasarana/sarana, gaji pejabat lembaga-lembaga komisi negara dan para hakim adhoc, sementara lembaga/instansi dan pejabat yang sudah ada tetap berjalan terseok-seok tanpa perbaikan secara signifikan. Rencana kenaikan gaji/kesejahteraan hakim, seperti yang diusulkan oleh pimpinan MA sebesar 100 persen, telah ditanggapi publik secara sumir agar yang disetujui pemerintah hanya 50 persen atau ditunda saja.
Jaminan Lebih Baik
Kalau begitu, adakah jaminan masyarakat akan lebih baik dan lebih makmur jika lembaga baru terus dibentuk dan dikembangkan oleh pemerintah, seperti, berbagai komisi termasuk pengadilan khusus, antara lain, Pengadilan Adhoc HAM, Adhoc Niaga, Adhoc Tipikor, Adhoc Hubungan Industrial, Adhoc Perikanan serta akan menyusul Adhoc Lingkungan? Semuanya itu akan menambah pengeluaran uang negara. Sementara itu peradilan umum dianggap tidak popular lagi, namun gaji/kesejahteraan pejabatnya kabarnya akan dinaikkan.
Jika pemerintah tidak segera membatasi diri dalam mengembangkan peradilan khusus mungkin di kemudian hari akan muncul lagi Pengadilan Adhoc Profesi Hakim, profesi dosen, profesi pengacara, profesi dokter, dan profesi notaris. Mungkin nanti semua instansi pemerintah dan swasta akan memiliki peradilan tersendiri, yang ujung-ujungnya tetap berpulang pada integritas moral orang yang bertugas pada instansi terkait.
Untuk mencari sosok pejabat yang berintegritas tinggi tidaklah mudah. Diperlukan rekam jejak di mana seseorang itu bertugas selama bertahun-tahun. Tetapi, harus diingat integritas tinggi tadi bisa saja luntur jika pengawasan lemah. Terlebih jika gaji/kesejahteraan di bawah standar gaji para komisi. Suksesnya suatu lembaga/instansi/ organisasi sangat bergantung pada kharisma, wibawa, ketegasan, konsistensi, dan leadership. Jika sese- orang cakap memimpin maka anak buahnya akan taat dan tunduk pada atasan tersebut.
Penulis adalah mahasiswa Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan
How Much We Need God?
- Jawaban.com -
Kehadiran Yesus di tengah dunia ini selalu menjadi kontroversi dan membawa argumentasi. Orang-orang yang tidak mengerti hukum Taurat memanggil nama-Nya tapi orang-orang yang mempelajari hukum Taurat justru menghujatnya. Itulah yang terjadi dengan Nikodemus, ia datang kepada Yesus karena kontroversi itu.
Dalam kehidupan manusia saat ini, saya melihat banyak orang yang tidak mencari Tuhan tapi hanya memakai Tuhan untuk sekedar memenuhi kebutuhannya. Manusia biasanya melawan dan memberontak terhadap Tuhan. Satu hal yang harus saudara sadari, kita tidak tahu bagaimana menyelamatkan diri kita sendiri tapi kita bisa menghancurkannya!! Hanya Yesus yang bisa menyelamatkan hidup kita dari kehancuran.
Setiap kita pasti berkata kalau kita membutuhkan Tuhan tapi sebenarnya kita tidak menyadari seberapa besar kita membutuhkan Tuhan. Itulah sebabnya kita selalu membutuhkan waktu khusus untuk berdoa terutama kalau kita mempunyai kebutuhan atau keinginan khusus yang kita inginkan untuk Tuhan jawab.
Ibrani 11:6
Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.
Dari ayat di atas kita bisa mengerti kalau kita membutuhkan iman untuk menyadari kebutuhan kita akan Tuhan. Tanpa iman, kita tidak akan pernah tahu seberapa besar kita membutuhkan Tuhan.
Filipi 4:13
Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.
Melalui ayat ini, Paulus menekankan bahwa setiap kita dapat melakukan segala perkara. Menurut Paulus, di dalam Kristuslah kita seharusnya hidup, bergerak dan memiliki segala keberadaan kita. Kalau kita sungguh-sungguh menyadari seberapa besar kita membutuhkan Tuhan, maka yang seharusnya kita lakukan hanyalah mulai untuk meminta. Karena di dalam Kristus kita memiliki segala akses untuk segala sesuatu dengan hidup di dalam Dia.
Alkitab memberikan salah satu teladan yang luar biasa bagi setiap kita yaitu Daniel. Semenjak awal Daniel menyadari betapa besarnya dia membutuhkan Tuhan untuk melakukan segala sesuatu. Konsekuensi yang harus Daniel tanggung akibat kesetiaan dan ketekunannya adalah sesuatu yang patut kita contoh.
Kalau kita menyadari seberapa besar kita membutuhkan Tuhan, maka kita tidak akan memerlukan waktu khusus untuk datang kepada Tuhan, apalagi untuk meminta segala kebutuhan kita. Karena kita akan benar-benar menyadari di setiap saat dalam kehidupan kita, kita membutuhkan Tuhan untuk dapat melakukan segala sesuatu.
Terobosan di dalam doa membawa terobosan di dalam iman. Terobosan di dalam iman, akan membawa terobosan bersama dengan Tuhan. Jadi dengan berdoa secara konsisten akan menghasilkan iman di dalam Tuhan. Inilah yang menjadi rahasia hidup Daniel, konsistensi doanya.
Yohanes 5:14
Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya: "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk."
Ayat ini dengan jelas mengatakan, "Lihat, engkau telah sembuh. Jangan berbuat dosa lagi." Hal ini menunjukkan dengan jelas ketika kita dalam keadaan sakit, kita tetap membutuhkan Yesus setelah kita sembuh. Bahkan lebih daripada itu bahwa kita sebenarnya lebih membutuhkan Yesus ketika kita sehat daripada waktu kita sakit.
Pada waktu sakit, kita merasa lebih teraniaya daripada waktu kita sehat. Pada waktu miskin, kita merasa lebih teraniaya daripada waktu kita diberkati. Keterbatasan roh kita membuat kita percaya kalau kita membutuhkan Yesus hanya jika kita sakit atau butuh berkat. Padahal lebih daripada itu!! Yesus lebih memperdulikan ketetapan akan masa depan kita daripada kondisi kita saat ini. Kita butuh Yesus lebih lagi setelah disembuhkan. We need Thee every hour!!
Markus 10:29-30
Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.
Ayat ini menjelaskan bahwa kesembuhan dan berkat adalah bagian dari aniaya dan kebencian. Jadi sewaktu kita sembuh dan sehat, itupun merupakan bagian dari aniaya. That's why we need God more!! Jika kita sungguh-sungguh menikmati berkat yang dari Tuhan, maka kita harus menggunakan word of God sebagai standard hidup kita.
Pengampunan akan membuka jalan untuk kesembuhan. Jika kita meminta kesembuhan tanpa mengampuni atau meminta pengampunan, maka kondisi kita tidak akan berubah. Doa kita tidak akan dijawab. Karena Alkitab telah menuliskannya dengan jelas mengenai hal ini. Tuhan telah menanti kita dengan janji-Nya untuk memulihkan, melepaskan, membebaskan dan menyelamatkan kita. Datanglah dengan kerendahan hati dan dengan hati yang hancur.
So, how much we need God?
Berpikir Bijaksana
2007-09-21
- Jawaban.com -
Yakobus 1:5
Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadanya.
Seorang pemburu pergi ke hutan membawa busur dan tombak. Di balik pohon dia menunggu sasarannya sambil berkhayal pulang membawa seekor rusa. Tak lama menunggu, seekor kelelawar besar yang kesiangan hinggap di pohon di depan si pemburu, namun ia mengabaikannya. Tidak lama, seekor babi lewat dan berhenti di sampingnya. Pemburu itu menggerutu berharap babi itu segera pergi.
Setelah agak lama pemburu menunggu, tiba-tiba terdengar langkah kaki binatang. Ia mulai siaga, tapi ternyata... hanya seekor kijang. Iapun membiarkannya lewat. Baru setelah sore, rusa yang ditunggu lewat. Rusa itu sempat berhenti di depan pemburu, tapi sang pemburu sedang tertidur. Ketika rusa itu hampir menginjaknya, ia kaget. Spontan ia berteriak, "Rusa!" sehingga rusapun kaget dan lari sebelum ia menombaknya. Alhasil ia pulang tanpa membawa apa-apa.
Banyak orang mempunyai idealisme terlalu besar untuk memperoleh yang diinginkannya. Tawaran dan kesempatan-kesempatan kecil dilewati begitu saja, tanpa pernah berpikir bahwa mungkin di dalamnya ia memperoleh sesuatu berharga. Tidak jarang orang-orang seperti itu akhirnya tidak mendapatkan apa-apa.
Berpikir sederhana, bukan berarti tanpa logika yang sehat. Tapi ingatlah bahwa Tuhan mengajarkan kita setia pada perkara-perkara kecil lebih dulu sebelum dipercayakan perkara yang besar. Dengan penuh hikmat, marilah kita belajar berpikir bijak sebelum mengambil keputusan.
Orang bijak dapat melihat sesuatu yang berharga dalam setiap kesempatan yang ada.
Melibatkan Tuhan Dalam Perencanaan
2007-09-10
- Jawaban.com -
Yakobus 4:15
Sebenarnya kamu harus berkata: "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu."
Begitu banyak rencana-rencana yang kita susun setiap hari. Seringkali kita menganggap bahwa hidup kita adalah milik kita sendiri, jadi apapun yang kita lakukan itu terserah kita. Kita lupa kalau kita ada di dunia ini, itu semua karena Tuhan punya rencana. Mengapa kita tidak bertanya terlebih dahulu kepada-Nya untuk setiap rencana-rencana yang kita susun? Ayo! Bicarakan dulu dengan Tuhan! Jalin hubungan yang akrab dengan-Nya. Langkah-langkah berikut ini akan menolong kita untuk menjalin hubungan yang akrab dengan Dia.
1. Awali setiap hari kehidupan kita dengan ucapan syukur! Banyak alasan untuk kita bersyukur. Di pagi hari ketika bangun dan menghirup udara yang segar, ingatlah bahwa oksigen itu milik Dia! Bersyukurlah untuk itu. Dan masih banyak hal lain yang menjadi alasan untuk terus bersyukur kepada-Nya.
2. Berbicaralah kepada Tuhan! Doa adalah alat komunikasi kita dengan Tuhan. Katakan semua rencana-rencana kita kepada-Nya!
3. Belajar peka mendengar suara Tuhan! Dia sudah mengungkapkan semua isi hati-Nya. Firman-Nya (Alkitab) merupakan buku manual kita dalam menjalani hidup ini. Baca dan pakai itu! Jangan biarkan berdebu di rak buku!
Jangan membuat perencanaan-perencanaan sendiri tanpa bertanya terlebih dahulu kepada Dia yang mempunyai kehidupan kita. Ia tahu yang terbaik. Doakan jadwal kegiatan anda sepanjang hari.
Libatkan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan anda, dan lihatlah keberhasilan akan menjadi milik anda!