Why Muslim nations trail the West
Sayuti Hasibuan, Jakarta
One striking fact about the state of human development in the world today is that Muslim countries rank generally low on the human development index. No Islamic country comes anywhere near the industrialized countries in terms of human development.
Every year, the United Nations Development Program (UNDP) issues its Human Development Report, which ranks countries in the world.
In 1999, out of 165 countries, the highest-placed Islamic country was Brunei Darussalam, at No. 32. The lowest was Niger, at No. 161. Islamic countries with larger populations, such as Indonesia, Egypt, Morocco, Pakistan and Bangladesh, failed to make the top 100.
The relative positions of these Islamic countries did not improve in the 2005 report. Western European countries, North America and Australia ranked among the top 25 that year, while Indonesia fell to 110th out of 177 countries.
The latest UNDP Human Development Report, in 2006, revealed that developed economies still led the pack, with Norway perching on top. There was a slight improvement made by five Islamic countries compared to their 1999 rankings, namely Bahrain, Kuwait, Qatar, Oman and Tunisia. But overall the relative positions did not change significantly.
The human development index covers the degree of human achievement in the fields of education, health and the economy. So the lower ranks in human development indicate that Muslims in general have lower educational levels, lower health status and lower economic capabilities than non-Muslims.
From the income point of view, a large number of Muslims live in abject poverty. Based on the US$1/per capita income per day standard, in the period of 1990-2004, 7.5 percent of the population in Indonesia, 3.1 percent in Egypt, and 17 percent in Pakistan lived in poverty. If we use the World Bank's $2 per day per capita, the proportion of the poor population increases to 52.4 percent in Indonesia, 73.6 percent in Pakistan and 82.8 percent in Bangladesh. Such poverty situations are a far cry from the Koranic injunction that each and every Muslim (as is every other human being) is a representative of Allah on earth.
One may justifiably ask why these sad conditions prevail long after many of these countries gained their freedom at the end of World War II.
Muslim intellectuals have been acutely aware of the poverty situations in their countries and there have been brilliant analyses of these problems. More than that, there have been successful action programs to reduce poverty directly, albeit partial ones, as in the case of Grameen Bank in Bangladesh, which saw Prof. Muhammad Yunus rewarded with the Nobel Peace Prize last year.
The governments of these Islamic countries have taken on systematic development efforts in the form of a series of five-year development plans. These efforts have been going on for decades, often with strong support in the form of funds and ideas from international donors such as the World Bank, the Asian Development Bank and USAID. And yet, as we have seen, the results are far from satisfactory. Why?
The short answer is that the economic and political elites of these countries operationally idolize the materialistic and individualistic ideologies of neoclassical economics. Such idolization can hardly be conducive to the full utilization and development of human resources. Such idolization comes in many manifestations but the most well-known ones are economic growth and high per capita income.
Take Indonesia, for example. One sees in Indonesia economic growth during the period of 1969 to 1993/1994 increased on average 6.8 percent per year. Per capita income increased from $70 in 1968 to $700 at the end of 1993.
But at the same time open unemployment increased from 1.7 percent of the labor force in 1980 or 891,000 people to 3.2 percent of the labor force in 1995 or 6.3 million people. During 1997 to 2006 period, income increased from Rp 413.8 trillion to Rp 3,338 trillion but open unemployment also increased to 11.1 million people or nearly 11 percent of the labor force in 2006.
That material achievement is not wanted for its own sake but as a means to something else has been known since Aristotelian times and the Muslim holy book is full of injunctions against such idolization. So why do Muslim leaders and elites idolize material achievement? This is because they follow the precepts of neoclassical economics literally.
Not that all the precepts of such economics are wrong. As part of the human legacy of wisdom and knowledge, such precepts cannot all be wrong. But the practical precepts of neoclassical economics need to be cast in the framework of the basic aims of the societies in these countries and the basic methodologies to be pursued.
The aim is to make Muslims an effective catalyst for the development of their multi-racial and multi-religious societies. The case of Indonesia, the country with the largest Muslim population in the world, may be instructive in this respect. It will be interesting to pursue this point further in the future.
The writer is dean of the Department of Economics at Al Azhar University Indonesia, Jakarta, and a professor in the Graduate Program of Muhammadiyah University, Surakarta. He may contacted at sajoeti@yahoo. com
Wartawan 'Lampung Post'
Telah banyak pemikiran digelontorkan mengenai sosok pemimpin yang dibutuhkan negeri ini. Semuanya mensyaratkan sosok yang kuat dengan kemampuan luar biasa untuk menyelesaikan masalah-masalah mendasar. Pemimpin yang taat atas konstitusi negara dan memiliki keyakinan besar dengan kemampuannya untuk menghapus segala bentuk penyimpangan dan pelanggaran hukum tanpa merasa takut visi besarya tentang pembangunan nasional tak mendapat dukungan dari parlemen.
Siapa pun pasti bersepakat dengan figur pemimpin seperti itu mengingat problematika persoalan yang terjadi selama ini lebih dipicu oleh ketidaktegasan pemimpin dalam mengambil keputusan. Karena, pemimpin yang ada selama ini selalu merasa tergangu dan menjadi ragu-ragu mengambil keputusan mengingat setiap keputusan yang akan diambil senantiasa menyentuh kepentingan- kepentingan politik tak mendasar.
Dalam pemberantasan korupsi, yang karut-marut dengan kepentingan elite-elite politik. Banyak pelaku tindak korupsi merupakan perpanjangan tangan kepentingan- kepentingan politik -- sebagian besar elite yang merupakan kader partai politik tertentu -- sehingga setiap kali akan dibuat keputusan hukum selalu berakhir menjadi semacam negosiasi politik.
Karena itu, sosok pemimpin di masa depan harus tidak terkooptasi kepentingan- kepentingan politik tak mendasar, bebas menjalankan pemerintahannya dan tidak perlu merasa tidak didukung oleh partai politik. Pemimpin seperti itu adalah negarawan sejati, berjiwa patriotik-nasionali s, dan berpihak kepada nasib rakyatnya. Sosok seperti itu hanya muncul apabila selalu mengasah rasa simpati dan empati terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi rakyat tertindas, menderita, mendapat perlakuan tidak adil, dan dimarjinalisasikan oleh situasi.
Tentu sosok pemimpin sangat ideal seperti itu sukar mengharapkannya muncul di tengah-tengah rakyat. Negara ini lebih banyak menghasilkan pemmpin yang mengambil jarak dengan rakyat yang sengsara, hanya mengandalkan laporan-laporan yang lahir dari penggunaan kacamata kuda. Natan Sharansky dalam The Case for Democracy, the Power of Freedom to Overcome Tyranny & Terror (New York: 2004), menyebut empati dan simpati mendorong seorang pemimpin menghayati sikap profetik untuk memberi koreksi atas tindak manusia yang keliru dan mendatangkan ketidakadilan. Pada akhirnya, pemimpin tersebut akan tergerak hati untuk membela orang-orang tertindas dan diperas.
Tokoh-Tokoh Kecapaian
Belakangan, wacana calon presiden mulai marak. Banyak tokoh dikedepankan untuk bersaing pada Pemilihan Presiden 2009 mendatang. Beberapa tokoh malah mulai sibuk kampanye seperti Jusuf Kalla, Sutiyoso, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, bahkan, Susilo Bambang Yudhoyono mulai ikut-ikutan. Tugas-tugas negara yang dibebankan di pundak mulai ditanggalkan karena jauh lebih penting mencari dukungan politik.
Sosok para calon presiden kita ini sudah tak asing lagi bagi rakyat. Mereka "orang-orang yang kadung kecapaian" dalam memimpin. Ada mantan Presiden RI, yang telah dimasukkan publik ke dalam golongan elite yang gemar memberi janji tetapi keteteran memberi bukti. Selama menjadi Presiden RI, bukan saja mereka tidak bisa menyelesaikan persoalan-persoalan yang mendera rakyat, melainkan ikut andil menciptakan persoalan-persoalan baru akibat kebijakan-kebijakan yang keliru. Mustahil mengharapkan mereka akan tampil sebagai pemimpin yang memiliki kemampuan mengoreksi tindak-tanduk manusia yang keliru.
Ada mantan pejabat, yang juga tidak membawa perubahan signifikan pada nasib rakyat saat menjadi pemimpin. Dari sekian juta penduduk di negeri ini, sangat pasti masih banyak yang menyimpan kekecewaan terhadap kemampuan mereka dalam memimpin. Karena itu, sangat disayangkan bila partai politik tetap mengandalkan sosok orang-orang yang sudah pernah menjadi pemimpin itu tanpa sebuah tawaran kreatif yang mampu mengubah persepsi publik.
Dilihat dari faktor kaderisasi, kebijakan partai politk ini semacam ironi dalam berdemokrasi. Namun, dunia politik senantiasa tak bisa ditebak. Politik menegasikan logika. Politik pun menegasikan regenerasi. Bagi mereka yang taklid kepada elite partai politik, pasti akan sepakat dengan kebijakan serupa itu. Tentu, agar keberadaannya tak digoyang dan bisa selamat hingga suatu saat ia termasuk orang-orang capai yang mendapat berkah untuk dicalonkan. Tentu pula, sikap mendukung ini akan dibenarkan sendiri bahwa pengalaman orang-orang lama sangat penting.
Memberi kesempatan kembali kepada orang-orang lama sama artinya memaksakan orang-orang capai. Mengutip sebuah penelitian psikologi yang pernah dilakukan Freud, strategi politik yang mengandalkan orang-orang capai ini menjadi pantas dipertanyakan. Menurut Freud, semakin tua seseorang akan semakin memengaruhi perkembangan volume otaknya, terjadi penyusutan hingga mencapai 30%.
Dengan volume otak yang 100% saja, bangsa kita masih dihadapkan dengan persoalan-persoalan krusial menyangkut kemiskinan, infrastruktur buruk, dan korupsi di mana-mana. Konon lagi bila seorang kepala daerah memiliki volume otak yang tak mencapai 100%?
Sosok Orang Tua
Tetapi, kebijakan partai politik memilih tokoh-tokoh tua, gaek, dan kecapaian itu menjadi beralasan bila yang diharapkan adalah pemimpin seperti yang disebut di awal tulisan ini. Tokoh-tokoh tua yang volume otaknya sebesar 70%--80% memiliki pengalaman luar biasa. Pengalaman itu berharga untuk menghadapi persoalan-persoalan sama, sehingga solusi bisa dirumuskan dalam waktu singkat.
Akan tetapi, pengalaman tidak banyak berarti di era yang senantiasa berubah seperti saat ini. Masyarakat cepat belajar dari kekurangan mereka, yang kemudian membuat mereka jauh lebih cerdas dibandingkan kepala daerah yang sangat mengandalkan pengalaman.
Pengalaman tak berharga di hadapan ilmu pengetahuan. Pengalaman memang terus bertambah dan semakin matang. Akan tetapi, ilmu pengetahuan jauh lebih pesat berkembang, seiring dinamika perkembangan kehidupan masyarakat. Perkembangan ilmu dan pengetahuan menuntut kemampuan seseorang untuk mengikuti alur gerak dan dinamikanya, sehingga tetap bisa menyesuaikan diri dengan tahapan-tahapan perkembangan tersebut.
Orang berpengalaman lebih mengandalkan naluri. Sedangkan orang berilmu dan berpengetahuan sangat mengandalkan rasio. Kedua hal itu memiliki titik tekan pada pencapaian hasil dari kegiatan yang dilakukan. Jika orang berpengalaman lebih memilih hasil agar pengalamannya bertambah, maka orang berilmu dan berpengetahuan lebih menekankan pada kemajuan dari penguasaannya atas ilmu dan pengetahuan.
Dengan orang berpengalaman, maka bisa diwujudkan pemimpin seperti diharapkan Natan Sharansky, yakni pemimpin yang mudah berempati dan bersimpati pada persoalan rakyat sehingga tergerak hatinya untuk membela orang-orang tertindas dan diperas.
Ferdinand Fit Hadapi Arsenal
Manchester - Lini belakang Manchester United dipastikan tetap tangguh menghadapi Arsenal setelah bek Rio Ferdinand dinyatakan fit guna menghadapi laga big match akhir pekan ini.
Ferdinand sebelumnya diragukan bisa tampil saat menghadapi The Gunners di Emirates Stadium akhir pekan ini. Media Inggris mengabarkan bahwa Ferdinand mengalami cedera sehingga digantikan saat MU menang 4-1 atas Middlesbrough akhir pekan kemarin.
Mereka juga mengklaim bek Inggris ini telah dikirim guna menjalani scan guna memeriksa kembali cedera lamanya yaitu pangkal pahanya kumat lagi. Namun segala rumor mengenai kondisi Ferdinand yang dihembuskan media Inggris segera dibantah oleh MU.
Lewat pernyataannya, The Reds Devils menegaskan bahwa Rio Ferdinand fit untuk menghadapi Arsenal hari Sabtu nanti di Emirates Stadium. Kini Ferdinand pun telah menjalani latihan bersama skuad MU menyiapkan diri menghadapi The Gunners.
"Bagaimana pun, bek tengah berusia 28 tahun ini sedang melakukan latihan bersama seluruh skuad di Carrington hari Selasa ini. Dia sudah benar fit dan telah sipa bermain menghadapi The Gunners," kata pihak MU lewat situs resminya.
Tekad Pelatih Matador Bangkitkan Spurs
London - Para pemain Tottenham Hotspur siap menjinakkan "banteng-banteng" di Premiership, dengan berbekal sosok pelatih matador yang kini menangani Dimitar Berbatov cs.
Juande Ramos sudah resmi menduduki kursi manajer Spurs. Bersama dengannya, diajak pula Marcos Alvarez, seorang pelatih fisik yang sudah bekerja bersama Ramos selama empat tahun terakhir.
Alvarez yang kini bakal bertanggung jawab atas tingkat kebugaran para pemain di White Hart Lane, bukanlah sosok pelatih kebugaran biasa. Di Spanyol, pria 36 tahun itu juga dikenal sebagai pelatih pribadi seorang matador tenar, Fran Rivera. Demikian dikutip Daily Mail, Rabu (31/10/2007).
Selain menjadi pelatih pribadi figur matador terkemuka di Spanyol tersebut, Alvarez juga sudah memberikan "sentuhannya" buat Sevila. Meski dikenal kerap memberi porsi latihan berat dan tergolong banyak maunya --konon pada awalnya beberapa pemain Sevilla tidak menyukai Alvarez dan sempat melukis karikatur dirinya dengan mulut tersumpal-- namun hasilnya nyata.
Keberhasilan Los Rojiblancos bersaing dengan Barcelona dan Real Madrid di La Liga sekaligus meraih dua titel Piala UEFA dalam dua terakhir, dinilai sebagai dampak dari bagusnya tingkat kebugaran pemain Sevilla.
Kabarnya, menu latihan berat serupa juga sudah mulai diberlakukan Alvarez di Spurs. Pria yang pernah aktif bermain tenis itu disebutkan sudah melatih para pemain Spurs dengan porsi ganda, sebuah menu latihan yang disebut-sebut belum pernah dilakukan para pemain klub London itu dalam dua bulan terakhir.
"Tim ini memiliki kualitas yang cukup untuk meningkatkan posisinya di Liga Primer dan kami pasti akan berusaha keras untuk kembali naik ke posisi atas," tegas Alvarez.
Di bawah bimbingan Alvarez, kini hanya waktu yang bisa menjawab mampu tidaknya para pemain Spurs menjinakkan lawan-lawannya, sekaligus memperbaiki posisi, nanti.









No Comments/Trackbacks for this post yet...