Franck Ribery
Pertahankan Status Badut
Penyerang asal Prancis, Franck Ribery, adalah salah satu bintang di Germany 2006. Setelah kariernya menanjak bersama Olympique Marseille, musim ini ia memulai petualangan barunya di Bundesliga bersama Bayern Muenchen.
Franck Ribery, tak suka permainan kotor bek Bundesliga.
Mengapa ia mau pindah ke FC Hollywood, yang di 2007/08 ini tidak bermain di Liga Champion? Lalu kenapa ia langsung memperoleh status “badut” di klub barunya itu? Simak petikan wawancaranya dengan World Soccer berikut ini.
Kenapa mau pindah ke Bayern Muenchen, bukan ke klub lain?
Ya, Real Madrid dan Arsenal saat Piala Dunia berakhir memang terlihat tertarik merekrut saya. Tapi, ketika saya memutuskan bertahan semusim lagi di Marseille mereka langsung mundur. Berbeda dengan Bayern yang kemudian terus menghubungi OM dan agen saya.
Saya pun langsung berkonsultasi dengan para senior saya di timnas mengenai Bayern. Willy Sagnol dan Bixente Lizarazu menyebut standar sepakbola di Bundesliga pasti sesuai dengan harapan saya.
Anda langsung disebut sebagai bintang baru di Bundesliga. Ada komentar?
Wah, saya tidak berambisi untuk jadi superstar. Saya hanya ingin dipercaya dan berguna untuk Bayern saat ini. Buat saya bermain dengan enak di sini dan bisa menghibur teman serta penonton sudah cukup. Kalau bisa, saya juga ingin memenangi gelar bergengsi bersama Bayern.
Apa prioritas utama Bayern musim ini mengingat Bayern tidak bermain di Liga Champion?
Menjuarai Bundesliga. Saya sendiri berpendapat kami bisa melaju hingga ke final Piala UEFA.
Ada kesulitan beradaptasi dengan gaya hidup di Jerman dan klub ini?
Penerjemah saya di pekan-pekan pertama adalah Daniel van Buyten (bek asal Belgia) dan Willy Sagnol. Semua jadi mudah karena pelatih Ottmar Hitzfeld di hari pertama juga langsung mengundang saya ke kantornya. Ia bertanya di posisi apa saya ingin bermain. Saya bilang padanya saya ingin menjadi sayap kiri, tapi dalam kondisi mendesak saya bisa bermain di belakang striker atau juga di sisi kanan.
Kesan tentang Bundesliga?
Perbedaan utama di sini dengan Ligue 1 adalah banyaknya bek Bundesliga yang mempergunakan tangannya untuk menghentikan pemain depan. Sedikit kotor memang, tapi itu tidak membuat saya berkecil hati karena banyak hal menarik di Jerman.
Kami beberapa waktu lalu bermain di perempatfinal Piala Liga di Duesseldorf dengan disaksikan 50 ribu orang. Di Prancis, kamu tidak akan ditonton orang sebanyak itu bila bermain di stadion milik klub dari divisi tiga.
Apakah Anda tetap mempertahankan status sebagai badut di Bayern setelah sebelumnya dikenal sering melawak di timnas dan Marseille?
Ha ha ha, tidak ada yang berubah dengan saya. Saya pikir humor sangat penting di sepakbola. Di sini, saya pernah menggunting ujung kaus kaki Daniel ketika dirinya sedang mandi di ruang ganti. Ia benar-benar kebingungan karena saat ditarik, kaus kakinya blong meluncur terus ke atas melewati lutut. Sungguh menggelikan! (Darojatun/Foto: AFP)
Empat Korban dari Matchday 1
Baru berumur satu pertandingan, Liga Champion sudah memakan korban. Empat klub peserta telah mengganti pelatih mereka selepas matchday 1.
Korban paling terkenal adalah Jose Mourinho di Chelsea. Hasil 1-1 melawan Rosenborg di matchday 1 langsung disusul oleh pengunduran diri "The Special One”.
Hubungan Mourinho dan pemilik Chelsea, Roman Abramovich, memang sudah tak harmonis. Hasil buruk di Liga Champion hanya menjadi pelengkap alasan mengapa pria Portugal itu harus hengkang dari Stamford Bridge.
Pengganti Mourinho adalah Avram Grant, yang sebelumnya menjadi Direktur Sepakbola Chelsea. Khusus untuk Liga Champion, Grant sebetulnya belum memiliki lisensi UEFA Pro, yang dibutuhkan di kompetisi Eropa.
Namun, UEFA menegaskan mereka tidak akan melarang Grant melatih Chelsea di Liga Champion. “Kami baru akan mempertimbangkan kasus ini apabila Premier League sudah mengajukan komplain resmi tentang kualifikasi Mr. Grant,” ujar juru bicara UEFA di BBC Sports.
Mirip dengan Mourinho, Gheorghe Hagi juga meletakkan jabatannya di Steaua Bucuresti karena menganggap Presiden Gheorghe Becali terlalu banyak menekan dan ikut campur tangan dalam urusan pemilihan skuad.
“Saya tidak tahan tekanan ini. Saya seperti disiksa. Saya sudah memutuskan pergi sebelum Steaua menghadapi Slavia Praha di matchday 1,” kata Hagi seperti dikutip di situs resmi UEFA. Pengganti Hagi di Steaua untuk sementara adalah bekas asistennya, Massimo Pedrazzini.
Buruk di Domestik
Dua korban lainnya jatuh lebih karena hasil buruk di liga domestik. Tapi, klub mereka tidak ingin prestasi itu menular ke Liga Champion. Selagi baru melewati matchday pertama, perubahan perlu dilakukan secepatnya.
Dynamo Kyiv setuju memutus kontrak Anatoliy Demyanenko usai kekalahan 0-2 dari Roma di matchday 1. Kyiv juga tampil mengecewakan di Liga Ukraina dengan hanya menempati peringkat ketiga setelah sembilan laga.
Suksesor Demyanenko adalah pelatih berusia 67 tahun, Jozsef Szabo. “Kyiv memiliki potensi hebat, tapi sekarang mereka membutuhkan ide segar dan kesatuan tim. Kami mempunyai target lolos ke fase knock-out,” ujar Szabo.
Korban terakhir adalah arsitek Marseille, Albert Emon. OM sebetulnya memulai langkah di Liga Champion dengan baik. Di matchday 1, mereka memukul Besiktas Istanbul 2-0. Sayang, mereka remuk di Ligue 1 Prancis.
Setelah melalui sembilan pertandingan, Marseille berada di posisi ke-16 dari 20 tim. Manajemen OM pun memutuskan Emon harus diganti. Penerusnya adalah eks bek tim nasional Belgia antara 1975-1991, Eric Gerets.
“Marseille membutuhkan start baru. Eric Gerets adalah pelatih yang bisa melakukannya tanpa harus merusak hasil kerja kami dalam tiga tahun terakhir. Dia punya pengalaman,” ungkap Presiden Marseille, Pape Diouf. (Dwi Widijatmiko)
Kejagung Minta Uang Tommy di Guernsey Ditarik ke Indonesia
* Kejagung Minta Uang Tommy di Guernsey Ditarik ke Indonesia
Sindo Edisi Sore Berita Utama Sore
Rabu, 03/10/2007
Kejaksaan Agung (Kejagung) melalui Jaksa Pengacara Negara (JPN)
mengajukan dua poin penting dalam proposal mediasi dengan Hutomo
Mandala Putra Tommy Soeharto).
JAKARTA (SINDO) –Salah satunya meminta sebagian uang di BNP Paribas
London dicairkan untuk kepentingan rakyat Indonesia. Ketua JPN
Yoseph Suardi Sabda saat dihubungi SINDO kemarin mengatakan, JPN
sudah mulai melakukan pembicaraan internal perihal tawaran yang akan
diajukan." Adalah beberapa poin yang sudah kami sepakati untuk
ditawarkan," katanya.
Yoseph yang juga Direktur Perdata Kejagung itu mengatakan, salah
satu poin penting adalah JPN akan meminta Tommy untuk bersama- sama
mengajukan permohonan ke Pengadilan Guernsey, Inggris, agar sebagian
uang di BNP Paribas dicairkan untuk kepentingan rakyat Indonesia.
"Kami mengajukan tawaran itu karena uang di BNP Paribas itu tidak
akan bisa digunakan karena adanya persoalan hukum. Tommy tidak bisa
menggunakan uang itu. Jadi percuma saja uang itu ada.Tidak ada yang
diuntungkan dengan hal ini. Mungkin malah rakyat Guernsey yang
diuntungkan dengan itu,"tukasnya.
Yoseph melihat, jika ada kesepakatan antara JPN dan Tommy, uang di
BNP Paribas itu bisa dicairkan. Jika uang itu bisa dicairkan,
tinggal disepakati berapa besar bagian uang untuk Tommy dan berapa
besar untuk kepentingan rakyat Indonesia. "Tentu kami akan minta
bagian lebih besar,"tegasnya.
Seperti diberitakan SINDO pagi (2/10), dalam sidang gugatan perdata
tukar guling PT Goro Batara Sakti (GBS) dengan Perusahaan Umum Badan
Urusan Logistik (Perum Bulog), JPN, dan kuasa hukum Tommy –
panggilan Hutomo Mandala Putra – sepakat menempuh jalur mediasi
(perdamaian) .
Langkah ini juga diambil kuasa hukum tergugat I,III, IV, yaitu PT
GBS, mantan Dirut PT GBS Richardo Gelael, dan mantan Kepala Bulog
Beddu Amang. Berdasarkan Peraturan Mahkamah Agung (MA) Nomor 2 Tahun
2003. Proses mediasi diberi waktu 22 hari. Yoseph enggan memberikan
penjelasan apakah dalam poin-poin itu dibahas juga soal besarnya
tuntutan ganti rugi.
Dalam tuntutan, Kejagung meminta ganti rugi sebesar Rp500 miliar.
Uang itu sesuai dengan kerugian negara yang ditimbulkan akibat tukar
guling itu. Yoseph beralasan, poin-poin tawaran mediasi ini
kemungkinan masih bisa berubah. JPN harus mengonsultasikan itu pada
Perum Bulog dan juga Kejagung.
"Harus dikonsultasikan dulu. Pertama dengan atasan saya di
Kejagung,dan kedua dengan Bulog sebagai klien. JPN akan mengajukan
secara resmi poin-poin tersebut pada dua institusi itu,"jelasnya.
Dihubungi terpisah, kuasa hukum Tommy, Elza Syarief enggan
memberikan banyak komentar."Saya belum bisa memberikan komentar
soal tawaran yang diajukan JPN. Pertama,karena kami belum
mendapatkan proposal dari mereka secara resmi dan detail. Kedua,
saya juga harus mengonsultasikan hal ini dengan klien saya
dulu,"kilahnya.
Setelah persidangan kemarin, persidangan dijadwalkan akan
dilanjutkan pada Senin (8/10) pekan depan. Dalam sidang itu, JPN
akan memberikan proposal mediasi kepada pihak tergugat. (helmi
firdaus)
============ ========= ========= =====
KOMPAS
Rabu, 03 Oktober 2007
* Data Korupsi Soeharto?
Harry Seldadyo
September adalah bulan perlawanan korupsi. Di antara rentetan kasus
korupsi yang mengemuka di bulan ini, kasus Soeharto tetap yang
paling menonjol. Ini karena ada kado Rp 1 triliun yang diberikan
kepada sang "Jenderal Besar", selain penolakan MA atas data Time
Asia yang dipublikasikan 24 Mei 1999.
Sebaliknya, StAR Initiative Bank Dunia-PBB menggebrak publik dengan
menempatkan sang penerima penghargaan FAO 1984 itu di posisi pertama
liga korupsi dunia. Dalam laporannya StAR Initiative juga
menyodorkan data (hal 11).
Asal data
Pertanyaannya, bisakah kita bergantung pada data itu? Ada beberapa
hal yang bisa didiskusikan di sini.
Pertama, soal sumber data. Patut dicatat, StAR Initiative tidak
melakukan investigasi baru, ia hanya mendaur ulang data Transparansi
Internasional (TI) yang pernah dituang dalam Global Corruption
Report 2004 (hal 13). Data ini juga pernah muncul dalam The Guardian
(24/3/2004) di laporan khusus soal Indonesia dan Timor Timur.
Menariknya, tentang Soeharto, TI menyebut Time Asia sebagai sumber
data. Padahal, data Time Asia ini ditolak mentah-mentah oleh MA.
Kedua, data korupsi Soeharto dalam StAR Initiative, TI, The
Guardian, dan Time Asia adalah produk investigasi jurnalistik. Dalam
laporan TI ataupun StAR Initiative, beberapa kali diberikan catatan
atas akurasinya. TI menulis ".the estimates.are extremely
approximate. " Hal senada juga dinyatakan StAR Initiative. Pertanyaan
bagi kita, apakah ada kandungan yuridis dalam data ini? Hampir
terang, jawabannya "tidak". Artinya, kalau data ini dipakai,
penuntut Soeharto harus siap ditembak lagi oleh MA di titik yang
persis sama.
Ketiga, hal serupa juga muncul jika data ini dipersoalkan secara
ilmiah. Korupsi adalah sebuah ruang gelap. Banyak eksperimen
metodologis yang mencoba menyingkap tabirnya. Untuk masuk pada isu
magnitudo korupsi, benturan pertama yang harus dihadapi adalah
presisi data. Sejauh ini tidak ada teknik estimasi yang bisa
mengklaim punya presisi tinggi dalam menggambarkan magnitudo
korupsi.
Ini menjadi penjelas mengapa di tingkat makro, korupsi didekati dari
persepsi untuk kemudian dilahirkan sebuah indeks. Di tingkat mikro,
masih mungkin kita mengestimasi besaran suap yang dibayar perusahaan
ke petugas perizinan, Pajak, Bea dan Cukai, dan lain-lain. Namun, di
tingkat individual, isu sudah bergeser ke sisi hukum.
Keempat, seberapa lebar Soeharto harus didefinisikan? Time Asia
memakai kata Suharto Inc, the Family Firm yang di dalamnya ada nama
enam anaknya. Jadi ini terbatas pada keluarga batih. Namun, siapakah
sebenarnya "pemegang saham" Soeharto Inc? Soeharto sendiri?
Terlibatkah para (mantan) menantu, kroni, atau proksi Soeharto?
Rentang definisi ini akan menentukan seberapa makmur kerajaan Bapak
Pembangunan Indonesia itu.
Kelima, estimasi 15 miliar-35 miliar dollar AS tentu tergantung
rentang definisi Soeharto Inc dan metode penghitungannya. Ia bisa
terlalu besar atau justru terlalu kecil. Kleptokrat, apalagi yang
telah puluhan tahun berkarat, tentu paham betul di mana celah untuk
sembunyi. Tak mudah kita melacaknya seraya berharap akan hasil yang
berpresisi tinggi, apalagi menyeretnya ke bui.
Apa daya?
Merujuk data korupsi Soeharto saja, kita harus berhadapan dengan
problem pembuktian. Ini menunjukkan betapa tebalnya magnitudo
persoalan Soeharto. Namun, kasus Soeharto bukan ketiak ular, kita
masih bisa mengambil beberapa jalan pilihan.
Pertama, mengingat korupsi telah dianggap sebagai kasus
extraordinary, tindakan yang diambil juga harus extraordinary.
Pendekatan legalistik-formal telah terbukti gagal karena terlalu
banyak aral menjegal. Kalau boleh saya sarankan, lupakanlah. Kita
perlu menjajal pendekatan politik, dari yang ekstrem, semisal
nasionalisasi perusahaan anak dan kroninya, hingga yang moderat,
semisal meja perundingan. Lagi pula, data kejahatan Soeharto tidak
tunggal. Pintu kamar penjara masih banyak bisa dibuka untuk banyak
kasus agar beliau menikmati hari tuanya di sana.
Kedua, lakukan kilas balik rentetan kebijakan yang pernah dibuatnya,
lalu kejar siapa yang pernah mengambil manfaatnya. Kebijakan
Soeharto pada masa lalu punya potensi tinggi menciptakan
rentseekers. Segelintir orang telah menjadi hartawan karena kepada
kroninya, Soeharto amat dermawan. Membangun basis data untuk
kepentingan itu masih dimungkinkan ketimbang mencari harta Soeharto.
Lelah kita menegakkan benang basah.
Ketiga, telusuri perilaku bisnis dan pergerakan aset anak dan kroni
Soeharto. Ini cuma punya dua syarat. Satu, jangan ada lagi pejabat
pengkhianat yang menggunting dalam lipatan. Sungguh tak bisa
dimengerti, bagaimana bisa dua pejabat tinggi hukum susul-menyusul
memberi ruang gerak lebar bagi aliran dana mencurigakan anak
Soeharto? Yang menarik, keduanya tidak buta hukum dan politik. Lalu,
dua, lakukan tindakan extraordinary. Sekali lagi, extraordinary.
Keempat, saat ini kita bak mengharapkan hujan harta Soeharto dari
langit, tetapi air tempayan BLBI kita tumpahkan. Para garong BLBI
ini bukan tak terdata. Magnitudo curiannya pun fantastis; jadi
keterlibatan para petinggi kala itu pasti sangat logis. Detail data
pun bisa kita bangun di sini. Mengapa kita melepas punai di tangan?
Kelima, jangan lupa garong-garong "kecil'' dan tukang peras di
Imigrasi, Bea dan Cukai, kantor pajak, bandara, kantor polisi,
pengadilan, kelurahan, hingga tukang palak berseragam dan tak
berseragam di jalan. Kita abai mengepal tangan besi pada mereka.
Mungkin karena kita berpikir itu kelas "recehan", padahal total
volume penyedotan dana di sini tak kalah fantastis. Tak sulit
melakukan enumerasi data di sini.
Akhirnya, kita bisa tetap membuka tangan jika Bank Dunia, PBB, dan
negara-negara maju memang tak sekadar bermulut manis. Namun, jika
lidah mereka tak bertulang, bisa mati kita mencari jarum dalam
jerami. Kasus korupsi dari teri hingga kakap persis ada di pelupuk
mata, tak logis menyebut lantai berundak padahal tak pandai kita
menari.
Harry Seldadyo Mahasiswa PhD Ekonomi Politik di Rijksuniversiteit
Groningen, Belanda
============ ========= ========= =
* Gugatan Goro Tommy Masuk Tahap Mediasi
Koran Tempo - Selasa, 02 Oktober 2007
JAKARTA -- Gugatan perdata pemerintah dalam kasus ruilslag PT Goro
Batara Sakti dengan Bulog memasuki tahap mediasi. Ketua majelis hakim
Haswandi mengatakan proses mediasi akan berlangsung selama 22 hari
dan diketuai hakim Edy Risdianto.
"Jika tidak terjadi perdamaian, akan masuk ligitasi," kata Haswandi
dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan kemarin.
Seusai sidang, kedua pihak melakukan pertemuan tertutup dengan hakim
mediator selama sekitar 15 menit.
Seusai pertemuan tersebut, ketua tim jaksa penuntut umum Yoseph
Suardi Sabda mengatakan mediasi selanjutnya akan berlangsung Senin
pekan depan. Saat itu, kata dia, pihak penggugat dan tergugat akan
memberikan usul-usul mediasi.
Sementara itu, kuasa hukum Hutomo Mandala Putra, Elza Syarif,
mengatakan akan melihat terlebih dulu usul mediasi dari penggugat.
"Tercapai atau tidak, kita lihat nanti," ujarnya.
Seperti yang diberitakan, pemerintah mengajukan gugatan perdata
terhadap PT Goro Batara Sakti, Tommy Soeharto, Ricardo Gelael, dan
Beddu Amang. Pemerintah menuntut ganti rugi materiil sebesar Rp 244
miliar, ganti rugi imateriil Rp 100 miliar, dan gugatan membayar
bunga atas kerugian Rp 206,52 miliar. RINI KUSTIANI
============ ========= ====