Search blog.co.uk

Posts archive for: 8 October, 2007
  • Thriller Sebelas Gol

    Pecah sudah dua rekor skor terbesar milik Manchester United yang pernah terjadi di Premier League. Kemenangan 7-4 Portsmouth atas Reading di Fratton Park pada Sabtu (29/9) memang melewati dua drama penghasil sembilan gol yang pernah dilakoni United pada 1995 dan 1999.

    Namun, kemenangan 9-0 Red Devils atas Ipswich pada 4 Maret 1995 di Old Trafford tetap menjadi kemenangan terbesar di partai kandang dalam kancah Premier League. Begitu juga halnya dengan keunggulan 8-1 United di Nottingham Forest (6 Februari 1999) yang tetap tercatat sebagai kemenangan away terbesar.

    Thriller sebelas gol dalam laga di Portsmouth pekan lalu itu sendiri seakan menegaskan keunggulan sejarah The Pompey atas Reading. Dalam 25 tahun terakhir, The Royals memang hanya satu kali pernah menumbangkan Portsmouth.

    Lahirnya tujuh gol di gawang Royals disebut pelatih Steve Coppell karena buruknya pertahanan yang dibangun anak buahnya. Andai kiper Marcus Hahnemann tidak tampil habis-habisan, mungkin pemecahan rekor bakal semakin tajam karena kubu Portsmouth berhasil melepas 17 kali tembakan akurat di sepanjang laga.

    Gol dari Stephen Hunt dan Dave Kitson memang sempat menetralkan keunggulan Pompey berkat dua gol Benjani Mwaruwari di babak pertama, namun anak-anak Coppell gagal menguasai pertandingan.

    Sundulan Hermann Hreidarsson kembali membuat tuan rumah unggul dan dilanjutkan dengan gol ketiga Benjani dan tendangan akurat Nico Kranjcar. Setelah pemain pengganti Royals, Shane Long, menipiskan selisih gol, giliran Sean Davis menjaringkan sebuah tembakan jarak jauh (6-3).

    Gol terakhir Pompey disarangkan Sulley Muntari lewat titik putih, sedangkan aksi Nicky Shorey di injury time menjadi sebuah konsolasi bagi tim tamu.

    Keputusan Harry Redknapp memasang Benjani untuk menggantikan Nwankwo Kanu, yang cedera lutut, memang tepat. Striker asal Zimbabwe itu dianggap lebih bagus daripada David Nugent, yang terus dicadangkan. (toen)

    Data Korupsi Soeharto?

    Harry Seldadyo

    September adalah bulan perlawanan korupsi. Di antara rentetan kasus korupsi yang mengemuka di bulan ini, kasus Soeharto tetap yang paling menonjol. Ini karena ada kado Rp 1 triliun yang diberikan kepada sang "Jenderal Besar", selain penolakan MA atas data Time Asia yang dipublikasikan 24 Mei 1999.

    Sebaliknya, StAR Initiative Bank Dunia-PBB menggebrak publik dengan menempatkan sang penerima penghargaan FAO 1984 itu di posisi pertama liga korupsi dunia. Dalam laporannya StAR Initiative juga menyodorkan data (hal 11).

    Asal data

    Pertanyaannya, bisakah kita bergantung pada data itu? Ada beberapa hal yang bisa didiskusikan di sini.

    Pertama, soal sumber data. Patut dicatat, StAR Initiative tidak melakukan investigasi baru, ia hanya mendaur ulang data Transparansi Internasional (TI) yang pernah dituang dalam Global Corruption Report 2004 (hal 13). Data ini juga pernah muncul dalam The Guardian (24/3/2004) di laporan khusus soal Indonesia dan Timor Timur. Menariknya, tentang Soeharto, TI menyebut Time Asia sebagai sumber data. Padahal, data Time Asia ini ditolak mentah-mentah oleh MA.

    Kedua, data korupsi Soeharto dalam StAR Initiative, TI, The Guardian, dan Time Asia adalah produk investigasi jurnalistik. Dalam laporan TI ataupun StAR Initiative, beberapa kali diberikan catatan atas akurasinya. TI menulis "…the estimates…are extremely approximate. " Hal senada juga dinyatakan StAR Initiative. Pertanyaan bagi kita, apakah ada kandungan yuridis dalam data ini? Hampir terang, jawabannya "tidak". Artinya, kalau data ini dipakai, penuntut Soeharto harus siap ditembak lagi oleh MA di titik yang persis sama.

    Ketiga, hal serupa juga muncul jika data ini dipersoalkan secara ilmiah. Korupsi adalah sebuah ruang gelap. Banyak eksperimen metodologis yang mencoba menyingkap tabirnya. Untuk masuk pada isu magnitudo korupsi, benturan pertama yang harus dihadapi adalah presisi data. Sejauh ini tidak ada teknik estimasi yang bisa mengklaim punya presisi tinggi dalam menggambarkan magnitudo korupsi.

    Ini menjadi penjelas mengapa di tingkat makro, korupsi didekati dari persepsi untuk kemudian dilahirkan sebuah indeks. Di tingkat mikro, masih mungkin kita mengestimasi besaran suap yang dibayar perusahaan ke petugas perizinan, Pajak, Bea dan Cukai, dan lain-lain. Namun, di tingkat individual, isu sudah bergeser ke sisi hukum.

    Keempat, seberapa lebar Soeharto harus didefinisikan? Time Asia memakai kata Suharto Inc, the Family Firm yang di dalamnya ada nama enam anaknya. Jadi ini terbatas pada keluarga batih. Namun, siapakah sebenarnya "pemegang saham" Soeharto Inc? Soeharto sendiri? Terlibatkah para (mantan) menantu, kroni, atau proksi Soeharto? Rentang definisi ini akan menentukan seberapa makmur kerajaan Bapak Pembangunan Indonesia itu.

    Kelima, estimasi 15 miliar-35 miliar dollar AS tentu tergantung rentang definisi Soeharto Inc dan metode penghitungannya. Ia bisa terlalu besar atau justru terlalu kecil. Kleptokrat, apalagi yang telah puluhan tahun berkarat, tentu paham betul di mana celah untuk sembunyi. Tak mudah kita melacaknya seraya berharap akan hasil yang berpresisi tinggi, apalagi menyeretnya ke bui.

    Apa daya?

    Merujuk data korupsi Soeharto saja, kita harus berhadapan dengan problem pembuktian. Ini menunjukkan betapa tebalnya magnitudo persoalan Soeharto. Namun, kasus Soeharto bukan ketiak ular, kita masih bisa mengambil beberapa jalan pilihan.

    Pertama, mengingat korupsi telah dianggap sebagai kasus extraordinary, tindakan yang diambil juga harus extraordinary. Pendekatan legalistik-formal telah terbukti gagal karena terlalu banyak aral menjegal. Kalau boleh saya sarankan, lupakanlah. Kita perlu menjajal pendekatan politik, dari yang ekstrem, semisal nasionalisasi perusahaan anak dan kroninya, hingga yang moderat, semisal meja perundingan. Lagi pula, data kejahatan Soeharto tidak tunggal. Pintu kamar penjara masih banyak bisa dibuka untuk banyak kasus agar beliau menikmati hari tuanya di sana.

    Kedua, lakukan kilas balik rentetan kebijakan yang pernah dibuatnya, lalu kejar siapa yang pernah mengambil manfaatnya. Kebijakan Soeharto pada masa lalu punya potensi tinggi menciptakan rentseekers. Segelintir orang telah menjadi hartawan karena kepada kroninya, Soeharto amat dermawan. Membangun basis data untuk kepentingan itu masih dimungkinkan ketimbang mencari harta Soeharto. Lelah kita menegakkan benang basah.

    Ketiga, telusuri perilaku bisnis dan pergerakan aset anak dan kroni Soeharto. Ini cuma punya dua syarat. Satu, jangan ada lagi pejabat pengkhianat yang menggunting dalam lipatan. Sungguh tak bisa dimengerti, bagaimana bisa dua pejabat tinggi hukum susul-menyusul memberi ruang gerak lebar bagi aliran dana mencurigakan anak Soeharto? Yang menarik, keduanya tidak buta hukum dan politik. Lalu, dua, lakukan tindakan extraordinary. Sekali lagi, extraordinary.

    Keempat, saat ini kita bak mengharapkan hujan harta Soeharto dari langit, tetapi air tempayan BLBI kita tumpahkan. Para garong BLBI ini bukan tak terdata. Magnitudo curiannya pun fantastis; jadi keterlibatan para petinggi kala itu pasti sangat logis. Detail data pun bisa kita bangun di sini. Mengapa kita melepas punai di tangan?

    Kelima, jangan lupa garong-garong "kecil’’ dan tukang peras di Imigrasi, Bea dan Cukai, kantor pajak, bandara, kantor polisi, pengadilan, kelurahan, hingga tukang palak berseragam dan tak berseragam di jalan. Kita abai mengepal tangan besi pada mereka. Mungkin karena kita berpikir itu kelas "recehan", padahal total volume penyedotan dana di sini tak kalah fantastis. Tak sulit melakukan enumerasi data di sini.

    Akhirnya, kita bisa tetap membuka tangan jika Bank Dunia, PBB, dan negara-negara maju memang tak sekadar bermulut manis. Namun, jika lidah mereka tak bertulang, bisa mati kita mencari jarum dalam jerami. Kasus korupsi dari teri hingga kakap persis ada di pelupuk mata, tak logis menyebut lantai berundak padahal tak pandai kita menari.

    Harry Seldadyo Mahasiswa PhD Ekonomi Politik di Rijksuniversiteit Groningen, Belanda

  • "Terima kasih, Emilia!"

    Emilia berasal dari keluarga kelas menengah di sebuah negara Eropa yang didera bencana kelaparan akibat perang nasional yang berkepanjangan. Langkanya bahan makanan dan serangan wabah penyakit menghantui seluruh penduduk negeri.

    Emilia selalu mempunyai masalah kesehatan sejak masa kecilnya. Tak ada kemungkinan memperbaiki kondisi kesehatannya itu, mengingat situasi tak menentu di mana ia tinggal. Emilia menikah dalam usia yang masih sangat muda dengan seorang perwira angkatan darat. Mereka kemudian tinggal di sebuah desa lain, jauh dari sanak-saudara dan kerabat.

    Edmund, putra pertama mereka, tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan, murid yang cemerlang, dan seorang olahragawan dengan kepribadian menarik. Beberapa tahun setelah kelahiran putra pertamanya, Emilia melahirkan seorang bayi perempuan yang usianya hanya beberapa minggu saja karena lingkungan yang kurang baik di mana keluarganya tinggal.

    Empat belas tahun setelah kelahiran Edmund dan sepuluh tahun setelah wafatnya putri tunggalnya, Emilia berada dalam situasi sulit. Usianya sudah empat puluh tahun sekarang dan kesehatannya semakin buruk: ia menderita penyakit ginjal yang serius dan kondisi jangtungnya semakin lama semakin parah karena cacad bawaan.

    Situasi politik negara semakin kritis, sebagai akibat dari baru berakhirnya Perang Dunia pertama. Keluarga hidup pas-pasan dalam keadaan ketidakpastian dan dalam kecemasan akan pecahnya perang baru.

    Dalam keadaan tak menentu itulah Emilia mendapati bahwa ia mengandung lagi. Sangat mungkin bagi wanita seusianya untuk memilih jalan aborsi, meskipun mengandung resiko, ada dokter-dokter yang siap sedia melakukannya.

    Usia dan kondisi kesehatan kandungannya yang lemah merupakan ancaman yang serius atas hidupnya sendiri. Situasinya yang serba sulit itu membuatnya bertanya-tanya, kehidupan bagaimanakah yang dapat ia berikan kepada bayi yang akan dilahirkannya, mengingat keadaan keluarganya yang miskin dan perang yang akan segera terjadi. Emilia tidak tahu bahwa hidupnya hanya tinggal sepuluh tahun lagi.

    Edmund, saudara tunggal sang bayi yang akan segera lahir, hanya akan bertahan hidup tiga tahun sesudah kepergian ibunya. Perang Dunia II benar-benar meletus beberapa tahun kemudian. Ayah sang bayi, yang adalah pensiunan kapten angkatan darat, mungkin saja akan kehilangan nyawanya dalam perang tersebut.

    Walaupun begitu banyak kendala, Emilia memilih untuk membiarkan bayinya tetap hidup. Ia melahirkan bayinya dan menamainya Karol: Karol Wojtyla.

    Anaknya ini sekarang telah menjadi dewasa, penuh karisma, dan setiap kali ia mengunjungi suatu negara, jutaan orang akan berteriak:

    “Paus Yohanes Paulus II, kami semua mencintaimu …”

    "Terima kasih seribu, Emilia!"

  • Tren Jadi Bahan Pelajaran

    Bahwa Liga Champion adalah kompetisi megah telah menjadi opini standar menjurus basi. UEFA sebagai pemilik liga tersebut tak menyembunyikan kebanggaan. Namun, kebesaran liga itu berusaha diubah dan ditularkan ke seluruh pelosok Eropa.

    Tren bermain di Liga Champion dijadikan salah satu topik pembahasan dalam UEFA Symposium for Coach Education Directors ketujuh yang dihelat di Hotel Grange, London, tengah pekan silam.

    Ada beberapa tema yang ditelaah para delegasi, direktur teknis, dan pelatih timnas dari 53 negara anggota UEFA. Namun, selain soal perizinan klub dan Lisensi Pelatih Junior A, tema yang paling menarik adalah tren penampilan di Liga Champion. Lebih menarik lagi karena materi ini ditempatkan sebagai bahan pelajaran bagi para manajer.

    “Liga Champion adalah contoh standar sepakbola dan ukuran bagi para pelatih. Pemain-pemain terbaik di dunia tampil di sana dan pelatih menjadikan ajang ini untuk mengembangkan pemain,” ucap Andy Roxburgh meninjau kompetisi tahun lalu.

    Ucapan sang Direktur Teknis UEFA didasarkan pada pemikiran Kelompok Studi Teknis, yang antara lain beranggotakan Arsene Wenger, Marcello Lippi, Gerard Houllier, Valeri Gazzaev, dan partisipan Forum Pelatih Klub Elite UEFA yang berlangsung di Nyon bulan ini.

    Ketat

    Inti permasalahan dalam simposium tersebut adalah perbedaan tipis antara menang dan kalah. Selisih kecil ini terutama terlihat di fase gugur. Dua per tiga partai di knockout stage ini ditentukan selisih satu gol.

    “Pada 2006/07, ke-16 klub berpeluang tampil di final,” sebut Wenger, bos Arsenal, tahun lalu. Orang Prancis ini tentu tidak asal sembarang omong karena ia membawa The Gunners mencapai laga puncak semusim sebelumnya.

    Kala memasuki pendalaman materi, terpapar beberapa kecenderungan permainan di liga mewah ini. Taktik serangan balik yang dilakukan dengan cepat, banyaknya gol pada 15 menit terakhir, seberapa besar adaptasi yang diperlukan tim, pentingnya konsentrasi sepanjang laga, dan seberapa baik organisasi setiap tim tak luput dari pembahasan.

    Diskusi bahkan juga memaparkan pentingnya memiliki seorang spesialis tendangan bebas seperti Andrea Pirlo, kombinasi permainan, kemampuan bermain menekan, penguasaan bola, dan bakat individual untuk bisa sukses di Liga Champion.

    Telaah mendetail tersebut tak berhenti hanya di level antarklub Liga Champion, melainkan juga di tingkat timnas negara-negara Eropa. Kelanjutannya adalah transfer ilmu kepada personel yang bertanggung jawab atas hal teknis tim nasional. Pelatih timnas disarankan memiliki lisensi. Selain itu, dengan bekal pelajaran dari Liga Champion ini, mereka juga diharapkan bisa memanfaatkan kualifikasi Euro atau Piala Dunia untuk meningkatkan standar.

    Bagi Benua Biru, Liga Champion akhirnya tak hanya soal kegemerlapan. Pelajaran yang bisa ditarik manajer di setiap negara dari arena keras lagi ketat ini akan menjadikan sepakbola Eropa makin mapan. (Christian Gunawan)

    Ufficialmente in Crisi

    Setelah giornata 5 sampai sebelum giornata 6 berputar, Milan dihujani kritik. Sebabnya apa lagi kalau bukan karena hasil mengecewakan yang diraih Massimo Ambrosini dkk. Pada pekan kelima (26/9), I Rossoneri dikalahkan Palermo 1-2.

    Dalam tiga pertandingan sebelum dipukul klub asal Sisilia itu, Milan selalu bermain seri, yakni dengan Fiorentina (1-1), Siena (1-1), dan Parma (1-1). Hasil demikian tidak menggambarkan status Il Diavolo sebagai kampiun Eropa.

    Setelah giornata 6 selesai, sorotan pada Milan akan semakin tajam. Sebabnya adalah pasukan Carlo Ancelotti kembali hanya seri. Adalah klub lain asal Sisilia yang membuat Milan dikritik mengalami krisis, yaitu Catania (1-1).

    “Rossoneri ufficialmente in crisi (Milan secara resmi berada dalam krisis),” tulis situs goal.com edisi Italia.

    Ancelotti mengakui timnya sedang bermasalah. “Ada beberapa problem, tapi tidak ada ketegangan. Atmosfer di tim tetap tenteram. Ketenteraman adalah kunci kemenangan musim lalu dan juga untuk musim ini,” kata Ancelotti di Datasport.

    Di San Siro pada Ahad lalu, Milan sama sekali tak menunjukkan kebesaran mereka sebagai tim yang punya kemampuan kelas dunia untuk memukul lawan. Gol semata wayang Si Merah-Hitam datang dari titik penalti.

    Penalti diberikan bukan karena Milan punya peluang sangat bagus untuk mencetak gol. Penalti terjadi karena tangan pemain Catania mengenai bola ketika berusaha memotong umpan silang.

    Eksekusi dilakukan Kaka. Dalam pertadingan ini Kaka menjalani laga ke-200 bersama Milan. Ia berhasil mencetak gol, tapi gol itu tak menghentikan media untuk menulis Il Diavolo secara resmi berada dalam krisis.

    Ancelotti membuat pembelaan tentang ketidaktajaman Milan. “Pertahanan tim-tim di Italia tidak memberikan banyak ruang. Di Eropa, tim-tim bermain lebih terbuka,” ujarnya. (man)

    Walk Out, Elano, dan X-Rated

    Hingga Minggu (30/9), pekan kedelapan Premier League tinggal menyisakan satu duel yang belum digelar antara Tottenham versus Aston Villa. Hasilnya memunculkan Manchester City dan Chelsea sebagai dua klub yang paling disorot untuk dua alasan yang sangat berbeda.

    Ya, kemenangan 2-0 Everton atas Middlesbrough di Goodison Park pada Ahad lalu seakan tidak mampu menghapuskan perhatian publik Inggris pada laga kandang pertama Chelsea di Premier League sepeninggal Jose Mourinho, yang berlangsung sehari sebelumnya.

    Atmosfer laga itu memang unik. Sekitar satu jam sebelum menjamu Fulham di Stamford Bridge, Sabtu (29/9), beberapa aktivis pendukung Chelsea membagikan selebaran yang isinya mengajak penonton melakukan aksi walk out meninggalkan stadion saat jeda.

    Kendati aksi kampanye untuk meminta Roman Abramovich kembali memakai Mourinho itu gagal, mayoritas dari 41.837 penonton yang bertahan di dalam stadion pada babak kedua tetap mencemooh perolehan skor 0-0 buah strategi Avram Grant.

    Chelsea bahkan nyaris kalah setelah Didier Drogba mendapatkan kartu kuning kedua di menit ke-74, akibat tak sengaja menyodok wajah Chris Baird dengan ujung sepatunya. Dengan berbekal tiga bek setelah Grant menarik keluar Ashley Cole (77’), Fulham pun langsung membuka tiga peluang emas.

    Dalam kesempatan berbeda, Hameur Bouazza, Paul Konchesky, dan Diomansy Kamara kemudian berhadapan dengan kiper Chelsea, Petr Cech. Chelski beruntung karena semua itu berujung dengan tembakan melebar dan satu penyelamatan gemilang Cech menggunakan kaki.

    Grant sendiri mengatakan terlalu prematur menilai Andriy Shevchenko bermain jelek setelah di empat laga Premiership Chelsea gagal mencetak satu gol pun. Pelatih asal Israel itu pada Premier Plus itu juga menyatakan menghormati sikap sebagian suporter yang menginginkan Mourinho kembali, tapi ia yakin mayoritas pendukung tetap mempercayainya.

    Mirip Dua Roberto

    Beberapa koran London menyikapi hasil ini dengan menyebut bahwa posisi Chelsea di empat besar mungkin akan digantikan Manchester City pada akhir musim. Kemenangan 3-1 City atas Newcastle adalah salah satu alasan di balik opini tersebut.

    Alasan lainnya adalah pasukan Sven-Goran Eriksson sanggup bermain konsisten, meski mulai melakukan rotasi pemain. Eriksson secara khusus memuji kinerja playmaker-nya, Elano Blumer.

    Pemain Brasil yang pekan lalu mencetak satu gol lewat tendangan bebas dari jarak 25 meter ini disebutnya berkelas dunia. “Kualitasnya setara dengan Roberto Baggio dan Roberto Mancini, dua pemain lain yang juga pernah saya tangani,” ujar Eriksson.

    Well, diapit dua penampilan kontras Chelsea dan Manchester tersebut, berkibar juga kisah mengenai kemenangan 1-0 yang sama-sama diperoleh tiga tim elite: Arsenal, Manchester United, serta Liverpool.

    Nasib The Gunners sedikit memiriskan hati lantaran meski unggul di kandang West Ham dan terus bertahan di puncak klasemen, mereka kehilangan Aleksandr Hleb akibat tekel brutal Mark Noble. Arsene Wenger menggolongkan tekel Noble tersebut sebagai aksi x-rated yang tabu dilihat dan ditiru anak-anak. (Darojatun)

  • title-3101800

    Tren Jadi Bahan Pelajaran

    Bahwa Liga Champion adalah kompetisi megah telah menjadi opini standar menjurus basi. UEFA sebagai pemilik liga tersebut tak menyembunyikan kebanggaan. Namun, kebesaran liga itu berusaha diubah dan ditularkan ke seluruh pelosok Eropa.

    Tren bermain di Liga Champion dijadikan salah satu topik pembahasan dalam UEFA Symposium for Coach Education Directors ketujuh yang dihelat di Hotel Grange, London, tengah pekan silam.

    Ada beberapa tema yang ditelaah para delegasi, direktur teknis, dan pelatih timnas dari 53 negara anggota UEFA. Namun, selain soal perizinan klub dan Lisensi Pelatih Junior A, tema yang paling menarik adalah tren penampilan di Liga Champion. Lebih menarik lagi karena materi ini ditempatkan sebagai bahan pelajaran bagi para manajer.

    ?Liga Champion adalah contoh standar sepakbola dan ukuran bagi para pelatih. Pemain-pemain terbaik di dunia tampil di sana dan pelatih menjadikan ajang ini untuk mengembangkan pemain,? ucap Andy Roxburgh meninjau kompetisi tahun lalu.

    Ucapan sang Direktur Teknis UEFA didasarkan pada pemikiran Kelompok Studi Teknis, yang antara lain beranggotakan Arsene Wenger, Marcello Lippi, Gerard Houllier, Valeri Gazzaev, dan partisipan Forum Pelatih Klub Elite UEFA yang berlangsung di Nyon bulan ini.

    Ketat

    Inti permasalahan dalam simposium tersebut adalah perbedaan tipis antara menang dan kalah. Selisih kecil ini terutama terlihat di fase gugur. Dua per tiga partai di knockout stage ini ditentukan selisih satu gol.

    ?Pada 2006/07, ke-16 klub berpeluang tampil di final,? sebut Wenger, bos Arsenal, tahun lalu. Orang Prancis ini tentu tidak asal sembarang omong karena ia membawa The Gunners mencapai laga puncak semusim sebelumnya.

    Kala memasuki pendalaman materi, terpapar beberapa kecenderungan permainan di liga mewah ini. Taktik serangan balik yang dilakukan dengan cepat, banyaknya gol pada 15 menit terakhir, seberapa besar adaptasi yang diperlukan tim, pentingnya konsentrasi sepanjang laga, dan seberapa baik organisasi setiap tim tak luput dari pembahasan.

    Diskusi bahkan juga memaparkan pentingnya memiliki seorang spesialis tendangan bebas seperti Andrea Pirlo, kombinasi permainan, kemampuan bermain menekan, penguasaan bola, dan bakat individual untuk bisa sukses di Liga Champion.

    Telaah mendetail tersebut tak berhenti hanya di level antarklub Liga Champion, melainkan juga di tingkat timnas negara-negara Eropa. Kelanjutannya adalah transfer ilmu kepada personel yang bertanggung jawab atas hal teknis tim nasional. Pelatih timnas disarankan memiliki lisensi. Selain itu, dengan bekal pelajaran dari Liga Champion ini, mereka juga diharapkan bisa memanfaatkan kualifikasi Euro atau Piala Dunia untuk meningkatkan standar.

    Bagi Benua Biru, Liga Champion akhirnya tak hanya soal kegemerlapan. Pelajaran yang bisa ditarik manajer di setiap negara dari arena keras lagi ketat ini akan menjadikan sepakbola Eropa makin mapan. (Christian Gunawan)

    Ufficialmente in Crisi

    Setelah giornata 5 sampai sebelum giornata 6 berputar, Milan dihujani kritik. Sebabnya apa lagi kalau bukan karena hasil mengecewakan yang diraih Massimo Ambrosini dkk. Pada pekan kelima (26/9), I Rossoneri dikalahkan Palermo 1-2.

    Dalam tiga pertandingan sebelum dipukul klub asal Sisilia itu, Milan selalu bermain seri, yakni dengan Fiorentina (1-1), Siena (1-1), dan Parma (1-1). Hasil demikian tidak menggambarkan status Il Diavolo sebagai kampiun Eropa.

    Setelah giornata 6 selesai, sorotan pada Milan akan semakin tajam. Sebabnya adalah pasukan Carlo Ancelotti kembali hanya seri. Adalah klub lain asal Sisilia yang membuat Milan dikritik mengalami krisis, yaitu Catania (1-1).

    ?Rossoneri ufficialmente in crisi (Milan secara resmi berada dalam krisis),? tulis situs goal.com edisi Italia.

    Ancelotti mengakui timnya sedang bermasalah. ?Ada beberapa problem, tapi tidak ada ketegangan. Atmosfer di tim tetap tenteram. Ketenteraman adalah kunci kemenangan musim lalu dan juga untuk musim ini,? kata Ancelotti di Datasport.

    Di San Siro pada Ahad lalu, Milan sama sekali tak menunjukkan kebesaran mereka sebagai tim yang punya kemampuan kelas dunia untuk memukul lawan. Gol semata wayang Si Merah-Hitam datang dari titik penalti.

    Penalti diberikan bukan karena Milan punya peluang sangat bagus untuk mencetak gol. Penalti terjadi karena tangan pemain Catania mengenai bola ketika berusaha memotong umpan silang.

    Eksekusi dilakukan Kaka. Dalam pertadingan ini Kaka menjalani laga ke-200 bersama Milan. Ia berhasil mencetak gol, tapi gol itu tak menghentikan media untuk menulis Il Diavolo secara resmi berada dalam krisis.

    Ancelotti membuat pembelaan tentang ketidaktajaman Milan. ?Pertahanan tim-tim di Italia tidak memberikan banyak ruang. Di Eropa, tim-tim bermain lebih terbuka,? ujarnya. (man)

    Walk Out, Elano, dan X-Rated

    Hingga Minggu (30/9), pekan kedelapan Premier League tinggal menyisakan satu duel yang belum digelar antara Tottenham versus Aston Villa. Hasilnya memunculkan Manchester City dan Chelsea sebagai dua klub yang paling disorot untuk dua alasan yang sangat berbeda.

    Ya, kemenangan 2-0 Everton atas Middlesbrough di Goodison Park pada%

  • Pertahankan Status Badut

    Franck Ribery
    Pertahankan Status Badut

    Penyerang asal Prancis, Franck Ribery, adalah salah satu bintang di Germany 2006. Setelah kariernya menanjak bersama Olympique Marseille, musim ini ia memulai petualangan barunya di Bundesliga bersama Bayern Muenchen.

    Franck Ribery, tak suka permainan kotor bek Bundesliga.

    Mengapa ia mau pindah ke FC Hollywood, yang di 2007/08 ini tidak bermain di Liga Champion? Lalu kenapa ia langsung memperoleh status “badut” di klub barunya itu? Simak petikan wawancaranya dengan World Soccer berikut ini.

    Kenapa mau pindah ke Bayern Muenchen, bukan ke klub lain?

    Ya, Real Madrid dan Arsenal saat Piala Dunia berakhir memang terlihat tertarik merekrut saya. Tapi, ketika saya memutuskan bertahan semusim lagi di Marseille mereka langsung mundur. Berbeda dengan Bayern yang kemudian terus menghubungi OM dan agen saya.

    Saya pun langsung berkonsultasi dengan para senior saya di timnas mengenai Bayern. Willy Sagnol dan Bixente Lizarazu menyebut standar sepakbola di Bundesliga pasti sesuai dengan harapan saya.

    Anda langsung disebut sebagai bintang baru di Bundesliga. Ada komentar?

    Wah, saya tidak berambisi untuk jadi superstar. Saya hanya ingin dipercaya dan berguna untuk Bayern saat ini. Buat saya bermain dengan enak di sini dan bisa menghibur teman serta penonton sudah cukup. Kalau bisa, saya juga ingin memenangi gelar bergengsi bersama Bayern.

    Apa prioritas utama Bayern musim ini mengingat Bayern tidak bermain di Liga Champion?

    Menjuarai Bundesliga. Saya sendiri berpendapat kami bisa melaju hingga ke final Piala UEFA.

    Ada kesulitan beradaptasi dengan gaya hidup di Jerman dan klub ini?

    Penerjemah saya di pekan-pekan pertama adalah Daniel van Buyten (bek asal Belgia) dan Willy Sagnol. Semua jadi mudah karena pelatih Ottmar Hitzfeld di hari pertama juga langsung mengundang saya ke kantornya. Ia bertanya di posisi apa saya ingin bermain. Saya bilang padanya saya ingin menjadi sayap kiri, tapi dalam kondisi mendesak saya bisa bermain di belakang striker atau juga di sisi kanan.

    Kesan tentang Bundesliga?

    Perbedaan utama di sini dengan Ligue 1 adalah banyaknya bek Bundesliga yang mempergunakan tangannya untuk menghentikan pemain depan. Sedikit kotor memang, tapi itu tidak membuat saya berkecil hati karena banyak hal menarik di Jerman.

    Kami beberapa waktu lalu bermain di perempatfinal Piala Liga di Duesseldorf dengan disaksikan 50 ribu orang. Di Prancis, kamu tidak akan ditonton orang sebanyak itu bila bermain di stadion milik klub dari divisi tiga.

    Apakah Anda tetap mempertahankan status sebagai badut di Bayern setelah sebelumnya dikenal sering melawak di timnas dan Marseille?

    Ha ha ha, tidak ada yang berubah dengan saya. Saya pikir humor sangat penting di sepakbola. Di sini, saya pernah menggunting ujung kaus kaki Daniel ketika dirinya sedang mandi di ruang ganti. Ia benar-benar kebingungan karena saat ditarik, kaus kakinya blong meluncur terus ke atas melewati lutut. Sungguh menggelikan! (Darojatun/Foto: AFP)

    Empat Korban dari Matchday 1

    Baru berumur satu pertandingan, Liga Champion sudah memakan korban. Empat klub peserta telah mengganti pelatih mereka selepas matchday 1.

    Korban paling terkenal adalah Jose Mourinho di Chelsea. Hasil 1-1 melawan Rosenborg di matchday 1 langsung disusul oleh pengunduran diri "The Special One”.

    Hubungan Mourinho dan pemilik Chelsea, Roman Abramovich, memang sudah tak harmonis. Hasil buruk di Liga Champion hanya menjadi pelengkap alasan mengapa pria Portugal itu harus hengkang dari Stamford Bridge.

    Pengganti Mourinho adalah Avram Grant, yang sebelumnya menjadi Direktur Sepakbola Chelsea. Khusus untuk Liga Champion, Grant sebetulnya belum memiliki lisensi UEFA Pro, yang dibutuhkan di kompetisi Eropa.

    Namun, UEFA menegaskan mereka tidak akan melarang Grant melatih Chelsea di Liga Champion. “Kami baru akan mempertimbangkan kasus ini apabila Premier League sudah mengajukan komplain resmi tentang kualifikasi Mr. Grant,” ujar juru bicara UEFA di BBC Sports.

    Mirip dengan Mourinho, Gheorghe Hagi juga meletakkan jabatannya di Steaua Bucuresti karena menganggap Presiden Gheorghe Becali terlalu banyak menekan dan ikut campur tangan dalam urusan pemilihan skuad.

    “Saya tidak tahan tekanan ini. Saya seperti disiksa. Saya sudah memutuskan pergi sebelum Steaua menghadapi Slavia Praha di matchday 1,” kata Hagi seperti dikutip di situs resmi UEFA. Pengganti Hagi di Steaua untuk sementara adalah bekas asistennya, Massimo Pedrazzini.

    Buruk di Domestik

    Dua korban lainnya jatuh lebih karena hasil buruk di liga domestik. Tapi, klub mereka tidak ingin prestasi itu menular ke Liga Champion. Selagi baru melewati matchday pertama, perubahan perlu dilakukan secepatnya.

    Dynamo Kyiv setuju memutus kontrak Anatoliy Demyanenko usai kekalahan 0-2 dari Roma di matchday 1. Kyiv juga tampil mengecewakan di Liga Ukraina dengan hanya menempati peringkat ketiga setelah sembilan laga.

    Suksesor Demyanenko adalah pelatih berusia 67 tahun, Jozsef Szabo. “Kyiv memiliki potensi hebat, tapi sekarang mereka membutuhkan ide segar dan kesatuan tim. Kami mempunyai target lolos ke fase knock-out,” ujar Szabo.

    Korban terakhir adalah arsitek Marseille, Albert Emon. OM sebetulnya memulai langkah di Liga Champion dengan baik. Di matchday 1, mereka memukul Besiktas Istanbul 2-0. Sayang, mereka remuk di Ligue 1 Prancis.

    Setelah melalui sembilan pertandingan, Marseille berada di posisi ke-16 dari 20 tim. Manajemen OM pun memutuskan Emon harus diganti. Penerusnya adalah eks bek tim nasional Belgia antara 1975-1991, Eric Gerets.

    “Marseille membutuhkan start baru. Eric Gerets adalah pelatih yang bisa melakukannya tanpa harus merusak hasil kerja kami dalam tiga tahun terakhir. Dia punya pengalaman,” ungkap Presiden Marseille, Pape Diouf. (Dwi Widijatmiko)

    Kejagung Minta Uang Tommy di Guernsey Ditarik ke Indonesia

    * Kejagung Minta Uang Tommy di Guernsey Ditarik ke Indonesia

    Sindo Edisi Sore Berita Utama Sore
    Rabu, 03/10/2007

    Kejaksaan Agung (Kejagung) melalui Jaksa Pengacara Negara (JPN)
    mengajukan dua poin penting dalam proposal mediasi dengan Hutomo
    Mandala Putra Tommy Soeharto).

    JAKARTA (SINDO) –Salah satunya meminta sebagian uang di BNP Paribas
    London dicairkan untuk kepentingan rakyat Indonesia. Ketua JPN
    Yoseph Suardi Sabda saat dihubungi SINDO kemarin mengatakan, JPN
    sudah mulai melakukan pembicaraan internal perihal tawaran yang akan
    diajukan." Adalah beberapa poin yang sudah kami sepakati untuk
    ditawarkan," katanya.

    Yoseph yang juga Direktur Perdata Kejagung itu mengatakan, salah
    satu poin penting adalah JPN akan meminta Tommy untuk bersama- sama
    mengajukan permohonan ke Pengadilan Guernsey, Inggris, agar sebagian
    uang di BNP Paribas dicairkan untuk kepentingan rakyat Indonesia.

    "Kami mengajukan tawaran itu karena uang di BNP Paribas itu tidak
    akan bisa digunakan karena adanya persoalan hukum. Tommy tidak bisa
    menggunakan uang itu. Jadi percuma saja uang itu ada.Tidak ada yang
    diuntungkan dengan hal ini. Mungkin malah rakyat Guernsey yang
    diuntungkan dengan itu,"tukasnya.

    Yoseph melihat, jika ada kesepakatan antara JPN dan Tommy, uang di
    BNP Paribas itu bisa dicairkan. Jika uang itu bisa dicairkan,
    tinggal disepakati berapa besar bagian uang untuk Tommy dan berapa
    besar untuk kepentingan rakyat Indonesia. "Tentu kami akan minta
    bagian lebih besar,"tegasnya.

    Seperti diberitakan SINDO pagi (2/10), dalam sidang gugatan perdata
    tukar guling PT Goro Batara Sakti (GBS) dengan Perusahaan Umum Badan
    Urusan Logistik (Perum Bulog), JPN, dan kuasa hukum Tommy –
    panggilan Hutomo Mandala Putra – sepakat menempuh jalur mediasi
    (perdamaian) .

    Langkah ini juga diambil kuasa hukum tergugat I,III, IV, yaitu PT
    GBS, mantan Dirut PT GBS Richardo Gelael, dan mantan Kepala Bulog
    Beddu Amang. Berdasarkan Peraturan Mahkamah Agung (MA) Nomor 2 Tahun
    2003. Proses mediasi diberi waktu 22 hari. Yoseph enggan memberikan
    penjelasan apakah dalam poin-poin itu dibahas juga soal besarnya
    tuntutan ganti rugi.

    Dalam tuntutan, Kejagung meminta ganti rugi sebesar Rp500 miliar.
    Uang itu sesuai dengan kerugian negara yang ditimbulkan akibat tukar
    guling itu. Yoseph beralasan, poin-poin tawaran mediasi ini
    kemungkinan masih bisa berubah. JPN harus mengonsultasikan itu pada
    Perum Bulog dan juga Kejagung.

    "Harus dikonsultasikan dulu. Pertama dengan atasan saya di
    Kejagung,dan kedua dengan Bulog sebagai klien. JPN akan mengajukan
    secara resmi poin-poin tersebut pada dua institusi itu,"jelasnya.

    Dihubungi terpisah, kuasa hukum Tommy, Elza Syarief enggan
    memberikan banyak komentar."Saya belum bisa memberikan komentar
    soal tawaran yang diajukan JPN. Pertama,karena kami belum
    mendapatkan proposal dari mereka secara resmi dan detail. Kedua,
    saya juga harus mengonsultasikan hal ini dengan klien saya
    dulu,"kilahnya.

    Setelah persidangan kemarin, persidangan dijadwalkan akan
    dilanjutkan pada Senin (8/10) pekan depan. Dalam sidang itu, JPN
    akan memberikan proposal mediasi kepada pihak tergugat. (helmi
    firdaus)
    ============ ========= ========= =====
    KOMPAS
    Rabu, 03 Oktober 2007

    * Data Korupsi Soeharto?

    Harry Seldadyo

    September adalah bulan perlawanan korupsi. Di antara rentetan kasus
    korupsi yang mengemuka di bulan ini, kasus Soeharto tetap yang
    paling menonjol. Ini karena ada kado Rp 1 triliun yang diberikan
    kepada sang "Jenderal Besar", selain penolakan MA atas data Time
    Asia yang dipublikasikan 24 Mei 1999.

    Sebaliknya, StAR Initiative Bank Dunia-PBB menggebrak publik dengan
    menempatkan sang penerima penghargaan FAO 1984 itu di posisi pertama
    liga korupsi dunia. Dalam laporannya StAR Initiative juga
    menyodorkan data (hal 11).

    Asal data

    Pertanyaannya, bisakah kita bergantung pada data itu? Ada beberapa
    hal yang bisa didiskusikan di sini.

    Pertama, soal sumber data. Patut dicatat, StAR Initiative tidak
    melakukan investigasi baru, ia hanya mendaur ulang data Transparansi
    Internasional (TI) yang pernah dituang dalam Global Corruption
    Report 2004 (hal 13). Data ini juga pernah muncul dalam The Guardian
    (24/3/2004) di laporan khusus soal Indonesia dan Timor Timur.
    Menariknya, tentang Soeharto, TI menyebut Time Asia sebagai sumber
    data. Padahal, data Time Asia ini ditolak mentah-mentah oleh MA.

    Kedua, data korupsi Soeharto dalam StAR Initiative, TI, The
    Guardian, dan Time Asia adalah produk investigasi jurnalistik. Dalam
    laporan TI ataupun StAR Initiative, beberapa kali diberikan catatan
    atas akurasinya. TI menulis ".the estimates.are extremely
    approximate. " Hal senada juga dinyatakan StAR Initiative. Pertanyaan
    bagi kita, apakah ada kandungan yuridis dalam data ini? Hampir
    terang, jawabannya "tidak". Artinya, kalau data ini dipakai,
    penuntut Soeharto harus siap ditembak lagi oleh MA di titik yang
    persis sama.

    Ketiga, hal serupa juga muncul jika data ini dipersoalkan secara
    ilmiah. Korupsi adalah sebuah ruang gelap. Banyak eksperimen
    metodologis yang mencoba menyingkap tabirnya. Untuk masuk pada isu
    magnitudo korupsi, benturan pertama yang harus dihadapi adalah
    presisi data. Sejauh ini tidak ada teknik estimasi yang bisa
    mengklaim punya presisi tinggi dalam menggambarkan magnitudo
    korupsi.

    Ini menjadi penjelas mengapa di tingkat makro, korupsi didekati dari
    persepsi untuk kemudian dilahirkan sebuah indeks. Di tingkat mikro,
    masih mungkin kita mengestimasi besaran suap yang dibayar perusahaan
    ke petugas perizinan, Pajak, Bea dan Cukai, dan lain-lain. Namun, di
    tingkat individual, isu sudah bergeser ke sisi hukum.

    Keempat, seberapa lebar Soeharto harus didefinisikan? Time Asia
    memakai kata Suharto Inc, the Family Firm yang di dalamnya ada nama
    enam anaknya. Jadi ini terbatas pada keluarga batih. Namun, siapakah
    sebenarnya "pemegang saham" Soeharto Inc? Soeharto sendiri?
    Terlibatkah para (mantan) menantu, kroni, atau proksi Soeharto?
    Rentang definisi ini akan menentukan seberapa makmur kerajaan Bapak
    Pembangunan Indonesia itu.

    Kelima, estimasi 15 miliar-35 miliar dollar AS tentu tergantung
    rentang definisi Soeharto Inc dan metode penghitungannya. Ia bisa
    terlalu besar atau justru terlalu kecil. Kleptokrat, apalagi yang
    telah puluhan tahun berkarat, tentu paham betul di mana celah untuk
    sembunyi. Tak mudah kita melacaknya seraya berharap akan hasil yang
    berpresisi tinggi, apalagi menyeretnya ke bui.

    Apa daya?

    Merujuk data korupsi Soeharto saja, kita harus berhadapan dengan
    problem pembuktian. Ini menunjukkan betapa tebalnya magnitudo
    persoalan Soeharto. Namun, kasus Soeharto bukan ketiak ular, kita
    masih bisa mengambil beberapa jalan pilihan.

    Pertama, mengingat korupsi telah dianggap sebagai kasus
    extraordinary, tindakan yang diambil juga harus extraordinary.
    Pendekatan legalistik-formal telah terbukti gagal karena terlalu
    banyak aral menjegal. Kalau boleh saya sarankan, lupakanlah. Kita
    perlu menjajal pendekatan politik, dari yang ekstrem, semisal
    nasionalisasi perusahaan anak dan kroninya, hingga yang moderat,
    semisal meja perundingan. Lagi pula, data kejahatan Soeharto tidak
    tunggal. Pintu kamar penjara masih banyak bisa dibuka untuk banyak
    kasus agar beliau menikmati hari tuanya di sana.

    Kedua, lakukan kilas balik rentetan kebijakan yang pernah dibuatnya,
    lalu kejar siapa yang pernah mengambil manfaatnya. Kebijakan
    Soeharto pada masa lalu punya potensi tinggi menciptakan
    rentseekers. Segelintir orang telah menjadi hartawan karena kepada
    kroninya, Soeharto amat dermawan. Membangun basis data untuk
    kepentingan itu masih dimungkinkan ketimbang mencari harta Soeharto.
    Lelah kita menegakkan benang basah.

    Ketiga, telusuri perilaku bisnis dan pergerakan aset anak dan kroni
    Soeharto. Ini cuma punya dua syarat. Satu, jangan ada lagi pejabat
    pengkhianat yang menggunting dalam lipatan. Sungguh tak bisa
    dimengerti, bagaimana bisa dua pejabat tinggi hukum susul-menyusul
    memberi ruang gerak lebar bagi aliran dana mencurigakan anak
    Soeharto? Yang menarik, keduanya tidak buta hukum dan politik. Lalu,
    dua, lakukan tindakan extraordinary. Sekali lagi, extraordinary.

    Keempat, saat ini kita bak mengharapkan hujan harta Soeharto dari
    langit, tetapi air tempayan BLBI kita tumpahkan. Para garong BLBI
    ini bukan tak terdata. Magnitudo curiannya pun fantastis; jadi
    keterlibatan para petinggi kala itu pasti sangat logis. Detail data
    pun bisa kita bangun di sini. Mengapa kita melepas punai di tangan?

    Kelima, jangan lupa garong-garong "kecil'' dan tukang peras di
    Imigrasi, Bea dan Cukai, kantor pajak, bandara, kantor polisi,
    pengadilan, kelurahan, hingga tukang palak berseragam dan tak
    berseragam di jalan. Kita abai mengepal tangan besi pada mereka.
    Mungkin karena kita berpikir itu kelas "recehan", padahal total
    volume penyedotan dana di sini tak kalah fantastis. Tak sulit
    melakukan enumerasi data di sini.

    Akhirnya, kita bisa tetap membuka tangan jika Bank Dunia, PBB, dan
    negara-negara maju memang tak sekadar bermulut manis. Namun, jika
    lidah mereka tak bertulang, bisa mati kita mencari jarum dalam
    jerami. Kasus korupsi dari teri hingga kakap persis ada di pelupuk
    mata, tak logis menyebut lantai berundak padahal tak pandai kita
    menari.

    Harry Seldadyo Mahasiswa PhD Ekonomi Politik di Rijksuniversiteit
    Groningen, Belanda
    ============ ========= ========= =
    * Gugatan Goro Tommy Masuk Tahap Mediasi
    Koran Tempo - Selasa, 02 Oktober 2007

    JAKARTA -- Gugatan perdata pemerintah dalam kasus ruilslag PT Goro
    Batara Sakti dengan Bulog memasuki tahap mediasi. Ketua majelis hakim
    Haswandi mengatakan proses mediasi akan berlangsung selama 22 hari
    dan diketuai hakim Edy Risdianto.

    "Jika tidak terjadi perdamaian, akan masuk ligitasi," kata Haswandi
    dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan kemarin.
    Seusai sidang, kedua pihak melakukan pertemuan tertutup dengan hakim
    mediator selama sekitar 15 menit.

    Seusai pertemuan tersebut, ketua tim jaksa penuntut umum Yoseph
    Suardi Sabda mengatakan mediasi selanjutnya akan berlangsung Senin
    pekan depan. Saat itu, kata dia, pihak penggugat dan tergugat akan
    memberikan usul-usul mediasi.

    Sementara itu, kuasa hukum Hutomo Mandala Putra, Elza Syarif,
    mengatakan akan melihat terlebih dulu usul mediasi dari penggugat.
    "Tercapai atau tidak, kita lihat nanti," ujarnya.

    Seperti yang diberitakan, pemerintah mengajukan gugatan perdata
    terhadap PT Goro Batara Sakti, Tommy Soeharto, Ricardo Gelael, dan
    Beddu Amang. Pemerintah menuntut ganti rugi materiil sebesar Rp 244
    miliar, ganti rugi imateriil Rp 100 miliar, dan gugatan membayar
    bunga atas kerugian Rp 206,52 miliar. RINI KUSTIANI
    ============ ========= ====

  • title-3101723

    Franck Ribery
    Pertahankan Status Badut

    Penyerang asal Prancis, Franck Ribery, adalah salah satu bintang di Germany 2006. Setelah kariernya menanjak bersama Olympique Marseille, musim ini ia memulai petualangan barunya di Bundesliga bersama Bayern Muenchen.

    Franck Ribery, tak suka permainan kotor bek Bundesliga.

    Mengapa ia mau pindah ke FC Hollywood, yang di 2007/08 ini tidak bermain di Liga Champion? Lalu kenapa ia langsung memperoleh status ?badut? di klub barunya itu? Simak petikan wawancaranya dengan World Soccer berikut ini.

    Kenapa mau pindah ke Bayern Muenchen, bukan ke klub lain?

    Ya, Real Madrid dan Arsenal saat Piala Dunia berakhir memang terlihat tertarik merekrut saya. Tapi, ketika saya memutuskan bertahan semusim lagi di Marseille mereka langsung mundur. Berbeda dengan Bayern yang kemudian terus menghubungi OM dan agen saya.

    Saya pun langsung berkonsultasi dengan para senior saya di timnas mengenai Bayern. Willy Sagnol dan Bixente Lizarazu menyebut standar sepakbola di Bundesliga pasti sesuai dengan harapan saya.

    Anda langsung disebut sebagai bintang baru di Bundesliga. Ada komentar?

    Wah, saya tidak berambisi untuk jadi superstar. Saya hanya ingin dipercaya dan berguna untuk Bayern saat ini. Buat saya bermain dengan enak di sini dan bisa menghibur teman serta penonton sudah cukup. Kalau bisa, saya juga ingin memenangi gelar bergengsi bersama Bayern.

    Apa prioritas utama Bayern musim ini mengingat Bayern tidak bermain di Liga Champion?

    Menjuarai Bundesliga. Saya sendiri berpendapat kami bisa melaju hingga ke final Piala UEFA.

    Ada kesulitan beradaptasi dengan gaya hidup di Jerman dan klub ini?

    Penerjemah saya di pekan-pekan pertama adalah Daniel van Buyten (bek asal Belgia) dan Willy Sagnol. Semua jadi mudah karena pelatih Ottmar Hitzfeld di hari pertama juga langsung mengundang saya ke kantornya. Ia bertanya di posisi apa saya ingin bermain. Saya bilang padanya saya ingin menjadi sayap kiri, tapi dalam kondisi mendesak saya bisa bermain di belakang striker atau juga di sisi kanan.

    Kesan tentang Bundesliga?

    Perbedaan utama di sini dengan Ligue 1 adalah banyaknya bek Bundesliga yang mempergunakan tangannya untuk menghentikan pemain depan. Sedikit kotor memang, tapi itu tidak membuat saya berkecil hati karena banyak hal menarik di Jerman.

    Kami beberapa waktu lalu bermain di perempatfinal Piala Liga di Duesseldorf dengan disaksikan 50 ribu orang. Di Prancis, kamu tidak akan ditonton orang sebanyak itu bila bermain di stadion milik klub dari divisi tiga.

    Apakah Anda tetap mempertahankan status sebagai badut di Bayern setelah sebelumnya dikenal sering melawak di timnas dan Marseille?

    Ha ha ha, tidak ada yang berubah dengan saya. Saya pikir humor sangat penting di sepakbola. Di sini, saya pernah menggunting ujung kaus kaki Daniel ketika dirinya sedang mandi di ruang ganti. Ia benar-benar kebingungan karena saat ditarik, kaus kakinya blong meluncur terus ke atas melewati lutut. Sungguh menggelikan! (Darojatun/Foto: AFP)

    Empat Korban dari Matchday 1

    Baru berumur satu pertandingan, Liga Champion sudah memakan korban. Empat klub peserta telah mengganti pelatih mereka selepas matchday 1.

    Korban paling terkenal adalah Jose Mourinho di Chelsea. Hasil 1-1 melawan Rosenborg di matchday 1 langsung disusul oleh pengunduran diri "The Special One?.

    Hubungan Mourinho dan pemilik Chelsea, Roman Abramovich, memang sudah tak harmonis. Hasil buruk di Liga Champion hanya menjadi pelengkap alasan mengapa pria Portugal itu harus hengkang dari Stamford Bridge.

    Pengganti Mourinho adalah Avram Grant, yang sebelumnya menjadi Direktur Sepakbola Chelsea. Khusus untuk Liga Champion, Grant sebetulnya belum memiliki lisensi UEFA Pro, yang dibutuhkan di kompetisi Eropa.

    Namun, UEFA menegaskan mereka tidak akan melarang Grant melatih Chelsea di Liga Champion. ?Kami baru akan mempertimbangkan kasus ini apabila Premier League sudah mengajukan komplain resmi tentang kualifikasi Mr. Grant,? ujar juru bicara UEFA di BBC Sports.

    Mirip dengan Mourinho, Gheorghe Hagi juga meletakkan jabatannya di Steaua Bucuresti karena menganggap Presiden Gheorghe Becali terlalu banyak menekan dan ikut campur tangan dalam urusan pemilihan skuad.

    ?Saya tidak tahan tekanan ini. Saya seperti disiksa. Saya sudah memutuskan pergi sebelum Steaua menghadapi Slavia Praha di matchday 1,? kata Hagi seperti dikutip di situs resmi UEFA. Pengganti Hagi di Steaua untuk sementara adalah bekas asistennya, Massimo Pedrazzini.

    Buruk di Domestik

    Dua korban lainnya jatuh lebih karena hasil buruk di liga domestik. Tapi, klub mereka tidak ingin prestasi itu menular ke Liga Champion. Selagi baru melewati matchday pertama, perubahan perlu dilakukan secepatnya.

    Dynamo Kyiv setuju memutus kontrak Anatoliy Demyanenko usai kekalahan 0-2 dari Roma di matchday 1. Kyiv juga tampil mengecewakan di Liga Ukraina dengan hanya menempati peringkat ketiga setelah sembilan laga.

    Suksesor Demyanenko adalah pelatih berusia 67 tahun, Jozsef Szabo. ?Kyiv memiliki potensi hebat, tapi sekarang mereka membutuhkan ide segar dan kesatuan tim. Kami mempunyai target lolos ke fase knock-out,? ujar Szabo.

    Korban terakhir adalah arsitek Marseille, Albert Emon. OM sebetulnya memulai langkah di Liga Champion dengan baik. Di matchday 1, mereka memukul Besiktas Istanbul 2-0. Sayang, mereka remuk di Ligue 1 Prancis.

    Setelah melalui sembilan pertandingan, Marseille berada di posisi ke-16 dari 20 tim. Manajemen OM pun memutuskan Emon harus diganti. Penerusnya adalah eks bek tim nasional Belgia antara 1975-1991, Eric Gerets.

    ?Marseille membutuhkan start baru. Eric Gerets adalah pelatih yang bisa melakukannya tanpa harus merusak hasil kerja kami dalam tiga tahun terakhir. Dia punya pengalaman,? ungkap Presiden Marseille, Pape Diouf. (Dwi Widijatmiko)

    Kejagung Minta Uang Tommy di Guernsey Ditarik ke Indonesia

    * Kejagung Minta Uang Tommy di Guernsey Ditarik ke Indonesia

    Sindo Edisi Sore Berita Utama Sore
    Rabu, 03/10/2007

    Kejaksaan Agung (Kejagung) melalui Jaksa Pengacara Negara (JPN)
    mengajukan dua poin penting dalam proposal mediasi dengan Hutomo
    Mandala Putra Tommy Soeharto).

    JAKARTA (SINDO) ?Salah satunya meminta sebagian uang di BNP Paribas
    London dicairkan untuk kepentingan rakyat Indonesia. Ketua JPN
    Yoseph Suardi Sabda saat dihubungi SINDO kemarin mengatakan, JPN
    sudah mulai melakukan pembicaraan internal perihal tawaran yang akan
    diajukan." Adalah beberapa poin yang sudah kami sepakati untuk
    ditawarkan," katanya.

    Yoseph yang juga Direktur Perdata Kejagung itu mengatakan, salah
    satu poin penting adalah JPN akan meminta Tommy untuk bersama- sama
    mengajukan permohonan ke Pengadilan Guernsey, Inggris, agar sebagian
    uang di BNP Paribas dicairkan untuk kepentingan rakyat Indonesia.

    "Kami mengajukan tawaran itu karena uang di BNP Paribas itu tidak
    akan bisa digunakan karena adanya persoalan hukum. Tommy tidak bisa
    menggunakan uang itu. Jadi percuma saja uang itu ada.Tidak ada yang
    diuntungkan dengan hal ini. Mungkin malah rakyat Guernsey yang
    diuntungkan dengan itu,"tukasnya.

    Yoseph melihat, jika ada kesepakatan antara JPN dan Tommy, uang di
    BNP Paribas itu bisa dicairkan. Jika uang itu bisa dicairkan,
    tinggal disepakati berapa besar bagian uang untuk Tommy dan berapa
    besar untuk kepentingan rakyat Indonesia. "Tentu kami akan minta
    bagian lebih besar,"tegasnya.

    Seperti diberitakan SINDO pagi (2/10), dalam sidang gugatan perdata
    tukar guling PT Goro Batara Sakti (GBS) dengan Perusahaan Umum Badan
    Urusan Logistik (Perum Bulog), JPN, dan kuasa hukum Tommy ?
    panggilan Hutomo Mandala Putra ? sepakat menempuh jalur mediasi
    (perdamaian) .

    Langkah ini juga%

Footer:

The content of this website belongs to a private person, blog.co.uk is not responsible for the content of this website.