JAKARTA- Empat terdakwa kasus dugaan korupsi impor sapi fiktif Bulog, yaitu Imanusafi (mantan kepala Divisi Transportasi dan Pergudangan Bulog yang juga sekretaris tim monitoring), A Nawawi, Ruchiyat Soebandi, dan Mika Ramba Kendenan (ketiganya anggota tim monitoring), divonis bebas oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel).
Sebelumnya, Ketua Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) M Syafi'i menuntut keempat terdakwa dengan hukuman enam tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider enam bulan kurungan.
Senin (29/10) lalu, di pengadilan yang sama dan kasus yang sama, majelis hakim memvonis Kepala Pusat Jasa Logistik Perum Bulog Tito Pranolo empat tahun penjara dan denda 50 juta subsider empat bulan penjara. Tito juga sebagai ketua tim monitoring dalam impor sapi tersebut.
Majelis hakim menilai sebagai anggota tim monitoring mereka tidak mempunyai tanggung jawab dalam kerja sama proyek pengadaan impor sapi antara Bulog dan dua rekanan yaitu PT Lintas Nusa Pratama (LNP) dan PT Surya Bumi Manunggal (SBM), pada 2001. Menurut majelis hakim, penanggung jawab kerja sama yang akhirnya merugikan keuangan negara tersebut adalah atasan mereka yaitu Tito Pranolo bersama pejabat-pejabat Bolug yang berwenang.
''Terhadap kerja sama Bulog dengan PT LNP dan SBM, hal tersebut bukan tanggung jawab terdakwa, tetapi orang lain yang memegang kewenangan dan tanggung jawab yang bertugas di Bulog. Dengan alasan tersebut, unsur melawan hukum baik dalam formil maupun materiil tidak terbukti,'' ujar Ketua Majelis Hakim Efran Basuning.
Atas putusan bebas tersebut, JPU M Syafi'i menyatakan pikir-pikir. Ditemui usai persidangan, dirinya menyatakan akan kasasi. ''Kasasi, kami menyampaikan kasasi. Terhadap empat terdakwa semuanay kami menyampaiakan kasasi,'' ujar dia sambil berlalu.
Sementara itu kuasa hukum keempat terdakwa, Martin Pangrekun, mengatakan kelalaian dalam proyek pengadaan sapi tersebut ada di rekanan. Mengenai vonis yang berbeda antara Tito dan keempat terdakwa itu, dia mengatakan hal tersebut dikarenakan kedudukan mereka berbeda.
''Memang kedudukan mereka berbeda. Keempat terdakwa hanya melaksanakan tugas, hanya itu,'' ujar Martin yang juga sebagai kuasa hukum Tito Pranolo dan mantan Kepala Bulog Widjanarko Puspoyo dalam kasus yang sama itu.
Mengenai pertimbangan hakim yang menyatakan pihak yang bertanggung jawab adalah Tito Pranolo, Martin mengatakan permasalahan tersebut akan dilihat di persidangan banding Tito.
Pilih Bungkam
Sementara itu, keempat terdakwa tidak berkomentar apapun usai persidangan. Mereka langsung pergi meninggalkan persidangan begitu hakim menutup sidang. Para kuli tinta yang menanyakan perasaan mereka terhadap putusan bebas dari hakim, dijawab dengan diam sambil menerobos kerumunan wartawan.
Di luar persidangan, seorang anggota keluarga terdakwa jatuh pingsan usai mendengar putusan majelis hakim. Tahun 2001, keempat terdakwa ditunjuk menjadi anggota tim monitoring yang dipimpin oleh Tito Pranolo dalam proyek pengadaan daging sapi dari Australia untuk menghadapi kebutuhan masyarakat, sehubungan menghadapi hari raya keagamaan dan tahun baru.
Dalam surat perintah Dirut Bulog disebutkan tim bertugas melakukan monitor dengan memberlakukan syarat dan prosedur yang harus ditempuh calon rekanan penyedia daging sapi.(J
Ho Chi Minh, Tukang Masak Jadi Presiden
PEMIMPIN legendaris bangsa Vietnam Ho Chi Minh (1890-1969) adalah tukang masak andal, yang melanglang buana dengan keahliannya itu. Awalnya, Ho juga seorang penganut Confusius yang taat berkat didikan ayahnya.
Sebelum menjadi tukang masak, Ho adalah seorang pengajar. Dia mengikuti semangat ayahnya yang juga seorang guru. Ayahnya pula yang mengajarkan kepadanya bahwa bangsa Vietnam diperlakukan sewenang-wenang oleh kolonialis Prancis dan Kekaisaran Vietnam.
Pada 5 Juni 1911, Ho memulai perjalanannya keluar dari Vietnam. Dia ikut kapal uap Prancis "Amiral Latouche-Treville" dan bekerja sebagai pembantu di dapur kapal. Ketika tiba di Prancis, Ho melamar untuk belajar di French Colonial Administrative School, tetapi dia ditolak. Akhirnya dia bekerja sebagai pembersih, pelayan restoran, dan pekerja di bioskop. Di waktu luangnya, Ho memilih pergi ke perpustakaan untuk membaca buku dan koran, untuk membiasakan dirinya dengan masyarakat dan politik Barat.
Hanya setahun di Prancis, dia kembali ke laut. Kali ini, ia bekerja sebagai asisten koki di kapal laut yang berlayar menuju Amerika Serikat (AS). Dia tinggal selama beberapa tahun di negara yang pada suatu saat nanti akan menjadi musuhnya. Ho tinggal di kawasan Harlem, New York, dan juga di Boston antara tahun 1912-1913.
Pembantu
Menurut pengakuannya, dia juga pernah bekerja sebagai pembantu rumah tangga untuk keluarga kaya di Brooklyn antara tahun 1917-1918. Diyakini, saat tinggal di Brooklyn, Ho mendengar ceramah aktivis politik kulit hitam AS, Marcus Garvey. Di masa ini pula, dia diyakini melakukan kontak dengan kaum masionalis Korea yang tinggal di AS, yang berperan dalam membangun karakter aktivitas politiknya.
Dari AS, dia berangkat ke London, Inggris, pada 1919. Dia tinggal di kawasan West Ealing untuk beberapa waktu, kemudian pindah ke kawasan Crouch End. Dia mendapatkan pekerjaan sebagai koki di Drayton Court Hotel di West Ealing. Beberapa sejarawan juga meyakini bahwa Ho pernah mendapatlan pelatihan sebagai koki pastry dari koki legendaris asal Prancis, Escoffier di Carlton Hotel, di Westminster.
Ho kembali ke Prancis pada 1919, di mana dia memantapkan diri untuk meyakini komunisme. Sebenarnya perkenalan Ho dengan komunisme sudah dimulai sejak dia pertama kali datang ke Prancis pada 1911. Ho diperkenalkan kepada komunisme oleh temannya, Marcel Cachin, seorang komunis Prancis yang pergi ke Rusia pada 1917. Cachin adalah politisi prokaum Bolshevik, dan pemimpin surat kabar Komunis ternama L'Humanite (Kemanusiaan) .
Karena itu, ketika datang untuk kedua kalinya di Prancis, Ho langsung memulai aktivitas politiknya. Bersama kelompok prokemerdekaan Indocina, Ho meminta kekuatan Barat untuk memberikan hak setara bagi warga di kawasan Indocina. Petisi itu diabaikan negara-negara Barat. Tidak menyerah, Ho meminta Presiden AS Woodrow Wlison untuk mengusir kekuatan Prancis dari Indocina dan menggantinya dengan pemerintahan nasionalis. Permintaan itu juga diabaikan AS.
Gerakan Mao
Dari Prancis, Ho kemudian "hijrah" ke Moskow Rusia dan menghabiskan lebih banyak waktu di sana. Dia kemudian masuk ke dalam Komunis Internasional (Komintern) untuk wilayah Asia dan menjadi pakar perang kolonial.
Ho yang matang dalam petualangan dan pendidikan politiknya kembali ke Vietnam pada 1941, untuk memimpin gerakan kemerdekaan Viet Minh. Bersama sesama pejuang kemerdekaan Vietnam, Ho berhasil mengusir kekuatan Prancis melalui perang panjang dari 1945 hingga 1954. Kekuasaan Prancis di Vietnam berakhir setelah kekalahan pasukan kolonial itu di Pertempuran Dien Bien Phu.
Ho Chi Minh menjadi Presiden Vietnam Utara pada 1955. Dia tinggal di rumah panggung di halaman belakang Istana Kepresidenan Vietnam. Ho meninggal pada usia 79 pada tahun 1969 karena gagal jantung. Dia tidak pernah menyaksikan kejayaan pasukan Vietnam Utara saat mengalahkan Vietnam Selatan dan mengusir pasukan AS dari wilayah itu. Meski demikian, Ho Chi Minh tetap dikenang sebagai pemimpin bangsa Vietnam. Dia juga diakui oleh UNESCO, sebagai orang yang berperan dalam memajukan seni, budaya, dan pendidikan.
Sementara itu, bagi pengungsi Vietnam di luar negeri, Ho Chi Minh dianggap sebagai pembunuh dan pengkhianat bangsa. Di kalangan mereka, jika foto Ho dipasang di tempat umum, hal bisa memicu pertikaian hebat. (Zaky Yamani/"PR") **
Soeratin Sebagai Pahlawan Nasional
Oleh Asvi Warman Adam
Setelah sakit sekian lama dan tidak mampu menebus obat, Soeratin meninggal tahun 1959 dalam kemiskinan. Rumahnya berukuran 4x6 meter di Jalan Lombok, Bandung, terbuat dari gedek (dinding bambu). Tidak ada yang ditinggalkan kecuali organisasi yang dicintainya, PSSI.
Itulah sebabnya Rapat Paripurna Nasional PSSI tahun 2005 (Kep/09/Raparnas/ XI/2005) merekomendasikan dan mengusulkan kepada pemerintah agar Soeratin diangkat sebagai pahlawan nasional. Pertimbangannya adalah kehidupan Soeratin telah diabdikan bagi perintisan pengembangan sepakbola yang sejalan dengan penumbuhan jiwa kebangsaan di kalangan masyarakat sejak masa penjajahan Belanda.
Siapa Soeratin?
Soeratin lahir di Yogyakarta 17 Desember 1898 dari kalangan terpelajar. Ayahnya, R. Sosrosoegondo, guru pada Kweekschool, menulis buku Bausastra Bahasa Jawi. Istrinya R.A. Srie Woelan, adik kandung Dr. Soetomo, pendiri Budi Utomo. Tamat dari KWS (Koningen Wilhelmina School) di Jakarta, Soeratin belajar di Sekolah Teknik Tinggi di Hecklenburg, dekat Hamburg, Jerman tahun 1920 dan lulus sebagai insinyur sipil tahun 1927.
Sekembalinya dari Eropa tahun 1928, ia bergabung dengan sebuah perusahaan konstruksi terkemuka milik Belanda dan membangun antara lain jembatan dan gedung di Tegal dan Bandung. Namun pada waktu bersamaan Soeratin mulai merintis pendirian sebuah organisasi sepak bola yang berhasil diwujudkan tahun 1930.
Organisasi boleh dikatakan realisasi konkret dari Sumpah Pemuda 1928. Nasionalisme itu dicoba dikembangkan melalui olah raga, khususnya sepak bola. Seperti halnya ipar dari Soeratin, Dr. Soetomo yang berkeliling Pulau Jawa untuk menemui banyak tokoh dalam rangka menekankan pentingnya pendidikan dan kemudian disusul dengan pendirian Budi Utomo, maka Soeratin juga melalukan pertemuan dengan tokoh sepak bola pribumi di Solo, Yogyakarta, Magelang, Jakarta, dan Bandung.
Pertemuan itu diadakan secara sembunyi untuk menghindari sergapan Intel Belanda (PID). Tanggal 19 April 1930, beberapa orang tokoh dari berbagai kota berkumpul di Yogyakarta untuk mendirikan PSSI (Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia). Istilah sepakraga diganti dengan sepak bola dalam Kongres PSSI di Solo tahun 1950.
PSSI kemudian melakukan kompetisi secara rutin sejak tahun 1931 dan ada instruksi lisan yang diberikan kepada para pengurus, jika bertanding melawan klub Belanda tidak boleh kalah. Soeratin menjadi ketua umum organisasi selama berturut-turut 11 kali. Setiap tahun ia terpilih kembali.
Kegiatan mengurus PSSI menyebabkan Soeratin keluar dari perusahaan Belanda dan mendirikan usaha sendiri. Setelah Jepang menjajah Indonesia dan perang kemerdekaan terjadi, kehidupan Soeratin menjadi sangat sulit, rumahnya diobrak-abrik Belanda. Ia aktif dalam TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dengan pangkat Letnan Kolonel.
Setelah penyerahan kedaulatan, ia menjadi salah seorang pimpinan DKA (Djawatan Kereta Api). Setelah sakit sekian lama dan tidak mampu menebus obat, ia meninggal tahun 1959 dalam kemiskinan.
Jasa-jasa Soeratin
Olah raga sepak bola juga berkaitan dengan nasionalisme dan integrasi bangsa sebagaimana dikatakan Freek Colombijn ("The Politics of Indonesian Football", Archipel 59, Paris, 2000), "Football and society, or football and politics, are so interwoven that it would be possible to tell Indonesia's recent history of integration, nationalism, and modernization in terms of the development of football".
Sepak bola pada mulanya berkembang di Inggris. Kemudian merambah ke Hindia Belanda dengan berdirinya klub pertama di Surabaya yang didirikan oleh John Edgar pada tahun 1895. Di Kota Padang, klub yang pertama dibentuk Padangsche Voetbal Club tahun 1901. Klub yang ada di Hindia Belanda itu masih bersifat segregasi. Masing-masing kelompok ras memiliki klubnya masing-masing yang juga bertanding sesama mereka (Eropa, Tionghoa, dan pribumi).
Pada tahun 1921, di Padang terdapat liga yang menarik bayaran dari penonton (10 sen untuk pribumi yang menonton sambil berdiri, 20 sen untuk "bukan pribumi", dan 50 sen dapat kursi). Belum ada stadion yang permanen, tetapi di sekeliling lapangan dipasang bambu.
Dalam konteks perkembangan masyarakat yang terjajah, jasa Soeratin dapat diringkaskan sebagai berikut.
Pertama, ia berani menggunakan label Indonesia pada organisasi yang didirikannya, bukan Hindia Belanda. Kedua, pertandingan yang dilakukan secara rutin dan periodik antar klub pribumi pada tingkat antarkota merupakan realisasi Sumpah Pemuda 1928 dan sekaligus bagian dari proses penumbuhan integrasi nasional (hal yang sama menjadi tujuan PON setelah Indonesia merdeka).
Ketiga, tujuan organisasi persepakbolaan yang digagas dan direalisasikan adalah mencapai kedudukan yang setara dengan orang-orang Eropa (dan juga Tionghoa). Untuk itu Soeratin rela berkorban, ia keluar dari perusahaan konstruksi Belanda saat memegang posisi bagus agar dapat mengurus "sepak bola kebangsaan". Pengangkatan Soeratin sebagai pahlawan nasional diharapkan menjadi momentum untuk membangkitkan kembali sepak bola di tanah air yang suatu ketika sempat membuat prestasi yang membanggakan.
Terhambat
Pada awal November 2006 disebutkan bahwa Soeratin adalah satu dari 14 tokoh yang dicalonkan sebagai pahlawan nasional. Namun dalam pengumuman yang dikeluarkan kemudian, nama ini menghilang. Timbul pertanyaan, apakah kepahlawanan dinilai tidak memenuhi syarat?
Saya bertemu dengan seorang sejarawan yang menjadi tim penilai pahlawan ini. Ternyata alasan penolakannya bersifat administratif. PSSI telah mengirimkan usulan yang konon didukung oleh Wali Kota Yogyakarta (kota kelahiran Soeratin) dan Wali Kota Bandung (domisili Soeratin di ahir hayatnya). Namun PSSI hanya mengirimkan buku PSSI Alat Perjuangan Bangsa dan brosur kecil Perjuangan Ir. Soeratin Sosrosoegondo yang diterbitkan dalam rangka peringatan 75 tahun PSSI April 2005.
Tim penilai mengharapkan sebuah buku yang khusus ditulis untuk pencalonan pahlawan ini secara ilmiah. Tanggal 22 Juni 2006 diadakan seminar di Senayan untuk mendiskusikan tentang peran Soeratin dalam persepakbolaan nasional. Sayangnya PSSI tidak melampirkan makalah seminar ini beserta transkrip diskusi kepada tim penilai kepahlawanan nasional.
Semoga ada pahlawan nasional yang berjasa dalam menjadikan olah raga sebagai sarana perjuangan bangsa.***
Penulis, ahli Peneliti Utama LIPI, Redaktur Pelaksana Majalah Sportif 1982-1983.