
Minggu 11 November 2007, Jam: 8:37:00
SEMARANG (Pos Kota) - Dukun palsu menipu ratusan orang hingga menimbulkan kerugian Rp 32 milyar. Ironisnya di antara para korban terdapat sejumlah pejabat, termasuk seorang jenderal.
Adalah Ahmad Muntoha,51, sang dukun palsu, warga Pilangsari, Losari, Brebes, akhirnya dibekuk Tim Reskrim Polda Jateng, Sabtu (10/11).
Tersangka mengaku bisa mengubah uang dolar Brasil palsu menjadi uang rupiah asli atau dolar Singapura asli, hingga membuat ratusan korbannya terkecoh.
Menurut Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Drs Syahroni, tersangka Muntoha ditangkap setelah beberapa lama menjadi tahanan kota di Brebes atas kasus yang sama. Pihak Polda mendapatkan banyak laporan tentang aksi tersangka.
“Setelah lepas dari tahanan kota, kita tangkap lagi karena ada laporan korban penipuan dan penggelapan uang yang dilakukannya,” ungkap Kabid Humas didampingi Kasat I Opsnal Ditreskrim AKBP Nelson Pardamean Purba, SIK.
Diperkirakan masih banyak korban yang telah dirugikan ulah tersangka. “Dari penipuannya ini diperkirakan ada ratusan milyar bahkan mencapai setrilyun rupiah uang para korban yang dibawa kabur pelaku. Namun, sampai saat ini yang melapor baru sembilan orang dengan nilai kerugian Rp 32 milyar lebih,” kata Nelson.
MANTAN CALON BUPATI
Di antara korbannya, HM Suhardi, mantan calon Bupati Wonosobo. Dia ditipu tersangka pada Juni 2005 sampai dengan Agustus 2005. Awalnya, pelaku meyakinkan Suhardi dapat mengubah uang Brasil palsu menjadi uang rupiah.
Sedangkan modus yang dilakukan Ahmad Muntoha adalah dengan menjanjikan kepada para korbannya dapat mengubah uang asing palsu menjadi uang rupiah atau uang asing asli.
Tersangka juga memperagakan caranya dia mengubah uang palsu untuk meyakinkan para korbannya. Caranya, uang palsu dimasukkan pada sebuah ember berisi air dan ditutupi sajadah. Tangan korban disuruh diletakkan di atas sajadah dan diminta mengucap istigfar. Uang Brasil palsu itu pun benar-benar berubah menjadi pecahan Rp 50.000.
"Untuk meyakinkan korban, pelaku mengajak bertemu di hotel berbintang di Semarang. Di situ pelaku menunjukkan kemampuannya mengubah uang palsu, " kata Nelson.
Tak hanya itu, korban juga diminta tersangka untuk memberikan uang sebanyak Rp 350 juta. Katanya uang tersebut akan diubah menjadi uang dolar Singapura asli.
Selain HM Suhardi, sembilan orang telah melaporkan kasus tersebut ke Polda Jateng, di antaranya Sopingi, Handoyo Laras, Taufik Aka Susanto, HM Jip Hengky Yana Prasetyo, dan Umam Masruchi. Total kerugian dari semua korban mencapai Rp 32.908.2000. 000, dan diperkirakan jumlahnya lebih dari itu.
OC Kaligis dan Rum Aly pada periode tahun 1965-1966 yang aktif dalam gerakan kemahasiswaan mempunyai gagasan untuk mengumpulkan berbagai pemikiran dari dua sisi yang berbeda dalam satu kumpulan tulisan. Buku itu, bertutur dari berbagai perspektif tentang peristiwa 30 September 1965 G30S/PKI. Masih menarikkah membahas tentang hal yang sudah 42 tahun berlalu? Namanya juga sejarah!
Tercatat 31 nama penulisnya, termasuk Try Sutrisno, Prabowo, Anhar Gonggong, Cosmas Batubara, Fahmi Idris, Arief Budiman, HR Dharsono, Mochtar Lubis, Soe Hok Gie, Sarwono Kusumaatmadja, Alex Rumondor, Nano Anwar Makarim, dan lainnya.
Sebuah generasi baru yang sama sekali tidak mengalami peristiwa tersebut telah lahir dan berkiprah di Indonesia. Meski demikian, penafsiran atas peristiwa tersebut dari segi sejarah dan fakta hingga kini masih berayun-ayun dari satu ekstrem ke ekstrem yang lain, yang menyebabkan generasi baru yang kita sebut di atas masih dipenuhi dengan kebingungan mengenai kejadian tersebut.
Kejatuhan Orde Baru tahun 1998 oleh para pengamat atau sejarawan yang bersikap netral dianggap sebagai kesempatan untuk melihat peristiwa tahun 1965 tersebut secara lebih jernih dan objektif. Tetapi kenyataan di masyarakat kita tidak sepenuhnya bergerak menuju ke arah itu. Justru banyak sekali kalangan dan pihak yang pernah terlibat dalam peristiwa itu, baik yang kemudian keluar sebagai pemenang (biasanya masuk kelompok Orde Baru) maupun yang kalah, mempergunakan alam reformasi untuk memberikan versi mereka sendiri mengenai kejadian tahun 1965.
Simton Politik 1965, yang berisi tentang seputar PKI dalam perspektif pembalasan dan pengampunan, menurut editornya, bertujuan agar pendulum bergerak terlalu ke arah "kanan", dan di awal reformasi bergerak terlalu ke "kiri", buku ini menjadi sebuah format yang ideal mengenai suatu momentum dalam sejarah kebangsaan kita. Sayangnya, menurut penerbit, tidak semua cita-cita baik para editor bisa terpenuhi karena resistensi atau kecurigaan masih ada hingga sekarang ini. Sejarah memang merupakan suatu tafsiran yang dinamis dan bisa ditulis berbeda pada era yang berlain-lainan.
Latar Belakang
OC Kaligis, dalam tulisan berjudul "Pengalaman Traumatis dari Negeri Tirai Besi dan Bambu", mengatakan nilai-nilai agama dan komunis tak pernah punya titik temu. "Mungkin karena latar belakang saya yang agamis, konsep Bung Karno tentang Nasakom tidak pernah dapat saya terima", katanya. Melalui konsep itu, Soekarno mencoba menyatukan unsur-unsur nasionalis, agama, dan komunis dalam satu sistem politik dan kehidupan bernegara. "Bukan saya saja, banyak pihak yang memberikan reaksi penolakan walaupun belakangan banyak yang tidak lagi berani terbuka menolak karena pertimbangan keselamatan diri dan kelompok, atau juga karena sikap oportunistik, takut kehilangan posisi dan porsi dalam kekuasaan.
Sedangkan Anhar Gonggong mengingatkan bagaimana pun terjadinya keterbelahan akibat dari G30S/PKI itu seharusnya tidak berlanjut ke hari-hari depan, dalam kehidupan bersama kita sebagai bangsa dan di dalam negara Indonesia. Karena itu, ia menasehati kita semua, terutama generasi baru, angkatan muda bangsa ini termasuk yang berada di lingkungan Angkatan Bersenjata menghilangkan dendam sejarah dan cara jalannya ialah memaafkan tanpa melupakan!
Karena apa yang pernah kita lakukan sejak puluhan tahun yang lalu itu, adalah sejarah yang seharusnya dipahami sebagai milik bersama, dan seharusnya dapat menjadi landasan yang akan saling memperkuat kita semua, dalam arti sebagai warga negara, menopang kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara, di tengah-tengah bangsa-bangsa lainnya di muka bumi ini.
Senada dengan itu, Marzuki Darusman mengatakan tidak ada pelajaran yang berhasil ditarik dari sejarah masa lampau, yang mampu disimpulkan hanyalah langkah-langkah pencegahan untuk tidak terulangnya peristiwa. Ini agak berbeda arti dengan menarik pelajaran. Jadi, seluruh effort politik kita selama ini hanya ditujukan untuk mencegah. Hal serupa juga tercermin dalam dunia hukum, yang melahirkan hukum yang juga bertujuan pencegahan dengan menggunakan cara represif, yang berdaya guna untuk sekadar tidak terulangnya suatu perbuatan pelanggaran hukum. Hukum kita yang lalu hanya berfungsi untuk melakukan penghukuman setelah perkara terjadi. [SP/Rina Ginting]
YOUR DREAMS AND YOUR COMMITMENT TO ACHIEVE THEM
Impian Anda dan Kesungguhan Anda untuk Mencapainya
Marilah kita mulai dengan kenyataan bahwa,
Semua orang memimpikan sesuatu, tetapi tidak semua orang mengupayakan pencapaiannya.
Bahkan bila tersedia buku manual petunjuk yang sangat pasti bagi pencapaian keberhasilan karir dan kehidupan, hanya akan ada beberapa pribadi bersungguh-sungguh yang membacanya.
Bagaimana kalau hari ini, kita mencoba satu langkah saja dari buku manual itu, dengan mencermati Super Point berikut ini:
Salah satu rahasia keberhasilan yang dapat segera Anda terapkan dalam keseharian Anda – adalah memimpikan sesuatu yang besarnya hampir tidak mungkin, dan memastikan semua rencana Anda sangat sederhana sampai hampir terlaksana dengan sendirinya.
Sekarang, pertanyaan saya kepada Anda adalah
Seberapa besarkah impian Anda?
Apakah Anda menakar impian sesuai dengan yang Anda rasakan mungkin dicapai?
Apakah Anda masih tertarik untuk memimpikan sesuatu?
Atau apakah Anda sudah letih bermimpi?
Kemudian,
Apakah Anda menyusun rencana bagi pencapaian impian Anda?
Apakah rencana Anda mendekatkan Anda kepada cita-cita Anda, atau membuat Anda terkatung-katung di antara prioritas yang saling berbenturan?.
Apakah rencana Anda mudah dilaksanakan?
Atau apakah Anda telah kehilangan kepercayaan kepada perencanaan?
Untuk itu, saya mohon Anda mencermati lagi cuplikan dari salah satu jawaban final discourse kita;
Untuk menjadi apa pun,
kita membutuhkan kesungguhan untuk menjadi.
Keinginan untuk menjadi - tidak selalu diikuti oleh rencana untuk menjadi; dan rencana untuk menjadi – jarang sekali diikuti oleh tindakan untuk betul-betul menjadi.
Semuanya membutuhkan kesungguhan, memang; tetapi pada banyak pribadi – kesungguhan itu dibentuk dari asap yang mudah berubah bentuk dan menghilang, dan akan muncul lagi – mungkin dengan bentuk yang baru, tetapi dengan cara menghilang yang sama.
Itu sebabnya, bukan hanya kesungguhan dan bukan hanya sembarang kesungguhan – yang menjadi biaya utama yang harus kita bayar untuk mencapai impian-impian kita; tetapi kesungguhan untuk menjadi pribadi yang kualitasnya memungkinkan pencapaian impian-impian kita.
Lalu,
Bila kita telah dan masih lantang mengatakan bahwa kita bersungguh-sungguh ingin mencapai impian kita, ingatlah bahwa,
Tidak ada orang yang mengumumkan kepada dirinya atau kepada alam - bahwa dia akan menjadi pribadi yang baru - yang tidak diuji keterlepasannya dari kualitas-kualitas lama-nya.
Semakin besar keinginan Anda, semakin besar godaan yang Anda temui – agar Anda meragukan kemungkinan bagi keberhasilan Anda, agar Anda menghindari pekerjaan-pekerjaan yang tidak mudah, agar Anda merasakan kemalasan sebagai sifat turunan yang harus diikhlaskan, dan membuat Anda merasa bahwa akan selalu ada waktu untuk hal ini besok-besok atau kapan-kapan.
Tetapi, janganlah menduga bahwa tidak menginginkan apa pun adalah pilihan yang lebih mudah.
Orang-orang yang tidak memiliki keinginan, dan yang kehidupannya tidak termotivasi oleh pencapaian keinginan-keinginan yang bernilai – akan bernafas berat di dalam kehidupan yang tidak mudah.
Keinginan Anda adalah tenaga Anda.
Bila Anda benar-benar menginginkan sesuatu,
Anda akan benar-benar bertenaga.
Maka inginkanlah, dan bertenagalah.
Classic Joke
An 80-year old Italian man goes to the doctor for a check-up.
The doctor is amazed at what good shape the guy is in and asks, " How do you stay in such great physical condition?"
I'm Italian and I am a golfer," says the old guy," and that's why I'm in such good shape." I'm up well before daylight and out golfing up and down the fairways." "Have a glass of vino, and all is well."
"Well," says the doctor, "I'm sure that helps, but there's got to be more to it. How old was your Dad when he died?"
" Who said my Dad's dead?"
The doctor is amazed. "You mean you're 80 years old and your Dad's still alive. How old is he?"
"He's 100 years old," says the old Italian golfer. "In fact he golfed with me this morning, and then we went to the topless beach for a walk, that's why he's still alive ... he's Italian and he's a golfer too."
"Well," the doctor says, "that's great, but I'm sure there's more to it than that. How about your Dad's Dad? How old was he when he died?"
" Who said my grandpa's dead?"
Stunned, the doctor asks, "You mean you're 80 years old and your grandfather's still living! Incredible, how old is he?"
"He's 118 years old," says the old Italian golfer. The doctor is getting frustrated at this point, "So, I guess he went golfing with you this morning too?"
"No. Grandpa couldn't go this morning because he's getting married today."
At this point the doctor is close to losing it. "Getting married!! Why would a 118 year-old guy want to get married?"
"Who said he wanted to?"











