Search blog.co.uk

Posts archive for: 16 November, 2007
  • The Corsage

    nmm7

    "You've got to help me!" My friend pleaded with me. "You've got to take this girl to her sorority event." This girl was getting interested in my friend, an interest he didn't want to grow. While I was reluctant to get involved in this mess he had created, he was a good friend. I consented to this blind date.

    He certainly sold me on her. Her sister had been Miss Edmonton the previous year. She belonged to this sorority that all the kids of rich people belonged to. I, on the other hand, had only $20 to my name. With about half of my life savings, I decided to buy a corsage for my date.

    I arrived at her home dressed in my only suit, corsage in my hand. The door opened and I saw that she was beautiful. I also saw that her dress had very thin straps. There was no place to put a corsage. I also saw the funny look on her face that said she would have never worn what represented half of my worldly riches anyway.

    I also noticed that her leg was bandaged. She had injured herself skiing that afternoon. What else could go wrong? Plenty.

    I escorted her to my chariot, a red Toyota pick-up truck with a canopy camper on the back. That was my vehicle then. From the look on her face, I wish that a fairy godmother could have come along and turned it into a Mercedes. In spite of her sore leg, she insisted that we park a couple of blocks away from the party.

    We entered and I was briefly introduced to a couple of people, then she sort of disappeared. I wasn't too disappointed. I hadn't had a good meal in a long time and the food here was plentiful and tasty.

    What a party it was! The children of the rich and famous of Edmonton were there. People kept coming up to me and asking what I was "into," instead of what I did. I answered that I was "into" education, since I was taking my Bachelor of Education at the time. I wondered if these rich people really knew how poor I was.

    I'm glad I am a fast eater, because a half an hour after our arrival, my date, whom I had barely seen, came back and asked to be taken home. Her leg was aching too much, though she declined my offer to bring the truck to the front door. I still have a hunch that she got rid of me to return to the party. My feelings weren't hurt. I had eaten well, although the friend who set this up was going to hear about this.

    I dropped her off. She made sure I didn't walk her to the door, but I did the unthinkable. I asked for the corsage back. Why? Was I out of my mind?

    No. I had a second blind date a couple of nights later. A girls' group was having a father-daughter banquet. A friend had asked me if I would be the father for a night for a young girl who didn't have one. This way she would be less embarrassed at the event. Even though I didn't know what I was getting into, I told my friend that I would do it.

    The night of the second blind date came. You know what? I was more nervous meeting this ten year old than the sister of Miss Edmonton. What if she didn't like me? What if she was ashamed to be with me?

    Then she came through the door. I was introduced, and then I showed her the corsage. Her eyes grew like saucers. She trembled with joy as I pinned it on her. While she was the only one without a real dad, she was also the only one with a beautiful corsage. She held her head up high as we walked into the room. We had a great time. It was wonderful seeing her smile and hearing her laughter. I think she was proud to have a special friend like me. I certainly was proud of her, just like a dad would have been.

    It was the same corsage. In one person's eyes it was worthless. In another's it was priceless. Every one of us has a gift. You know what? In some people's eyes, it will be worthless. Ignore them. I can assure you that if you meet enough people you will discover somebody who finds your gift priceless.

    John Stevens

    John Stevens is a freelance writer in St. Marys, Ontario.

    “Ibu……..”

    by Dadang Kadarusman | 3 comments | 88 times viewed

    Hore,
    Hari Baru!
    Teman-teman.

    Dipagi hari beberapa waktu yang lalu, saya berbalas email dengan seorang sahabat melalui milist mantan aktivis di kampus. Sahabat saya itu baru saja dikaruniai kelahiran putra keduanya. Nama anaknya bagus sekali. Dan dibelakang nama anak itu ditambahkan nama bapaknya – sahabat saya itu. Saya turut berbahagia, seperti yang saya katakan kepadanya. Saya kemudian berujar; “Para lelaki tidak bisa membuat anak sendirian. Lantas, mengapa kita yang kaum pejantan ini seringkali menyabotase anak yang dilahirkan oleh istri-istri kita dengan menempelkan nama kita dibelakang nama mereka?”. Saya berani bilang begitu karena dia adalah sahabat kental yang sudah sejak jaman kuliah dulu saling canda; dan kami tak pernah tersinggung.

    Beberapa jam setelah email di milist itu; saya mendapatkan email dari rekan dikantor. Kakak kelas sewaktu kuliah dulu. Beliau mengabarkan bahwa salah satu sahabat terbaik saya dikelas; meninggal dunia pagi ini, setelah mengalami komplikasi melahirkan akibat eklamsia. Saya tertegun. Pagi itu, mendadak saja saya usil pada ulah para lelaki seperti saya ini. Dan ternyata, pada saat yang sama dibelahan bumi yang lain, seorang perempuan harus meregang nyawa – benar-benar meregang nyawa – dalam usahanya untuk membawa sebuah kehidupan baru. Seorang bayi manusia yang mesti dia tebus dengan nyawanya sendiri. Perempuan itu; menukarkan nyawanya sendiri untuk sebuah kehidupan hasil dari benih kasihnya dengan sang suami. Perempuan itu, rela menutup matanya sendiri dan memberikan mata indah itu kepada mata hatinya. Kemudian menghadiahkannya kepada sang suami. Perempuan itu, seperti banyak perempuan lain dimuka bumi ini; bersedia menyerahkan hidupnya sendiri, sebagai sebuah pengorbanan yang tiada terperikan.

    Saya teringat pada sebuah pelatihan tentang kreativitas belasan tahun lalu. Semua peserta adalah mahasiswa, seperti saya waktu itu. Pelatih mengatakan; ”Bayangkan saat dimana nanti anda berkeluarga. Lalu anda memiliki anak. Apa nama yang akan diberikan kepada anak anda?”. Setiap peserta lalu bermimpi. Ada yang membayangkan dirinya mempunyai 1 orang anak lelaki. Anda yang ingin sepasang buang hati. Dan ada juga yang cukup gila untuk meminta istrinya membuat kesebelasan sepak bola! Lalu mereka me-reka-reka nama sang anak. Saya perhatikan; tak seorang pun peserta pelatihan yang perempuan menempelkan nama dirinya dibelakang nama anak-anak mereka. Sebaliknya, sebagian besar peserta lelaki; menempelkan nama mereka sendiri dibelakang nama anak-anak mereka. Jika nama saya Kadarusman; maka saya meletakkan sang “Kadarusman” itu dibelakang nama anak-anak saya. Bahkan, saya boleh membubuhi kata “putra”, sehingga sure name anak saya akan menjadi “Putra Kadarusman”. Hari ini, saya merasakan; betapa egoisnya saya ini.

    Saya berani menyampaikan pertanyaan usil tadi hanya kepada sahabat kental. Sedangkan kepada orang lain; saya tidak mungkin memiliki keberanian itu. Jadi, jika anda seperti sahabat saya yang merasa perlu untuk menambahkan nama anda dibelakang nama anak-anak anda; silakan saja. Saya menghormati keputusan itu. Sebab, pasti itu anda lakukan untuk tujuan yang baik-baik, bukan? Selalu ada tempat untuk setiap kebaikan.

    Ketika istri saya hamil; saya memohon kepada Tuhan, agar diberi kesempatan untuk menemaninya menjalani proses persalinan. Agak musykil, karena pekerjaan menuntut saya untuk bepergian kesana kemari. Namun, Tuhan mengijinkan juga. Istri saya, harus berbaring lebih dari 24 jam di meja melahirkan sebuah klinik bersalin. Sementara selang cairan infus berisi Cyntocinon tersambung melalui pembuluh vena ditangannya. Dokter kemudian memberikan beragam alternatif untuk membantu persalinannya. Dan dengan doa, kami jalani apa yang mampu kami lakukan. Tiga kali proses kelahiran. Tuhan mengijinkan saya menemaninya. Dan semuanya, merupakan persalinan yang teramat sulit.

    Ketika menyaksikan keringat, air ketuban, dan darah tercurah; saya jadi tahu, bahwa para perempuan, menempuh resiko yang begitu berat untuk melahirkan. Dan ketika sang bayi menampakkan wajah mungilnya; yang pertama kali berjingkrak dimuka bumi ini adalah para lelaki. Sekarang saya tahu; mengapa Tuhan membiarkan saya memasuki ruang bersalin ketika itu. Dia ingin agar saya tahu, bahwa resiko yang ditempuh para perempuan itu tiada terperikan. Kita para lelaki. Jika tahu sesuatu akan menyebabkan kita mati; pasti akan menjauhi. Padahal, kita jarang sekali dihadapkan pada pilihan antara hidup dan mati untuk menjaga keluarga kita.

    Kaum Ibu, meski tahu bahwa mereka bisa saja mati ketika melahirkan; tapi, mereka menjalaninya juga……….

    Kaum ibu, jarang mengeluh kepada suaminya. Meskipun hamil itu bukanlah saat dimana segala sesuatunya terasa nyaman. Mereka mual dan muntah-muntah. Bahkan ada yang harus diinfus karena tak sesuap makananpun dapat bertahan diperutnya. Sementara si jabang bayi terus-menerus menyerap nutrisi yang ada di tubuhnya. Tetapi, lelaki seperti kita, paling sering mengeluhkan ini dan itu. Padahal, ketika kita pergi ke kantor; kita tidak dihadapkan pada sesuatu yang bisa menyebabkan kita mati. Dalam perjalanan menuju kantor; kita tidak sambil mual muntah. Dan dikantor, kita selalu bisa makan enak.

    Kaum ibu jarang mengeluh; meski mereka tahu bahwa hamil dan melahirkan itu sakit lagi perih…..

    Ketika merasa sudah menjadi seorang eksekutif hebat atau pengusaha sukses, kita masih juga menggugat; apa hubungannya semua itu dengan kesuksesan kita dalam karir dan bisnis? Memang, banyak lelaki lajang yang sukses. Itu menunjukkan bahwa tanpa perempuan, kita para lelaki bisa sukses. Bisa ya, bisa tidak. Tetapi, setidaknya, itu tidak berlaku bagi para lelaki yang sudah beristri. Bagi para suami, perempuan yang mendampinginya tidak bisa dianggap sekedar pelengkap. Sekalipun mereka tetap tingal dirumah untuk menjaga anak-anak; bukannya pergi ke kantor dan bekerja seperti kita. Bukan sekedar pelengkap. Sebab, nyatanya, kita para lelaki yang menyukai kendaraan ini tidak berani mengatakan bahwa busi hanyalah sekedar pelengkap dari mobil yang kita kendarai. Busi bukan pelengkap, melainkan inti bagi segala system pembakaran dalam mesin mobil kita. Dan istri, sama sekali bukan pelengkap. Melainkan salah satu komponen penting yang menjadikan kehidupan karir kita menjadi utuh. Bahkan, seorang lajang suksespun, pada saatnya nanti, akan tahu bahwa berlabuh dalam pelukan seorang perempuan sepulang kerja; adalah hal terpenting yang dibutuhkan oleh para lelaki, agar besok pagi, pekerjaan mereka menjadi menarik lagi untuk dieksplorasi.

    Dan saya tahu, mengapa Tuhan mengijinkan saya menemani istri dalam proses persalinan. Dia ingin saya mengerti bahwa; tidaklah mungkin untuk membayar semua jerih payah Ibu saya. Dan ketika siang itu saya mendapatkan kabar tentang meninggalnya sahabat saya dalam proses persalinan; saya tahu bahwa, Ibu saya, telah menempuh resiko yang sama disaat pertama kali saya menghirup udara. Karena untuk menjadikan saya hidup, Ibu saya bersedia melakukan apa saja; sekalipun itu bisa berarti menyerahkan hidupnya sendiri.

    Ibu, dihari ketika aku dilahirkan; segalanya telah engkau pertaruhkan. Hanya untuk sekedar memberiku kesempatan, agar bisa berteriak dihari itu:

    Hore,
    Hari Baru!

    Catatan kaki:

    1. Seharusnya saya memposting artikel ini tanggal 22 Desember nanti. Hari dimana Ibu saya akan berulang tahun. Tapi tak ada jaminan saya bisa sampai. Jadi, Mamah; tulisan ini untukmu. I love you.
    2. Seharusnya saya mengakui bahwa saya tidak mungkin meraih apapun kecuali Ibu bagi anak-anak saya berdiri disamping saya, dan mengatakan; “Ayah, aku tahu kamu hebat!” Honey, I love you.
    3. Untuk mengenang sahabat saya, Sugarlini. Dan perempuan-perempuan lain yang berpulang; ketika mereka terbaring di meja persalinan. God bless you all. Untuk para Ibu. Dan para istri.

  • Kematian

    full-sexy1

    Quoted from:
    http://www.bening. org/setegukairja nuarim2

    "Kebanyakan orang begitu takut akan kematian sehingga usaha mereka
    untuk menghindar dari kematian tidak pernah memungkinkan mereka
    hidup."

    Menghindari kematian, bahkan menghindari hal-hal atau kondisi-kondisi
    atau situasi-situasi yang mengarah atau menuju ke kematian, rasanya
    memang sudah menjadi kecenderungan refleks yang manusiawi. Secara
    konkret dapat kita lihat, misalnya, orang menolak makan atau minum
    sesuatu yang (bahkan baru dalam taraf diduga) mengandung racun
    berbahaya; orang juga menjauhi binatang-binatang buas atau yang
    berbisa; dan seterusnya.

    Nah, kalau kematian itu kita lihat lebih seksama, ternyata
    berlapis-lapis rupanya. Tapi reaksi umum kita terhadap semua lapisan
    itu tetap sama yakni menghindarinya, menjauhinya. Beberapa contoh rupa
    kematian, misalnya, bisnis yang merugi; kehilangan anggota tubuh
    sehingga menjadi cacat, kehilangan sosok yang begitu dicintai; dan
    seterusnya. Sebagaimana rupa primer kematian, yakni hilangnya nyawa,
    rupa-rupa sekunder kematian umumnya juga tidak disukai. Ini wajar.

    Mau tahu yang tidak wajar? Begini, misalnya...
    - mati-matian membela prinsip pribadi hingga seluruh keluarga mati kelaparan;
    - mati-matin membela nama Tuhannya dengan cara membunuh
    manusia-manusia lain yang dianggapnya musuh Tuhannya, padahal
    manusia-manusia lain itu diciptakan oleh Tuhannya juga; atau
    - mati-matian menyelesaikan proyek, demi menghindari matinya reputasi,
    hingga akhirnya semua mandeg karena ia mati modal; bahkan
    - mati-matian belajar untuk ujian akhir hingga akhirnya mati karena
    serangan jantung.

    Tapi, adakah manfaat kematian? Tentu ada!

    Tak usahlah kita bicara tentang manfaatnya dalam hubungan dengan apa
    dan bagaimana yang ada dan terjadi setelah kematian. Itu susah
    dibuktikan dan yang sudah mengalami rata-rata tidak bisa
    menceritakannya kepada kita. Jadi lebih baik kita bicarakan manfaat
    kematian itu diterapkan dalam keseharian kita. Kematian dapat kita
    pakai untuk menghindari kematian. Contoh konkretnya, sekiranya kita
    ingin menjadi rajin, kita berikan kematian kepada kemalasan. Atau
    misalnya kita menginginkan kehidupan yang lebih baik, kita berikan
    kematian kepada kebiasaan-kebiasaan buruk kita.

    Sulit? Memang sulit kalau ternyata kita pada dasarnya memang mencintai
    kematian. Coba rasakan sendiri, coba telaah sendiri
    perbuatan-perbuatan Anda, dan lihat apakah Anda sungguh menghargai
    kehidupan, atau menghindari kematian seraya selalu merindukannya?

    Mari menghidupi kehidupan kita. Kematian itu punya waktu dan tempatnya
    sendiri. Dan karena kematian kita pasti datang, mengapa tidak kita
    manfaatkan sisa hidup kita dengan menghidupinya penuh kehidupan?

    Dua Revolusi di Tengah Libur

    Libur kompetisi selama dua minggu karena rangkaian pertandingan internasional tidak membuat aktivitas klub berhenti total. Dua tim peserta Serie A malah melakukan revolusi dalam jajaran kepelatihannya.

    Dua klub yang mengganti pelatihnya adalah Siena dan Cagliari. Siena hanya sekali menang dalam 12 partai. Pekan lalu, mereka kalah 2-3 dari tim yang sempat menjadi juru kunci klasemen, Livorno. Sementara itu, Cagliari tak pernah menang dalam lima partai terakhir mereka.

    Andrea Mandorlini mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pelatih Siena. Penggantinya adalah muka lama, yaitu arsitek Siena pada musim 2006/07: Mario Beretta.

    Beretta sukses menyelamatkan Siena dari degradasi musim lalu. Tapi, ia memilih hengkang pada akhir musim. “Kami yakin Beretta adalah pilihan terbaik sekaligus tidak dapat dihindari. Ia sangat mengenal tim ini,” ujar Direktur Olahraga Robur, Manuel Gerolin, pada Tribal Football.

    Namun, Beretta menolak anggapan bahwa dia diuntungkan dengan pengalamannya musim lalu. “Rasanya ini seperti memulai dari nol. Jujur saja, saya tidak melihat aksi tim ini dalam beberapa bulan terakhir. Kami harus bekerja sangat keras dengan determinasi. Jalan menuju salvezza berbahaya dan sulit,” katanya seperti dikutip Channel4.

    Diganti Sonetti

    Il mister Cagliari, Marco Giampaolo, sesungguhnya masih didukung oleh para pemainnya. Tapi, manajemen klub tidak tahan melihat pencapaian hasil I Isolani. Terakhir, Cagliari kalah 0-3 dari Sampdoria di kandang sendiri.

    Pengganti Giampaolo adalah pelatih berpengalaman, Nedo Sonetti. Seperti Beretta di Siena, pria berumur 66 tahun ini juga tidak asing dengan Cagliari. Dengan penunjukannya musim ini, Sonetti sudah menangani I Isolani dalam tiga periode waktu, sebelumnya di musim 2001/02 dan 2005/06.

    “Saya sadar bahwa Cagliari menginginkan saya mengulang misi salvezza pada musim 2005/06. Ini pekerjaan yang tidak mudah, tapi saya pikir Cagliari memiliki skuad yang bagus. Yang penting para pemain bisa mengekspresikan diri mereka di atas lapangan,” ucap Sonetti di Datasport.

    Dengan diberhentikannya Mandorlini dan Giampaolo, berarti sudah empat klub Serie A yang mengganti pelatihnya dalam waktu 12 giornata. Sebelum ini, Livorno mengganti Fernando Orsi dengan Giancarlo Camolese dan Reggina mengganti Massimo Ficcadenti dengan Renzo Ulivieri. (Dwi Widijatmiko)

    Terapi untuk Kaisar

    Tidak ada lagi awak Inter yang berada di pihak Adriano sehubungan dengan kasus dicoretnya L’Imperatore (Sang Kaisar) dari skuad I Nerazzurri. Tapi, Tim Biru-Hitam masih mau terus mendampingi striker asal Brasil ini.

    Pekan lalu sempat beredar isu Inter siap menjual Adriano. Kalau tidak ada peminat, ancaman pemecatan mengemuka. I Nerazzurri dikabarkan telah memberikan hasil tes medis kepada agen L’Imperatore, Gilmar Rinaldi, yang menunjukkan bahwa Sang Kaisar telah menyalahi kontraknya.

    Namun, Inter ternyata belum mau menyerah. Mereka merasa Adriano masih bisa diselamatkan. Menurut La Stampa, telah ada pertemuan antara Rinaldi, Rinaldo Ghelfi (Wakil Presiden Inter), dan Marco Branca (Direktur Teknik Inter).

    Hasil pertemuan itu menyebutkan Sang Kaisar akan dikirim ke klinik spesialis psikologi dan fisik di Amerika Serikat atau Swiss untuk menjalani terapi. Diharapkan program latihan individual yang jauh dari godaan kehidupan glamor Milano bakal mengembalikan kondisi terbaik Adriano.

    Karena gaya hidupnya yang akrab dengan pesta dan alkohol, Adriano tidak bisa berlatih secara reguler. Akibatnya pelatih Inter, Roberto Mancini, tak mau memakainya. Sejak giornata 8 (21/10), Adriano tak pernah masuk tim Inter lagi.

    “Sangat susah mengubah gaya hidup Anda. Adriano harus terus didampingi dalam upaya pemulihan ini. Apa pun itu, saya akan tetap mempertahankannya di Inter walaupun dia hanya tampil 50% dari potensinya karena Adriano adalah tipe penentu,” kata bos Inter, Massimo Moratti. (wid)

    Napoli Cukup Salvezza

    Mereka pernah mengalahkan Udinese 5-0 dan Juventus 3-1 serta menahan Roma 4-4 di kandang lawan. Tapi, tim yang sama juga pernah kalah 0-2 dari Cagliari dan 1-2 dari Genoa di kandang sendiri. Dengan prestasi seperti itu, akan finis di posisi berapa Napoli pada akhir musim nanti?

    Napoli promosi ke Serie A 2007/08 dengan ambisi luar biasa. Presiden Aurelio De Laurentiis mencanangkan waktu empat tahun bagi I Partenopei untuk lolos ke kompetisi Eropa. Upaya I Vesuviani tidak main-main. Mereka mengumpulkan skuad yang hebat. Azzurro untuk sementara bisa dibilang sebagai tim Serie A dengan strategi mercato tersukses.

    Sayang, konsistensi pencapaian hasil belum dimiliki Napoli. Deretan perbedaan hasil yang disebut di atas membuktikan bahwa tim asuhan Edy Reja belum matang. Belum waktunya I Partenopei lolos ke kompetisi antarklub Eropa.

    Ini sejalan dengan hasil jajak pendapat di koran La Gazzetta. Pencapaian terbaik Napoli musim ini mungkin hanya salvezza (lolos dari degradasi). Hampir separuh dari suara yang masuk berpendapat I Vesuviani bisa meraih salvezza dengan mudah, tapi tidak untuk sasaran yang lebih dari itu. (wid)

    Hasil Jajak Pendapat
    Apa pencapaian Napoli musim ini?
    44% Salvezza akan diraih dengan mudah. Tapi, Napoli tidak punya skuad yang cukup untuk mengincar target yang lain.
    32,3% Bisa lolos ke Piala UEFA
    23,6% Hanya perlu memikirkan salvezza

  • The Principle and Process of Sponsorship

    cantik-0l

    Stephen Gilligan, Ph.D.

    The Principle and Process of SponsorshipThe legacy of Milton Erickson has been elaborated and deepened in many ways in the last 20 years. My own work has moved from a more mainstream Ericksonian emphasis (see Gilligan, 1987) to the development of a neo-Ericksonian approach I call self-relations psychotherapy (see Gilligan, 1997). Like Erickson's work, self-relations emphasises the positive aspects of problems and symptoms. It sees such disturbances of the "normal order" as evidence that "something is waking up" in the life of a person or community. Such disturbances are double-edged crisis'. On the one side, they are (often hidden) opportunities for major growth (most of us can recall negative events - a death, divorce, illness or addiction - that led to significant positive change in our lives). On the other side, such disturbances can be very destructive - we can get lost in depression, acting out or other problematic behaviors. Self-relations suggests that the difference is in whether a disturbance can be "sponsored" by a skillful human presence.

    The principle and processes of sponsorship are the cornerstone of self-relations. The word "sponsorship" comes from the Latin "spons", meaning, "to pledge solemnly". So sponsorship is a vow to help a person (including one's self) to use each and every event and experience to awaken to the goodness and gifts of the self, the world and the connections between the two. Self-relations suggests that experiences that come into a person's life are not yet fully human; they have no human value until a person is able to "sponsor them".

    A good example of this can be found in the extraordinary life of Helen Keller (see Keller, 1902/1988). At 18 months Keller contracted a severe illness that left her without sight or hearing for the rest of her life. For the next six years she suffered in a dark and isolated world of intense sensations, anger, self-absorption and frustration. Nobody could find a way to connect with her, and she couldn't find a way to directly communicate with others. When she was seven, her sponsor - the social worker, Annie Sullivan - came into her life.

    As Keller wrote:

    "The most important day I remember in all my life is the one on which my teacher, Anne Mansfield Sullivan, came to me. I am filled with wonder when I consider the immeasurable contrasts between the two lives which it connects." (p. 16)

    Through her connection with Annie Sullivan, Keller re-entered the world of the living and never looked back. She went on to distinguish herself as one of the most intelligent, inspirational, humanitarian persons of the century.

    The distinction between what we might call the pre-sponsored Helen Keller and the post-sponsored Helen Keller can be found in each of us at many levels. It is easy to see in young children, who have no language or other sponsorship skills for their feeling states (such as being tired, hungry, lonely, or angry) and thus simply mindlessly act them out until a sensitive adult can recognise their meaning and attend to them. Hopefully, over time a child learns to recognise and "sponsor" their own feeling states, and thereby becomes a "re-spons-ible" person in the community. However, any experiences or behaviors that arise that are neglected, ignored, or cursed by the person or community remain in their pre-sponsored, "not quite ready for prime time" state. They repetitively assert themselves, looking for the human presence that will sponsor them and thereby allow their positive value to become apparent to self and community. But if each time they are rejected anew, they become increasingly troublesome and antagonistic to the person and the community.

    This is when clients appear in therapy offices: an "out of control" experience or behavior is increasingly disturbing them. While the normal sentiment of anybody (including client and therapist) might be to use whatever means necessary to defeat, destroy, or otherwise "get rid of" the negative otherness (and thereby re-establish the old "normal" self), self-relations builds on the legacy of Erickson by examining how such experiences can be sponsored as the gifts (however "terrible") of growth.

    Thus, a "depression" might be the gift that signals that the client cannot continue with their false self that tries to achieve happiness by pleasing others or achieving at all costs. An addiction can allow a person to discover that there is an intelligence within them that is greater than their intellect. A marital failure might force a person to learn to speak their true feelings. An anxiety can help a person discover the strength of the indestructible "tender soft spot" at the core of their being.

    To transform these seemingly negative experiences into their deeper positive values, sponsorship includes many processes. The "yin" (receptive) aspect of sponsorship involves receiving, allowing your heart to be opened, bearing witness, providing place or sanctuary, soothing, gently holding, being curious, deep listening and beholding a presence with the eyes of kindness and understanding. The "yang" (active) aspect includes relentless commitment, fierce attentiveness, providing guidance, setting limits and boundaries, challenging self-limitations and introducing the sponsored experience to other resources. Through a skillful combination of these and related sponsorship processes, an experience or behavior that seems to have no value to the self or community can be transformed from an "it" that should be destroyed to a "thou" that can be listened to, appreciated and allowed to develop within self and community.

    A Prosperity Blessing

    May you be blessed with an amazingly abundant day today!

    May the clouds break and the heavens pour down upon you more joy, more love, more laughter and more money than you could have ever dreamed of.

    May the sun shine its golden light of prosperity through every cell of your extraordinary body.

    May you be cleansed today of any resistance or feelings of unworthiness that you may still be holding onto.

    May your false illusions of doubt, fear and scarcity gently fall away like soft white feathers on a gentle breeze.

    May you be willing, simply willing, to allow the Universe to shower you with miracles today.

    May the Angels wrap you in their shining wings of opulence.

    May the fairies deliver you to their pot of gold at the end of a majestic rainbow.

    May your eyes shine with the glorious truth of who you really are and may that truth uplift others in your presence to their own inner knowing.

    May your ears hear the sound of perfection ringing in your soul.

    May you taste the deliciousness of every precious bite of life as your day unfolds moment by moment with amazing grace, heartfelt love and a bounty of magnificent money.

    As this day ends, may you slumber wrapped in an exquisite blanket of enduring peace and profound gratitude.

    And may the last words you speak today be Thank You!

    Veronica M. Hay
    Copyright 2004

    Veronica Hay is the author of "In a Dream,

    Artikel: Ciri hidup kita, kini

    Dulu, ikatan kekerabatan berlangsung sangat mesra. Usia persaudaraan pun bersemi sampai tua. Tiap hari mereka senantiasa kumpul bersama. Hidup damai, penuh ketentraman, tak tergesa-gesa.

    Tapi semenjak masuk era modernisasi berubahlah suasana. Hampir semua jenis pola hubungan manusia tercabik-cabik mewujud jadi aneka romantika baru. Terjadi apa yang sesungguhnya kita sama-sama saksikan, kini. Revolusi industri mulai merenggangkan kasih mesra manusia dengan segala lingkungannya.

    Usia Hubungan Kian Pendek
    Manusia memang sedang dipercepat gerak hidupnya. Usia keterlibatan dan interaksi manusia dengan lingkungan sosial cenderung semakin singkat. Lebih-lebih masyarakat kota. Pola hubungan kian formal dan terbatas. Hampir dalam segala jenis hubungan manusia, dengan keluarga, dengan para tetangga, dengan rumahnya, dengan anak-istrinya, dengan orang tuanya, dengan handai taulan, karib kerabat, bahkan juga dengan kekasih pujaan hatinya.

    Kalau dulu, ikatan kekerabatan dalam keluarga bisa berlangsung sepanjang usia, agaknya di masa yang akan datang, harapan ini sulit diwujudkan. Tingkat perceraian dan perpecahan keluarga akan semakin tinggi. Kesibukan suami dan isteri yang masing-masing berbeda profesi, ditunjang oleh mobilitas yang makin tergesa-gesa, berakibat waktu-interaksi kian pendek. Anak-anak pun terbiasa (akibat dibiasakan) dalam sentuhan yang kian singkat dan tak mendalam.

    Tentu ada pengaruhnya. Rasa keterikatan anak pada orang tua jadi senakin sulit dibuktikan adanya. Rumah tangga pun terancam kohesivitasnya. Hingga ketika ada 'gangguan' sedikit saja, ikatan yang sudah lemah begitu rupa, bisa pecah itu keluarga.... ....

    GANJA DAN AMSTERDAM
    Beberapa waktu lalu, 3 orang perwakilan Indonesia berangkat ke Amsterdam untuk mengikuti OSI Public Health Conference “Moving the harm reduction policy forward: non coercive drug treatment and sexual and reproductive rights for injecting drug users” yang diadakan tepatnya pada tanggal 13-15 November 2006 lalu.
    Setelah nyaris tidak berangkat dikarenakan ada permasalahan dengan visa, akhirnya kami tiba juga di Amsterdam dengan selamat setelah menempuh perjalanan panjang kurang lebih 13 jam. (phuiiih …pegel bok pantatnya).
    Karena kami dari 3 kota yang berbeda, Saya dari Jakarta , Ikbal dari Bandung dan Bob dari Bali , alhasil kami jadi berangkat sendiri-sendiri.
    Lumayan khawatir juga berangkat ke negeri orang sendirian. Tatuuuut.
    Cuaca di Amsterdam sebenarnya sedang dingin-dinginnya karena sudah mulai masuk musim gugur dan sering sekali hujan. Tapi karena kami excited banget untuk tahu lebih banyak, meskipun kedinginan dan kehujanan kami tetap paksain untuk jalan-jalan melihat-lihat kota Amsterdam yang ternyata sangat indah, antik dan orang-orangnya juga ramah-ramah, terus terang saya cukup betah disini. Rasanya nyaman ......
    Okay, sekarang saya akan bercerita mengenai latar belakang negara Belanda.....
    Beberapa data menunjukkan bahwa Belanda memiliki kurang lebih 30.000 pengguna napza. Yang sebenarnya kebanyakan terdiri dari turis atau pendatang di luar penduduk asli Belandanya.
    Sebagian besar dari mereka adalah pengguna heroin, methadone, crack kokain dan amphetamines. Model pemakaian napzanya adalah dengan di drag (dihisap melalui kertas aluminium foil untuk heroin dan kokain) dan di hisap melalui pipa (crack kokain). Justru untuk menyuntik napza sudah tidak populer lagi di sana. Udah ketinggalan jaman katanya. Meskipun begitu, layanan untuk mengakses jarum steril dan pertukarannya masih tersedia, bisa diakses di apotik (yang menjual jarum dan tabungnya).
    Untuk mendapatnya tidak memerlukan resep, tetapi apotik tetap saja bisa menolak untuk menjual jarum suntik ke kita.
    Undang-undang dan hukumannya
    Mitos yang terus beredar sekarang tentang Belanda adalah sebuah negara yang bebas untuk memakai ataupun menjual napza. Ternyata enggak loh.
    Pertama, di Belanda (termasuk Amsterdam) sebagian besar dari jenis napza illegal yang ada diseluruh dunia sebenarnya juga illegal di Belanda. Memiliki kokain, heroin, amphetamines, ecstasy sangat dilarang oleh hukum. Memiliki ganja dalam jumlah lebih dari 5 gram pun juga melanggar hukum.
    Selain jenis napza ini, menjual dan menghisap ganja dan produk lainnya yang mirip dengan itu (napza jenis ringan) diperbolehkan untuk dilakukan di setiap kedai kopi yang banyak sekali saya temui di sana.
    Di sebuah lokasi ”red light district” (lokasi prostitusi) saya malah melihat ada museum ganja yang menceritakan sejarah ganja, dan hampir setiap 2-3 blok pertokoan saya melihat kedai kopi yang anak-anak mudanya sedang asyik melinting ganja, menghisap ganja dan bahkan ada sebuah toko yang menjual bibit ganja untuk ditanam. Teman saya yang tinggal di sana menawarkan untuk mencoba brownies ganja, ”Legal kok Lan, coba aja. Mumpung disini, di Indonesia mah nggak bisa banget! Nggak ada khan brownies ganja di sana?” Dan saya tertawa saja. Penasaran juga sih ingin mencicipi apalagi setiap saya melewati kedai kopi yang ”bebas” itu, bau ganjanya tercium. Wangi. Hehehe.
    Dan kedai kopi itu menjadi tempat yang ”halal” untuk melinting, membakar, dan menghisap ganja. Hanya ganja dan napza jenis ringan yang diperbolehkan untuk di konsumsi di kedai kopi tersebut. Selain itu tidak boleh.
    Dan tidak ada persyaratan khusus untuk turis datang memasuki kedai tersebut meskipun untuk masuk tetap di perlukan ID Card atau KTP.
    Nah, kalau ketahuan memiliki ganja di bawah 5 gram tidak akan dihukum, begitu juga dengan jumlah kecil kepemilikan akan kokain, heroin, amphetamines (hanya untuk digunakan sendiri lho!)mungkin diijinkan mungkin juga tidak. Tergantung dari area tempat kita berkunjung. Kalau tertangkap basah bisa saja dibebaskan atau napzanya di ambil sama polisinya, tapi secara umumnya tidak akan ada tuntutan berat kalaupun tertangkap basah.
    Ketentuan denda di Zeedijk (Red Light district)
    Tidur di jalanan : 125 euro
    Menjajakan seks : 50 euro
    Merugikan lalu lintas / lingkungan sekitar : 75 euro
    Nongkrong tanpa tujuan yang jelas : 50 euro
    Pesta napza lebih dari 4 orang : 125 euro
    Menggunakan napza di muka umum : 130 euro
    Minum alkohol di tempat umum : 55 euro
    Harga, lokasi dan kualitas ”barang”
    Heroin dan kokain sekitar 40 – 50 euro/gram (sekitar Rp. 440.000,- sampai Rp. 550.000,-). Bubuk kokain (untuk disuntik/di sniff) sulit untuk di temukan disana dan lokasinya agak keluar kota yaitu Amsterdam – Bijlmer (Tenggara).
    Pusat penjualan napzanya (kalau mau beli) terdapat di pusat kota/red light district dan di area Biljmer (Amsterdam tenggara).
    Kualitas barangnya untuk heroin (kebanyakan heroin yang beredar disana adalah brown sugar alias heroin Turki) sangat rendah dan biasanya kemurnian barangnya juga dibawah 20%.
    Kalau kualitas dari (crack) kokain biasanya bagus dan kemurnian barangnya juga bisa mencapai diatas 90%.
    Nah ......
    Segitu dulu deh dongeng dari negeri Belanda. Ini baru buat ”hidangan pembuka” nya, ”makanan utama”nya akan segera menyusul kemudian.
    Belanda tidak bebas sama sekali untuk kepemilikan dan pengunaannya, tetap saja ada sanksi hukumnya, tetapi yang sudah teman-teman baca, hukum disana untuk pengguna dan penggunaannya LUNAK sekali ya .....
    Ada yang berminat ?

    Passarella Penuhi Janji Mundur

    Buenos Aires - Daniel Passarella bukan orang yang bisa menjilat ludahnya sendiri. Janjinya untuk mundur jika tak berhasil memberi tropi juara kepada River Plate telah ia penuhi.

    Mantan kapten Argentina saat menjuarai Piala Dunia 1978 itu mengumumkan pengunduran dirinya sebagai pelatih River pada hari Kamis (15/11/2007) kemarin waktu setempat.

    Sehari sebelumnya River disingkirkan klub Buenos Aires lainnya, Arsenal, di ajang Copa Sudamericana lewat adu penalti, sehingga hilang semua kesempatan meraih gelar juara. Jauh-jauh hari sebelumnya River telah terlempar dari persaingan di kompetisi domestik Liga Apertura.

    Di awal musim Passarella memang pernah mengatakan dirinya akan mundur jika River mengakhiri musim tanpa sebuah titel. Dan ucapan tersebut ia buktikan.

    "Saya ingin memegang ucapanku sendiri. Saya punya sebuah komitmen dengan suporter Real yang sesungguhnya, dan kata-kata saya tidak bisa diubah," ujar pria berusia 55 tahun itu seperti dilansir Yahoosport.

    River tak pernah memenangi satu pun gelar juara dalam enam musim terakhir di kompetisi Liga Argentina, yang membuat rivalitas dengan musuh bebuyutannya, Boca Juniors, terasa tak seru lagi.

    Passarella juga pernah bermain untuk River di tahun 1974 sampai 1989, serta pernah memperkuat Inter Milan dan Fiorentina. Di tahun 1990 ia dipercaya menukangi River dan mempersembahkan tiga titel juara dalam empat musim, sebelum ditunjuk sebagai pelatih timnas Argentina di tahun 1994.

    Ia meletakkan jabatan tersebut setelah Piala Dunia 1998 di Prancis, lalu berturut-turut melanjutkan karirnya di timnas Uruguay, Parma (Italia), Monterrey (Meksiko), dan Corinthians (Brasil). (a2s/a2s)

    Real Madrid
    Kehilangan 14 Pemain

    Saat pertandingan kualifikasi Piala Eropa 2008 digelar 13 dan 17 Oktober, Real Madrid merasakan dampaknya. Mereka menelan kekalahan pertama musim ini dari Espanyol setelah para pemain pulang membela tim nasional. Barcelona pun mengalami hal sama di jornada 8 itu.

    Rabu, 14 November, Real Madrid melaksanakan latihan rutin dengan jumlah yang jauh berkurang. Bayangkan, Bernd Schuster harus kehilangan 14 pemain yang dipanggil tim nasional masing-masing. Selain babak kualifikasi Euro 2008, zona Conmebol juga melaksanakan duel menuju Piala Dunia 2010.

    Sebagai pengganti, agar proses latihan Raul Gonzalez dkk. bisa berjalan, Schuster mengundang empat pemain dari Real Madrid B. Bagi pemain muda, saat-saat seperti inilah yang dinanti guna memikat perhatian pelatih tim senior.

    Nah, siapa di antara Nacho, Claudio Giraldez, Kamil, dan Krzysztof Krol yang akan merintis jalan menuju dunia profesional dengan memanfaatkan partai internasional? Pintu Real Madrid siap terbuka bagi anak muda yang punya potensi. Itu hukum alam.

    Kembali ke Madrid senior. Apa yang akan terjadi ketika Los Blancos melakoni jornada 13 di kandang Murcia pada 25 November? Keletihan sejumlah pemain menuntut perubahan taktik permainan. Apakah kekalahan masih bisa ditutupi dengan kambing hitam bernama partai internasional? (wesh)

    PEMAIN MADRID YANG PERGI
    -------------------------------------------------
    Pepe (Portugal), Ruud van Nistelrooy, Wesley Sneijder & Royston Drenthe (Belanda), Fabio Cannavaro (Italia), Robinho & Julio Baptista (Brasil), Fernando Gago & Gabriel Heinze (Argentina), Christoph Metzelder (Jerman), Sergio Ramos & Iker Casillas (Spanyol) dan Mahamadou Diarra (Mali). Plus Miguel Torres (Spanyol U-21)

    Pujian El Buitre

    Masih ingat Emilio Butragueno? Mantan bomber Real Madrid yang pernah menjabat sebagai wakil presiden klub itu baru-baru ini buka suara perihal kondisi mantan klubnya dan Barcelona.

    Melalui situs Goal, Butragueno memuji skuad Barcelona sebagai pemain-pemain bertalenta. Secara individu, tak ada pemain yang lebih baik dari penghuni Camp Nou di panggung Primera Division.

    “Masalahnya, mereka harus kembali bermain sebagai tim,” ujar Butragueno, yang tak habis pikir kenapa Barcelona hanya sanggup mendapat satu poin dari tiga partai away terakhir, kalah 1-3 dari Villarreal, seri 1-1 di Valladolid, dan tumbang 0-2 di Getafe.

    Tentu saja pemilik julukan El Buitre alias Si Burung Nasar itu juga mengomentari performa Madrid. Katanya, “Mereka punya ciri khas tak ingin kalah. Saya suka gaya Madrid saat mengalahkan Mallorca, punya karakter dan penuh semangat untuk menepis ketertinggalan.”

    Siapa jagoan Butragueno menjuarai kompetisi 2007/08? Wajar ia menyebut Madrid. “Mereka pernah punya masalah, tapi tetap bersatu. Ini faktor penting yang akan membawa Madrid menjadi juara.”

    Mari tunggu kebenaran analisis El Buitre. (wesh)

    McClaren Yakin Selamat

    London - Steve McClaren menjalani pekan-pekan terberat dalam karirnya. Meski terancam dipecat bila gagal mengantar Inggris lolos ke Euro 2008, ia yakin akan selamat.

    Sungguh malang McClaren. Nasib dirinya dan timnas Inggris kini tergantung oleh pertandingan dua negara lain, Israel dan Rusia. Dalam skenario yang terburuk, Rusia akan menang dan habislah sudah peluang Inggris meluncur ke Austria-Swiss musim panas mendatang.

    Di tengah situasi ini McClaren masih bisa berpikir positif dan optimistis. "Saya percaya saya akan selamat," ucap McClaren seperti dilansir Sportinglife, Jumat (16/11/2007).

    "Saya sudah pernah melewati masa-masa sengsara di masa lalu. Saya yakin saya bisa melakukannya lagi. Kami berada dalam masa ketidakpastian. Bukan tentang keamanan pekerjaan saya, namun ketidakpastian dalam kualifikasi ini," tanggap McClaren terkait dengan kemungkinan dirinya akan di-PHK.

    McClaren bertemu dengan Chief Executive FA Brian Barwick pada pekan ini. Tak ada penjelasan detail mengenai agenda pertemuan itu. Yang jelas, tidak ada pembicaraan mengenai nasib kursi McClaren di sana.

    "Kualifikasi kini berada di luar jangkauan tangan kami," aku McClaren mengacu pada ketergantungan Inggris kepada partai Israel vs Rusia. "Saya tetap percaya laga melawan Kroasia-lah yang akan jadi penentuan," imbuh manajer kelahiran 46 tahun lalu itu.

    "Meloloskan Inggris adalah tanggungjawab saya. Saya menyimpan kepercayaan kepada para pemain untuk mewujudkannya," tandasnya. (arp/a2s)

    15 Kelompok Tifosi Dicekal

    Roma - Lega Calcio mengambil langkah berani, yaitu melarang 15 kelompok tifosi di kompetisi Italia untuk ikut menemani tim kesayangannya bertandang.

    Keputusan tersebut dibuat dengan pertimbangan meminimalkan bentrokan antarsuporter, buntut dari insiden tewasnya fans Lazio Gabriele Sandri di Roma akhir pekan lalu.

    15 kelompok tifosi yang mendapat larangan bertandang itu datang dari empat level kompetisi yang berbeda, yaitu enam kelompok fans dari kompetisi Seri A, dua dari Seri B dan sisanya merupakan kelompok pendukung tim-tim Seri C dan kompetisi amatir Italia. Demikian dilansir dari situs Channel 4, Jumat (16/11/2007).

    Namun dari enam kelompok fans Seri A itu tidak disebutkan tifosi Napoli yang terkenal memiliki suporter garis keras. Padahal dalam beberapa laga tandang Azzurri, fans mereka sudah mendapat larangan mendampingi timnya berlaga, termasuk saat dijamu Palermo pekan lalu. Pihak Lega Calcio hanya mencantumkan suporter dari Atalanta, Catania, Milan, Roma, Sampdoria dan Torino dalam blacklist.

    Larangan tersebut mulai berlaku saat kompetisi Italia mulai bergulir lagi, yang santer dikabarkan akan berjalan minggu depan, atau tepatnya pada 24 November.

    Emilio, MVP-nya MLS

    Washington - Mencetak 20 gol dari 29 laga bersama DC United, striker asal Brasil Emilio pun dinobatkan sebagai Most Valuable Player MLS tahun ini.

    Catatan tersebut menjadi sejarah tersendiri bagi MLS karena 20 gol merupakan rekor terbanyak untuk musim reguler kompetisi yang diikuti oleh 13 klub saja.

    "Momen ini merupakan yang terbaik dalam hidup saya. Saya sangat bahagia," ujar Emilio seperti dikutip AFP, Jumat (16/11/2007).

    Meski mencatat hasil sensasional di musim pertamanya membela DC United -- bergabung dari klub Honduras CD Olimpia bulan Januari --, namun Emilio gagal membawa timnya menorehkan prestasi. DC United sudah tersingkir di babak pertama playoff perebutan titel juara MLS.

    "Kami tetap bersama. Kami banyak berdiskusi di ruang ganti, kami memiliki tim yang hebat dan kami tetap positif. Semuanya sungguh baik untuk kami, kami bekerja dengan cukup keras, saya sungguh senang," tandas pemain berusia 28 tahun itu lagi.

    Rijkaard Menepis Krisis

    Kekalahan 0-2 Barcelona di tangan Getafe pada jornada 12 lalu tentu menyisakan segudang pekerjaan rumah bagi Frank Rijkaard. Meski begitu, sang entrenador ogah mengategorikan situasi Los Azulgranas sebagai sebuah krisis.

    “Saya menolak jika kami dianggap sedang mengalami krisis,” tegas pria Belanda berumur 45 tahun itu. “Yang ada, kami cuma belum mampu memetik poin lebih di laga tandang. Itu saja yang harus diperbaiki.”

    Menurut pelatih yang mulai menukangi Barca pada musim 2003/04 itu, pasukannya bukan tak mempunyai kualitas. Rentetan laga away yang berbuntut hanya enam poin dari maksimal 18 itu lebih diakibatkan persoalan mental.

    “Ini murni masalah mentalitas pemain. Pada partai-partai tertentu, para pemain tak bisa mempertahankan level yang seharusnya. Itu saja yang menjadi masalah. Jadi, tak ada yang namanya krisis,” lanjut Rijkaard.

    Ini bukan kali pertama isu krisis menghujani Rijkaard. Tak heran bila ia pun merasa tenang-tenang saja. “Orang telah menarik konklusi dari hasil kami di Getafe. Tapi, menurut saya, semua tak ada yang benar,” imbuhnya.

    Ketenangan eks gelandang Oranje itu bisa jadi juga didasari atas dukungan penuh seisi Camp Nou. Mulai pendukung, petinggi di dewan direksi klub, hingga para pemain. Ketiga komponen ini sepakat mendukung Meneer Rijkaard.

    Dukungan Penuh

    “Rijkaard mempunyai cukup pengalaman guna mencari solusi atas masalah yang menghinggapi kami saat ini. Saya yakin ia (Rijkaard) akan mengambil langkah yang terbaik bagi Barca,” ujar Lionel Messi pada El Mundo Deportivo.

    Selain mendukung sang pelatih, Messidona juga menyinggung upaya yang harus dilakukan agar rentetan buruk ini bisa dihentikan. “Jika bermain di luar, kami harus mengganti sistem. Mentalitas pemain pun perlu dibenahi,” katanya lagi.

    Presiden Joan Laporta punya pemikiran yang tak jauh beda. “Ini hanya masalah teknis. Kami mendukung penuh Rijkaard untuk mengambil langkah-langkah guna mengubah situasi ke arah yang lebih baik.”

    Dukungan positif ini terbukti ampuh. Setidaknya, dalam laga away kontra Alcoyano di Copa del Rey, Selasa (13/11), Barca sukses menang 3-0. Meski hanya berstatus tim Segunda B (divisi III), kemenangan tandang ketiga di musim ini tersebut tetap layak dibanggakan. (Sapto Haryo Rajasa)

    Garay Diperebutkan

    Dunia sepakbola memang kaya dengan intrik politik, terutama jika sudah bicara soal kepentingan dalam jual-beli pemain. Tengoklah persaingan antara Manchester United dan Liverpool berikut ini.

    Ezequiel Garay, jadi permainan politik Rafa-Fergie.

    Merasa dipersulit Sir Alex Ferguson saat hendak membeli Gabriel Heinze pada Agustus lalu, kini Rafael Benitez melakukan balasan. Liverpool pada Rabu (14/11) langsung mengiyakan permintaan Racing Santander sebesar 10 juta pound (Rp 188,33 miliar) untuk mendapatkan Ezequiel Garay.

    Langkah ini menjadi masuk akal karena ternyata pemain Argentina berusia 21 tahun itu hampir menemukan titik temu dalam negosiasinya dengan United. Kubu Red Devils memang telah sejak awal tahun mendekati pemain belakang yang bisa bermain sebagai bek tengah dan full-back tersebut.

    Aksi Liverpool sendiri terbilang nekat lantaran riset yang dilakukan staf Rafa menyangkut sang pemain terbilang minim. Belakangan baru diketahui bahwa Garay sendiri baru sekali bermain untuk timnas, melawan Norwegia dalam sebuah laga persahabatan pada Agustus lalu.

    Berdasarkan data tersebut bisa jadi Garay tidak akan mendapatkan izin kerja dari pemerintah Inggris. Kualitas teknik sang pemain toh cukup mumpuni lantaran hanya dalam tempo dua tahun setelah dibeli dari Newell’s Old Boys, kini dirinya telah menjadi salah satu bek top La Liga.

    Bila pertempuran kali ini dimenangi United, Rafa jelas terpukul lantaran kehadiran Garay amat dibutuhkan setelah mereka kekurangan bek tengah.

    Efek Liga Champion

    Dengan cederanya Daniel Agger dan telanjur dijualnya Gabriel Paletta ke Boca Juniors, kini duet palang pintu utama Pool hanyalah Jamie Carragher dan si gaek Sami Hyypia.

    Selain lantaran butuh pemain dan ingin memenangi persaingan dengan United, aksi jorjoran Liverpool juga terkait langsung dengan sepak terjang teranyar mereka di Liga Champion.

    Kemenangan 8-0 atas Besiktas pada matchday keempat membuat peluang Liverpool melaju ke perdelapanfinal kembali terbuka. So, dana pun lancar mengalir.

    Bagi Fergie perkembangan ini jelas menjadi tantangan untuk membuktikan reputasinya sebagai pengumpul pemain bagus yang andal. Setelah kalah dari Hamburg untuk mendapatkan striker berumur 17 tahun asal Nigeria, Macauley Chrisantus, the Scotman jelas tak mau kehilangan muka untuk kedua kalinya. (Darojatun/Foto: AFP)

    Cek Suap Rp 56 Juta

    Lembaga penyelidik kasus suap dalam transfer pemain Premier League, Quest, diam-diam ternyata terus bekerja. Aksi mereka di belakang layar akhirnya terkuak ketika salah seorang agen yang dianggap bermasalah, Barry Silkman, minggu ini menyindir cara kerja biro bentukan FA yang dipimpin Lord Stevens tersebut.

    Silkman, eks pemain Crystal Palace dan Manchester City di era 70-an, mengatakan Quest tidak berhak mempertanyakan lalu lintas uang dalam rekening bank miliknya. Pada Juli 2006, Quest memang meminta Silkman menjelaskan 123 transaksi perbankan yang dilakukannya sejak Januari 2004 hingga Januari 2006.

    Transaksi tersebut memang dinilai berkaitan dengan proses transfer yang melibatkan delapan pemain, yang sebagian besar dibeli Middlesbrough (Fabio Rochemback, Doriva, Abel Xavier, dan Yakubu Ayegbeni).

    Dalam transfer Rochemback dan Yakubu, misalnya, muncul keanehan karena setelah menerima uang dari Boro, Silkman juga membayar agen pemain asal Israel, Pini Zahavi, dengan cek senilai tiga ribu pound (Rp 56,4 juta).

    Dalam laporan yang dibuat Lord Stevens dimuat sebuah spekulasi bahwa Zahavi mungkin adalah saluran praktik pembayaran ilegal pada orang dalam di Middlesbrough, yang akhirnya memungkinkan transfer terjadi.

    “Saya heran dengan klaim dan pertanyaan Quest mengenai masalah keuangan saya yang bersifat pribadi itu. Mungkinkah saya membayar suap dengan cek senilai tiga ribu pound? Betapa bodohnya saya?” tanyanya seperti dikutip Guardian.

    Menurut Silkman, Zahavi sebenarnya menerima bayaran lebih besar, yaitu 250 ribu pound (Rp 4,7 miliar), setengah dari bayarannya sendiri, karena ia melancarkan kepindahan Rochemback dari Barcelona.

    “Kepindahan Rochemback amat rumit karena melibatkan empat klub dan Pini punya sebuah solusi yang bisa diterima Barcelona,” jelasnya lagi.

    Hmm, menyibak sebuah skandal memang dibutuhkan ketelatenan tinggi dan waktu yang panjang. (toen)

    Calcio di Tangan Ultras

    Sepakbola Italia dalam bahaya. Kelangsungan dari kemegahan calcio, begitu orang Negeri Pasta menyebut cabang olahraga itu, ada di tangan tifosi ultras, kelompok suporter garis keras yang sekarang menjadi sorotan dunia.

    Ultras disorot karena melakukan kerusuhan pada Minggu lalu di Bergamo, Milano, dan Roma. Mereka bertindak anarkistis setelah tifoso Lazio, Gabriele Sandri, tewas tertembak polisi di tempat peristirahatan jalan tol di Arezzo pada Ahad pagi lalu.

    Akibat tewasnya Sandri, pertandingan Inter kontra Lazio di Giuseppe Meazza dibatalkan. Sementara itu, akibat kerusuhan di Bergamo dan Roma, duel Atalanta melawan Milan dihentikan dan Roma melawan Cagliari dibatalkan.

    Hal itu bukan kali pertama pertandingan dibatalkan karena ulah tifosi. Februari lalu, Serie A dan Serie B dihentikan sejenak karena kerusuhan suporter Catania dan Palermo yang menyebabkan tewasnya inspektur polisi Filippo Raciti.

    Pekan ini, karena kerusuhan Ahad lalu, federasi sepakbola Italia (FIGC) memutuskan untuk meniadakan Serie B dan C pada akhir pekan ini. Sabtu dan Minggu besok, Serie A tak berputar karena ada agenda pertandingan internasional.

    Namun, pemerintah Italia telah meminta Serie A untuk istirahat beberapa pekan guna mendinginkan suasana. Sampai Rabu lalu, belum ada keputusan FIGC akan menunda giornata 13 yang jatuh pada 25 November mendatang.

    Bukan hal yang bagus buat calcio kalau kompetisi berulang kali dihentikan. Itu kerugian buat pemain, klub, sponsor, dan penikmat sejati sepakbola. Karena itu, para pengamat di Italia menyebut kelangsungan calcio kini ada di tangan ultras.

    Keluhan Pemain

    “Politikus, para pemimpin klub, dan jurnalis mesti bersatu. Jika tidak, ultras akan menang. Kalau itu terjadi, maka semua akan berakhir,” kata pelatih top Italia, Fabio Capello, di La Stampa.

    Ya, semua selesai alias calcio mati. Bagaimana tidak tenggelam kalau Serie A tanpa pemain-pemain top dan hampir setiap saat diwarnai kerusuhan? Salah satu magnet campionato, Kaka (Milan), sudah memberi peringatan.

    “Sepakbola Italia kehilangan kredibilitasnya,” kata Kaka kepada La Gazzetta dello Sport. “Berbagai skandal, kematian polisi, dan kini fan. Stop sekarang atau para pemain bintang akan satu per satu pergi,” tutur andalan Brasil itu.

    “Kami adalah korban utama dan kami merasa menjadi sandera dari ini semua. Maksud “kami” di sini adalah sepakbola Italia,” kata kiper Fiorentina asal Prancis, Sebastien Frey, kepada koran olahraga di negerinya, L’Equipe.

    Ultras menentukan masa depan calcio. Jika mereka masih menganut filosofi polisi adalah musuh utama, maka jangan harap calcio berjalan mulus. Di saat bersamaan, pemerintah Italia mesti tegas menerapkan peraturan.

    “Saya merasa beruntung bermain di luar negeri,” sebut kapten Italia, Fabio Cannavaro. “Saya bermain untuk Real Madrid, klub dengan stadion sempurna di mana anak-anak dapat menyaksikan pertandingan tanpa rasa takut."

    Bek tengah yang meninggalkan Juventus pada musim panas 2006 itu lalu berkata: “Italia masih gagal mengontrol olahraga yang kita cintai. Tak masuk akal seseorang mesti meninggal saat berusaha menonton laga sepakbola." (Riemantono)

  • Airplanes, $1Bln Debt Top India Visit

    gf55

    By Anna Smolchenko
    Staff Writer

    President Vladimir Putin and Indian Prime Minister Manmohan Singh agreed Monday to boost ties, praising a budding alliance among Russia, India and China and giving their blessing to an agreement for the joint development of a military transport plane, among other deals.

    "We agreed that there are enormous opportunities for cooperation, " Singh said at a joint news conference after his talks with Putin.

    "We have an obligation to explore the idea of convergence between three of us," he said, including China in the equation.

    Singh was in Moscow for a one-day summit, an annual event since 2000.

    The leaders oversaw the signing of documents including an agreement to produce jointly a military transport aircraft -- a plan that has been in the works for several years. That deal followed an earlier agreement on the production of a fifth-generation fighter jet.

    Putin said the deals would "open up new opportunities for scientific and industrial cooperation in very sensitive spheres."

    About $300 million of the money to finance the transport-plane project will come from $1.1 billion of Indian debt to Moscow, owed since the Soviet period, a Finance Ministry spokesman said, declining to be identified. The balance of the debt is expected to be diverted into other investment projects.

    At the Kremlin, Putin and Singh also agreed to consider taking the countries' partnership in the energy sphere beyond work on the Sakhalin-1 oil and gas field to explore joint projects in Russia, India and third countries. India's ONGC Videsh holds a 20 percent stake in Sakhalin-1.

    In the run-up to the summit, Russia and India agreed to establish three centers for research in the fields of nonferrous metals and biomedical and laser technology, Putin said.

    The two nations also agreed Monday to work together on lunar exploration.

    "Russia and India will be creating a joint space vehicle," Federal Space Agency head Anatoly Perminov said in a statement. "Delivery to the moon of a complete research laboratory is planned as part of the project," he said.

    Singh said India was hoping for deeper cooperation from Russia in developing its nuclear energy industry and thanked Moscow for its support in its bid to get nuclear restrictions lifted.

    Russia is building two nuclear reactors at Kudankulam in the state of Tamil Nadu. Despite expectations, an agreement to build four more was not signed by the two leaders this trip. Putin had overseen the signing of a memorandum of intent for the reactors during a January trip to New Delhi.

    Federal Atomic Energy Agency chief Sergei Kiriyenko told reporters that the text of the agreement was ready and work was ongoing.

    The lack of an agreement on outstanding Soviet-era debt has contributed to a "certain standstill" in Russian investment in India, Alexander Shokhin, head of the Russian Union of Industrialists and Entrepreneurs, a big business lobby group, said on the sidelines of the ceremony. The two countries managed only an anemic $4 billion in trade with each other in 2006.

    On the brighter side, the talks did indicate that Russian MiG-35 jets stood a chance of winning an Indian tender, said Mikhail Zavaly, director for special assignments at Rosoboronexport.

    "We've submitted our proposals," said Zavaly, adding that a contract for 126 fighter jets would be worth around $10 billion.

    Tatyana Shaumyan, head of the Center of Indian Research at the Russian Academy of Sciences' Institute of Oriental Studies, who was at a dinner with Putin and Singh later, praised the meeting as a "breakthrough of sorts."

    She pointed to the fact that the talks lasted an hour longer than scheduled and involved ambitious projects like lunar exploration.

    "I have a feeling it was not merely a protocol meeting," Shaumyan said.

    CitNtailah Aku...

    Kian kusadari..kaulah segalanya
    yang memberi arti kehidupan ini
    haruskah terjadi...cinta membelenggu. .
    di setiap langkahku... kau selalu cemburu

    Cintailah aku...setulus hatimu kasih
    jangan kau biarkan cinta kita
    berlalu begitu saja....
    hanya karena emosi di hati kita

    Bukan maksud hatiku...kau jadi terluka
    seakan diriku tak perduli lagi
    dengarkanlah kasih... nyanyian rinduku
    ku ingin kau tahu..ku hanya milikmu

    Peluklah diriku....jangan kau lepaskan lagi
    agar ku mengerti kini kita masih saling memiliki
    hanya dirimu yang sanggup mencintaiku
    seutuhnya... sepanjang hidupku sejujurnya..

    Selamanya kau berjanji untuk mencintaiku
    kasih setiamu kembalikan harapan dan rasa cintaku
    kau segalanya... hanya Tuhan yang memberi untukku
    hingga ku mampu dengan tegar menjalani arti hidup ini

    Maafkan aku..telah sering melukaimu
    kau hanya membisu..hingga ak tak dapat memahamimu
    ketulusanmu telah menyentuh nuraniku
    dan akupun tak mampu tuk berpaling... tinggalkanmu. ..

    Cintailah aku kasih...setulus hatimu .

  • Kosgoro 1957 dan Ekonomi Kerakyatan

    bmbfmf

    Oleh HM Djonharro

    Jumat, 9 Nopember 2007
    Pada 2006 yang lalu, Nobel Perdamaian disematkan kepada Muhammad Yunus, seorang akademisi dan ekonom asal Bangladesh. Nobel itu menjadi saksi dari keberhasilan M Yunus dalam membantu mengentaskan kemiskinan di Bangladesh yang telah menggurita selama puluhan tahun. Dengan mendirikan Grameen Bank pada tahun 1976, mekanisme tersebut telah menjadi alternatif bagi pemberdayaan sekaligus upaya pengentasan kemiskinan bagi masyarakat, khususnya bagi kaum perempuan Bangladesh.

    Apa yang menarik dari fenomena M Yunus yang kemudian sangat populer itu adalah adanya dua hal penting yang bisa dipetik. Pertama, persoalan kemiskinan tidak sekedar muncul dan terjadi secara alamiah dan esensial, melainkan kenyataan yang terjadi akibat persoalan struktural di dalam sebuah sistem negara. Kedua, kemampuan kritik dan jujur terhadap kelemahan sistem ekonomi global menjadi modal penting untuk ke luar dari permasalahan tersebut dan mencari alternatif yang tepat bagi upaya pengentasan kemiskinan yang ada.

    Sebenarnya, apa yang terjadi di Bangladesh juga mirip dengan yang terjadi di Indonesia. Kemiskinan yang merupakan salah satu penyakit sosial tidak terjadi hanya semata-mata karena "keterbelakangan" masyarakat di dalam beradaptasi dengan kemajuan.

    Tahun 1990-an, fenomena lain yang tidak kalah menarik muncul, yaitu kehadiran gedung-gedung megah sebagai ruang transaksi ekonomi pasar dengan perangkat modern. Produk yang dijual pun menurut standar yang serba modern pula; bersih, sehat, higienis, segar, dan sebagainya. Pasar tradisional sebagai tempat transaksi ekonomi secara sosial dan cemin dari kultur masyarakat semakin terpinggir.

    Kini, seluruh produk dan ukuran modernitas telah menjadi kenyataan yang terjadi di mana-mana dan lintas-batas, atau yang kemudian disebut sebagai fenomena globalisasi. Internasionalisasi ekonomi dan penyebaran hubungan pasar kapitalis secara universal merupakan penanda globalisasi yang tidak mungkin dihindari. Pada praktiknya, institusi dan agen-agen pasar internasional telah mengendalikan sistem informasi dan komunikasi global sehingga dianggap layak sebagai paradigma universal yang perlu diadopsi dan diterapkan di berbagai tempat di seluruh dunia.

    Hubungan pasar secara internasional itulah yang kemudian menyisakan persoalan yang cukup menggelisahkan di masyarakat Indonesia masa kini. Seperti sudah dimaklumi bahwa investasi ekonomi menurut standar pasar global lebih menguntungkan para pemodal besar dan tidak memihak masyarakat di level bawah. Perizinan perusahan multinasional yang beroperasi di beberapa wilayah strategis di Indonesia juga berdampak sangat serius bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya.

    Catatan beberapa peneliti seperti Geertz (1983) dan Schrauwers (2002) menunjukkan bahwa paradigma ekonomi rasional itu telah membuat geliat ekonomi berbasis rakyat yang lebih mengedepankan sisi solidaritas sosial menjadi tertekan. Bahkan, beberapa program pemerintah yang bertujuan untuk memajukan kehidupan ekonomi masyarakat justru berdampak pada pemiskinan terhadap mereka. Kini, ketika pasar internasional tercengang oleh kenaikan harga minyak, para analis ekonomi hampir senada mengeluarkan sikap resah bahwa perekonomian global kembali terancam, dan tentu saja kembali berdampak pada kehidupan masyarakat arus bawah.

    Menilik berbagai persoalan ekonomi yang semakin sulit dipahami oleh masyarakat di level bawah, maka pertanyaannya, apa yang sepatutnya dilakukan oleh lembaga-lembaga sosial independen yang bergerak di bidang "pemberdayaan" ekonomi rakyat? Kosgoro 1957, sebagai salah satu institusi publik yang memiliki visi dan misi pemberdayaan masyarakat, baik pada bidang politik maupun ekonomi, memiliki peran dan posisi yang strategis. Kelebihan lembaga sosial-politik independen seperti ini adalah kemampuannya untuk memahami persoalan konkret yang dihadapi masyarakat arus bawah.

    Modal sosial Kosgoro 1957-- semula didirikan untuk mewadahi kebutuhan masyarakat arus bawah melalui sistem koperasi publik--harus bisa menjadi alternatif terobosan usaha ekonomi kecil dan menengah. Oleh sebab itu, visi pemberdayaan ekonomi rakyat perlu dikembangkan dengan menelaah kembali apa yang disebut sebagai pemberdayaan itu sendiri. Pemberdayaan tidak lagi harus dimaknai sebagai pemberian modal tetapi dengan bunga yang cukup tinggi.

    Pemberdayaan harus dilihat sebagai upaya bersama dengan masyarakat dalam rangka mencari alternatif kehidupan ekonomi yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Pemberdayaan dalam konteks ini juga perlu dibedakan dengan pembangunan kapasitas (capacity building) di mana kegiatan pemberdayaan model ini justru lebih banyak menyediakan lapangan kerja dan pemborosan uang oleh para tenaga asing.

    Salah satu kelemahan sistem ekonomi tradisional adalah sulitnya memberikan modal bagi masyarakat miskin. Masyarakat miskin telah terkategori sebagai entitas pengusaha ekonomi irasional yang dinilai tidak sesuai dengan hukum ekonomi modern. Dengan pengertian lain, masyarakat miskin yang hanya mendapatkan upah kurang dari 1 dolar AS sangat tidak memungkinkan untuk mendapatkan modal usaha dikarenakan asumsi bunga yang cukup tinggi sehingga sulit mendapatkan jaminan pengembalian.

    Kosgoro 1957 harus memosisikan diri sebagai pihak yang betul-betul mengerti akan kebutuhan ekonomi rakyat. Kritisisme terhadap mekanisme ekonomi pasar global harus selalu dikedepankan, sementara produk dari sumber daya ekonomi rakyat perlu didukung dan dikembangkan. Penyediaan lapangan kerja bukan berarti memberangus potensi dan seluruh sumber daya yang ada, seperti yang selama ini kerap terjadi di mana pembangunan infrastruktur dan pendirian perusahaan banyak yang dilakukan dengan mengatasnamakan pengentasan kemiskinan. Tetapi pada kenyataan yang lebih konkret, pembangunan infrastruktur dan pendirian berbagai perusahaan justru memperkaya kaum modal. Sementara para pekerja yang terdiri dari masyarakat miskin tetap berjibaku dengan kemiskinan mereka.

    Di sisi lain, pemberdayaan politik juga perlu dilakukan. Kosgoro 1957 memang tidak bisa lepas dari peran ini. Hanya saja, pemberdayaan di bidang politik perlu diarahkan pada saling tukar gagasan dan pengetahuan mengenai fenomena politik yang terjadi. Pemberdayaan politik adalah upaya penguatan kritisisme masyarakat terhadap seluruh mekanisme yang sedang berjalan, sehingga dengan demikian Kosgoro 1957 tetap berdiri bersama-sama rakyat dan menjadi kontrol yang cukup kuat bagi perjalanan proses demokratisasi di Indonesia masa kini dan masa depan.***

    Penulis adalah Sekjen DPP Pengusaha Kosgoro 1957

    Our World: Islam and the nation-state
    Caroline Glick , THE JERUSALEM POST Nov. 12, 2007

    Throughout the world, one of the most prevalent causes of war, terrorism and political instability is the ongoing weakening of the nation-state system. There are several reasons that the nation-state as a political unit of sovereignty is under threat. One of the most basic causes of this continuous erosion of national power throughout the world is the transformation of minority-dominated enclaves within nation-states into ungovernable areas where state power is either not applied or applied in a haphazard and generally unconstructive manner.

    While domestic strife between majority and minority populations has been an enduring feature of democratic and indeed all societies throughout history, the current turbulence constitutes a unique challenge to the nation-state system. This is because much of the internal strife between minority and majority populations within states today is financed and often directed from outside the country.

    Traditionally, minorities used various local means to engage the majority population in a bid to influence the political direction or cultural norms of the nation state. The classic examples of this traditional minority-majority engagement are the black civil rights movement in the US in the 1960s and the labor movements in the West throughout the 20th century. By and large, these movements were domestic protests informed by national sensibilities even when they enjoyed the support of foreign governments.

    Today while similar movements continue to flourish, they are now being superseded by a new type of minority challenge to national majorities.

    This challenge is not primarily the result of domestic injustice but the consequence of foreign agitation. The roots of these minority challenges are found outside the borders of the targeted states. And their goals are not limited to a call for the reform of national institutions and politics. Rather they set their sights on weakening national institutions and eroding national sovereignty.

    MUSLIM MINORITIES throughout the world are being financed and ideologically trained in Saudi and UAE funded mosques and Islamic centers. These minorities act in strikingly similar manners in the countries where they are situated throughout the world. On the one hand, their local political leaders demand extraordinary communal rights, rights accorded neither to the national majority nor to other minority populations. On the other hand, Muslim neighborhoods, particularly in Europe, but also in Israel, the Philippines and Australia, are rendered increasingly ungovernable as arms of the state like the police and tax authorities come under attack when they attempt to assert state power in these Muslim communities.

    Logic would have it that targeted states would respond to the threat to their authority through a dual strategy. On the one hand, they would firmly assert their authority by enforcing their laws against both individual lawbreakers and against subversive, foreign financed institutions that incite the overthrow of their governments and their replacement with Islamic governments. On the other hand, they would seek out and empower local Muslims who accept the authority and legitimacy of their states and their rule of law.

    Unfortunately, with the notable exception of the Howard government in Australia, in country after country, governments respond to this challenge by attempting to appease Muslim irredentists and their state sponsors. The British responded to the July 7, 2005 bombings by giving representatives of the Muslim Brotherhood an official role in crafting and carrying out counter-terror policies.

    In 2003, then French president Jacques Chirac sent then interior minister Nicholas Sarkozy to Egypt to seek the permission of Sheikh Mohammed Tantawi of the Islamist al-Azhar mosque for the French parliament's plan to outlaw hijabs in French schools.

    In the US, in the aftermath of the Sept. 11, 2001 attacks, the FBI asked the terror-linked Council on American-Islamic Relations to conduct sensitivity training for FBI agents.

    In Holland last year, the Dutch government effectively expelled anti-Islamist politician Ayaan Hirsi Ali in the interest of currying favor with Holland's restive Muslim minority.

    THE FOREIGN policy aspect of the rush to appease is twofold. First, targeted states refuse to support one another when individual governments attempt to use the tools of law enforcement to handle their domestic jihad threat. For instance, European states have harshly criticized the US Patriot Act while the US criticized the French decision to prohibit the hijab in public schools.

    More acutely, targeted states lead the charge in calling for the establishment of Muslim-only states. Today the US and the EU are leading the charge towards the establishment of a Palestinian state and the creation of an independent state of Kosovo.

    In two weeks, US Secretary of State Condoleezza Rice will host the Annapolis conference where together with her European and Arab counterparts, she will exert enormous pressure on the Olmert government to agree to the establishment of a jihadist Palestinian state in Israel's heartland with its capital in Jerusalem and its sovereignty extending over Judaism's most sacred site, the Temple Mount.

    The establishment of the sought-for Palestinian state presupposes the ethnic cleansing of at a minimum 80,000 Israelis from their homes and communities simply because they are Jews. Jews of course will be prohibited from living in Palestine.

    FOR ITS part, the Palestinian leadership to which Israel will be expected to communicate its acceptance of the establishment of Palestine, is one part criminal, and two parts jihadist. As Fatah leader and Palestinian Authority Chairman Mahmoud Abbas and his colleagues have made clear, while they are willing to accept Israel's concessions, they are not willing to accept Israel. This is why they refuse to acknowledge Israel's right to exist as a Jewish state.

    A rare consensus exists today in Israel. From the far-left to the far-right, from IDF Military Intelligence to the Mossad, all agree that the Annapolis conference will fail to bring a peace accord. Since Rice's approach to reaching just such an accord has been to apply unrelenting pressure on Israel, it is fairly clear that she will blame Israel for the conference's preordained failure and cause a further deterioration in US-Israeli relations.

    While Israel is supposed to accept a Jew-free Palestine, it goes without saying that its own 20 percent Arab minority will continue to enjoy the full rights of Israeli citizenship. Yet one of the direct consequences of the establishment of a Jew-free, pro-jihadist State of Palestine will be the further radicalization of Israeli Arabs. They will intensify their current rejection of Israel's national identity.

    With Palestinian and outside support, they will intensify their irredentist activities and so exert an even more devastating attack on Israel's sovereignty and right to national self-determination.

    SHORTLY AFTER the Annapolis conference fails, and no doubt in a bid to buck up its standing with the Arab world, the US may well stand by its stated intention to recognize the independence of Kosovo.

    On December 10, the UN-sponsored troika from the US, Russia and Germany is due to present their report on the ongoing UN-sponsored negotiations between the Kosovo Muslims and the Serbian government regarding the future of the restive province of Serbia. Since the Kosovo Muslims insist on full sovereignty and Serbia's government refuses to accept Kosovo's independence, those talks are deadlocked. Since Russia refuses to support Kosovo's removal from Serbia, there is no chance that the UN Security Council will pass a resolution calling for Kosovar independence.

    The push for Kosovar independence was begun by the Clinton administration. It was the natural consequence of the NATO bombing of Serbia in 1999. Yet the basic assumptions of that bombing campaign have been turned on their head in recent years. In 1999, Serbia was run by a murderous dictator Slobodan Milosovic. He stood accused of ethnically cleansing Kosovo of its Muslim population which was perceived as innocent. Today, led by Prime Minister Vojislav Kostunica, Serbia is taking bold steps towards becoming a liberal democracy which abjures ethnic cleansing and political violence. On the other hand, the Saudi-financed Kosovo Muslims have destroyed more than 150 churches over the past several years, and have terrorized Kosovar Christians and so led to their mass exodus from the province.

    As Julia Gorin documented in a recent article in Jewish World Review, Kosovo's connections with Albanian criminal syndicates and global jihadists are legion. Moreover, Kosovar independence would likely spur irredentist movements among the Muslim minorities in all Balkan states. In Macedonia for instance, a quarter of the population is Muslim. These irredentist movements in turn would increase Muslim irredentism throughout Europe just as Palestinian statehood will foment an intensification of the Islamization of Israel's Arab minority.

    The Kosovo government announced last month that given the diplomatic impasse, it plans to declare its independence next month. Currently, the Bush administration is signaling its willingness to recognize an independent Kosovo even though doing so will threaten US-Russian relations.

    In a bid both to prevent the Bush administration from turning on Israel in the aftermath of the failure of the Annapolis conference and to make clear Israel's own rejection of the notion that a "solution" to the Palestinian conflict with Israel can be imposed by foreign powers, the Olmert government should immediately and loudly restate its opposition to the imposition of Kosovar independence on Serbia.

    In the interest of defending the nation-state system, on which American sovereignty and foreign policy is based, the US should reassess the logic of its support for the establishment of Muslim-only states. It should similarly revisit its refusal to openly support the right of non-Islamic states like Israel, Serbia and even France, to assert their rights to defend their sovereignty, national security and national character from outside-sponsored domestic Islamic subversion.

    I am using the free version of SPAMfighter for private users.
    It has removed 46 spam emails to date.
    Paying users do not have this message in their emails.
    Try SPAMfighter for free now!

    Kapal Taiwan Tertangkap di Demta
    *Nahkoda dan 3 ABK-nya Diduga Tewas di Laut Lepas

    JAYAPURA-Sebuah kapal penangkap ikan asal Taiwan, ditangkap oleh kapal patroli KRI Taliwangsa milik Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut X, Jayapura. Kapal bernama FV.Sheng En No 168 itu, ditangkap Ahad (11/11) sekitar pukul 08.30 WIT saat berada di perairan Indonesia, tepatnya di posisi sekitar 40 mil utara Demta (Kabupaten Jayapura) atau sekitar 80 mil dari arah pantai Kota Jayapura.

    Setelah diperiksa, di atas kapal itu tidak ada Nahkoda maupun ABK yang berasal dari Taiwan. Sementara yang ada hanya para karyawan sebanyak 8 orang yang kesemuanya merupakan warga Indonesia.

    Dari informasi yang berkembang, Nahkoda kapal itu dibuang ke laut setelah terbunuh dalam perkelahian dengan beberapa karyawan yang merupakan warga Indonesia itu. Sedangkan tiga ABK yang juga merupakan warga Taiwan, dikabarkan terjun ke laut lepas dan belum diketahui nasibnya. Empat warga Taiwan yang diduga telah tewas itu antara lain: Hsu Pi Chang, Jou Hwang Jerlin, Sheu Ching Wen, dan Jou Hwang Kee Mong.

    Sedangkan 8 warga Indonesia yang berada di atas kapal tersebut, yaitu: Khumedi (19) Tegal, Girin (36) Purwokerto, Supendi (33) Tegal, Nasori (22) Suradadi, Budiyono (25) Pekalongan, Jeremi (31) Cirebon, Slamet (31) Tegal dan Siamtoko (19) Batang.
    Kedelapan orang ini sementara sedang menjalani pemeriksaan untuk penyelidikan kasus ini di Satuan Keamanan Laut Lantamal X, Jayapura, termasuk kapal asal Taiwan itu juga telah diamankan di Dermaga Porasko Lantaman X, Jayapura.

    Kepala Satuan Keamanan Laut Lantamal X, Jayapura, Mayor Laut (P) Joko Triwanto saat ditanya wartawan di atas kapal Fv. Sheng En No 168, Senin siang (12/11) kemarin mengatakan, setelah mendapat informasi ada kapal asing yang masuk wilayah Indonesia, maka pihaknya kemudian melakukan patroli dengan KRI Taliwangsa untuk mengejar dan menangkap kapal tersebut.

    "Setelah melakukan pengejaran, kapal itu berhasil kita tangkap pada Minggu (11/11) sekitar pukul 08.30 WIT di perairan Indonesia, tepatnya sekitar 40 mil utara Demta. Setelah diperiksa, kapal yang saat ditangkap tidak berbendera itu ternyata merupakan kapal asal Taiwan," terangnya.
    Dikatakan, di dalam kapal penangkap ikan itu ada hasil tangkapan ikan campuran sekitar 1 ton dan ikan tuna sebanyak 27 ekor. Selain itu, ditemukan pula ada 8 ABK yang kesemuanya merupakan warga Indonesia.

    Saat ditanya soal adanya indikasi pembunuhan yang dilakukan oleh 8 ABK warga Indonesia terhadap Nahkoda dan 3 Nahkoda warga Taiwan, Joko menyatakan bahwa pihaknya sedang melakukan pendalaman penyelidikan atas kasus ini.

    Dari pemeriksaan awal, pihaknya juga mendapati bahwa dokumen yang ada di kapal itu semuanya merupakan dokumen asing, dan tidak ditemukan satu dokumenpun yang merupakan dokumen Indonesia, padahal kapal itu telah masuk wilayah perairan Indonesia.
    Sementara itu, salah seorang juru masak di Kapal Fv. Sheng En No 168, Girin (36) yang merupakan warga Purwokerto Jawa Tengah saat ditanya wartawan mengatakan, kapal ini berlayar sejak sekitar bulan Juli lalu untuk melakukan penangkapan ikan di laut lepas.

    Kemudian pada Kamis (8/11) lalu, sekitar jam 4 atau jam 5 sore, terjadi perkelahian antara ABK warga Indonesia dengan Nahkoda Kapal. "Saat itu kita sedang dalam kondisi capai dan ABK I suruh tarik ikan. Selanjutnya, kapten kapal (Nahkoda) marah-marah dan pukul salah seorang ABK, sehingga ada yang melawan dan kemudian terjadilah perkelahian. Ketika berantem itu, Nahkoda kalah, sehingga loncat ke laut. Sedangkan 3 ABK lainnya yang juga warga Taiwan juga lompat ke laut, karena mereka ketakutan," papar Girin.

    Saat ditanya soal kondisi keempat warga Taiwan itu, Girin maupun teman-temannya mengaku tidak tahu tentang kondisi warga Taiwan tersebut. Saat ditanya, lokasi perkelahian itu di wilayah mana, Girin pun mengaku tidak tahu, sebab dirinya hanya bertugas sebagai juru masak di kapal tersebut. (fud)

    Para ABK Kapal Fv. Sheng En No 168 saat menunjukkan ikan hasil tangkapan mereka kepada para petugas Lantamal X di Dermaga Porasko Jayapura, Senin (12/11).

    Komisi I DPR Ratifikasi Kerjasama Keamanan RI-Australia

    Jakarta (ANTARA News) - Sembilan dari 10 fraksi di Komisi I DPR RI akhirnya meratifikasi dan menandatangani RUU tentang Kerja sama Keamanan RI-Australia atau populer dengan "Lombok Treaty".

    "Ini merupakan tonggak sejarah baru dalam membangun kerangka hubungan lebih kokoh antarkedua negara bertetangga, " kata Menteri Luar Negeri (Menlu) Nur Hassan Wirajuda dalam sambutannya pada acara penandatanganan RUU tersbut.

    Penandatanganan itu berlangsung sekitar pukul 22.30 WIB setelah melalui pembahasan yang sangat intens sejak pukul 14.00 WIB dengan satu kali jeda.

    Ketua Komisi I DPR RI Theo L Sambuaga yang memimpin rapat kerja itu menjamin RUU yang telah diratifikasi itu akan segera dikirim ke paripurna untuk disahkan sebagai undang-undang.

    Kepada ANTARA, Theo L Sambuaga mengatakan sedikitnya ada lima butir strategis dalam kerangka kerja sama keamanan ini yakni pencegahan dan pemberantasan terorisme maupun kejahatan internasional, pemeliharaan keamanan maritim bersama, proliferasi senjata pemusnah, dan tidak membenarkan wilayah masing-masing menjadi arena tumbuhnya separatisme.

    "Dengan perjanjian ini terbuka peluang luas bagi kedua negara membangun kerja sama di berbagai bidang lainnya dengan prinsip saling menguntungkan, saling menghormati, dan tidak saling intervensi," tegasnya.

    Satu-satunya fraksi yang telah menyatakan setuju tapi berhalangan hadir pada proses ratifikasi itu adalah Fraksi Partai Amanat Nasional.(*)

    Artikel...bagus...baca ya...

    Berapa umur kita saat ini?
    25 tahun, 35 tahun, 45 tahun atau bahkan 60 tahun...
    Berapa lama kita telah melalui kehidupan kita?
    Berapa lama lagi sisa waktu kita untuk menjalani
    kehidupan?
    Tidak ada seorang pun yang tahu kapan kita mengakhiri
    hidup ini.

    Matahari terbit dan kokok ayam menandakan pagi telah
    tiba. Waktu untuk kita bersiap melakukan aktivitas,
    sebagai karyawan, sebagai pelajar, sebagai seorang
    profesional, dll.

    Kita memulai hari yang baru. Macetnya jalan membuat
    kita semakin tegang menjalani hidup. Terlambat sampai
    di kantor, itu hal biasa. Pekerjaan menumpuk, tugas
    dari boss yang membuat kepala pusing, sikap anak buah
    yang tidak memuaskan, dan banyak problematika
    pekerjaan harus kita hadapi di kantor.

    Tak terasa, siang menjemput... "Waktunya
    istirahat..makan- makan.." Perut lapar, membuat
    manusia sulit berpikir. Otak serasa buntu. Pekerjaan
    menjadi semakin berat untuk diselesaikan. Matahari
    sudah berada tepat di atas kepala. Panas betul hari
    ini...

    Akhirnya jam istirahat selesai, waktunya kembali
    bekerja...Perut kenyang, bisa jadi kita bukannya
    semangat bekerja malah ngantuk. Aduh tapi pekerjaan
    kok masih banyak yang belum selesai. Mulai lagi kita
    kerja, kerja dan terus bekerja sampai akhirnya
    terlihat di sebelah barat...

    Matahari telah tersenyum seraya mengucapkan selamat
    berpisah. Gelap mulai menjemput. Lelah sekali hari
    ini. Sekarang jalanan macet. Kapan saya sampai di
    rumah. Badan pegal sekali, dan badan rasanya lengket.
    Nikmat nya air hangat saat mandi nanti. Segar segar...

    Ada yang memacu kendaraan dengan cepat supaya sampai
    di rumah segera, dan ada yang berlarian mengejar bis
    kota bergegas ingin sampai di rumah. Dinamis sekali
    kehidupan ini.

    Waktunya makan malam tiba. Ibu kita telah menyiapkan
    makanan kesukaan kita. "Ohh..ada sop ayam" . "Wah soto
    daging buatan ibu memang enak sekali". anak memuji
    masakan Ibunya. Itu juga kan yang sering kita lakukan.

    ..Selesai makan, bersantai sambil nonton TV. Tak
    terasa heningnya malam telah tiba. Lelah menjalankan
    aktivitas hari ini, membuat kita tidur dengan lelap.
    Terlelap sampai akhirnya pagi kembali menjemput dan
    mulailah hari yang baru lagi.

    Kehidupan..ya seperti itu lah kehidupan di mata
    sebagian besar orang. Bangun, mandi, bekerja, makan,
    dan tidur adalah kehidupan.

    Jika pandangan kita tentang arti kehidupan sebatas
    itu, mungkin kita tidak ada bedanya dengan hewan yang
    puas dengan bisa bernapas, makan, minum, melakukan
    kegiatan rutin, tidur. Siang atau malam adalah sama.
    Hanya rutinitas... sampai akhirnya maut menjemput.
    Memang itu adalah kehidupan tetapi bukan kehidupan
    dalam arti yang luas.

    Sebagai manusia jelas kita memiliki perbedaan dalam
    menjalankan kehidupan. Kehidupan bukanlah sekedar
    rutinitas.

    Kehidupan adalah kesempatan untuk kita mencurahkan
    potensi diri kita untuk orang lain.
    Kehidupan adalah kesempatan untuk kita berbagi suka
    dan duka dengan orang
    yang kita sayangi.
    Kehidupan adalah kesempatan untuk kita bisa mengenal
    orang lain.
    Kehidupan adalah kesempatan untuk kita melayani setiap
    umat manusia.
    Kehidupan adalah kesempatan untuk kita mencintai
    pasangan kita, orang tua
    kita, saudara, serta mengasihi sesama kita.
    Kehidupan adalah kesempatan untuk kita belajar dan
    terus belajar tentang
    arti kehidupan.
    Kehidupan adalah kesempatan untuk kita selalu mengucap
    syukur kepada Yang
    Maha Kuasa .. Kehidupan adalah ... dll.

    Begitu banyak Kehidupan yang bisa kita jalani.
    Berapa tahun kita telah melalui kehidupan kita ?
    Berapa tahun kita telah menjalani kehidupan rutinitas
    kita ?
    Akankah sisa waktu kita sebelum ajal menjemput hanya
    kita korbankan untuk
    sebuah rutinitas belaka ?

    Kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput, mungkin 5
    tahun lagi, mungkin 1 tahun lagi, mungkin sebulan
    lagi, mungkin besok, atau mungkin 1 menit lagi.

    Hanya Tuhanlah yang tahu...

    Pandanglah di sekeliling kita...ada segelintir orang
    yang membutuhkan kita. Mereka menanti kehadiran kita.
    Mereka menanti dukungan kita. Orang tua, saudara,
    pasangan, anak, sahabat dan sesama......
    Serta Tuhan yang setia menanti ucapan syukur dari
    bibir kita.

    Bersyukurlah padaNYA setiap saat bahwa kita masih
    dipercayakan untuk menjalani kehidupan ini. Buatlah
    hidup ini menjadi suatu ibadah.

    Selamat menjalani hidup yang lebih berkualitas.

Footer:

The content of this website belongs to a private person, blog.co.uk is not responsible for the content of this website.