Search blog.co.uk

Posts archive for: 6 November, 2007
  • Jumlah output film indonesia 2007 (53 film)

    Bagaimana pendapat anda ttg jumlah output film indonesia 2007 (53 film)
    To: dunia-film@yahoogro ups.com

    Dear All,

    Setelah diupdate lagi, sepertinya film Indonesia akan mencapai angka hampir
    60 judul di tahun 2007.
    Untuk judul "Opera Jawa" dimasukkan ke dalam tahun 2006.

    Untuk film yang akan di-koleksi dan di-tonton, sepertinya penonton akan
    semakin selektif.
    Jadi tantangan di tahun 2008 untuk membuat genre film yang lebih beragam.
    Mengingat seluruh jenis hantu lokal sudah dibuatkan filmnya,
    jadi peluang selanjutnya adalah kreatifitas penulis menawarkan cerita baru,
    dan keberanian produser memproduksinya.
    Eksekusi dari sutradara Indonesia rasanya tak perlu dipertanyakan lagi.
    Jaminan mutu!

    Penonton Indonesia masih menunggu kolaborasi terbaik dari 3 unsur utama ini
    (Produser, Sutradara dan Penulis) di tahun 2008. Sukses terus Film
    Indonesia.

    FFI di Riau nanti, apa kabar ya...

    MHF
    Moderator of Talenta Indonesia

    2007 No Title Rilis Genre
    1 Roh: the Evil Spirit 1-Jan-07 Horor
    2 Long Road to Heaven 25-Jan Drama
    3 D'Bijis 1-Feb-07 Komedi
    4 Badai Pasti Berlalu 14-Feb-07 Drama
    5 Terowongan Casablanca 22-Feb-07 Horor
    6 Leak Maret'07 Horor
    7 Lewat Tengah Malam Maret'07 Horor
    8 Jakarta Undercover 22-Mar-07 Drama
    9 Nagabonar Jadi 2 26-Mar-07 Komedi
    10 Kala April'07 Drama
    11 Angker Batu 26-Apr-07 Horor
    12 Suster Ngesot May'07 Horor
    13 Malam Jumat Kliwon 13-May-07 Horor
    14Love is Cinta 16-May-07 Drama
    15Mengejar Mas-Mas May'07 Komedi
    163 Hari Untuk Selamanya 5-Jun-07 Drama
    17Lantai 13 7-Jun-07 Horor
    18Maaf, Saya Menghamili Istri Anda 21-Jul-07 Komedi
    19 Diva Jun'07 Drama
    20 Photograph Juli'07 Drama
    21Anak-Anak Borobudur Juli'07 Anak
    22 Coklat Stroberi Juli'07 Drama
    23Kamulah Satu-Satunya Juli'07 Komedi
    24 Selamanya 19-Jul-07 Drama
    25Bukan Bintang Biasa 26-Jul Remaja
    26 Genderuwo August'07 Horor
    27 Kangen August'07 Drama
    28 CinTapuccino August'07 Drama
    29 Lawang Sewu August'07 Horor
    30 Hantu August'07 Horor
    31 Lari dari Blora August'07 Drama
    32 Sang Dewi August'07 Drama
    33Merah itu Cinta 16-Aug Drama
    34 The Wall Sep Horor
    35 Suster N Oct'07 Horor
    36 Jelangkung 3 Oct'07 Horor
    37 Kuntilanak 2 Oct'07 Horor
    38 Pulau Hantu Oct'07 Horor
    39 Pocong 3 11-Oct Horor
    40 Get Married 11-Oct Komedi
    41Legenda Sundel Bolong 18-Oct Horor
    42 Film Horor 29-Nov Komedi
    43 Quickie Express Nove Komedi
    44 Enam Nove Horor
    45 Tentang Cinta 8-Nov Drama
    46 Medley Nove Drama
    47 Butterfly 6-Dec Drama
    48 Foto, Kotak, dan Jendela released

    49 The Jak released

    50 Sundelbolong

    51 Cintaku Forever

    52 Susahnya Jadi Perawan

    53 Shaman

    54 Ayat-Ayat Cinta

    55 Miracle

    56 Beranak dalam Kubur

    57 Mereka Bilang, Saya Monyet

  • Claudine Salmon Menguak Sejarah Indonesia-Tionghoa

    Oleh Maria Hartiningsih & Ninuk M Pambudy
    http://www.kompas. com/kompas- cetak/0711/ 04/persona/ 3971408.htm
    ============ ========= =

    Baca dan pahami sejarah. Itu pesan Claudine Salmon (69), peneliti
    terkemuka kajian kesusastraan Melayu-Tionghoa. Melalui karya-karyanya,
    ia menolak warisan kolonial yang secara sepihak mendefinisikan "orang
    asing" dan "orang pribumi" menempelkan stigma terhadap orang Tionghoa
    dan melanggengkan diskriminasi.

    Kalau dilihat dari luar, yang disebut sebagai orang Tionghoa di sini
    artinya orang Indonesia-Tionghoa, sebab mereka adalah warga negara
    Indonesia," ujar Claudine. "Orang Tiongkok tidak menganggap orang
    Tionghoa-Indonesia bagian dari mereka."

    Di Indonesia, lanjut Claudine, kalau ada istilah suku-suku, orang
    Tionghoa dianggap sebagai suku asing. Tetapi, siapa yang "asing",
    siapa yang "pribumi", sebenarnya tidak terpisah seperti minyak dengan
    air….

    Claudine Salmon adalah peneliti asal Perancis yang mendedikasikan
    hampir seluruh kariernya untuk meneliti kebudayaan Tionghoa dan juga
    kebudayaan Tionghoa di Indonesia. Ia berbahasa Indonesia dengan baik
    dan sampai saat ini masih terus melakukan perjalanan keliling Indonesia.

    Sembilan tahun terakhir perjalanan itu ia lakukan sendiri, setelah
    suaminya, Denys Lombard, peneliti penting sejarah kebudayaan
    Indonesia, berpulang tahun 1998. Duo peneliti itu menghasilkan beragam
    karya ilmiah bersama yang sangat bernilai, misalnya tentang
    klenteng-klenteng di Jakarta, sastra Melayu-Tionghoa, maupun hubungan
    Islam-Tionghoa yang banyak diwarnai kontroversi.

    Claudine Salmon dengan sabar, tekun, dan berani menunjukkan
    bukti-bukti otentik yang memperlihatkan keikutsertaan aktif dan
    integrasi orang Tionghoa ke dalam masyarakat Indonesia.

    Sumbangsih terbesar Claudine Salmon pada nation-building Indonesia
    adalah dalam bidang sastra dan bahasa Melayu-Tionghoa. Ia mampu
    membuktikan secara ilmiah melalui 300-an karyanya bahwa kesusastraan
    "Melayu-Cina" sebenarnya merupakan bagian tak terpisahkan dari
    kesusastraan Indonesia.

    Dalam bukunya, Literature in Malay by the Chinese of Indonesia, a
    Provisional Annotated Bibliography (1981), ia berhasil mengumpulkan
    806 penulis dengan 3.005 karya. Karya-karya itulah yang menghidupkan
    kesadaran bahwa golongan Tionghoa bukan sekadar economic animal
    seperti yang dicitrakan selama ini dengan membatasi gerak orang
    Tionghoa di bidang-bidang di luar ekonomi.

    Itulah antara lain pertimbangan lima dewan juri yang dipimpin Dr
    Syafi'i Maarif untuk memberikan Nabil Award I kepada Claudine Salmon.
    Penghargaan Nabil diberikan kepada mereka yang dinilai berjasa dalam
    proses nation-building Indonesia.

    "Sebenarnya sejumlah besar orang lain juga harus diberi penghargaan
    karena tanpa mereka saya tak bisa menulis semua itu," begitu komentar
    Claudine.

    Claudine ditemui suatu siang, Senin 22 Oktober, tiga hari sebelum
    acara resmi penerimaan penghargaan itu.

    Menepiskan prasangka

    Ketika tiba di Indonesia bulan Desember 1966, situasi di Indonesia
    masih sangat panas. Di berbagai daerah masih terjadi berbagai
    peristiwa kekejian pasca-G-30S. Pada masa itu masyarakat
    Tionghoa-Indonesia mengalami berbagai pembatasan.

    Mereka diimbau untuk mengganti nama dan akses pada apa pun yang memuat
    karakter huruf China ditutup. Klenteng-klenteng harus membatasi
    kegiatan mereka dalam halaman gedung. Bersama Denys, Claudine mulai
    mengumpulkan berbagai data mengenai orang Tionghoa di Indonesia.

    "Biasanya pengurus klenteng suka bantu memberi tahu tentang riwayat
    klenteng, juga tentang dirinya," ujar Claudine yang mengatakan tak
    mendapat kesulitan pergi ke klenteng-klenteng di Jakarta saat itu.

    Meski menolak berkomentar ketika pembicaraan memasuki wilayah politik,
    bukan berarti ia tidak tahu apa yang terjadi. Dalam perjalanan ke
    China, ia bertemu warga Tionghoa-Indonesia yang terpaksa kembali ke
    "tempat asal" yang tidak mereka kenal.

    "Beberapa di antara mereka perempuan Jawa yang menikah dengan orang
    keturunan Tionghoa. Mereka tak paham bahasa Tiongkok, hidup di kampung
    dan bicara dengan bahasa Jawa dan Indonesia."

    Mereka ditempatkan di daerah selatan yang dianggap "lebih rendah"
    kelasnya dibandingkan dengan daerah utara dan bekerja di tanah-tanah
    pertanian milik negara, padahal dulunya saudagar di desa kecil.
    "Mereka menjadi miskin tiba-tiba dan melakukan pekerjaan yang belum
    pernah dilakukan," ia melanjutkan.

    Sebagai pakar kebudayaan China, Claudine tahu bahwa kebudayaan mereka
    yang disebut "tionghoa" di Indonesia berbeda jauh dengan kebudayaan
    Tiongkok. "Prasangka muncul karena ketidaktahuan orang terhadap
    sejarah masyarakat Tionghoa di Indonesia yang begitu panjang."

    Dalam berbagai tulisannya, Claudine memperlihatkan, orang Tionghoa
    telah berada di Indonesia sejak zaman Sriwijaya dan memainkan peran
    penting dalam perkembangan ekonomi dan politik.

    Meski menolak bicara soal hubungan Islam dan Tionghoa, dalam
    tulisannya bersama Denys Lombard (1994), dipaparkan berbagai catatan
    sejarah mengenai hubungan harmonis antara Tionghoa-Islam pada masa
    lalu. Beberapa Tionghoa Muslim berhasil melebur dalam dunia
    aristokrasi lokal. Namun, oleh beberapa faktor, termasuk politik
    devide et impera, hubungan itu memburuk.

    "Saya kira sejumlah orang Indonesia yang menganggap diri sebagai orang
    'pribumi' adalah keturunan Tionghoa," kata Claudine, "Saya menganggap
    diri orang Perancis, tetapi nenek moyang saya mungkin datang dari Jerman."

    Karena sejarah panjang orang Tionghoa di Indonesia tak banyak
    diketahui, banyak pula hal yang tidak diketahui. Dalam berbagai
    karyanya ia memperlihatkan, pers Melayu-Tionghoa dan para penulis
    peranakan Tionghoa berperan besar dalam penyebarluasan bahasa Melayu
    sebagai lingua franca di Indonesia sejak tahun 1890-an.

    Ia tidak menyebut secara pasti kapan orang Tionghoa memasuki dunia
    pers. Tetapi, di Makassar, mereka bekerja bersama dengan orang
    Makassar dan Manado menerbitkan surat kabar.

    "Di Surakarta ada surat kabar yang punya dua bagian, satu dalam bahasa
    Jawa dan satu dalam bahasa Melayu. Surat kabar itu diprakarsai seorang
    Tionghoa, lalu diteruskan oleh orang Jawa," ia menambahkan.

    Silang budaya

    Prasangka terhadap mereka yang dianggap "pendatang" sebenarnya terjadi
    di mana-mana, termasuk di Eropa. Perasaan sebagai "pribumi" kerap kali
    dipilin dengan nasionalisme sempit, membuat orang tak mau mengakui
    sumbangan dari berbagai kebudayaan yang membentuk suatu bangsa, bahkan
    Eropa, seperti sekarang.

    "Di Paris baru diresmikan museum bagi orang asing yang datang ke
    Perancis dan menjadi warga negara Perancis," ujar Claudine.

    Museum itu banyak ditentang, baik dari golongan kiri maupun kanan
    karena mempertegas prasangka. "Lebih baik semua dilihat sebagai warga
    negara dengan hak-hak dan kedudukan yang setara. Dari nama pun
    ketahuan, mereka bukan 'pribumi', tetapi sudah berabad-abad ada di
    Perancis."

    "Di sini juga sama. Integrasi terjadi dari abad ke abad," lanjutnya,
    "Orang yang membuat kebijakan asimilasi tak tahu sejarah ini. Hanya
    melihat ini dari sudut politik."

    Ia mengingatkan, orang Tionghoa di Indonesia berasal dari kelompok
    yang beragam. Integrasi terjadi dengan etnis terdekat dalam kehidupan
    sehari-hari, membentuk kebudayaan yang kaya, tetapi berbeda-beda di
    kalangan sesama Tionghoa di Indonesia. Kenyataan yang rumit ini
    semakin memperjelas bahwa identitas yang ditunggalkan sungguh
    mencabik-cabik kemanusiaan manusia.

    "Integrasi adalah satu proses yang alamiah, tak bisa dipaksa dan
    sebenarnya sudah berjalan," tegas Claudine.

    Dalam berbagai tulisannya, Claudine Salmon menunjukkan apa yang
    disebut sebagai Sino-Indonesian cross culture fertilization atau
    Pemupukan Silang Budaya Tionghoa-Indonesia. Konsep ini, seperti
    dipaparkan Didi Kwartanada, Asvi Warman Adam, dan Myra Sidharta,
    berbeda dari istilah akulturasi maupun inkulturasi yang mencerminkan
    hubungan sepihak.

    Cross culture fertilization mengacu pada pertemuan dua budaya yang
    berlainan. Setiap pihak melakukan pemupukan silang budaya ke dalam
    budaya masing-masing dan dengan sadar memperkaya bentuk-bentuk budaya
    yang sudah ada.

    Claudine dan Denys menganut mazhab Annales, yang menolak dominasi
    unsur-unsur politik dan diplomatik dalam ilmu sejarah pada akhir tahun
    1920-an. Penganut Annales tak hanya percaya pada "sejarah
    peristiwa-peristiwa " semata, tetapi juga mendorong munculnya kajian
    holistik atas masa lalu dengan memanfaatkan berbagai disiplin ilmu,
    seperti geografi, lingusitik dan antropologi.

    Mungkin karena itu pula, tak mudah baginya meneliti peran ekonomi
    orang Tionghoa di Indonesia karena sulitnya data mengenai perkembangan
    modal dalam jangka panjang.

    "Setelah kemerdekaan banyak perusahaan dan pemilik ganti nama. Banyak
    keluarga yang dulu agak kaya pergi ke luar negeri," ia menegaskan,
    "Konglomerat sekarang tak ada kaitannya dengan yang dulu."

    Lalu, bagaimana mengatasi prasangka?

    Claudine menegaskan pentingnya pendidikan. "Kalau bicara soal
    Tionghoa, artinya juga harus bicara soal Jawa, Batak, dan berbagai
    suku yang membangun Indonesia. Mereka punya andil membangun yang
    disebut 'kebudayaan Indonesia'."

    Anggur manis Ita Mustafa

    Oleh Susi Ivvaty dan Frans Sartono

    http://www.kompas. com/kompas- cetak/0711/ 04/urban/ 3969587.htm

    "Mari bersulang... !" Seru Ita Mustafa. Dan gelas-gelas anggur pun
    berdentingan. Itulah suasana ketika Ita Mustafa membuka Frezium Wine &
    Dine, tempat makan minum di Cilandak Town Square, Jakarta, Selasa
    (30/10) malam.

    Suasana malam itu penuh anggur dan tawa. Ita (47) yang empunya
    perhelatan tampak cerah, penuh senyum menyambut tetamu. Restonya di
    Cilandak Town Square alias Citos itu sebenarnya sudah dibuka sejak
    tahun 2005 dengan nama Entry.

    "Aku punya Arbor Mist. Ini ringan dan enak. Coba deh nanti," kata Ita,
    menawarkan minuman yang terbuat dari anggur jenis merlot, zinfandel
    atau chardonna yang diberi rasa buah.

    Malam itu juga penuh lagu. Aida Mustafa (56), sang kakak yang populer
    sebagai penyanyi era akhir 1960-an itu, bernyanyi lagu Summertime.
    Adik kakak itu pada masa lalu pernah menghiasi halaman koran dan
    majalah sebagai pemain film dan penyanyi.

    Ita pernah sangat populer di akhir 1970-an dan era 1980-an dengan
    sekitar 20-an film jenis remaja seperti Terminal Cinta, Remaja di
    Lampu Merah, Gadis Kampus, Roman Picisan, Selamat Tinggal Masa Remaja,
    sampai Beningnya Hati Seorang Gadis.

    Di media, ia disorot sebagai bintang film muda, model iklan yang
    cantik dan berhobi bowling sampai ice skating. Hobi yang prestisius
    pada masanya. Disebut-sebut juga ia dekat dengan anak tokoh penting
    negeri ini. Setelah era film, kini Ita mempunyai usaha periklanan dan
    usaha lain.

    Jika ia menerima tawaran bermain film, itu semata-mata untuk mengobati
    rasa kangen. Beberapa waktu lalu, Ita menjadi cameo dalam film
    Selamanya, produksi Multivision Plus Pictures. Ia memerankan ibu yang
    lama tidak bertemu putrinya. Namun, begitu ketemu, e... tidak berapa
    lama tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Duh....

    "Ya... di film aku sudah tua. Sudah tak bisa seperti dulu lagi," kata
    Ita yang mendapat Penghargaan Citra sebagai Pemeran Pembantu Terbaik
    lewat film Gadis Penakluk (1980).

    Masih cantik kok!

    "Ah, saya prbadi tak pernah merasa cantik. Setiap kali ngaca kok
    selalu ada ini dan itu yang kurang," kata perempuan bernama lengkap
    Mesayu Aliza Susanna Puspita itu.

    Apa yang kurang?

    Ita lalu memegang-megang kedua pipinya.

    "Rasanya pingin operasi, di sinilah, di situlah. Pengin
    dikenceng-kencengin aja. Tapi, aku tak punya keberanian he-he...,"
    candanya.

    Ita ingin selalu tampil cantik dan rapi. "Sejak kecil aku tak pernah
    keluar rumah berantakan. Tak pernah tak pakai make-up. Kalau dandan,
    untuk dilihat sendiri juga enak," tutur Ita yang bertinggi 160 cm dan
    berat 47 kilogram itu.

    Anggur dan buntut

    Ita tengah berbicara tentang babak-babak kehidupannya. Setelah era
    bintang 1980-an itu, ia masuk babak sebagai pengusaha.

    "Habis film, usaha advertising, aku menikah lalu hamil. Aku tinggal di
    rumah ngurus anak, jadi ibu rumah tangga," kata Ita yang berdarah
    Cirebon-Palembang itu.

    Ita kini melakoni peran kehidupan sebagai seorang ibu. Menurut Ita ini
    peran yang paling berat. Lebih berat daripada mencari duit, katanya.

    "Untuk urusan pribadi, saya sudah selesai. Saya sudah banyak main
    film, pernah dapat (penghargaan) Citra. Saya pernah pegang duit
    banyak. Sekarang tugas saya adalah mendidik anak," kata Ita, istri
    dari Bambang Nindianto dan ibu dari Garcia Jovani (8) serta Anandito (5).

    Duit banyak itu didapat Ita dari bermain film dan usaha lain. Dari
    tabungan, ia juga bisa membiayai sekolah di Swiss—ia menyebutnya cuma
    ikut beberapa kursus.

    Tugas mendidik anak kini bisa ia lakukan bersama usaha resto. Katanya,
    ia memang tak bisa tinggal diam. Ia lalu memilih bisnis resto yang
    dekat dengan dunianya: makan, nongkrong, dan jalan-jalan. Selain itu,
    suami Ita yang bersapaan Mas Anto itu juga suka berburu makanan enak.
    Ita dan ibunya pernah membuka tempat santap di bilangan Jalan Senopati
    yang menyuguhkan masakan tradisional.

    "Temen-temen punya ide untuk membuka tempat nongkrong- nongkrong. Aku
    lalu berpikir untuk membuka coffee house. Tapi, aku ganti dengan
    konsep wine and dine. Itu karena saya melihat perkembangan tuntutan
    kalangan socialite di Jakarta," kata Ita yang resminya berkedudukan
    sebagai Direktur Frezium Dine & Wine.

    Wine and dine, menikmati anggur dan bersantap itulah konsep tempat
    usaha Ita. Ia cukup jeli mengamati perilaku santap kaum urban yang tak
    pernah melupakan lidah kampung halaman. Jadi meski ada anggur serta
    steak, Ita juga menyodorkan pindang buntut.

    "Pindang buntut (sapi) kami kira tak cocok, ternyata permintaan
    pelanggan tinggi. Rasanya asam-asam pedes. Ini masakan ibu saya," kata
    Ita bangga akan ibunya yang bernama Moertiningroem Mustafa (78), yang
    katanya masih lincah stir mobil sendiri dan tentu saja terampil memasak.

    Ita juga suka masak?

    "Ah, aku bisanya cuma masak air," selorohnya.

  • Belajar Lagi dari Masa Lalu

    Oleh Samuel Mulia
    http://www.kompas. com/kompas- cetak/0711/ 04/urban/ 3962042.htm
    ============ ====

    Coba sediakan waktu untuk melihat album masa kecil Anda atau apa pun
    yang bisa membawa Anda lagi pada masa di mana belum ada busway.

    1. Kalau Anda sekarang ini menjadi pejabat, dan penjahat juga (dan
    yang tahu Anda sendiri), coba melihat lagi album masa lalu Anda,
    apakah menjadi penjabat dan atau penjahat sudah ada di benak Anda
    sejak masa kecil dulu.

    2. Kalau Anda seorang jenderal, mau itu kancil atau tidak, apakah Anda
    berjuang seperti saat Anda masih muda dahulu? Kalau dahulu ada
    penjajah dan Anda berjuang melawan penjajah, apakah foto-foto
    perjuangan Anda sekarang sudah berdebu? Lupakah Anda penjajah sekarang
    bentuknya berbeda, dan apakah perjuangan Anda tak surut bahkan padam
    seperti senter yang habis baterainya melawan penjajah?

    3. Kalau Anda seorang wanita, coba lihat masa muda Anda dahulu, ketika
    rambut Anda masih dikucir dua, ketika ayah Anda menggendong Anda,
    apakah sejak itu Anda sudah punya cita-cita menjadi pengganggu suami
    orang? Apakah peristiwa digendong itu membuat Anda kemudian merasa
    nyaman dan mencari gendongan di tempat yang tidak senonoh sekarang ini?

    4. Kalau Anda seorang pria, coba melihat kembali ke foto-foto lama
    saat Anda bermain sepak bola, atau berfoto bersama saat mendaki
    gunung, apakah masa lalu itu tetap bersama Anda, bersatu kita teguh
    bercerai kita runtuh. Atau sekarang kesetiakawanan itu berubah menjadi
    bersatu kita rugi bercerai semakin untung? Termasuk melihat mengapa
    Anda mampu menyakitkan pasangan Anda dengan menjadi tidak setia dalam
    perkawinan yang Anda sendiri putuskan untuk melakukannya.

    5. Kalau Anda melihat kembali masa lalu melalui album itu dan melihat
    hidup Anda yang sederhana, ayah dan ibu Anda yang bersahaja, dan
    sekarang Anda menjadi kaya raya dan semuanya tak bersahaja, apakah apa
    yang Anda dapatkan sekarang ini merupakan sebuah kompensasi karena
    Anda tak mau bersahaja seperti ayah Anda dahulu? Kalau ya, itu tak
    masalah. Yang masalah adalah bagaimana caranya Anda menjadi kaya raya
    sekarang ini.

    6. Kalau masa lalu Anda tak bahagia, masa kecil Anda penuh luka,
    cobalah menilai apakah gara-gara itu Anda jadi senang membuat dan
    melihat orang terluka dan Anda menjadi manusia yang penuh iri hati dan
    mudah tersinggung?

    7. Kalau sudah selesai melihat album lama, coba Anda evaluasi apakah
    Anda yang dahulu berbeda dengan yang sekarang. Apakah Anda berubah
    atau tak berubah? Kalau berubah, apakah Anda berubah jadi domba, apa
    jadi serigala?

  • Sentimental Journey"

    Oleh Samuel Mulia
    http://www.kompas. com/kompas- cetak/0711/ 04/urban/ 3962042.htm
    ============ ====

    Duduk di bagian belakang di dalam sebuah mobil besar, saya menikmati
    perjalanan ke Bandung. Mobil besar yang panas karena pendingin
    ruangannya bekerja setengah hati, dan guncangan yang tak bedanya
    dengan truk masih membuat saya mampu menggunakan kata menikmati untuk
    melukiskan perjalanan akhir pekan minggu lalu itu.

    Perjalanan yang membutuhkan waktu dua jam setengah itu cukup
    membosankan, apalagi kalau pergi dengan angkutan umum seperti itu, di
    mana manusia di dalamnya tak satu pun saya kenal.

    Setelah beberapa jam perjalanan, saya disuguhi pemandangan sawah nan
    hijau yang sebenarnya sudah beberapa kali saya lihat saat saya
    bepergian ke kota hujan itu. Namun, entah mengapa, hari itu saya
    melihatnya dengan perasaan mendalam dan yang menerbangkan lamunan saya
    ke masa kecil dahulu.

    Pemandangan itu menggambarkan sawah yang sedang menghijau, beberapa
    petani sedang melakukan aktivitas, dan beberapa rumah kecil di tengah
    sawah. Saya teringat akan lukisan yang pernah saya lihat di rumah
    makan padang atau lukisan-lukisan yang dihasilkan dari pelukis tak
    ternama. Suasana pedesaan yang menenangkan batin, yang sederhana, yang
    tak tergesa-gesa. Sebuah suasana yang sekarang jarang bisa saya nikmati.

    "Blast from the past"

    Pemandangan itu juga melambungkan kenangan lama di sekolah dasar dulu
    ketika saat pertama saya mengenal buku belajar membaca dengan tiga
    tokohnya, yaitu Hasan, Tuti, dan Sudin yang sampai hari ini melekat
    erat di kepala saya, seperti juga saya tak pernah lupa saat pertama
    kali keperjakaan saya hilang melayang.

    Buku pelajaran membaca itu juga menyuguhkan sebuah suasana kampung
    yang damai, yang sejahtera, yang tak membersitkan rasa permusuhan. Dan
    saat saya melintasi perjalanan itu perasaan rindu ke masa kecil dahulu
    menyergap begitu saja. Merindukan suasana bermain layangan dengan
    teman sekampung, merindukan berjalan di tengah sawah dengan kaki dan
    tangan bersimbah lumpur.

    Kemudian saya mengingat kembali saat guru melukis saya mengajak saya
    belajar bersama beberapa teman di tengah sawah di belakang rumahnya.
    Duduk di dangau dan mencoba melukiskan alam di kanvas putih,
    bercita-cita mengalahkan Antonio Blanco dan Picasso. Di tempat itulah
    kami merasa gembira. Melukis alam dengan rasa bahagia.

    Di dangau itu juga kami melihat seorang bapak sedang menikmati makan
    siangnya, disapu angin semilir yang hangat. Entah ia kepanasan atau
    tidak, saya tak tahu. Yang jelas ia tak membutuhkan pendingin
    dangaunya itu, seperti saya sangat membutuhkan pendingin di dalam
    mobil yang bergoyang seperti truk itu.

    Suasana persawahan dalam perjalanan ke Kota Bandung itu membuat saya
    bertanya-tanya, sedemikian cepatnyakah masa bahagia itu berlalu?
    Kalaupun seperti kata pepatah "tak ada pesta yang tak akan pernah
    usai", maka saya hanya berangan-angan agar pesta yang satu ini jangan
    usai terlalu dini. Pada kenyataannya pesta itu sudah usai saat saya
    tak pernah lagi punya waktu melihat ke masa penuh sukacita itu.

    Kalau saja saya bisa mengulangnya kembali dan saya akan memilih
    kembali pada suasana sentimental seperti pemandangan yang disuguhkan
    dalam perjalanan itu dan bukan saat saya dipermalukan kepala sekolah
    bahwa saya ini bodoh seperti ayam tak punya otak, maka saya hanya akan
    memilih suasana yang sangat saya rindukan, yang tak menyakitkan hati
    saya, berjalan bersama teman di pematang sawah, mandi di kali di
    belakang rumah yang cukup luas dengan pohon mangganya yang besar, dan
    yang mampu membuat ibu saya menjerit melihat anaknya tiba di rumah
    dalam keadaan basah kuyup.

    Obat mujarab

    Saya merindukan bermain hujan bersama adik saya, tertawa, dan saling
    mendorong menikmati air yang dicurahkan Tuhan setahun sekali itu. Kami
    tak takut petir yang menyambar dan suara geledek yang memekakkan
    telinga. Masa di mana kesusahan hidup tak perlu dipikirkan, masa depan
    pun seperti tak penting rasanya. Masa di mana saya tak pernah berpikir
    saya ini bisa berbeda pendapat dengan adik saya ketika kami mulai
    besar dan memiliki pemikiran di jalan berbeda.

    Suasana yang sederhana itu sungguh nikmat diingat kembali. Saat saya
    menulis parodi ini, beberapa kali saya berhenti. Membiarkan diri saya
    melayang ke masa bahagia itu. Kadang saya tersenyum sendiri dengan
    rasa rindu yang dalam. Setelah lama dan terbiasa dengan hiruk pikuknya
    kota besar, terbiasa dengan berteriak dan tak punya toleransi, maka
    duduk di belakang mobil umum itu sebuah kenikmatan yang tiada tara.

    Lama, lama sekali saya tak pernah punya waktu untuk melihat kembali ke
    masa bahagia itu. Saya berpikir, masa depan yang penting, masa lalu
    sudah tinggal untuk masa lalu, tak berguna untuk dinikmati kembali,
    apalagi kalau masa itu menyakitkan. Inilah pertama kalinya saya bisa
    membebaskan diri selama dua jam perjalanan, menggunakan "mesin waktu"
    ke masa lalu yang membahagiakan itu, yang seperti sebuah obat mujarab
    buat batin saya yang sekarang ini mungkin sudah seperti patchwork,
    carut-marut.

    Masa lalu itu memampukan saya berkaca kembali. Membandingkan keadaan
    saya yang dahulu dan yang sekarang ini. Bukan soal perbedaan tinggi
    dan berat badan, bukan persoalan dahulu tak punya baju dan sepatu
    bermerek, tetapi melihat perbedaan seberapa besar kebahagiaan yang
    dahulu dan sekarang.

    Kebahagiaan macam apa yang saya peroleh dahulu dan sekarang? Apa
    definisi kebahagiaan saya dahulu sudah berubah sekarang ini? Seberapa
    jauh saya sudah berubah, dari manusia yang sederhana menjadi manusia
    yang penuh kepura-puraan dan tipu muslihat. Gambaran masa lalu itu
    seperti sengatan setrum yang membuat saya bisa membandingkan secara
    signifikan, kualitas hidup, dan batin saya. Dahulu dan sekarang ini.

    Saya pikir, saya harus menyediakan waktu sesering mungkin untuk sebuah
    perjalanan sentimental semacam ini. Bukan hanya untuk kerinduan
    semata, tetapi untuk senantiasa mengingatkan diri saya sendiri
    seberapa jauh saya sudah berjalan dan apakah jalan yang saya tempuh
    itu benar adanya. Tentu perjalanan sentimental ini tak perlu berakhir
    dengan senantiasa duduk di belakang angkutan umum, bergoyang seperti
    truk dan kegerahan karena pendingin ruangan yang sakit hati.

    Samuel Mulia Penulis mode dan gaya hidup

  • Anggur Manis Ita Mustafa

    Anggur Manis Ita Mustafa

    Oleh Susi Ivvaty dan Frans Sartono
    http://www.kompas. com/kompas- cetak/0711/ 04/urban/ 3969587.htm
    ============ ========= ===

    "Mari bersulang... !" Seru Ita Mustafa. Dan gelas-gelas anggur pun
    berdentingan. Itulah suasana ketika Ita Mustafa membuka Frezium Wine &
    Dine, tempat makan minum di Cilandak Town Square, Jakarta, Selasa
    (30/10) malam.

    Suasana malam itu penuh anggur dan tawa. Ita (47) yang empunya
    perhelatan tampak cerah, penuh senyum menyambut tetamu. Restonya di
    Cilandak Town Square alias Citos itu sebenarnya sudah dibuka sejak
    tahun 2005 dengan nama Entry.

    "Aku punya Arbor Mist. Ini ringan dan enak. Coba deh nanti," kata Ita,
    menawarkan minuman yang terbuat dari anggur jenis merlot, zinfandel
    atau chardonna yang diberi rasa buah.

    Malam itu juga penuh lagu. Aida Mustafa (56), sang kakak yang populer
    sebagai penyanyi era akhir 1960-an itu, bernyanyi lagu Summertime.
    Adik kakak itu pada masa lalu pernah menghiasi halaman koran dan
    majalah sebagai pemain film dan penyanyi.

    Ita pernah sangat populer di akhir 1970-an dan era 1980-an dengan
    sekitar 20-an film jenis remaja seperti Terminal Cinta, Remaja di
    Lampu Merah, Gadis Kampus, Roman Picisan, Selamat Tinggal Masa Remaja,
    sampai Beningnya Hati Seorang Gadis.

    Di media, ia disorot sebagai bintang film muda, model iklan yang
    cantik dan berhobi bowling sampai ice skating. Hobi yang prestisius
    pada masanya. Disebut-sebut juga ia dekat dengan anak tokoh penting
    negeri ini. Setelah era film, kini Ita mempunyai usaha periklanan dan
    usaha lain.

    Jika ia menerima tawaran bermain film, itu semata-mata untuk mengobati
    rasa kangen. Beberapa waktu lalu, Ita menjadi cameo dalam film
    Selamanya, produksi Multivision Plus Pictures. Ia memerankan ibu yang
    lama tidak bertemu putrinya. Namun, begitu ketemu, e... tidak berapa
    lama tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Duh....

    "Ya... di film aku sudah tua. Sudah tak bisa seperti dulu lagi," kata
    Ita yang mendapat Penghargaan Citra sebagai Pemeran Pembantu Terbaik
    lewat film Gadis Penakluk (1980).

    Masih cantik kok!

    "Ah, saya prbadi tak pernah merasa cantik. Setiap kali ngaca kok
    selalu ada ini dan itu yang kurang," kata perempuan bernama lengkap
    Mesayu Aliza Susanna Puspita itu.

    Apa yang kurang?

    Ita lalu memegang-megang kedua pipinya.

    "Rasanya pingin operasi, di sinilah, di situlah. Pengin
    dikenceng-kencengin aja. Tapi, aku tak punya keberanian he-he...,"
    candanya.

    Ita ingin selalu tampil cantik dan rapi. "Sejak kecil aku tak pernah
    keluar rumah berantakan. Tak pernah tak pakai make-up. Kalau dandan,
    untuk dilihat sendiri juga enak," tutur Ita yang bertinggi 160 cm dan
    berat 47 kilogram itu.

    Anggur dan buntut

    Ita tengah berbicara tentang babak-babak kehidupannya. Setelah era
    bintang 1980-an itu, ia masuk babak sebagai pengusaha.

    "Habis film, usaha advertising, aku menikah lalu hamil. Aku tinggal di
    rumah ngurus anak, jadi ibu rumah tangga," kata Ita yang berdarah
    Cirebon-Palembang itu.

    Ita kini melakoni peran kehidupan sebagai seorang ibu. Menurut Ita ini
    peran yang paling berat. Lebih berat daripada mencari duit, katanya.

    "Untuk urusan pribadi, saya sudah selesai. Saya sudah banyak main
    film, pernah dapat (penghargaan) Citra. Saya pernah pegang duit
    banyak. Sekarang tugas saya adalah mendidik anak," kata Ita, istri
    dari Bambang Nindianto dan ibu dari Garcia Jovani (8) serta Anandito (5).

    Duit banyak itu didapat Ita dari bermain film dan usaha lain. Dari
    tabungan, ia juga bisa membiayai sekolah di Swiss—ia menyebutnya cuma
    ikut beberapa kursus.

    Tugas mendidik anak kini bisa ia lakukan bersama usaha resto. Katanya,
    ia memang tak bisa tinggal diam. Ia lalu memilih bisnis resto yang
    dekat dengan dunianya: makan, nongkrong, dan jalan-jalan. Selain itu,
    suami Ita yang bersapaan Mas Anto itu juga suka berburu makanan enak.
    Ita dan ibunya pernah membuka tempat santap di bilangan Jalan Senopati
    yang menyuguhkan masakan tradisional.

    "Temen-temen punya ide untuk membuka tempat nongkrong- nongkrong. Aku
    lalu berpikir untuk membuka coffee house. Tapi, aku ganti dengan
    konsep wine and dine. Itu karena saya melihat perkembangan tuntutan
    kalangan socialite di Jakarta," kata Ita yang resminya berkedudukan
    sebagai Direktur Frezium Dine & Wine.

    Wine and dine, menikmati anggur dan bersantap itulah konsep tempat
    usaha Ita. Ia cukup jeli mengamati perilaku santap kaum urban yang tak
    pernah melupakan lidah kampung halaman. Jadi meski ada anggur serta
    steak, Ita juga menyodorkan pindang buntut.

    "Pindang buntut (sapi) kami kira tak cocok, ternyata permintaan
    pelanggan tinggi. Rasanya asam-asam pedes. Ini masakan ibu saya," kata
    Ita bangga akan ibunya yang bernama Moertiningroem Mustafa (78), yang
    katanya masih lincah stir mobil sendiri dan tentu saja terampil memasak.

    Ita juga suka masak?

    "Ah, aku bisanya cuma masak air," selorohnya.

    Sipil Akan Dilatih Jadi Kombatan : ngeri ga sih?

    Ada juga sih perasaan ngeri dalam hati saya mendengar gagasan ini. Bagaimana tidak ngeri kalau tanpa adanya program ini saja anak bangsa saling bantai dan saling bunuh.Apalagi kalau mereka diajari bagaimana pegang senjata dan bagaimana tahu strategi / mengatur rencana kombatan, wah......... ... bakalan runyam deh.

    Ini bukan karena anti atau pro dengan gagasan kombatan, tapi melihat realita yanga da saja kan sudah cukup jelas. Belum lagi kalau ternyata diantara para pengikut kursus kombatan ini ternyata bagian dari sekelompok orang yang kebetulan bagian dari satu gerakan yang mengganggu integritas bangsa ini, mereka kan malah merasa senang karena bisa kursus gratis dan ga harus ke negara pencetak terorsime, toch? Artinya negara siap-siap aja dikerjain sama mereka. Jadi, bagi mereka, program ini adalah bukan untuk BELA NEGARA, tapi BUAT HANCURIN NEGARA,

    Lha kalau cuma mau bikin pasukan semacam RELA atau apa pun, ga usah lah ada kombatan. Kalau malaysia sudah bikin eneg kita, tanpa komando pun sebagian warga kita akan sweeping to? Lha ini kan juga bagian dari kesenangan warga Indonesia yang kadang-kadang merasa sok jago......

    Herannya, mikir makan aja masih susah kok malah mikir perang to ya? Emang pemerintah dan DPR sendiri nggak ada kerjaan apa ya kok masih sempat mikir yang nggak-nggak. Apakah emang udah waktunya kita harus kombat-kombatan? Kayak anak kecil aja yaaaaaaa

    Ita Mustafa: Hidup Itu Tak Gampang

    http://www.kompas. com/kompas- cetak/0711/ 04/urban/ 3969685.htm
    ============ ========= =

    Tentang perjalanan hidup yang dilihat orang serba mudah, Ita
    menepisnya. Apa yang dialaminya tak semulus yang dibayangkan orang.
    Ayahnya, Masagus Mustafa, yang berdinas di militer, meninggal ketika
    Ita berumur delapan tahun. Ita lalu ikut sang kakak, Aida Mustafa,
    yang tinggal di Singapura sebagai penyanyi di Cockpit Hotel. Selama
    empat tahun ia tinggal di Lloyd Roads.

    "Hidup itu tak gampang," kata Ita menyimpulkan pengalaman hidupnya.

    "Kalau dilihat dari luar, hidup kami memang kelihatan enak. Tapi, ada
    enggak enaknya juga," katanya.

    "Aku bekerja sejak remaja. Aku tak sempat main seperti anak lain
    karena harus shooting film atau iklan. Hasilnya aku tabung untuk biaya
    sekolah," kata Ita yang sempat kuliah di ASMI dan kemudian ke Jenewa,
    Swiss—ngakunya untuk kursus-kursus.

    Ita mengakui terlambat menikah. "Itu karena aku merasa tak perlu
    apa-apa dari lelaki. Waktu itu aku banyak duit, populer. Sepertinya
    aku enggak butuh laki-laki," tukasnya.

    Namun, Ita tidak mau menyia-nyiakan hidup dengan terus bersikap egois.
    Terlebih lagi ia ingin mempunyai keturunan. Sejak ada Garcia dan
    Anandito, ia disibukkan oleh berbagai kegiatan domestik. Hingga kini,
    pekerjaan itu masih dilakukannya, seperti memandikan anak yang kecil
    dan mengantarnya ke sekolah.

    Ada yang masih ingin dilakukan?

    "Sederhana saja. Aku ingin hidup membangun keluarga yang baik bersama
    suami dan anak- anakku. Aku bekerja keras agar bisa memberi kehidupan
    lebih baik buat dua anakku. Ini pe-er, pekerjaan rumahku." (XAR/IVV)

    Daniel Cousin
    Elang Terbang Tinggi

    Dibandingkan dengan para striker top Prancis seperti Thierry Henry, Nicolas Anelka, atau David Trazeguet, Daniel Cousin memang kalah populer. Namun, Glasgow Rangers membuktikan bahwa mereka tak keliru menarik pemain kelahiran Gabon tersebut.

    Daniel Cousin, membayar kepercayaan Rangers.

    Cousin bukan hanya tajam di depan, tapi juga lincah dan pandai berkelit, bahkan di ruang yang sempit sekalipun. Karena itulah ia dijuluki Le Faucon atau Si Elang. Dengan berbagai kelebihan tersebut, Rangers yakin penyerang berusia 30 tahun dengan tubuh jangkung itu (186 cm) punya potensi untuk mempertajam barisan depan.

    Karena itu pula, Rangers rela mengeluarkan 1,1 juta pound atau hampir 20 miliar rupiah untuk menarik Cousin dari klub Prancis, Lens. Ia dikontrak untuk jangka tiga tahun.

    "Kami membutuhkan Daniel. Dia punya kekuatan, kecepatan, dan bisa berinteraksi dengan baik," komentar pelatih Rangers, Walter Smith, seperti dilansir The Telegraph.

    Cousin pun mampu membayar kepercayaan sang pelatih. Sang Elang langsung terbang tinggi sejak melakukan debut bersama Rangers saat menghadapi St. Mirren. Kala itu ia mencetak gol sekaligus membawa Rangers menang 2-0 di Ibrox pada 11 Agustus 2007.

    Seminggu kemudian, ia mencetak dua gol saat klubnya menghadapi Falkirk. Bahkan debutnya bersama Rangers di kancah Liga Champion pun disertai gol, saat klub Skotlandia itu menundukkan wakil Prancis, Lyon, 3-0, 2 Oktober.

    Maju Tak Gentar

    Sejauh ini hasil yang telah dibuat Rangers di Liga Champion 2007/08 cukup menggembirakan. Mereka memiliki poin yang sama dengan raksasa Spanyol, Barcelona, yakni tujuh.

    Pada pertemuan di Ibrox, 26 Oktober, kedua tim bermain imbang 0-0. Keduanya akan bertemu lagi di Camp Nou, Rabu (7/11). Laga itu sudah pasti lebih berat buat Rangers. Tapi, itu tak membuat Cousin gentar. Modal mengalahkan Lyon dan Stuttgart di partai sebelumnya memberi suntikan moril tersendiri.

    "Kami telah mengalahkan juara Jerman dan Prancis. Itu memompa semangat dan menumbuhkan keyakinan bahwa kami mampu menghadapi tim mana pun," ujar Cousin.

    Ia bahkan percaya tak ada tim yang bakal mudah mengalahkan pasukan Smith, yang diibaratkannya "terbuat dari balok-balok kayu".

    "Tak perlu ada yang ditakuti saat melawan Barca. Percayalah segalanya mungkin, bahkan saat melawan wakil-wakil Spanyol sekalipun," tegasnya. (Rahayu Widiyarti)

    DANIEL COUSIN
    ---------------------------------------
    Julukan: Le Faucon atau Si Elang
    Tempat Lahir: Liberville, Gabon
    Tanggal Lahir: 2 Februari 1977
    Postur: 186 cm/80 kg
    Posisi: Striker
    Debut di Rangers: 11 Agustus 2007, vs St. Mirren
    Klub:
    2007- Glasgow Rangers
    2004-2007 Lens
    2000-2004 Le Mans
    1998-2000 Niort
    1997-1998 Martigues

    Berang ke Pendukung Lens!

    Prestasi pribadi yang ditorehkan Daniel Cousin di Lens, sebelum bergabung dengan Glasgow Rangers, sebetulnya tidak terlalu buruk. Tapi, sikap tidak menyenangkan pendukung Lens membuatnya tidak mau lagi membela Lens. Dari 101 penampilan bersama Lens selama tiga musim, Cousin mencetak 26 gol.

    Cousin merasa tidak betah di Lens terutama jika tampil di kandang, Stadion Felix Bollaert. Bahkan ia kerap menolak jika harus bermain di kandang. Penampilan kurang menggigit di musim lalu--hanya mencetak empat gol dari 30 pertandingan--membuat para pendukung Lens geram kepadanya. Akibatnya ia selalu disoraki saat bermain di Bollaert, bahkan para penonton menunjukkan isyarat tubuh yang tidak sopan. Bukan hanya itu, para pendukung Lens pun sudah menunjukkan sikap yang anarkistis terhadapnya.

    Semua itu membuat Cousin berang. Ia pun memilih cabut dari Lens. Apalagi saat itu sudah ada pendekatan dari Rangers, sehingga ia tak perlu pusing mencari tempat berlabuh.

    "Banyak yang datang ke rumah saya sampai beberapa kali dan menyerang saya di hadapan keluarga. Ada yang merusak mobil, ada pula yang melempari jendela rumah dengan batu. Saya tak mau lagi main di Lens," ujarnya geram. (yuk)

    Wujudkan Impian Lama

    Ketika masih di Liga Prancis, Cousin mengaku tak pernah tampil mengesankan bila bermain di kandang Lyon, Stade Gerland. Namun, setelah keluar dari negeri mode itu, ia justru bisa tampil oke di tempat yang sama. Buktinya adalah dua gol yang dicetaknya saat Rangers bertandang ke Lyon di Liga Champion dengan hasil kemenangan 3-0.

    "Saya tak pernah sukses kalau main di Stade Gerland. Jadi bisa mencetak gol pertama di Liga Champion dan membawa Rangers menang sungguh berarti buat saya," ucap Cousin.

    Bukan hanya itu, dengan keberhasilan Cousin membuat gol di ajang sepenting Liga Champion, berarti ia telah mewujudkan mimpi lamanya.

    "Setiap anak pasti mengimpikan bisa mencetak gol di arena Liga Champion, begitu juga saya," ungkap pemain berusia 30 tahun itu.

    Cousin pun masih berkeinginan membawa Rangers melangkah lebih jauh. Klub Glasgow itu memang berpeluang besar untuk lolos ke babak 16 besar, walau pada partai berikut harus menghadapi raksasa Spanyol yang juga juara Liga Champion 2006, Barcelona. (yuk)

    WTA Championships
    Henin Lebih Tenang

    Perjuangan sama berat, bahkan mungkin lebih sulit. Tapi, Justine Henin menghadapi kejuaraan tutup tahun WTA Championships kali ini dengan lebih tenang.

    Justine Henin, tertantang untuk juara lagi.

    Wajar jika Henin merasa tenang bertarung pada kejuaraan yang hanya diikuti delapan pemain terbaik dunia yang berlangsung pada 6-11 November itu. Pemain Belgia ini datang ke Madrid, Spanyol, dengan posisi nomor satu dunia di akhir tahun sudah aman di tangan. Semua itu tak lepas dari prestasi spektakuler sepanjang 2007, meraih rekor gelar juara terbanyak dalam kariernya, sembilan buah, dua di antaranya dari arena grand slam, Prancis dan AS Terbuka.

    Bandingkan dengan tahun silam, di mana ia datang dengan persaingan ketat untuk menjadi nomor satu di akhir tahun melawan Maria Sharapova asal Rusia dan Amelie Mauresmo dari Prancis. Posisi nomor satu di penutup musim itu akhirnya jatuh ke tangan Henin setelah ia jadi juara WTA Championships.

    Namun, pemain berusia 25 tahun itu tetap menganggap perjuangan kali ini sama berat. Apalagi ia berada satu grup dengan juara 2001 asal AS, Serena Williams, serta dua debutan, Jelena Jankovic dari Serbia dan Anna Chakvetadze asal Rusia.

    "Saya ingin juga mengumpulkan 10 gelar juara di tahun ini. Tapi, turnamen ini sangat berat karena diikuti delapan pemain terbaik. Saya memang sudah pasti jadi nomor satu, tapi menjuarai turnamen ini sekali lagi adalah tantangan," ujar Henin, yang berada di Grup Kuning, kepada Reuters.

    Merah Juga Seru

    Persaingan tak kalah sengit sebenarnya bisa juga terjadi di Grup Merah, yang diisi empat pemain Eropa Timur. Juara 2004, Maria Sharapova, kondisinya memang tak terlalu baik karena baru bergulat dengan cedera bahu. Tapi, ia tetap bisa menjadi sandungan terbesar bagi wakil Rusia lain, Svetlana Kuznetsova, untuk lolos ke empat besar.

    Pemain lain di grup ini adalah Daniela Hantuchova dari Slovakia, yang sudah lima tahun tak bisa menembus kelompok elite, serta Ana Ivanovic dari Serbia, yang akan menjajal penampilan perdananya di turnamen ini.

    "Sejak awal tahun, target utama saya adalah lolos ke kejuaraan ini. Saya puas bisa mewujudkannya," tutur Ivanovic.

    Kejuaraan ini menggunakan sistem round robin, di mana para pemain di grup yang sama akan saling berhadapan. Dua peringkat teratas di setiap grup akan bertemu di semifinal, Sabtu (3/11). (Rahayu Widiyarti)

    PEMBAGIAN GRUP
    -------------------------------
    Kuning: Justine Henin (Bel), Jelena Jankovic (Srb), Serena Williams (AS), Anna Chakvetadze (Rus)
    Merah: Svetlana Kuznetsova (Rus), Maria Sharapova (Rus), Ana Ivanovic (Srb), Daniela Hantuchova (Svk).

  • "Keharusan Hukum untuk Mati" _MEMANG HARUS!

    Pada dasarnya, dunia ini memerlukan keseimbangan.
    Demokrasi tidak harus apriori, bersikap lunak dan pengecut pada kejatahan.
    Apakah Demokrasi berarti liberalisasi? Apakah Demokrasi sedemikian tinggi penghargaannya pada kriminal bejat yang layak mati atau menghargai hak hidup orang yang tidak pantas mati? Ini yang harus direnungkan!
    Jika Demokrasi memang menghargai HAK HIDUP seseorang, maka tentu harus ada tindakan yang seimbang bagi mereka yang TIDAK menghargai hak hidup dengan membunuh-membantai atau menimbulkan kerusakan massal seperti Narkoba!
    Kenapa pihak yang mengklaim pro-demokrasi selalu ribut dan berkoar lantang tentang hak hidup orang yang layak mati, tapi tidak bersuara keras tentang hak hidup korban dari pelaku yang memang layak dihukum mati??

    Hukuman Mati itulah sebagai media penyeimbang dari sisi kehidupan manusia yang tidak seimbang, dimana ada manusia yang menghargai kehidupan dan ada yang tidak menghargai kehidupan bahkan meracuni dan merusak kehidupan. Hukuman mati melindungi kehidupan ( Hasyim Musyadi- PBNU 2 Oktober 2007), memang jelas dan tepat ungkapan ini. Jika keseimbangan tidak terpelihara dengan membiarkan para perusak kehidupan, maka sama saja kita mendukung racun-racun kehidupan untuk hidup dan merusak kehidupan itu sendiri!

    Hukuman Mati bukan dendam, dendam hanya dilakukan oleh keluarga korban, sedang hukuman mati dilaksanakan setelah melalui proses panjang peradilan.
    Hukuman Mati adala hsalah satu bagian demokrasi, kekuasaan hanya sebagai intrumen demokrasi yang bertindak sebagai pelaksana.

    Demokrasi menunjung keputusan berdasar kepentingan masyarakat banyak, tanyakan pada bangsa ini pada masyarakatnya: Apakah seorang pembunuh sadis, pembunuh berdarah dingin, teroris dan pengedar narkoba layak dihukum mati? Apa jawaban dan keinginan masyarakat: Itulah DEMOKRASI!

    TERUSKAN HUKUMAN MATI!!

    Master Paris
    Nalbandian Lagi

    Bukan main David Nalbandian. Dua turnamen seri Master terakhir selalu dikuasainya dan dengan mengalahkan para termain terbaik pula.

    David Nalbandian, berjaya lagi.

    Dua pekan silam, pemain Argentina ini menjuarai Master Madrid di Spanyol dengan menundukkan pemain terbaik sejagat, Roger Federer, di final, dan pemain nomor dua dunia, Rafael Nadal, di perempatfinal.

    Pekan lalu, Nalbandian kembali tampil gemilang pada Master Paris di Prancis. Lagi-lagi Federer menjadi korban. Kali ini bahkan lebih buruk, di babak ketiga.

    "Federer nomor satu dunia dan saya harus 100 persen siap seperti saat di Madrid," ujar Nalbandian seusai mengalahkan bintang Swiss itu, seperti dilansir AP.

    Puncaknya saat pemain 25 tahun itu kembali menundukkan Nadal pada final Minggu (4/11) dengan skor telak 6-4, 6-0. Padahal sebelumnya, Nadal optimistis bisa berbicara banyak di sini.

    Gagal Lolos

    Sayangnya, meski tampil cemerlang di dua seri Master terakhir, Nalbandian gagal lolos ke ATP Championships di Shanghai, Cina, 12-18 November. Orang terakhir yang memastikan lolos ke turnamen tutup tahun yang hanya diikuti delapan pemain terbaik itu adalah Richard Gasquet dari Prancis, yang dikalahkan Nalbandian di semifinal Paris.

    Para pemain yang lolos adalah mereka yang punya point race tertinggi tahun ini. Berbeda dengan poin peringkat yang menyambung tahun sebelumnya, point race dimulai dari nol pada awal tahun dan penambahannya bergantung pada prestasi selama setahun ini. Gasquet sendiri lolos setelah bersaing sengit dengan Marcos Baghdatis asal Siprus, yang juga tersingkir di semifinal Paris.

    Di Shanghai, kedelapan pemain itu akan dibagi dalam dua grup yang bertanding dengan sistem round robin. (yuk/Foto: AFP)

    Hingis Frustrasi karena Doping

    Kasihan sekali Martina Hingis. Seorang pemain yang begitu dipuja di masa remaja harus mengakhiri karier dengan pukulan besar dan rasa malu. Semua itu tak lepas dari pengakuan pemain Swiss itu bahwa ia telah menggunakan kokain pada Wimbledon lalu.

    Martina Hingis, menutup karier dengan rasa malu.

    Hingis tertangkap doping pada 29 Juni saat dikalahkan Laura Granville dari AS di babak ketiga Wimbledon. Itu turnamen pertama yang diikutinya setelah 1,5 bulan absen akibat cedera pinggul dan punggung.

    Setelah menjalani dua kali tes pada September dan Oktober, Hingis memang terbukti doping. Dengan mata berkaca-kaca, mantan pemain nomor satu dunia itu pun menggelar konferensi pers di Zurich, Swiss, Kamis (1/11), dan menyatakan mundur dari tenis dan yang ini mungkin selamanya. Pasalnya pemain berusia 27 tahun itu juga pernah mundur pada 2002 karena berbagai cedera dan kehilangan motivasi, tapi kembali ke arena pada awal 2006.

    "Saya frustrasi, marah, dan yakin 100 persen tak bersalah. Saya tak pernah menggunakan obat terlarang," jelas The Swiss Miss.

    Akhir Pahit

    Kasus doping sebenarnya bukan hal baru di tenis, tapi jarang terjadi di putri. Mereka yang pernah doping di antaranya tiga pemain Argentina: Mariano Puerta, Guillermo Canas, dan Guillermo Coria. Greg Rusedski asal Inggris juga pernah terjerat doping, begitu juga mantan pemain Rep. Ceska, Petr Korda. Di putri, pemain yang pernah tersangkut doping baru Lourdes Dominguez Lino dari Spanyol pada 2002.

    Kasus doping Hingis tentu saja yang paling menarik dibanding yang lain. Bukan hanya karena ia wanita dan mantan pemain nomor wahid. Orang tentu masih ingat betapa hebatnya ia kala remaja.

    Hingis terjun ke pro pada usia 14 tahun dan sampai sekarang masih tercatat sebagai juara grand slam termuda abad ini, yakni ketika ia berjaya di Australia Terbuka 1997 pada usia 16 tahun. Di tahun itu pula ia merajai tenis putri dengan merebut dua titel grand slam lain dari Wimbledon dan AS Terbuka serta tak tergoyahkan di peringkat teratas dunia.

    Sayang, catatan manis kariernya harus ditutup dengan sebuah tindakan tak sportif yang selalu menjadi cacat di olahraga. (yuk/Foto: AFP)

  • Bersepakbola Menuju Keabadian

    London - Mungkin fanatisme berlebihan, mungkin biar disebut aneh, mungkin pula sebuah terobosan bisnis. Tapi yang jelas klub Hamburg SV membangun satu kuburan untuk para pendukungnya. Tiket musiman menuju keabadian, seloroh para pendukung klub.

    Kuburan itu jaraknya tak lebih dari 45 meter dari stadion mereka, HSH Nordbank Arena. Pintu masuknya serupa gawang, kemudian masuk ke lapangan rumput seperti layaknya lapangan sepakbola, dan di ujung adalah tanah yang meninggi meniru tribun stadion. Di lahan yang mirip tribun stadion itulah kuburan bagi para penggemar Hamburg SV.

    Ide ini muncul setelah pengurus Hamburg banyak mendapat permintaan dari pendukungnya untuk menebarkan abu jasad mereka di lapangan atau ditanam di bawah mistar gawang. Demikian dijelaskan petinggi klub Jerman itu kepada wartawan BBC yang berkunjung ke sana.

    Tidak seperti undang-undang di Inggris yang memperbolehkan hal ini, di Jerman tindakan serupa dilarang. Namun tentu tak ada larangan untuk mendekor nisan sebuah makan dengan gambar atau pahatan klub kesayangan.

    Kuburan Hamburg SV ini akan menyediakan sekitar 300 hingga 500 tempat. Harga untuk pesan tempat konon sama dengan tiket musiman. Dan sejauh ini sudah 15 orang pendukung klub ini yang memesan tempat.

    Banyak orang menganggap langkah ini tak masuk akal dan gila. Tetapi pihak klub berkilah mereka hanya memenuhi permintaan publik. "Ya, ini ide yang aneh dan gila. Tetapi sama aneh dan gilanya bagi mereka untuk menghabiskan uang mereka untuk menonton kami di seluruh penjuru Eropa," kata seorang petinggi klub.

    "Mereka mendukung klub ini sepanjang hidup mereka. Kegiatan hidup mereka berputar sesuai dengan kehidupan klub. Klub ini adalah hidup mereka. Dan mereka ingin membawanya ke kehidupan sesudahnya."

    Sepakbola sebagai agama? Mungkin tak akan lama lagi akan ada upacara pemakaman versi klub sepakbola, seperti layaknya pemakaman kegamaan. Siapa tahu.

  • Three women die together in an accident and go to heaven

    Three women die together in an accident and go to heaven.

    When they get there, St. Peter says, "We only have one rule here in heaven: don't step on the ducks!"

    So they enter heaven, and sure enough, there are ducks all over the place. It is almost impossible not to step on a duck, and although they try their best to avoid them, the first woman accidentally steps on one.

    Along comes St. Peter with the ugliest man she ever saw.

    St. Peter chains them together and says, "Your punishment for stepping on a duck is to spend eternity chained to this ugly man!"

    The next day, the second woman steps accidentally on a duck and along comes St. Peter, who doesn't miss a thing. With him is another extremely ugly man. He chains them together with the same admonishment as for the first woman.

    The third woman has observed all this and, not wanting to be chained for all eternity to an ugly man, is very, VERY careful where she steps.

    She manages to go months without stepping on any ducks, but one day St. Peter comes up to her with the most handsome man she has ever laid eyes on ... very tall, long eyelashes, muscular, and thin.

    St. Peter chains them together without saying a word.

    The happy woman says, "I wonder what I did to deserve being chained to you for all of eternity?"

    The guy says, "I don't know about you, but I stepped on a duck!"

Footer:

The content of this website belongs to a private person, blog.co.uk is not responsible for the content of this website.