Search blog.co.uk

Posts archive for: 8 November, 2007
  • Tukang copet! Awas! hehehe pikirannya cuma curi.

    http://www.antara. co.id/arc/ 2007/11/6/ industri- pertahanan- nasional- harus-berani- curi-teknologi- kata-kasal/

    06/11/07 12:47
    Industri Pertahanan Nasional Harus Berani "Curi" Teknologi, Kata Kasal

    Jakarta (ANTARA News) - Kasal Laksamana TNI Slamet Soebijanto mengemukakan industri pertahanan nasional harus lebih berani `mencuri` atau mengadopsi teknologi pertahanan negara maju, agar mampu menciptakan teknologi pertahanan nasional yang setara dengan negara lain.

    "Teknologi pertahanan yang kita miliki, terutama untuk TNI AL, masih jauh tertinggal dengan negara lain," katanya, seusai memberikan pengarahan kepada seminar Perwira Siswa (Pasis) Pendidikan Reguler (Dikreg) Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal) Angkatan 45 di Jakarta, Selasa.

    Slamet mengatakan negara-negara maju pun seperti Amerika Serikat (AS), Jepang, dan China `kerap` melakukan `pencurian` teknologi untuk mengembangkan industrinya, termasuk dalam pengembangan industri pertahanan.

    Untuk mengembangkan industri pertahanan yang mandiri dan memenuhi standar yang dibutuhkan TNI perlu komitmen dari semua kalangan tidak saja pemerintah juga tetapi juga kalangan industri, ujar Kasal.

    Industri, lanjut Slamet, harus mampu pula mengembangkan teknologi yang dibutuhkan TNI dengan cara meningkatkan riset dan penelitian.

    Akan tetapi, masalahnya adalah riset dan penelitian memakan waktu lama sehingga perlu cara lain yakni `trial and error`.

    "Kalau ambil (teknologi), coba, gagal lagi, coba lagi, gagal lagi. Begitu terus, karena itu termasuk yang dimiliki TNI AL terus berkembang jadi harus kita ikuti dan kembangkan terus. Jadi, industri kita harus berani," tuturnya.

    Selain berani mengadopsi teknologi mancanegara yang lebih maju, kalangan industri pertahanan nasional juga harus mampu memahami potensi ancaman yang dihadapi bangsa dan negara Indonesia.

    "Jadi, apa yang dikembangkan disesuaikan kebutuhan TNI dalam menghadapi potensi ancaman yang tengah berkembang," ujar Kasal menambahkan.

    Kemampuan teknologi industri strategi nasional dalam memenuhi kebutuhan alutsista TNI AL masih terbatas pada rancang bangun kapal-kapal patroli, pesawat udara ringan yang mendapatkan lisensi dari pabrikan luar negeri, seperti helikopter B0-105 dan Cassa NC 212.

    Sedangkan teknologi di bidang pendorongan/ permesinan, navigasi, komunikasi, instrumentasi dan `sewaco` masih tergantung dari produksi luar negeri.

    "Sehingga hal ini dapat menghambat tercapainya kemandirian dalam memenuhi kebutuhan alutsista TNI AL," ujarnya.

    Untuk mengatasi itu, tambah Kasal, pihaknya untuk sementara melakukan "reserve engineering" sejumlah alutsistanya seperti ranjau dan alat sensor.

    "Kita sudah menyusun program dalam kegiatan ini `reserve engineering` , seperti untuk ranjau dan sensor. Ke depan kita mulai dengan peluru kendali," ujar Kasal. (*)

    Selamat Jalan Pemimpin Tua

    M Fadjroel Rachman

    The sunset generation! Mereka adalah generasi pertama kepemimpinan nasional pascareformasi. Hampir 10 tahun terakhir (1998-2007) mereka malang melintang di tingkat nasional, provinsi, kabupaten/kota, serta segala bidang politik dan nonpolitik.

    Di bidang politik nasional dan lokal, kita mengenal Susilo Bambang Yudhoyono (58), Jusuf Kalla (65), BJ Habibie (71), Megawati Soekarnoputri (60), Abdurrahman Wahid (67), Amien Rais (63), Akbar Tandjung (62), Wiranto (60), Sutiyoso (63), Sri Sultan Hamengku Buwono X (61), dan pemimpin segenerasinya.

    Artinya, pada Pemilu 2009 the sunset generation sudah berusia 60 tahun atau lebih, usia sosial dan politik yang pantas untuk mengundurkan diri, seperti Perdana Menteri Inggris Tony Blair, Tony Blair menjabat pada usia 44 tahun (1997) dan mundur pada usia 54 tahun (2007). Presiden AS Bill Clinton menjabat pada usia 47 tahun (1993) dan berakhir pada usia 55 tahun (2001).

    Ironisnya, RI, pada generasi pertama kepemimpinan nasional pascaproklamasi, dipenuhi para pemimpin muda, energik, dan progresif. Sebut Presiden Soekarno (44), Wapres Mohammad Hatta (43), dan 10 perdana menteri, yaitu Sutan Sjahrir (36), Amir Sjarifoeddin (40), Mohammad Hatta (46), Abdul Halim (39), Muhammad Natsir (42), Sukiman Wirjosandjojo (53), Wilopo (44), Ali Sastroamidjojo (50), Burhanuddin Harahap (38), dan Djuanda Kartawidjaja (46). Mereka lebih muda daripada Komite Bangkit Indonesia (KBI) seperti Rizal Ramli (54) dan Taufik Kiemas (65). Jadi KBI tidaklah lain the sunset generation juga.

    Sayang proses regenerasi kepemimpinan nasional itu dirusak rezim Soeharto-Orde Baru. Tiga dekade lebih. Jenderal Besar (Purn) Soeharto merampas hak atas kepemimpinan nasional. Apakah the sunset generation harus mengulangi perampasan hak atas kepemimpinan nasional serupa Soeharto-Orde Baru? Tentu tidak. Apabila mereka negarawan, saatnya bagi Jusuf Kalla yang berambisi untuk mengundurkan diri. Your time is over!

    Krisis 2009, prospek 2014

    The rising generation atau generasi kedua kepemimpinan nasional pascareformasi kini sudah ada pada lapisan kedua di semua bidang dan wilayah Indonesia. Mengapa hanya terjadi kemacetan di wilayah politik, di level kepemimpinan nasional?

    Pertama, Soeharto-Orde Baru merampas dan mematikan hak serta proses regenerasi kepemimpinan nasional;

    Kedua, praktik feodalistis membiak di semua partai politik (parpol);

    Ketiga, psikologisme ketakutan pada pemimpin muda parpol untuk berbeda prinsip dengan pemimpin tua parpol;

    Keempat, sikap "tak tahu diri" para pemimpin tua parpol serta oligarki pemimpin tua parpol, padahal hanya kegagalan yang mereka hasilkan bagi parpol ataupun bagi rakyat.

    Tahun 2009 mendatang adalah tahun amat krusial bagi the rising generation. Mengapa kampanye merebut kepemimpinan nasional dimulai tahun 2007?

    Jawabannya, tidak lain adalah karena, pertama, menegaskan kehadiran generasi kedua kepemimpinan nasional pascareformasi atau the rising generation.

    Kedua, mendorong motivasi baru agar berprestasi lebih baik daripada the sunset generation.

    Ketiga, menyiapkan diri menghadapi friksi keras (perebutan, konflik, negosiasi, dan lainnya) pada tahun 2009 untuk mencapai konsensus win-win solution, cukupkah 85 persen kepemimpinan nasional untuk the rising generation dan 15 persen untuk the sunset generation?

    Keempat, menyiapkan diri untuk mengambil alih 100 persen kepemimpinan nasional pada tahun 2014, di semua level (nasional, provinsi, dan kabupaten/kota) dan di semua bidang, tanpa kecuali.

    Kelima, menyiapkan kerja sama pemimpin muda nonparpol dan parpol untuk amandemen presiden-wakil presiden dan legislatif (DPR/DPD) serta persyaratan mudah pilkada, 1-3 persen tanpa deposit untuk calon perseorangan.

    Pemimpin muda

    Apakah jalan yang akan ditempuh pemimpin muda demokratis dan progresif ini? Jalan Republik! Itulah jalan yang dirintis bapak dan ibu pendiri Republik Indonesia. Terang dan jelas, cita-cita luhur dan misi itu termaktub pada Pembukaan UUD 1945. Jalan Republik berbunyi, "melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial".

    Tugas pemimpin muda sudah di depan mata, cepat atau lambat tak bisa dihindari. Menyelamatkan Indonesia dari penyelewengan cita-citanya sepanjang 10 tahun reformasi oleh pemimpin tua reaksioner, konservatif, dan antidemokrasi. Nasib republik ada di pundak pemimpin muda demokratis-progresi f, dengan kesadaran sepenuh Bung Karno, "Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia."

    Indonesia akan kembali ke Jalan Republik seperti cita-cita kemerdekaan Indonesia di tangan para pemimpin mudanya, dan akan mengguncang dunia!

    M Fadjroel Rachman Ketua Lembaga Pengkajian Demokrasi dan Negara Kesejahteraan (Pedoman Indonesia

  • title-3263054

    CERITA SEORANG MURID

    Saya seorang mantan guru sekolah musik dari Des Moines, Iowa. Saya mendapat nafkah dengan mengajar piano-selama lebih dari 30 tahun. Selama itu, saya menyadari tiap anak punya kemampuan musik yang berbeda. Tapi saya tidak pernah merasa telah menolong walaupun saya telah mengajar beberapa murid berbakat. Walaupun begitu, saya ingin bercerita tentang murid yang "tertantang secara musik". Contohnya adalah Robby.

    Robby berumur 11 tahun, ketika ibunya memasukkan dia dalam les untuk pertama kalinya. Saya lebih senang kalau murid (khususnya laki-laki) mulai belajar ketika lebih muda, saya jelaskan itu pada Robby. Tapi Robby berkata, ibunya selalu ingi n mendengar dia bermain piano. Jadi saya jadikan dia murid.

    Robby memulai les pianonya dan dari awal saya pikir dia tidak ada harapan. Robby mencoba, tapi dia tak mempunyai perasaan nada maupun irama dasar yang perlu dipelajari. Namun dia mempelajari benar-benar tangga nada dan beberapa pelajaran awal yang saya wajibkan untuk dipelajari semua murid.

    Selama beberapa bulan, dia mencoba terus dan saya mendengarnya dengan ngeri dan terus mencoba menyemangatinya. Setiap akhir pelajaran mingguannya, dia berkata, "Ibu saya akan mendengar saya bermain pada suatu hari." Tapi rasanya sia-sia saja. Dia memang tak berkemampuan sejak lahir. Saya hanya mengetahui ibunya dari jauh ketika menurunkan Robby atau menjemput Robby. Dia hanya tersenyum dan melambaikan tangan tapi tidak pernah turun.

    Pada suatu hari, Robby tidak datang lagi ke les kami.

    Saya berpikir untuk menghubunginya, tapi saya berkata dalam hati, karena ketidakmampuannya, mungkin dia mau les yang lain saja. Saya juga senang dia tidak datang lagi. Dia menjadi iklan yang buruk untuk pengajaran saya!

    Beberapa minggu sesudahnya, saya mengirimkan brosur ke tiap murid,mengenai pertunjukan yang akan dilaksanakan. Yang mengagetkan saya, Robby (yang juga menerima brosur) menanyakan kepada saya apakah dia bisa ikut pertunjukan itu. Saya katakan kepadanya, pertunjukan itu untuk murid yang ada sekarang dan karena dia telah keluar, tentu dia tak bisa ikut. Dia katakan bahwa ibunya sakit sehingga tak bisa mengantarnya ke les, tapi dia tetap terus berlatih. "Bu Hondrof... saya mau main!" dia memaksa.

    Saya tidak tahu apa yang membuat saya akhirnya membolehkan dia main di pertunjukan itu. Mungkin karena kegigihannya atau mungkin ada sesuatu yang berkata dalam hati saya bahwa dia akan baik-baik saja.

    Malam pertunjukan datang. Aula itu dipenuhi dengan orang tua, teman, dan relasi. Saya menaruh Robby pada urutan terakhir sebelum saya ke depan untuk berterima kasih dan memainkan bagian terakhir. Saya rasa kesalahan yang dia buat akan terjadi pada akhir acara dan saya bisa menutupinya dengan permainan dari saya.

    Pertunjukan itu berlangsung tanpa masalah. Murid-murid telah berlatih; dan hasilnya bagus. Lalu Robby naik ke panggung. Bajunya kusut dan rambutnya bagaikan baru dikocok. "Kenapa dia tak berpakaian seperti murid lainnya?" pikir saya. "Kenapa ibunya tidak menyisir rambutnya setidaknya untuk malam ini?"

    Robby menarik kursi piano dan mulai. Saya terkejut ketika dia menyatakan bahwa dia telah memilih Mozart's Concerto #21 in C Major. Saya tidak dapat bersiap untuk mendengarnya. Jarinya ringan di tuts nada, bahkan menari dengan gesit. Dia berpindah dari pianossimo ke fortissimo... dari allegro ke virtuoso. Akord tergantungnya yang diinginkan Mozart sangat mengagumkan! Saya tak pernah mendengar lagu Mozart dimainkan orang seumur dia sebagus itu!

    Setelah enam setengah menit, dia mengakhirinya dengan crescendo besar dan semua terpaku disana dengan tepuk tangan yang meriah. Dalam uraian air mata, saya naik ke panggung dan memeluk Robby dengan sukacita. "Saya belum pernah mendengar kau bermain seperti itu, Robby! Bagaimana kau melakukannya?" Melalui pengeras suara Robby menjawab, "Bu Hondorf... ingat saya berkata bahwa ibu saya sakit? Ya, sebenarnya dia sakit kanker dan dia telah berlalu pagi ini. Dan sebenarnya... dia tuli sejak lahir jadi hari inilah dia pertama kali mendengar saya bermain. Saya ingin bermain secara khusus."

    Tidak ada satu pun mata yang kering malam itu. Ketika orang-orang dari layanan sosial membawa Robby dari panggung ke ruang pemeliharaan, saya menyadari meskipun mata mereka merah dan bengkak, betapa hidup saya jauh lebih berarti karena mengambil Robby sebagai murid saya.

    Tidak, saya tidak pernah menjadi penolong, tapi malam itu saya menjadi orang yang ditolong Robby. Dialah gurunya dan sayalah muridnya. Karena dialah yang mengajarkan saya arti ketekunan, kasih, percaya dirimu sendiri, dan bahkan mau memberi kesempatan pada seseorang yang tak anda ketahui mengapa.

    Peristiwa ini semakin berarti ketika, setelah bermain di Desert Storm, Robby terbunuh oleh pengeboman yang tak masuk akal oleh Alfred P. Murrah, Federal Building di Oklahoma pada April 1995, ketika dilaporkan... dia sedang main piano.

    Snacks of Humor

    [1] You can become an engineer if you go to an Engineering college,
    But don't expect to be a President going to the Presidency College!

    ***

    [2] Expect a BUS at a BUS Stop, but Don't expect a FOOL%2

  • CERITA SEORANG MURID

    Saya seorang mantan guru sekolah musik dari Des Moines, Iowa. Saya mendapat nafkah dengan mengajar piano-selama lebih dari 30 tahun. Selama itu, saya menyadari tiap anak punya kemampuan musik yang berbeda. Tapi saya tidak pernah merasa telah menolong walaupun saya telah mengajar beberapa murid berbakat. Walaupun begitu, saya ingin bercerita tentang murid yang "tertantang secara musik". Contohnya adalah Robby.

    Robby berumur 11 tahun, ketika ibunya memasukkan dia dalam les untuk pertama kalinya. Saya lebih senang kalau murid (khususnya laki-laki) mulai belajar ketika lebih muda, saya jelaskan itu pada Robby. Tapi Robby berkata, ibunya selalu ingi n mendengar dia bermain piano. Jadi saya jadikan dia murid.

    Robby memulai les pianonya dan dari awal saya pikir dia tidak ada harapan. Robby mencoba, tapi dia tak mempunyai perasaan nada maupun irama dasar yang perlu dipelajari. Namun dia mempelajari benar-benar tangga nada dan beberapa pelajaran awal yang saya wajibkan untuk dipelajari semua murid.

    Selama beberapa bulan, dia mencoba terus dan saya mendengarnya dengan ngeri dan terus mencoba menyemangatinya. Setiap akhir pelajaran mingguannya, dia berkata, "Ibu saya akan mendengar saya bermain pada suatu hari." Tapi rasanya sia-sia saja. Dia memang tak berkemampuan sejak lahir. Saya hanya mengetahui ibunya dari jauh ketika menurunkan Robby atau menjemput Robby. Dia hanya tersenyum dan melambaikan tangan tapi tidak pernah turun.

    Pada suatu hari, Robby tidak datang lagi ke les kami.

    Saya berpikir untuk menghubunginya, tapi saya berkata dalam hati, karena ketidakmampuannya, mungkin dia mau les yang lain saja. Saya juga senang dia tidak datang lagi. Dia menjadi iklan yang buruk untuk pengajaran saya!

    Beberapa minggu sesudahnya, saya mengirimkan brosur ke tiap murid,mengenai pertunjukan yang akan dilaksanakan. Yang mengagetkan saya, Robby (yang juga menerima brosur) menanyakan kepada saya apakah dia bisa ikut pertunjukan itu. Saya katakan kepadanya, pertunjukan itu untuk murid yang ada sekarang dan karena dia telah keluar, tentu dia tak bisa ikut. Dia katakan bahwa ibunya sakit sehingga tak bisa mengantarnya ke les, tapi dia tetap terus berlatih. "Bu Hondrof... saya mau main!" dia memaksa.

    Saya tidak tahu apa yang membuat saya akhirnya membolehkan dia main di pertunjukan itu. Mungkin karena kegigihannya atau mungkin ada sesuatu yang berkata dalam hati saya bahwa dia akan baik-baik saja.

    Malam pertunjukan datang. Aula itu dipenuhi dengan orang tua, teman, dan relasi. Saya menaruh Robby pada urutan terakhir sebelum saya ke depan untuk berterima kasih dan memainkan bagian terakhir. Saya rasa kesalahan yang dia buat akan terjadi pada akhir acara dan saya bisa menutupinya dengan permainan dari saya.

    Pertunjukan itu berlangsung tanpa masalah. Murid-murid telah berlatih; dan hasilnya bagus. Lalu Robby naik ke panggung. Bajunya kusut dan rambutnya bagaikan baru dikocok. "Kenapa dia tak berpakaian seperti murid lainnya?" pikir saya. "Kenapa ibunya tidak menyisir rambutnya setidaknya untuk malam ini?"

    Robby menarik kursi piano dan mulai. Saya terkejut ketika dia menyatakan bahwa dia telah memilih Mozart's Concerto #21 in C Major. Saya tidak dapat bersiap untuk mendengarnya. Jarinya ringan di tuts nada, bahkan menari dengan gesit. Dia berpindah dari pianossimo ke fortissimo... dari allegro ke virtuoso. Akord tergantungnya yang diinginkan Mozart sangat mengagumkan! Saya tak pernah mendengar lagu Mozart dimainkan orang seumur dia sebagus itu!

    Setelah enam setengah menit, dia mengakhirinya dengan crescendo besar dan semua terpaku disana dengan tepuk tangan yang meriah. Dalam uraian air mata, saya naik ke panggung dan memeluk Robby dengan sukacita. "Saya belum pernah mendengar kau bermain seperti itu, Robby! Bagaimana kau melakukannya?" Melalui pengeras suara Robby menjawab, "Bu Hondorf... ingat saya berkata bahwa ibu saya sakit? Ya, sebenarnya dia sakit kanker dan dia telah berlalu pagi ini. Dan sebenarnya... dia tuli sejak lahir jadi hari inilah dia pertama kali mendengar saya bermain. Saya ingin bermain secara khusus."

    Tidak ada satu pun mata yang kering malam itu. Ketika orang-orang dari layanan sosial membawa Robby dari panggung ke ruang pemeliharaan, saya menyadari meskipun mata mereka merah dan bengkak, betapa hidup saya jauh lebih berarti karena mengambil Robby sebagai murid saya.

    Tidak, saya tidak pernah menjadi penolong, tapi malam itu saya menjadi orang yang ditolong Robby. Dialah gurunya dan sayalah muridnya. Karena dialah yang mengajarkan saya arti ketekunan, kasih, percaya dirimu sendiri, dan bahkan mau memberi kesempatan pada seseorang yang tak anda ketahui mengapa.

    Peristiwa ini semakin berarti ketika, setelah bermain di Desert Storm, Robby terbunuh oleh pengeboman yang tak masuk akal oleh Alfred P. Murrah, Federal Building di Oklahoma pada April 1995, ketika dilaporkan... dia sedang main piano.

    Snacks of Humor

    [1] You can become an engineer if you go to an Engineering college,
    But don't expect to be a President going to the Presidency College!

    ***

    [2] Expect a BUS at a BUS Stop, but Don't expect a FOOL at FULLSTOP(.)

    ***

    [3] A Mechanical engineer becomes a mechanic
    Then why not a software engineer become a software?

    ***

    [4] Find keys in a Key board
    But do not expect a mother in mother board.

    ***

    [5] Study anything you want and get a certificate in subject of your studies
    But don't expect a death certificate studying "Dying and Death."

    The Dancing Leader

    October 24th, 2007 at 9:40 am (The Dancing Leader)

    Tags: dancing, kepemimpinan, kontemporer, pemimpin, penari, The Dancing Leader

    Kolom Appreciative Life
    The Dancing Leader

    “While I dance I cannot judge, I cannot hate, I cannot separate myself from life. I can only be joyful and whole. That is why I dance.” Hans Bos

    The Dancing Leader? Apa pula itu? Pemimpin macam apa pula ini? Padahal sudah banyak dikenal bermacam-macam model pemimpin. Saya coba ambil buku “Paradigma Baru Kepemimpinan”. Dari buku itu saja, dapat kita temukan 27 model kepemimpinan seperti Kepemimpinan yang berani, Kepemimpinan Super hingga Kepemimpinan Emosional.

    Menariknya, banyak pakar menggunakan cara yang sama tetapi berbeda kesimpulannya. Secara umum ditandai dengan kalimat, “…setelah mewawancarai ratusan bahkan ribuan pemimpin maka saya menyimpulkan pemimpin adalah….”. Mengapa demikian? Pada dasarnya, kepemimpinan adalah fenomena unik, digeneralisasi pun akan tetap sampai pada kesimpulan yang unik pula.

    The dancing leader bukanlah salah satu teori kepemimpinan. Bukan sebuah model kepemimpinan baru. Tidak lagi menambah model kepemimpinan yang sudah banyak. Sama sekali bukan. The dancing leader adalah sebuah teori tindakan (action theory) yang memfasilitasi setiap pelaku untuk menyadari dan menciptakan model kepemimpinannya yang unik.
    ***
    Apa yang terbayang dibenak anda ketika mendengar kata menari? Anak kecil yang bebas menari? Agnes monica yang menyanyi sambil menari? Penari jawa yang gemulai? Dancing with wolves-nya Kevin Costner? Pretty woman? Kebebasan? Harmoni? Keindahan? (terima kasih buat pak eko, mbak agnes, mas helmi, mas kusnan, mas heri we, mbak ria) Apapun. Bayangkan gambaran yang muncul mengenai menari.

    Menari pasti bersangkut paut dengan gerakan (movement) atau rangkaian tindakan. Suatu gerakan sepenuh hati oleh seseorang dalam mengekspresikan diri untuk tujuan personal, sosial atau spiritual. Untuk memainkan sebuah tarian, orang harus menjadi diri sendiri dan melakukannya dengan sepenuh. Menari karena ingin menari. Bukan karena tujuan diluar menari. Entah itu uang. Atau tepukan penonton. Menari berarti menyelaraskan seluruh kapasitas diri. Menari berarti menyelaraskan kapasitas diri dan kapasitas penari yang lain dengan musik pengiring.

    Karena ekspresi diri, setiap tarian bersifat otentik. Sebagian orang lebih menyukai tarian samba yang lebih bergelora, orang yang lain memilih memainkan tarian bedoyo yang lebih kalem. Bahkan sebuah gerakan tarian yang sama, dimainkan dengan cara yang berbeda oleh setiap orang. Kita pun bisa menciptakan tarian kita sendiri.
    Menjadi seorang penari berarti menjadi orang yang dinamis. Penari bertindak, berupa langkah-langkah yang berulang maupun lirikan mata yang mengundang. Gerakan yang selaras dengan suatu irama dan dengan gerakan penari lain. Penari bergerak mengikuti suatu pakem secara bebas. Fleksibel dalam koridor.

    Apapun tariannya pastilah atraktif. Menarik hati. Tetapi penari sejati, tidak pernah memaksakan kehendaknya kepada orang lain untuk menarik perhatian, memaksa orang lain mengikuti gerakannya. Terakhir, setiap tarian menenangkan jiwa. Entah dengan mengekspresikan kegembiraan. Entah dengan menghayati sebuah penderitaan. Entah dengan menampilkan kemarahan yang paling seronok.

    Dan terciptalah tarian terindah!

    Begitu pula dengan seorang pemimpin sebagai penari. Pemimpin melakukan kepemimpinan dengan sepenuh hati. Setiap orang mempunyai gaya kepemimpinannya yang khas, memainkan tariannya sendiri. Tak heran, kita jadi mengenal begitu banyak model kepemimpinan, yang sesungguhnya semuanya itu sama-sama benar. Kepemimpinannya ditandai dengan adanya tindakan yang ritmis. Pemimpin bukannya mereka yang berdiam diri semata. Ketika menemui tantangan, pemimpin menghadapinya secara fleksibel tetapi tetap dalam koridor. Pemimpin pun harus atraktif, menarik hati orang-orang disekitarnya. Sekaligus, bisa menggembirakan, menenangkan dalam keadaan tertekan, maupun marah dalam situasi yang tepat.

    Lalu, apa gunanya the dancing leader? Dalam bekerja, kita berjumpa dengan berbagai perubahan. Perubahan rekan kerja, bawahan, atasan, proses produksi, lingkungan kerja, aturan pemerintah, tugas baru, tuntutan customer, dan yang lainnya. Apabila elemen-elemen itu merupakan sebuah ritme musik, maka seorang penari luwes menarikan tarian yang selaras dengan ritme musik. Mungkin memainkan tari saman. Atau tari yosim pancar. Apapun. Selama sang penari itu menghayati tarian tersebut. Tarian yang membuat dirinya tetap menjadi diri sendiri. Sehingga, hasilnya sebuah tarian yang indah. Tarian yang memuaskan diri sekaligus para penonton.

    Begitulah the dancing leader. Ia lihai menciptakan gerak antisipatif terhadap perubahan yang dihadapi. Mungkin ia akan memainkan kepemimpinan super dalam menghadapi tuntutan customer. Di lain waktu, ia akan memainkan kepemimpinan emosional dalam menghadapi bawahan yang keras kepala. Atau, bisa jadi ia akan mengkombinasikan dua model kepemimpinan. Apapun modelnya, ia tetap bisa menikmati mode kepemimpinan itu. Model kepemimpinan yang membuatnya tetap menjadi diri sendiri. Sehingga, ia tetap enjoy dengan kehidupan dan kepemimpinannya, sekaligus ia memuaskan para stakeholder.

    ***

    Sungguh menakjubkan apabila setiap waktu, di setiap tempat di organisasi, kita bisa menyaksikan berbagai tarian yang menawan. Lebih dalam lagi, mengingat kata-kata berikut:

    Talk about dance? Dance is not something to talk about. Dance is to dance. ~Peter Saint James

    Maka kita hentikan pembahasan. Siapkan hati. Bergerak. Bergerak. Bergerak. Mengikuti irama hati. Memainkan tarian tercantik kita!

    UNTYING THE KNOTS OF OLD HABITS

    Habits—
    a habit is a solidification of some way of thinking, way of feeling, way of talking, or way of acting that now allows us to go unconscious. This is truly a powerful dynamic in human nature, is it not? We have the innate ability to repeat some thought, emotion, attitude, belief, ritual, way of responding, etc. and through the process of repeating and validating we can put install it as our default program for how we operate as a person. At that point the program goes on automatic so we don't have to think about it, but our neurology, our neuro-pathways, and our conditioned muscle memory "knows" how to continue the operation.

    Further, once we have done this, we can relax our concern for remembering all these things. We can trust that it will just operate whenever its cues are triggered. So like typing on a keyboard, driving a car, tying a bow, playing a sport, or hundreds of other things in daily life—we now become unconscious of the content of that learning. The learning goes on automatic pilot. As a result this frees our mind for turning our attention to other things, new things, things more interesting, new things to learn.

    This description enables us to see habit as an old learning. It is a past learning that is now fully incorporated in our neurology thereby freeing our mind for learning something else. This is part of the "ecology of the mind" that Bateson wrote about in his classic work, Steps to an Ecology of Mind (1972).

    Now, as a meta reflection, consider the essence of a habit. We could say that a habit is a mind-to-muscle embodiment. How about that? In the creation of a habit, we take what we know consciously in our mind, and agree with intellectually, and through repetition, through practice, through affirming it repeatedly, through using our body and actions to act on it—we take what was just mental and we make it corporal. We in-corporate it. We embody it. We run neuro-pathways until it becomes "in the body" and our "way of being in the world."

    That's really powerful! You and I —in the mechanism of "habit"— have the ability to mind-to-muscle great ideas into our neurology. It is in this way that we "metabolize" ideas. We digest them and they become part and parcel of our soma, our body.

    So all of this is great, right? Well, no, there are some problems in this. And they begin so innocently. For example, once we have developed a habit, the habit is in control. That's a problem? Well, yes, it is if the world changes. It is if we need to change. It is if our current situation calls for new flexibility to adapt to new influences and factors in our life. After all, a habit by definition reduces our adaptability (our ability to adapt) and so our resilience, flexibility, being present to each present moment, and ability to continuously learn and improve.

    This describes both the bright and dark sides of habits. They enable us to get great ideas into our body and they lock also us up within the prison of those very ideas reducing our choices and adaptability. Habits, in fact, are one of the great interferences to self-actualization. Habits as past-learnings- solidified- into-neurology are often the very things we have to unlearn. As solutions and answers to previous challenges and problems, habits are old answers and sometimes they become irrelevant answers to problems and questions that no longer exist.

    Ah yes, unlearning. We come back to that. This means that unlearning our habits of mind, emotion, speech, and behavior makes up one of the key mechanisms for continually unleashing new and exciting potentials from within ourselves. So, how about you? What former ways of thinking, believing, deciding, emoting, speaking, acting, and so on that once was a new perspective, a new strength, a new development but is now a problem? Now it is in the way? Now it interferes with taking your skills or person to a new level?

    The skill to unlearn is as critical, if not more so, than the skill to learn. And as accelerated learning improves the quality and speed of our learning, so does accelerated unlearning. This is, in fact, the kind of change that often that precedes a new development or transformation. First, we have to clear the space and undo the inner structures– the psycho-logics that hold it in place.

    Now while the Axes of Change model is an efficient change model for generative change that describes how psychologically healthy people change, its focus is on the dance of change that primarily seeks to create and invent something new rather than unlearning something old.

    And this is where the Crucible comes in. As a holistic and holographic change model, it is designed to facilitate unlearning. And it is especially appropriate when a former learning has become an ingrained and unconscious habit. As a default program, when we try something new, we find our old habit of thought or emotion activated in a nano-second and long before we become conscious of it. In this way it interferes with the installation and integration of the new learning.

    So, if you find yourself trying and trying to get a new learning inside, if you find yourself knowing intellectually what you should do, and even know how to do it, but even before you have an external cue for realizing now is the time to use that learning—an old learning is activated and interferes, you have the very thing that calls for an unlearning strategy and change process. You have the context that is perfect for using the Crucible. And it is this which is ideal to take into the Crucible of Change and Transformation.

    Powerful Achievement of Hypnotherapy

    Recently a hypnotherapist received a call from the wife of a friend he had not seen for
    more than two years. He knew that the friend had been treated surgically for cancer
    of the kidney, but he had heard that the operation had proved successful and all was
    well. Unfortunately, this was not the case.

    The wife asked the hypnotherapist if he would see the husband and try to relieve the
    intense pain which was being suffered. The therapist requested medical authority to
    enter into the case and was advised that the situation was terminal, and that
    everything possible had been done -- any help in pain relief was more than welcome.
    The prognosis was for about six months of life.

    The situation was such that the patient could not visit the office, so the
    hypnotherapist offered to make a house call. He had some concern about the
    hypnotizability of the patient, since hypnosis usually requires an ability to focus
    attention as directed by the hypnotherapist in the fixation phase of the induction. It
    was possible that the sheer intensity of the pain was so great that diversion of
    attention from it would be difficult or impossible.

    Anticipating that repeat visits would be difficult in view of the medical and family
    situations, the therapist made a tape dealing with relaxation, rest and pain reduction,
    taking it with him on the call. On arriving he learned that he was ill-prepared to face
    the situation confronting him. His friend was in bed, face contorted with agony, with a
    tube in the arm connected to a button which released morphine on demand. The
    morphine now provided minimal relief.

    The Power Of The Mind

    The hypnotherapist called the family into the room, together with the patient, to
    acquaint them with the plan and procedures. After the family was informed, members
    left and the therapist talked for some time with the patient, discussing hypnosis the
    powers of the mind and pain. An induction was then begun, and while it was slow
    going at the beginning, the patient did slip into a hypnotic trance and responded very
    well once relaxation was achieved. He was programmed for alleviation of pain, control
    of emotions, abilities to take nourishment and response to treatment. He was given a
    special cue to use for pain relief when discomfort became particularly intense. He was
    given the tape and advised it paralleled the hypnotic session and would provide
    similar relief when used. On awakening the patient commented that he had not rested
    so well in months.
    In six weeks the patient died. At the funeral services the wife told the hypnotherapist
    the final six weeks had been bearable for both the patient and the family due to the
    tape. She commented that when pain became intense the patient would ask for the
    tape, and when it was begun the time required to move from deep pain to total
    relaxation was approximately thirty seconds.
    It was evident that the expectation of relief more than the content of the tape was
    the effective element. Such is the power of the mind.

    Applications and Techniques

    Hypnotherapeutic methods for achieving pain relief are numerous. Effectiveness can
    vary and the choice may depend on the condition and personality of the patient.
    Suggestions may be direct or indirect, interspersal, or may utilize anaesthesia, guided
    imagery, hypnoanalysis or other procedures.
    As is so important in hypnosis, attitude is a major factor. It is important that the
    patient accept that relief is possible. Constant pain needs to be approached on a
    different basis than interim pain. Constant pain is not to be relinquished completely
    even for a few minutes, since it is identified with the life force. The patient likes to
    feel it is there, however reduced, even during periods of sleep.

    Physical pain is seldom constant. The therapist will determine if the patient has
    experienced periods, however briefly, which were free of pain. If the patient claims
    the pain is constant, it is more likely to be psychological in origin and may indicate a
    constant pain syndrome. Treatment will likely involve the establishment of rapport
    with empathy and appreciation of the value of pain. Hypnotic regression to the
    problem can lead to understanding and relief.

    A reasonable hypnotherapist usually will not work with physical pain without being in
    communication with an appropriate physician, for the simple reason that pain is more
    of a symptom than a condition. Pain indicates that something is wrong, somewhere,
    and that is true whether the pain is physical or mental. It would be the height of folly
    to treat a migraine headache only to have it turn out to have been a brain cancer.
    It is important to remember that some patients value their pains highly, just as a
    hypochondriac can be said to "enjoy poor health". Through hypnosis patients
    frequently can be shown that they can control their pains, and being able to do so they
    also can diminish pain to tolerable levels or turn it off completely at will.
    Seemingly endless periods of tests which prove in-conclusive, often accompanied by
    conflicting diagnoses, can instill levels of fear which may be dealt with through
    hypnotherapy. Guilt, anger or other emotional problems often enter into the picture
    when accidents are involved as source conditions.

    Negative attitudes must be dealt with, and again the capability of hypnosis to modify
    trends of thought becomes important. In difficult cases the power to cope can be
    programmed into the patient's mind, possible together with cues to make the process
    more or less automatic.
    In dealing with pain situations, teaching the patient the use of self-hypnosis
    techniques can be highly beneficial, reinforcing th programming that has been done in
    the case.

    HERE ARE SOME POWERFUL AND POSITIVE USES FOR HYPNOSIS

    Dentistry to relieve conscious and unconscious fears, reduce discomfort, allergic
    reactions to drugs and to bring an all around sense of calm to the patient for the
    dentist. Because of this you can also expect rapid healing and often times complete
    control of blood flow. You can imagine the benefits already!

    Medical Professionals now recognize how powerful hypnosis is to help reduce or
    eliminate pain. From Burn Units to Cancer Wards, hypnosis is being used succesfully
    around the world to alleviate pain.

    Setiap orang belum tentu menyadari bahwa kehadirannya bermakna. Seperti apa makna kehadirannya cepat atau lambat spt itulah orang lain akan 'menterjemahkan' pemaknaan bawah sadarnya. Maka hati-hatilah dengan pemaknaan kehadiran yang kita terapkan dalam setiap perjumpaan (bahkan pra perjumpaan) dengan orang lain.

    Kisah analog, bgm starbuck bisa infiltasi pasar scr hebat ke jepang? Mengapa justru yg tersibuk adalah starbuck Tokyo bukan Seattle, New York atau San Francisco? Selain proses promosi & edukasi pasar yang berhasil, kesuksesan itu krn keberhasilan pemaknaan kehadiran sudah di'hidup'kan (dipresentasikan, baca: divisualisasikan) bahkan jauh sebelum starbuck berekspansi di sana. Mau diberi makna apa kehadiran kita masing-2? Saya tidak akan mengatakan wallahualam bissawab, krn makna kehadiran tergantung kita maisng-maisng, sang pemberi makna.

  • The newest billionaires: China's economy churns out dozens

    Daftar-kekayaan-suharto
    The newest billionaires: China's economy churns out dozens
    By David Barboza
    Tuesday, November 6, 2007

    SHANGHAI: The United States has more billionaires than any other country: 415 by Forbes's last count.

    No. 2, and closing fast? China.

    A year ago, there were 15 billionaires in China. Now, there are more than 100, according to the widely watched Hurun survey, and 66, according to Forbes.

    Unlike America's rich, China's are hardly famous, even in China. Gates, Buffett and Brin are known around the world. But Yang, Guo and Zhang?

    Yet, who they are, and what they decide to do - or are allowed to do - with their money and newfound influence will have political and economic consequences in China and probably far beyond, analysts say.

    "They could start buying companies in the U.S.," Chang Chun, an economist at the China Europe International Business School in Shanghai, said of the new rich. "They have so much influence."

    Aptly, China's new billionaires are building their staggering wealth on the backs of the richest companies you have never heard of. Thanks to the capitalist stock mania sweeping the communist mainland, Chinese private and state-owned companies issuing stock for the first time are becoming incredibly valuable in speculators' eyes, sometimes overnight.

    On Monday, the first day the state-owned energy company, PetroChina, listed shares on the Shanghai stock exchange, its market valuation - the value of all its stock combined, assuming that the value of a share in Shanghai translates to all shares globally - ran up to more than $1 trillion.

    Analysts are skeptical about the way China's stocks are valued, particularly those with huge amounts of untradable government shares, like PetroChina. But to the buyers in Shanghai, at least, it dethroned Exxon Mobil as the most valuable company in the world. And by the same criteria, they would consider China Mobile the world's most valuable telecommunications company. ICBC, a state-owned bank that was nearly insolvent a decade ago, is worth more than Citigroup to the speculators.

    A more stable measure of a hot stock prospect is the value investors place on its initial public offering. When Country Garden, a southern China real estate company, went public in Hong Kong in April, it raised more capital than Google, which took in $1.9 billion in 2004. PetroChina raked in $8.9 billion in capital in Shanghai the other day. ICBC raised about $21 billion last year in Hong Kong.

    And on Tuesday, another newcomer, Alibaba.com, one of the biggest Chinese Internet companies, raised nearly as much as Google did. Afterward, the speculators sent Alibaba's stock soaring 193 percent on its first day of trading to a putative value of nearly $26 billion.

    But many analysts argue that there is nothing underlying the skyrocketing valuations - or, sometimes, that the companies' obscure finances make it impossible to know. And if the Chinese stock market is a bubble, the new billionaires will disappear as quickly as they rose, since much of their wealth was generated by the stock markets, as well as by the Chinese real estate boom and the Chinese economy, the fastest-growing in the world.

    "A lot of people are surprised at how fast this has happened," said Jing Ulrich, an analyst at JPMorgan. "But this is the power of the capital markets. A lot of people's wealth is based on newly listed companies."

    Who the shadowy billionaires are will matter, because the super-rich tend to make a name for themselves far beyond their borders. They gobble up global assets. They change cultural landscapes through charity.

    Many analysts believe the Chinese are so new to this type of money that they themselves do not know what they will do with it, assuming it lasts.

    As much as the bounty of billionaires is a source of pride, it is also a potential cause for concern in a nominally communist country. Per capita income in China is less than $1,000 a year.

    "One issue is social stability," said Emmanuel Saez, a professor of economics at the University of California. "In Latin America you had such a concentration that revolutionaries wanted to redistribute it."

    Perhaps for that reason, many wealthy Chinese entrepreneurs fight to stay off lists of the rich. The early lists of the wealthy often led to unwanted scrutiny, including investigations into possible tax evasion or corruption.

    But times have changed. With the economy roaring and entrepreneurs sensing a golden age of stock riches, everyone seems to be mouthing the phrase "shang shi," Chinese for initial public offering.

    Among the most celebrated are the young Internet tycoons. Robin Li, the 38-year-old founder of Baidu, which is called "China's Google," is now worth about $2.4 billion, making him richer than Jerry Yang of Yahoo. Ma Huateng, 36, of Tencent, another Internet giant, is worth $1.9 billion. And Jason Jiang, the 34-year-old founder of Focus Media, is worth $1.1 billion.

    Jiang grew up in Shanghai and studied literature before turning his focus to business in college. He says he started out selling advertising in Shanghai and then, in 1997, formed Focus Media with the idea of placing video monitors broadcasting advertisements in elevators, apartment complexes, supermarkets and even on street corners. With the help of Goldman Sachs and Credit Suisse, Focus Media went public in 2005 on the Nasdaq, and its shares have jumped about 800 percent in two years.

    But it may be ambition more than money, at least so far, that motivates him. "I want this company to be the greatest media group - the greatest media company in the world," he said in an interview. "I want Focus Media in every part of the world." He said he worked 8 a.m. to 2 a.m. and did not feel tired. He said he had no time for anything else, including spending his enormous wealth.

    He has upgraded to a nicer home in recent years, he said, but has little time for sports or anything else. He is single and works through lunchtime at his desk, buying a $2.50 takeout meal nearly every day. "I think this is typical," he said of successful entrepreneurs in China.

    Analysts call people like Jiang the country's best hope for innovation. "These young 30-something- year-old entrepreneurs have become billionaires, and they've become role models for others," said Chen Zhiwu, a professor of finance at Yale University. "They have totally energized Chinese entrepreneurs. "

    Rupert Hoogewerf, publisher of the Hurun Report, said 6 of the 10 richest self-made women in the world were also from China, including Zhang Yin, the founder of Nine Dragons Paper, which collects recycled paper from the United States and turns it into boxes in China.

    The richest person in China, since last April, is also a woman: Yang Huiyan of Country Garden, the real estate company. Yang, 26, who did not grant an interview, is No. 1 on both rich lists and easily the richest woman in Asia. A graduate of Ohio State University, she is worth about $16 billion, making her richer than George Soros, Rupert Murdoch and Steve Jobs. Her father, a real estate developer in southern China, gave her most of the family's fortune in stock, just before Country Garden's blockbuster initial public offering in Hong Kong.

    Keeping with their reputation for discretion, of about 15 billionaires contacted recently, only one, Jiang, agreed to be interviewed. They tend to hide their billions, friends say, sometimes with offshore purchases. Some even boast that they still get a $2 haircut.

    Their stories, though, are remarkable. Huang Guangyu, 38, grew up in a poor village in southern China, where he and his brother started out selling plastic bottles and newspapers. Now, he controls Gome, one of the most popular electronics stores in the country.

    The rise of the Chinese billionaire is remarkable not just because of the speed with which it has happened - the country opened up to capitalism only 25 years ago - but because it happened without the help of a single global brand: no Sony or Toyota. (But Japan has only 24 billionaires. )

    Indeed, China's wealthiest, largely real estate tycoons or manufacturers, appear singularly focused on making it inside China, not outside.

    That is the billionaires' next challenge, and some are already embracing it. Shi Zhengrong studied physics and solar energy in Australia before returning to China in 2001 to start up Suntech Power. Six years later, Shi's solar energy company is valued at $9 billion, its stock price up over 300 percent since its public stock offering in December 2005.

    In an interview this year at his Shanghai headquarters, Shi discussed the role of solar power in China's development. As he finished the meeting, he smiled and said, "Some day, this company will be as big as Microsoft."

    Better rich than red
    By H. D. S. Greenway
    Tuesday, November 6, 2007

    SHANGHAI: The view across the river at the skyscrapers of Pudong, where only muddy fields had existed 20 years ago, or the sight of jolly crowds of Chinese tourists carousing in the impossibly quaint streets of Lijiang in the hills of Yunnan, called to mind the once-startlingly revolutionary slogan that changed China: "It doesn't matter the color of the cat as long as it catches mice."

    The phrase, attributed to Deng Xiaoping, was revolutionary because it directly contradicted Mao Zedong's dictum "better red than expert." The old devil Mao had unleashed countless ideologically driven campaigns that had brought China to its knees. Being red was what was important, not whether you knew anything.

    What Deng did with his cat analogy was to reel back ideology in favor of practicality, to take human nature as he found it rather than trying to create a perfect Socialist man, culminating in another of his aphorisms: "To get rich is glorious."

    And many Chinese have done just that. According to press reports, China now has 106 billionaires, second only to the United States. There were none in 2002. During the recent Party Congress, the Chinese press and television repeatedly claimed that China had the world's third largest economy, after the United States and Japan. Twenty years ago it ranked 29th.

    Before he came to paramount power 30 years ago, Deng had been purged twice for being an "unrelenting capitalist roader." Today, one would have to say that's just what he was. "Build Socialism with Chinese characteristics, " Deng said. But it is hard to see where the Socialism fits in anymore, now that a market economy is in force. Gone are the blue-suited masses who had to kowtow to "Mao Thought" in an Orwellian state. Income is certainly not equally distributed. The glitz and glamour of the new Shanghai sharply contrast with ox-drawn wooden plows in the countryside.

    If anything, Socialism means the control of the Chinese Communist Party. Deng, no democrat, feared China might disintegrate as did Mikhail Gorbachev's Soviet Union , even though Deng recognized, even before Gorbachev did, that Communism was impractical. But he equated democracy protests with chaos, and he had seen enough of that in the Cultural Revolution. "Our people have gone through a decade of suffering," he said, and "cannot afford further chaos." Deng may have said that "Socialism and a market economy are not incompatible, " but he also said "Socialism does not mean shared power."

    The rising political expectations that followed Deng's economic and social reforms were squashed in Tiananmen Square 18 years ago. And any perceived challenge to state power is just as ruthlessly suppressed by Deng's successors. But for all of that, the last 20 years have been the best China has had in the last couple of centuries. China's rocket to the moon seemed timed to crown last month's Party Congress, and its plans for the Olympic games seem like the preparations of a debutante to celebrate her coming-out party.

    Yet China's leaders seem as desperate to keep the tag of Socialism attached to their society as American politicians are to avoid the Socialist label when they discuss plans for national heathcare and the like.

    It was unavoidable in a country so huge that China's problems would be outsized too. Extreme pollution stalks its cities and ravages the countryside. Rapid changes are unsettling society, lack of regulation is hurting its exports, and its demand for commodities to fuel its driven economy is affecting the markets of the world.

    An interesting phenomenon is China's effort to virtually acquire Africa. Chinese interest in Africa goes back to Zhou Enlai's efforts in the 1950s. But recent investments in a continent that so much of the rest of the world has written off as hopeless has little to do with ideology, and everything to do with business.

    China has no interest in Africa's politics, it was explained to me by a Chinese academic. What China wants is Africa's commodities and hopes to enter into a mutually beneficial relationship with Africa to get them.

    Chinese wonder at the Bush administration' s zeal to promote democracy, even by force - prompting a Chinese friend to say that there were only four ideology-driven countries left in the world: Cuba, North Korea, perhaps Iran, and the United States. Desire for a more representational form of government may still beat in China's breast, but for the moment China's energies are concentrated on catching mice.

    H. D. S. Greenway's column appears regularly in The Boston Globe.

  • Lalu Lintas dan Wajah Kita

    TATU-YG-KEREN
    Lalu Lintas dan Wajah Kita

    Oleh: Sigit Darmawan

    Beberapa minggu yang lalu, saya merasa menjadi orang yang tampak
    sedemikian tolol dan bodohnya di tengah-tengah orang banyak. Di saat
    arus lalu lintas Jakarta yang lancar (atau sepi), karena sebagian besar
    warga mudik ke kampung halaman, saya berhenti di suatu perempatan karena
    lampu merah. Rupanya mobil-mobil di belakang saya ingin terus melaju,
    namun tertahan oleh mobil saya yang berhenti karena lampu merah
    tersebut, sehingga mereka membunyikan klakson berkali-kali. Saya membuka
    kaca jendela mobil dan memberi kode dan menunjuk ke lampu lalu lintas
    yang masih merah. Tapi suara klakson tetap tidak berhenti. Salah satu
    pengemudi mobil tersebut rupanya turun dari mobil dan mendatangi mobil
    saya, dan meminta saya berjalan. Tetapi saya tidak bersedia dan
    berargumen bahwa lampu masih merah dan tidak mati.

    Karena saya masih ngotot tidak bersedia menjalankan mobil saya, seorang
    pengemudi bis kota ikut turun dan meminta saya melakukan hal yang sama.
    Dan ketika saya tetap bersikeras tidak mau jalan, mulailah teror kepada
    saya. Bunyi klakson semakin keras dan memekakkan telinga, disusul makian
    dari orang-orang. Dan ketika lampu hijau, mobil-mobil yang semula di
    belakang, mendahului saya dan membuka jendela serta berteriak memaki
    saya. Demikian juga para penumpang bus kota berteriak-teriak kepada
    saya: "bodoh kamu! sialan kamu!".

    Untuk sesaat saya hanya bisa memandang mereka dengan keheranan. Saya
    sempat merasa seperti orang bodoh dengan tindakan saya itu. Cemoohan dan
    makian yang sungguh tidak bisa saya mengerti sepenuhnya, apalagi oleh
    anak saya yang selalu diajarkan di sekolahnya bahwa lampu merah berarti
    berhenti. Saya dan keluarga terdiam sepanjang perjalanan. Pikiran saya
    mulai galau. Bagaimana bangsa ini mau maju, jika untuk hal-hal sederhana
    seperti ini tidak bisa mereka patuhi? Tiba-tiba saya menyadari ada hal
    krusial dan amat penting dalam kehidupan kita sebagai bangsa, yang akan
    menentukan kemajuan kita ke depan.

    Lima Wajah Kehidupan kita

    Lalu lintas adalah cermin dari kultur masyarakat suatu negara. Apa yang
    terjadi di jalan raya adalah cerminan nilai yang dianut dan dihidupi
    oleh masyarakat. Kesemrawutan wajah lalu lintas di negara kita
    sesungguhnya menunjukkan lima wajah kehidupan masyarakat kita.

    Wajah pertama: kepatuhan. Cermin bangsa yang terbiasa tidak patuh
    rasanya amat melekat dengan diri bangsa kita.Kita adalah bangsa yang
    terkenal jago dalam membuat aturan, tetapi pecundang dalam hal
    kepatuhan. Ketidakkonsistenan adalah suatu penghalang dalam setiap
    implementasi suatu aturan atau undang-undang. Baik oleh mereka yang
    dipercaya menjaga aturan (aparat penegak hukum atau pelaksana aturan),
    maupun mereka yang terkena aturan (masyarakat) . Ketidakpatuhan itu
    sendiri ditunjukan oleh aparat, yang seharusnya mendorong kepatuhan
    masyarakat. Dan ini diikuti oleh ketidakpatuhan masyarakat yang melihat
    dan mencontoh model atau sosok aparat yang melanggar kepatuhan tersebut.
    Karena itu tidak mengherankan, ada banyak calo-calo di loket-loket
    kantor layanan publik yang justru di-backing oleh aparat. Tidak heran
    juga, berbagai aturan yang dibuat (contoh: aturan "larangan merokok di
    ruang publik" ) kehilangan tajinya. Kepatuhan ini terkait dengan
    mentalitas masyarakat yang ingin serba mudah, cepat, tidak repot, dan
    kalau perlu dengan segala cara.

    Wajah kedua: kedisiplinan. Kita harus akui bangsa kita sangat rendah
    kedisplinannnya (Jika tidak, tentu tidak perlu sampai ada GDN segala).
    Kedisiplinan terkait dengan komitmen. Komitmen dalam menjalankan aturan,
    menepati aturan, dan dalam menegakkan aturan yang dilanggar. Bangsa yang
    kuat dalam karakter kedisiplinan adalah bangsa yang mampu berkembang dan
    menjadi maju, karena segala sesuatu dijalankan dengan serius,
    sungguh-sungguh, dan penuh perjuangan. Bangsa yang lembek dalam hal
    karakter disiplin ini, akan tersisih dalam persaingan global. China
    adalah model negara yang kuat dalam hal kedisiplinan, dan sekarang mampu
    mengembangkan potensi masyarakatnya secara luar biasa.

    Wajah ketiga: ketertiban. Ketertiban menghasilkan keteraturan dan
    keselarasan. Teratur dan selaras dengan aturan yang sudah di sepakati.
    Betapa sulitnya masyarakat kita tertib, tercermin dalam berbagai hal,
    seperti: semrawutnya kita berlalu lintas, berbudaya antri, sampai kepada
    tertib keuangan. Dalam kehidupan pengelolaan negara, ketidaktertiban
    dalam administrasi negara telah mengakibatkan banyak pemborosan dan
    kebocoran keuangan Negara, yang pernah ditengarai sampai sebesar 30 %.
    Akuntabilitas sungguh sulit didapat dalam proses pengelolaan kehidupan
    bernegara.

    Wajah keempat: ketidakpedulian dan sikap egois. Wajah kehidupan
    masyarakat ini muncul dalam berbagai bentuk selama kita berlalu lintas.
    Ketidakpedulian dan sikap egois, mengakibatkan sering terjadinya
    kemacetan yang amat parah. Orang saling tidak peduli, serobot sana dan
    sini, yang penting perjalanannya sendiri lancar. Sikap itupula yang
    sering muncul dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat.
    Ketidakpedulian akan kepentingan orang lain mengakibatkan orang mau
    melakukan apa saja, asalkan kepentingan diri sendiri tercukupi dan
    terlindungi. Sikap seperti ini pula yang berpotensi mendorong terjadinya
    praktek-praktek korupsi di dalam kehidupan masyarakat kita.

    Wajah kelima: pengendalian diri. Rasa ketersinggungan kita mudah
    dibangkitkan di jalan raya. Tidak jarang terjadi konflik, pertengkaran
    di jalan raya karena persoalan lalu lintas. Tidak terima jalurnya di
    serobot oleh orang lain. Ini adalah cermin bahwa kita, adalah bangsa
    yang mudah "tersulut" oleh hal-hal yang sepele. Konflik masyarakat
    bernuansa sara yang pernah terjadi di kehidupan masyarakat kita, selalu
    dimulai dengan "pertengkaran" hal-hal yang kelihatannya sepele (walaupun
    elite politik akhirnya juga ikut menunggangi konflik sektarian
    tersebut). Kita belum terbiasa menerima perbedaan, sehingga setiap
    perbedaan yang "mengancam" kepentingan diri dan kelompok, akan selalu
    disikapi dengan berlebihan. Akibatnya terjadilah konflik di masyarakat.

    Bangsa Tanpa Nilai

    Kita seolah menjadi bangsa tanpa nilai ( a nation without value). Kita
    punya nilai-nilai di dalam budaya kita, tetapi kita tidak "menghidupi
    nilai" itu dalam setiap aspek kehidupan bermasyarakat dengan bernegara.
    Nilai-nilai itu hanya sebatas ritual budaya, tanpa pendalaman. Tidak
    pernah mengakar dan berdampak. Pancasila adalah kristalisasi nilai-nilai
    luhur bangsa, tetapi tidak pernah diresapi, dihayati, dan dihidupi dalam
    hati, pikiran, dan tindakan kita sebagai bangsa. Pancasila hanya
    dimengerti dalam tataran lips servic', sehingga tidak mengubah kehidupan
    kita sebagai bangsa. Sudah puluhan tahun Penataran Pancasila pernah
    dilakukan, tetapi tidak menghasilkan suatu generasi yang handal dan
    bernilai.

    Membangun kembali karakter bangsa dalam kondisi saat ini sangatlah
    berat. Seberapapun bagusnya rencana Pembangunan yang sudah dicanangkan
    negara, tidak akan berjalan jika karakter bangsa tidak kita prioritaskan
    untuk dibangun. Kita perlu mengambil prakarsa untuk terlibat dalam
    "pembangunan karakter" bangsa ini, baik secara sistemik maupun secara
    individu. Mulai dari diri sendiri adalah modal awal. Dan terus bergerak
    meluaskan lingkar pengaruh kita ke keluarga, masyarakat, dan negara.

    Perlu digalang komunitas-komunitas baru di masyarakat yang memiliki
    kesadaran akan character building ini. Dan mensosialisasikan nilai-nilai
    unggul ini ke berbagai komunitas lain, melalui berbagai media dan
    jaringan. Media akan sangat berperan dalam mendorong terjadinya
    transformasi nilai ini kedalam kehidupan masyarakat. Menghentikan
    berbagai tayangan di media yang dapat menggerus nilai-nilai yang amat
    penting dalam "pembangunan karakter bangsa", adalah langkah yang bisa
    dilakukan oleh negara melalui: berbagai aturan yang mengikat (tanpa
    menghilangkan kebebasan pers), dan mendorong munculnya kelompok-kelompok
    di masyarakat yang melakukan kontrol dan pengawasan terhadap media.
    "Sangsi sosial" perlu digalakkan kepada media yang tidak memiliki
    tanggung jawab terhadap 'pembangunan karakter' ini.

    Negara perlu mengadakan re-campaign terhadap nilai-nilai Pancasila
    dengan selaras dengan kebutuhan untuk membangun manusia "handal" (baca:
    berkarakter) yang amat diperlukan dalam persaingan global ini.
    Re-campaign ini bukan indoktrinasi "ala orde baru", tetapi melalui
    gerakan penyadaran nilai, yang digemakan secara kontinyu, konsisten,
    terencana dengan menggunakan berbagai sarana media dan sosial. Kita
    membutuhkan pemimpin yang mampu, tegas, dan serius dalam mendorong
    terjadinya gerakan ini. Apalagi sekarang ini negara sudah mencanangkan
    "Visi Bangsa 2030". Visi ini tidak akan terwujud, tanpa perubahan mental
    dan karakter bangsa secara radikal. Kuncinya adalah: 1] konsistensi dan
    kontinuitas gerakan; 2]. Social movement atau gerakan sosial; 3] Media
    involvement atau keterlibatan media. Semoga kita mampu memulainya.

    Kalla: Siapa pun Capres Boleh Bersaing
    JAKARTA - Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla kembali membuat pernyataan mengejutkan. Menurut Kalla, calon presiden (capres) tidak ditentukan oleh asal suku. "Siapa pun capres dan dari mana pun asalnya boleh maju," tegasnya dalam diskusi Tiga Tahun SBY-JK di Hotel Nikko, Jakarta, kemarin (1/11).

    Menurut Kalla, pendapat yang mengatakan bahwa capres harus dari orang Jawa adalah diskriminatif. Itu sama sekali tidak objektif," katanya.

    Pernyataan mengejutkan ketua umum DPP Golkar itu kontan melahirkan penilaian bahwa dia sedang membela diri. Mengapa? Selama ini ada kalangan tertentu yang meragukan Kalla bisa memenangkan Pilpres 2009 kalau memisahkan diri dari duetnya dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Hal itu karena pria asal Makassar tersebut bukan suku Jawa.

    Dalam sejarah presiden RI memang belum pernah ada presiden dari suku non-Jawa. Hanya jabatan wakil presiden yang pernah diisi tokoh dari suku non-Jawa.

    Misalnya, Muhammad Hatta (Wapres semasa Bung Karno dari Sumatera Barat, Baharuddin Jusuf Habibie (salah seorang Wapres semasa Pak Harto dari Sulawesi Selatan), dan Jusuf Kalla sendiri (dari Sulawesi Selatan).

    Menurut Kalla, saat ini masyarakat Indonesia sudah memiliki pemikiran kritis. Pemikiran publik tidak lagi terkotak-kotak pada identitas kesukuan. "Saya justru dimarahi orang Jawa jika ikut-ikutan membenarkan hal itu," tambahnya.

    Bagi ketua umum DPP Golkar yang juga masuk dalam bursa capres 2009 tersebut, masyarakat saat ini telah mampu menilai kinerja setiap tokoh yang dianggapnya pantas menjadi capres pada 2009.

    Jangan dibesar-besarkan pendapat yang mengatakan bahwa mayoritas pemilih menginginkan calon dari Jawa. "Itu sama sekali tidak benar," tambahnya.

    Meski demikian, saat disinggung mengenai kepastiannya untuk terus maju sebagai capres terpilih dari Golkar, Kalla menyatakan belum memastikan sikap. Saat ini dirinya hanya ingin mengabdi secara lebih baik kepada bangsa dan masyarakat Indonesia terlebih dahulu.

    "Maju terus atau tidak dalam Pemilu 2009, bukan saya yang harus menjawab. Tetapi, parpol dan rakyat dari bangsa ini. Kalau saya sih gampang-gampang saja," katanya.

    Pada diskusi tersebut hadir analis politik dari Freedom Institute Rizal Mallarangeng dan Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) Syaiful Mujani.

    Menurut Saiful, duet SBY-JK dalam menuntaskan sisa pemerintahan memang harus jauh lebih diutamakan. "Itu penting untuk menjamin kepastian serta stabilitas politik," katanya.

    SBY dan JK diharapkan bersabar menunggu hingga selesai masa jabatan jika kemudian memutuskan maju sendiri-sendiri dalam pilpres mendatang. "Kepentingan bangsa harus lebih diutamakan," doktor lulusan Ohio State University, itu.

    Namun, menurut Saiful, pada pilpres mendatang, kans untuk menang bagi duet SBY-JK lebih besar jika tetap bertahan ketimbang harus jalan sendiri-sendiri. Lagi pula, dalam sejarah tidak ada presiden dan wakil presiden harus bersaing dalam pemilihan selanjutnya. "Itu sangat janggal dalam sistem presidensial, " tegasnya.

    Meski Saiful tidak memungkiri bahwa dalam tiga tahun terakhir pamor pemerintahan SBY-JK terus menurun, belum ada alternatif lain yang lebih baik menurut publik hingga saat ini.

    "Kunci suksesnya adalah dengan memperbaiki pertumbuhan ekonomi," tambahnya. Menurut dia, setidaknya, pertumbuhan ekonomi harus dinaikkan sampai tujuh persen hingga akhir 2008. Jika tidak mampu, kata Saiful, sulit meningkatkan pamor, terutama di Jawa dan Bali.

    Di tempat yang sama, Rizal Mallarangeng menyatakan, peluang Kalla untuk maju berdampingan dengan SBY masih sangat besar. "Peluang untuk menang juga masih sangat besar," ujarnya. Namun, Rizal mensyaratkan, sisa pemerintahan yang akan mereka jalani dua tahun mendatang harus berhasil.

    Situasi pemerintahan juga harus tetap kondusif. Situasi kondusif tersebut, lanjut Rizal, adalah terpenuhinya kebutuhan publik, terutama kondisi perekonomian yang berpihak pada kemakmuran mereka. Meski saat ini pemerintah menyatakan perekonomian telah membaik, belum ada bukti nyata hasil tersebut sampai pada mayoritas masyarakat luas.

    "Intinya SBY-Kalla harus tetap fokus terhadap kebijakan yang menyentuh kepentingan masyarakat luas," jelas pria yang akrab disapa Chelly.

    10 KESALAH PAHAMAN TENTANG SUKSES

    Kesalahpahaman 1--

    Beberapa orang tidak bisa sukses
    karena latar belakang, pendidikan, dan lain-lain.
    Padahal, setiap orang dapat meraih keberhasilan.
    Ini hanya bagaimana mereka menginginkannya, kemudian
    melakukan sesuatu untuk mencapainya.

    Kesalahpahaman 2--

    Orang-orang yang sukses tidak melakukan kesalahan.
    Padahal, orang-orang sukses itu justru melakukan kesalahan
    sebagaimana kita semua pernah lakukan Namun, mereka tidak
    melakukan kesalahan itu untuk kedua kalinya.

    Kesalahpahaman 3--

    Agar sukses, kita harus bekerja lebih dari 60 jam (70, 80, 90...)
    seminggu.
    Padahal, persoalannya bukan terletak pada lamanya anda bekerja.
    Tetapi bagaimana anda dapat melakukan sesuatu yang benar.

    Kesalahpahaman 4--

    Anda hanya bisa sukses bila bermain sesuatu dengan aturan.
    Padahal, siapakah yang membuat aturan itu? Setiap situasi
    membutuhkan cara yang berbeda. Kadang-kadang kita memang
    harus mengikuti aturan, tetapi di saat lain andalah yang
    membuat aturan itu.

    Kesalahpahaman 5--

    Jika anda selalu meminta bantuan, anda tidak sukses.
    Padahal, sukses jarang sekali terjadi di saat-saat vakum.
    Justru, dengan mengakui dan menghargai bantuan orang lain
    dapat membantu keberhasilan anda. Dan, sesungguhnya ada
    banyak sekali orang semacam itu.

    Kesalahpahaman 6--

    Diperlukan banyak keberuntungan untuk sukses.
    Padahal, hanya dibutuhkan sedikit keberuntungan. Namun,
    diperlukan banyak kerja keras, kecerdasan, pengetahuan, dan
    penerapan.

    Kesalahpahaman 7--

    Sukses adalah bila anda mendapatkan banyak uang.
    Padahal, uang hanya satu saja dari begitu banyak keuntungan yang
    diberikan oleh kesuksesan. Uang pun bukan jaminan kesuksesan anda.

    Kesalahpahaman 8--

    Sukses adalah bila semua orang mengakuinya.
    Padahal, anda mungkin dapat meraih lebih banyak orang dan pengakuan
    dari orang lain atas apa yang anda lakukan. Tetapi, meskipun hanya
    anda sendiri yang mengetahuinya, anda tetaplah sukses.

    Kesalahpahaman 9--

    Sukses adalah tujuan.
    Padahal, sukses lebih dari sekedar anda bisa meraih tujuan dan
    goal anda. Katakan bahwa anda menginginkan keberhasilan,
    maka ajukan pertanyaan "atas hal apa?"

    Kesalahpahaman 10--

    Saya sukses bila kesulitan saya berakhir.
    Padahal, anda mungkin sukses, tapi anda bukan Tuhan. Anda tetap
    harus melalui jalan yang naik turun sebagaimana anda alami
    di masa-masa lalu. Nikmati saja apa yang telah anda raih dan
    hidup setiap hari sebagaimana adanya.

    (diadaptasi dari "The Top 10 Misconceptions About Success",
    Jim M. Allen. CoachJim.com)

  • Empat Mahasiswa Indonesia Dirampok di Malaysia

    vee2

    Posted by: "ratisujarwokandi98@hotmail.com" ratisujarwokandi98@hotmail.com
    Tue Nov 6, 2007 4:00 pm (PST)
    Empat Mahasiswa Indonesia Dirampok di Malaysia

    Kuala Lumpur (ANTARA News) - Empat mahasiswa Indonesia yang menempati apartemen di kawasan Sentul, Kuala Lumpur dirampok tiga orang, Kamis dinihari selepas sahur, menyebabkan dua orang terluka dan dua notebook raib diambil perampok.

    "Perampok telah membacok tangan Hussein Fauzi sedangkan kaki saya dipukul benda keras sehingga kelinking kaki kanan patah," kata David Satria, ditemui di RS Kuala Lumpur, Kamis.

    Empat mahasiswa Indonesia yang menempati apartemen itu yakni Hussein Fauzi, Ervan, Sahid, dan Faisal. Mereka merupakan mahasiswa Cosmopoint College di Kuala Lumpur. Pada malam itu, ada tiga teman mereka menginap di antaranya David Satria dan adiknya.

    Ke tujuh mahasiswa Indonesia merupakan alumni Sekolah Indonesia di Jeddah karena orang tua mereka merupakan ekspatriat di Arab Saudi. "Orang tua kami semua sudah tahu. Mereka cemas juga. Kami pikir kuliah di Malaysia lebih aman ...eeh malah kena rampok," kata Hussein yang tangannya kena bacok sebelum dioperasi di RS Kuala Lumpur.

    baca selengkapnya di :
    http://blog- indonesian- business. blogspot. com/

    Negeri Salah Urus
    Rabu, 07/11/2007

    KEMANA pun kita pergi dan kepada siapa pun kita bicara, kita sering menemui kesulitan untuk menjawab pertanyaan sederhana berikut, Mengapa Indonesia yang dikaruniai sumber daya alam berlimpah, sebagian besar penduduknya masuk dalam kategori miskin?
    Sejumlah versi jawaban bisa kita sampaikan. Misalnya, jumlah penduduk Indonesia sangat besar dan menempati banyak pulau sehingga mempersulit mobilitas dan koordinasi sumber daya nasional. Pertambahan jumlah penduduk Indonesia setiap tahunnya sekitar 4 juta jiwa, sama dengan jumlah penduduk Singapura.Tentu tidak adil membandingkan Singapura, sebagai negara kota,dengan Indonesia.
    Versi jawaban lain menyangkut soal keberagaman penduduk dari segi suku, agama, bahasa, adat istiadat, dan sebagainya. Keberagaman ini di satu sisi memang merupakan kekayaan, di sisi lain merupakan beban karena membangun sinergi dalam konteks kebhinnekaan membutuhkan energi sosial yang lebih besar.
    Jepang dan Korea Selatan tidak menghadapi persoalan ini karena masyarakatnya sangat homogen. Ada yang mengaitkan jawaban dengan usia dan evolusi suatu negara-bangsa. Indonesia masih berusia muda sehingga masih membutuhkan waktu untuk melakukan eksperimentasi model pembangunan dan kontrak sosial masyarakatnya. Jadi, jangan dibandingkan dengan Eropa atau Amerika Serikat, yang telah mengalami periode pendewasaan ratusan tahun.
    Masih banyak jawaban yang bisa diberikan. Tak perlu canggung, bila perlu kita mengutip pandangan tokoh-tokoh besar ilmu sosial. Misalnya, suatu bangsa miskin karena modal sosialnya rendah (Douglass North, Francis Fukuyama), etos kerja dan disiplinnya rendah (Max Weber, Gunnar Myrdal), mengalami defisit demokrasi dan kebebasan memilih (Von Hayek, Milton Friedman,Amartya Sen),dan seterusnya.
    Bila yang ditanya seorang ahli filsafat, maka mungkin muncul jawaban, kita terbelakang karena belum mengalami fase pencerahan (aufklarung) . Bangsa-bangsa lain lebih menekankan logos, sementara kita masih berkutat dalam alam mitos. Jangan lupa, Eropa mengalami masa kebangkitan pada abad pertengahan karena keberanian masyarakatnya untuk berpikir bebas. Sapere aude (beranilah berpikir)!
    Bila ahli ilmu ekonomi yang ditanya,mungkin dari banyak kemungkinan, jawaban yang disampaikan adalah model pembangunan ekonomi yang salah. Model pembangunan yang kita anut, yang telah melahirkan ketimpangan tajam antara yang kaya dan miskin,ternyata seperti mengulang kesalahan yang terjadi di Amerika Latin. Kita semua tahu, negara-negara Amerika Latin, yang telah ratusan tahun mempraktikkan model pembangunan propasar bebas, masih tetap menghadapi persoalan kemiskinan yang parah.
    Beberapa di antaranya bahkan menjadi pasien langganan (repeated patient) dari Dana Moneter Internasional (IMF). Dari belahan bumi ini pula muncul pemimpin-pemimpin baru yang sekarang menjadi pujaan banyak kaum muda, Hugo Chavez di Venezuela dan Evo Morales di Bolivia. Para ahli manajemen juga memiliki pandangan berbeda. Bagi Peter Drucker, tokoh manajemen modern,negara miskin lebih tepat disebut sebagai negara salah urus (mismanaged country).
    Siklus manajemen, dari perencanaan sampai kontrol, semuanya amburadul. Perencanaan penuh penggelembungan (mark-up) dan ilusi, kontrol penuh basa-basi. Karena salah urus terus-menerus inilah Pertamina hanya menguasai sekitar 8% ladang minyak di Indonesia, sisanya digarap asing.Kontrak Freeport diperpanjang 50 tahun dengan kondisi kontrak yang merugikan bangsa.
    Blok Cepu,yang kaya cadangan minyak itu, jatuh ke tangan Exxon.Tanker Pertamina dijual lagi setelah dengan susah payah dibeli. Setengah bodoh,setengah salah urus, dan setengah sengaja—ekonomi nasional juga dirontokkan oleh terapi salah dari IMF. Bankbank ditutup saat kondisi sedang tidak menguntungkan. Bank-bank rekapitalisasi dijual dengan harga murah.
    Ketika beban utang akibat krisis menumpuk dan para pentolan IMF ternyata berada di balik investor yang memborong aset-aset nasional, kita cuma bisa bersilaturahmi melupakan dosa masa lalu. Karena salah urus,dalam industri automotif kita hanya bangga dengan sebutan ”binatang”pada merek- merek yang beredar, seperti Kijang (Toyota), Kuda (Mitsubishi) , Panther (Isuzu).
    Karena salah urus, provinsi yang kaya sumber daya alam, seperti Aceh, Riau dan Papua, justru memiliki jumlah penduduk miskin yang besar.Karena salah urus pulalah struktur ekspor kita setelah lebih dari 60 tahun merdeka masih tetap sama dengan pada zaman Belanda, industri ekstraktif dan perkebunan. Sebutan ”Macan Asia” yang pernah kita sandang juga lepas karena pada saat krisis ternyata kita jinak seperti kucing.
    Pada saat ”naga” (China) bergerak dan ”gajah” (India) menari, sayap ”garuda” (Indonesia) ternyata letih dan terbebani. Kita masih terus menyebut masalah yang sama terusmenerus: korupsi, salah urus, ekonomi biaya tinggi. Sudah sedemikian jauhkah salah urus terus-menerus mendera kita?
    Apakah tawaran solusi perbaikan tata kelola (good governance) dianggap terlalu memakan waktu dan menguras kesabaran kita? Haruskah suatu kebangkitan bangsa selalu dimulai dengan revolusi sosial? Masih banyak lagi pertanyaan yang harus kita renungkan. Persyaratan apakah yang belum kita penuhi untuk menjadi bangsa yang besar?
    Orang Amerika selalu bangga karena memiliki Abraham Lincoln yang berkorban nyawa untuk memerangi diskriminasi. Mao Zedong melakukan longmarch dari desa ke desa untuk mengepung komprador Chiang Kai Sek dan kroninya. Siapakah di antara kita yang bersedia mati untuk menentang kedunguan-kedunguan kita sebagai bangsa?
    *** * Penulis, Direktur Program Pascasarjana IBII, Jakarta.

    malaysia doyan caplok Pulau milik negara tetangga
    Posted by: "mohammad priadharma" mpriadharma@yahoo.com mpriadharma
    Tue Nov 6, 2007 6:19 pm (PST)

    Reuter Memberitakan bahwa Hari Selasa tanggal 6 November 2007(atau Rabu Dini hari waktu Indonesia) , mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda melakukan dengar pendapat mengenai SENGKETA 3 PULAU antara Malaysia dan Singapore.

    Singapore memprotes sikap Malaysia yang,secara sepihak meng-klaim 3 gugusan Pulau di sebelah Timur Singapura atau selatan Negara bagian Johor Malaysia.

    Secara sepihak , malaysia mencantumkan 3 gugusan pulau yg berbatasan dengan kepulauan Batam tersebut ke dalam wilayah malaysia.

    Singapura mengajukan fakta-fakta secara historis bahwa 3 pulau tersebut adalah bekas jajahan Inggris di tahun 1950an. namun SEPERTI BIASA malaysia mengajukan fakta alibi bahwa secara geografis letak ketiga pulau tersebut lebih dekat ke Johor ketimbang singapura , alasan ini juga yang DIGUNAKAN malaysia ketika bersengketa dengan Indonesia mengenai Sipadan dan Ligitan, yaitu kedua pulai tersebut lebih dekat ke wilayah Malaysia ketimbang ke Nunukan , Kaltim

    namun pada akhirnya Pihak mahkamah Internasional memenangkan sengketa sipadan-ligitan bukan berdasarkan alibi yg diajukan kedua pihak, tetapi fakta-fakta yg sulit diterima secara akal sehat, seperti Malaysia dianggap Mahkamah Internasional lebih sering menggunakan pulau tersebut dan telah membangun (secara sepihak, saat masih dalam sengketa) sarana dan prasarana pariwisata di kedua pulau tersebut

    sengketa sipadan - ligitan dan pulau-pulau lain diakibatkan oleh arogansi pemerintah malaysia menerbitkan peta wilayah terittorial negara tersebut tahun 1979.

    pada tahun 1986 Presiden RI waktu itu Soeharto, bertemu Perdana Menteri Mahathir Mohammad untuk membahas klaim Malaysia atas sipadan-ligitan. Pak Harto berhasil membuat kasus ini dalam status ditunda sementara sampai kedua pihak selesai mengumpulkan bukti-bukti otentik dan Lobi diplomatik Indonesia di masa Pak Harto lumayan kuat dengan berhasil digagalkannya agenda sengketa sipadan-ligitan yang berkali-kali diajukan malaysia ke mahkamah internasional.

    namun sayang, perjuangan para duta diplomatik yang dikomandoi oleh Prof Dr.Mochtar Kusumaatmaja, Dkk akhirnya sia-sia dengan lepasnya sipadan-ligitan tahun 2005.

    MERASA DI ATAS ANGIN, Malaysia kembali bermain api dengan mengajukan klaim atas Blok Ambalat tahun 2006. walaupun sudah reda, namun tidak menutup kemungkinan klaim ambalat akan digulirkan lagi oleh Negeri Jiran ini suatu saat

    tercatat, sejak penerbitan peta teritorial tahun 1979, Malaysia telah bersengketa dengan beberapa negara tetangga seperti, Singapura, Brunei, Vietnam dan Philipina.(reuter)

    Penyakit Akibat Penumpukan Toksin

    Penyakit yang paling biasa diderita akibat penumpukan toksin dalam tubuh adalah Pilek, Flu & Bronkitis. Keracunan terus menerus dalam tubuh kita dapat mengakibatkan: Tenaga yang tidak mencukupi bagi jasmani dan rohani, sakit kepala serius, sakit tulang belakang, melemahnya daya penglihatan, menggigil, rasa lemah yang berlebihan,sakit otot, tinnitus, batuk kering dan alergi terhadap debu.
    Penumpukan toksin pada bagian bagian yang berlainan pada tubuh akan mengakibatkan penyakit penyakitlain:

    Penyakit kulit:
    Untuk menghindari kelebihan toksin didalam darah yang memperburuk keadaan, racun dalam darah akan berusaha keluar melalui kulit. Penumpukan toksin didalam kulit akan mengakibatkan jerawat, furunkel... dan lain lain.

    Alergi & Asma
    Didalam dada terdapat banyak saluran udara yang bercabang cabang. Saluran-saluran udara tersebut membentuk kantong kantong udara dibagian ujung dalam paru paru. Seandainya badan banyak mengandung toksin terutama sisa pembuangan yang bersifat asam, lapisan selaput yang tidak beraturan akan terkena paru paru dan menjadi sensitive, oleh karena itu menyebabkan selaput dipenuhi dengan kotoran yang dapat menyebabkan selaput dipenuhi dengan kotoran yang dapat menyebabkan sakit dan membengkak. Paru paru akan menjadi terlalu aktif dan mengakibatkan penumpukan lendir dalam saluran saluran. Dalam usaha menetralisir sisa sisa pembuangan yang beracun, tubuh kita akan mengeluarkan enzim. Kandungan enzim yang berlebihan biasannya mengakibatkan alergi. Apabila penderita mencoba mengeluarkan sisa pembuangan yang berlebihan akan terlihat tanda-tanda seperti asma, batuk, hidung berair, bengkak air di mata dan lain lain. Semua yang berbau akan mengakibatkan alergi asma yang parah.
    Alergi asma juga terjadi di kulit, misalnya reaksi yang disebabkan oleh suatu makanan atau gigitan serangga dan lain lain.
    Selain itu apabila sisa sisa pembuangan berusaha keluar dari lobang roma, hal tersebut akan mengakibatkan eksim, papul,.... gatal-gatal dan lain lain.

    Penyakit Hati
    Hati merupakan penyaring tubuh. Hati akan berinteraksi dan membersihkan toksin dalam tubuh. Hati yang sakit adalah seperti penyaring yang tersumbat dengan debu yang tidak dapat berfungsi dengan efektif. Hati tidak dapat berfungsi mengeluarkan empedu yang mencukupi bagi mencerna lemak dalama makanan. Lapisan lemak akan akan menumpuk disekeliling makanan sehingga lebih sulit dicerna. Apalagi bila kita memakan makanan dengan minyak yang berlebihan, hati akan dibebani dengan bahan bahan berlemak. Sedangkan empedu yang dipenuhi toksin akan mengalir kembali ke darah yang kemudian menyebabkan sakit kuning (jaundis). Toksin ini juga mungkin mengeras dan menjadi batu dalam kantong empedu.

    Penyakit Jantung & Tekanan Darah Tinggi
    Sisa sisa pembuangan didalam saluran darah akan menghambat kelancaran darah.
    Hal tersebut mengakibatkan jantung terpaksa kerja lebih keras untuk membantu perjalanan darah melalui saluran yang tersumbat. Hal tersebut menyebabkan pembesaran jantung dan selanjutnya mengakibatkan penyakit jantung. Sementara itu tekanan yang dilakukan terhadap saluran darah akan mengakibatkan tekanan darah tinggi.
    Ginjal dan sistim endokrin dalam usahanya membersihkan kotoran didalam tubuh akan merembeskan berbagai elemen kimia. Hal tersebut juga akan mengakibatkan tekanan darah semakin tinggi, Tanda tanda permulaan tekanan darah tinggi adalah pening kepala, pingsan, sesak nafas, denutan jantung yang cepat, berkeringat dan lain lain.
    Seandainya tekanan darah meningkat terlalu tinggi, salurah didalam otak mudah pecah mengakibatkan stroke

    Kantong Empedu dan Batu Ginjal
    Toksin yang menumpuk didalam kantong empedu atau buah pinggang mengeras menjadi batu (dari sebesar sebutir pasir sampai sebesar telor angsa)

    Pengerasan Saluran Darah
    Apabila sisa sisa pembuangan beracun melekat pada dinding saluran darah dan menghambat peredaran darah, saluran darah ini lama kelamaan akan mengeras dan menebal. Oleh karena itu jantung kita terpaksa bekerja lebih keras untuk memompa darah ke sel sel tubuh melalui saluran darah tersebut. Hal ini akan mengakibatkan tekanan darah tinggi, pembekuan darah, lemah jantung dan stroke

    Sakit Persendian dan Tulang Linu
    Bagian persendian tulang kita dilapisi oleh tisu tisu lembut elastis, yang diketahui sebagai tulang rawan, disamping itu persendian tulang kita merembeskan cairan yang memperlicin pergerakan tulang. Cairan ini harus cukup bersih tanpa toksin untuk menjadikan persendian kita lebih kuat. Apabila tubuh kita mengandung toksin yang bersifat asam, sendi kita akan membengkak dan bagian ujung tulang menjadi kasar dan bergerigi, tulang rawan akan mudah kering dan hancur dan akhirnya cairan endokrin akan benar benar kering, mengakibatkan tulang bergeser satu sama lain. Hal tersebut mengakibatkan sakit persendian atau atritis.
    Apabila toksin tersebut berakibat buruk terhadap otot-otot, kita akan mengalami tulang linu atau rematik

    Tumor
    Tumor diakibatkan dari sisa sisa pembuangan bertoksin yang menumpuk diberbagai tisu tubuh.

    Demam
    Demam ialah cara tubuh kita membersihkan diri sendiri. Apabila sel darah putih melawan racun didalam tubuh, tingkat metabolisme semakin cepat mengakibatkan tubuh kita demam

    Perut Kembung
    Makanan yang tidak dapat dicerna akan membusuk didalam usus menghasilkan gas yang berbau. Sebagian besar gas tersebut mengalir kembali kedalam darah yang menyebabkan kertosinan. Gas tersebut juga mungkin mengalir dari usus kedalam perut dan selanjutnya mengakibatkan sedu dan buang angin. Gas tersebut juga menghasilkan bau busuk dan rasa asam dimulut

    Kerusakan Gigi
    Kerusakan gigi atau penyakit mulut yang lainnya juga diakibatkan oleh sisa sisa pembuangan bertoksin. Sisa pembuangan tersebut melarutkan lapisan enamel dibagian luar gigi lalu merusak susunan dalam. Sehingga gusi kita semakin rusak, berdarah dan mengakibatkan semua gigi akan menjadi longgar dan tanggal.

    Sembelit
    Sembelit merupakan penyebab utama berbagai penyakit. Apabila sisa pembuangan bertoksin menumpuk pada dinding usus, usus kita akan ditutupi oleh lapisan selaput tebal dan berat. Hal tersebut menyebabkan proses pengeluaran yang membantu pencernaan semakin berkurang. Akibatnya bahan-bahan yang tidak dapat dicerna akan menyebabkan penyakit gastrousus.

    Apabila toksin semakin bertambah sehingga menyumbat saluran pengeluaran, usus kita mejadi lebih keras dan tebal, hanya sebagian kecil makanan dapat melalui usus yang sempit tersebut. Walaupun penderita tersebut membuang air besar setiap hari, namun toksin yang melapisi dinding usus tersebut sudah mulai meracuni darah. ditambah lagi dengan gas bertoxin didalam usus yang akan diserap dan disebarkan kembali sehingga menyebabkan berbagai penyakit.

    Sebagian orang menggunakan perangsang untuk menangani masalah sembelit yang kronis, namun hal itu lebih mempersulit keadaan. Pencahar bertindak merangsang dinding usus untuk mempercepat pengeluaran, namun penggunaan pencahar berlebihan akan memperlemah dinding usus. akhirnya dinding usus tidak akan berfungsi tanpa penggunaan pencahar, bahkan pencahar mungkin menggunakan air dari dalam tubuh untuk mencairkan sisa pembuangan bertoksin, sehingga menyebabkan mencret atau dehidrasi.

    Sebagian orang lagi memakai laksatif untuk mengurangi sembelit. Laksatif dapat memperlancar sisa sisa pembuangan beracun agar dapat dikeluarkan dengan lancar melalui usus. Penggunaan bahan ini mengganggu pencernaan dan menghambat penyerapan vitamin A,D dan E. Oleh karena itu, anda tidak disarankan memakai pencahar atau laksatif dalam keadaan apapun. Tubuh kita harus dibiarkan kembali ke tahap murni dan sehat agar sisa pembuangan dapat dikeluarkan secara alami.

    Terlalu Gemuk & Kurus
    Bentuk tubuh yang tidak normal biasanya berasal dari tingkat metabolisme yang berlebihan. Mereka yang berbadan gemuk mengandung lemak yang berlebihan yang penuh dengan sisa-sisa pembuangan, sementara mereka yang berbadan kurus tidak berupaya menyerap zat zat makanan dengan efektif akibat tidak dapat mencerna yang diakibatkan oleh metabolisme sisa sisa pembuangan.

    http://www.kiosusah a.com

Footer:

The content of this website belongs to a private person, blog.co.uk is not responsible for the content of this website.