Search blog.co.uk

Posts archive for: 10 December, 2007
  • " Biarkan Tuhan Mengemudikan Hidup "

    Melissa-Theuriau2

    Kita tidak pernah mempertanyakan ke mana supir bus kota yang kita tumpangi akan membawa bus-nya. Tetapi kita sering mempertanyakan Tuhan, ke mana Dia akan membawa hidup kita

    "Seorang ayah mengajak puterinya, Asa 6 tahun, mengendarai mobil menujuke sebuah museum. Sudah lama Asa menginginkannya. Si Ayah kebetulan hari itu mengambil cuti dan sengaja mengantar anaknya ke tempat yang sudah lama diimpikan Asa itu tanpa didampingi Bunda.
    Di perjalanan, tak hentinya Asa bertanya kepada si Ayah :
    "Ayah tahu tempatnya?", tanya Asa yang duduk di samping kemudi Ayah.
    "Tahu, jangan kuatir ...", jawab Ayah sembari tersenyum.
    "Emang Ayah tahu jalan-jalannya?"
    "Tahu, jangan kuatir ..."
    "Benar, tidak kesasar Ayah?"
    "Benar, jangan kuatir ...", jawab Ayah tetap dengan sabar.
    "Nanti kalau Asa haus, bagaimana?"
    "Tenang, nanti Ayah beli air mineral ..."
    "Terus kalau lapar?"
    "Tenang, Ayah ajak mampir Asa ke restoran ..."
    "Emang ayah tahu tempat restorannya?"
    "Tahu, sayang ."Emang ayah bawa cukup uang?"
    "Cukup, sayang ...""Kalau Asa pengin ke kamar kecil?"
    "Ayah antar sampai depan pintu toilet wanita ..."
    "Emang di musium ada toiletnya?"
    "Ada, jangan kuatir ...""Ayah bawa tissue juga?"
    "Bawa, jangan kuatir ...", kata ayah sembari membelokkan mobilnya masuk jalan tikus, karena macet.
    "Kok Ayah belok ke jalan jelek dan sempit begini?"
    "Ayah cari jalan yang lebih cepat supaya Asa bisa menikmati museum lebih lama nanti . "

    Tidak berapa lama, Asa kemudian tidak bertanya-tanya lagi. Giliran sang Ayah yang bingung, "Kenapa Asa diam, sayang?"
    "Ya, Asa percaya Ayah deh! Ayah pastitahu, akan antar dan bantu Asa nanti!"

    Kita ini seperti Asa si anak kecil ini. Kita bertanya banyak hal mengenai apa yang kita hadapi dan terjadi dalam hidup kita. Terlalu banyak khawatir apa yang akan kita hadapi.Padahal sesungguhnya Tuhan "sedang mengemudi" buat kita semua.

    Kadang Ia membawa ke "gang sempit" yang barangkali tidak enak, tetapi itu semua untuk menghindari "kemacetan" di jalan yang lain. Kadang Ia memperlambat "kendaraan-Nya", kadang mempercepat. Semuanya ada maksudnya. Ada baiknya kalau kita menyerahkan hal-hal yang di luar jangkauan kita kepada-Nya. Biarkan Dia berkarya atas hidup Anda, biarkan Dia mengemudikan hidup Anda, sebaliknya fokuskan hidup Anda kepada hal-hal yang Anda bisa kerjakan di depan mata, dengan berkat kemampuan yang Anda sudah miliki.

    Before You Trust Yourself,...

    You Will Not Trust Your Future."

    Kuba Serang Balik Bush, Dengan Menyebut Bush `Polisi Ugal-ugalan`

    PBB, New York (ANTARA News) - Menteri Luar Negeri Kuba, Felipe Perez Roque, menyerang-balik Presiden AS George W. Bush, Rabu, dengan mengatakan Bush adalah polisi global yang ugal-ugalan dan membuat keamanan dunia jadi terancam.

    Sehari setelah ia meninggalkan ruang Sidang Majelis Umum PBB ketika Bush merujuk kepada Presiden Kuba, yang belum sehat, Fidel Castro, sebagai seorang "diktator kejam" yang kekuasaannya mendekati akhir, utusan Kuba menyatakan Presiden AS tak memiliki hak untuk menuntut perubahan rejim di negara berdaulat melalui perang dan sanksi.

    "Itu adalah pertunjukan yang memalukan, fikiran tak waras seorang polisi dunia, mabuknya kekuatan imperial, yang ditaburi sifat sedang-sedang saja dan sinisme," kata Perez Roque mengenai pidato Bush, Senin.

    Bush mencerca Iran, Korea Utara, Kuba, Myanmar dan negara lain karena "menginjak-injak" hak asasi rakyat mereka.

    Ia mengatakan PBB "harus mendesak bagi terwujudnya" kebebasan berbicara dan pemilihan umum di Kuba, sementara negara yang dikuasai Komunis itu memasuki masa peralihan setelah Castro menyerahkan kekuasaan kepada adiknya, Raul, pada 31 Juli 2006.

    Perez Roque menyatakan Bush tak memiliki hak untuk berbicara mengenai demokrasi karena ia memangku jabatan melalui kecurangan dan penipuan dalam pemilihan umum kontroversial pada 2000.

    "Kita mestinya melewati kehadirannya kemarin dan mestinya mendengarkan Presiden Al Gore berbicara mengenai perubahan iklim dan resiko terhadap spesies kita," kata Menteri Kuba tersebut, seperti dilaporkan Reuters.

    Perez Roque menyalahkan Bush atas kematian 600.000 warga sipil dalam perang Irak dan mengatakan Presiden AS itu tak memiliki dasar moral untuk berbicara mengenai hak asasi manusia di negara lain setelah ia mensahkan penggunaan penyiksaan terhadap tahanan di pangkalan Angkatan Laut Guantanmo dan penjara Abu Ghraib di Irak.

    "Ia telah menjadi politikus paling ugal-ugalan dan egois yang pernah kita saksikan," katanya mengenai Bush. "Ia mesti bertanggung- jawab kepada dunia atas semua kejahatannya. "

    Perez Roque memulai pernyataannya dengan berbicara atas nama 116 negara berkembang Gerakan Non-Blok, yang saat ini diketuai oleh Kuba.

    Ia menyatakan ancaman terbesar terhadap perdamaian dunia hari ini adalah penggunaan dalih seperti perang melawan teror atau dorongan demokrasi yang banyak dikumandangkan untuk menyerang negara yang dicap sebagai "negara merah" oleh segelintir negara maju*

    ++++
    http://www.granma. cu/ingles/ 2007/septiembre/ mier26/Nicaragua -supports- Cuba-in-the- face-of-US- attacks.html

    Havana. September 26, 2007

    Nicaragua supports Cuba in the face of U.S. attacks

    NEW YORK, September 25 (PL).— President Daniel Ortega of Nicaragua supported Cuba today after attacks by U.S. President George Bush at the United Nations and denounced the "brutal and inhumane" blockade imposed by Washington.

    President Daniel Ortega of NicaraguaDuring his speech at the opening of the 62nd session of the UN General Assembly, the Sandinista leader indicated that Bush showed "a total lack of respect" in talking about Cuba while representing a system that had attempted to assassinate Cuban President Fidel Castro.

    "They (Washington) have insisted on imposing the blockade against Cuba, while, for political and economic reasons, they have established links with other countries with which they supposedly disagree ideologically, " he added.

    At the beginning of his speech, the Nicaraguan leader recalled the victims of the economic, commercial and financial restrictions unilaterally imposed by the United States for more than 40 years.

    Ortega likewise exposed the aggression in every shape and form suffered by the "heroic and noble Cuban people."

    The Nicaraguan president also recalled during his comments the five Cuban men imprisoned in the United States since 1998 for opposing terrorism.

    "I want to remember the five Cuban heroes imprisoned within the empire," the leader said in his speech during which he also castigated global imperialist capitalism and accused the U.S. government of representing the worst dictatorship in the history of humanity.

    Sihir Orlando Magic

    Stan Van Gundy tersenyum. Sihir Orlando Magic masih bertuah. Mereka kokoh berada di papan atas Wilayah Timur NBA. Senyum Van Gundy makin mengembang setelah mengalahkan mantan klubnya, Miami Heat, 120-99.

    “Anda bisa melihat pengetahuanku soal permainan Dwyane Wade. Kita harus melimit skornya,” kata Van Gundy, yang melatih Wade di tahun rookie bintang Miami tersebut.

    Wade mencetak 32 poin, Shaquille O’ Neal menyumbang 20 angka, dan Ricky Davis menciptakan 23 angka. Tapi, itu tak cukup bagi Miami untuk menang.

    Hedo Turkoglu memimpin Magic dengan 27 angka ditambah Rashard Lewis 19 poin dan Dwight Howard membuat 17 angka sehingga membuat Orlando bersinar.

    Kemenangan itu lebih berarti bagi Van Gundy sebab Sabtu malam itu ia melakoni gim ke-200 NBA sebagai pelatih, apalagi dilalui dengan mengalahkan mentornya, Pat Riley. Riley turun gunung menggantikan SVG sebagai pelatih Miami, Desember 2005.

    “Dia melakukan tugas dengan baik. Aku tak terkejut atas hasil yang dia peroleh karena melihat bagaimana dia secara personel mengembangkan sistem,” kata Riley.

    Keduanya sudah saling mengenal dalam soal defense, tapi dari penyerangan Magic diuntungkan dengan pemahaman Van Gundy tentang tim lawan yang pernah ditanganinya.

    Tembakan Jitu

    “Mereka adalah satu tim terbaik di liga dalam soal tembakan. Hidup-mati mereka adalah melakukan tembakan dari luar,” ujar Wade.

    Meski memiliki Dwight Howard, yang piawai bermain di post, Magic tetap mengandalkan mencetak angka dari tembakan-tembakan jitu.

    “Mereka memiliki pemain yang diperlukan untuk gaya bermain mereka sendiri, seperti Phoenix Suns,” tutur Wade.

    Shaquille O’Neal, yang mengawali karier NBA bersama Orlando dan membawa klub ini menuju final NBA, memang bisa mengurangi kebenderangan Dwight Howard, tapi ia harus bekerja keras mengimbangi kecepatan Howard.

    “Siapa pun yang dimainkan, kami pasti memiliki mismatch. Karena itu kami harus mencari keuntungan. Malam ini berbeda, sebab Shaq tak banyak berlari dan Dwight berlari lebih bagus dibanding kami semua. So, kami mengambil keuntungan dari serangannya dan selalu bermain melewatinya,” ujar Turkoglu, yang mencetak lima dari tujuh kesempatan tembakan tiga angka.

    “Kami hanya ingin mempertahankan kemenangan. Aku selalu bilang, jika Anda mulai menganggap sebuah pertandingan lebih penting dari pertandingan lain, Anda akan menemui kesulitan pada akhirnya,” kata Van Gundy.

    Van Gundy benar. Magic harus selalu bersiap menghadapi pertarungan. “Ada 82 gim dan Anda harus bermain setiap malam,” ucapnya.

    Orlando tak boleh merasa jago. Perjalanan menuju babak play-off masih amat panjang. Perlu stamina dan ketangguhan untuk menjaga sihir Magic agar tetap ampuh sepanjang malam. (Roosyudhi Priyanto)

    Kunci LeBron

    Kuncilah LeBron. Itulah yang harus dilakukan Detroit Pistons saat menjamu Cleveland Cavaliers di Detroit, Kamis (29/11) pagi. Pertandingan sengit ini akan disiarkan langsung Vision 1.

    Reputasi Cavaliers dan Pistons tak usah diragukan. Kedua tim punya materi pemain papan atas. Tengoklah Cavaliers, yang memiliki LeBron James. James saat ini adalah top scorer liga dengan rataan 31,4 poin per gim. ”LeBron adalah pemain fenomenal. Ia sangat memudahkan kami,” ungkap Mike Brown, pelatih Cav’s, kepada AP.

    Namun, faktanya Cavaliers agak terseok di awal musim. Kendala point guard yang cedera membuat Mike Brown memikirkan pembelian atau barter. Point guard yang diincar adalah Andre Miller (76ers). “LeBron ingin mendapatkan suplai dari point guard yang fresh,” kata Brown.

    Sayang, mendatangkan Miller tak secepat membalikkan telapak tangan. Memasang shooter Daniel Gibson sebagai point guard jelas akan memudahkan tugas Chauncey Billups. Ya, point guard Pistons itu akan match-up dengan Gibson. Di posisi ini Pistons masih unggul.

    Pada posisi shooting guard, gun shot Richard "Rip" Hamilton di dalam perimeter akan merepotkan Sasha Pavlovic. Pistons memegang kendali di posisi guard.

    Bagaimana di posisi forward? Skor akan 1-1 sebab Cavaliers menang di small forward yang dihuni James, tapi kalah di posisi power forward. Pistons punya banyak stok, tapi Rasheed Wallace (Pistons) akan setia mengawal Drew Gooden.

    Di posisi center, Zydrunas Ilgauskas akan merepotkan Antonio McDyess atau siapa pun center yang dipasang Pistons. Skor 3-2 berdasarkan posisi memang menempatkan Pistons di atas angin memenangi gim ini.

    Angin bisa berubah arah jika LeBron tampil istimewa. Sayangnya defender LeBron kali ini adalah bulldog Tayshaun Prince. Prince akan mengawal ke mana saja dan meminimalkan perolehan angka King James. (eko)

    PRAKIRAAN STARTER
    ---------------------------------------
    CLEVELAND
    Daniel Gibson (PG)
    Sasha Pavlovic (SG)
    LeBron James (SF)
    Drew Gooden (PF)
    Zydrunas Ilgauskas (C)
    DETROIT
    Chauncey Billups (PG)
    Richard Hamilton (SG)
    Tayshaun Prince (SF)
    Rasheed Wallace (PF)
    Antonio McDyess (C)

    Tayangan Langsung NBA
    Sepekan Dua Pertandingan

    Penggemar basket NBA di Indonesia kini bisa menikmati pertandingan prime time secara langsung. Setiap Kamis dan Minggu pagi, aksi pebasket dari seluruh dunia bisa dinikmati di Vision 1 bagi yang berlangganan Indovision. Tayangan alternatif NBA di televisi berbayar bisa juga diakses di ESPN setiap Sabtu pagi.

    ”Ini bagian dari komitmen Vision 1, yang menjadikan saluran ini sebagai saluran olahraga. Kami kini tak lagi melulu menayangkan sepakbola. Selain sepakbola, kini bisa dinikmati juga bola basket NBA dan bulutangkis,” ungkap Ahmad N. Rusdy, pengarah acara tayangan NBA, Minggu (25/11) di Jakarta.

    Program NBA memang termasuk baru di Vision 1. Namun, dari jadwal yang diperoleh BOLA sampai April 2008, hampir semua penampilan tim NBA akan bisa dinikmati di Tanah Air.

    ”Kami melihat bola basket menjadi salah satu daya tarik di Indonesia. Karena itulah penampilan para pebasket terbaik itu kami coba sajikan di layar kaca,” ungkap Nanang, panggilan akrabnya.

    Karena ditayangkan di saluran berlangganan, momentum hiburan maupun seremonial didahulukan. Tujuannya adalah memuaskan penonton. Suasana pengenalan pemain, time-out, jeda paruh waktu, cheerleaders, hingga cuplikan momen-momen penting tak lagi dilewatkan.

    ”Tujuannya adalah memuaskan penonton. Semoga mereka pun mendapat tambahan pengetahuan dari momen-momen itu,” tambah Nanang, yang hobi bermain sepakbola.

    Liga Kobatama
    Pelajaran Berharga Analisa

    Analisa Medan beroleh pelajaran berharga ketika menjadi tuan rumah seri pertama Liga Kobatama, 23-25 November di GOR Angkasapura. Pelajaran itu mereka terima dari Muba Hangtuah di pertandingan terakhir, Minggu. Ruben da Silva dkk. kalah 70-85.

    “Anak-anak sudah berusaha sekuat tenaga. Seluruh kemampuan dikeluarkan, tetapi lawan memang lebih bagus dan berpengalaman,” kata Henry Wijaya, manajer tim Analisa.

    Pengendalian emosi menjadi kendala bagi Analisa, pendatang baru Kobatama. Jebloknya stamina serta kurangnya kontrol emosi membuat Muba mampu mengalahkan pasukan asuhan pelatih Agus Salim ini.

    Emosi tinggi ini membuat kemenangan yang sudah di depan mata akhirnya sirna. Analisa gagal mendulang kemenangan kedua. Sebelumnya tuan rumah menundukkan Bogor Raya dan tumbang dari Rajawali Jakarta, sesama pendatang baru Liga Kobatama.

    “Mereka tidak sabar, emosi meledak-ledak. Kelemahan lawan inilah yang kami manfaatkan hingga mampu meraih kemenangan,” tutur Ocky Tamtelahitu, pelatih Muba Hangtuah.

    Soal kesabaran, Muba Hangtuah pantas diacungi jempol. Meski beberapa kali dirugikan keputusan wasit, emosi mereka tetap terkendali.

    Muba berhasil menyapu bersih tiga partai mereka di Medan. Sebelumnya PIMNAD dikalahkan 56-70 dan Aliansi Biangbola ditekuk 82-57.

    “Sejak awal saya selalu menargetkan anak-anak bermain bagus dan memenangkan pertandingan,” kata Ocky, mantan guard tim nasional.

    Dua Kemenangan

    Tiga kemenangan awal tak membuat Muba besar kepala. Perjalanan menuju jenjang juara Kobatama masih panjang dan berliku.

    “Target kami adalah menuju babak final four,” kata manajer tim, Ferry Jufri. Muba adalah peringkat ketiga dalam Turnamen Kobatama di bawah Stadium Jakarta dan PIMNAD. Empat tim terbaik hasil dari lima seri akan tampil di babak final four. Di babak empat besar ini mereka akan bertarung setengah kompetisi memperebutkan dua tempat di level grand final.

    Finalis turnamen Kobatama 2007 Piala Fauzi Bowo, PIMNAD, memetik dua kemenangan atas Bogor Raya dan Rajawali Jakarta. Satu-satunya kekalahan diperoleh dari Muba.

    ”Kami bersyukur bisa memetik dua kemenangan di Medan. Secara umum putaran pertama berlangsung ketat. Kekalahan di gim pertama melawan Muba karena mereka lebih siap. Sementara itu, saat menghadapi Rajawali kami memetik kemenangan setelah berjuang habis-habisan,” ungkap Lukman Hasibuan, pelatih PIMNAD, Minggu (25/11).

    Seri berikut akan berlangsung di Surabaya, 30 November-2 Desember, dengan enam peserta berbeda dari Grup B termasuk di dalamnya adalah juara bertahan Stadium. (Marwis Umsa)

    LIGA KOBATAMA
    -------------------------------
    Grup A
    PIMNAD
    Muba Hangtuah
    Aliansi Biangbola
    Rajawali Jakarta
    Analisa Medan
    Bogor Raya
    Grup B
    Stadium Jakarta
    Scorpio Jakarta
    Halim Kediri
    Cahaya Patria GS Surabaya
    Pacific Caesar Surabaya
    Utama Yogyakarta

    JADWAL
    --------------------
    1. Medan, 23-25 November (Grup A)
    2. Surabaya, 30 November-2 Desember (Grup B)
    3. Jakarta, 12-16 Desember (Grup A dan B)
    4. Palembang, 4-6 Januari 2008 (Grup A)
    5. Yogyakarta, 16-20 Januari 2008 (Grup A dan B)
    Final Four, Belum Ditentukan 30 Jan. – 3 Feb. 2008

    Seri 1
    Jumat, 23 November
    14:00 : Aliansi Biangbola vs Rajawali
    16:00 : PIMNAD vs Muba Hangtuah
    18:00 : Analisa vs Bogor Raya
    Sabtu, 24 November
    14:00 : PIMNAD vs Bogor Raya
    16:00 : Muba Hangtuah vs Aliansi Biangbola
    18:00 : Rajawali vs Analisa
    Minggu, 25 November
    14:00 : Aliansi Biangbola vs Bogor Raya
    16:00 : PIMNAD vs Rajawali
    18:00 : Muba Hangtuah vs Analisa

  • title-3422319

    Melissa-Theuriau2
    " Biarkan Tuhan Mengemudikan Hidup "

    Kita tidak pernah mempertanyakan ke mana supir bus kota yang kita tumpangi akan membawa bus-nya. Tetapi kita sering mempertanyakan Tuhan, ke mana Dia akan membawa hidup kita

    "Seorang ayah mengajak puterinya, Asa 6 tahun, mengendarai mobil menujuke sebuah museum. Sudah lama Asa menginginkannya. Si Ayah kebetulan hari itu mengambil cuti dan sengaja mengantar anaknya ke tempat yang sudah lama diimpikan Asa itu tanpa didampingi Bunda.
    Di perjalanan, tak hentinya Asa bertanya kepada si Ayah :
    "Ayah tahu tempatnya?", tanya Asa yang duduk di samping kemudi Ayah.
    "Tahu, jangan kuatir ...", jawab Ayah sembari tersenyum.
    "Emang Ayah tahu jalan-jalannya?"
    "Tahu, jangan kuatir ..."
    "Benar, tidak kesasar Ayah?"
    "Benar, jangan kuatir ...", jawab Ayah tetap dengan sabar.
    "Nanti kalau Asa haus, bagaimana?"
    "Tenang, nanti Ayah beli air mineral ..."
    "Terus kalau lapar?"
    "Tenang, Ayah ajak mampir Asa ke restoran ..."
    "Emang ayah tahu tempat restorannya?"
    "Tahu, sayang ."Emang ayah bawa cukup uang?"
    "Cukup, sayang ...""Kalau Asa pengin ke kamar kecil?"
    "Ayah antar sampai depan pintu toilet wanita ..."
    "Emang di musium ada toiletnya?"
    "Ada, jangan kuatir ...""Ayah bawa tissue juga?"
    "Bawa, jangan kuatir ...", kata ayah sembari membelokkan mobilnya masuk jalan tikus, karena macet.
    "Kok Ayah belok ke jalan jelek dan sempit begini?"
    "Ayah cari jalan yang lebih cepat supaya Asa bisa menikmati museum lebih lama nanti . "

    Tidak berapa lama, Asa kemudian tidak bertanya-tanya lagi. Giliran sang Ayah yang bingung, "Kenapa Asa diam, sayang?"
    "Ya, Asa percaya Ayah deh! Ayah pastitahu, akan antar dan bantu Asa nanti!"

    Kita ini seperti Asa si anak kecil ini. Kita bertanya banyak hal mengenai apa yang kita hadapi dan terjadi dalam hidup kita. Terlalu banyak khawatir apa yang akan kita hadapi.Padahal sesungguhnya Tuhan "sedang mengemudi" buat kita semua.

    Kadang Ia membawa ke "gang sempit" yang barangkali tidak enak, tetapi itu semua untuk menghindari "kemacetan" di jalan yang lain. Kadang Ia memperlambat "kendaraan-Nya", kadang mempercepat. Semuanya ada maksudnya. Ada baiknya kalau kita menyerahkan hal-hal yang di luar jangkauan kita kepada-Nya. Biarkan Dia berkarya atas hidup Anda, biarkan Dia mengemudikan hidup Anda, sebaliknya fokuskan hidup Anda kepada hal-hal yang Anda bisa kerjakan di depan mata, dengan berkat kemampuan yang Anda sudah miliki.

    Before You Trust Yourself,...

    You Will Not Trust Your Future."

    Kuba Serang Balik Bush, Dengan Menyebut Bush `Polisi Ugal-ugalan`

    PBB, New York (ANTARA News) - Menteri Luar Negeri Kuba, Felipe Perez Roque, menyerang-balik Presiden AS George W. Bush, Rabu, dengan mengatakan Bush adalah polisi global yang ugal-ugalan dan membuat keamanan dunia jadi terancam.

    Sehari setelah ia meninggalkan ruang Sidang Majelis Umum PBB ketika Bush merujuk kepada Presiden Kuba, yang belum sehat, Fidel Castro, sebagai seorang "diktator kejam" yang kekuasaannya mendekati akhir, utusan Kuba menyatakan Presiden AS tak memiliki hak untuk menuntut perubahan rejim di negara berdaulat melalui perang dan sanksi.

    "Itu adalah pertunjukan yang memalukan, fikiran tak waras seorang polisi dunia, mabuknya kekuatan imperial, yang ditaburi sifat sedang-sedang saja dan sinisme," kata Perez Roque mengenai pidato Bush, Senin.

    Bush mencerca Iran, Korea Utara, Kuba, Myanmar dan negara lain karena "menginjak-injak" hak asasi rakyat mereka.

    Ia mengatakan PBB "harus mendesak bagi terwujudnya" kebebasan berbicara dan pemilihan umum di Kuba, sementara negara yang dikuasai Komunis itu memasuki masa peralihan setelah Castro menyerahkan kekuasaan kepada adiknya, Raul, pada 31 Juli 2006.

    Perez Roque menyatakan Bush tak memiliki hak untuk berbicara mengenai demokrasi karena ia memangku jabatan melalui kecurangan dan penipuan dalam pemilihan umum kontroversial pada 2000.

    "Kita mestinya melewati kehadirannya kemarin dan mestinya mendengarkan Presiden Al Gore berbicara mengenai perubahan iklim dan resiko terhadap spesies kita," kata Menteri Kuba tersebut, seperti dilaporkan Reuters.

    Perez Roque menyalahkan Bush atas kematian 600.000 warga sipil dalam perang Irak dan mengatakan Presiden AS itu tak memiliki dasar moral untuk berbicara mengenai hak asasi manusia di negara lain setelah ia mensahkan penggunaan penyiksaan terhadap tahanan di pangkalan Angkatan Laut Guantanmo dan penjara Abu Ghraib di Irak.

    "Ia telah menjadi politikus paling ugal-ugalan dan egois yang pernah kita saksikan," katanya mengenai Bush. "Ia mesti bertanggung- jawab kepada dunia atas semua kejahatannya. "

    Perez Roque memulai pernyataannya dengan berbicara atas nama 116 negara berkembang Gerakan Non-Blok, yang saat ini diketuai oleh Kuba.

    Ia menyatakan ancaman terbesar terhadap perdamaian dunia hari ini adalah penggunaan dalih seperti perang melawan teror atau dorongan demokrasi yang banyak dikumandangkan untuk menyerang negara yang dicap sebagai "negara merah" oleh segelintir negara maju*

    ++++
    http://www.granma. cu/ingles/ 2007/septiembre/ mier26/Nicaragua -supports- Cuba-in-the- face-of-US- attacks.html

    Havana. September 26, 2007

    Nicaragua supports Cuba in the face of U.S. attacks

    NEW YORK, September 25 (PL).? President Daniel Ortega of Nicaragua supported Cuba today after attacks by U.S. President George Bush at the United Nations and denounced the "brutal and inhumane" blockade imposed by Washington.

    President Daniel Ortega of NicaraguaDuring his speech at the opening of the 62nd session of the UN General Assembly, the Sandinista leader indicated that Bush showed "a total lack of respect" in talking about Cuba while representing a system that had attempted to assassinate Cuban President Fidel Castro.

    "They (Washington) have insisted on imposing the blockade against Cuba, while, for political and economic reasons, they have established links with other countries with which they supposedly disagree ideologically, " he added.

    At the beginning of his speech, the Nicaraguan leader recalled the victims of the economic, commercial and financial restrictions unilaterally imposed by the United States for more than 40 years.

    Ortega likewise exposed the aggression in every shape and form suffered by the "heroic and noble Cuban people."

    The Nicaraguan president also recalled during his comments the five Cuban men imprisoned in the United States since 1998 for opposing terrorism.

    "I want to remember the five Cuban heroes imprisoned within the empire," the leader said in his speech during which he also castigated global imperialist capitalism and accused the U.S. government of representing the worst dictatorship in the history of humanity.

    Sihir Orlando Magic

    Stan Van Gundy tersenyum. Sihir Orlando Magic masih bertuah. Mereka kokoh berada di papan atas Wilayah Timur NBA. Senyum Van Gundy makin mengembang setelah mengalahkan mantan klubnya, Miami Heat, 120-99.

    ?Anda bisa melihat pengetahuanku soal permainan Dwyane Wade. Kita harus melimit skornya,? kata Van Gundy, yang melatih Wade di tahun rookie bintang Miami tersebut.

    Wade mencetak 32 poin, Shaquille O? Neal menyumbang 20 angka, dan Ricky Davis menciptakan 23 angka. Tapi, itu tak cukup bagi Miami untuk menang.

    Hedo Turkoglu memimpin Magic dengan 27 angka ditambah Rashard Lewis 19 poin dan Dwight Howard membuat 17 angka sehingga membuat Orlando bersinar.

    Kemenangan itu lebih berarti bagi Van Gundy sebab Sabtu malam itu ia melakoni gim ke-200 NBA sebagai pelatih, apalagi dilalui dengan mengalahkan mentornya, Pat Riley. Riley turun gunung menggantikan SVG sebagai pelatih Miami, Desember 2005.

    ?Dia melakukan tugas dengan baik. Aku tak terkejut atas hasil yang dia peroleh karena melihat bagaimana dia secara personel mengembangkan sistem,? kata Riley.

    Keduanya sudah saling mengenal dalam soal defense, tapi dari penyerangan Magic diuntungkan dengan pemahaman Van Gundy tentang tim lawan yang pernah ditanganinya.

    Tembakan Jitu

    ?Mereka adalah

  • Putus Cinta, Putus Harapan?

    Nice-planet4

    Ketika Putri mendadak memutuskan cintanya, Irfan berubah jadi pemurung.
    Dan ketika gadis pujaannya itu menikah diam-diam di Surabaya,
    Irfan betul-betul frustrasi. Dia tak mau makan-minum, sehingga akhirnya
    terkena tifus. Betapa ironis, ketika mantan kekasihnya tengah menikmati
    bulan madu di Bali, dia justru terbaring di rumah sakit. Lalu, apakah
    yang dapat dilakukan seorang ayah untuk menghibur anak lelakinya yang
    patah hati? Untuk membangkitkan kembali semangat juangnya yang hampir mati?
    Irfan adalah anak yang cemerlang. Sejak kecil dia selalu jadi bintang
    kelas. Namun, anak itu pendiam dan perasa. ''Kamu betul-betul menuruni
    darah Ayah. Selalu serius, mendalam, dan penuh ketulusan kalau mencintai
    perempuan. Sehingga, kalau putus cinta betul-betulterpuruk . Padahal,
    seperti kata peribahasa, dunia ini tidak sedaun kelor. Di dunia ini
    begitu banyak wanita, Nak,'' ujarku saat berbicara dari hati ke hati
    sepulangnya ia dari rumah sakit. ''Tapi tidak ada yang secantik dan
    sebaik Putri, Yah. Dia yang dulunya tak pakai kerudung, kini mulai
    belajar pakai kerudung. Tapi kenapa ketika keislamannya semakin
    sempurna, kok dia tega meninggalkan saya dan menikah dengan manajer
    perusahaan elektronik itu?''

    ''Sudahlah, Nak. Sesuatu yang lepas dari tangan kita memang selalu
    kelihatan indah. Begitu pula kalau kita kehilangan perempuan yang kita
    cintai. Mata kita tertutup bahwa di sekeliling kita masih banyak
    perempuan lain yang mungkin lebih baik dari dia.''

    ''Aku baru sekali ini jatuh cinta, Yah. Selama SMU dan kuliah, waktuku
    lebih banyak aku habiskan untuk belajar, dan organisasi ilmiah di kampus.''

    ''Ayah paham, Nak. Ayah mau buka rahasia. Sewaktu SMU dulu Ayah
    mengalami nasib yang mirip kamu. Cinta tak kesampaian, padahal Ayah
    dan Rini, nama perempuan itu, sama-sama saling mencintai.
    Bertahun-tahun Ayah nyaris frustrasi dan tak pernah mampu menghilangkan
    bayang wajahnya. Sampai kemudian, lima tahun setelah itu, Tuhan
    mempertemukan Ayah dengan ibumu. Dia wanita tercantik di Cianjur ketika
    itu. Baru lulus SMU. Banyak sekali pemuda yang mengincar ibumu.
    Entahlah, kenapa dia mau menikah dengan Ayah yang ketika itu masih
    berstatus mahasiswa dan belum punya pekerjaan, kecuali menjadi penulis
    free lance di koran. Kami menikah hanya dua minggu sejak pertama kali
    bertemu.'' Irfan termenung. Mungkin ia merenungkan kalimat demi kalimat
    yang tadi aku ucapkan.

    ''Nak, laki-laki itu ibarat buah kelapa. Makin tua, makin bersantan.
    Biarpun jelek, botak dan gendut, kalau punya kedudukan, berharta, dan
    terkenal, maka gadis-gadis muda antri untuk mendapatkannya. Untuk
    sekadar jadi teman kencan maupun istri sungguhan.''

    ''Benarkah?''

    ''Ya. Dengan modal hanya sebagai wartawan senior dan novelis top saja,
    Ayahmu ini seringkali digilai oleh perempuan-perempuan muda. Mereka
    berusaha mencuri perhatian Ayah dengan berbagai cara. Kalau Ayah tidak
    kuat iman, Ayah mungkin sering kencan dengan banyak perempuan. Kalau
    Ayah kurang sabar, Ayah mungkin beristri dua, tiga, atau bahkan empat.''

    ''Apa yang membuat Ayah bertahan?''

    ''Ibumu. Dia perempuan yang hebat. Kesabaran, ketulusan, kehangatan dan kasih
    sayangnya luar biasa. Hal itu telah ditunjukkannya saat Ayah masih belum
    punya apa-apa, belum diperhitungkan orang, bahkan dilirik sebelah mata
    pun tidak. Kami menikah dalam keadaan miskin. Bahkan cincin kawin untuk
    ibumu baru Ayah belikan lima tahun setelah pernikahan.
    Tahun-tahun pertama pernikahan, kami sering makan hanya nasi dan garam
    saja. Namun tak pernah sekalipun Ayah mendengar ibumu mengeluh atau
    menunjukkan air muka masam. Sebaliknya, Beliau selalu berusaha
    membesarkan hati Ayah. Bahwa Ayah punya potensi. Bahwa Ayah suatu hari
    nanti akan jadi orang hebat di bidang sastra maupun jurnalistik.
    Dua puluh delapan tahun perkawinan dengan ibumu sungguh merupakan
    perjalanan hidup yang amat berarti bagi Ayah. Itulah yang membuat Ayah
    tak pernah mau berpaling kepada perempuan lain. Rasanya sungguh tak
    adil, setelah menjadi orang yang terkenal dan punya uang, Ayah lalu
    mencari perempuan lain untuk membagi cinta ataupun sekadar
    bersenang-senang.''

    ''Ayah beruntung mendapatkan perempuan sebaik ibu. Tapi aku?
    Satu-satunya perempuan yang aku cintai kini telah pergi.''

    ''Jangan menyerah dulu, Nak. Cuti doktermu 'kan masih tiga hari lagi.
    Bagaimana kalau besok Ayah ajak kau jalan-jalan keliling Jakarta? Kita
    santai dan cari makan yang enak. Siapa tahu kamu bisa melupakan Putri-mu dan
    mendapatkan pengganti yang lebih baik.'' Irfan tidak langsung menjawab.
    ''Ayolah, Nak. Ayah yang akan jadi sopirmu. Kau tinggal duduk di jok
    depan. Oke?''

    Lama baru Irfan mengangguk. ''Baiklah, Ibu ikut?''

    ''Tidak. Ini urusan laki-laki, Nak,'' sahutku seraya tertawa.
    Hari pertama aku mengajak Irfan berkeliling Mal Pondok Indah. Mal yang
    terletak di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan itu selalu ramai
    dikunjungi orang-orang berduit. Hanya dalam hitungan jam kita bisa
    menyaksikan puluhan bahkan ratusan perempuan muda, cantik dan seksi,
    keluar masuk mal. Umumnya mereka mengenakan pakaian yang menonjolkan
    lekuk-lekuk fisiknya, seperti dada, udel, pantat, paha, ketiak dan
    punggungnya.

    Seusai Maghrib aku mengajak Irfan nonton film di Kartika Chandra 21 yang
    terletak kawasan Segi Tiga Emas Jakarta, tepatnya Jalan Gatot Subroto.
    Di sini banyak sekali pasangan yang datang menonton. Umumnya
    perempuan-perempuan nya mengenakan gaun malam yang seksi dan terbuka.
    Banyak juga yang memakai rok mini ataupun celana blue jean ketat di
    bawah pinggang sehingga sering kali memperlihatkan celana dalam
    pemakainya.

    Hari kedua aku mengajak Irfan pergi ke kantor sebuah bank syariah.
    ''Ayah mau setor tabungan dulu sekaligus mau buka rekening khusus zakat.
    Mau ikut masuk?'' Irfan mulanya enggan. ''Ayolah.'' Akhirnya ia mau juga
    ikut. Kami menemui salah seorang customer service officer. Laili
    namanya. ''Assalaamu'alaikum, Pak Irwan. Ada yang bisa saya bantu?''
    suaranya bening dan terkesan manja, namun tidak dibuat-buat. Balutan
    jilbab coklat itu tak mampu menyembunyikan posturnya yang semampai dan
    wajah selembut kabut. ''Wa'alaikumsalaam, Mbak Laili. Saya ingin membuka
    rekening khusus untuk zakat. Oh, ya, kenalkan ini anak sulung saya.
    Irfan. Irfan, ini Mbak Laili.'' ''Assalaamu'alaikum, Mas Irfan.''
    ''Wa'alaikumsalaam, Mbak Laili.'' ''Irfan kerja di gedung ini juga, Mbak
    Laili. Lantai 12.'' ''Oh, ya?'' Laili agak terkejut. ''Kalian pasti
    enggak pernah bertemu 'kan? Inilah penyakit zaman modern, orang-orang
    berkantor di satu gedung tapi bisa bertahun-tahun tak pernah berjumpa,''
    kataku sambil tertawa.

    Bibir tipis Laili mengukir segurat senyum. ''Soalnya Mas Irfan enggak
    pernah buka tabungan di bank syariah. Duitnya disimpan di bank
    konvensional semua ya?'' Laili punya selera humor yang bagus. Kulihat
    Irfan tersenyum kecil. ''Insya Allah saya akan buka rekening di bank
    syariah, Mbak.''

    Keluar dari bank syariah itu, aku mengajak Irfan menghadiri pameran buku
    Islam di Istora Senayan Jakarta. Pameran yang menampilkan puluhan
    penerbit Islam itu setiap hari dihadiri oleh puluhan ribu orang. Berbeda
    dengan pemandangan di Mal Pondok Indah dan KC-21, di sini kebanyakan
    perempuan muda yang datang mengenakan jilbab. Wajah mereka kelihatan
    bersih dan matanya lebih suka menunduk ketimbang jelalatan mencari
    perhatian lelaki.

    Seusai menonton pameran buku, aku mengajak Irfan mampir di Hotel Gran
    Melia, yang terletak di Jl HR Rasuna Said. Kami memesan es lemon tea dan
    pisang goreng keju. ''Oke. Mari kita bahas perjalanan dua hari kita.
    Kamu masih ingat perempuan-perempuan muda di Mal Pondok Indah dan KC-21
    kemarin?'' Dia cuma mengangguk. ''Wanita-wanita seperti itu menyenangkan
    untuk dilihat dan dibawa ke pesta-pesta, tapi belum tentu membuatmu
    bahagia. Sebaliknya perempuan-perempuan muda berjilbab yang kita
    saksikan di pameran buku Islam dan bank syariah tadi, mereka lebih
    mungkin membuatmu menjadi seorang lelaki yang dihargai dan meraih
    kebahagiaan sejati. Ayah yakin, di antara mereka itu pasti ada perempuan
    impian.''

    ''Seperti apakah perempuan impian itu, Yah?'' Aku menyeruput es lemon
    tea yang tinggal separoh. Kemudian mencomot sepotong pisang goreng keju.
    Irfan menunggu dengan tidak sabar. ''Seperti apa, Yah?''

    ''Kalau kamu bertemu dengan seorang perempuan yang berpadu pada dirinya
    kehangatan seorang Siti Khadijah, serta kemanjaan dan kecerdasan seorang
    Siti Aisyah dua di antara istri-istri Rasulullah itulah perempuan
    impian.'' ''Seandainya aku menjumpai perempuan yang seperti itu, apa
    yang harus aku lakukan?'' ''Jangan tunggu esok atau lusa. Telepon Ayah
    saat itu juga. Ayah akan segera melamarkannya untukmu, dan kau harus
    menikah dengannya paling lambat seminggu setelah itu. Jika kamu
    mendapatkan perempuan seperti itu dalam hidupmu, dunia ini kecil dan
    nyaris tak berarti. Rasul pernah berkata, bahwa seorang perempuan yang
    salehah lebih berharga dari dunia ini beserta isinya.''

    Seminggu kemudian. Aku tengah menulis sebuah ficer tentang pengoperasian
    bus way di Jakarta ketika HP-ku berdering. Dari Irfan: ''Ayah, aku sudah
    dapatkan calon istri. Seorang wanita salehah yang bisa membuatku hidup
    bahagia.'' Suaranya terdengar bersemangat. ''Oh, ya, siapa namanya?''
    ''Nantilah Ayah akan aku kenalkan.'' Berselang lima menit kemudian,
    Yanti, staf humas bank syariah menelepon. ''Assalaamu'alaikum, Pak
    Irwan. Tadi Irfan buka rekening di bank syariah. Dia mengobrol cukup
    lama dengan salah seorang customer service officer kami. Bapak pasti
    tahu yang saya maksudkan.'' Aku menutup Nokia 9210i itu. Lalu memandang
    ke luar jendela kantor. ''Alhamdulillah. Akhirnya kau temukan perempuan
    impianmu, Nak.''
    Sumber Uknown

    "Jika memilih untuk mencintai, bersiaplah untuk kehilangan, bersiaplah untuk tersakiti"

    -Teruntuk Bidadari hati yang tersayangi dari lubuk hati, Love u bidadari-

    Rahasia Bisnis Orang Jepang
    Oleh : Ann Wan Seng

    Belajar dari :
    Langkah Raksasa Sang Nippon Mengusai Dunia

    15. Kesetiaan Pekerja Jepang

    Kesetiaan pekerja Jepang pada organisasinya
    tidak berdasarkan gaji ataupun hadiah, tetapi
    berdasarkan tanggung jawab dan rasa
    memiliki.

    KEBERHASILAN JEPANG sebagai penguasa ekonomi bukan saja dibantu oleh sistem kerja yang baik secara tim, standar mutu produk, semangat Bushido, dan disiplin Samurai. Melainkan juga sikap dan karakter rakyatnya pada pekerjaan. Orang Jepang menyadari mereka memiliki banyak kekurangan, tetapi tidak menjadikannya sebagai halangan untuk bersaing dengan bangsa yang lebih hebat. Mereka menutupi semua kekurangan itu dengan belajar, meniru, dan mengaplikasikan segala pengetahuan yang didapatkannya. Bangsa Jepang tidak mudah tunduk pada kegagalan dan kekalahan. Mereka bekerja untuk keberhasilan. Menurut mereka, hanya keberhasilan yang dapat meningkatkan martabat dan harga diri mereka.

    Bangsa Jepang mampu memperbaiki suatu keadaan buruk menjadi keadaan yang lebih baik. Salah satu wilayah yang dapat dijadikan contoh adalah Hofu, di Honshu Barat. Sebelumnya, tempat itu adalah sebuah kota industri yang sangat tertinggal dengan penduduk yang padat. Kemudian, orang Jepang mampu melakukan suatu perubahan dengan kota tersebut. Saat ini, tempat itu telah menjadi kota yang maju dan makmur. Untuk melakukan hal itu, mereka bekerja lebih giat daripada biasanya. Para pekerja di kota itu bekerja siang dan malam untuk mengubah keadaan kota menjadi kota industri yang maju. Saat ini, Hofu termasuk yang terbaik dan menghasilkan 160.000 mobil dalam setahun.

    Kesetiaan pekerja Jepang pada perusahaan dan organisasinya tidak ada bandingannya. Semangat kerja mereka dapat mengubah Hofu menjadi pusat perindustrian yang terpandang di Jepang. Semua itu dicapai hanya dalam waktu sepuluh tahun. Hampir sama dengan jangka waktu yang diperlukan Jepang untuk bangkit dan kehancuran akibat perang. Para pekerja di kota itu bekerja penuh dedikasi dan mengerahkan seluruh tenaga mereka.

    Keberhasilan Hofu menjadi kota industri yang paling unggul di Jepang adalah hasil kerja keras dan gila kerja serta sikap tidak mudah putus asa para pekerjanya. “Di mana ada kemauan, di situ ada jalan” adalah pepatah yang tepat untuk menggambarkan sikap dan karakter kerja orang Jepang.

    Keberhasilan masyarakat dan organisasi dianggap sebagai keberhasilan para pekerja. Dalam pengelolaan kerja orang Jepang, para pekerja mendapat imbalan jika perusahaan mencapai keberhasilan dan mendapat keuntungan. Perusahaan Jepang memberikan pelayanan kepada para pekerjanya dan para pekerja juga menyayangi perusahaannya. Bahkan melebihi rasa sayang pada keluarganya. Selain itu, kesetiaan orang Jepang pada organisasinya tidak berdasarkan gaji ataupun hadiah, tetapi tanggung jawab dan rasa memiliki. Organisasi dan pekerja membentuk satu kesatuan. Hubungan antara organisasi dan pekerja terwujud dalam hubungan simbiosis, yaitu hubungan saling memerlukan dan bergantung satu sama lain. Para pekerja ikut merasakan jika perusahaan mengalami kegagalan. Begitu juga sebaliknya. Ketika pekerja kehilangan semangat kerja, produktivitas pun akan hilang.

    [Fakta Menarik]

    Sistem Kerja Jepang :

    • Bekerja dalam tim
    • Standar mutu produk
    • Disiplin samurai

    ___

    Awalnya Hofu dengan jumlah penduduk
    yang padat dan sangat tertinggal,
    namun akhirnya menjadi kota industri.
    ___

    “Dimana ada kemauan di situ ada jalan”
    adalah pepatah yang tepat untuk
    menggambarkan sikap dan karakter kerja
    orang Jepang
    ___

    Organisasi dan pekerja membentuk
    satu kesatuan

    Romantic countries in the world
    « on: Today at 02:39:55 AM »

    These are some of the romantic countries in the world

    H.O.L.L.A.N.D. - Hope Our Love Lasts And Never Dies.

    I.T.A.L.Y. - I Trust And Love You.

    L.I.B.Y.A. - Love Is Beautiful; You Also.

    F.R.A.N.C.E. - Friendships Remain And Never Can End.

    C.H.I.N.A. - Come Here.. I Need Affection.

    B.U.R.M.A. - Between Us, Remember Me Always.

    N.E.P.A.L. - Never Ever Part As Lovers.

    I.N.D.I.A. - I Nearly Died In Adoration.

    K.E.N.Y.A. - Keep Everything Nice, Yet Arousing.

    C.A.N.A.D.A. - Cute And Naughty Action that Developed into Attraction.

    K.O.R.E.A. - Keep Optimistic Regardless of Every Adversity.

    E.G.Y.P.T. - Everything's Great, You Pretty Thing!

    M.A.N.I.L.A. - May All Nights Inspire Love Always.

    T.H.A.I.L.A.N.D - Totally Happy. Always In Love And Never Dull.

    Perbedaan Cinta Dengan Tergila-gila

    Cinta adalah:

    Sesuatu yang dimulai dari persahabatan, yang terus berkembang tiap
    harinya. Didalamnya, ketertarikan fisik hanyalah salah satu aspek dari
    perasaan yang dibagi bersama. Sesuatu yang mengajar kita menjadi sabar
    dan merencanakan masa depan dengan percaya diri dan tak terburu-buru.
    Sesuatu yang melibatkan pengertian dan kerelaan menerima si dia beserta
    apapun kekurangannya. Ketika kedua orang yang terlibat di dalamnya bisa
    menjadi diri mereka sendiri dan merasa nyaman satu sama lain. Sesuatu
    yang melibatkan kejujuran, rasa hormat dan percaya. Di dalam cinta tak
    ada rasa curiga sehingga yang ada hanya rasa tenang dan aman. Sesuatu
    yang selalu memberi kita kekuatan dalam menghadapi apapun. Sesuatu yang
    diberikan dan diterima. Ketika kita tetap merasa dekat dengan pasangan
    kita, walau berada jauh sekali. Sesuatu yang tetap bisa seimbang dengan
    aspek hidup lainnya selain hubungan. Sesuatu dimana keduanya bisa
    menghadapi baik masa senang maupun sulit di antara mereka. Sesuatu yang
    membuat kita berpikir dan melihat lebih jauh. Singkatnya, cinta membuat
    kita menjadi orang yang lebih baik.

    Tergila-gila adalah:

    Gairah instan yang akan habis seiring dengan berjalannya waktu. Sesuatu
    yang sangat melibatkan ketertarikan. Ketika kalian bersama, yang
    diharapkan terakhir hanyalan intimitas. Sesuatu yang tidak hanya
    melibatkan rasa curiga, tapi juga tidak percaya pada pasangan, maupun
    kepada diri sendiri. Sesuatu yang membuat kita mengambil keputusan
    terburu-buru. Ketika kita selalu memiliki perasaan tak aman bahwa kita
    akan kehilangan pasangan kita suatu saat. Tak pernah puas akan pasangan
    kita, dan merasa terganggu dengan berbagai kekurangannya. Sesuatu yang
    membuat kita merasa gelisah dan stres ketika si dia tidak sedang bersama
    kita. Sesuatu yang membuat kita merasa gembira dan bersemangat, tapi
    bukan bahagia dalam arti yang sesungguhnya. Sesuatu yang bisa membuat
    kita melakukan hal-hal yang bisa kita sesali nanti, tidak seperti cinta

    Meaning of M.P
    Love Jokes? Click here to join this group

    OFFICER : WHAT IS YOUR NAME ?

    CANDIDATE : M P. SIR

    OFFICER : TELL ME PROPERLY

    CANDIDATE : MOHAN PAL SIR

    OFFICER : YOUR FATHER'S NAME ?

    CANDIDATE : M P. SIR

    OFFICER : WHAT DOSE THAT MEAN ?

    CANDIDATE : MANMOHAN PAL SIR

    OFFICER : YOUR NATIVE PLACE

    CANDIDATE : M P. SIR

    OFFICER : IS IT MADHYA PRADESH ?

    CANDIDATE : NO, MUNNUR PAL SIR

    OFFICER : WHAT IS YOUR QUALIFICATION ?

    CANDIDATE : M P. SIR

    OFFICER : (ANGRILY) WHAT IS IT ?

    CANDIDATE : METRIC PASS

    OFFICER : WHY DO YOU NEED A JOB ?

    CANDIDATE : M P. SIR

    OFFICER : AND WHAT DOSE THAT MEAN?

    CANDIDATE : MONEY PROBLEM SIR

    OFFICER : DESCRIBE YOUR PERSONALITY

    CANDIDATE : M P. SIR

    OFFICER : EXPLAIN YOURSELF CLEARLY

    CANDIDATE : MAGNANIM OUS PERSONALITY SIR

    OFFICER : THIS DISCUSSION IS NOWHERE, YOU MAY GO NOW

    CANDIDATE : M P. SIR

    OFFICER : WHAT IS IT NOW

    CANDIDATE MY PERFORMANCE. ...?

    OFFICER : M P!!!!

    CANDIDATE : WHAT IS THAT SIR?

    OFFICER : MENTALLY PUNCTURED

  • title-3421883

    Nice-planet4
    Putus Cinta, Putus Harapan?

    Ketika Putri mendadak memutuskan cintanya, Irfan berubah jadi pemurung.
    Dan ketika gadis pujaannya itu menikah diam-diam di Surabaya,
    Irfan betul-betul frustrasi. Dia tak mau makan-minum, sehingga akhirnya
    terkena tifus. Betapa ironis, ketika mantan kekasihnya tengah menikmati
    bulan madu di Bali, dia justru terbaring di rumah sakit. Lalu, apakah
    yang dapat dilakukan seorang ayah untuk menghibur anak lelakinya yang
    patah hati? Untuk membangkitkan kembali semangat juangnya yang hampir mati?
    Irfan adalah anak yang cemerlang. Sejak kecil dia selalu jadi bintang
    kelas. Namun, anak itu pendiam dan perasa. ''Kamu betul-betul menuruni
    darah Ayah. Selalu serius, mendalam, dan penuh ketulusan kalau mencintai
    perempuan. Sehingga, kalau putus cinta betul-betulterpuruk . Padahal,
    seperti kata peribahasa, dunia ini tidak sedaun kelor. Di dunia ini
    begitu banyak wanita, Nak,'' ujarku saat berbicara dari hati ke hati
    sepulangnya ia dari rumah sakit. ''Tapi tidak ada yang secantik dan
    sebaik Putri, Yah. Dia yang dulunya tak pakai kerudung, kini mulai
    belajar pakai kerudung. Tapi kenapa ketika keislamannya semakin
    sempurna, kok dia tega meninggalkan saya dan menikah dengan manajer
    perusahaan elektronik itu?''

    ''Sudahlah, Nak. Sesuatu yang lepas dari tangan kita memang selalu
    kelihatan indah. Begitu pula kalau kita kehilangan perempuan yang kita
    cintai. Mata kita tertutup bahwa di sekeliling kita masih banyak
    perempuan lain yang mungkin lebih baik dari dia.''

    ''Aku baru sekali ini jatuh cinta, Yah. Selama SMU dan kuliah, waktuku
    lebih banyak aku habiskan untuk belajar, dan organisasi ilmiah di kampus.''

    ''Ayah paham, Nak. Ayah mau buka rahasia. Sewaktu SMU dulu Ayah
    mengalami nasib yang mirip kamu. Cinta tak kesampaian, padahal Ayah
    dan Rini, nama perempuan itu, sama-sama saling mencintai.
    Bertahun-tahun Ayah nyaris frustrasi dan tak pernah mampu menghilangkan
    bayang wajahnya. Sampai kemudian, lima tahun setelah itu, Tuhan
    mempertemukan Ayah dengan ibumu. Dia wanita tercantik di Cianjur ketika
    itu. Baru lulus SMU. Banyak sekali pemuda yang mengincar ibumu.
    Entahlah, kenapa dia mau menikah dengan Ayah yang ketika itu masih
    berstatus mahasiswa dan belum punya pekerjaan, kecuali menjadi penulis
    free lance di koran. Kami menikah hanya dua minggu sejak pertama kali
    bertemu.'' Irfan termenung. Mungkin ia merenungkan kalimat demi kalimat
    yang tadi aku ucapkan.

    ''Nak, laki-laki itu ibarat buah kelapa. Makin tua, makin bersantan.
    Biarpun jelek, botak dan gendut, kalau punya kedudukan, berharta, dan
    terkenal, maka gadis-gadis muda antri untuk mendapatkannya. Untuk
    sekadar jadi teman kencan maupun istri sungguhan.''

    ''Benarkah?''

    ''Ya. Dengan modal hanya sebagai wartawan senior dan novelis top saja,
    Ayahmu ini seringkali digilai oleh perempuan-perempuan muda. Mereka
    berusaha mencuri perhatian Ayah dengan berbagai cara. Kalau Ayah tidak
    kuat iman, Ayah mungkin sering kencan dengan banyak perempuan. Kalau
    Ayah kurang sabar, Ayah mungkin beristri dua, tiga, atau bahkan empat.''

    ''Apa yang membuat Ayah bertahan?''

    ''Ibumu. Dia perempuan yang hebat. Kesabaran, ketulusan, kehangatan dan kasih
    sayangnya luar biasa. Hal itu telah ditunjukkannya saat Ayah masih belum
    punya apa-apa, belum diperhitungkan orang, bahkan dilirik sebelah mata
    pun tidak. Kami menikah dalam keadaan miskin. Bahkan cincin kawin untuk
    ibumu baru Ayah belikan lima tahun setelah pernikahan.
    Tahun-tahun pertama pernikahan, kami sering makan hanya nasi dan garam
    saja. Namun tak pernah sekalipun Ayah mendengar ibumu mengeluh atau
    menunjukkan air muka masam. Sebaliknya, Beliau selalu berusaha
    membesarkan hati Ayah. Bahwa Ayah punya potensi. Bahwa Ayah suatu hari
    nanti akan jadi orang hebat di bidang sastra maupun jurnalistik.
    Dua puluh delapan tahun perkawinan dengan ibumu sungguh merupakan
    perjalanan hidup yang amat berarti bagi Ayah. Itulah yang membuat Ayah
    tak pernah mau berpaling kepada perempuan lain. Rasanya sungguh tak
    adil, setelah menjadi orang yang terkenal dan punya uang, Ayah lalu
    mencari perempuan lain untuk membagi cinta ataupun sekadar
    bersenang-senang.''

    ''Ayah beruntung mendapatkan perempuan sebaik ibu. Tapi aku?
    Satu-satunya perempuan yang aku cintai kini telah pergi.''

    ''Jangan menyerah dulu, Nak. Cuti doktermu 'kan masih tiga hari lagi.
    Bagaimana kalau besok Ayah ajak kau jalan-jalan keliling Jakarta? Kita
    santai dan cari makan yang enak. Siapa tahu kamu bisa melupakan Putri-mu dan
    mendapatkan pengganti yang lebih baik.'' Irfan tidak langsung menjawab.
    ''Ayolah, Nak. Ayah yang akan jadi sopirmu. Kau tinggal duduk di jok
    depan. Oke?''

    Lama baru Irfan mengangguk. ''Baiklah, Ibu ikut?''

    ''Tidak. Ini urusan laki-laki, Nak,'' sahutku seraya tertawa.
    Hari pertama aku mengajak Irfan berkeliling Mal Pondok Indah. Mal yang
    terletak di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan itu selalu ramai
    dikunjungi orang-orang berduit. Hanya dalam hitungan jam kita bisa
    menyaksikan puluhan bahkan ratusan perempuan muda, cantik dan seksi,
    keluar masuk mal. Umumnya mereka mengenakan pakaian yang menonjolkan
    lekuk-lekuk fisiknya, seperti dada, udel, pantat, paha, ketiak dan
    punggungnya.

    Seusai Maghrib aku mengajak Irfan nonton film di Kartika Chandra 21 yang
    terletak kawasan Segi Tiga Emas Jakarta, tepatnya Jalan Gatot Subroto.
    Di sini banyak sekali pasangan yang datang menonton. Umumnya
    perempuan-perempuan nya mengenakan gaun malam yang seksi dan terbuka.
    Banyak juga yang memakai rok mini ataupun celana blue jean ketat di
    bawah pinggang sehingga sering kali memperlihatkan celana dalam
    pemakainya.

    Hari kedua aku mengajak Irfan pergi ke kantor sebuah bank syariah.
    ''Ayah mau setor tabungan dulu sekaligus mau buka rekening khusus zakat.
    Mau ikut masuk?'' Irfan mulanya enggan. ''Ayolah.'' Akhirnya ia mau juga
    ikut. Kami menemui salah seorang customer service officer. Laili
    namanya. ''Assalaamu'alaikum, Pak Irwan. Ada yang bisa saya bantu?''
    suaranya bening dan terkesan manja, namun tidak dibuat-buat. Balutan
    jilbab coklat itu tak mampu menyembunyikan posturnya yang semampai dan
    wajah selembut kabut. ''Wa'alaikumsalaam, Mbak Laili. Saya ingin membuka
    rekening khusus untuk zakat. Oh, ya, kenalkan ini anak sulung saya.
    Irfan. Irfan, ini Mbak Laili.'' ''Assalaamu'alaikum, Mas Irfan.''
    ''Wa'alaikumsalaam, Mbak Laili.'' ''Irfan kerja di gedung ini juga, Mbak
    Laili. Lantai 12.'' ''Oh, ya?'' Laili agak terkejut. ''Kalian pasti
    enggak pernah bertemu 'kan? Inilah penyakit zaman modern, orang-orang
    berkantor di satu gedung tapi bisa bertahun-tahun tak pernah berjumpa,''
    kataku sambil tertawa.

    Bibir tipis Laili mengukir segurat senyum. ''Soalnya Mas Irfan enggak
    pernah buka tabungan di bank syariah. Duitnya disimpan di bank
    konvensional semua ya?'' Laili punya selera humor yang bagus. Kulihat
    Irfan tersenyum kecil. ''Insya Allah saya akan buka rekening di bank
    syariah, Mbak.''

    Keluar dari bank syariah itu, aku mengajak Irfan menghadiri pameran buku
    Islam di Istora Senayan Jakarta. Pameran yang menampilkan puluhan
    penerbit Islam itu setiap hari dihadiri oleh puluhan ribu orang. Berbeda
    dengan pemandangan di Mal Pondok Indah dan KC-21, di sini kebanyakan
    perempuan muda yang datang mengenakan jilbab. Wajah mereka kelihatan
    bersih dan matanya lebih suka menunduk ketimbang jelalatan mencari
    perhatian lelaki.

    Seusai menonton pameran buku, aku mengajak Irfan mampir di Hotel Gran
    Melia, yang terletak di Jl HR Rasuna Said. Kami memesan es lemon tea dan
    pisang goreng keju. ''Oke. Mari kita bahas perjalanan dua hari kita.
    Kamu masih ingat perempuan-perempuan muda di Mal Pondok Indah dan KC-21
    kemarin?'' Dia cuma mengangguk. ''Wanita-wanita seperti itu menyenangkan
    untuk dilihat dan dibawa ke pesta-pesta, tapi belum tentu membuatmu
    bahagia. Sebaliknya perempuan-perempuan muda berjilbab yang kita
    saksikan di pameran buku Islam dan bank syariah tadi, mereka lebih
    mungkin membuatmu menjadi seorang lelaki yang dihargai dan meraih
    kebahagiaan sejati. Ayah yakin, di antara mereka itu pasti ada perempuan
    impian.''

    ''Seperti apakah perempuan impian itu, Yah?'' Aku menyeruput es lemon
    tea yang tinggal separoh. Kemudian mencomot sepotong pisang goreng keju.
    Irfan menunggu dengan tidak sabar. ''Seperti apa%2

  • Bulan Oktober 1965

    Cantik-superss
    Latar Belakang Sejarah

    Pada Bulan Oktober 1965 kaum buruh internasional mengalami salah satu kekalahan yang terbesar dalam period setelah Perang Dunia Kedua.

    Sebanyak satu juta buruh dan petani dibantai dalam kudeta militer yang diatur oleh CIA dan dipimpin oleh Jenderal Suharto. Kudeta militer ini dilakukan untuk menyingkirkan rejim burjuis Sukarno yang sedang goyah, menindas pergerakan massa di Indonesia dan mendirikan rejim militer yang brutal.

    Mantan-mantan diplomat Amerika Serikat and pejabat CIA, termasuk bekas duta besar AS untuk Indonesia dan Australia, Marshall Green, tahun ini telah mengakui bekerja sama dengan tukang-tukang jagal Suharto dalam pembunuhan ratusan ribu buruh dan petani yang dicurigai sebagai pendukung Partai Komunis Indonesia. Mereka memberikan secara perorangan nama-nama dari ribuan anggota PKI dari arsip-arsip CIA, untuk daftar-daftar bantaian angkatan bersenjata.

    Menurut Howard Federspeil, seorang ahli soal Indonesia yang sedang bekerja untuk Departemen Luar Negeri AS pada waktu kampanye anti-komunis itu: "Tak seorang pun perduli, asal saja mereka itu komunis, kalau mereka dijagal."

    Kudeta itu merupakan hasil dari sebuah operasi panjang CIA, dengan bantuan agen-agen Dinas Intelijen Rahasia Australia (ASIS), untuk melatih dan membangun angkatan bersenjata Indonesia dalam persiapan untuk sebuah rejim militer yang akan menindas aspirasi revolusioner rakyat Indonesia.

    Pada waktu kudeta militer itu, PKI merupakan partai Stalinis yang terbesar di seluruh dunia, di luar Cina dan Uni Sovyet. Anggotanya berjumlah sekitar 3.5 juta; ditambah 3 juta dari pergerakan pemudanya. PKI juga mengontrol pergerakan serikat buruh yang mempunyai 3.5 juta anggota dan pergerakan petani BTI yang mempunyai 9 juta anggota. Termasuk pergerakan wanita, organisasi penulis dan artis dan pergerakan sarjananya, PKI mempunyai lebih dari 20 juta anggota dan pendukung.

    Selama perjuangan kemerdekaan melawan Belanda di tahun empatpuluhan dan sepanjang tahun limapuluhan dan enampuluhan ratusan ribu orang buruh yang sadar akan kelasnya menjadi anggota PKI, mengira PKI masih mewakili tradisi-tradisi sosialis revolusioner Revolusi Bolshevik 1917.

    Namun pada akhir 1965, antara 500.000 dan satu juta anggota-anggota dan pendukung-pendukung PKI telah menjadi korban pembunuhan dan puluhan ribu dipenjarakan di kamp-kamp konsentrasi, tanpa adanya perlawanan sama sekali.

    Pembunuhan-pembunuh an itu sangatlah tersebar-luas, sampai sungai-sungai menjadi penuh dengan mayat-mayat para pekerja dan petani. Sewaktu regu-regu pembantai militer yang didukung CIA mencakupi semua anggota dan pendukung PKI yang terketahui dan melakukan pembantaian keji mereka, majalah "Time" memberitakan:

    "Pembunuhan- pembunuhan itu dilakukan dalam skala yang sedemikian sehingga pembuangan mayat menyebabkan persoalan sanitasi yang serius di Sumatra Utara, di mana udara yang lembab membawa bau mayat membusuk. Orang-orang dari daerah-daerah ini bercerita kepada kita tentang sungai-sungai kecil yang benar-benar terbendung oleh mayat-mayat. Transportasi sungai menjadi terhambat secara serius."

    Bagaimanakah kekalahan bersejarah ini dapat terjadi? Jawabannya memerlukan sebuah penelitian dari sejarah pergerakan rakyat Indonesia, pengkhianatan oleh kelas burjuis nasional yang dipimpin oleh Sukarno, peranan kontra-revolusioner PKI dan peranan penting yang dimainkan oleh para oportunis Pablois dari "Sekretariat Tergabung" (United Secretariat) -nya Ernest Mandel dan Joseph Hansen dalam membantu pengkhianatan para Stalinis.

    'Permata Asia'

    Kudeta berdarah di Indonesia merupakan hasil dari niat imperialisme AS untuk mendapatkan kontrol mutlak atas kekayaan alam dan sumber-sumber strategis dari kepulauan yang sering dinamakan 'Permata Asia'itu.

    Pentingnya Indonesia bagi imperialisme AS ditegaskan oleh presiden AS Eisenhower di tahun 1953, waktu ia mengatakan kepada konperensi gubernur negara-negara bagian bahwa pembiayaan oleh AS untuk perang kolonial pemerintah Perancis di Vietnam adalah sangat imperatif dan merupakan "jalan termurah" untuk tetap mengontrol Indonesia.

    Eisenhower menerangkan: "Sekarang marilah kita anggap kita kehilangan Indocina. Bila Indocina hilang, beberapa hal akan langsung terjadi. Tanjung Malaka, sebidang tanah terakhir yang bertahan di sana, akan menjadi sulit untuk dipertahankan. Timah dan tungsten yang sangat kita hargai dari daerah itu akan berhenti datang, dan seluruh India akan terkepung.

    "Birma tidak akan berada di posisi yang dapat dipertahankan. Semua posisi di sekitar sana akan menjadi sangat tak menyenangkan buat Amerika Serikat, karena pada akhirnya jika kita kehilangan semua itu, bagaimanakah dunia bebas akan mempertahankan kerajaan Indonesia yang kaya?

    "Jadi, entah dimana, ini harus diberhentikan dan harus diberhentikan sekarang, dan inilah yang kita usahakan.

    "Jadi, bila AS memutuskan untuk menyumbang 400 juta dolar untuk membantu perang di Indocina, kita bukannya menyuarakan program bantuan gratis. Kita memilih jalan termurah untuk mencegah terjadinya sesuatu yang akan berarti sangat buruk buat Amerika Serikat, keamanan, kekuatan dan kemampuan kita untuk mendapatkan barang-barang tertentu yang kita butuhkan dari kekayaan-kekayaan wilayah Indonesia dan Asia Tenggara."

    Indonesia telah diperkirakan sebagai negara terkaya nomor lima di dunia di bidang sumber-sumber alam. Selain sebagai produser minyak yang nomor lima terbesar, Indonesia mempunyai cadangan-cadangan timah, bauksit, batubara, emas, perak, berlian, mangan, fosfat, nikel, tembaga, karet, kopi, minyak kelapa sawit, tembakau, gula, kelapa, rempah-rempah, kayu dan kina yang sangat besar.

    Pada tahun 1939, yang pada waktu itu masih dipanggil East Indies Belanda memasok lebih dari separuh konsumsi total bahan mentah yang penting bagi Amerika Serikat. Kekuasaan atas daerah penting ini merupakan masalah penting dalam perang AS-Jepang di Pasifik. Dalam masa setelah perang kelas penguasa AS bertekad bulat untuk tidak kehilangan kekayaan-kekayaan negara ini ke tangan rakyat Indonesia.

    Setelah kekalahan Perancis di Vietnam di tahun 1954, AS menjadi khawatir bahwa perjuangan rakyat Vietnam akan menyulut pergolakan revolusioner di seluruh daerah Asia Tenggara, mengancam kontrol mereka atas Indonesia.

    Di tahun 1965, sebelum kudeta di Indonesia, Richard Nixon, yang segera akan menjadi presiden AS, menyerukan untuk pengeboman saturasi untuk melindungi "potensi mineral besar" Indonesia. Dua tahun setelah itu, dia menyatakan bahwa Indonesia merupakan "hadiah terbesar Asia Tenggara".

    Setelah kudeta 1965, kegunaan diktatur Suharto untuk kepentingan imperialisme AS telah tergarisbawahi dalam laporan Departemen Luar Negeri AS ke Konggres di tahun 1975, yang menyebut Indonesia sebagai "lokasi yang paling berwenang secara strategis di dunia":

    * "Mempunyai populasi yang terbesar di seluruh Asia Tenggara.
    * "Merupakan penyuplai utama bahan-bahan mentah di daerah itu.
    * "Kemakmuran ekonomi Jepang yang terus berkembang, sangatlah tergantung pada minyak bumi dan bahan-bahan mentah lain yang dipasok oleh Indonesia.
    * "Investasi Amerika yang sudah ada di Indonesia sangatlah kokoh dan hubungan dagang kita sedang berkembang cepat.
    * "Indonesia mungkin secara meningkat akan menjadi penyedia yang penting untuk keperluan energi AS.
    * "Indonesia adalah anggota OPEC, tetapi itu mengambil sikap yang moderat dalam langkah-langkahnya, dan tidak ikut serta dalam embargo minyak bumi.
    * "Kepulauan Indonesia terletak pada jalur-jalur laut yang strategis dan pemerintah Indonesia memainkan peranan yang vital dalam perundingan- perundingan hukum kelautan, yang sangatlah penting untuk keamanan dan kepentingan komersiil kita."

    Perampasan Kolonial Selama Berabad-Abad

    Kolonial Belanda menjajah Indonesia tanpa ampun selama 350 tahun, merampok kekayaan alamnya, membuka perkebunan-perkebun an besar dan memeras rakyatnya secara kejam.

    Pada tahun 1940 hanya ada satu dokter untuk setiap 60,000 orang (dibandingkan dengan India, di mana rasionya adalah 1:6,000) dan 2,400 lulusan Sekolah Menengah Atas. Pada akhir Perang Dunia Kedua, 93 persen dari populasi Indonesia masih buta-huruf.

    Pada permulaan abad Kesembilan Belas, perkembangan kaum burjuis Inggris makin menantang dominasi Belanda atas daerah ini. Di tahun 1800 East Indies Company milik Belanda menjadi bangkrut dan Inggris mengambil-alih daerah kekuasaannya antara tahun 1811 dan 1816. Di tahun 1824, Treaty of London (Perjanjian London) membagi daerah ini antara keduanya: Inggris mendapat kontrol atas tanjung Malaka dan Belanda tetap menguasai kepulauan Indonesia.

    Permulaan abad Keduapuluh, imperialisme Amerika yang baru sedang berkembang mulai menjadi tantangan untuk kekuatan kolonial Eropa, terutama setelah pendudukan Filipina oleh Amerika Serikat di tahun 1898.

    Amerika Serikat sedang terlibat dalam perang dagang dengan Belanda atas minyak bumi dan karet. Perusahaan minyak Standard mulai memperebutkan monopoli atas daerah-daerah pertambangan minyak di Indonesia oleh Royal Dutch company. Di tahun 1907, Royal Dutch dan Shell bergabung untuk menandingi kompetisi dari AS. Mengambil keuntungan dari situasi Perang Dunia Pertama, Standard Oil mulai mengebor minyak di Jawa Tengah, dan dalam tahun yang sama perusahaan-perusaha an AS mulai menguasai perkebunan-perkebun an karet. Goodyear Tyre and Rubber membuka perkebunan-perkebun an mereka dan US Rubber membuka perkebunan-perkebun an karet di bawah satu pemilikan yang terbesar di dunia.

    Strategi AS di daerah ini sewaktu itu dapat diringkas oleh Senator William Beveridge:

    "Filipina adalah milik kita selamanya... dan lewat Filipina adalah pasaran Cina yang tak terbatas. Kita tidak akan mundur dari keduanya. Kita tidak akan meninggalkan tanggung-jawab kita di kepulauan itu. Kita tidak akan meninggalkan tanggung-jawab kita di Asia Timur. Kita tidak akan meninggalkan bagian kita di dalam misi bangsa kita, kepercayaan Tuhan, untuk perdaban di dunia ini...kita akan maju berkarya...dengan rasa terima kasih... dan rasa syukur kepada Tuhan kita yang Maha Besar karena Dia telah memilih kita sebagai orang-orang terpilihNya, dan selanjutnya memimpin dalam regenerasi dunia...Perdagangan terbesar kita mulai sekarang harus dengan Asia. Laut Pasifik itu adalah laut kita... dan Pasifik adalah laut perdagangan masa depan. Kekuatan yang memiliki Pasifik, adalah kekuatan yang menguasai dunia. Dan dengan Filipina, kekuatan itu adalah dan akan selalu menjadi Republik Amerika."

    Berkembangnya imperialisme Jepang dan ekspansinya ke Korea, Manchuria dan Cina menimbulkan pertentangan dengan imperialisme Amerika atas penguasaan daerah-daerah itu, yang meningkat dan meletus dalam Perang Pasifik dalam Perang Dunia Kedua. Keinginan kaum burjuis Jepang untuk merebut kekuasaan AS, Perancis dan Belanda membawa pentingnya Indonesia, sebagai gerbang ke Laut India dari Asia Tenggara dan sumber kekayaan alam, ke dalam fokus.

    Di tahun 1942 para kolonialis Belanda menyerahkan kekuasaan atas Indonesia ke Jepang, daripada membiarkan rakyat Indonesia berjuang untuk kemerdekaan. Semua kekuatan imperialis mempunyai alasan baik untuk menakuti rakyat Indonesia yang tertindas.

    Sejauh tahun 1914 wakil-wakil terbaik dari kelas buruh Indonesia telah mengambil ajaran Marxisme ketika Assosiasi Sosial Demokrat Indies (Indies Social Democratic Association) dibentuk dengan inisiatip seorang komunis Belanda Hendrik Sneevliet. Di tahun 1921 itu berubah menjadi Partai Komunis Indonesia sebagai tanggapan kepada Revolusi Bolshevik di Rusia.

    PKI mendapatkan kewenangan besar di antara rakyat dengan memimpin perjuangan melawan kolonialisme Belanda, termasuk pergerakan-pergerak an besar yang pertama di Jawa dan Sumatra di tahun 1926 dan 1927.

    Ketika rakyat Cina sedang bergerak dalam Revolusi Cina yang kedua di tahun 1926-27, para pekerja dan petani Indonesia juga bergerak dalam sebuah pemberontakan, yang dipimpin PKI. Bagaimanapun juga, kewenangan kolonial Belanda berhasil memadamkan pemberontakan- pemberontakan itu. Mereka menangkap 13,000 orang tertuduh, memenjarakan 4,500 dan mengasingkan 1,308 ke dalam kamp konsentrasi di Irian Barat. PKI dilarang.

    Perjuangan Pembebasan Nasional Dikhianati

    Pada akhir Perang Dunia Kedua rakyat-rakyat tertindas di Indonesia, India, Sri Lanka, Cina dan di seluruh Asia Tenggara dan dunia maju bergerak dalam perjuangan-perjuang an revolusioner untuk membebaskan diri dari imperialisme.

    Pada saat yang sama, kelas buruh di Eropa dan negara-negara kapitalis mengadakan perjuangan-perjuang an yang menggoncangkan. Itu hanya dapat dipadamkan melalui perkhianatan birokrasi Sovyet yang dipimpin oleh Stalin dan partai-partai Stalinis di seluruh dunia. Pengkhianatan pekerja-pekerja Perancis, Itali dan Yunani yang terutama, dan pendirian rejim-rejim yang dikendalikan secara birokratis di Eropa Timur memperbolehkan imperialisme untuk memantapkan diri.

    Di tahun 1930an, munculnya sebuah kasta berhak istimewa dalam Uni-Sovyet, yang mengambil kekuasaan politis dari kaum proletar Sovyet, telah menghancurkan partai-partai Komunis. Dari partai-partai Internasional revolusioner, mereka berubah menjadi organisasi-organisa si kontra-revolusioner , yang menekan perjuangan-perjuang an mandiri kelas buruh.

    Di negara-negara kolonial, partai-partai Stalinis ini, termasuk PKI, secara sistematis mengebawahkan kepentingan rakyat ke kelas burjuis-nasional yang dipimpin oleh tokoh-tokoh seperti Gandhi di India dan Sukarno di Indonesia yang berusaha mencari penyelesaian dengan kekuatan-kekuatan kolonial untuk mempertahankan kekuasaan kapitalis.

    Perjanjian-perjanji an setelah Perang Dunia Kedua tidak menghasilkan pembebasan nasional yang sejati dari imperialisme, tetapi membebankan kepada rakyat agen-agen baru kekuasaan imperialis. Ini adalah kasusnya di Indonesia di mana kelas burjuis nasional, dipimpin Sukarno, mengadakan perjanjian-perjanji an reaksioner dengan Belanda.

    Sukarno, putra seorang guru sekolah Jawa yang berasal dari keluarga aristokratis, adalah lulusan arsitek, bagian dari lapisan sosial tipis kaum petit-burjuis yang berpendidikan. Dia adalah ketua Partai Nasional Indonesia saat itu dibentuk di tahun 1927 dan mengalami penjara dan pengasingan di tangan Belanda karena dia mengajarkan kemerdekaan nasional.

    Dalam Perang Dunia Kedua Sukarno dan kelas burjuis nasional bekerja sama dengan pasukan pendudukan Jepang dengan harapan mendapatkan semacam kemerdekaan nasional. Dalam hari-hari terakhir perang itu Sukarno, dengan dukungan separuh-hati Jepang, mendeklarasikan Republik Indonesia yang merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.

    Arahan pemimpin-pemimpin kelas burjuis nasional ini bukanlah untuk memimpin sebuah gerakan proletar melawan imperialisme, tetapi untuk mendirikan sebuah administrasi dan memperkuat posisi mereka dalam tawar-menawar dengan Belanda, yang tidak mempunyai tentara di daerah itu.

    Tetapi reaksi Belanda adalah mengadakan perang yang kejam untuk menekan rejim yang baru ini. Mereka memerintahkan Indonesia untuk tetap di bawah perintah tentara Jepang sampai tentara Inggris dapat mencapai sana. Inggris dan Jepang kemudian menggunakan tentara-tentara Jepang untuk menekan perjuangan bertekad para pekerja, pemuda dan petani Indonesia. Dengan begitu, semua kekuatan-kekuatan imperialis bergabung melawan rakyat Indonesia.

    Ketika perlawanan bersenjata meletus di seluruh Indonesia terhadap tentara Belanda, Sukarno, dengan dukungan dari kepemimpinan PKI, menjalankan sebuah politik kompromi dengan Belanda dan menandatangani Perjanjian Linggarjati di bulan Maret 1947. Belanda mengenali secara formal kekuasaan Indonesia atas Jawa, Madura dan Sumatra dan setuju untuk mengundurkan tentara mereka. Tetapi kenyataannya, Belanda hanya menggunakan ini sebagai kesempatan untuk mengambil napas dan memperkuat dan mempersiapkan diri untuk sebuah serangan yang kebrutalannya tak tertandingi di bulan Juli dan Agustus 1947.

    Selama waktu ini, ratusan ribu buruh dan petani menjadi anggota atau mendukung PKI karena mereka kehilangan kepercayaan terhadap para pemimpin burjuis dan karena mereka memandang PKI sebagai partai revolusioner. Mereka juga terilhami oleh kemajuan-kemajuan Partai Komunis Cina Mao Tse Tung dalam perangnya melawan Chiang Kai-Shek. Dalam perang melawan Belanda, buruh dan petani menduduki tanah dan bangunan-bangunan berulang-ulang dan serikat-serikat buruh massa dibentuk.

    Untuk menanggulangi perkembangan ini, pemerintahan Republik Sukarno, yang dipimpin oleh Amir Syarifuddin yang saat itu masih Perdana Menteri (juga seorang anggota PKI rahasia), menandatangani Perjanjian Renville di bulan Januari 1948 (dipanggil itu karena ditandatangani di atas USS Renville). Perjanjian ini memberi Belanda kekuasaan atas separuh pabrik-pabrik gula di Jawa, 75 percent dari karet Indonesia, 65percent perkebunan kopi, 95 percent perkebunan teh dan minyak bumi di Sumatra. Tambahan pula, penyelesaian yang diimposisi oleh AS ini menyebutkan penarikan mundur pasukan-pasukan gerilya dari daerah-daerah yang dikuasai Belanda dan menciptakan kondisi untuk pembubaran "unit-unit rakyat bersenjata" yang dipimpin oleh PKI, dan untuk pembentukan "Angkatan Bersenjata Nasional Indonesia" yang dipimpin oleh Sukarno dan jendral-jendralnya.

    Di tahun 1948 aksi-aksi pemogokan menentang pemerintah Republik, yang sekarang dipimpin oleh Wakil Presiden sayap-kanan Hatta sebagai Perdana Menteri, dan menuntut sebuah pemerintahan berparlemen. Aksi-aksi ini dipadamkan oleh Sukarno yang mengimbau untuk penciptaan "kesatuan nasional".

    Pada saat yang sama, pemimpin PKI Musso yang sebelumnya diasingkan, kembali dari Uni-Sovyet dan beberapa pemimpin-pemimpin penting Partai Sosialis Indonesia dan Partai Buruh Indonesia menyatakan bahwa mereka adalah anggota-anggota rahasia PKI selama bertahun-tahun. Pernyataan ini menunjukkan basis dukungan untuk PKI yang jauh lebih besar dari yang sebelumnya diperkirakan oleh kekuatan-kekuatan imperialis.

    Di bulan Juli 1948 pemimpin-pemimpin burjuis, termasuk Sukarno dan Hatta mengadakan pertemuan rahasia dengan wakil-wakil AS di Sarangan di mana AS menuntut, sebagai bayaran bantuan ke pemerintah, pengadaan pemburuan anggota-anggota PKI dalam angkatan bersenjata dan pegawai-pegawai pemerintah. Hatta, yang juga masih Menteri Pertahanan, diberi $10 juta untuk melakukan "pemburuan merah"

    Dua bulan setelah itu, dalam sebuah percobaan untuk menghancurkan PKI, Peristiwa Madiun dilakukan di Jawa. Beberapa perwira angkatan bersenjata, anggota-anggota PKI, dibunuh dan yang lainnya menghilang, setelah mereka menentang rencana-rencana untuk membubarkan kesatuan-kesatuan gerilya angkatan bersenjata yang berada di garis depan perang melawan Belanda.

    Pembunuhan-pembunuh an ini menimbulkan pemberontakan di Madiun yang ditekan secara berdarah oleh rejim Sukarno. Perdana Menteri Hatta menyatakan hukum darurat. Ribuan anggota PKI dibunuh, 36,000 dipenjara dan pemimpin PKI Musso dan 11 pemimpin penting yang lainnya dihukum mati.

    Konsul-Jendral AS Livergood menelegram atasannya di AS mengatakan bahwa dia telah memberitahu Hatta bahwa "krisis ini memberikan pemerintahan Republik kesempatan untuk menunjukkan tekadnya untuk menekan komunisme."

    Terbesarkan hatinya karena pogrom anti-komunis itu, Belanda menjalankan serangan militer baru di Desember 1948, menangkap Sukarno. Tetapi perlawanan yang meluas memaksa Belanda untuk menyerah dalam waktu enam bulan.

    Meskipun begitu, konperensi Meja Bundar tahun 1949 di Den Haag membebankan pengkhianatan- pengkhianatan baru atas rakyat Indonesia, melibatkan konsesi-konsesi yang lebih besar dari kelas burjuis Indonesia.

    Pemerintah Sukarno setuju untuk mengambil alih hutang-hutang koloni dan menjamin perlindungan untuk modal milik Belanda. Belanda mendapat Irian Barat dan Republik Indonesia tetap harus bekerja sama dengan imperialis Belanda dalam Netherlands- Indonesian Union. Pemerintah Sukarno tetap mempertahankan hukum-hukum kolonial. Angkatan bersenjata baru didirikan dengan menggabungkan tentara-tentara Belanda yang berasal dari Indonesia ke dalam "Angkatan Bersenjata Nasional". Dalam kata lain aparatus dan hukum-hukum kolonial lama dipertahankan dibalik aling-aling pemerintahan parlemen di republik yang baru.

    Kepemimpinan PKI mendukung pengkhianatan perjuangan pembebasan nasional itu dan berusaha untuk membatasi kelas buruh dan petani ke dalam perjuangan-perjuang an yang damai dan "demokratis" . Ini adalah terusan dari posisi PKI selama Perang Dunia Kedua ketika kepemimpinan PKI (dengan Partai Komunis Belanda) mengikuti arahan Stalin untuk bekerja sama dengan imperialis Belanda melawan Jepang dan menyerukan untuk sebuah "Indonesia merdeka dalam Persemakmuran Belanda". Ini tetap menjadi politik PKI meskipun selama perjuangan setelah Perang Dunia Kedua melawan Belanda.

    Untuk rakyat Indonesia, kepalsuan "kemerdekaan" di bawah dominasi imperialisme Belanda, Amerika dan dunia yang berlangsung makin menjadi jelas. Hasil-hasil alam, industri-industri penting, perkebunan-perkebun an dan kekuatan keuangan tetap dipegang oleh perusahaan-perusaha an asing.

    Contohnya, 70 percent lalu-lintas laut antar kepulauan masih dipegang oleh perusahaan Belanda KPM dan salah satu bank Belanda terbesar, Nederlandche Handel Maatschappij, memegang 70 percent dari semua transaksi keuangan Indonesia.

    Menurut perhitungan pemerintah Indonesia, di pertengahan tahun 1950an, modal Belanda di Indonesia berharga sekitar $US 1 milyar. Pemerintah Sukarno mengatakan bahwa meskipun jika mereka ingin menasionalisasikan kemilikan Belanda, mereka tidak mempunyai cukup uang untuk menggantikan kerugian bekas penguasa-penguasa kolonial itu. Dan untuk menasionalisasikan tanpa ganti-rugi adalah komunisme.

    Ketidakpercayaan rakyat tercermin di pemilihan umum 1955 ketika jumlah kursi yang dipegang PKI meningkat dari 17 ke 39.

    Dalam waktu dua tahun pergerakan rakyat akan meletus dalam penyitaan pabrik-pabrik, perkebunan-perkebun an, bank-bank, toko-toko dan kapal-kapal milik Belanda, Amerika dan Inggris.

    BAB KEDUA
    Para Stalinis Mengkhianati Pergerakan Massa

    Pada bulan Desember 1957 dominasi imperialisme atas ekonomi Indonesia tergoncang oleh pergerakan massa kaum buruh dan petani. Pabrik-pabrik, perkebunan-perkebun an, bank-bank dan kapal-kapal laut banyak yang dirampas dan diduduki.

    Rejim burjuis Sukarno bisa bertahan hanya karena pemimpin-pemimpin Stalinis Partai Komunis Indonesia (PKI) menyabot pergerakan massa itu, dengan menegaskan bahwa para buruh dan petani harus menyerahkan semua yang sudah mereka sita kepada pasukan-pasukan angkatan bersenjata yang dikirim oleh Sukarno, dengan dukungan AS, untuk mengontrol situasi itu.

    Kabar di New York Times tanggal 8 Desember 1957 memberi gambaran tentang keluasan dan kekuatan pergerakan itu: "Pergerakan pekerja-pekerja di Jakarta, sejauh kita dapat menentukan, terjadi tanpa ijin pemerintah, dan berlawanan dengan kata-kata Perdana Menteri Djuanda, Kepala angkatan bersenjata Jendral Abdul Haris Nasution dan pejabat-pejabat pemerintah yang lainnya, yang mengatakan bahwa pergerakan itu tidak dapat diterima dan orang-orang yang terlibat akan dihukum berat...

    "Ketiga bank milik Belanda di sini, the Netherlands Trading Society, the Escompto dan the Netherlands Commercial Bank, diambil-alih oleh delegasi-delegasi pergerakan itu. Mereka membacakan proklamasi di depan kawan-kawan seperjuangan yang penuh semangat dan kemudian di depan para administrator- administrator dari Belanda, mengatakan bahwa atas nama Asosiasi Pekerja Indonesia mereka merampas bank-bank ini dan mulai saat itu akan menjadi milik Republik Indonesia."

    Surat kabar Belanda "Volksrant" mengabarkan dengan nada khawatir pada tanggal 11 Desember 1957:"Di Jakarta para Komunis terus mengibarkan bendera-bendera merah di atas perusahaan-perusaha an milik Belanda...Hari ini kantor pusat Philips dan Societe D'Assurances Nillmij di Jakarta diduduki oleh orang-orang Indonesia di bawah pimpinan perserikatan buruh Komunis."

    Pergerakan ini tidak hanya terjadi di Pulau Jawa. Menurut "New York Herald-Tribune" tanggal 16 Desember:"Pekerja- pekerja di bawah SOBSI, perserikatan buruh sentral yang didominasi oleh para Komunis, merampas toko-toko roti Belanda dan bank-bank di Borneo (Kalimantan) ." Koran "New York Times" pada hari yang sama mengabarkan bahwa di Palembang, ibukota Sumatra Selatan, "pasukan-pasukan keamanan menahan sejumlah pekerja, anggota serikat buruh yang dikontrol oleh para Komunis, karena mereka bertindak tanpa ijin menyita tiga perusahaan Belanda. Tigapuluh tujuh bendera merah yang mereka naikkan di depan rumah-rumah pegawai-pegawai Belanda perusahaan-perusaha an tersebut telah disita."

    Surat-surat kabar kapitalis yang lain mengabarkan "situasi anarki di Bali" dan menurut pemilik perkebunan Belanda yang sedang melarikan diri, di Aceh dan Deli, di pantai selatan Sumatra, pergerakan rakyat bukan hanya ditujukan ke perusahaan-perusaha an Belanda, tetapi juga ke perusahaan-perusaha an Inggris dan Amerika. Kabar-kabar serupa juga datang dari Sumatra Utara, Sulawesi dan pulau-pulau lainnya.

    Ada juga kabar-kabar bahwa pergerakan-pergerak an ini menimbulkan perlawanan di Papua New Guinea (Irian Timur) yang diduduki oleh Australia. Di Karema, duapuluh orang terluka ketika orang-orang pribumi melawan anggota-anggota pasukan keamanan setelah seorang jururawat pribumi mengatakan bahwa dia merasa dihina.

    Pemberontakan di Indonesia timbul sebagai reaksi terhadap panggilan dari Sukarno untuk mengadakan pemogokan umum terhadap perusahaan-perusaha an Belanda. Sebelum itu ia juga berbicara tentang penasionalisasian perusahaan-perusaha an milik Belanda pada sebuah pidato umum. Tujuan Sukarno adalah untuk menggunakan ancaman penasionalisasian sebagai cara untuk menekan Belanda untuk meninggalkan Irian Barat, yang tetap dibawah Belanda setelah Konperensi Meja Bundar di tahun 1949, supaya Indonesia dapat mengambil-alihnya.

    Dalam usahanya untuk mengimbangkan keserakahan imperialisme Belanda, Amerika dan Inggris; ketidakpuasan massa yang tertindas dan berkembangnya kekuatan militer dengan dukungan Amerika - yang makin lama makin menjadi andalan rejimnya, Sukarno berusaha menggunakan tekanan dari rakyat untuk menekan imperialisme Belanda.

    Para buruh mulai merampas dan menduduki perusahaan-perusaha an Belanda tanpa suruhan. Sukarno sama sekali tidak mengharapkan tanggapan seperti ini. Ia langsung memberi anggota-anggota militernya ijin untuk mengambil-alih perusahaan-perusaha an itu dari para buruh.

    Biro Politik PKI bergegas membantu Sukarno dengan mengeluarkan resolusi untuk mengimbau rakyat untuk memecahkan secepatnya dengan perundingan perbedaan pendapat tentang cara-cara perjuangan melawan imperialisme Belanda, dengan demikian persatuan rakyat, antara rakyat, pemerintah dan angkatan bersenjata dapat diperkuat."

    Bersamaan dengan itu, PKI mengimbau para pekerja "jangan hanya menjalankan perusahaan-perusaha an yang diduduki, tetapi buat mereka bekerja lebih displin dan lebih baik dalam meningkatkan produksi.

    "Pemerintah harus mengambil keputusan yang mampu dan patriotis untuk perusahaan-perusaha an ini, dan para pekerja harus menunjang keputusan ini dengan seluruh kekuatan mereka."

    Tambahan pula, PKI menegaskan bahwa pengambil-alihan itu hanya berlaku terhadap perusahaan-perusaha an Belanda, mencoba menentramkan hati imperialisme AS dan Inggris dengan mengatakan bahwa kepentingan mereka tidak akan terganggu:"Semua pergerakan-pergerak an buruh, petani dan organisasi-organisa si pemuda ditujukan ke kapitalis-kapitalis Belanda. Negara-negara kapitalis yang lainnya tidak bersikap bermusuhan dalam perang antara Belanda dan Indonesia di Irian Barat. Karena itu, tidak ada aksi terhadap perusahaan kapitalis-kapitalis dari negara lain."

    Mengenali usaha-usaha PKI untuk mematahkan pergerakan massa, Tillman Durdin menulis di "New York Times" tanggal 16 Desember:"Anggota- anggota Badan Penasehat National yang berorientasi Komunis diketahui telah menentang dengan tegas penyitaan-penyitaan yang dilakukan oleh para pekerja dan mengatakan bahwa pergerakan-pergerak an itu adalah 'anarko-sindikalism e' tak berdisiplin. Para Komunis membela program penyitaan yang dilangsungkan oleh pemerintah seperti sekarang ini.

    Sukarno sendiri telah bersiap-siap meninggalkan negara untuk sebuah "liburan" di India, tetapi penyerahan perusahaan-perusaha an Belanda kepada pihak militer di bawah instruksi PKI telah menyelamatkan rejim burjuis Sukarno. Para pemimpin Stalinis dalam PKI tidak hanya menyelamatkan pemerintah Sukarno, mereka menimbulkan kondisi yang mengijinkan jendral-jendral militer dan penyokong mereka di AS untuk mempersiapkan kontra-revolusi berdarah mereka delapan tahun setelah itu.

    Perspektif para pemimpin PKI adalah teori Stalinis "revolusi dua tahap" _ yang mengatakan bahwa perjuangan untuk sosialisme di Indonesia harus pertama melalui tahap apa yang dinamakan kapitalisme "demokratis" . Perjuangan revolusi massa untuk memperlakukan langkah-langkah sosialis harus ditekan dan kepentingannya dikebawahkan ke sebuah "persatuan" dengan kelas burjuis nasional.

    Sejalan dengan perspektif reaksioner ini, birokrasi-birokrasi Stalinis di Uni-Sovyet dan Cina mengelu-elukan Sukarno dan rejimnya di dalam period ini. Sebagai contoh, Kruschev mengunjungi Jakarta dan berkata bahwa ia akan memberi Sukarno semua bantuan dalam "segala kemungkinan" . Kenyataannya, sebagian besar senjata-senjata yang digunakan dalam pembunuhan massa dalam kudeta 1965 adalah disediakan oleh Kremlin.

    Permulaan Persiapan Militer

    Di tahun 1956 tentara Indonesia, dengan sokongan Amerika, sudah memulai persiapan-persiapan untuk diktatur militer untuk menekan pergerakan rakyat. Di bulan Agustus Komandan militer daerah Jawa Barat memerintahkan penangkapan Menteri Luar Negeri Roeslan Abdulgani atas tuduhan-tuduhan korupsi. Di bulan November, Wakil Kepala angkatan bersenjata Kolonel Zulkifli Lubis, mencoba dengan kegagalan untuk menguasai Jakarta dan menggulingkan pemerintahan Sukarno. Bulan berikutnya, ada kudeta militer di daerah Sumatra Tengah dan Utara.

    Pada bulan Oktober 1956 Sukarno memperkuat kedudukannya terhadap rakyat dan menenangkan angkatan bersenjata dengan mengimbau partai-partai politik untuk membubarkan diri. Imbauan ini setelah itu diperluas dengan usaha untuk mendirikan Dewan Nasional yang mencakup semua partai, termasuk PKI, untuk mengatur negara. Bilamana para kepala daerah militer menolak rencana ini, dan mengambil-alih kekuasaan provinsi-provinsi mereka, Sukarno mengumumkan keadaan darurat. Akhirnya, kabinet "non-partai" yang baru dibentuk, termasuk dua pengikut PKI.

    Sebagai reaksi terhadap pergerakan massa di Desember 1957 itu, operasi imperialisme Amerika segera ditingkatkan. CIA sudah aktif sejak tahun 1940-an, mengeluarkan jutaan dollar untuk menyubsidi elemen-elemen pro-Amerika di dalam kelas burjuis nasional, terutama Partai Sosialis Indonesia yang dipimpin Sumiro, kolega Hatta, dan sekutu islamnya yang lebih besar, Partai Masyumi yang dipimpin oleh Syarifuddin Prawiranegara, dengan siapa Hatta juga mempunyai hubungan dekat.

    Sepanjang tahun 1957 dan 1958 serangkaian pemberontakan sesesesionis dan sayap-kanan yang dibantu oleh CIA meletus di pulau Sumatra dan Sulawesi yang kaya minyak bumi, di mana PSI dan Masyumi mempunyai pengaruh dominan.

    Yang pertama adalah pemberontakan militer Permesta yang mulai di bulan Maret 1957 dan berlangsung sampai ke tahun 1958, yang berakhir dengan percobaan kudeta yang didukung oleh CIA di bulan February 1958.

    Pemerintah Amerika Serikat memberikan dukungan keuangan yang cukup besar, penasehat-penasehat militer, senjata dan angkatan udara kecil yang terdiri dari pesawat-pesawat pembom B-26, dipiloti dari basis-basis di Taiwan dan Filipina. Menteri Luar Negeri AS bahkan memberikan dukungan secara terbuka untuk pemberontak- pemberontak sayap-kanan ini. Kapal induk dari armada ketujuh Amerika dikirim ke Singapor dan sewaktu itu kelihatannya Amerika bakal campur-tangan secara langsung di Sumatra dengan alasan melindungi pegawai-pegawai dan pemilikan-pemilikan Caltex Oil.

    Komando militer Indonesia akhirnya memutuskan bahwa pemberontakan itu, gagal mendapatkan dukungan massa, harus dihentikan. Pemerintahan Sukarno selamat.

    Tetapi, angkatan bersenjata menjadi lebih kuat. Selama enam tahun berikutnya, AS menuangkan uang untuk itu, meletakkan fondasi yang mengijinkan Suharto untuk mulai menempuh jalan ke kekuasaaan setelah memimpin operasi militer untuk mengambil-alih Irian Jaya di tahun 1962.

    Antara tahun 1959 dan tahun 1965 Amerika Serikat memberikan 64 juta dollar dalam rupa bantuan militer untuk jendral-jendral militer Indonesia. Menurut laporan di Suara Pemuda Indonesia:"Sebelum akhir tahun 1960, Amerika Serikat telah melengkapi 43 batalion angkatan bersenjata. Tiap tahun AS melatih perwira-perwira militer sayap-kanan. Di antara tahun 1956 dan 1959, lebih dari 200 perwira tingkatan tinggi telah dilatih di AS, dan ratusan perwira angkatan rendah terlatih setiap tahun. Kepala Badan untuk Pembangunan Internasional di Amerika pernah sekali mengatakan bahwa bantuan AS, tentu saja, bukan untuk mendukung Sukarno dan bahwa AS telah melatih sejumlah besar perwira-perwira angkatan bersenjata dan orang sipil yang mau membentuk kesatuan militer untuk membuat Indonesia sebuah "negara bebas".

    Pada waktu yang sama, Sukarno menjalankan sistem "Demokrasi Terpimpin"-nya. Pada bulan Juli 1959 parlemen dibubarkan dan Sukarno menetapkan konstitusi di bawah dekrit presiden - sekali lagi dengan dukungan penuh dari PKI. Ia memperkuat tangan angkatan bersenjata dengan mengangkat para jendral militer ke posisi-posisi yang penting.

    PKI menyambut "Demokrasi Terpimpin" Sukarno dengan hangat dan anggapan bahwa dia mempunyai mandat untuk persekutuan Konsepsi yaitu antara nasionalisme, Islam dan komunisme yang dinamakan NASAKOM.

    Dalam mengejar front nasional mereka bersama dengan Sukarno dan kelas burjuis nasional, para pemimpin PKI menimbulkan ilusi-ilusi yang sangat berbahaya tentang angkatan bersenjata.

    Hanya lima tahun sebelum kekalahan berdarah itu terjadi kepada para pekerja dan petani di tangan angkatan bersenjata, arahan politis PKI dinyatakan oleh kepemimpinan SOBSI, federasi serikat pekerja yang dipimpin oleh PKI, dalam sebuah pernyataan di Hari Buruh Internasional bulan Mei 1960:

    "SOBSI menegakkan bahwa angkatan bersenjata Republik masih merupakan anak dari revolusi rakyat...dan dengan itu dari para perwira sampai ke bawahan mereka dan ke tentara-tentara. ..mereka tidak akan terlibat dengan aksi-aksi yang mengkhianati Republik. Selain itu, presiden Sukarno, yang memihak rakyat, mempunyai pengaruh besar atas pemimpin-pemimpin angkatan bersenjata dan ia tidak berkehendak menjadi diktator militer."

    Pergerakan Baru

    Di tahun 1962, perebutan militer Irian Barat oleh Indonesia mendapat dukungan penuh dari kepemimpinan PKI, mereka juga mendukung penekanan perlawanan penduduk Irian Jaya terhadap pendudukan itu.

    Di Indonesia sendiri, ketegangan ekonomi dan kelas yang mendasar, yang diakibatkan oleh berlanjutnya pemerasan rakyat oleh perusahaan-perusaha an imperialis dan kelas burjuis nasional, muncul kembali.

    Era "Demokrasi Terpimpin", yaitu kolaborasi antara kepemimpinan PKI dan kaum burjuis nasional dalam menekan pergerakan-pergerak an independen kaum buruh dan petani, gagal memecahkan masalah-masalah politis dan ekonomi yang mendesak. Pendapatan ekspor menurun, foreign reserves menurun, inflasi terus menaik dan korupsi birokrat dan militer menjadi wabah.

    Dari tahun 1963 terus, kepemimpinan PKI makin lama makin berusaha menghindari bentrokan-bentrokan antara aktivis massanya dan polisi dan militer. Pemimpin-pemimpin PKI mementingkan "kepentingan bersama" polisi dan "rakyat". Pemimpin PKI D N Aidit mengilhami slogan "Untuk Ketentraman Umum Bantu Polisi".

    Pada bulan April 1964, dalam interview dengan S M Ali dari "Far Eastern Economic Review" Aidit menetapkan untuk kaum burjuis nasional perspektif Stalinis untuk perubahan yang damai dan berangsur-angsur ke arah sosialisme yang terdiri dari "dua tahap" di Indonesia.

    "Bila kita sudah mencapai tahap pertama dari revolusi kita, yang sedang berlangsung sekarang, kita akan bisa mengadakan konsultasi yang damai dengan elemen-elemen progresif lain di masyarakat kita dan tanpa perjuangan bersenjata kita akan membawa negara kita ke revolusi sosialis."

    Dia memberikan sebuah senario di mana rakyat akan terbatas dalam fungsi mempengaruhi kaum burjuis nasional:"Pengaruh dari tahap sekarang dari revolusi ini akan menetapkan pengaruh revolusioner atas kapitalis-kapitalis nasional Indonesia.

    "Tidak akan ada perjuangan bersenjata kecuali bila ada intervensi asing memihak para kapitalis. Dan bila kita berhasil menyelesaikan tahap ini dalam revolusi demokratik nasional kita, kemungkinan satu kekuatan asing bercampur-tangan dalam urusan nasional Indonesia akan menjadi sangat kecil."

    Di bulan Agustus 1964, Aidit menganjurkan semua anggota PKI membersihkan diri dari "sikap-sikap sektarian" kepada angkatan bersenjata, mengimbau semua pengarang dan seniman sayap-kiri untuk membuat "massa tentara" subyek karya-karya mereka.

    Di akhir 1964 dan permulaan 1965 ratusan ribu petani bergerak merampas tanah dari para tuan tanah besar. Bentrokan-bentrokan besar terjadi antara mereka dan polisi dan para pemilik tanah. Untuk mencegah berkembangnya konfrontasi revolusioner itu, PKI mengimbau semua pendukungnya untuk mencegah pertentangan menggunakan kekerasan terhadap para pemilik tanah dan untuk meningkatkan kerjasama dengan unsur-unsur lain, termasuk angkatan bersenjata.

    Dalam sebuah pertemuan Komite Sentral PKI Aidit mendorong penindasan pergerakan para petani itu dan mencela kader partai yang "terbawa oleh semangat untuk menyebar-luaskan pergerakan petani dan menjadi tidak sabar dan melakukan tindakan heroisme individual, tidak berpikir untuk mengembangkan kesadaran para petani dan menginginkan suatu kejadian yang tertentu, tidak berhati-hati dalam memisahkan dan memilih target-target mereka."

    Para pemimpin PKI menghalalkan pemberhentian perampasan tanah dan pengembalian ke pemilik-pemiliknya dengan menunjuk kepada "kemungkinan yang akan datang untuk pembentukan "kabinet NASAKOM".

    Pada permulaan 1965, para buruh mulai menyita perusahaan-perusaha an karet dan minyak milik AS. Kepemimpinan PKI menjawab ini dengan memasuki pemerintahan dengan resmi. Pada waktu yang sama, jendral-jendral militer tingkat tinggi juga menjadi anggota kabinet.

    Menteri-menteri PKI tidak hanya duduk di sebelah para tukang jagal militer di dalam kabinet Sukarno ini, tetapi mereka terus mendorong ilusi yang sangat berbahaya bahwa angkatan bersenjata adalah merupakan bagian dari revolusi demokratis "rakyat".

    Aidit memberikan ceramah kepada siswa-siswa sekolah angkatan bersenjata di mana ia berbicara tentang "perasaan kebersamaan dan persatuan yang bertambah kuat setiap hari antara tentara Republik Indonesia dan unsur-unsur masyarakat Indonesia, termasuk para komunis".

    Dengan cara ini, para Stalinis dalam PKI melucuti para pekerja dalam PKI yang paling sadar akan kelasnya. Pengertian dasar Marxis tentang negara sebagai "badan orang-orang bersenjata" yang digunakan oleh kelas penguasa untuk menjaga kekuasaannya telah disangkal secara kriminal.

    Aidit berusaha secepatnya untuk menenangkan kaum burjuis dan pemimpin-pemimpin angkatan bersenjata bahwa PKI menentang mobilisasi revolusioner massa. "Hal yang penting di Indonesia sekarang bukanlah meruntuhkan kekuatan negara seperti halnya di negeri-negeri lain, tetapi memperkuat dan mendalamkan aspek pro-rakyat.. .dan menyingkirkan aspek anti-rakyat" .

    Rejim Sukarno mengambil langkah terhadap para pekerja dengan melarang aksi-aksi mogok di industri. Kepemimpinan PKI tidak berkeberatan karena industri menurut mereka adalah milik pemerintahan NASAKOM.

    Tidak lama sebelum kudeta terjadi, PKI, mengetahui dengan jelas persiapan-persiapan untuk rejim militer, menyatakan keperluan untuk pendirian "angkatan kelima" di dalam angkatan bersenjata, yang terdiri dari pekerja dan petani yang bersenjata. Bukannya memperjuangkan mobilisasi massa yang berdiri sendiri untuk melawan ancaman militer yang sedang berkembang itu, kepemimpinan PKI malah berusaha untuk membatasi pergerakan massa yang makin mendalam ini dalam batas-batas hukum kapitalis negara.

    Mereka bahkan menyembah di depan jendral-jendral militer, berusaha menenangkan mereka bahwa usul PKI akan memperkuat negara. Aidit menyatakan dalam laporan ke Komite Sentral PKI bahwa "NASAKOMisasi" angkatan bersenjata dapat dicapai dan mereka akan bekerjasama untuk menciptakan "angkatan kelima". Sampai akhir, kepemimpinan PKI berusaha menekan aspirasi revolusioner kaum buruh di Indonesia.

    Meskipun di bulan Mei 1965, Politbiro PKI masih mendorong ilusi bahwa aparatus militer dan negara sedang dirubah untuk memecilkan aspek anti-rakyat dalam alat-alat negara:

    "Kekuatan dari aspek-aspek pro-rakyat (dalam aparatus negara) sudah bertambah kuat dan mempunyai inisiatif dan ofensif, dan aspek anti-rakyat, walaupun masih cukup kuat, sedang terpojok. PKI berjuang supaya aspek pro-rakyat akan menjadi bertambah kuat dan akan berkuasa dan aspek anti-rakyat akan dikeluarkan dari kekuasaan negara."

    Kaum buruh Indonesia dan seluruh dunia membayar mahal untuk pengkhianatan Stalinis ini waktu Suharto dan jendral-jendral militer bergerak pada tanggal 30 September 1965.

    BAB KETIGA
    1965-Warisan Berdarah Stalinisme

    Kudeta di Indonesia tanggal 1-2 Oktober 1965 adalah hasil dari sebuah operasi yang sudah lama direncanakan secara hati-hati oleh CIA dan komandan-komandan militer TNI yang dilatih oleh AS.

    Selama tahun 1965 perselisihan- perselisihan antara kelas meningkat. Tahun itu mulai dengan para petani merampas pemilikan para tuan tanah besar dan pekerja-pekerja di perusahaan-perusaha an karet dan minyak bumi milik AS melakukan aksi pendudukan. Presiden Sukarno telah memasukkan jendral-jendral militer, yang dipimpin oleh Jendral Nasution, dan kepemimpinan PKI ke dalam kabinetnya untuk menekan pergerakan ini.

    Kepemimpinan PKI berhasil menekan aksi-aksi pendudukan, tetapi pergerakan massa ini menjadi semakin sulit untuk dikendalikan. Kemarahan massa berkembang dengan dipenjaranya 23 petani, dengan hukuman antara 15 sampai 20 tahun, atas tuduhan memukuli seorang tentara sampai fatal dalam mempertahankan diri mereka terhadap operasi militer untuk menghentikan aksi-aksi perampasan tanah di Sumatra.

    Pada malam 30 September 1965, sebuah provokasi yang didalangi CIA dilaksanakan. Sekelompok perwira menengah, yang paling sedikit satu mempunyai koneksi dekat dengan Suharto, menahan dan membunuh komandan angkatan bersenjata Letnan-Jendral Ahmad Yani dan lima jendral tingkat atas yang lain, dan menyatakan pembentukan sebuah Dewan Revolusioner.

    Penculikkan jendral-jendral ini tidak mencakup dua orang penting. Yang pertama adalah Suharto, yang pada waktu itu adalah komandan Kostrad, yang terdiri dari tentara-tentara elit angkatan darat. Para pemberontak ini, yang dipimpin oleh Letnan-Kolonel Untung tidak berusaha sedikit pun untuk menangkap Suharto atau menyerang pusat komandonya di Jakarta walaupun ia mempunyai kemampuan untuk melaksanakan hal ini. Menteri Pertahanan Jendral Nasution, juga tidak dicakup. Dia dikatakan sebagai calon korban pemberontakan ini, tetapi dapat menyelamatkan diri secara ajaib.

    Pemberontakan oleh Untung ini adalah palsu. Dalam 24 jam Suharto dapat mengalahkan semua pemberontak ini, hampir tanpa ada peluru melayang, dan mengambil-alih kontrol di Jakarta, dengan dukungan dari Nasution.

    Di akhir minggu itu, komando yang dibentuk oleh Suharto membersihkan semua kantong-kantong perlawanan, dan melaksanakan pembantaian anti-komunis terbesar di sejarah yang didalangi oleh Kedutaan AS dan CIA. Pentagon dan CIA, yang pada waktu itu sudah terlibat dalam perang rahasia di Vietnam, bertekad untuk menenggelamkan revolusi Indonesia dalam darah.

    Diplomat-diplomat AS dan perwira-perwira CIA, dipimpin oleh Duta Besar AS untuk Indonesia, Marshall Green, bekerja sama dengan tukang-tukang jagal Suharto untuk membasmi setiap anggota dan pendukung PKI yang diketahui.

    Bencana yang Didalangi CIA

    Dalam mempersiapkan kudeta ini, pejabat-pejabat AS sudah menghabiskan paling sedikit dua tahun untuk membuat daftar-daftar maut ini yang diberikan kepada angkatan bersenjata dengan instruksi yang jelas: bunuhlah semuanya. Anak-buah Suharto diperintahkan untuk melapor kembali setiap sejumlah pembunuhan telah dilaksanakan supaya nama-nama korban mereka dapat dicocokkan dengan nama-nama di daftar-daftar itu.

    Beberapa perwira-perwira AS yang berikut-serta mengatakan baru-baru ini apa yang terjadi. "Itu adalah bantuan yang besar untuk angkatan bersenjata," kata seorang bekas pejabat bagian politik di Duta Besar AS di Jakarta, Robert Martens. "Mereka mungkin membunuh banyak orang dan saya mungkin punya darah di tangan saya, tetapi itu tidak semuanya jelek."

    "Suatu waktu kamu harus memukul keras pada waktu yang tepat."

    Martens memimpin pejabat-pejabat CIA dan Departemen Luar Negeri di kedutaan besar AS, yang dari tahun 1962, menyusun keterangan mendetil tentang siapa saja yang duduk di dalam kepemimpinan PKI. Itu termasuk nama-nama anggota komite-komite PKI di tingkat provinsi, kota dan lokal; dan pemimpin-pemimpin perserikatan- perserikatan kerja yang didukung PKI, dan perserikatan- perserikatan wanita dan pemuda.

    Operasi ini didalangi oleh bekas direktur CIA William Colby, yang pada waktu itu adalah direktur Divisi Asia Timur CIA, dan dengan itu menjadi bertanggung- jawab atas pengarahan strategi rahasia AS di Asia. Colby mengatakan bahwa mencari pengetahuan tentang kepemimpinan PKI menjadi latihan untuk program Phoenix di Vietnam, yang merupakan usaha untuk memusnahkan semua pendukung Front Kemerdekaan Nasional di akhir dekade 1960-an.

    Colby mengakui bahwa mengecek nama-nama di daftar-daftar maut itu dianggap sangat penting sampai itu diawasi oleh direktorat intelijen CIA di Washington. "Kita berkesimpulan bahwa dengan perlakuan secara keji seperti itu, PKI telah mengalami kemunduran yang besar."

    Wakil kepala pos CIA menggambarkan dengan rasa senang yang tak tersembunyi bagaimana markas Suharto di Jakarta memberikan kedutaan besar AS laporan secara berlanjut tentang pencakupan dan pembunuhan pemimpin-pemimpin PKI. "Kita mendapatkan laporan yang jelas di Jakarta tentang siapa yang dicakup. Angkatan bersenjata mempunyai 'daftar penembakan' untuk sekitar 4,000 sampai 5,000 orang.

    "Mereka tidak punya cukup tentara untuk membinasakan mereka semua, dan beberapa orang masih berharga untuk diinterogasi. Rangka dasar organisasi mereka telah runtuh hampir seketika itu. Kita tahu apa yang mereka kerjakan. Kita tahu bahwa mereka akan menyelamatkan beberapa untuk pengadilan pura-pura mereka, tetapi Suharto dan penasehat-penasehat nya berkata bila kamu biarkan mereka hidup kamu harus memberi mereka makan."

    Semua ini dijalankan dengan persetujuan Green yang setelah itu dilantik menjadi duta besar AS untuk Australia, di mana ia memainkan peranan penting dalam pembubaran pemerintah Whitlam di tahun 1975.

    Paling sedikit satu juta orang dibantai dalam bencana enam bulan yang mengikuti kudeta itu. Ini adalah perkiraan dari sebuah kelompok lulusan Universitas Indonesia yang diperintah oleh angkatan bersenjata itu sendiri untuk menyelidiki kesebar-luasan pembunuhan-pembunuh an ini.

    Dihasut dan dibantu oleh tentara, kelompok-kelompok pemuda dari organisasi-organisa si muslim sayap-kanan melakukan pembunuhan-pembunuh an massa, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ada laporan-laporan bahwa Sungai Brantas di dekat Surabaya menjadi penuh mayat-mayat sampai di tempat-tempat tertentu sungai itu "terbendung mayat". Laporan lain mengatakan bahwa di Batu di Jawa Timur banyak sekali yang dibunuh di halaman kecil kantor polisi di sana sampai mayat-mayat itu dikubur di bawah semen.

    Di pulau Bali, yang sebelum itu dianggap sebagai kubu PKI, paling sedikit 35,000 orang menjadi korban di permulaan 1966. Di sana para Tamin, pasukan komando elite Partai Nasional Indonesianya Sukarno, adalah pelaku pembunuhan-pembunuh an ini. Koresponden khusus dari Frankfurter Allgemeine Zeitung bercerita tentang mayat-mayat di pinggir jalan atau dibuang ke dalam galian-galian dan tentang desa-desa yang separuh dibakar di mana para petani tidak berani meninggalkan kerangka-kerangka rumah mereka yang sudah hangus.

    Di daerah-daerah lain, para terdakwa dipaksa untuk membunuh teman-teman mereka untuk membuktikan kesetiaan mereka. Di kota-kota besar pemburuan-pemburuan anti-cina terjadi. Pekerja-pekerja dan pegawai-pegawai pemerintah yang mengadakan aksi mogok sebagai protes atas kejadian-kejadian kontra-revolusioner ini dipecat.

    Paling sedikit 250,000 orang pekerja dan petani dipenjarakan di kamp-kamp konsentrasi. Diperkirakan sekitar 110,000 orang masih dipenjarakan sebagai tahanan politik pada akhir 1969. Eksekusi-eksekusi masih dilakukan sampai sekarang, termasuk beberapa dozen sejak tahun 1980-an. Baru-baru ini empat tapol, Johannes Surono Hadiwiyino, Safar Suryanto, Simon Petrus Sulaeman dan Nobertus Rohayan, dihukum mati hampir 25 tahun sejak kudeta itu, tanda jelas bahwa rejim Suharto masih menakuti kebangkitan kaum proletar Indonesia dan petani-petani yang miskin.

    Pengkhianatan Stalinis mendalam

    Ketika ratusan ribu anggota dan pendukung PKI sedang diburu dan dibinasakan, kepemimpinan PKI dan rekan-rekannya di Kremlin, Beijing dan Partai Komunis Australia (CPA) menganjurkan kader PKI, pekerja dan massa petani untuk tidak melawan, memberikan lampu hijau untuk jendral-jendral militer untuk melakukan eksekusi massa itu.

    Para Stalinis mendalamkan posisi reaksioner mereka yang meminta rakyat untuk mengebawahkan kepentingan mereka untuk kaum burjuis nasional dan Sukarno, yang digunakan oleh Suharto sebagai presiden boneka dan untuk angkatan bersenjata.

    Pada tanggal 1 Oktober 1965 Sukarno dan sekretaris jendral PKI Aidit menanggapi pembentukan Dewan Revolusioner oleh para "pemberontak" dengan berpindah ke Pangkalan Angkatan Udara Halim di Jakarta untuk mencari perlindungan.

    Pada tanggal 6 Oktober Sukarno mengimbau rakyat untuk menciptakan "persatuan nasional", yaitu persatuan antara angkatan bersenjata dan para korbannya, dan penghentian kekerasan. Biro Politik dari Komite Sentral PKI segera menganjurkan semua anggota dan organisasi-organisa si massa untuk mendukung "pemimpin revolusi Indonesia" dan tidak melawan angkatan bersenjata. Pernyataan ini dicetak ulang di koran CPA bernama "Tribune":

    "Setelah mempelajari seruan ke Panglima Tertinggi angkatan bersenjata Republik Indonesia, dari pemimpin revolusi Indonesia, presiden Sukarno, Biro Politik Komite Sentral Partai Komunis Indonesia menyatakan dukungan penuh untuk seruan itu dan memohon kepada semua komite dan anggota partai dan para pendukung, juga organisasi-organisa si revolusioner massa yang dipimpin oleh anggota-anggota PKI untuk memungkinkan pelaksanaan seruan itu."

    Sementara itu, Sukarno, "pemimpin revolusi Indonesia", sedang bekerjasama dengan penindasan militer itu berharap untuk menyelamatkan lehernya sendiri. Dia memerintahkan pembasmian menyeluruh semua yang dianggap terlibat dalam "peristiwa 30 September" (percobaan kudeta yang dituduhkan dipimpin oleh Kolonel Untung), dan mengijinkan pencakupan dan pembunuhan pemimpin-pemimpin PKI. Pada tanggal 15 Oktober ia melantik Suharto sebagai Panglima angkatan bersenjata.

    Lima bulan setelah itu, pada tanggal 11 Maret 1966, Sukarno memberi Suharto kekuasaan tak terbatas. Ia memerintah Suharto untuk mengambil "langkah-langkah yang sesuai" untuk mengembalikan ketenangan dan untuk melindungi keamanan pribadi dan wibawanya. Kekuatan tak terbatas ini pertama kali digunakan oleh Suharto untuk melarang PKI. Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya, Sukarno dipertahankan sebagai presiden tituler diktatur militer itu sampai Maret 1967.

    Kepemimpinan PKI terus mengimbau massa agar menuruti kewenangan rejim Sukarno-Suharto. Aidit, yang telah melarikan diri, ditangkap dan dihukum mati oleh angkatan bersenjata pada tanggal 24 November, tetapi pekerjaannya diteruskan oleh Sekretaris Kedua PKI Nyoto. Dalam sebuah interview dengan seorang koresponden koran Jepang dia menekankan:

    "PKI hanya mengenal satu kepala negara, satu komandan tertinggi, satu pemimpin besar revolusi kita - Presiden Sukarno...Presiden Sukarno menyatukan semua kekuatan-kekuatan rakyat yang akan memutuskan nasib Indonesia."

    Semua anggota, kata Nyoto, harus "mendukung penuh perintah-perintah Presiden Sukarno dan berjanji untuk melaksanakan semua itu tanpa ragu...Partai kita berusaha dalam segala kemampuannya untuk mencegah perang saudara."

    Dalam kata-kata lain, sementara tukang-tukang jagal militer dan penasehat-penasehat CIA mereka sedang melakukan likuidasi sistematis bukan saja pemimpin-pemimpin PKI, tetapi juga seksi-seksi masyarakat Indonesia yang paling sadar-kelas, PKI memerintahkan kader mereka untuk tidak melawan.

    Kebangkrutan dan kebusukan teori "dua-tahap" Stalinis yang bersikeras bahwa rakyat harus mengikat nasib mereka ke Sukarno dan kaum burjuis nasional tidak dapat ditunjukkan secara lebih jelas.

    Pengkhianatan oleh PKI dipuji dan didukung oleh birokrasi-birokrasi Stalinis di Moskow dan Beijing. Kremlin menyalahkan elemen-elemen "pemberontak" dan "petualang" dalam PKI untuk kekalahan ini dan mengimbau berulang-ulang untuk "persatuan" revolusi Indonesia dalam NASAKOM-nya Sukarno.

    Pada tanggal 12 Oktober 1965, pemimpin-pemimpin Uni-Sovyet Brezhnev, Mikoyan dan Kosygin mengirim pesan khusus untuk Sukarno:"Kita dan rekan-rekan kita bergembira untuk mendengar bahwa kesehatan anda telah membaik...Kita mendengar dengan penuh minat tentang pidato anda di radio kepada seluruh rakyat Indonesia untuk tetap tenang dan menghindari kekacauan... Imbauan ini akan dimengerti secara mendalam."

    Dalam sebuah Konperensi Tiga Benua di Havana di bulan February 1966, perwakilan Uni-Sovyet berusaha dengan segala kemampuan mereka untuk menghindari pengutukan teror kontra-revolusi yang sedang terjadi terhadap rakyat Indonesia. Pendirian mereka mendapatkan pujian dari rejim Suharto. Parlemen Indonesia mengesahkan resolusi pada tanggal 11 Februari, menyatakan "penghargaan penuh" atas usaha-usaha perwakilan-perwakil an dari Nepal, Mongolia, Uni-Sovyet dan negara-negara lain di Konperensi Solidaritas Negara-Negara Afrika, Asia dan Amerika Latin, yang berhasil menetralisir usaha-usaha para kontra-revolusioner apa yang dinamakan pergerakan 30 September, dan para pemimpin dan pelindung mereka, untuk bercampur-tangan di dalam urusan dalam negeri Indonesia."

    Demikian, pengkhianatan para Stalinis adalah sangat jelas sampai parlemen piaraan junta militer ini dapat mengatakan bahwa kejadian yang diatur oleh CIA pada tanggal 30 September adalah percobaan kontra-revolusioner !

    Para Stalinis di Beijing juga mencuci tangan mereka dari nasib rakyat Indonesia. Mereka bahkan datang ke Jakarta untuk Konperensi Dunia melawan Pangkalan-Pangkalan Asing dan berdiri tanpa protes waktu kamerad-kamerad mereka dari Indonesia sedang dicakup di dalam ruang konperensi itu.

    Warisan 'Blok Empat Kelas'

    Pengkhianatan Stalinis di tahun 1965 adalah puncak dari lebih dari duapuluh tahun pengkhianatan di mana PKI, bekerja berdasarkan teori Stalinis "dua-tahap" dan, khususnya, ideologi Maois "blok empat kelas", mengikat kelas pekerja dan para petani ke rejim burjuis nasionalis Sukarno.

    Aidit mengatakan susunan ideologi kekalahan berdarah revolusi Indonesia tidak lama setelah kembalinya dari 18 bulan di Cina di Juli 1950 dan merebut kepemimpinan PKI:

    "Kelas pekerja, para petani, kelas menengah dan kelas burjuis nasional harus bersatu dalam sebuah front nasional."

    Aidit mengikuti dengan patuh jalan rejim Maois di Cina yang menindas pergerakan mandiri kelas pekerja dan berusaha untuk mendirikan sebuah "Demokrasi Baru", sebuah negara burjuis, dalam kerjasama dengan bagian-bagian dari kelas burjuis nasional dan kelas petit burjuis setelah runtuhnya diktatur Chiang Kai-Shek.

    Membeokan Mao, dia menyerukan untuk sebuah "demokrasi rakyat" dan sebuah "front gabungan semua elemen-elemen anti-imperialis dan anti-feodal dalam negeri. Yaitu, kaum pekerja, para petani, kaum petit-burjuis dan kaum burjuis nasional."

    Sesuai dengan teori kontra-revolusioner "dua-tahap" Stalinisme, "Tugas dari persekutuan ini adalah untuk membawa keadaan untuk, bukan sosialisme, tetapi perubahan ke arah demokrasi."

    Aidit memminta para pekerja dan petani mendukung bukan hanya kelas burjuis nasional, tetapi juga "semua elemen patriotik dan anti-kolonial termasuk kelompok tuan-tanah sayap kiri (agak progresif).

    Jurusan inilah, yang dikatakan oleh Aidit tanpa henti, yang digunakan untuk menekan pergerakan-pergerak an kaum pekerja dan para petani, mengikat kaum pekerja ke rejim Sukarno, dan menciptakan keadaan yang mengijinkan angkatan bersenjata untuk menyerang.

    Berkali-kali anggota-anggota dan para pendukung PKI diperintahkan untuk menahan perjuangan kelas dan semangat revolusi rakyat yang tertindas untuk mempertahankan "front bersatu nasional".

    "Prinsip dasar yang harus kita ikuti dalam melancarkan perjuangan nasional adalah membawahkan kepentingan rakyat untuk perjuangan nasional."

    Teori "dua-tahap" Stalinisme bersikeras bahwa di negara-negara koloni dan semi-koloni seperti Indonesia, rakyat tidak boleh mengadakan pergerakan-pergerak an yang mengancam kelas burjuis nasional atau mengemukakan program revolusi sosialis. Perjuangan kelas harus ditahan untuk mendukung kelas burjuis nasional dan mendirikan sebuah demokrasi kapitalis nasional.

    Akibat kontra-revolusi berdarah dari arahan Stalinis ini menunjukkan diri pertama kali di Cina di tahun 1926-27 ketika tukang jagal Chiang Kai-Shek menundukkan kelas pekerja di Cina setelah Partai Komunis di sana diberi perintah oleh Kremlin untuk menggabungkan diri dengan kaum burjuis nasionalis dalam Kuomintang.

    Pembunuhan-pembunuh an besar yang dilakukan oleh Chiang Kai-Shek menegaskan peringatan-peringat an Trotsky bahwa kaum-kaum burjuis yang lemah dan yang munculnya terlambat dalam sejarah, pada dasarnya tidak dapat untuk melancarkan perjuangan konsisten terhadap imperialisme dan feodalisme. Itu karena untuk melakukan perjuangan itu diperlukanlah penggerakan rakyat dalam sebuah perjuangan revolusioner dan perjuangan seperti itu akan segera menjadi berlawanan dengan posisi kelas kaum burjuis nasional sebagai pemeras kaum pekerja dan petani.

    Seperti Trotsky jelaskan dalam tulisannya tentang pengkhianatan Revolusi Cina:

    Penggerakan kaum pekerja dan petani terhadap imperialisme hanya dapat dicapai dengan menghubungkan isu-isu dasar dalam kehidupan mereka dengan tujuan kemerdekaan negara. Sebuah aksi mogok pekerja - besar atau kecil - sebuah pemberontakan agraris, pergerakan para rakyat tertindas di kota dan desa terhadap para lintah-darat, terhadap birokrasi, terhadap militer lokal, semua itu membangkitkan banyak hal, yang menggalang mereka bersama, yang mendidik, menguatkan, adalah merupakan sebuah langkah maju yang nyata di jalan ke pembebasan sosial dan revolusioner untuk rakyat Cina...Tetapi segala yang membuat rakyat yang tertindas dan tereksploitasi bertindak akan pasti akan mendorong kaum burjuis nasional ke dalam blok dengan para imperialis. Bentrokan kelas antara kaum burjuis dan para pekerja dan petani tidak akan diperlemah, tetapi sebaliknya akan diperkuat oleh penidasan imperialis, sampai ke perang saudara pada setiap ketegangan serius. (Trotsky, Problems of the Chinese Revolution, New Park 1969 p5).

    Peranan kriminal PKI dalam mengikat rakyat Indonesia ke rejim burjuis Sukarno membuat analisa Trotsky bersifat ramalan secara tragis.

    Tugas-tugas untuk mengadakan kemerdekaan nasional yang sejati, pembagian kembali tanah, demokrasi dan perkembangan ekonomi yang tak terselesaikan di Indonesia dan negeri-negeri lain yang tertindas menurut sejarah, hanya dapat dilaksanakan dengan kelas pekerja memimpin para petani dalam revolusi sosialis. Yaitu, penentuan nasib sendiri hanya akan terjadi sebagai hasil tambahan dari revolusi sosialis yang dipimpin oleh kaum proletar.

    Kemenangan perjuangan ini terikat erat dengan perkembangan revolusi sosialis dunia untuk menggulingkan imperialisme sedunia.

    Ini adalah dasar dari teori Marxis Revolusi Permanen yang dikembangkan oleh Leon Trotsky dan dibuktikan oleh kemenangan Revolusi Rusia Oktober 1917.

    BAB KEEMPAT
    Antek-Antek Kontra Revolusi Pablois

    Dalam bulan-bulan setelah kudeta militer yang diatur oleh CIA tanggal 1-2 Oktober 1965, semua anggota dan pendukung PKI, semua partai kelas buruh yang diketahui dan ratusan ribu pekerja dan petani Indonesia yang lain dibunuh atau dimasukkan ke kamp-kamp konsentrasi untuk disiksa dan diinterogasi.

    Pemusnahan sistematis dan penindasan yang kejam oposisi kelas buruh ini semakin bertambah setelah 11 Maret 1966 waktu Sukarno, pemimpin nasionalis burjuis yang dipertahankan oleh aparat militer sebagai presiden, memberi Jendral Suharto kekuasaan tak terbatas.

    Pengkhianatan pergerakan besar revolusioner rakyat Indonesia oleh kepemimpinan Stalinis PKI adalah sebuah kekalahan yang mendalam dengan implikasi-implikasi besar untuk kelas pekerja seluruh dunia.

    PKI berkali-kali menahan usaha-usaha para pekerja dan petani untuk menduduki pabrik-pabrik dan perkebunan-perkebun an. Mereka mengikat pergerakan ini dengan rejim burjuis Sukarno dan pada akhirnya bergabung dengan aparat-aparat tingkat atas militer yang didukung AS, calon-calon tukang jagal massa, dalam kabinet Sukarno. Setelah kudeta itu, para Stalinis memerintah kader mereka untuk menjalankan imbauan Sukarno untuk menciptakan "persatuan" dengan para aparat militer dan untuk mencegah segala perlawanan terhadap pembantaian yang sedang dilaksanakan.

    Pukulan terhadap revolusi Indonesia bergema di seluruh Asia dan dunia. Khususnya itu memudahkan dan memungkinkan peningkatan penyerangan Vietnam oleh AS, menghancurkan harapan dan semangat revolusi rakyat di Malaysia, Thailand, Filipina dan memperkuat rejim-rejim burjuis yang sedang goyah di anak benua India.

    Mandel dan Hansen menutupi pengkhianatan Stalinis

    Tetapi jawaban para revisionis Pablois dalam "Sekretariat Tergabung" (United Secretariat) yang dipimpin oleh Ernest Mandel dan Joseph Hansen, adalah untuk meremehkan akibat dari pengkhianatan di Indonesia itu, menutupi peran kontra-revolusioner para Stalinis dan, yang terpenting, menutupi tanggung-jawab mereka sendiri dalam pertumpahan darah ini.

    Pada saat rakyat Indonesia sedang mengalami pembunuhan massa, Profesor Mandel berusaha untuk menggambarkan prospek-prospek yang cerah untuk revolusi Indonesia, untuk menumpulkan kesadaran kelas pekerja internasional.

    "Tentu saja perjuangan di Indonesia masih belum berhenti," tulisnya di dalam keenakkan kursi universitas Belgia-nya dalam artikel yang dicetak dalam jurnal Pablois "World Outlook" tanggal 11 Maret 1966.

    "Sebagian dari kader komunis telah berhasil bersembunyi di bawah-tanah, " dia teruskan. "Kemarahan rakyat yang kelaparan tumbuh setiap hari; perut-perut para pekerja dan petani yang kosong tidak akan terisi oleh pembunuhan-pembunuh an itu. Pemberontakan itu akan menyebar-luas melawan rejim yang korup itu. Sukarno mengerti masalah ini dan akan memulai pengimbangannya lagi; dia baru saja membasmi jendral-jendral yang paling ganas dari kabinetnya. Para rakyat akan kembali mendapat giliran mereka untuk beraksi."

    Penutupan pengkhianatan besar rakyat Indonesia ini menunjukkan konsekuensi kontra-revolusioner oportunisme Pablois, yang muncul dalam jajaran gerakan Trotskyis mulai dari tahun-tahun 1940-an ke 1950-an.

    Dipimpin oleh Michel Pablo, elemen-elemen seperti Mandel berusaha menyesuaikan diri dengan stabilisasi kapitalisme setelah Perang Dunia Kedua dan keadaan dimana birokrasi-birokrasi Stalinis yang menekan pergerakan revolusioner kaum pekerja internasional tidak lama setelah akhir Perang Dunia Kedua, kelihatannya makin kuat. Mereka meninggalkan perjuangan Trotsky untuk mendirikan Internasional Keempat sebagai partai dunia revolusi sosialis dan mangajukan bahwa para birokrasi Stalinis seperti di Moskow dan Bejing akan didorong oleh rakyat untuk melakukan peranan progresif. Dengan dasar ini, mereka berusaha melikuidasi Internasional Keempat ke dalam segala bentuk Stalinis atau Demokrat sosial yang sedang memegang kendali pergerakan pekerja dalam tiap negara, mengatakan bahwa jalan ke sosialisme terdiri dari pendirian dari negara-negara pekerja yang cacat sejak lahir, seperti yang didirikan di Eropa Timur dan Cina, yang berlangsung selama beberapa abad.

    Pada tahun 1953 arah likuidasi ini dilawan dengan pembentukan Komite Internasional Internasional Keempat (International Committee of the Fourth International) sebagai jawaban kepada sebuah Surat Terbuka yang ditulis oleh pemimpin Partai Pekerja Sosialis (Socialist Workers Party) Amerika James P Cannon yang memanggil untuk pemertahanan "Trotskyisme ortodox". Bagaimanapun juga, pada permulaan tahun 1960-an para pemimpin PPS sendiri mul

  • title-3421781

    Cantik-superss
    Latar Belakang Sejarah

    Pada Bulan Oktober 1965 kaum buruh internasional mengalami salah satu kekalahan yang terbesar dalam period setelah Perang Dunia Kedua.

    Sebanyak satu juta buruh dan petani dibantai dalam kudeta militer yang diatur oleh CIA dan dipimpin oleh Jenderal Suharto. Kudeta militer ini dilakukan untuk menyingkirkan rejim burjuis Sukarno yang sedang goyah, menindas pergerakan massa di Indonesia dan mendirikan rejim militer yang brutal.

    Mantan-mantan diplomat Amerika Serikat and pejabat CIA, termasuk bekas duta besar AS untuk Indonesia dan Australia, Marshall Green, tahun ini telah mengakui bekerja sama dengan tukang-tukang jagal Suharto dalam pembunuhan ratusan ribu buruh dan petani yang dicurigai sebagai pendukung Partai Komunis Indonesia. Mereka memberikan secara perorangan nama-nama dari ribuan anggota PKI dari arsip-arsip CIA, untuk daftar-daftar bantaian angkatan bersenjata.

    Menurut Howard Federspeil, seorang ahli soal Indonesia yang sedang bekerja untuk Departemen Luar Negeri AS pada waktu kampanye anti-komunis itu: "Tak seorang pun perduli, asal saja mereka itu komunis, kalau mereka dijagal."

    Kudeta itu merupakan hasil dari sebuah operasi panjang CIA, dengan bantuan agen-agen Dinas Intelijen Rahasia Australia (ASIS), untuk melatih dan membangun angkatan bersenjata Indonesia dalam persiapan untuk sebuah rejim militer yang akan menindas aspirasi revolusioner rakyat Indonesia.

    Pada waktu kudeta militer itu, PKI merupakan partai Stalinis yang terbesar di seluruh dunia, di luar Cina dan Uni Sovyet. Anggotanya berjumlah sekitar 3.5 juta; ditambah 3 juta dari pergerakan pemudanya. PKI juga mengontrol pergerakan serikat buruh yang mempunyai 3.5 juta anggota dan pergerakan petani BTI yang mempunyai 9 juta anggota. Termasuk pergerakan wanita, organisasi penulis dan artis dan pergerakan sarjananya, PKI mempunyai lebih dari 20 juta anggota dan pendukung.

    Selama perjuangan kemerdekaan melawan Belanda di tahun empatpuluhan dan sepanjang tahun limapuluhan dan enampuluhan ratusan ribu orang buruh yang sadar akan kelasnya menjadi anggota PKI, mengira PKI masih mewakili tradisi-tradisi sosialis revolusioner Revolusi Bolshevik 1917.

    Namun pada akhir 1965, antara 500.000 dan satu juta anggota-anggota dan pendukung-pendukung PKI telah menjadi korban pembunuhan dan puluhan ribu dipenjarakan di kamp-kamp konsentrasi, tanpa adanya perlawanan sama sekali.

    Pembunuhan-pembunuh an itu sangatlah tersebar-luas, sampai sungai-sungai menjadi penuh dengan mayat-mayat para pekerja dan petani. Sewaktu regu-regu pembantai militer yang didukung CIA mencakupi semua anggota dan pendukung PKI yang terketahui dan melakukan pembantaian keji mereka, majalah "Time" memberitakan:

    "Pembunuhan- pembunuhan itu dilakukan dalam skala yang sedemikian sehingga pembuangan mayat menyebabkan persoalan sanitasi yang serius di Sumatra Utara, di mana udara yang lembab membawa bau mayat membusuk. Orang-orang dari daerah-daerah ini bercerita kepada kita tentang sungai-sungai kecil yang benar-benar terbendung oleh mayat-mayat. Transportasi sungai menjadi terhambat secara serius."

    Bagaimanakah kekalahan bersejarah ini dapat terjadi? Jawabannya memerlukan sebuah penelitian dari sejarah pergerakan rakyat Indonesia, pengkhianatan oleh kelas burjuis nasional yang dipimpin oleh Sukarno, peranan kontra-revolusioner PKI dan peranan penting yang dimainkan oleh para oportunis Pablois dari "Sekretariat Tergabung" (United Secretariat) -nya Ernest Mandel dan Joseph Hansen dalam membantu pengkhianatan para Stalinis.

    'Permata Asia'

    Kudeta berdarah di Indonesia merupakan hasil dari niat imperialisme AS untuk mendapatkan kontrol mutlak atas kekayaan alam dan sumber-sumber strategis dari kepulauan yang sering dinamakan 'Permata Asia'itu.

    Pentingnya Indonesia bagi imperialisme AS ditegaskan oleh presiden AS Eisenhower di tahun 1953, waktu ia mengatakan kepada konperensi gubernur negara-negara bagian bahwa pembiayaan oleh AS untuk perang kolonial pemerintah Perancis di Vietnam adalah sangat imperatif dan merupakan "jalan termurah" untuk tetap mengontrol Indonesia.

    Eisenhower menerangkan: "Sekarang marilah kita anggap kita kehilangan Indocina. Bila Indocina hilang, beberapa hal akan langsung terjadi. Tanjung Malaka, sebidang tanah terakhir yang bertahan di sana, akan menjadi sulit untuk dipertahankan. Timah dan tungsten yang sangat kita hargai dari daerah itu akan berhenti datang, dan seluruh India akan terkepung.

    "Birma tidak akan berada di posisi yang dapat dipertahankan. Semua posisi di sekitar sana akan menjadi sangat tak menyenangkan buat Amerika Serikat, karena pada akhirnya jika kita kehilangan semua itu, bagaimanakah dunia bebas akan mempertahankan kerajaan Indonesia yang kaya?

    "Jadi, entah dimana, ini harus diberhentikan dan harus diberhentikan sekarang, dan inilah yang kita usahakan.

    "Jadi, bila AS memutuskan untuk menyumbang 400 juta dolar untuk membantu perang di Indocina, kita bukannya menyuarakan program bantuan gratis. Kita memilih jalan termurah untuk mencegah terjadinya sesuatu yang akan berarti sangat buruk buat Amerika Serikat, keamanan, kekuatan dan kemampuan kita untuk mendapatkan barang-barang tertentu yang kita butuhkan dari kekayaan-kekayaan wilayah Indonesia dan Asia Tenggara."

    Indonesia telah diperkirakan sebagai negara terkaya nomor lima di dunia di bidang sumber-sumber alam. Selain sebagai produser minyak yang nomor lima terbesar, Indonesia mempunyai cadangan-cadangan timah, bauksit, batubara, emas, perak, berlian, mangan, fosfat, nikel, tembaga, karet, kopi, minyak kelapa sawit, tembakau, gula, kelapa, rempah-rempah, kayu dan kina yang sangat besar.

    Pada tahun 1939, yang pada waktu itu masih dipanggil East Indies Belanda memasok lebih dari separuh konsumsi total bahan mentah yang penting bagi Amerika Serikat. Kekuasaan atas daerah penting ini merupakan masalah penting dalam perang AS-Jepang di Pasifik. Dalam masa setelah perang kelas penguasa AS bertekad bulat untuk tidak kehilangan kekayaan-kekayaan negara ini ke tangan rakyat Indonesia.

    Setelah kekalahan Perancis di Vietnam di tahun 1954, AS menjadi khawatir bahwa perjuangan rakyat Vietnam akan menyulut pergolakan revolusioner di seluruh daerah Asia Tenggara, mengancam kontrol mereka atas Indonesia.

    Di tahun 1965, sebelum kudeta di Indonesia, Richard Nixon, yang segera akan menjadi presiden AS, menyerukan untuk pengeboman saturasi untuk melindungi "potensi mineral besar" Indonesia. Dua tahun setelah itu, dia menyatakan bahwa Indonesia merupakan "hadiah terbesar Asia Tenggara".

    Setelah kudeta 1965, kegunaan diktatur Suharto untuk kepentingan imperialisme AS telah tergarisbawahi dalam laporan Departemen Luar Negeri AS ke Konggres di tahun 1975, yang menyebut Indonesia sebagai "lokasi yang paling berwenang secara strategis di dunia":

    * "Mempunyai populasi yang terbesar di seluruh Asia Tenggara.
    * "Merupakan penyuplai utama bahan-bahan mentah di daerah itu.
    * "Kemakmuran ekonomi Jepang yang terus berkembang, sangatlah tergantung pada minyak bumi dan bahan-bahan mentah lain yang dipasok oleh Indonesia.
    * "Investasi Amerika yang sudah ada di Indonesia sangatlah kokoh dan hubungan dagang kita sedang berkembang cepat.
    * "Indonesia mungkin secara meningkat akan menjadi penyedia yang penting untuk keperluan energi AS.
    * "Indonesia adalah anggota OPEC, tetapi itu mengambil sikap yang moderat dalam langkah-langkahnya, dan tidak ikut serta dalam embargo minyak bumi.
    * "Kepulauan Indonesia terletak pada jalur-jalur laut yang strategis dan pemerintah Indonesia memainkan peranan yang vital dalam perundingan- perundingan hukum kelautan, yang sangatlah penting untuk keamanan dan kepentingan komersiil kita."

    Perampasan Kolonial Selama Berabad-Abad

    Kolonial Belanda menjajah Indonesia tanpa ampun selama 350 tahun, merampok kekayaan alamnya, membuka perkebunan-perkebun an besar dan memeras rakyatnya secara kejam.

    Pada tahun 1940 hanya ada satu dokter untuk setiap 60,000 orang (dibandingkan dengan India, di mana rasionya adalah 1:6,000) dan 2,400 lulusan Sekolah Menengah Atas. Pada akhir Perang Dunia Kedua, 93 persen dari populasi Indonesia masih buta-huruf.

    Pada permulaan abad Kesembilan Belas, perkembangan kaum burjuis Inggris makin menantang dominasi Belanda atas daerah ini. Di tahun 1800 East Indies Company milik Belanda menjadi bangkrut dan Inggris mengambil-alih daerah kekuasaannya antara tahun 1811 dan 1816. Di tahun 1824, Treaty of London (Perjanjian London) membagi daerah ini antara keduanya: Inggris mendapat kontrol atas tanjung Malaka dan Belanda tetap menguasai kepulauan Indonesia.

    Permulaan abad Keduapuluh, imperialisme Amerika yang baru sedang berkembang mulai menjadi tantangan untuk kekuatan kolonial Eropa, terutama setelah pendudukan Filipina oleh Amerika Serikat di tahun 1898.

    Amerika Serikat sedang terlibat dalam perang dagang dengan Belanda atas minyak bumi dan karet. Perusahaan minyak Standard mulai memperebutkan monopoli atas daerah-daerah pertambangan minyak di Indonesia oleh Royal Dutch company. Di tahun 1907, Royal Dutch dan Shell bergabung untuk menandingi kompetisi dari AS. Mengambil keuntungan dari situasi Perang Dunia Pertama, Standard Oil mulai mengebor minyak di Jawa Tengah, dan dalam tahun yang sama perusahaan-perusaha an AS mulai menguasai perkebunan-perkebun an karet. Goodyear Tyre and Rubber membuka perkebunan-perkebun an mereka dan US Rubber membuka perkebunan-perkebun an karet di bawah satu pemilikan yang terbesar di dunia.

    Strategi AS di daerah ini sewaktu itu dapat diringkas oleh Senator William Beveridge:

    "Filipina adalah milik kita selamanya... dan lewat Filipina adalah pasaran Cina yang tak terbatas. Kita tidak akan mundur dari keduanya. Kita tidak akan meninggalkan tanggung-jawab kita di kepulauan itu. Kita tidak akan meninggalkan tanggung-jawab kita di Asia Timur. Kita tidak akan meninggalkan bagian kita di dalam misi bangsa kita, kepercayaan Tuhan, untuk perdaban di dunia ini...kita akan maju berkarya...dengan rasa terima kasih... dan rasa syukur kepada Tuhan kita yang Maha Besar karena Dia telah memilih kita sebagai orang-orang terpilihNya, dan selanjutnya memimpin dalam regenerasi dunia...Perdagangan terbesar kita mulai sekarang harus dengan Asia. Laut Pasifik itu adalah laut kita... dan Pasifik adalah laut perdagangan masa depan. Kekuatan yang memiliki Pasifik, adalah kekuatan yang menguasai dunia. Dan dengan Filipina, kekuatan itu adalah dan akan selalu menjadi Republik Amerika."

    Berkembangnya imperialisme Jepang dan ekspansinya ke Korea, Manchuria dan Cina menimbulkan pertentangan dengan imperialisme Amerika atas penguasaan daerah-daerah itu, yang meningkat dan meletus dalam Perang Pasifik dalam Perang Dunia Kedua. Keinginan kaum burjuis Jepang untuk merebut kekuasaan AS, Perancis dan Belanda membawa pentingnya Indonesia, sebagai gerbang ke Laut India dari Asia Tenggara dan sumber kekayaan alam, ke dalam fokus.

    Di tahun 1942 para kolonialis Belanda menyerahkan kekuasaan atas Indonesia ke Jepang, daripada membiarkan rakyat Indonesia berjuang untuk kemerdekaan. Semua kekuatan imperialis mempunyai alasan baik untuk menakuti rakyat Indonesia yang tertindas.

    Sejauh tahun 1914 wakil-wakil terbaik dari kelas buruh Indonesia telah mengambil ajaran Marxisme ketika Assosiasi Sosial Demokrat Indies (Indies Social Democratic Association) dibentuk dengan inisiatip seorang komunis Belanda Hendrik Sneevliet. Di tahun 1921 itu berubah menjadi Partai Komunis Indonesia sebagai tanggapan kepada Revolusi Bolshevik di Rusia.

    PKI mendapatkan kewenangan besar di antara rakyat dengan memimpin perjuangan melawan kolonialisme Belanda, termasuk pergerakan-pergerak an besar yang pertama di Jawa dan Sumatra di tahun 1926 dan 1927.

    Ketika rakyat Cina sedang bergerak dalam Revolusi Cina yang kedua di tahun 1926-27, para pekerja dan petani Indonesia juga bergerak dalam sebuah pemberontakan, yang dipimpin PKI. Bagaimanapun juga, kewenangan kolonial Belanda berhasil memadamkan pemberontakan- pemberontakan itu. Mereka menangkap 13,000 orang tertuduh, memenjarakan 4,500 dan mengasingkan 1,308 ke dalam kamp konsentrasi di Irian Barat. PKI dilarang.

    Perjuangan Pembebasan Nasional Dikhianati

    Pada akhir Perang Dunia Kedua rakyat-rakyat tertindas di Indonesia, India, Sri Lanka, Cina dan di seluruh Asia Tenggara dan dunia maju bergerak dalam perjuangan-perjuang an revolusioner untuk membebaskan diri dari imperialisme.

    Pada saat yang sama, kelas buruh di Eropa dan negara-negara kapitalis mengadakan perjuangan-perjuang an yang menggoncangkan. Itu hanya dapat dipadamkan melalui perkhianatan birokrasi Sovyet yang dipimpin oleh Stalin dan partai-partai Stalinis di seluruh dunia. Pengkhianatan pekerja-pekerja Perancis, Itali dan Yunani yang terutama, dan pendirian rejim-rejim yang dikendalikan secara birokratis di Eropa Timur memperbolehkan imperialisme untuk memantapkan diri.

    Di tahun 1930an, munculnya sebuah kasta berhak istimewa dalam Uni-Sovyet, yang mengambil kekuasaan politis dari kaum proletar Sovyet, telah menghancurkan partai-partai Komunis. Dari partai-partai Internasional revolusioner, mereka berubah menjadi organisasi-organisa si kontra-revolusioner , yang menekan perjuangan-perjuang an mandiri kelas buruh.

    Di negara-negara kolonial, partai-partai Stalinis ini, termasuk PKI, secara sistematis mengebawahkan kepentingan rakyat ke kelas burjuis-nasional yang dipimpin oleh tokoh-tokoh seperti Gandhi di India dan Sukarno di Indonesia yang berusaha mencari penyelesaian dengan kekuatan-kekuatan kolonial untuk mempertahankan kekuasaan kapitalis.

    Perjanjian-perjanji an setelah Perang Dunia Kedua tidak menghasilkan pembebasan nasional yang sejati dari imperialisme, tetapi membebankan kepada rakyat agen-agen baru kekuasaan imperialis. Ini adalah kasusnya di Indonesia di mana kelas burjuis nasional, dipimpin Sukarno, mengadakan perjanjian-perjanji an reaksioner dengan Belanda.

    Sukarno, putra seorang guru sekolah Jawa yang berasal dari keluarga aristokratis, adalah lulusan arsitek, bagian dari lapisan sosial tipis kaum petit-burjuis yang berpendidikan. Dia adalah ketua Partai Nasional Indonesia saat itu dibentuk di tahun 1927 dan mengalami penjara dan pengasingan di tangan Belanda karena dia mengajarkan kemerdekaan nasional.

    Dalam Perang Dunia Kedua Sukarno dan kelas burjuis nasional bekerja sama dengan pasukan pendudukan Jepang dengan harapan mendapatkan semacam kemerdekaan nasional. Dalam hari-hari terakhir perang itu Sukarno, dengan dukungan separuh-hati Jepang, mendeklarasikan Republik Indonesia yang merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.

    Arahan pemimpin-pemimpin kelas burjuis nasional ini bukanlah untuk memimpin sebuah gerakan proletar melawan imperialisme, tetapi untuk mendirikan sebuah administrasi dan memperkuat posisi mereka dalam tawar-menawar dengan Belanda, yang tidak mempunyai tentara di daerah itu.

    Tetapi reaksi Belanda adalah mengadakan perang yang kejam untuk menekan rejim yang baru ini. Mereka memerintahkan Indonesia untuk tetap di bawah perintah tentara Jepang sampai tentara Inggris dapat mencapai sana. Inggris dan Jepang kemudian menggunakan tentara-tentara Jepang untuk menekan perjuangan bertekad para pekerja, pemuda dan petani Indonesia. Dengan begitu, semua kekuatan-kekuatan imperialis bergabung melawan rakyat Indonesia.

    Ketika perlawanan bersenjata meletus di seluruh Indonesia terhadap tentara Belanda, Sukarno, dengan dukungan dari kepemimpinan PKI, menjalankan sebuah politik kompromi dengan Belanda dan menandatangani Perjanjian Linggarjati di bulan Maret 1947. Belanda mengenali secara formal kekuasaan Indonesia atas Jawa, Madura dan Sumatra dan setuju untuk mengundurkan tentara mereka. Tetapi kenyataannya, Belanda hanya menggunakan ini sebagai kesempatan untuk mengambil napas dan memperkuat dan mempersiapkan diri untuk sebuah serangan yang kebrutalannya tak tertandingi di bulan Juli dan Agustus 1947.

    Selama waktu ini, ratusan ribu buruh dan petani menjadi anggota atau mendukung PKI karena mereka kehilangan kepercayaan terhadap para pemimpin burjuis dan karena mereka memandang PKI sebagai partai revolusioner. Mereka juga terilhami oleh kemajuan-kemajuan Partai Komunis Cina Mao Tse Tung dalam perangnya melawan Chiang Kai-Shek. Dalam perang melawan Belanda, buruh dan petani menduduki tanah dan bangunan-bangunan berulang-ulang dan serikat-serikat buruh massa dibentuk.

    Untuk menanggulangi perkembangan ini, pemerintahan Republik Sukarno, yang dipimpin oleh Amir Syarifuddin yang saat itu masih Perdana Menteri (juga seorang anggota PKI rahasia), menandatangani Perjanjian Renville di bulan Januari 1948 (dipanggil itu karena ditandatangani di atas USS Renville). Perjanjian ini memberi Belanda kekuasaan atas separuh pabrik-pabrik gula di Jawa, 75 percent dari karet Indonesia, 65percent perkebunan kopi, 95 percent perkebunan teh dan minyak bumi di Sumatra. Tambahan pula, penyelesaian yang diimposisi oleh AS ini menyebutkan penarikan mundur pasukan-pasukan gerilya dari daerah-daerah yang dikuasai Belanda dan menciptakan kondisi untuk pembubaran "unit-unit rakyat bersenjata" yang dipimpin oleh PKI, dan untuk pembentukan "Angkatan Bersenjata Nasional Indonesia" yang dipimpin oleh Sukarno dan jendral-jendralnya.

    Di tahun 1948 aksi-aksi pemogokan menentang pemerintah Republik, yang sekarang dipimpin oleh Wakil Presiden sayap-kanan Hatta sebagai Perdana Menteri, dan menuntut sebuah pemerintahan berparlemen. Aksi-aksi ini dipadamkan oleh Sukarno yang mengimbau untuk penciptaan "kesatuan nasional".

    Pada saat yang sama, pemimpin PKI Musso yang sebelumnya diasingkan, kembali dari Uni-Sovyet dan beberapa pemimpin-pemimpin penting Partai Sosialis Indonesia dan Partai Buruh Indonesia menyatakan bahwa mereka adalah anggota-anggota rahasia PKI selama bertahun-tahun. Pernyataan ini menunjukkan basis dukungan untuk PKI yang jauh lebih besar dari yang sebelumnya diperkirakan oleh kekuatan-kekuatan imperialis.

    Di bulan Juli 1948 pemimpin-pemimpin burjuis, termasuk Sukarno dan Hatta mengadakan pertemuan rahasia dengan wakil-wakil AS di Sarangan di mana AS menuntut, sebagai bayaran bantuan ke pemerintah, pengadaan pemburuan anggota-anggota PKI dalam angkatan bersenjata dan pegawai-pegawai pemerintah. Hatta, yang juga masih Menteri Pertahanan, diberi $10 juta untuk melakukan "pemburuan merah"

    Dua bulan setelah itu, dalam sebuah percobaan untuk menghancurkan PKI, Peristiwa Madiun dilakukan di Jawa. Beberapa perwira angkatan bersenjata, anggota-anggota PKI, dibunuh dan yang lainnya menghilang, setelah mereka menentang rencana-rencana untuk membubarkan kesatuan-kesatuan gerilya angkatan bersenjata yang berada di garis depan perang melawan Belanda.

    Pembunuhan-pembunuh an ini menimbulkan pemberontakan di Madiun yang ditekan secara berdarah oleh rejim Sukarno. Perdana Menteri Hatta menyatakan hukum darurat. Ribuan anggota PKI dibunuh, 36,000 dipenjara dan pemimpin PKI Musso dan 11 pemimpin penting yang lainnya dihukum mati.

    Konsul-Jendral AS Livergood menelegram atasannya di AS mengatakan bahwa dia telah memberitahu Hatta bahwa "krisis ini memberikan pemerintahan Republik kesempatan untuk menunjukkan tekadnya untuk menekan komunisme."

    Terbesarkan hatinya karena pogrom anti-komunis itu, Belanda menjalankan serangan militer baru di Desember 1948, menangkap Sukarno. Tetapi perlawanan yang meluas memaksa Belanda untuk menyerah dalam waktu enam bulan.

    Meskipun begitu, konperensi Meja Bundar tahun 1949 di Den Haag membebankan pengkhianatan- pengkhianatan baru atas rakyat Indonesia, melibatkan konsesi-konsesi yang lebih besar dari kelas burjuis Indonesia.

    Pemerintah Sukarno setuju untuk mengambil alih hutang-hutang koloni dan menjamin perlindungan untuk modal milik Belanda. Belanda mendapat Irian Barat dan Republik Indonesia tetap harus bekerja sama dengan imperialis Belanda dalam Netherlands- Indonesian Union. Pemerintah Sukarno tetap mempertahankan hukum-hukum kolonial. Angkatan bersenjata baru didirikan dengan menggabungkan tentara-tentara Belanda yang berasal dari Indonesia ke dalam "Angkatan Bersenjata Nasional". Dalam kata lain aparatus dan hukum-hukum kolonial lama dipertahankan dibalik aling-aling pemerintahan parlemen di republik yang baru.

    Kepemimpinan PKI mendukung pengkhianatan perjuangan pembebasan nasional itu dan berusaha untuk membatasi kelas buruh dan petani ke dalam perjuangan-perjuang an yang damai dan "demokratis" . Ini adalah terusan dari posisi PKI selama Perang Dunia Kedua ketika kepemimpinan PKI (dengan Partai Komunis Belanda) mengikuti arahan Stalin untuk bekerja sama dengan imperialis Belanda melawan Jepang dan menyerukan untuk sebuah "Indonesia merdeka dalam Persemakmuran Belanda". Ini tetap menjadi politik PKI meskipun selama perjuangan setelah Perang Dunia Kedua melawan Belanda.

    Untuk rakyat Indonesia, kepalsuan "kemerdekaan" di bawah dominasi imperialisme Belanda, Amerika dan dunia yang berlangsung makin menjadi jelas. Hasil-hasil alam, industri-industri penting, perkebunan-perkebun an dan kekuatan keuangan tetap dipegang oleh perusahaan-perusaha an asing.

    Contohnya, 70 percent lalu-lintas laut antar kepulauan masih dipegang oleh perusahaan Belanda KPM dan salah satu bank Belanda terbesar, Nederlandche Handel Maatschappij, memegang 70 percent dari semua transaksi keuangan Indonesia.

    Menurut perhitungan pemerintah Indonesia, di pertengahan tahun 1950an, modal Belanda di Indonesia berharga sekitar $US 1 milyar. Pemerintah Sukarno mengatakan bahwa meskipun jika mereka ingin menasionalisasikan kemilikan Belanda, mereka tidak mempunyai cukup uang untuk menggantikan kerugian bekas penguasa-penguasa kolonial itu. Dan untuk menasionalisasikan tanpa ganti-rugi adalah komunisme.

    Ketidakpercayaan rakyat tercermin di pemilihan umum 1955 ketika jumlah kursi yang dipegang PKI meningkat dari 17 ke 39.

    Dalam waktu dua tahun pergerakan rakyat akan meletus dalam penyitaan pabrik-pabrik, perkebunan-perkebun an, bank-bank, toko-toko dan kapal-kapal milik Belanda, Amerika dan Inggris.

    BAB KEDUA
    Para Stalinis Mengkhianati Pergerakan Massa

    Pada bulan Desember 1957 dominasi imperialisme atas ekonomi Indonesia tergoncang oleh pergerakan massa kaum buruh dan petani. Pabrik-pabrik, perkebunan-perkebun an, bank-bank dan kapal-kapal laut banyak yang dirampas dan diduduki.

    Rejim burjuis Sukarno bisa bertahan hanya karena pemimpin-pemimpin Stalinis Partai Komunis Indonesia (PKI) menyabot pergerakan massa itu, dengan menegaskan bahwa para buruh dan petani harus menyerahkan semua yang sudah mereka sita kepada pasukan-pasukan angkatan bersenjata yang dikirim oleh Sukarno, dengan dukungan AS, untuk mengontrol situasi itu.

    Kabar di New York Times tanggal 8 Desember 1957 memberi gambaran tentang keluasan dan kekuatan pergerakan itu: "Pergerakan pekerja-pekerja di Jakarta, sejauh kita dapat menentukan, terjadi tanpa ijin pemerintah, dan berlawanan dengan kata-kata Perdana Menteri Djuanda, Kepala angkatan bersenjata Jendral Abdul Haris Nasution dan pejabat-pejabat pemerintah yang lainnya, yang mengatakan bahwa pergerakan itu tidak dapat diterima dan orang-orang yang terlibat akan dihukum berat...

    "Ketiga bank milik Belanda di sini, the Netherlands Trading Society, the Escompto dan the Netherlands Commercial Bank, diambil-alih oleh delegasi-delegasi pergerakan itu. Mereka membacakan proklamasi di depan kawan-kawan seperjuangan yang penuh semangat dan kemudian di depan para administrator- administrator dari Belanda, mengatakan bahwa atas nama Asosiasi Pekerja Indonesia mereka merampas bank-bank ini dan mulai saat itu akan menjadi milik Republik Indonesia."

    Surat kabar Belanda "Volksrant" mengabarkan dengan nada khawatir pada tanggal 11 Desember 1957:"Di Jakarta para Komunis terus mengibarkan bendera-bendera merah di atas perusahaan-perusaha an milik Belanda...Hari ini kantor pusat Philips dan Societe D'Assurances Nillmij di Jakarta diduduki oleh orang-orang Indonesia di bawah pimpinan perserikatan buruh Komunis."

    Pergerakan ini tidak hanya terjadi di Pulau Jawa. Menurut "New York Herald-Tribune" tanggal 16 Desember:"Pekerja- pekerja di bawah SOBSI, perserikatan buruh sentral yang didominasi oleh para Komunis, merampas toko-toko roti Belanda dan bank-bank di Borneo (Kalimantan) ." Koran "New York Times" pada hari yang sama mengabarkan bahwa di Palembang, ibukota Sumatra Selatan, "pasukan-pasukan keamanan menahan sejumlah pekerja, anggota serikat buruh yang dikontrol oleh para Komunis, karena mereka bertindak tanpa ijin menyita tiga perusahaan Belanda. Tigapuluh tujuh bendera merah yang mereka naikkan di depan rumah-rumah pegawai-pegawai Belanda perusahaan-perusaha an tersebut telah disita."

    Surat-surat kabar kapitalis yang lain mengabarkan "situasi anarki di Bali" dan menurut pemilik perkebunan Belanda yang sedang melarikan diri, di Aceh dan Deli, di pantai selatan Sumatra, pergerakan rakyat bukan hanya ditujukan ke perusahaan-perusaha an Belanda, tetapi juga ke perusahaan-perusaha an Inggris dan Amerika. Kabar-kabar serupa juga datang dari Sumatra Utara, Sulawesi dan pulau-pulau lainnya.

    Ada juga kabar-kabar bahwa pergerakan-pergerak an ini menimbulkan perlawanan di Papua New Guinea (Irian Timur) yang diduduki oleh Australia. Di Karema, duapuluh orang terluka ketika orang-orang pribumi melawan anggota-anggota pasukan keamanan setelah seorang jururawat pribumi mengatakan bahwa dia merasa dihina.

    Pemberontakan di Indonesia timbul sebagai reaksi terhadap panggilan dari Sukarno untuk mengadakan pemogokan umum terhadap perusahaan-perusaha an Belanda. Sebelum itu ia juga berbicara tentang penasionalisasian perusahaan-perusaha an milik Belanda pada sebuah pidato umum. Tujuan Sukarno adalah untuk menggunakan ancaman penasionalisasian sebagai cara untuk menekan Belanda untuk meninggalkan Irian Barat, yang tetap dibawah Belanda setelah Konperensi Meja Bundar di tahun 1949, supaya Indonesia dapat mengambil-alihnya.

    Dalam usahanya untuk mengimbangkan keserakahan imperialisme Belanda, Amerika dan Inggris; ketidakpuasan massa yang tertindas dan berkembangnya kekuatan militer dengan dukungan Amerika - yang makin lama makin menjadi andalan rejimnya, Sukarno berusaha menggunakan tekanan dari rakyat untuk menekan imperialisme Belanda.

    Para buruh mulai merampas dan menduduki perusahaan-perusaha an Belanda tanpa suruhan. Sukarno sama sekali tidak mengharapkan tanggapan seperti ini. Ia langsung memberi anggota-anggota militernya ijin untuk mengambil-alih perusahaan-perusaha an itu dari para buruh.

    Biro Politik PKI bergegas membantu Sukarno dengan mengeluarkan resolusi untuk mengimbau rakyat untuk memecahkan secepatnya dengan perundingan perbedaan pendapat tentang cara-cara perjuangan melawan imperialisme Belanda, dengan demikian persatuan rakyat, antara rakyat, pemerintah dan angkatan bersenjata dapat diperkuat."

    Bersamaan dengan itu, PKI mengimbau para pekerja "jangan hanya menjalankan perusahaan-perusaha an yang diduduki, tetapi buat mereka bekerja lebih displin dan lebih baik dalam meningkatkan produksi.

    "Pemerintah harus mengambil keputusan yang mampu dan patriotis untuk perusahaan-perusaha an ini, dan para pekerja harus menunjang keputusan ini dengan seluruh kekuatan mereka."

    Tambahan pula, PKI menegaskan bahwa pengambil-alihan itu hanya berlaku terhadap perusahaan-perusaha an Belanda, mencoba menentramkan hati imperialisme AS dan Inggris dengan mengatakan bahwa kepentingan mereka tidak akan terganggu:"Semua pergerakan-pergerak an buruh, petani dan organisasi-organisa si pemuda ditujukan ke kapitalis-kapitalis Belanda. Negara-negara kapitalis yang lainnya tidak bersikap bermusuhan dalam perang antara Belanda dan Indonesia di Irian Barat. Karena itu, tidak ada aksi terhadap perusahaan kapitalis-kapitalis dari negara lain."

    Mengenali usaha-usaha PKI untuk mematahkan pergerakan massa, Tillman Durdin menulis di "New York Times" tanggal 16 Desember:"Anggota- anggota Badan Penasehat National yang berorientasi Komunis diketahui telah menentang dengan tegas penyitaan-penyitaan yang dilakukan oleh para pekerja dan mengatakan bahwa pergerakan-pergerak an itu adalah 'anarko-sindikalism e' tak berdisiplin. Para Komunis membela program penyitaan yang dilangsungkan oleh pemerintah seperti sekarang ini.

    Sukarno sendiri telah bersiap-siap meninggalkan negara untuk sebuah "liburan" di India, tetapi penyerahan perusahaan-perusaha an Belanda kepada pihak militer di bawah instruksi PKI telah menyelamatkan rejim burjuis Sukarno. Para pemimpin Stalinis dalam PKI tidak hanya menyelamatkan pemerintah Sukarno, mereka menimbulkan kondisi yang mengijinkan jendral-jendral militer dan penyokong mereka di AS untuk mempersiapkan kontra-revolusi berdarah mereka delapan tahun setelah itu.

    Perspektif para pemimpin PKI adalah teori Stalinis "revolusi dua tahap" _ yang mengatakan bahwa perjuangan untuk sosialisme di Indonesia harus pertama melalui tahap apa yang dinamakan kapitalisme "demokratis" . Perjuangan revolusi massa untuk memperlakukan langkah-langkah sosialis harus ditekan dan kepentingannya dikebawahkan ke sebuah "persatuan" dengan kelas burjuis nasional.

    Sejalan dengan perspektif reaksioner ini, birokrasi-birokrasi Stalinis di Uni-Sovyet dan Cina mengelu-elukan Sukarno dan rejimnya di dalam period ini. Sebagai contoh, Kruschev mengunjungi Jakarta dan berkata bahwa ia akan memberi Sukarno semua bantuan dalam "segala kemungkinan" . Kenyataannya, sebagian besar senjata-senjata yang digunakan dalam pembunuhan massa dalam kudeta 1965 adalah disediakan oleh Kremlin.

    Permulaan Persiapan Militer

    Di tahun 1956 tentara Indonesia, dengan sokongan Amerika, sudah memulai persiapan-persiapan untuk diktatur militer untuk menekan pergerakan rakyat. Di bulan Agustus Komandan militer daerah Jawa Barat memerintahkan penangkapan Menteri Luar Negeri Roeslan Abdulgani atas tuduhan-tuduhan korupsi. Di bulan November, Wakil Kepala angkatan bersenjata Kolonel Zulkifli Lubis, mencoba dengan kegagalan untuk menguasai Jakarta dan menggulingkan pemerintahan Sukarno. Bulan berikutnya, ada kudeta militer di daerah Sumatra Tengah dan Utara.

    Pada bulan Oktober 1956 Sukarno memperkuat kedudukannya terhadap rakyat dan menenangkan angkatan bersenjata dengan mengimbau partai-partai politik untuk membubarkan diri. Imbauan ini setelah itu diperluas dengan usaha untuk mendirikan Dewan Nasional yang mencakup semua partai, termasuk PKI, untuk mengatur negara. Bilamana para kepala daerah militer menolak rencana ini, dan mengambil-alih kekuasaan provinsi-provinsi mereka, Sukarno mengumumkan keadaan darurat. Akhirnya, kabinet "non-partai" yang baru dibentuk, termasuk dua pengikut PKI.

    Sebagai reaksi terhadap pergerakan massa di Desember 1957 itu, operasi imperialisme Amerika segera ditingkatkan. CIA sudah aktif sejak tahun 1940-an, mengeluarkan jutaan dollar untuk menyubsidi elemen-elemen pro-Amerika di dalam kelas burjuis nasional, terutama Partai Sosialis Indonesia yang dipimpin Sumiro, kolega Hatta, dan sekutu islamnya yang lebih besar, Partai Masyumi yang dipimpin oleh Syarifuddin Prawiranegara, dengan siapa Hatta juga mempunyai hubungan dekat.

    Sepanjang tahun 1957 dan 1958 serangkaian pemberontakan sesesesionis dan sayap-kanan yang dibantu oleh CIA meletus di pulau Sumatra dan Sulawesi yang kaya minyak bumi, di mana PSI dan Masyumi mempunyai pengaruh dominan.

    Yang pertama adalah pemberontakan militer Permesta yang mulai di bulan Maret 1957 dan berlangsung sampai ke tahun 1958, yang berakhir dengan percobaan kudeta yang didukung oleh CIA di bulan February 1958.

    Pemerintah Amerika Serikat memberikan dukungan keuangan yang cukup besar, penasehat-penasehat militer, senjata dan angkatan udara kecil yang terdiri dari pesawat-pesawat pembom B-26, dipiloti dari basis-basis di Taiwan dan Filipina. Menteri Luar Negeri AS bahkan memberikan dukungan secara terbuka untuk pemberontak- pemberontak sayap-kanan ini. Kapal induk dari armada ketujuh Amerika dikirim ke Singapor dan sewaktu itu kelihatannya Amerika bakal campur-tangan secara langsung di Sumatra dengan alasan melindungi pegawai-pegawai dan pemilikan-pemilikan Caltex Oil.

    Komando militer Indonesia akhirnya memutuskan bahwa pemberontakan itu, gagal mendapatkan dukungan massa, harus dihentikan. Pemerintahan Sukarno selamat.

    Tetapi, angkatan bersenjata menjadi lebih kuat. Selama enam tahun berikutnya, AS menuangkan uang untuk itu, meletakkan fondasi yang mengijinkan Suharto untuk mulai menempuh jalan ke kekuasaaan setelah memimpin operasi militer untuk mengambil-alih Irian Jaya di tahun 1962.

    Antara tahun 1959 dan tahun 1965 Amerika Serikat memberikan 64 juta dollar dalam rupa bantuan militer untuk jendral-jendral militer Indonesia. Menurut laporan di Suara Pemuda Indonesia:"Sebelum akhir tahun 1960, Amerika Serikat telah melengkapi 43 batalion angkatan bersenjata. Tiap tahun AS melatih perwira-perwira militer sayap-kanan. Di antara tahun 1956 dan 1959, lebih dari 200 perwira tingkatan tinggi telah dilatih di AS, dan ratusan perwira angkatan rendah terlatih setiap tahun. Kepala Badan untuk Pembangunan Internasional di Amerika pernah sekali mengatakan bahwa bantuan AS, tentu saja, bukan untuk mendukung Sukarno dan bahwa AS telah melatih sejumlah besar perwira-perwira angkatan bersenjata dan orang sipil yang mau membentuk kesatuan militer untuk membuat Indonesia sebuah "negara bebas".

    Pada waktu yang sama, Sukarno menjalankan sistem "Demokrasi Terpimpin"-nya. Pada bulan Juli 1959 parlemen dibubarkan dan Sukarno menetapkan konstitusi di bawah dekrit presiden - sekali lagi dengan dukungan penuh dari PKI. Ia memperkuat tangan angkatan bersenjata dengan mengangkat para jendral militer ke posisi-posisi yang penting.

    PKI menyambut "Demokrasi Terpimpin" Sukarno dengan hangat dan anggapan bahwa dia mempunyai mandat untuk persekutuan Konsepsi yaitu antara nasionalisme, Islam dan komunisme yang dinamakan NASAKOM.

    Dalam mengejar front nasional mereka bersama dengan Sukarno dan kelas burjuis nasional, para pemimpin PKI menimbulkan ilusi-ilusi yang sangat berbahaya tentang angkatan bersenjata.

    Hanya lima tahun sebelum kekalahan berdarah itu terjadi kepada para pekerja dan petani di tangan angkatan bersenjata, arahan politis PKI dinyatakan oleh kepemimpinan SOBSI, federasi serikat pekerja yang dipimpin oleh PKI, dalam sebuah pernyataan di Hari Buruh Internasional bulan Mei 1960:

    "SOBSI menegakkan bahwa angkatan bersenjata Republik masih merupakan anak dari revolusi rakyat...dan dengan itu dari para perwira sampai ke bawahan mereka dan ke tentara-tentara. ..mereka tidak akan terlibat dengan aksi-aksi yang mengkhianati Republik. Selain itu, presiden Sukarno, yang memihak rakyat, mempunyai pengaruh besar atas pemimpin-pemimpin angkatan bersenjata dan ia tidak berkehendak menjadi diktator militer."

    Pergerakan Baru

    Di tahun 1962, perebutan militer Irian Barat oleh Indonesia mendapat dukungan penuh dari kepemimpinan PKI, mereka juga mendukung penekanan perlawanan penduduk Irian Jaya terhadap pendudukan itu.

    Di Indonesia sendiri, ketegangan ekonomi dan kelas yang mendasar, yang diakibatkan oleh berlanjutnya pemerasan rakyat oleh perusahaan-perusaha an imperialis dan kelas burjuis nasional, muncul kembali.

    Era "Demokrasi Terpimpin", yaitu kolaborasi antara kepemimpinan PKI dan kaum burjuis nasional dalam menekan pergerakan-pergerak an independen kaum buruh dan petani, gagal memecahkan masalah-masalah politis dan ekonomi yang mendesak. Pendapatan ekspor menurun, foreign reserves menurun, inflasi terus menaik dan korupsi birokrat dan militer menjadi wabah.

    Dari tahun 1963 terus, kepemimpinan PKI makin lama makin berusaha menghindari bentrokan-bentrokan antara aktivis massanya dan polisi dan militer. Pemimpin-pemimpin PKI mementingkan "kepentingan bersama" polisi dan "rakyat". Pemimpin PKI D N Aidit mengilhami slogan "Untuk Ketentraman Umum Bantu Polisi".

    Pada bulan April 1964, dalam interview dengan S M Ali dari "Far Eastern Economic Review" Aidit menetapkan untuk kaum burjuis nasional perspektif Stalinis untuk perubahan yang damai dan berangsur-angsur ke arah sosialisme yang terdiri dari "dua tahap" di Indonesia.

    "Bila kita sudah mencapai tahap pertama dari revolusi kita, yang sedang berlangsung sekarang, kita akan bisa mengadakan konsultasi yang damai dengan elemen-elemen progresif lain di masyarakat kita dan tanpa perjuangan bersenjata kita akan membawa negara kita ke revolusi sosialis."

    Dia memberikan sebuah senario di mana rakyat akan terbatas dalam fungsi mempengaruhi kaum burjuis nasional:"Pengaruh dari tahap sekarang dari revolusi ini akan menetapkan pengaruh revolusioner atas kapitalis-kapitalis nasional Indonesia.

    "Tidak akan ada perjuangan bersenjata kecuali bila ada intervensi asing memihak para kapitalis. Dan bila kita berhasil menyelesaikan tahap ini dalam revolusi demokratik nasional kita, kemungkinan satu kekuatan asing bercampur-tangan dalam urusan nasional Indonesia akan menjadi sangat kecil."

    Di bulan Agustus 1964, Aidit menganjurkan semua anggota PKI membersihkan diri dari "sikap-sikap sektarian" kepada angkatan bersenjata, mengimbau semua pengarang dan seniman sayap-kiri untuk membuat "massa tentara" subyek karya-karya mereka.

    Di akhir 1964 dan permulaan 1965 ratusan ribu petani bergerak merampas tanah dari para tuan tanah besar. Bentrokan-bentrokan besar terjadi antara mereka dan polisi dan para pemilik tanah. Untuk mencegah berkembangnya konfrontasi revolusioner itu, PKI mengimbau semua pendukungnya untuk mencegah pertentangan menggunakan kekerasan terhadap para pemilik tanah dan untuk meningkatkan kerjasama dengan unsur-unsur lain, termasuk angkatan bersenjata.

    Dalam sebuah pertemuan Komite Sentral PKI Aidit mendorong penindasan pergerakan para petani itu dan mencela kader partai yang "terbawa oleh semangat untuk menyebar-luaskan pergerakan petani dan menjadi tidak sabar dan melakukan tindakan heroisme individual, tidak berpikir untuk mengembangkan kesadaran para petani dan menginginkan suatu kejadian yang tertentu, tidak berhati-hati dalam memisahkan dan memilih target-target mereka."

    Para pemimpin PKI menghalalkan pemberhentian perampasan tanah dan pengembalian ke pemilik-pemiliknya dengan menunjuk kepada "kemungkinan yang akan datang untuk pembentukan "kabinet NASAKOM".

    Pada permulaan 1965, para buruh mulai menyita perusahaan-perusaha an karet dan minyak milik AS. Kepemimpinan PKI menjawab ini dengan memasuki pemerintahan dengan resmi. Pada waktu yang sama, jendral-jendral militer tingkat tinggi juga menjadi anggota kabinet.

    Menteri-menteri PKI tidak hanya duduk di sebelah para tukang jagal militer di dalam kabinet Sukarno ini, tetapi mereka terus mendorong ilusi yang sangat berbahaya bahwa angkatan bersenjata adalah merupakan bagian dari revolusi demokratis "rakyat".

    Aidit memberikan ceramah kepada siswa-siswa sekolah angkatan bersenjata di mana ia berbicara tentang "perasaan kebersamaan dan persatuan yang bertambah kuat setiap hari antara tentara Republik Indonesia dan unsur-unsur masyarakat Indonesia, termasuk para komunis".

    Dengan cara ini, para Stalinis dalam PKI melucuti para pekerja dalam PKI yang paling sadar akan kelasnya. Pengertian dasar Marxis tentang negara sebagai "badan orang-orang bersenjata" yang digunakan oleh kelas penguasa untuk menjaga kekuasaannya telah disangkal secara kriminal.

    Aidit berusaha secepatnya untuk menenangkan kaum burjuis dan pemimpin-pemimpin angkatan bersenjata bahwa PKI menentang mobilisasi revolusioner massa. "Hal yang penting di Indonesia sekarang bukanlah meruntuhkan kekuatan negara seperti halnya di negeri-negeri lain, tetapi memperkuat dan mendalamkan aspek pro-rakyat.. .dan menyingkirkan aspek anti-rakyat" .

    Rejim Sukarno mengambil langkah terhadap para pekerja dengan melarang aksi-aksi mogok di industri. Kepemimpinan PKI tidak berkeberatan karena industri menurut mereka adalah milik pemerintahan NASAKOM.

    Tidak lama sebelum kudeta terjadi, PKI, mengetahui dengan jelas persiapan-persiapan untuk rejim militer, menyatakan keperluan untuk pendirian "angkatan kelima" di dalam angkatan bersenjata, yang terdiri dari pekerja dan petani yang bersenjata. Bukannya memperjuangkan mobilisasi massa yang berdiri sendiri untuk melawan ancaman militer yang sedang berkembang itu, kepemimpinan PKI malah berusaha untuk membatasi pergerakan massa yang makin mendalam ini dalam batas-batas hukum kapitalis negara.

    Mereka bahkan menyembah di depan jendral-jendral militer, berusaha menenangkan mereka bahwa usul PKI akan memperkuat negara. Aidit menyatakan dalam laporan ke Komite Sentral PKI bahwa "NASAKOMisasi" angkatan bersenjata dapat dicapai dan mereka akan bekerjasama untuk menciptakan "angkatan kelima". Sampai akhir, kepemimpinan PKI berusaha menekan aspirasi revolusioner kaum buruh di Indonesia.

    Meskipun di bulan Mei 1965, Politbiro PKI masih mendorong ilusi bahwa aparatus militer dan negara sedang dirubah untuk memecilkan aspek anti-rakyat dalam alat-alat negara:

    "Kekuatan dari aspek-aspek pro-rakyat (dalam aparatus negara) sudah bertambah kuat dan mempunyai inisiatif dan ofensif, dan aspek anti-rakyat, walaupun masih cukup kuat, sedang terpojok. PKI berjuang supaya aspek pro-rakyat akan menjadi bertambah kuat dan akan berkuasa dan aspek anti-rakyat akan dikeluarkan dari kekuasaan negara."

    Kaum buruh Indonesia dan seluruh dunia membayar mahal untuk pengkhianatan Stalinis ini waktu Suharto dan jendral-jendral militer bergerak pada tanggal 30 September 1965.

    BAB KETIGA
    1965-Warisan Berdarah Stalinisme

    Kudeta di Indonesia tanggal 1-2 Oktober 1965 adalah hasil dari sebuah operasi yang sudah lama direncanakan secara hati-hati oleh CIA dan komandan-komandan militer TNI yang dilatih oleh AS.

    Selama tahun 1965 perselisihan- perselisihan antara kelas meningkat. Tahun itu mulai dengan para petani merampas pemilikan para tuan tanah besar dan pekerja-pekerja di perusahaan-perusaha an karet dan minyak bumi milik AS melakukan aksi pendudukan. Presiden Sukarno telah memasukkan jendral-jendral militer, yang dipimpin oleh Jendral Nasution, dan kepemimpinan PKI ke dalam kabinetnya untuk menekan pergerakan ini.

    Kepemimpinan PKI berhasil menekan aksi-aksi pendudukan, tetapi pergerakan massa ini menjadi semakin sulit untuk dikendalikan. Kemarahan massa berkembang dengan dipenjaranya 23 petani, dengan hukuman antara 15 sampai 20 tahun, atas tuduhan memukuli seorang tentara sampai fatal dalam mempertahankan diri mereka terhadap operasi militer untuk menghentikan aksi-aksi perampasan tanah di Sumatra.

    Pada malam 30 September 1965, sebuah provokasi yang didalangi CIA dilaksanakan. Sekelompok perwira menengah, yang paling sedikit satu mempunyai koneksi dekat dengan Suharto, menahan dan membunuh komandan angkatan bersenjata Letnan-Jendral Ahmad Yani dan lima jendral tingkat atas yang lain, dan menyatakan pembentukan sebuah Dewan Revolusioner.

    Penculikkan jendral-jendral ini tidak mencakup dua orang penting. Yang pertama adalah Suharto, yang pada waktu itu adalah komandan Kostrad, yang terdiri dari tentara-tentara elit angkatan darat. Para pemberontak ini, yang dipimpin oleh Letnan-Kolonel Untung tidak berusaha sedikit pun untuk menangkap Suharto atau menyerang pusat komandonya di Jakarta walaupun ia mempunyai kemampuan untuk melaksanakan hal ini. Menteri Pertahanan Jendral Nasution, juga tidak dicakup. Dia dikatakan sebagai calon korban pemberontakan ini, tetapi dapat menyelamatkan diri secara ajaib.

    Pemberontakan oleh Untung ini adalah palsu. Dalam 24 jam Suharto dapat mengalahkan semua pemberontak ini, hampir tanpa ada peluru melayang, dan mengambil-alih kontrol di Jakarta, dengan dukungan dari Nasution.

    Di akhir minggu itu, komando yang dibentuk oleh Suharto membersihkan semua kantong-kantong perlawanan, dan melaksanakan pembantaian anti-komunis terbesar di sejarah yang didalangi oleh Kedutaan AS dan CIA. Pentagon dan CIA, yang pada waktu itu sudah terlibat dalam perang rahasia di Vietnam, bertekad untuk menenggelamkan revolusi Indonesia dalam darah.

    Diplomat-diplomat AS dan perwira-perwira CIA, dipimpin oleh Duta Besar AS untuk Indonesia, Marshall Green, bekerja sama dengan tukang-tukang jagal Suharto untuk membasmi setiap anggota dan pendukung PKI yang diketahui.

    Bencana yang Didalangi CIA

    Dalam mempersiapkan kudeta ini, pejabat-pejabat AS sudah menghabiskan paling sedikit dua tahun untuk membuat daftar-daftar maut ini yang diberikan kepada angkatan bersenjata dengan instruksi yang jelas: bunuhlah semuanya. Anak-buah Suharto diperintahkan untuk melapor kembali setiap sejumlah pembunuhan telah dilaksanakan supaya nama-nama korban mereka dapat dicocokkan dengan nama-nama di daftar-daftar itu.

    Beberapa perwira-perwira AS yang berikut-serta mengatakan baru-baru ini apa yang terjadi. "Itu adalah bantuan yang besar untuk angkatan bersenjata," kata seorang bekas pejabat bagian politik di Duta Besar AS di Jakarta, Robert Martens. "Mereka mungkin membunuh banyak orang dan saya mungkin punya darah di tangan saya, tetapi itu tidak semuanya jelek."

    "Suatu waktu kamu harus memukul keras pada waktu yang tepat."

    Martens memimpin pejabat-pejabat CIA dan Departemen Luar Negeri di kedutaan besar AS, yang dari tahun 1962, menyusun keterangan mendetil tentang siapa saja yang duduk di dalam kepemimpinan PKI. Itu termasuk nama-nama anggota komite-komite PKI di tingkat provinsi, kota dan lokal; dan pemimpin-pemimpin perserikatan- perserikatan kerja yang didukung PKI, dan perserikatan- perserikatan wanita dan pemuda.

    Operasi ini didalangi oleh bekas direktur CIA William Colby, yang pada waktu itu adalah direktur Divisi Asia Timur CIA, dan dengan itu menjadi bertanggung- jawab atas pengarahan strategi rahasia AS di Asia. Colby mengatakan bahwa mencari pengetahuan tentang kepemimpinan PKI menjadi latihan untuk program Phoenix di Vietnam, yang merupakan usaha untuk memusnahkan semua pendukung Front Kemerdekaan Nasional di akhir dekade 1960-an.

    Colby mengakui bahwa mengecek nama-nama di daftar-daftar maut itu dianggap sangat penting sampai itu diawasi oleh direktorat intelijen CIA di Washington. "Kita berkesimpulan bahwa dengan perlakuan secara keji seperti itu, PKI telah mengalami kemunduran yang besar."

    Wakil kepala pos CIA menggambarkan dengan rasa senang yang tak tersembunyi bagaimana markas Suharto di Jakarta memberikan kedutaan besar AS laporan secara berlanjut tentang pencakupan dan pembunuhan pemimpin-pemimpin PKI. "Kita mendapatkan laporan yang jelas di Jakarta tentang siapa yang dicakup. Angkatan bersenjata mempunyai 'daftar penembakan' untuk sekitar 4,000 sampai 5,000 orang.

    "Mereka tidak punya cukup tentara untuk membinasakan mereka semua, dan beberapa orang masih berharga untuk diinterogasi. Rangka dasar organisasi mereka telah runtuh hampir seketika itu. Kita tahu apa yang mereka kerjakan. Kita tahu bahwa mereka akan menyelamatkan beberapa untuk pengadilan pura-pura mereka, tetapi Suharto dan penasehat-penasehat nya berkata bila kamu biarkan mereka hidup kamu harus memberi mereka makan."

    Semua ini dijalankan dengan persetujuan Green yang setelah itu dilantik menjadi duta besar AS untuk Australia, di mana ia memainkan peranan penting dalam pembubaran pemerintah Whitlam di tahun 1975.

    Paling sedikit satu juta orang dibantai dalam bencana enam bulan yang mengikuti kudeta itu. Ini adalah perkiraan dari sebuah kelompok lulusan Universitas Indonesia yang diperintah oleh angkatan bersenjata itu sendiri untuk menyelidiki kesebar-luasan pembunuhan-pembunuh an ini.

    Dihasut dan dibantu oleh tentara, kelompok-kelompok pemuda dari organisasi-organisa si muslim sayap-kanan melakukan pembunuhan-pembunuh an massa, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ada laporan-laporan bahwa Sungai Brantas di dekat Surabaya menjadi penuh mayat-mayat sampai di tempat-tempat tertentu sungai itu "terbendung mayat". Laporan lain mengatakan bahwa di Batu di Jawa Timur banyak sekali yang dibunuh di halaman kecil kantor polisi di sana sampai mayat-mayat itu dikubur di bawah semen.

    Di pulau Bali, yang sebelum itu dianggap sebagai kubu PKI, paling sedikit 35,000 orang menjadi korban di permulaan 1966. Di sana para Tamin, pasukan komando elite Partai Nasional Indonesianya Sukarno, adalah pelaku pembunuhan-pembunuh an ini. Koresponden khusus dari Frankfurter Allgemeine Zeitung bercerita tentang mayat-mayat di pinggir jalan atau dibuang ke dalam galian-galian dan tentang desa-desa yang separuh dibakar di mana para petani tidak berani meninggalkan kerangka-kerangka rumah mereka yang sudah hangus.

    Di daerah-daerah lain, para terdakwa dipaksa untuk membunuh teman-teman mereka untuk membuktikan kesetiaan mereka. Di kota-kota besar pemburuan-pemburuan anti-cina terjadi. Pekerja-pekerja dan pegawai-pegawai pemerintah yang mengadakan aksi mogok sebagai protes atas kejadian-kejadian kontra-revolusioner ini dipecat.

    Paling sedikit 250,000 orang pekerja dan petani dipenjarakan di kamp-kamp konsentrasi. Diperkirakan sekitar 110,000 orang masih dipenjarakan sebagai tahanan politik pada akhir 1969. Eksekusi-eksekusi masih dilakukan sampai sekarang, termasuk beberapa dozen sejak tahun 1980-an. Baru-baru ini empat tapol, Johannes Surono Hadiwiyino, Safar Suryanto, Simon Petrus Sulaeman dan Nobertus Rohayan, dihukum mati hampir 25 tahun sejak kudeta itu, tanda jelas bahwa rejim Suharto masih menakuti kebangkitan kaum proletar Indonesia dan petani-petani yang miskin.

    Pengkhianatan Stalinis mendalam

    Ketika ratusan ribu anggota dan pendukung PKI sedang diburu dan dibinasakan, kepemimpinan PKI dan rekan-rekannya di Kremlin, Beijing dan Partai Komunis Australia (CPA) menganjurkan kader PKI, pekerja dan massa petani untuk tidak melawan, memberikan lampu hijau untuk jendral-jendral militer untuk melakukan eksekusi massa itu.

    Para Stalinis mendalamkan posisi reaksioner mereka yang meminta rakyat untuk mengebawahkan kepentingan mereka untuk kaum burjuis nasional dan Sukarno, yang digunakan oleh Suharto sebagai presiden boneka dan untuk angkatan bersenjata.

    Pada tanggal 1 Oktober 1965 Sukarno dan sekretaris jendral PKI Aidit menanggapi pembentukan Dewan Revolusioner oleh para "pemberontak" dengan berpindah ke Pangkalan Angkatan Udara Halim di Jakarta untuk mencari perlindungan.

    Pada tanggal 6 Oktober Sukarno mengimbau rakyat untuk menciptakan "persatuan nasional", yaitu persatuan antara angkatan bersenjata dan para korbannya, dan penghentian kekerasan. Biro Politik dari Komite Sentral PKI segera menganjurkan semua anggota dan organisasi-organisa si massa untuk mendukung "pemimpin revolusi Indonesia" dan tidak melawan angkatan bersenjata. Pernyataan ini dicetak ulang di koran CPA bernama "Tribune":

    "Setelah mempelajari seruan ke Panglima Tertinggi angkatan bersenjata Republik Indonesia, dari pemimpin revolusi Indonesia, presiden Sukarno, Biro Politik Komite Sentral Partai Komunis Indonesia menyatakan dukungan penuh untuk seruan itu dan memohon kepada semua komite dan anggota partai dan para pendukung, juga organisasi-organisa si revolusioner massa yang dipimpin oleh anggota-anggota PKI untuk memungkinkan pelaksanaan seruan itu."

    Sementara itu, Sukarno, "pemimpin revolusi Indonesia", sedang bekerjasama dengan penindasan militer itu berharap untuk menyelamatkan lehernya sendiri. Dia memerintahkan pembasmian menyeluruh semua yang dianggap terlibat dalam "peristiwa 30 September" (percobaan kudeta yang dituduhkan dipimpin oleh Kolonel Untung), dan mengijinkan pencakupan dan pembunuhan pemimpin-pemimpin PKI. Pada tanggal 15 Oktober ia melantik Suharto sebagai Panglima angkatan bersenjata.

    Lima bulan setelah itu, pada tanggal 11 Maret 1966, Sukarno memberi Suharto kekuasaan tak terbatas. Ia memerintah Suharto untuk mengambil "langkah-langkah yang sesuai" untuk mengembalikan ketenangan dan untuk melindungi keamanan pribadi dan wibawanya. Kekuatan tak terbatas ini pertama kali digunakan oleh Suharto untuk melarang PKI. Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya, Sukarno dipertahankan sebagai presiden tituler diktatur militer itu sampai Maret 1967.

    Kepemimpinan PKI terus mengimbau massa agar menuruti kewenangan rejim Sukarno-Suharto. Aidit, yang telah melarikan diri, ditangkap dan dihukum mati oleh angkatan bersenjata pada tanggal 24 November, tetapi pekerjaannya diteruskan oleh Sekretaris Kedua PKI Nyoto. Dalam sebuah interview dengan seorang koresponden koran Jepang dia menekankan:

    "PKI hanya mengenal satu kepala negara, satu komandan tertinggi, satu pemimpin besar revolusi kita - Presiden Sukarno...Presiden Sukarno menyatukan semua kekuatan-kekuatan rakyat yang akan memutuskan nasib Indonesia."

    Semua anggota, kata Nyoto, harus "mendukung penuh perintah-perintah Presiden Sukarno dan berjanji untuk melaksanakan semua itu tanpa ragu...Partai kita berusaha dalam segala kemampuannya untuk mencegah perang saudara."

    Dalam kata-kata lain, sementara tukang-tukang jagal militer dan penasehat-penasehat CIA mereka sedang melakukan likuidasi sistematis bukan saja pemimpin-pemimpin PKI, tetapi juga seksi-seksi masyarakat Indonesia yang paling sadar-kelas, PKI memerintahkan kader mereka untuk tidak melawan.

    Kebangkrutan dan kebusukan teori "dua-tahap" Stalinis yang bersikeras bahwa rakyat harus mengikat nasib mereka ke Sukarno dan kaum burjuis nasional tidak dapat ditunjukkan secara lebih jelas.

    Pengkhianatan oleh PKI dipuji dan didukung oleh birokrasi-birokrasi Stalinis di Moskow dan Beijing. Kremlin menyalahkan elemen-elemen "pemberontak" dan "petualang" dalam PKI untuk kekalahan ini dan mengimbau berulang-ulang untuk "persatuan" revolusi Indonesia dalam NASAKOM-nya Sukarno.

    Pada tanggal 12 Oktober 1965, pemimpin-pemimpin Uni-Sovyet Brezhnev, Mikoyan dan Kosygin mengirim pesan khusus untuk Sukarno:"Kita dan rekan-rekan kita bergembira untuk mendengar bahwa kesehatan anda telah membaik...Kita mendengar dengan penuh minat tentang pidato anda di radio kepada seluruh rakyat Indonesia untuk tetap tenang dan menghindari kekacauan... Imbauan ini akan dimengerti secara mendalam."

    Dalam sebuah Konperensi Tiga Benua di Havana di bulan February 1966, perwakilan Uni-Sovyet berusaha dengan segala kemampuan mereka untuk menghindari pengutukan teror kontra-revolusi yang sedang terjadi terhadap rakyat Indonesia. Pendirian mereka mendapatkan pujian dari rejim Suharto. Parlemen Indonesia mengesahkan resolusi pada tanggal 11 Februari, menyatakan "penghargaan penuh" atas usaha-usaha perwakilan-perwakil an dari Nepal, Mongolia, Uni-Sovyet dan negara-negara lain di Konperensi Solidaritas Negara-Negara Afrika, Asia dan Amerika Latin, yang berhasil menetralisir usaha-usaha para kontra-revolusioner apa yang dinamakan pergerakan 30 September, dan para pemimpin dan pelindung mereka, untuk bercampur-tangan di dalam urusan dalam negeri Indonesia."

    Demikian, pengkhianatan para Stalinis adalah sangat jelas sampai parlemen piaraan junta militer ini dapat mengatakan bahwa kejadian yang diatur oleh CIA pada tanggal 30 September adalah percobaan kontra-revolusioner !

    Para Stalinis di Beijing juga mencuci tangan mereka dari nasib rakyat Indonesia. Mereka bahkan datang ke Jakarta untuk Konperensi Dunia melawan Pangkalan-Pangkalan Asing dan berdiri tanpa protes waktu kamerad-kamerad mereka dari Indonesia sedang dicakup di dalam ruang konperensi itu.

    Warisan 'Blok Empat Kelas'

    Pengkhianatan Stalinis di tahun 1965 adalah puncak dari lebih dari duapuluh tahun pengkhianatan di mana PKI, bekerja berdasarkan teori Stalinis "dua-tahap" dan, khususnya, ideologi Maois "blok empat kelas", mengikat kelas pekerja dan para petani ke rejim burjuis nasionalis Sukarno.

    Aidit mengatakan susunan ideologi kekalahan berdarah revolusi Indonesia tidak lama setelah kembalinya dari 18 bulan di Cina di Juli 1950 dan merebut kepemimpinan PKI:

    "Kelas pekerja, para petani, kelas menengah dan kelas burjuis nasional harus bersatu dalam sebuah front nasional."

    Aidit mengikuti dengan patuh jalan rejim Maois di Cina yang menindas pergerakan mandiri kelas pekerja dan berusaha untuk mendirikan sebuah "Demokrasi Baru", sebuah negara burjuis, dalam kerjasama dengan bagian-bagian dari kelas burjuis nasional dan kelas petit burjuis setelah runtuhnya diktatur Chiang Kai-Shek.

    Membeokan Mao, dia menyerukan untuk sebuah "demokrasi rakyat" dan sebuah "front gabungan semua elemen-elemen anti-imperialis dan anti-feodal dalam negeri. Yaitu, kaum pekerja, para petani, kaum petit-burjuis dan kaum burjuis nasional."

    Sesuai dengan teori kontra-revolusioner "dua-tahap" Stalinisme, "Tugas dari persekutuan ini adalah untuk membawa keadaan untuk, bukan sosialisme, tetapi perubahan ke arah demokrasi."

    Aidit memminta para pekerja dan petani mendukung bukan hanya kelas burjuis nasional, tetapi juga "semua elemen patriotik dan anti-kolonial termasuk kelompok tuan-tanah sayap kiri (agak progresif).

    Jurusan inilah, yang dikatakan oleh Aidit tanpa henti, yang digunakan untuk menekan pergerakan-pergerak an kaum pekerja dan para petani, mengikat kaum pekerja ke rejim Sukarno, dan menciptakan keadaan yang mengijinkan angkatan bersenjata untuk menyerang.

    Berkali-kali anggota-anggota dan para pendukung PKI diperintahkan untuk menahan perjuangan kelas dan semangat revolusi rakyat yang tertindas untuk mempertahankan "front bersatu nasional".

    "Prinsip dasar yang harus kita ikuti dalam melancarkan perjuangan nasional adalah membawahkan kepentingan rakyat untuk perjuangan nasional."

    Teori "dua-tahap" Stalinisme bersikeras bahwa di negara-negara koloni dan semi-koloni seperti Indonesia, rakyat tidak boleh mengadakan pergerakan-pergerak an yang mengancam kelas burjuis nasional atau mengemukakan program revolusi sosialis. Perjuangan kelas harus ditahan untuk mendukung kelas burjuis nasional dan mendirikan sebuah demokrasi kapitalis nasional.

    Akibat kontra-revolusi berdarah dari arahan Stalinis ini menunjukkan diri pertama kali di Cina di tahun 1926-27 ketika tukang jagal Chiang Kai-Shek menundukkan kelas pekerja di Cina setelah Partai Komunis di sana diberi perintah oleh Kremlin untuk menggabungkan diri dengan kaum burjuis nasionalis dalam Kuomintang.

    Pembunuhan-pembunuh an besar yang dilakukan oleh Chiang Kai-Shek menegaskan peringatan-peringat an Trotsky bahwa kaum-kaum burjuis yang lemah dan yang munculnya terlambat dalam sejarah, pada dasarnya tidak dapat untuk melancarkan perjuangan konsisten terhadap imperialisme dan feodalisme. Itu karena untuk melakukan perjuangan itu diperlukanlah penggerakan rakyat dalam sebuah perjuangan revolusioner dan perjuangan seperti itu akan segera menjadi berlawanan dengan posisi kelas kaum burjuis nasional sebagai pemeras kaum pekerja dan petani.

    Seperti Trotsky jelaskan dalam tulisannya tentang pengkhianatan Revolusi Cina:

    Penggerakan kaum pekerja dan petani terhadap imperialisme hanya dapat dicapai dengan menghubungkan isu-isu dasar dalam kehidupan mereka dengan tujuan kemerdekaan negara. Sebuah aksi mogok pekerja - besar atau kecil - sebuah pemberontakan agraris, pergerakan para rakyat tertindas di kota dan desa terhadap para lintah-darat, terhadap birokrasi, terhadap militer lokal, semua itu membangkitkan banyak hal, yang menggalang mereka bersama, yang mendidik, menguatkan, adalah merupakan sebuah langkah maju yang nyata di jalan ke pembebasan sosial dan revolusioner untuk rakyat Cina...Tetapi segala yang membuat rakyat yang tertindas dan tereksploitasi bertindak akan pasti akan mendorong kaum burjuis nasional ke dalam blok dengan para imperialis. Bentrokan kelas antara kaum burjuis dan para pekerja dan petani tidak akan diperlemah, tetapi sebaliknya akan diperkuat oleh penidasan imperialis, sampai ke perang saudara pada setiap ketegangan serius. (Trotsky, Problems of the Chinese Revolution, New Park 1969 p5).

    Peranan kriminal PKI dalam mengikat rakyat Indonesia ke rejim burjuis Sukarno membuat analisa Trotsky bersifat ramalan secara tragis.

    Tugas-tugas untuk mengadakan kemerdekaan nasional yang sejati, pembagian kembali tanah, demokrasi dan perkembangan ekonomi yang tak terselesaikan di Indonesia dan negeri-negeri lain yang tertindas menurut sejarah, hanya dapat dilaksanakan dengan kelas pekerja memimpin para petani dalam revolusi sosialis. Yaitu, penentuan nasib sendiri hanya akan terjadi sebagai hasil tambahan dari revolusi sosialis yang dipimpin oleh kaum proletar.

    Kemenangan perjuangan ini terikat erat dengan perkembangan revolusi sosialis dunia untuk menggulingkan imperialisme sedunia.

    Ini adalah dasar dari teori Marxis Revolusi Permanen yang dikembangkan oleh Leon Trotsky dan dibuktikan oleh kemenangan Revolusi Rusia Oktober 1917.

    BAB KEEMPAT
    Antek-Antek Kontra Revolusi Pablois

    Dalam bulan-bulan setelah kudeta militer yang diatur oleh CIA tanggal 1-2 Oktober 1965, semua anggota dan pendukung PKI, semua partai kelas buruh yang diketahui dan ratusan ribu pekerja dan petani Indonesia yang lain dibunuh atau dimasukkan ke kamp-kamp konsentrasi untuk disiksa dan diinterogasi.

    Pemusnahan sistematis dan penindasan yang kejam oposisi kelas buruh ini semakin bertambah setelah 11 Maret 1966 waktu Sukarno, pemimpin nasionalis burjuis yang dipertahankan oleh aparat militer sebagai presiden, memberi Jendral Suharto kekuasaan tak terbatas.

    Pengkhianatan pergerakan besar revolusioner rakyat Indonesia oleh kepemimpinan Stalinis PKI adalah sebuah kekalahan yang mendalam dengan implikasi-implikasi besar untuk kelas pekerja seluruh dunia.

    PKI berkali-kali menahan usaha-usaha para pekerja dan petani untuk menduduki pabrik-pabrik dan perkebunan-perkebun an. Mereka mengikat pergerakan ini dengan rejim burjuis Sukarno dan pada akhirnya bergabung dengan aparat-aparat tingkat atas militer yang didukung AS, calon-calon tukang jagal massa, dalam kabinet Sukarno. Setelah kudeta itu, para Stalinis memerintah kader mereka untuk menjalankan imbauan Sukarno untuk menciptakan "persatuan" dengan para aparat militer dan untuk mencegah segala perlawanan terhadap pembantaian yang sedang dilaksanakan.

    Pukulan terhadap revolusi Indonesia bergema di seluruh Asia dan dunia. Khususnya itu memudahkan dan memungkinkan peningkatan penyerangan Vietnam oleh AS, menghancurkan harapan dan semangat revolusi rakyat di Malaysia, Thailand, Filipina dan memperkuat rejim-rejim burjuis yang sedang goyah di anak benua India.

    Mandel dan Hansen menutupi pengkhianatan Stalinis

    Tetapi jawaban para revisionis Pablois dalam "Sekretariat Tergabung" (United Secretariat) yang dipimpin oleh Ernest Mandel dan Joseph Hansen, adalah untuk meremehkan akibat dari pengkhianatan di Indonesia itu, menutupi peran kontra-revolusioner para Stalinis dan, yang terpenting, menutupi tanggung-jawab mereka sendiri dalam pertumpahan darah ini.

    Pada saat rakyat Indonesia sedang mengalami pembunuhan massa, Profesor Mandel berusaha untuk menggambarkan prospek-prospek yang cerah untuk revolusi Indonesia, untuk menumpulkan kesadaran kelas pekerja internasional.

    "Tentu saja perjuangan di Indonesia masih belum berhenti," tulisnya di dalam keenakkan kursi universitas Belgia-nya dalam artikel yang dicetak dalam jurnal Pablois "World Outlook" tanggal 11 Maret 1966.

    "Sebagian dari kader komunis telah berhasil bersembunyi di bawah-tanah, " dia teruskan. "Kemarahan rakyat yang kelaparan tumbuh setiap hari; perut-perut para pekerja dan petani yang kosong tidak akan terisi oleh pembunuhan-pembunuh an itu. Pemberontakan itu akan menyebar-luas melawan rejim yang korup itu. Sukarno mengerti masalah ini dan akan memulai pengimbangannya lagi; dia baru saja membasmi jendral-jendral yang paling ganas dari kabinetnya. Para rakyat akan kembali mendapat giliran mereka untuk beraksi."

    Penutupan pengkhianatan besar rakyat Indonesia ini menunjukkan konsekuensi kontra-revolusioner oportunisme Pablois, yang muncul dalam jajaran gerakan Trotskyis mulai dari tahun-tahun 1940-an ke 1950-an.

    Dipimpin oleh Michel Pablo, elemen-elemen seperti Mandel berusaha menyesuaikan diri dengan stabilisasi kapitalisme setelah Perang Dunia Kedua dan keadaan dimana birokrasi-birokrasi Stalinis yang menekan pergerakan revolusioner kaum pekerja internasional tidak lama setelah akhir Perang Dunia Kedua, kelihatannya makin kuat. Mereka meninggalkan perjuangan Trotsky untuk mendirikan Internasional Keempat sebagai partai dunia revolusi sosialis dan mangajukan bahwa para birokrasi Stalinis seperti di Moskow dan Bejing akan didorong oleh rakyat untuk melakukan peranan progresif. Dengan dasar ini, mereka berusaha melikuidasi Internasional Keempat ke dalam segala bentuk Stalinis atau Demokrat sosial yang sedang memegang kendali pergerakan pekerja dalam tiap negara, mengatakan bahwa jalan ke sosialisme terdiri dari pendirian dari negara-negara pekerja yang cacat sejak lahir, seperti yang didirikan di Eropa Timur dan Cina, yang berlangsung selama beberapa abad.

    Pada tahun 1953 arah likuidasi ini dilawan dengan pembentukan Komite Internasional Internasional Keempat (International Committee of the Fourth International) sebagai jawaban kepada sebuah Surat Terbuka yang ditulis oleh pemimpin Partai Pekerja Sosialis (Socialist Workers Party) Amerika James P Cannon yang memanggil untuk pemertahanan "Trotskyisme ortodox". Bagaimanapun juga, pada permulaan tahun 1960-an para pemimpin PPS sendiri mulai terpengaruh oleh berkepanjangannya pertumbuhan ekonomi setelah perang. Mereka menganjungkan elemen-elemen burjuis dan petit-burjuis nasional seperti Castro di Kuba yang kelihatannya dapat meraih sukses, sebagai pengganti pengambilan kekuasaan oleh kelas pekerja yang dipimpin oleh partai-partai Marxis revolusioner. Mereka mengajukan bahwa sosialisme dapat dicapai dengan "senjata tumpul". Ini adalah arah yang

  • Terkorup Ketiga, Wakil Rakyat Marah

    Cantik-superdd

    Soetardjo Ancam Menuntut TII

    JAKARTA - Sejumlah anggota DPR menanggapi sengit pengumuman indeks korupsi yang diluncurkan Transparansi Internasional Indonesia (TII). Dalam indeks korupsi tersebut, DPR bersama institusi kepolisian dan peradilan, menurut persepsi publik yang disurvei, masih masuk tiga besar lembaga terkorup.

    Karena masih dinilai buruk itu, Wakil Ketua DPR Soetardjo Soerjoguritno termasuk kelompok yang berang atas hasil survei tersebut. "Kalau tidak jelas datanya, saya akan menuntut," tegasnya di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (7/12).

    Menurut dia, hasil survei tersebut telah membangun citra buruk terhadap parlemen. "Saya tidak mau DPR terus didengung-dengungka n seperti itu (lembaga terkorup, Red)," ujarnya.

    Dia mengungkapkan, DPR sebenarnya telah memiliki data yang lengkap soal integritas para anggota parlemen di Badan Kehormatan (BK) DPR. "Saya hanya minta semua jelas, jangan asal," kata politikus senior dari PDIP tersebut.

    Protes senada disampaikan Ketua FKB DPR Effendy Choiry. Menurut dia, tidak masuk akal DPR dimasukkan sebagai lembaga korup. "DPR tidak pegang uang kok," ungkapnya.

    Dia menyatakan, DPR hanya bertugas membuat dan mengawasi anggaran. DPR sama sekali tidak punya wewenang mengelola anggaran. "Tapi, kalau yang dimaksud DPR menurut TII adalah setjen (sekretariat jenderal), itu masih mungkin," jelas politikus yang akrab disapa Gus Choi tersebut.

    Dia menuturkan, selama ini, uang yang diterima para anggota DPR hanyalah uang gaji dan uang kehormatan terkait dengan keterlibatan anggota dalam pansus, panja, dan sebagainya. "Kalaupun ada yang bermain-main dan menerima proyek dari mitra kerja, itu namanya kolusi, bukan korupsi," tegasnya.

    Karena itu, Effendy berharap pimpinan DPR segera memberikan sikap resmi terhadap hasil survei indeks korupsi yang diluncurkan TII tersebut. "Penyikapan itu penting untuk menjelaskan posisi DPR yang sebenarnya," ujarnya.

    Pada 2006, parlemen malah menjadi juara bersama peringkat korupsi dengan kepolisian dan lembaga peradilan. Indeks korupsi saat itu mencapai 4,2. Tahun ini, indeks persepsi publik itu menurun menjadi 4,1.

    Berbeda dari sebagian rekannya, anggota DPR dari FPG Nusron Wahid malah menganggap, hasil survei itu seharusnya bisa menjadi ajang evaluasi DPR. "Seharusnya bisa dijadikan bahan refleksi menjelang pembahasan UU Susduk mendatang," katanya.

    Menurut dia, korupsi dalam pengertian abuse of power (penyalahgunaan kekuasaan) memang sering terjadi di DPR. "Kawan-kawan DPR sebenarnya tidak perlu tergopoh-gopoh membantah. Harus diakui, banyak tindakan DPR yang masih jauh dari harapan masyarakat," ungkapnya.

    Dikonfirmasi tentang hal itu, Ketua DPR Agung Laksono pun meminta agar anggota DPR tidak terlalu berlebihan menanggapi hasil survei tersebut. "Tidak perlu terlalu emosional, anggap saja sebagai kritik sosial," kata politikus asal Partai Golkar tersebut. (dyn

    Cermin Kegagalan Pemberantasan Korupsi
    Antonius Steven Un

    Hasil Seleksi Pimpinan KPK
    Komisi III DPR baru saja menyelesaikan tahap akhir seleksi pimpinan baru KPK. Hasilnya adalah ditetapkannya lima nama, yakni Antasari Azhar, Chandra W. Hamzah, Bibit S. Rianto, M. Jasin, dan Haryono (JP, 6/12).

    Terdapat sejumlah kejanggalan dalam proses seleksi komisi III itu. Pertama, tidak diloloskannya sejumlah nama yang dianggap publik memiliki integritas dan kapabilitas dalam agenda eliminasi dan eradikasi korupsi. Antara lain, Amin Sunaryadi dan Surachmin. Kedua, tokoh yang paling kontroversial, Antasari Azhar, bukan saja diloloskan, malah dipilih sebagai ketua dengan kemenangan mutlak.

    Ketiga, proses seleksi dijalankan dua tahap, padahal pada tahap pertama, seharusnya sudah memenangkan Chandra M. Hamzah. Gayus Lumbuun, anggota komisi III, keberatan terhadap seleksi tahap kedua yang dianggapnya sebagai skenario memenangkan kandidat tertentu (JP, 6/12). Kejanggalan tersebut menjadi materi untuk membaca perilaku politik anggota dewan, menakar biaya politik sebagai ekses dan menganjurkan antisipasi tertentu.

    Perilaku politik anggota dewan dalam seleksi KPK dapat dibaca dari sudut pandang lain. Komisi III dinilai trauma terhadap eksistensi dan kiprah KPK "angkatan pertama" yang bukan saja baru dalam percaturan politik dan tata negara, tetapi terbukti meresahkan banyak pejabat publik. Terbongkarnya skandal suap dan korupsi anggota KPU dan KY merupakan andil KPK.

    Karena trauma tersebut, komisi III ingin memutus rantai kontinuitas kultur dan kinerja KPK "angkatan pertama" dengan menjegal langkah mantan Wakil Ketua Amin Sunaryadi. Pada gilirannya, pilihan politik itu akan mengamankan dan menyelamatkan muka banyak koruptor, terutama di legislatif dan eksekutif. Sampai di sini, KPK disulap menjadi "Komisi Penyelamat Koruptor".

    Biaya Politik
    Komposisi pimpinan KPK hasil preferensi politik anggota dewan yang menuai protes dikhawatirkan berpotensi menimbulkan biaya politik yang mahal. Eksistensi KPK adalah solusi alternatif bagi macetnya proses pemberantasan korupsi melalui jalur konvensional, dalam hal ini kepolisian dan kejaksaan.

    Karena itu, kegagalan pimpinan KPK dalam menjalankan visi misi sesuai dengan amanat perundangan dan harapan masyarakat sama dengan kegagalan negara dalam agenda pemberantasan korupsi.

    Dengan posisi KPK yang demikian strategis dalam grand design pemberantasan korupsi, menyeleksi pimpinan KPK yang tidak tepat justru akan menyuburkan praktik korupsi. Hal ini berarti KPK dan korupsi koeksis sehingga berpotensi menimbulkan delegitimasi dan preseden buruk dalam pemberantasan korupsi. Prinsipnya, korupsi itu buruk, tetapi lebih buruk korupsi dalam penanganan kasus korupsi.

    Kekhawatiran itu tidaklah berlebihan. Sebab, mengangkat komisioner yang berrekam jejak baik dan jujur saja belum bisa menjamin akan bersih dari praktik KKN, apalagi memilih komisioner yang rekam jejaknya hitam. Ahli hukum dan politik Susan Rose-Ackerman menempatkan kepentingan pribadi, termasuk kepentingan dalam kemakmuran keluarga, sebagai motivator sentral dan universal bagi kehidupan manusia sehingga tidak heran korupsi menjadi endemi (Corruption & Government, 2000). Dengan motivasi demikian, bahkan komisioner KY yang mengawasi martabat hakim pun tidak imun dari korupsi.

    Bertemunya kepentingan pribadi dan daya tarik kekayaan mengakibatkan manusia bisa menjadi beringas. Filsuf Italia Niccolo Machiavelli (1469-1527) menyatakan "manusia lebih mudah melupakan kematian ayahnya daripada kehilangan bagian warisannya". Hal inilah yang patut diwaspadai oleh publik karena "Jika bersangkutan dengan uang, setiap orang termasuk ke dalam agama yang sama". Demikian analisis filsuf Prancis Francois Marie Arouet yang terkenal dengan nama Voltaire (1694-1778).

    Korupsi yang tumbuh subur, antara lain, diindikasikan oleh terlibatnya komisioner KY dalam kasus KKN, apalagi bila ternyata komisioner KPK hasil seleksi komisi III juga setali tiga uang. Lantas, pada gilirannya, akan luntur kepercayaan publik yang terdiri atas tiga kelompok. Pertama, publik tanah air tidak percaya kepada institusi hukum dan hal ini berarti negara gagal dalam menjalankan fungsi keadilan. Efek dan eksesnya adalah tumbuhnya anarkisme, antara lain, dengan main hakim sendiri.

    Kedua, publik internasional dan lembaga donor tidak lagi percaya kepada pemerintah. Hal ini berbahaya mengingat kita berada di ring of fire, potensi dan frekuensi bencana amat besar.

    Ketiga, investor baik lokal maupun asing yang sudah sejak lama meresahkan korupsi birokrasi akan bertambah resah dengan praktik korupsi di alat penegak hukum. Dalam hal ini, misalnya apabila dilakukan oleh komisioner baru KPK.

    Kontrol Sosial
    Janji Ketua KPK terpilih Antasari Azhar bahwa semua kritik dan keraguan publik akan dijawab dengan kinerja (JP, 7/12) tidak serta-merta menenangkan masyarakat. Janji itu tak ubahnya janji politisi dalam kampanye.

    Langkah praktisnya adalah pertama, konsistensi kontrol sosial publik. Kontrol sosial selama ini berlangsung reaktif, yakni jika terjadi kasus, barulah publik "mengamuk". Padahal, fungsi kontrol sosial seharusnya bersifat preventif, bagaimana supaya KPK tidak sampai terjerat skandal KKN. Kedua, dalam rangka prevensi itu, perlu peran inisiatif-proaktif media massa dalam aksesibiltas informasi. Dengan begitu, masyarakat dapat mendeteksi kinerja dan problem dalam tubuh KPK. Ketiga, perlunya kesadaran akuntabilitas dalam diri komisioner bahwa merekalah yang paling disorot dalam hal korupsi serta penanganannya, baik oleh Tuhan, pemerintah, maupun masyarakat.

    Kesadaran itu menguatkan identitas komisioner sebagai agen pemberantasan korupsi. Keempat, kesadaran akuntabilitas membawa kepada sikap transparansi, membuka profresifitas penanganan kasus korupsi kepada publik, juga rajin dan rutin membuka harta kekayaan komisioner kepada publik.

    Antonius Steven Un, peneliti pada Reformed Center for Religion and Society

    Pemerintah Taiwan Hapus Nama Chiang Kai-shek dari Tugu Peringatan

    Taipei, (Analisa)

    Para pekerja mulai membongkar aksara-aksara China berukuran besar dari tugu peringatan Chiang Kai- shek, Jumat (7/12).

    Tindakan ini tercatat terbaru dalam kampanye pemerintah Taiwan untuk memberangus warisan “satu China” mendiang diktator itu.

    Chiang, yang memimpin Taiwan dari 1949 sampai kematiannya tahun 1975, merupakan ikon penyatuan antara Taiwan dan China -- gagasan yang mendapat tantangan keras dari Presiden Chen Shui-bian dan Partai Progresif Demokratik pro-kemerdekaan pimpinannya.

    Taiwan dan China memisahkan diri karena perang saudara hampir 60 tahun silam ketika Chiang dan Nasionalis pimpinannya kalah dengan pasukan Komunis pimpinan Mao Zedong dan lari ke pulau itu, 160 km lepas pantai tenggara.

    Tugu peringatan itu, yang sebelumnya bernama Balai Peringatan Nasional Chiang Kai-shek, diganti awal tahun ini untuk memperingati gerakan demokrasi.

    Setelah pukul 10.00 waktu setempat (09.00 WIB) Jumat, para pekerja menggunakan derek mulai membongkar huruf-huruf, membentuk nama Chiang Kai-shek dari bagian depan tugu peringatan mirip istana di pusat kota Taipei.

    Empat huruf terbuat dari logam, dengan tinggi sekitar 1,5 meter membentuk nama Chong Cheng, di antara ungkapan filosofi terkenal dari awal abad ke-16. Ungkapan itu, “Ta Chong Chih Cheng,” berarti kenetralan.

    Demonstran pro dan anti-Chiang, yang dilerai oleh polisi anti-huru hara berkumpul di lokasi itu sambil mengawasi pembongkaran itu.

    Tindak kekerasan meletus di tugu peringatan itu, Kamis ketika seorang supir truk bernama Peng Sheng-lu menabrakkan kendaraannya ke arah sekelompok juru kamera TV, sehingga melukai parah satu orang.

    Polisi semula mengatakan bahwa Peng berprilaku baik tapi akhirnya menuduhnya dengan percobaan pembunuhan.

    Koran Taiwan bersirkulasi banyak Apple Daily melaporkan Jumat bahwa bendera-bendera yang mempromosikan unifikasi antara Taiwan dan China ditemukan di dalam kendaraannya.

    Keputusan pemerintah untuk menghapuskan aksara-aksara Mandarin dilakukan sebelum pemilihan presiden Maret tahun depan.

    Kampanye pemilihan antara Frank Hsieh dari DPP dengan Ma Ying-jeou dari partai oposisi utama Nasionalis diperkirakan akan terfokus pada hubungan Taiwan dengan China.

    Seperti halnya Chiang, Ma mendukung unifikasi dengan China daratan. (AP

    Polisi Akan Tindak Perusak Warung Bakso Daging Babi

    Jambi, 7 Desember 2007 10:10
    Polisi akan memburu dan menindak pelaku pengrusakan warung bakso yang menggunakan bahan baku daging babi di Jambi.

    Kapolda Jambi, Brigjen Pol Drs Carel Risakotta, melalu juru bicaranya, Yatin Suyatmo di Jambi, Jumat menegaskan, Kapoltabes dan Kapolres diperintahkan untuk menindak perusak fasilitas umum dan barang milik orang lain.

    Apapun alasannya kendati pedagang bakso itu berbuat kesalahan yang telah meresahkan masyarakat, namun warga tidak boleh berbuat anarkis atau main hakim sendiri.

    Masalah pengusutan kasus bakso bercampur daging babi itu masyarakat supaya menyerahkan dan memercayakan pada aparat penegak hukum dalam menanganinya.

    Polisi juga akan menyikapi dan mengusut kasus tersebut dengan serius, bekerjasama dengan berbagai instansi terkait akan dicarikan jalan penyelesaian yang terbaik.

    Dampak dari kasus bakso bercampur daging babi itu kini juga sudah menimbulkan kerugian bagi pedagang bakso lainnya yang tidak terlibat dan mengetahui sama sekali.

    Mereka kehilangan pelanggan serta penjualannya turun drastis, sementara mereka harus memenuhi kebutuhan hidup keluarganya dari berjualan bakso.

    Untuk itu masyarakat diminta lebih arif menyikapi kasus tersebut serta tidak memvonis semua pedagang bakso menggunakan daging babi sebagai bahan daganganya. [TMA, Ant
    __._,_.___

    Polisi Malaysia Penjarakan Turis WNI Tanpa Alasan

    Kuala Lumpur, (Analisa)

    Wanita asal Pare-Pare, Sulawesi Selatan, Nurmiati Nurdin, yang semula ingin jalan-jalan dan bertemu saudaranya di Malaysia terpaksa mendekam di penjara polisi Kapar, Klang, Selangor selama lima hari karena ditahan polisi Malaysia tanpa alasan yang jelas.

    Nurmiati Nurdin (19) didampingi pamannya, Jamal bin Pida, warga negara Malaysia, dan Wakil Ketua Persatuan Bugis Malaysia Raja Kamarudin bin Raja Abdul, juga warga Malaysia, Jumat sore melaporkan kejadian itu ke KBRI Kuala Lumpur.

    Kepala Polisi KBRI Kuala Lumpur Setyo Wasisto menerima pengaduan itu didampingi oleh Atase Pertahanan Laut Mohd Yunus.

    "Sabtu malam, saya berdua sedang makan malam. Kemudian pulang dan naik mobil. Tiba-tiba ada sebuah motor yang dikendarai dua polisi berseragam memberhentikan mobil kami dan menanyakan paspor. Pada saat itu, Nurmiati tak bawa paspor.

    Saya pulang ke rumah ambil paspor dia. Saya bawa paspor dia dan menyerahkan ke polisi. Tapi polisi itu bilang paspor ini palsu. Jadi Nurmiati dibawa ke kantor polisi di Klang kemudian ditahan," kata Jamal.

    Esok harinya, Minggu, Jamal datang kembali ke kantor polisi Klang dan menemui polisi yang menahan keponakannya. Oknum polisi itu mengatakan bahwa paspor Nurmiati palsu, kemudian menawarkan pembuatan paspor Indonesia yang asli. "Saya jawab tak ada uang," kata Jamal.

    Ia kemudian melaporkan kejadian ini kepada Wakil Ketua Persatuan Bugis Malaysia Raja Kamarudin. Raja kemudian menemui pimpinan polisi Klang. Pimpinan itu mengatakan bahwa stempel visa masuk ke Malaysia yang ada di paspor Nurmiati itu palsu dan sedang dicek ke Imigrasi Putrajaya.

    "Tapi perlu waktu empat atau lima hari," kata Raja Kamarudin meniru suara polisi itu.

    Raja Kamarudin dan Jamal kemudian mendatangi KBRI untuk melaporkan hal ini. Kepala Polisi KBRI Setyo Wasisto dan Kepala Atase Pertahanan Laut M Yunus kemudian mendatangi langsung kantor polisi Klang. Nurmiati akhirnya bisa keluar dari tahanan pada Kamis malam (6/12) jam 10.

    "Saya sangat tersiksa di penjara karena satu sel itu ada sekitar 35 orang. Saya tak bisa tidur dengan kaki lurus saking padatnya manusia di sel penjara. Kami harus menjerit jika ingin buang air kecil atau buang air besar. Kadang-kadang dibukakan pintu, kadang-kadang tidak. Masih ada lagi sekitar 20 wanita Indonesia di penjara di sana. Ada yang punya paspor lengkap dan tidak tahu kenapa ditahan," kata Nurmiati.

    "Kami sebagai orang Malaysia sendiri sangat sedih melihat perlakuan polisi terhadap orang Indonesia. Bapak mesti datangi penjara Klang lagi dan mendatangi penjara polisi lainnya. Berapa banyak orang Indonesia ditahan tanpa alasan," kata Raja Kamarudin.

    "Kami akan mengirim surat protes kepada Kepolisian Malaysia melalui interpol. Saya juga menyarankan agar Nurmiati dan keluarganya melakukan gugatan kepada polisi," kata Setyo. (Ant

  • title-3421708

    Cantik-superdd
    Terkorup Ketiga, Wakil Rakyat Marah

    Soetardjo Ancam Menuntut TII

    JAKARTA - Sejumlah anggota DPR menanggapi sengit pengumuman indeks korupsi yang diluncurkan Transparansi Internasional Indonesia (TII). Dalam indeks korupsi tersebut, DPR bersama institusi kepolisian dan peradilan, menurut persepsi publik yang disurvei, masih masuk tiga besar lembaga terkorup.

    Karena masih dinilai buruk itu, Wakil Ketua DPR Soetardjo Soerjoguritno termasuk kelompok yang berang atas hasil survei tersebut. "Kalau tidak jelas datanya, saya akan menuntut," tegasnya di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (7/12).

    Menurut dia, hasil survei tersebut telah membangun citra buruk terhadap parlemen. "Saya tidak mau DPR terus didengung-dengungka n seperti itu (lembaga terkorup, Red)," ujarnya.

    Dia mengungkapkan, DPR sebenarnya telah memiliki data yang lengkap soal integritas para anggota parlemen di Badan Kehormatan (BK) DPR. "Saya hanya minta semua jelas, jangan asal," kata politikus senior dari PDIP tersebut.

    Protes senada disampaikan Ketua FKB DPR Effendy Choiry. Menurut dia, tidak masuk akal DPR dimasukkan sebagai lembaga korup. "DPR tidak pegang uang kok," ungkapnya.

    Dia menyatakan, DPR hanya bertugas membuat dan mengawasi anggaran. DPR sama sekali tidak punya wewenang mengelola anggaran. "Tapi, kalau yang dimaksud DPR menurut TII adalah setjen (sekretariat jenderal), itu masih mungkin," jelas politikus yang akrab disapa Gus Choi tersebut.

    Dia menuturkan, selama ini, uang yang diterima para anggota DPR hanyalah uang gaji dan uang kehormatan terkait dengan keterlibatan anggota dalam pansus, panja, dan sebagainya. "Kalaupun ada yang bermain-main dan menerima proyek dari mitra kerja, itu namanya kolusi, bukan korupsi," tegasnya.

    Karena itu, Effendy berharap pimpinan DPR segera memberikan sikap resmi terhadap hasil survei indeks korupsi yang diluncurkan TII tersebut. "Penyikapan itu penting untuk menjelaskan posisi DPR yang sebenarnya," ujarnya.

    Pada 2006, parlemen malah menjadi juara bersama peringkat korupsi dengan kepolisian dan lembaga peradilan. Indeks korupsi saat itu mencapai 4,2. Tahun ini, indeks persepsi publik itu menurun menjadi 4,1.

    Berbeda dari sebagian rekannya, anggota DPR dari FPG Nusron Wahid malah menganggap, hasil survei itu seharusnya bisa menjadi ajang evaluasi DPR. "Seharusnya bisa dijadikan bahan refleksi menjelang pembahasan UU Susduk mendatang," katanya.

    Menurut dia, korupsi dalam pengertian abuse of power (penyalahgunaan kekuasaan) memang sering terjadi di DPR. "Kawan-kawan DPR sebenarnya tidak perlu tergopoh-gopoh membantah. Harus diakui, banyak tindakan DPR yang masih jauh dari harapan masyarakat," ungkapnya.

    Dikonfirmasi tentang hal itu, Ketua DPR Agung Laksono pun meminta agar anggota DPR tidak terlalu berlebihan menanggapi hasil survei tersebut. "Tidak perlu terlalu emosional, anggap saja sebagai kritik sosial," kata politikus asal Partai Golkar tersebut. (dyn

    Cermin Kegagalan Pemberantasan Korupsi
    Antonius Steven Un

    Hasil Seleksi Pimpinan KPK
    Komisi III DPR baru saja menyelesaikan tahap akhir seleksi pimpinan baru KPK. Hasilnya adalah ditetapkannya lima nama, yakni Antasari Azhar, Chandra W. Hamzah, Bibit S. Rianto, M. Jasin, dan Haryono (JP, 6/12).

    Terdapat sejumlah kejanggalan dalam proses seleksi komisi III itu. Pertama, tidak diloloskannya sejumlah nama yang dianggap publik memiliki integritas dan kapabilitas dalam agenda eliminasi dan eradikasi korupsi. Antara lain, Amin Sunaryadi dan Surachmin. Kedua, tokoh yang paling kontroversial, Antasari Azhar, bukan saja diloloskan, malah dipilih sebagai ketua dengan kemenangan mutlak.

    Ketiga, proses seleksi dijalankan dua tahap, padahal pada tahap pertama, seharusnya sudah memenangkan Chandra M. Hamzah. Gayus Lumbuun, anggota komisi III, keberatan terhadap seleksi tahap kedua yang dianggapnya sebagai skenario memenangkan kandidat tertentu (JP, 6/12). Kejanggalan tersebut menjadi materi untuk membaca perilaku politik anggota dewan, menakar biaya politik sebagai ekses dan menganjurkan antisipasi tertentu.

    Perilaku politik anggota dewan dalam seleksi KPK dapat dibaca dari sudut pandang lain. Komisi III dinilai trauma terhadap eksistensi dan kiprah KPK "angkatan pertama" yang bukan saja baru dalam percaturan politik dan tata negara, tetapi terbukti meresahkan banyak pejabat publik. Terbongkarnya skandal suap dan korupsi anggota KPU dan KY merupakan andil KPK.

    Karena trauma tersebut, komisi III ingin memutus rantai kontinuitas kultur dan kinerja KPK "angkatan pertama" dengan menjegal langkah mantan Wakil Ketua Amin Sunaryadi. Pada gilirannya, pilihan politik itu akan mengamankan dan menyelamatkan muka banyak koruptor, terutama di legislatif dan eksekutif. Sampai di sini, KPK disulap menjadi "Komisi Penyelamat Koruptor".

    Biaya Politik
    Komposisi pimpinan KPK hasil preferensi politik anggota dewan yang menuai protes dikhawatirkan berpotensi menimbulkan biaya politik yang mahal. Eksistensi KPK adalah solusi alternatif bagi macetnya proses pemberantasan korupsi melalui jalur konvensional, dalam hal ini kepolisian dan kejaksaan.

    Karena itu, kegagalan pimpinan KPK dalam menjalankan visi misi sesuai dengan amanat perundangan dan harapan masyarakat sama dengan kegagalan negara dalam agenda pemberantasan korupsi.

    Dengan posisi KPK yang demikian strategis dalam grand design pemberantasan korupsi, menyeleksi pimpinan KPK yang tidak tepat justru akan menyuburkan praktik korupsi. Hal ini berarti KPK dan korupsi koeksis sehingga berpotensi menimbulkan delegitimasi dan preseden buruk dalam pemberantasan korupsi. Prinsipnya, korupsi itu buruk, tetapi lebih buruk korupsi dalam penanganan kasus korupsi.

    Kekhawatiran itu tidaklah berlebihan. Sebab, mengangkat komisioner yang berrekam jejak baik dan jujur saja belum bisa menjamin akan bersih dari praktik KKN, apalagi memilih komisioner yang rekam jejaknya hitam. Ahli hukum dan politik Susan Rose-Ackerman menempatkan kepentingan pribadi, termasuk kepentingan dalam kemakmuran keluarga, sebagai motivator sentral dan universal bagi kehidupan manusia sehingga tidak heran korupsi menjadi endemi (Corruption & Government, 2000). Dengan motivasi demikian, bahkan komisioner KY yang mengawasi martabat hakim pun tidak imun dari korupsi.

    Bertemunya kepentingan pribadi dan daya tarik kekayaan mengakibatkan manusia bisa menjadi beringas. Filsuf Italia Niccolo Machiavelli (1469-1527) menyatakan "manusia lebih mudah melupakan kematian ayahnya daripada kehilangan bagian warisannya". Hal inilah yang patut diwaspadai oleh publik karena "Jika bersangkutan dengan uang, setiap orang termasuk ke dalam agama yang sama". Demikian analisis filsuf Prancis Francois Marie Arouet yang terkenal dengan nama Voltaire (1694-1778).

    Korupsi yang tumbuh subur, antara lain, diindikasikan oleh terlibatnya komisioner KY dalam kasus KKN, apalagi bila ternyata komisioner KPK hasil seleksi komisi III juga setali tiga uang. Lantas, pada gilirannya, akan luntur kepercayaan publik yang terdiri atas tiga kelompok. Pertama, publik tanah air tidak percaya kepada institusi hukum dan hal ini berarti negara gagal dalam menjalankan fungsi keadilan. Efek dan eksesnya adalah tumbuhnya anarkisme, antara lain, dengan main hakim sendiri.

    Kedua, publik internasional dan lembaga donor tidak lagi percaya kepada pemerintah. Hal ini berbahaya mengingat kita berada di ring of fire, potensi dan frekuensi bencana amat besar.

    Ketiga, investor baik lokal maupun asing yang sudah sejak lama meresahkan korupsi birokrasi akan bertambah resah dengan praktik korupsi di alat penegak hukum. Dalam hal ini, misalnya apabila dilakukan oleh komisioner baru KPK.

    Kontrol Sosial
    Janji Ketua KPK terpilih Antasari Azhar bahwa semua kritik dan keraguan publik akan dijawab dengan kinerja (JP, 7/12) tidak serta-merta menenangkan masyarakat. Janji itu tak ubahnya janji politisi dalam kampanye.

    Langkah praktisnya adalah pertama, konsistensi kontrol sosial publik. Kontrol sosial selama ini berlangsung reaktif, yakni jika terjadi kasus, barulah publik "mengamuk". Padahal, fungsi kontrol sosial seharusnya bersifat preventif, bagaimana supaya KPK tidak sampai terjerat skandal KKN. Kedua, dalam rangka prevensi itu, perlu peran inisiatif-proaktif media massa dalam aksesibiltas informasi. Dengan begitu, masyarakat dapat mendeteksi kinerja dan problem dalam tubuh KPK. Ketiga, perlunya kesadaran akuntabilitas dalam diri komisioner bahwa merekalah yang paling disorot dalam hal korupsi serta penanganannya, baik oleh Tuhan, pemerintah, maupun masyarakat.

    Kesadaran itu menguatkan identitas komisioner sebagai agen pemberantasan korupsi. Keempat, kesadaran akuntabilitas membawa kepada sikap transparansi, membuka profresifitas penanganan kasus korupsi kepada publik, juga rajin dan rutin membuka harta kekayaan komisioner kepada publik.

    Antonius Steven Un, peneliti pada Reformed Center for Religion and Society

    Pemerintah Taiwan Hapus Nama Chiang Kai-shek dari Tugu Peringatan

    Taipei, (Analisa)

    Para pekerja mulai membongkar aksara-aksara China berukuran besar dari tugu peringatan Chiang Kai- shek, Jumat (7/12).

    Tindakan ini tercatat terbaru dalam kampanye pemerintah Taiwan untuk memberangus warisan ?satu China? mendiang diktator itu.

    Chiang, yang memimpin Taiwan dari 1949 sampai kematiannya tahun 1975, merupakan ikon penyatuan antara Taiwan dan China -- gagasan yang mendapat tantangan keras dari Presiden Chen Shui-bian dan Partai Progresif Demokratik pro-kemerdekaan pimpinannya.

    Taiwan dan China memisahkan diri karena perang saudara hampir 60 tahun silam ketika Chiang dan Nasionalis pimpinannya kalah dengan pasukan Komunis pimpinan Mao Zedong dan lari ke pulau itu, 160 km lepas pantai tenggara.

    Tugu peringatan itu, yang sebelumnya bernama Balai Peringatan Nasional Chiang Kai-shek, diganti awal tahun ini untuk memperingati gerakan demokrasi.

    Setelah pukul 10.00 waktu setempat (09.00 WIB) Jumat, para pekerja menggunakan derek mulai membongkar huruf-huruf, membentuk nama Chiang Kai-shek dari bagian depan tugu peringatan mirip istana di pusat kota Taipei.

    Empat huruf terbuat dari logam, dengan tinggi sekitar 1,5 meter membentuk nama Chong Cheng, di antara ungkapan filosofi terkenal dari awal abad ke-16. Ungkapan itu, ?Ta Chong Chih Cheng,? berarti kenetralan.

    Demonstran pro dan anti-Chiang, yang dilerai oleh polisi anti-huru hara berkumpul di lokasi itu sambil mengawasi pembongkaran itu.

    Tindak kekerasan meletus di tugu peringatan itu, Kamis ketika seorang supir truk bernama Peng Sheng-lu menabrakkan kendaraannya ke arah sekelompok juru kamera TV, sehingga melukai parah satu orang.

    Polisi semula mengatakan bahwa Peng berprilaku baik tapi akhirnya menuduhnya dengan percobaan pembunuhan.

    Koran Taiwan bersirkulasi banyak Apple Daily melaporkan Jumat bahwa bendera-bendera yang mempromosikan unifikasi antara Taiwan dan China ditemukan di dalam kendaraannya.

    Keputusan pemerintah untuk menghapuskan aksara-aksara Mandarin dilakukan sebelum pemilihan presiden Maret tahun depan.

    Kampanye pemilihan antara Frank Hsieh dari DPP dengan Ma Ying-jeou dari partai oposisi utama Nasionalis diperkirakan akan terfokus pada hubungan Taiwan dengan China.

    Seperti halnya Chiang, Ma mendukung unifikasi dengan China daratan. (AP

    Polisi Akan Tindak Perusak Warung Bakso Daging Babi

    Jambi, 7 Desember 2007 10:10
    Polisi akan memburu dan menindak pelaku pengrusakan warung bakso yang menggunakan bahan baku daging babi di Jambi.

    Kapolda Jambi, Brigjen Pol Drs Carel Risakotta, melalu juru bicaranya, Yatin Suyatmo di Jambi, Jumat menegaskan, Kapoltabes dan Kapolres diperintahkan untuk menindak perusak fasilitas umum dan barang milik orang lain.

    Apapun alasannya kendati pedagang bakso itu berbuat kesalahan yang telah meresahkan masyarakat, namun warga tidak boleh berbuat anarkis atau main hakim sendiri.

    Masalah pengusutan kasus bakso bercampur daging babi itu masyarakat supaya menyerahkan dan memercayakan pada aparat penegak hukum dalam menanganinya.

    Polisi juga akan menyikapi dan mengusut kasus tersebut dengan serius, bekerjasama dengan berbagai instansi terkait akan dicarikan jalan penyelesaian yang terbaik.

    Dampak dari kasus bakso bercampur daging babi itu kini juga sudah menimbulkan kerugian bagi pedagang bakso lainnya yang tidak terlibat dan mengetahui sama sekali.

    Mereka kehilangan pelanggan serta penjualannya turun drastis, sementara mereka harus memenuhi kebutuhan hidup keluarganya dari berjualan bakso.

    Untuk itu masyarakat diminta lebih arif menyikapi kasus tersebut serta tidak memvonis semua pedagang bakso menggunakan daging babi sebagai bahan daganganya. [TMA, Ant
    __._,_.___

    Polisi Malaysia Penjarakan Turis WNI Tanpa Alasan

    Kuala Lumpur, (Analisa)

    Wanita asal Pare-Pare, Sulawesi Selatan, Nurmiati Nurdin, yang semula ingin jalan-jalan dan bertemu saudaranya di Malaysia terpaksa mendekam di penjara polisi Kapar, Klang, Selangor selama lima hari karena ditahan polisi Malaysia tanpa alasan yang jelas.

    Nurmiati Nurdin (19) didampingi pamannya, Jamal bin Pida, warga negara Malaysia, dan Wakil Ketua Persatuan Bugis Malaysia Raja Kamarudin bin Raja Abdul, juga warga Malaysia, Jumat sore melaporkan kejadian itu ke KBRI Kuala Lumpur.

    Kepala Polisi KBRI Kuala Lumpur Setyo Wasisto menerima pengaduan itu didampingi oleh Atase Pertahanan Laut Mohd Yunus.

    "Sabtu malam, saya berdua sedang makan malam. Kemudian pulang dan naik mobil. Tiba-tiba ada sebuah motor yang dikendarai dua polisi berseragam memberhentikan mobil kami dan menanyakan paspor. Pada saat itu, Nurmiati tak bawa paspor.

    Saya pulang ke rumah ambil paspor dia. Saya bawa paspor dia dan menyerahkan ke polisi. Tapi polisi itu bilang paspor ini palsu. Jadi Nurmiati dibawa ke kantor polisi di Klang kemudian ditahan," kata Jamal.

    Esok harinya, Minggu, Jamal datang kembali ke kantor polisi Klang dan menemui polisi yang menahan keponakannya. Oknum polisi itu mengatakan bahwa paspor Nurmiati palsu, kemudian menawarkan pembuatan paspor Indonesia yang asli. "Saya jawab tak ada uang," kata Jamal.

    Ia kemudian melaporkan kejadian ini kepada Wakil Ketua Persatuan Bugis Malaysia Raja Kamarudin. Raja kemudian menemui pimpinan polisi Klang. Pimpinan itu mengatakan bahwa stempel visa masuk ke Malaysia yang ada di paspor Nurmiati itu palsu dan sedang dicek ke Imigrasi Putrajaya.

    "Tapi perlu waktu empat atau lima hari," kata Raja Kamarudin meniru suara polisi itu.

    Raja Kamarudin dan Jamal kemudian mendatangi KBRI untuk melaporkan hal i

  • Strategi energi Indonesia

    Cantik-super101

    oleh : Christovita Wiloto

    Badan riset Departemen Energi AS memprediksikan bahwa pada tahun 1980-an harga minyak dunia dapat mencapai US$100 per barel, mendekati kenyataan pada akhir 2007 ini.

    Meskipun Indonesia adalah salah satu anggota OPEC, tetapi jumlah impor minyak kita terus meningkat. Rencana pemerintah membangun pembangkit listrik tenaga nuklir mendapat tantangan berbagai pihak karena khawatir risiko yang dapat mengancam manusia dan kerusakan lingkungan hidup yang serius.

    Pelaksanaan program pengalihan konsumsi minyak tanah rumah tangga yang bersubsidi ke pemakaian gaspun masih tersendat-sendat. Sementara itu rapor pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla (SBY-JK) dalam masa tiga tahun ini tidak juga menunjukkan kemajuan di sektor penciptaan lapangan kerja, jumlah rakyat miskin pun semakin bertambah.

    Setelah era Soeharto, belum ada lagi presiden Indonesia yang melakukan kebijakan yang cukup signifikan bagi rakyat Indonesia. BJ Habibie dikenang dengan lepasnya Timor Timur. Gus Dur dikenang karena gaya LSM-nya. Megawati dikenang dengan kiat 'melempar kesalahan' kepada rezim Soeharto, sambil melepaskan Indosat dan aset strategis negara lainnya, tetapi juga sukses menyelenggarakan pemilu pertama secara demokratis.

    Terlepas dari dosa-dosa Soeharto yang sulit dibuktikan secara hukum, bagi kalangan bawah Soeharto dikenang dengan harga BBM termurah di Asia (kecuali Brunei), beras murah dan sebagai 'pemimpin' Asean di zamannya. Kemanjaan masyarakat menikmati BBM murah selama Soeharto berkuasa, menjadi batu sandungan dan bola panas bagi presiden-presiden RI berikutnya.

    Megawati mencoba menaikkan harga BBM secara bertahap, tetapi laju kenaikannya kalah cepat dengan kenaikan harga minyak dunia. Akibatnya Megawati tidak berani memainkan bola panas itu menjelang pemilu 2004, agar tidak 'terbakar' situasi politik, sosial, budaya dan keamanan Indonesia.

    Kiat ini tidak sukses sepenuhnya karena pada putaran akhir persaingan pada pemilu, Megawati kalah, dan perolehan kursi PDIP di DPR berada di bawah Golkar. Megawati mengalami double lost.

    Duet SBY-JK hanya beberapa waktu setelah resmi diangkat menjadi Presiden dan Wakil Presiden terpilih, langsung mengambil risiko menetapkan kenaikan harga BBM 50%-100% lebih, dengan alasan untuk mengejar ketertinggalan dari kenaikan harga minyak dunia. Suatu kebijakan yang sangat pahit dan tidak populer ini akhirnya menuai kecaman di mana-mana.

    Mengapa duet pilihan langsung rakyat ini berani? Alasannya selain ingin menyehatkan APBN, sebetulnya secara perhitungan risikonya cukup tepat. Pertama, telah sesuai konstitusi, artinya pasangan ini legitimasinya sangat kuat, karena pilihan langsung rakyat dan sangat sulit dijatuhkan oleh DPR. Kedua, TNI-Polri loyal terhadap pemerintah. Ketiga, timbul kesan bahwa 'kesalahan' menunda kenaikan harga BBM ada di pundak Megawati yang ingin memenangkan pemilu.

    Namun, skenario menyehatkan APBN ini, rontok dalam tahun ketiga era duet SBY-JK. Hal ini terjadi karena kenaikan harga minyak dunia semakin liar tak terkendali.

    Berbagai kebijakan OPEC sendiri juga tidak mampu mempengaruhi kondisi ini dengan signifikan. Berbagai alasan dikemukakan sebagai penyebab kenaikan yang di luar kendali ini. Salah satu alasan klasik adalah politik luar negeri AS yang agresif di berbagai belahan dunia terutama di kawasan Timur Tengah. Terutama ketika pecah perang Irak, maka harga minyak duniapun bergejolak.

    Saat ini disebut-sebut tentang kemungkinan pecahnya perang antara Turki dan kelompok Kurdi di Irak Utara. Sedangkan naiknya permintaan, karena datangnya musim dingin di Eropa dan AS dinilai sebagai kenaikan normal. Padahal, semua itu hanya pemicu, sedangkan penyebab utamanya terletak pada strategi AS dalam mengamankan ketersediaan pasok minyaknya secara berkelanjutan.

    Bila dicermati lebih dalam, ada sebab mendasar di luar kekuasaan manusia, yaitu terbatasnya deposit minyak. Hal ini disebabkan karena sumber energi ini tidak diperbaharui atau akan segera habis. Oleh karena itu, AS berusaha mencari dan mengeksploitasi sumber minyak di manapun di muka bumi ini, sambil menghemat cadangan yang ada diteritorialnya sendiri.

    Ketika OPEC mencoba memanfaatkan minyak sebagai kekuatan tawar terhadap AS, AS dengan gesit segera konsolidasi, mencari sumber eksplorasi baru dan hanya dalam waktu sekitar satu dasawarsa 'gigi' OPEC menjadi tumpul.

    Produksi minyak dari negara non OPEC naik dengan signifikan, sehingga merekapun dapat berkontribusi dalam penentuan harga. Jika memakai istilah globalisasi, maka minyak menjadi salah satu komoditas sensitif dalam permainan negara besar dan super power yang diberi istilah eksklusif global, sementara negara lain hanya menjadi pelengkap penderita.

    Strategi Indonesia

    Dari gambaran di atas, apa yang harus dilakukan Indonesia? Jika kita tidak ingin hanya menjadi pelengkap penderita dari globalisasi, Indonesia harus segera meletakkan dasar-dasar pengembangan sumber energi alternatif. Dan ini harus menjadi komitmen nasional bangsa Indonesia.

    Kita jangan terbuai dengan perhitungan perhitungan ketersediaan cadangan minyak dan gas di teritorial Indonesia yang katanya masih sangat besar jumlahnya. Terbukti proses konversi minyak tanah ke gas saja tidak menjawab masalah, karena gas juga tidak terperbaharui dan akan musnah.

    Sebetulnya, begitu banyak pilihan sumber energi yang telah didukung oleh berbagai riset ilmiah. Pemerintah dapat memilih sesuai dengan potensi alam di daerah atau wilayah Indonesia masing-masing. Investasi di sektor ini dalam jangka panjang akan membawa kebaikan bagi bangsa. Ada biogas, geothermal, biodiesel, energi surya, dan tenaga air yang secara alamiah sangat melimpah dan dapat dikembangkan di Indonesia.

    Indonesia jangan terjebak pada pilihan tradisional, yang menyamaratakan kondisi daerah. Jalan keluar yang ditempuh PLN selama ini selain tenaga air dan batubara adalah mesin diesel yang sangat boros BBM. Pilihan ini sudah pasti harus segera ditinggalkan.

    Pilihan PLTN (nuklir) juga tidak serta merta dapat memproduksi listrik murah. Jika secara relatif PLTN sama mahalnya, mengapa Indonesia tidak mengembangkan pilihan alternatif sumber energi yang lain?

    Di sektor energi ini Presiden SBY dapat memutuskan kebijakan yang fenomenal, menyangkut hajat hidup masyarakat luas, dan sekaligus memberdayakan penduduk di pulau besar maupun pulau kecil.

    Satu hal yang pasti bahwa bukan pada era SBY-JK kebijakan itu terealisasi, tetapi pilihan meletakan dasar kebijakan energi yang melibatkan komitmen nasional dan langsung berkaitan dengan hajat hidup orang banyak akan menjadi citra positif yang ditinggalkan oleh keduanya.

    Peluang ini terbuka lebar, kecuali SBY-JK hanya akan meneruskan citra presiden setelah Soeharto, sebagai presiden yang 'nothing special' bagi bangsa. Tidak akan terpatri dalam ingatan rakyat biasa, meskipun pemimpinnya meraih penghargaan nobel, kalau tidak memberi manfaat langsung kepada rakyat.

    bisnis.com

    URL : http://web.bisnis. com/kolom/ 2id636.html

    Aria:SBY ibarat Main Komedi Korupsi

    JAKARTA - PDI Perjuangan (PDIP) kembali menuding bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hanya bermain-main memberantas korupsi. Tudingan paling gres dilontarkan kader PDIP Aria Bima setelah mantan Men BUMN pada era Megawati, Laksamana Sukardi, dijadikan tersangka korupsi dalam penjualan tanker PT Pertamina.

    "Yang dilakukan Presiden SBY hanya komedi-komedian atau gincu-gincu pemberantasan korupsi. Lakonnya adalah orang-orang yang dulu dekat Megawati," ujar pemimpin Fraksi PDIP DPR Aria Bima di Jakarta kemarin (8/11).

    Pemilahan orang-orang Megawati atau bukan memang sudah tidak relevan. Contohnya, mantan Menteri BUMN Laksamana Sukardi yang kini sudah berseberangan dengan Megawati. Bahkan, Laksamana sudah mendirikan partai baru, yaitu Partai Demokrasi Pembaruan (PDP).

    Tapi, kata Aria, kesan di masyarakat, Laksamana tetap dianggap orang Megawati. "Jadi, siap-siap saja, siapa pun orangnya, setiap saat bisa dijadikan lakon komedi pemberantasan korupsi oleh SBY," tegasnya.

    Sebelum Laksamana, menteri-menteri pada era Megawati yang dipenjarakan karena korupsi adalah Menteri Agama Said Agil Almunawar, Menteri Kelautan Rokhmin Dahuri, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Theo F. Toemion, dan Widjanarko Puspoyo, mantan kepala/Dirut Perum Bulog.

    Belum lagi para kepala daerah dan anggota DPRD yang sebagian besar berasal dari PDIP. "Konteksnya memang bukan orang Mega atau bukan lagi. Tapi, sebenarnya SBY itu serius nggak memberantas korupsi. Sebab, saya lihat, sebenarnya iklim antikorupsi tidak tercipta," tegasnya.

    Banyak kasus korupsi pejabat daerah dan DPRD yang tidak tuntas. Bahkan, dalam kasus pembalakan liar, pelakunya dibebaskan begitu saja. Belum lagi kasus-kasus dugaan korupsi yang diselesaikan secara "adat" seperti dalam perseteruan antara KPK dengan mantan Menkum HAM Yusril Ihza Mahendra.

    "Dalam kasus korupsi Soeharto, Presiden SBY lebih tidak berani. Kasus korupsi KPU juga tidak tuntas," ungkap alumnus Fisipol UGM Jogjakarta tersebut.

    Menurut salah seorang vokalis Senayan tersebut, PDIP melihat, yang dilakukan SBY dalam lakon pemberantasan korupsi tak lebih dari komedi untuk menaikkan citra dan tebar pesona di depan rakyat.

    Layaknya sebuah komedi, ujar Aria, pasti butuh penulis skenario, penata musik, dan tata panggung. "Dalam kasus itu, SBY memainkan KPK, Timtastipikor, Kejaksaan Agung, dan Polri, sehingga komedi pemberantasan korupsi terkesan serius dan enak ditonton," ujarnya.

    Dia mengingatkan, bisa saja yang menjadi lakon bukan hanya orang-orang PDIP. Kalau situasi politik semakin panas, kata dia, orang-orang Jusuf Kalla (Golkar) juga berpeluang menjadi target SBY. "Kalau Jusuf Kalla nanti dalam posisi menantang SBY, tak mustahil yang dijadikan lakon pemberantasan korupsi adalah orang-orang sekitar dia," tegasnya. (

    Jelang Marseille vs Liverpool
    Mengalahkan Liverpool Bukan Mimpi

    Marseille - Marseille berambisi menundukkan Liverpool untuk dapat melaju ke babak perdelapanfinal Liga Champions. Bagi L'Marsellais, mengalahkan Liverpool bukan lagi sebuah mimpi.

    Di Stadion Anfield, 3 Oktober lalu, Marseille menggoreskan sejarah sebagai klub Prancis pertama yang sukses membenamkan Liverpool di Anfield. Melakoni matchday 6 Liga Champions di kandang sendiri, Rabu (12/12) dinihari WIB, sudah tentu Marseille ingin kemenangan serupa terulang.

    Para punggawa Marseille pun siap menghadirkan tiga poin. "Ada perbedaan kelas di antara kami. Tapi kami bermain di rumah dan kami akan membuat hidup Liverpool jadi sulit," janji kapten Lorik Cana sebagaimana dikutip YahooSports.

    Marseille bukan tanpa modal untuk mewujudkan mimpinya melaju ke babak knockout. Mereka baru saja menekuk Monaco 2-0 di Liga Prancis. Sebaliknya, hasil negatif diraih The Reds yang takluk 1-3 di kandang Reading--kekalahan pertama Steven Gerrard dkk di Liga Inggris tahun ini.

    Satu hal lagi yang membuat Marseille di atas angin adalah soal jadwal. Liverpool tengah berada dalam himpitan jadwal yang berat. Seusai dijamu Marseille, The Kop harus menghadapi pertarungan berat kontra Manchester United akhir pekan nanti.

    Tampil habis-habisan di Stade de Velodrome adalah jalan satu-satunya agar tujuan Marseille dapat terwujud. Tekad untuk melakukannya pun diluncurkan oleh pelatih Eric Gerets. "Ini akan jadi final sebenarnya bagi dua klub. Semuanya dipertaruhkan di sini. Bermain hati-hati tidak menolong. Kami mengejar kemenangan!" tegas pria Belgia tersebut. (arp/a2s)

  • Church closed in local dispute

    Cantik-super03

    The Jakarta Post, Jakarta

    Thousands of Catholics in Tambora district, West Jakarta have been forced to rent space in which to worship after locals and officials prevented them from holding services in their 40-year-old church.

    "We are estranged from our roots. We've been here since 1968. We have now 3,500 people listed in our congregation. Half of them are from West Jakarta and the other half from Central Jakarta," parish head Father Matheus Widyolestari MSC told The Jakarta Post on Monday.

    Father Widyo said that the conflict began last week when subdistrict officials asked whether there were plans to enlarge the small church.

    The conflict continued to heat up until locals calling themselves the Cooperation Forum for Mosque, Prayer Rooms (Musholla) and Koranic Recital Group (Majlis Taklim) of Duri Selatan subdistrict demanded the parish stop holding services last Friday.

    Father Widyo acknowledged that the area was a designated residential area. The chapel started out in 1968 as a multi-function room of a Catholic school run by the Mother of Sacred Heart Foundation. As the Catholic congregation in the area grew, the space turned into a small church.

    The religious activities were endowed only with the permission of local neighborhood leaders.

    In 1998, according to the chronology provided by the church, "Former Governor Sutiyoso agreed to change the usage allocation (of the space) from residential to social function."

    "Afterwards, we filed an application to acquire a building permit for the church. But the city rejected us; there has never been any explanation for that," he said.

    Father Widyo said that he had submitted all the requirements needed to apply for a church building permit.

    A joint regulation issued by Religious Affairs Ministry and the Home Affairs Minister last year stipulates that a community of 80 people living in one neighborhood can file an application to build a church. Father Widyo said that in Duri Selatan alone there are at least 195 Catholics.

    The same regulation also says a church needs at least 60 non-Catholic local residents to approve the plan to build the church. For this requirement, Father Widyo said that more than 115 people had signed his petition.

    He said that the chapel had been very open to the community. He said that during the February floods, the chapel gave help to affected residents.

    "We will accept any decision, even if our church has to be closed down. However, we would like the district head to provide a place for us to pray," Father Widyo said. (tif)

    Ethnic edge to Malaysian rally politics
    By Baradan Kuppusamy

    KUALA LUMPUR - Malaysia's minority Indians ignored warnings issued by Prime Minister Abdullah Badawi and on Sunday braved tear gas, water cannons and police batons to protest alleged official discrimination and demand a fairer share of the national wealth in the capital of Kuala Lumpur.

    The mostly ethnic Tamil protesters also called for reparations to the tune of US$4 trillion from the United Kingdom for sending them to Malaysia as indentured laborers over a century ago. The protestors also demanded from the Malaysian government business licenses, better paying jobs, university scholarships and other privileges reserved exclusively for native Malays.

    Their demonstration, the first by ethnic Indians on such large scale since national independence was achieved in 1957, shut down the city center which is overlooked by the gleaming Petronas Towers, the capital's landmark, and various five star hotels and luxury businesses.

    Commuters, shoppers and workers ran helter-skelter as teargas canisters rained on the protesters and gas filled the air. Malaysiakini. com, an opposition online news provider, put the number of protestors at 20,000, though foreign news services estimated the number at less than half that total.

    Many others were turned away or arrested as they tried to enter into the city from the interior, said the organizer of the rally, Hindu Rights Action Force, or HINDRAF. The group was formed in 2005 to fight for Hindu rights. Many protestors waved the Malaysian flag and carried pictures hung around their necks of Indian independence leader Mahatma Gandhi to signify the non-violent nature of their protest.

    They also carried banners urging the authorities to let them voice their grievances peaceably. "We only want to tell you our problems ... don't treat us like animals," one banner said. "By protesting in large numbers we have shown that we are not cowed," said lawyer P Uthayakumar, a key HINDRAF leader. "The government cannot ignore us anymore. We are a force to reckon with," he said, between dodging tear gas canisters.

    Uthayakumar added that HINDRAF would step up its protest to fight for justice, mostly for poorly paid laborers in factories and giant plantation companies, who are forced to compete with at least three million foreign workers for low-paying jobs. An economic slowdown, rising food and fuel prices and foreign competition for jobs has hurt the ethnic Indians harder than other races, including the majority ethnic Malays and the Chinese who control most of the country's businesses.

    It took police nearly six hours on Sunday to regain control of the city center, with businesses in the area reporting millions of dollars worth of losses due to the protest driving shoppers away. Police fired dozens of rounds of tear gas, baton charged the demonstrators and used water cannons laced with chemicals, but the demonstrators played a cat and mouse game to keep the police at bay. Scores of protestors were injured and many were arrested.

    Opposition lawmakers condemned the police's alleged excessive use of force against the demonstrators, who they said had voiced their grievances in a peaceful manner. "This excessive use of power is completely unjustified, " said opposition leader Lim Kit Siang in a prepared statement. "I hold Prime Minister Abdullah Badawi personally responsible for the injuries people suffered. The people will show their rejection of violence in the upcoming polls."

    Historical grievances
    There was also a foreign twist to the melee. The protesters' plan was also to embarrass the Malaysian government by presenting a memorandum to the British High Commission here, urging the British government to intervene on their behalf with the Malaysian authorities. Police closed off all the approaches to the commission in the diplomatic enclave of Ampang to prevent the protesters from reaching the compound.

    "The British brought our forefathers here 150 years ago. They exploited us and left us to the mercy of a Muslim majority government," said opposition lawmaker Kulasegaran Murugesan, who took part in the protest. "They have failed to look after our welfare. We have a right to voice our grievances."

    On Friday, ahead of the rally, police arrested three HINDRAF members on sedition charges, who if convicted face three years in prison based on laws dating back to the British colonial era. Ethnic Indians, who make up about 8% of Malaysia's 26 million population, have long complained that the majority Malays, using unchecked political power, have kept disproportionately for themselves employment, education and business opportunities.

    "We have been deprived ... we want our fair share," Uthayakumar said. "Not only are we deprived but our temples are destroyed, our schools neglected and our people suffer from terrible neglect." Government officials contest such arguments, saying all ethnic communities get a fair share. But the complaints have found a receptive audience among the long suffering Tamil masses.

    Consider, for instance, the economic plight of ethnic Indian lorry driver Selvarajah Ramakrishnan. He says he has applied for a driving permit for over 15 years, but has consistently failed to receive one. To drive his vehicle, he must rent a government driving permit from Malay permit-holders for 400 ringgit (US$119). He asks: "Why should I have to suffer discrimination in my own country?"

    While agreeing that Tamil grievances run deep, some opposition lawmakers and civil rights activists are also concerned about the religious and ethnic character of HINDRAF's movement. Opposition icon Anwar Ibrahim described the protest as an important "safety valve" to let off anger over long simmering Tamil grievances and urged the government to allow them to protest peacefully.

    Anwar also urged HINDRAF's leaders to consider a more balanced and inclusive approach when addressing Tamil grievances, saying that complaints and grievances should be directed at Abdullah's coalition government, which continues to neglect the plight not only of Indian but also other ethnic groups. "We should demand justice for all Malaysians who need it," Anwar said.

    Malay Muslims, representing about 60% of the population, were the most backward economically at independence in 1957 and in the early years of nationhood. But through the New Economic Policy (NEP) implemented in 1970, ethnic Malays have through preferential employment, education, housing and other benefits rapidly advanced and today form a sizeable middle-class.

    The NEP, which was originally designed irrespective of race to eradicate poverty, create wealth and ensure economic equality, is today at the core of Malaysia's widening racial divide. Anwar has promised to roll back the controversial legislation if his party is elected at the next polls and many of Sunday's protestors have vowed to vote for the opposition unless their grievances are addressed.

    Either way, a politically charged Tamil minority adds to Abdullah's government's woes in the run-up to general elections expected to be held early next year.

    Uskup Suwatan: Ini sangat disesalkan!
    Camat Tutup Paksa Tempat Ibadah Katolik

    Kebebasan beribadah di ta-nah air ini rupanya belum se-penuhnya diakui pihak pemerintah dan oknum-oknum tertentu. Terbukti, di hadapan kapolres dan kapolsek setem-pat Jumat (23/11) lalu, pihak pemerintah Kecamatan Tambora mengeluarkan surat yang isinya menutup paksa tempat ibadah umat Katolik bernama ‘Damai Kristus’ Paroki Kampung Duri, Jakarta Barat.

    Akibatnya, umat Katolik yang biasa beribadah di tempat ibadah tersebut tak mampu merayakan Hari Raya Yesus Kristus Raja Semesta Alam yang diperingati Minggu (25/11) kemarin. Padahal, mereka telah menggunakan tempat ibadah tersebut sela-ma kurun waktu 30 tahun untuk beribadah.

    Hal ini dikemukakan Uskup Manado, Mgr Joseph Suwatan MSC, kepada harian ini, usai perayaan Hari Raya Yesus Kristus Raja Semesta Alam di Gereja Katolik Paroki Kristus Raja Kembes, kemarin (25/11). Terhadap aksi tersebut, Uskup Suwatan dengan tegas menya-takan kekecewaannya terhadap pihak pemerintah Kecamatan Tambora dan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.
    “Keputusan Camat Tambora menutup paksa tempat ibadah tersebut, menggambarkan bahwa pemerintah setempat belum mampu menegakkan asas dasar Pancasila. Dan keputusan se-perti ini sangat-sangat disesalkan karena dijatuhkan oleh seorang pejabat pemerintah,” ungkapnya. Dengan keputusan tersebut, Uskup Suwatan kembali mempertanyakan kebebasan beragama dan ke-adilan hidup di negara ini. Dirinya juga mempertanyakan kewibawaan dan kewenangan pemerintah dalam melawan kelompok-kelompok radikal yang ingin memecah belah per-satuan dan kesatuan bangsa.
    Karena itu secara tegas, Uskup Suwatan mendesak pihak pemerintah setempat untuk mengklarifikasi keputusannya tersebut dan sekaligus menca-butnya. “Saya minta dengan sa-ngat agar Camat Tambora dapat mengklarifikasi dan sekaligus mencabut keputusannya ter-sebut. Ini agar asas Pancasila kembali ditegakkan dan umat Katolik kembali beribadah di tempat tersebut,” tegasnya.
    Baginya, sebagai pemerintah seharusnya Camat Tambora dapat mencari solusi yang baik dan bijaksana jika telah terjadi hambatan-hambatan terkait dengan kegiatan tersebut. Salah satunya dengan membangun sebuah dialog yang baik dengan semua pihak yang terkait. “Sebagai pemerintah, Camat Tambora seharusnya bersikap adil dan bijaksana. Bangun dialog yang melibatkan banyak pihak dan bukannya langsung menutup kegiatan beribadah. Sekali lagi ini melanggar Pancasila dan saya minta agar ke-putusan ini dicabut,” pintanya.
    Uskup Suwatan juga mengajak umat Katolik untuk tidak mudah terprovokasi dan mem-berikan dukungan doa bagi umat Katolik Kampung Duri, agar diberikan kekuatan dan ketabahan, serta pemerintah diberikan kebijaksanaan. Ketua Kaum Bapak Katolik (KBK) Keuskupan Manado, Ir Joost Tambajong dan Sekretaris KBK Keuskupan Manado, Ir Hoyke Makarawung juga menyesalkan tindakan Camat Tambora ter-sebut.
    “KBK Keuskupan Manado sangat menyesalkan tindakan penutupan tempat ibadah tersebut. Keputusan Camat Tambora sangat bertentangan dengan asas negara Pancasila. Tolong keputusan ini dicabut dan biar-kan umat menjalankan iba-dahnya dengan tenang,” ujar keduanya.
    Bagi keduanya, pihak pemerintah seharusnya mencari solusi terbaik dengan memba-ngun dialog yang melibatkan semua pihak termasuk umat Katolik Dama Kristus terse-but.

    “Selesaikan masalah ini dengan damai. Dialog dengan melibatkan semua pihak sangat tepat dan bukannya dengan keputusan menutup tempat ibadah,” papar ke-duanya.
    Sementara itu dari kalangan pemuda Katolik di Sulawesi Utara mengecam keras tindakan Camat Tambora tersebut. Mereka mendesak agar camat dapat mencabut keputusan yang dikeluarkannya. Bahkan, kalangan pemuda mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk segera menyikapi hal ini. Ketua Pemuda Katolik Sulut, Harold Pratasik dan Ketua Pemuda Katolik Kabupaten Minahasa, Petrus Rampengan mengatakan, tindakan aparat pemerintahan tersebut sangat memalukan dan memberikan pelajaran yang buruk bagi masyarakat dalam hal kebe-basan beragama. “Ini tin-dakan yang jelas-jelas melanggar UUD dan Pancasila. Kebebasan beragama di negara ini masih saja diinjak-injak. Dan tindakan ini sangat memalukan karena dilakukan oleh seorang camat yang seharusnya menghormati kebebasan beragama. Kami minta agar Presiden SBY agar turun tangan menyikapi hal ini. Karena ini sudah mencoreng pemerintah Indonesia,” ujar keduanya.

    Karena itu, lanjut keduanya, Pemuda Katolik Kabupaten Minahasa, mengecam keras tindakan Camat Tambora dan meminta agar keputusan ter-sebut dicabut kembali. “Pemuda Katolik sangat menge-cam keras dan mendesak agar keputusan tersebut dicabut kembali. Camat harus memberikan contoh kepada ma-syarakat untuk menghormati kebebasan beragama,” pintanya.(imo

    A chicken farmer went into a local tavern and took a seat at the bar next to a woman patron and orders a glass of champagne.

    The woman perks up and says, " How about that? I just ordered a glass of champagne, too!"

    He turned to her and said, "What a coincidence. This is a special day for me, I'm celebrating."

    "This is a special day for me, too, and I'm also celebrating!" says the woman.

    "What a coincidence ," says the man. They clinked glasses and he asked, "What are you celebrating?"

    "My husband and I have been trying to have a child. Today, my gynecologist told me I'm pregnant!"

    "What a coincidence," says the man. "I'm a chicken farmer and my last batch of hens were infertile, but today they're finally fertile."

    "That's great!" says the woman, "How did your chickens become fertile?"

    "I switched cocks," he replied.

    "What a coincidence," she said

    Darah dan Deman

    Darah itu mengumpul dalam hidungnya. Hidungnya mengeluarkan darah, bukan hanya dalam hidung, dari mulutnya pun muncrat darah. Tapi darah itu lebih banyak dalam lambung dan ususnya sehingga beraknya berubah jadi hitam legam. Anak yang berusia 5 tahun, putih dan gemuk, putih serta bersih itu terkulai layu, nadinya cepat dan halus tekanan darahnya tak terukur. Dari kulitnya tampak bintik-bintik merah.

    Kami berusaha memasang infuse tapi tak berhasil, terpaksa dilakukan Vena Sectie, membedah dan mencari pembuluh darah balik di kaki, setelah itu didapat dan cairan diguyur, anak itu keadaannya semakin gawat, sampai nafasnya berhenti. Saya berusaha melakukan pernafasan buatan, mouth to mouth. Tak saya rasakan, darah yang menumpul di mulut anak itu juga pindah ke mulut saya, terasa anyir, namun anak itu juga tak mau bernafas. Semua keluarga berkumpul, mengharapkan keselamatan anak yang gagah dan sangat disayang. Namun semua usaha yang dikerahkan tak membuahkan hasil, di senja itu sebuah nyawa telah pergi keketiadaannya. Ratap dan lolongan tangis membahana, air mata sayapun menitik menyaksikan semua. Ah, lagi-lagi korban demam berdarah jatuh.

    Mungkin hari ini korban anak orang, suatu kali mungkin anak kita, kemenakan, saudara, dan berulang terus selama kita tak mau menyatakan perang dengan nyamuk Aedes Agypti penyebab demam berdarah ini. Ada demam dan ada darah, tapi di senja itu demamnya sudah tak ada yang ada hanyalah darah, darah yang akhirnya menyebabkan kematian anak tercinta.

    Suatu petang berebut senja saya menerima pasien ini tahun 1973, ketika itu saya menjalani co-schap, praktik sebagai mahasiswa fakultas kedokteran. Saat itu wabah demam berdarah menjangkiti Kota Padang dan saya bertugas di bangsal anak yang banyak penderita demam berdarah.

    34 tahun yang lalu demam berdarah itu sepertinya tak mau beranjak, selalu datang tiap tahun, setiap musim hujan. Hujan yang jernih itu menetes berkumpul dalam bejana, kaleng, plastik dan ban bekas. Wadah yang kehitaman dan air jernih mengundang nyamuk aides untuk bersarang dan berkembang biak. Dia kawin dan bertelur, telur berubah jadi jentik-jentik dan jentik berubah jadi nyamuk dewasa yang mencari mangsanya.

    Perhatikanlah dalam kaleng dan ban bekas yang airnya tergenang, lima hari kemudian akan kita saksikan jentik nyamuk, dan jentik-jentik yang menyebabkan demam berdarah.

    Nyamuk elit ini, parlente dengan kaki dan badan yang berbelang putih hitam seperti zebra, hanya memilih air jernih dan bersih. Dia pakai jam kerja, berangkat dan terbang sekitar pukul 08.00 WIB sampai 11.00 WIB. Kemudian dia tidur untuk bangun nanti pukul 16.00 sampai 18.00 WIB sore seperti dokter pergi praktik saja. Di luar jam-jam itu tak kita temukan sang nyamuk.

    Nyamuk yang jarak terbangnya hanya 40 meter itu tak kan jauh beranjaknya. Jadi apabila seseorang digigit nyamuk, maka nyamuk yang menggigitnya itu tidak nyamuk yang jauh, tapi adalah nyamuk yang berada di sekeliling rumahnya, artinya itu adalah nyamuk kita sendiri. Jangan cari kambing hitam, jangan salahkan orang lain itu bukan nyamuk siapa-siapa tapi adalah nyamuk kita sendiri, karena kelalaian kitalah dia ada tumbuh dan berkembang biak.

    Ini negeri tropis. Segala makhluk nyaman tinggal di sini. Virus demam berdarah plus nyamuk pembawanya. Ketombe pun tak ingin ketinggalan. Semua ingin menikmati kehangatan dan kelembaban yang mewah di negeri ini. Dalam kehangatan dan kelembaban demikian, semua hidup subur dan tenteram hingga tak ingin pindah ke lain tempat.

    Potret buram nampak jelas di bangsal-bangsal rumah sakit di berbagai kota yang saat ini tengah dipenuhi oleh para pasien korban demam berdarah. Semua bukan salah siapa tapi salah kita sendiri. Selama kita tak peduli dengan lingkungan, selama kita membiarkan air tergenang, selama kita tidak menimbun, menutup dan menguras wadah-wadah yang menampung air, kita akan rasakan akibatnya.

    Dengan enteng seseorang mencampakkan kantong asoy, membuang kaleng dan tak peduli membiarkan ban bekas, semua itu akan menyebarkan demam berdarah. Virus yang dibawa oleh nyamuk bertempur dengan antibody yang ada dalam tubuh selama tiga hari. Sebetulnya proses apa yang terjadi di dalam tubuh setelah terjadi pertempuran?

    Mengapa pertempuran dengan virus dengue menyebabkan turunnya trombosit dan bukannya menaikkan jumlah sel darah putih seperti pada infeksi lainnya? Mengapa menurunnya jumlah trombosit menyebabkan plasma darah mengalir keluar? Apa sebenarnya penyebab kematian korban demam berdarah. Untuk itu sebagai pengetahuan kita bersama. Inilah pertanyaan dari pasien kepada saya.

    Seperti diketahui, sampai saat ini penurunan jumlah trombosit pada DBD diduga melalui beberapa mekanisme. Antara lain karena terjadinya gangguan pada mekanisme pembuatannya atau melalui penghancuran trombosit itu sendiri karena virusnya memang ganas. Jumlah leukosit memang tidak meningkat, bahkan cenderung turun atau normal, karena penurunan leukosit biasanya hanya pada infeksi bakteri.

    Penurunan jumlah trombosit tidak menyebabkan plasma mengalir keluar, tetapi menyebabkan mudah terjadinya perdarahan dan darah tidak membeku dengan baik.

    Kebocoran plasma yang terjadi pada infeksi virus dengue terjadi akibat reaksi imunologis dan menyebabkan gangguan sistem yang berakibat dinding pembuluh darah menjadi bocor. Maka, terjadilah perembesan cairan darah (plasma).

    Kebocoran ini bukan ke seluruh tubuh terutama ke daerah di badan kita yang longgar dan berongga, seperti selaput paru dan rongga perut. Akibat lain adalah pembuluh darah menjadi kosong dan cairan darah menjadi lebih kental. Ini ditandai dengan nilai hematokrit yang meningkat, yang dapat mengakibatkan terjadinya shock dan fatal.

    Akibat shock tentu dapat mengganggu fungsi jantung dan suplai darah ke otak, dan berakibat kematian. Apalagi bila terjadi perdarahan yang banyak, tentu keadaan penderita menjadi sangat gawat. Bila shock dapat diatasi dengan perawatan yang baik, dan transfusi darah untuk menggantikan darah yang hilang juga dilakukan dengan baik, kemungkinan penyembuhan masih sangat terbuka.

    Makanya pencegahan dan penangan segera penderita demam berdarah adalah sangat perlu. Ada yang berharap pada pengasapan atau foging, yang sebaiknya dilalukan pada jam-jam nyamuk dewasa terbang. Namun pengasapan tak dapat membunuh jentik-jentik yang akan tetap tumbuh dan kembang menjadi nyamuk dewasa. Pengasapan juga tak mungkin membunuh telur yang ada di dalam air.

    Agaknya dengan mengeluarkan biaya Rp10.000, untuk 1 Kg anak ikan nila dapat membasami jentik-jentik. Lepaskam ikan-ikan ini di tempat air tergenang ternasuk kolam atau bak mandi.

    Kita berusaha dan berdaya upaya, karena hari-hari mendatang musim hujan berakhir, awal musim panas adalah nyamuk itu itu berpesta pora.***

    Prof dr HK Suheimi, Guru Besar Fakultas Kedokteran Unand

Footer:

The content of this website belongs to a private person, blog.co.uk is not responsible for the content of this website.