Aku adalah warga negara Kanada keturunan Iran. Aku menerima pendidikan Islam di sekolah saat negara Iran masih sekuler dan kebangkitan Islam, meskipun sudah tampak beriak di permukaan, belum meledak. Saat itu hanya sedikit orang yang menyadari keadaan sebenarnya. Aku meninggalkan Iran sewaktu remaja sebelum terjadi Revolusi Islam untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Eropa. Di Eropa aku belajar berpikir merdeka dan tentang demokrasi. Demokrasi adalah konsep yang sama sekali asing dalam pemikiran Muslim sampai2 tiada kata yang sama artinya dengan kata ini dalam bahasa Arab atau bahasa lain yang dipakai Muslim. Jika mereka tidak punya kata untuk istilah tertentu, maka mereka tidak tahu apa maknanya pula.
Setelah membaca Qur?an, aku kaget sekali. Aku sangat terkejut melihat kekerasan, kebencian, ketidaktepatan, kesalahan sains, kesalahan matematika, logika yang jungkir balik, kesalahan tata bahasa dan ketetapan etika yang tidak jelas. Setelah masa penuh rasa bimbang, bersalah, tak tentu arah, bathin tertekan, dan marah, akhirnya aku mengambil kesimpulan bahwa Qur?an bukanlah buku Tuhan, tapi buku penuh ayat2 setan, kepalsuan dan hasil dari pikiran yang sakit jiwa. Aku merasa seperti terjaga dan menyadari apa yang kualami bagaikan mimpi.
Muslim adalah korban utama dari Islam. Tujuanku menulis buku tidak hanya untuk menunjukkan bahaya Islam, tapi juga menyelamatkan Muslim dari belenggu kebohongan ini. Aku ingin menyelamatkan mereka dari usaha meledakkan dunia, membuat mereka sadar bahwa umat manusia adalah satu keluarga, dan menolong mereka bersatu kembali dengan umat manusia, untuk hidup makmur dan damai. Aku mengharapkan kesatuan umat manusia, tidak dengan menawarkan paham kepercayaan baru yang akhirnya malah sering memecahbelah manusia, tapi dengan menunjukkan dan menghapus kepercayaan penuh kebencian yang terutama di dunia.
Faith Freedom International (FFI) telah berkembang menjadi suatu gerakan. FFI adalah gerakan murtadin yang bertujuan untuk (a) mengungkapkan Islam yang sebenarnya dan menunjukkan ideologi penjajahannya yang sama seperti Nazisme tapi dibungkus rapi dalam kedok agama, dan (b) untuk menolong Muslim meninggalkan Islam, menghentikan budaya benci yang menyebabkan timbulnya anggapan ?kami? (Muslim) lawan ?mereka? (non-Muslim) dan merangkul umat manusia secara damai. Murtadin baru bermunculan setiap hari dan mereka pun pada gilirannya menjadi prajurit2 terang lawan kegelapan dan jumlah mereka semakin banyak. Yang awalnya hanyalah riak sekarang telah menjadi gelombang. Dalam perang ini, pihak musuh beralih menjadi rekan dan bahkan sekutu terbaik!
Amankan Natal, Polresta Siapkan 8 Pos
*Sementara Kodim Siapkan 1 SST
JAYAPURA-Untuk mengamankan berbagai aktivitas kegiatan masyarakat dalam merayakan hari raya Natal dan menyambut tahun baru 2008, Polresta Jayapura menyiapkan 8 pos pengamanan.
Wakapolresta Jayapura, Kompol Andreas Paru SH menegaskan bahwa Polresta Jayapura siap untuk mengamankan berbagai aktivitas menyambut dan merayakan natal dan tahun baru 2008 ini dengan operasi lilin 2007.
"Kami sudah menyiapkan 8 pos pengamanan yang tersebar di 5 Polsek di jajaran Polresta Jayapura," kata Wakapolresta Andreas Paru, Minggu (23/12) kemarin.
Kedelapan pos pengamanan yang telah disiapkan Polresta Jayapura ini, antara lain berada di Depan Hotel Yasmin, di depan Kantor PLN Jayapura, di depan Sagu Indah Plasa Jayapura, di Dok II Jayapura, di depan Mega Departemen Store Abepura dan di pertigaan Koya Barat Muara Tami.
Wakapolresta Andreas Paru mengatakan, keberadaan pos - pos pengamanan polisi ini dalam rangka untuk melayani masyarakat, sehingga keluhan masyarakat dapat ditindaklanjuti dengan cepat, apalagi pos - pos polisi ini juga ditempatkan di daerah-daerah yang dinilai rawan.
Seperti keberadaan pos pengamanan di pertigaan Koya Barat, Muara Tami, pada hari libur banyak masyarakat yang pergi ke daerah tersebut untuk mengisi liburan dengan mendatangi tempat-tempat pemancingan atau rekreasi di Koya Barat tersebut.
Lebih lanjut, keberadaan pos pengamanan polisi ini, sehingga jika ada kejadian atau kegiatan masyarakat bisa diketahui dan dilakukan penanganannya dengan cepat, apalagi setiap pos - pos pengamanan ini paling tidak sedikitnya ditempatkan sebanyak 6 personel Polri.
Wakapolresta Andreas Paru mengungkapkan keberadaan pos - pos pengamanan ini, pada intinya untuk menciptakan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat dalam melakukan berbagai aktivitas menyambut dan merayakan Natal dan tahun baru 2008 nanti.
Selain itu, pihaknya juga akan menempatkan personel di tempat-tempat ibadah, gereja, satu hari menjelang Natal dan hari Natal kedua untuk melakukan pengamanan. "Aktivitas masyarakat ini dalam menyambut Natal tahun ini, harus mendapatkan perhatian dalam rangka pengamanan kelancaran aktivitas kegiatan tersebut," tukasnya. Sementara itu, untuk membackup Polresta Jayapura dalam mengamankan perayaan Natal dan tahun baru 2008, Kodim 1701/Jayapura menyiapkan pasukan sebanyak 1 SST (satuan setingkat pleton).
Komandan Kodim 1701/Jayapura, Letkol Kavaleri Abdul Harris Napoleon menegaskan bahwa pihaknya siap untuk memback up jajaran kepolisian Polresta Jayapura dengan menyiapkan pasukan sebanyak 1 SST untuk pengamanan natal dan tahun baru 2008.
"Kami sudah siap stanby-kan sebanyak 1 SST pasukan. Pokoknya, kami sudah siap membantu Polri untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat dalam merayakan hari raya Natal dan tahun baru 2008," tegas Dandim Abdul Haris Napoleon kepada Cenderawasih Pos yang ditemui di sela-sela acara pelepasan Satgas Yonif 521/Dadaha Yudha yang telah purna tugas di Pelabuhan Porasko, Minggu (23/12) kemarin.
Kesiapan pasukan untuk membackup jajaran kepolisian Polresta Jayapura ini, kata Dandim, akan ditempatkan di Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Keerom, dalam operasi gabungan yang dilaksanakan menghadapi Natal dan tahun baru 2008 ini.
Dandim mengatakan bahwa kesiapan Kodim 1701/Jayapura dalam membantu polisi terutama terhadap berbagai macam ancaman dan gangguan dalam pelaksanaan perayaan Natal dan tahun baru 2008 ini.
Apalagi, Dandim berharap bahwa kedua momen penting di penghujung akhir tahun ini, dapat berjalan dengan aman, nyaman, lancar dan tertib, tanpa ada gangguan yang membuat masyarakat resah, sehingga Jayapura dan sekitarnya menjadi wilayah teladan bagi daerah-daerah yang lain di Papua khususnya dan Indonesia pada umumnya, dalam kerukunan antar umat beragama.
Ia juga meminta kepada masyarakat agar tetap menjaga situasi keamanan di lingkungannya masing-masing, khususnya dan situasi lain seperti dijalan raya sehingga suasana natal dan tahun baru tidak ternodai dengan hal-hal yang mengganggu ketertiban umum. Dandim juga meminta kepada masyarakat untuk tidak membunyikan petasan maupun meriam bambu, karena dapat mengganggu ketentraman masyarakat dalam beribadah, ia menyarankan agar uangnya disumbangkan kepada masyarakat yang tidak mampu sehingga dapat bersuka cita merayakan natal.
"Kami juga menghimbau kepada masyarakat agar tidak mengkonsumsi minuman keras yang dapat memicu berbagai permasalahan sehingga tidak merusak makna natal. Jadikanlah natal membawa suka cita bagi seluruh umat, sehingga keamanan, kenyamanan dan kedamaian selalu terjadi di Tanah Papua, khususnya di Jayapura dan sekitarnya," imbuhnya. (bat)
Rambat-Cenderawasih Pos
Salah satu pos pengamanan yang didirikan Polresta Jayapura di depan Sagu Indah Plasa Jayapura, dalam rangka menciptakan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat dalam merayakan Natal dan tahun baru 2008.
Memperkaya Diri Boleh,Asalkan tak Gunakan Uang Rakyat
Boleh-boleh saja ingin kaya, tetapi janganlah memperkaya diri dengan menjadi seorang kader PDI-P. Apalagi yang duduk di legislatif dan eksekutif dengan mengambil dari dana proyek untuk kesejahteraan masyarakat. Pernyataan dari seorang mantan Bupati Badung Cok Ratmadi sebagai Ketua DPD PDI-P dirasa wajar sebagai warning, jangan sampai kadernya memperkaya diri sendiri dengan cara menggerogoti uang rakyat. Apalagi PDI-P sebagai partai wong cilik. Demikian opini masyarakat dalam acara Warung Global yang disiarkan Radio Global FM Bali, Sabtu (22/12). Berikut rangkumannya.
=========
JUJUR di Sanglah menjelaskan kalau kader tidak boleh memperkaya diri, lantas kalau ketua PDI-P apakah boleh? Kalau sampai seorang ketua DPD menyampaikan imbauan seperti itu, ada apa di belakang itu? Karenanya kepada Ketua DPD PDI-P Bali supaya mengecek kader yang duduk di legislatif maupun menjabat di eksekutif agar menunjukkan kekayaannya apakah setelah menjabat sedang-sedang saja atau bertambah.
Sumawa di Bangli yang kebetulan hadir dalam Rakerdasus PDI-P Bangli berpendapat, kalau yang dibicarakan adalah PDI-P Bangli, dia mengklarifikasi bahwa Ratmadi tidak memberikan pernyataan seperti itu. Terkait Rakercabsus merupakan rutinitas partai yang intinya untuk konsolidasi partai sesama kader, dan memantapkan program-program kerja lima tahun ke depan yang intinya menyejahterakan rakyat. Mengenai wacana Rp 15 M, sudah dipertanyakan kepada Ketua DPRD, dan dijelaskan bahwa Rp 15 M merupakan dana reses untuk menyerap aspirasi dan masukan dari masyarakat. Dari 25 anggota DPRD Bangli semua membawa masukan dan setelah disimpulkan dana yang terserap Rp 15 M, fakta-fakta ini yang ada di lapangan.
Biasa di Denpasar mengakui bahwa kita memang harus memperkaya diri sesuai dengan pekerjaan yang halal, tidak menggerogoti orang lain apalagi uang negara. Sementara Sangging di Kemenuh mengatakan bahwa ini adalah imbauan yang wajar dari seorang ketua, apabila itu benar, pengelolaan dana per kabupaten dikelola secara terbuka. Apa yang diwacanakan di Kabupaten Bangli, PDI-P saat ini adalah partai yang terbuka untuk rakyat kecil yang kaya juga boleh. Pernyataan Cok Ratmadi untuk memberikan warning terhadap kader-kadernya di tingkat bawah.
Di Gianyar, misalnya, selalu dikontrol untuk nantinya menjadi pendidikan yang bagus di tingkat bawah atau konstituen. Mengenai masalah dana, pemerintah sudah mengontrol, apakah benar atau tidak, sudah ada sistem yang mengaturnya.
Jodog di Denpasar menyatakan apa yang dikatakan Cok Rat adalah wajar bagi seorang pemimpin, agar para kader tahu diri bahwa untuk duduk di PDI-P perlu perjuangan. Sementara masalah di Bangli dipertanyakan siapa yang memegang uang dalam hal ini? Arya di Kuta bertanya nilai Rp 15 M, biasanya dapat berapa persen? Memang begitulah situasinya. Mana yang tidak kaya?
Victor di Canggu menggarisbawahi mengenai memperkaya diri memang sudah terjadi sejak awal ode baru sampai sekarang dan sampai seterusnya jika tidak ada perubahan, karena pengawasan rakyat sangat minim terhadap bapak-bapak yang ada di atas. Sehingga, mereka bisa berbuat sesukanya selingkuh antara eksekutif dan legislatif.
Yoga di Bangli mengatakan hal itu adalah hukum sebab akibat, kalau kita lihat setiap kader yang jadi anggota DPRD I, II semuanya harus berusaha bagaimana memperbesar partai, dan diwajibkan menyetor hasil keringatnya di DPRD, yakni sebagian penghasilannya. Mereka pun berpikir bagaimana caranya memperbesar partai dengan berbagai macam cara. Sehingga, setiap proyek dia pun menjadi fasilitatornya dengan sekian persen, dan indikasinya sudah ada.
Di Bangli untuk mendapatkan proyek di tahun 2008, satu CV harus menyetor dana Rp 20 juta, entah siapa yang menggunakan sana itu kita tidak tahu, yang jelas di legislatif ada kader PDI-P. Kalau sudah demikian siapa yang salah, kebijakan partai, orang yang duduk di partai, atau pemerintah? Karena modelnya kalau tidak ada uang pelicin maka tidak dapat proyek. Kalau memang berbuat dan berpikir untuk kesejahteraan rakyat, semestinya hal seperti itu tidak ada.
Arta Jaya Negara di Jembarna mengatakan partai tidak salah, hanya simbol dan nama biar pun partai ditulis tinta emas. Karenanya ke depan anggota legislatif cukup di tingkat satu saja, minimal dua orang masing-masing partai di masing-masing daerah. *
Refleksi: Orang mau berdoa dan merayakan hari besar agama harus dijaga jangan sampai ada yang taruh bom, melempar granat atau pengunjung gereja ditembak mampus. Macam-macam saja di NKRI. Hal yang menarik ialah agaknya dari istana negara Merdeka hingga kini belum ada suara keras dan katagoris menentang teroris pelempar bom dan granat. Apakah ini karena saya telah menjadi tuli atau juga NKRI mempunyai politik demikian yang tidak tertulis. Tetapi bagaimana pun semoga kaum agama apapun dapat mereyakan hari besar masing-masing dalam keadaan aman.
http://www.banjarma sinpost.co. id/content/ view/10506/ 180/
Besok Gereja Disterilkan
Laporan: Khairil Rahim
Minggu, 23-12-2007 | 22:50:28
BANJARMASIN, BPOST - Untuk menjaga keamanan menjelang perayaan Natal, termasuk mengantisipasi teror bom, Polda Kalimantan Selatan melakukan penyisiran gereja-gereja sebelum dilaksanakan misa malam, Senin (24/12)
Rencananya, penyisiran dilakukan mulai pukul 15.00 hingga pukul 18.00 Wita. Penyisiran dilakukan terhadap dua gereja besar di Banjarmasin yakni Eben Ezer GKE dan Gereja Katederal Keluarga Kudus.
Soal rencana penyisiran gereja itu diakui koordinator Sekretaris Kantor Parodi katederal Gereja Keluarga Kudus Albertus Bambang Utoyo.
"Penyisiran dilakukan besok mulai pukul 15.00 Wita dan diharapkan tiga jam sebelum misa, gereja sudah steril," katanya di kantornya di Jalan Lambung Mangkurat No 40 Banjarmasin. Keterangan sama dikemukakan Diakon Koster Gereja Eben Ezer GKE, Benny Yulius Moengok
Jebakan Angka Statistik
Berapa jumlah penduduk miskin yang benar dan akurat di negeri ini? Versi pemerintah melalui Badan Pusat Statistik 2007, jumlahnya 16,5 persen. Sebaliknya, versi Bank Dunia yang dikutip iklan layanan sosial Jenderal (pur) Wiranto, jumlah penduduk miskin mencapai 49,5 persen di antara total penduduk Indonesia.
Perbedaan angka atau persentase tentang penduduk miskin tersebut kini menjadi "sengketa" antara pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Jenderal (pur) Wiranto, ketua umum DPP Partai Hanura.
Persoalannya, mengapa perbedaan persentase jumlah penduduk miskin itu menjadi ajang "pertikaian" pendapat?
Pertama, angka atau data statistik sering menjebak. Angka sering tidak mencerminkan realitas yang sebenarnya. Pengurangan atau penambahan angka atau persentase sering bisa menjelma menjadi masalah politik. Terutama jika angka yang bertambah atau persentase yang menurun terkait atau dianggap sebagai hasil atau kegagalan kebijakan politik.
Angka tertentu -bertambah atau berkurang- yang dianggap terkait dengan hasil kebijakan politik bisa menjadi beban moral yang dapat mengurangi kepercayaan terhadap kinerja serta kredibilitas rezim pemerintahan.
Itu di satu pihak. Di lain pihak, hal tersebut bisa menjadi amunisi bagi lawan-lawan politik untuk menyerang pemerintah yang sedang berkuasa.
Kedua, perbedaan angka atau persentase tentang penduduk miskin yang terkait dengan hasil atau dianggap sebagai kegagalan kebijakan politik menjadi kampanye negatif bagi pemerintahan yang berkuasa.
Pada persektif inilah angka penduduk miskin sebesar 49,5 persen di antara total penduduk Indonesia yang disodorkan iklan layanan sosial Wiranto memicu sengketa pendapat.
Pemerintahan SBY-Kalla tentu tidak bisa menerima angka 49,5 persen itu. Bukan hanya karena menurut versi BPS penduduk miskin Indonesia hanya 16,5 persen. Melainkan, angka 49,5 persen tersebut tak pelak bisa ditafsirkan sebagai kegagalan pemerintahan SBY.
Apalagi, angka 49,5 persen itu bisa ditafsirkan sebagai kegagalan amat luar biasa dari mesin kebijakan politik untuk mengentas penduduk miskin dari ketidakberdayaan sosial, keterbelakangan kesejahteraan, ketidakadilan, serta ketidakmakmuran.
Apalagi, Wiranto -yang membuat iklan layanan sosial jumlah penduduk miskin 49,5 persen- diperkirakan banyak kalangan menjadi salah satu calon presiden (capres) pilpres 2009. Mantan panglima TNI itu diperkirakan menjadi salah satu penantang potensial SBY melalui Partai Hanura yang dia pimpin.
Pemerintah tak terima atas angka yang menyindir kegagalan tersebut. Sebab, iklan layanan sosial Wiranto itu bisa dipahami sebagai upaya mendiskreditkan alias tudingan kegagalan. Kampanye negatif terhadap SBY.
Tapi, angka 49,5 persen tersebut memang tendensius. Apalagi, tolok ukur tentang garis kemiskinan tidak ada yang seragam. Misalnya, BPS mengekuivalenkan dengan pendapatan per kapita sekitar Rp 187 ribu per bulan. Menurut Bank Dunia sama dengan USD 2 per hari per penduduk.
Karena itu, polemik tentang jumlah penduduk miskin tersebut mungkin mencerminkan pendapat Mahbub Ul-Haq pada 1970-an. Menurut Ul-Haq, dosa terbesar perencana pembangunan adalah manipulasi angka statistik. Berhasil atau gagal, tinggal menaikkan atau menurunkan angka statistik tentang kemakmuran
Kualitas Pertumbuhan Rendah, Kemiskinan Tetap Tinggi
Senin, 24 Desember 2007
Pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan mencapai target yang dipatok dalam APBN 2007 sebesar 6,2 persen. Pertumbuhan produk domestik bruto (PD
selama empat triwulan berturut-turut meneguhkan keyakinan itu.
Secara umum, kinerja ekonomi nasional selama tahun ini memang menunjukkan kemajuan. Namun, jika ditelaah lebih mendalam dan terperinci, gambaran yang tampil tidak sebaik tampilan "luar". Selama lima tahun terakhir, pola pertumbuhan sektoral menunjukkan kesenjangan yang cenderung melebar antara sektor perdagangan dan jasa dengan sektor produksi (industri manufaktur, pertanian secara umum, serta pertambangan) .
Sektor produksi tumbuh relatif jauh di bawah pertumbuhan PDB. Sebaliknya, sektor perdagangan dan jasa menunjukkan pertumbuhan yang selalu lebih tinggi dari PDB. Dengan pengecualian sektor pertanian yang pada triwulan III/2007 tumbuh menakjubkan (8,9 persen), seluruh unsur sektor pertambangan dan penggalian maupun industri manufaktur mengalami tekanan.
Sebetulnya, industri manufaktur sempat menunjukkan tanda-tanda kebangkitan pada paro pertama 2007. Namun memasuki triwulan III kembali menurun. Ini terutama karena tekanan gejolak harga energi (bahan bakar minyak dan listrik) serta faktor mendasar lainnya, seperti infrastruktur yang kian rusak dan ekonomi biaya tinggi.
Kemerosotan pertumbuhan industri manufaktur terjadi hampir merata. Perlu dicatat bahwa selama periode sebelum krisis, industri manufaktur tumbuh rata-rata jauh di atas PDB. Bahkan tak jarang mencapai dua digit.
Bertolak dari pola demikian, bisa disimpulkan bahwa faktor struktural membuat pertumbuhan sektoral semakin kontras. Dikhawatirkan, jika peran sektor industri manufaktur masih di bawah 30 persen PDB seperti saat ini, sementara pergerakannya cenderung mandek, itu merupakan tanda-tanda bahwa kita mengalami "deindustrialisasi" dini. Ini menandakan kualitas pertumbuhan sektoral tidak optimal sehingga sulit diharapkan memberikan sumbangan berarti bagi penurunan angka pengangguran dan kemiskinan serta perbaikan ketimpangan.
Jadi bisa dikatakan "prestasi" pertumbuhan ekonomi nasional yang selalu dibanggakan itu ternyata tidak mencapai sasaran utama, khususnya dalam penyerapan tenaga kerja. Seperti kata Direktur Eksekutif Econit Advisory Group Hendri Saparini, pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir semakin tidak berkualitas. Meski terus meningkat, pertumbuhan ekonomi tak mampu menyerap tenaga kerja secara optimal. "Ujung-ujungnya, jurang kemiskinan semakin melebar. Itu paradoks pertumbuhan ekonomi kita," kata Hendri.
Senada, ekonom Fauzi Ikhsan menilai pertumbuhan ekonomi nasional merupakan masalah lain, "Kita bisa saja memperoleh pertumbuhan ekonomi tinggi. Tapi untuk serapan tenaga kerja dan pengentasan kemiskinan, gambarannya jadi lain," katanya.
Tentu saja masalah serapan tenaga kerja sebagai imbas pertumbuhan ekonomi yang tinggi menjadi perhatian utama pemerintah. Paling tidak, itu terlihat dari judul APBN 2008 yang disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 16 Agustus 2007. "Tema pembangunan dalam rencana kerja pemerintah (RKP) tahun 2008 adalah percepatan pertumbuhan ekonomi untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran, " katanya.
Pertumbuhan ekonomi tinggi selama setahun ini terus menjadi indikator upaya penyerapan tenaga kerja. Namun beberapa penelitian malah melihat semakin memburuknya kualitas pertumbuhan ekonomi terhadap serapan tenaga kerja. Meski pertumbuhan ekonomi meningkat, penyerapan tenaga kerja justru menurun. Kualitas pertumbuhan ekonomi justru semakin parah dalam kurun lima tahun terakhir.
Pada periode 2000-2002, ketika rata-rata pertumbuhan ekonomi hanya 4 persen, elastisitas pekerja hanya 200.000 orang. Pola yang aneh kembali terjadi tahun 2003, saat pertumbuhan mencapai 4,1 persen. Kala itu, pertumbuhan tenaga kerja justru turun 0,9 persen. Dengan itu, angka elastisitas pekerja mencapai 210.000 orang setiap satu persen pertumbuhan.
Saat ini, kualitas pertumbuhan ekonomi mencapai titik terendah. Penyerapan tenaga kerja pun hanya mencapai 100.000 orang untuk setiap persen pertumbuhan ekonomi.
Menurut data yang diterbitkan Badan Pusat Statitik (BPS), jumlah pengangguran di Tanah Air pada awal 2007 mencapai 10,55 juta orang atau menurun dibanding awal 2006 yang mencapai sekitar 11 juta orang. Namun data tersebut banyak menuai kontroversi karena terkait indikator penilaian terhadap sesorang yang dikategorikan sebagai pengangguran terbuka.
Tapi, paling tidak, 1 juta hingga 2 juta angkatan kerja baru terus bertambah setiap tahun. Ini termasuk tenaga kerja yang menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK) karena berbagai faktor. Untuk itu, diperlukan pertumbuhan ekonomi yang memiliki dampak kualitatif berarti terhadap penyerapan tenaga kerja.
Dalam hal itu, pertumbuhan ekonomi harus didorong oleh sektor riil (produksi), yakni industri manufaktur, pertanian, pertambangan, dan penggalian. Untuk itu, peningkatan realisasi investasi merupakan keharusan sehingga banyak tenaga kerja terserap.
Tapi kalau dilihat berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), nilai realisasi investasi tahun 2007 (Januari-15 September) melonjak 169,02 persen menjadi Rp 125,94 triliun atau setara 13,99 miliar dolar AS. Sementara realisasi investasi selama Januari-September 2006 Rp 74,51 triliun atau 8,28 miliar dolar AS.
Lonjakan investasi di tahun ini, menurut Kepala BKPM M Lutfi, merupakan capaian tertinggi sejak 1967, saat pertama kali UU Penanaman Modal diberlakukan. Dia menyebutkan, selama periode Januari-15 September 2007, kegiatan investasi mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 247.712 orang. Namun data tersebut juga banyak diragukan. Apalagi setelah terungkap bahwa sejumlah laporan realisasi investasi diduga kuat "bodong". Dalam hal ini, realisasi investasi yang diungkap BKPM berdasarkan laporan belum tentu sesuai dengan kenyatannya di lapangan.
Keraguan itu diungkapkan anggota Komisi XI DPR Emir Moeis. Menurut dia, pertumbuhan ekonomi tidak berkualitas. Ini ditandai dengan koreksi kebijakan pemerintah mengenai target pendapatan pajak dan penyerapan anggaran. "Kalau memang pertumbuhan sebesar enam persen, tetapi penerimaan pajak tidak tercapai, berarti kualitas pertumbuhan tidak baik," kata Ketua Panitia Anggaran DPR itu.
Selain itu, tidak berkualitasnya pertumbuhan ekonomi juga bisa dilihat dari angka kemiskinan dan pengangguran yang tetap tinggi. "Pengangguran tidak turun, sementara lapangan pekerjaan tidak bertambah. Ini juga menandakan kualitas pertumbuhan tidak bagus," tutur Emir.
Sementara itu, pengamat kebijakan publik Ichsanuddin Noorsy menjelaskan, target pertumbuhan ekonomi yang dicanangkan pemerintah tidak akan maksimal membangkitkan sektor riil, termasuk mengurangi pengangguran dan kemiskinan. "Apalagi sektor keuangan semakin didominasi dana panas (hot money) dalam investasi portofolio," katanya.
Menurut Ichsanuddin, selama ini yang diperhatikan pemerintah hanya stabilisasi ekonomi makro, sementara pertumbuhan ekonomi yang diwarnai ketimpangan antara sektor riil dan sektor keuangan. Itu jelas mengindikasikan keroposnya perekonomian. "Konsidi ekonomi kita sudah mengarah ke lampu kuning, karena sektor riil tidak jalan. Sementara harga bahan pokok terus meningkat dan kian tidak terjangkau rakyat," ujarnya.
Selama ini, kualitas pertumbuhan juga terancam jika ditopang oleh komponen-komponen penggunaan (expenditure) yang kurang menjamin kesinambungan pertumbuhan. Selama lima tahun terakhir, penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi adalah konsumsi privat. Bahkan dalam lima triwulan terakhir, konsumsi privat tumbuh semakin kencang. (Tim Ekbis
_
__._,_.___
Juve Tundukkan Siena, La Viola Pesta Gol
Turin - Fiorentina tampil gemilang di pekan ke-17 Liga Italia. Menjamu Cagliari, La Viola berpesta gol setelah menang 5-1. Sementara Juventus menjaga persaingan di papan atas setelah menundukkan Siena.
Meski menang besar posisi Fiorentina di klasemen tidak berubah. Dengan poin 28, skuad besutan Cesare Prandelli masih tertahan di posisi lima, tertinggal satu angka dari Udinese di urutan empat yang pada laga lain bermain imbang 2-2 dengan Empoli.
Dengan poin 10 dan agregat -10, Cagliari kini menjadi juru kunci klasemen. Mereka "mengambil alih" tempat Reggina yang pada laga lain sukses menundukkan Catania 3-1.
Meski akhirnya meraih kemenangan besar namun Fiorentina sempat dipaksa berjuang keras sebelum meraih kemenangan di Artemio Franchi, Minggu (23/12/2007). Tuan rumah membuka keunggulan saat laga baru berjalan tiga menit melalui Riccardo Montolivo, namun itu tak bertahan lama karena tim tamu mampu menyamakan kedudukan melalui Michele Fini di menit enam.
Fiorentina harus menunggu hingga menit 42 untuk bisa kembali unggul melalui Adrian Muttu. Namun setelah itu dominasi tuan rumah makin menjadi-jadi, bahkan sebelum turun minum mereka sudah unggul 3-1 setelah Muttu kembali menjebol jala Cagliari melalui eksekusi penalti.
Baru dua menit babak kedua berjalan, jala tim tamu kembali terkoyak. Kali ini Mario Alberto Santana yang menjadi goal scoarer, gelandang Argentina itu jugalah yang menjadi penutup pesta Fiorentina dengan gol kedua yang dilesakkannya di menit 79.
Dari Stadio Olimpico Grande Torino, Juventus menjaga persaingan dengan AS Roma dan Inter Milan di papan atas. Menjamu Siena, Bianconerri merengkuh kemenangan kesepuluhnya musim ini dengan skor 2-0.
Juventus sebenranya berpeluang meraih kemenangan lebih besar, namun beberapa peluang matang yang berhasil dikreasikan tak bisa dimaksimalkan menjadi gol. Salah satunya melalui Hasan Salihamidzic saat tandukannya mampu diselamatkan Alex Manninger dengan ujung jari, sementara David Trezeguet juga menyosor bola tendangan sudut yang melintas di hadapannya.
Penantian Juve baru berakhir di menit 32. Bola hasil tendangan sudut sempat membentur beberapa pemain sebelum jatuh ke Trezeguet yang langsung melepaskan umpan pada Pavel Nedved, crossing pemain Republik Ceko itu ke tiang jauh mampu dituntaskan menjadi gol oleh Salihamidzic dari jarak dekat.
Gol kedua Juve datang dari aksi individu Trezeguet. Membelokkan bola yang diumpan Tiago dengan tumitnya, sepakan kaki kanan striker Prancis itu dari luar kotak penalti mengubah skor menjadi 2-0. Inilah gol ke-13 Trez yang membuatnya makin perkasa di puncak daftar pencetak gol.
Dengan poin 35, Juve masih terpaut delapan angka dari Inter yang pada pertandingan lain menundukkan AC Milan dengan 2-1. Sementara Siena turun dua strip ke posisi 18, digeser Livorno dan Empoli.
Susunan Pemain
Juventus: Buffon, Salihamidzic (Grygera 68), Legrottaglie, Chiellini, Molinaro, Nocerino, Tiago (Almiron 73), Zanetti, Nedved (Palladino 79), Del Piero, Trezeguet
Siena: Manninger, Bertotto, Portanova, Loria, De Ceglie, Codrea, Vergassola, Galloppa (Forestieri 78), Locatelli (Rossi 66), Frick, Maccarone (Corvia 64)
Fiorentina: Lupatelli, Jorgensen (Dainelli 46), Ujfalusi, Gamberini, Pasqual, Kuzmanovic, Liverani, Montolivo (Pazienza 69), Santana, Vieri, Mutu (Osvaldo 81)
Cagliari: Marruocco, Ferri, Canini, Bianco, Del Grosso, Fini, Conti (Cotza 82), Parola, Mancosu (D'Agostino 61), Foggia (Acquafresca 46), Larrivey