
Tahun 2007 sebentar lagi akan berakhir. Para Manajer Keuangan di setiap perusahaan pasti sudah menyelesaikan rancangan budget yang akan dipakai tahun depan – dan tentu dalam rancangan itu, termasuk formula kenaikan gaji karyawan. Artinya, dalam hari-hari ini akan segera muncul pengumuman resmi – bukan lagi sekedar rumor ! — mengenai berapa persen kenaikan gaji yang akan Anda peroleh dan – aha – mungkin juga jatah bonus tahunan.
Satu komponen pasti dalam penentuan kenaikan gaji adalah laju inflasi – yang tahun 2007 ini diprediksi akan berada pada angka 6,5 %. Itu artinya gaji Anda pasti akan naik sebesar itu – plus faktor penambah. Bagi Anda yang bekerja di perusahaan yang “pelit”, ya mungkin faktor penambahnya cuma 3 % (duh, nasib, nasib). Namun bagi yang beruntung bekerja di perusahaan yang “peduli” dengan kesejahteraan karyawannya (artinya ndak cuma lips service doang), faktor penambah itu bisa sebesar 10 %. Ditambah kenaikan inflasi yang 6,5% total kenaikan gaji Anda bisa mencapai 16,5 %. Kalau gaji Anda sekarang Rp 10 juta/bulan, berarti mulai tahun depan, akan ada tambahan pemasukan sebesar Rp 1,650,000 (lumayan….buat nambah uang pendidikan bagi si kecil).
Hanya soalnya begini : tak banyak perusahaan yang memiliki kriteria jelas untuk menentukan persentase kenaikan gaji bagi setiap karyawannya. Akibatnya, sering terjadi kenaikan gaji di sama-ratakan untuk semua karyawan. Bagi karyawan yang kinerjanya pas-pasan, kejadian ini barangkali merupakan anugerah. Namun bagi karyawan yang telah mendedikasikan prestasi terbaiknya, fenomena diatas tentu bisa menjadi pemincu demotivasi. Ngapain saya memberikan yang terbaik jika kenaikan gaji yang saya peroleh disamakan dengan semua orang, begitu mungkin bisiknya dalam hatinya yang tercabik. Disini ada sejenis ketidakadilan yang tersirat sebab tidak ada pembeda yang jelas (diferensiasi) antara top performers dengan poor performers.
Sebenarnya dilema diatas bisa diatasi dengan baik jika setiap perusahaan memiliki sistem evaluasi karyawan yang solid dan terstruktur dengan baik. Dalam konteks ini, sistem evaluasi karyawan yang optimal setidaknya mesti memiliki dua komponen kunci : yakni komponen kompetensi untuk mengukur aspek kecakapan karyawan dan komponen hasil kinerja (performance) untuk mengukur ouput nyata yang dihasilkan karyawan.
Secara spesifik komponen kompetensi dirancang untuk mengevaluasi aspek kecakapan seorang karyawan, baik dalam aspek kecakapan manajerial (misalnya : kecakapan teamwork, communication skills, dan interpersonal relation) ataupun kecapakan teknis yang berkaitan dengan profesi pekerjaannya (semisal kemampuan selling skills bagi seorang salesman, atau marketing management bagi manajer pemasaran).
Komponen kompetensi ini mesti dipetakan dengan baik sesuai dengan masing-masing posisi jabatan – dan kemudian juga mesti dijabarkan dalam indikator perilaku yang dapat diobservasi dan dievaluasi. Pemetaan semacam ini diperlukan sebab secara periodik, setiap tahun atau setiap semester, level kompetensi setiap karyawan harus dievaluasi secara komprehensif. Dan proses evaluasi ini hanya akan bisa berjalan dengan mulus jika setiap jenis kompetensi telah dijabarkan dalam serangkaian kriteria yang jelas. Tanpa ini, proses penilaian biasanya akan tergelincir pada “feeling” semata, dan terpelanting dalam kabut subyektifitas sang atasan yang acap tak jelas kriterianya.
Selain komponen kompetensi, sebaiknya sistem evaluasi karyawan dilengkapi dengan komponen berikutnya yakni : komponen hasil kinerja (performance). Komponen ini intinya bertujuan untuk memetakan hasil kerja karyawan dalam serangkaian key performance indicators (KPI) yang jelas dan bisa diukur. Contoh KPI bagi orang pemasaran misalnya adalah indeks kepuasan pelanggan, market share ataupun volume penjualan per area. Contoh KPI bagi orang HR misalnya adalah jumlah good-employee turn-over, jumlah keluhan karyawan terhadap kecepatan pelayanan HR, ataupun jumlah jam pelatihan per karyawan per tahun.
Setelah serangkaian KPI dapat dirumuskan dengan baik, maka selanjutnya ditetapkan target yang hendak dicapai untuk setiap KPI yang telah disusun. Dengan model ini maka proses evaluasi karyawan tinggal membandingkan target terukur yang telah ditetapkan dengan hasil aktual yang dicapai. Dalam proses ini pula, dimensi obyektivitas akan menjadi lebih mekar sebab semuanya telah dipetakan dalam indikator yang jelas dan terukur.
Demikianlah kombinasi dua komponen kunci – yakni komponen kompetensi dan komponen performance – yang mestinya dijadikan sandaran untuk proses evaluasi karyawan. Berapa bobot dari setiap komponen itu dalam proses penilaian akhir? Tak ada jawaban yang baku disini. Untuk posisi-posisi yang lebih jelas ukuran hasilnya seperti bagian sales dan pemasaran, maka bobot yang lebih besar (misal 60%) mestinya dialokasikan untuk komponen hasil kinerja (performance). Sebaliknya untuk posisi-posisi administratif – semacam support function – maka bobot untuk komponen kompetensi bisa lebih besar (misal 60 % untuk komponen kompetensi dan 40 % untuk komponen performance).
Gabungan hasil evaluasi untuk kedua komponen diatas kemudian mesti dijadikan dasar untuk menntukan besaran kenaikan gaji setiap karyawan. Dengan cara ini maka persentase kenaikan gaji karyawan bisa berbeda-beda tergantung dari hasil evaluasi menyeluruh atas aspek kompetensi dan aspek kinerja yang bersangkutan. Dan dengan cara ini pula, proses penentuan kenaikan gaji bisa dibangun dengan lebih fair dan transparan.
So, omong-omong, berapa persen kenaikan gaji Anda di tahun 2008 ini?
10 KEMAMPUAN UNTUK SUKSES MENJALANKAN BISNIS DENGAN INTEGRITAS
"Strategi bukan hanya perkara menjadi yang baik pada apa yang Anda lakukan-Strategi adalah perkara menjadi berbeda dalam hal apa pun yang Anda lakukan.
~Michael Porter
Professor di Harvard Business School
Hampir sebagian besar orang lebih senang menjadi pewirausaha. Menjadi wirausahawan atau pebisnis dianggap cara yang paling tepat dan cepat untuk mencapai kebebasan waktu dan keuangan. Realitasnya memang sumber penghasilan orang-orang terkaya di dunia 74 persen berasal dari berbisnis.
Tetapi berdasarkan statistik, kurang dari 20 persen pebisnis berhasil melewati tahun ke-5. Sebuah pepatah bijak mengatakan, "Bukan soal menang atau kalah, melainkan bagaimana Anda memainkan bisnisnya." Artinya memang tak mudah menjalankan sebuah bisnis, karena tak hanya butuh modal keuangan maupun mental, melainkan kemampuan agar dapat menjalankan bisnis dengan baik hingga mencapai sukses dan berintegritas. Berikut ini beberapa kemampuan yang harus dimiliki untuk menjalankannya.
Kemampuan pertama yang harus dimiliki untuk menjalankan sebuah bisnis adalah bertanggung jawab untuk menyajikan produk atau jasa yang berkualitas dan memberi manfaat yang optimal terhadap konsumen. Hal itu akan melahirkan situasi di mana pebisnis dan konsumen sama-sama mendapatkan apa yang diinginkan dan saling diuntungkan. Sehingga untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar dan bisnis bertahan hingga berjangka panjang, maka seorang pebisnis juga harus bertanggung jawab untuk menyajikan produk dan pelayanan yang lebih baik pula.Seperti Michael Porter pernah berkata,"Strategi menuntut pilihan. Anda harus memutuskan nilai apa yang hendak Anda sajikan, dan kepada siapa nilai itu hendak Anda sajikan. Anda tidak dapat menyajikan segala nilai kepada semua orang."
Kemampuan yang kedua adalah kemampuan membaca peluang maupun risiko yang terhitung maupun tidak. Kemampuan membaca peluang merupakan kelebihan alamiah yang dimiliki oleh seorang pebisnis sejati. Kemampuan tersebut tentu saja tidak dimiliki oleh seorang profesor sekalipun yang hanya menguasai ilmu ekonomi secara teori.
Kemampuan ketiga adalah kemampuan bersikap jujur dan menjadi diri sendiri, karena setiap pebisnis merupakan pesan dari bisnis yang ia jalankan. Kejujuran menjadikan konsumen maupun investor yang menjadi bagian penting dari bisnis merasa aman dan nyaman serta menikmati aktivitas bisnis dengan pebisnis tersebut. Hal itu akan menumbuhkan kesetiaan, kepercayaan, dan hubungan yang erat dengan mereka. Dengan kata lain, reputasi kejujuran yang dimiliki oleh seorang pebisnis dalam menyajikan produk maupun jasa merupakan faktor penentu apakah nantinya ia akan berhasil mengembangkan bisnisnya atau tidak.
Selanjutnya, seorang pebisnis yang berhasil pasti mempunyai keberanian mengambil keputusan atau tindakan-tindakan bisnis walaupun hanya mendapatkan beberapa informasi dan bukan gambaran secara terperinci. Memang setiap keputusan atau tindakan-tindakan bisnis selalu mengandung resiko, misalnya inovasi produk atau jasa yang diluncurkan diterima atau ditolak oleh pasar. Jika bisnis cukup menguntungkan, tentu mengandung resiko yang lebih besar pula. No pain, no gain. Sebuah bisnis hanya akan berjalan di tempat atau bahkan hancur tanpa keberanian mengambil keputusan.
Kemampuan lain yang harus dimiliki adalah menjadikan bisnis yang ditekuni sebagai sesuatu yang menyenangkan. Kehidupan kita sudah penuh dengan berbagai hal yang serius. Sehingga manusia cenderung lebih terkesan pada segala sesuatu yang bersifat menyenangkan dan menarik.
Berikut contoh-contoh hal menyenangkan yang dapat diaplikasikan kedalam bisnis; memberikan potongan harga atau ekstra produk khusus jika berhasil mengumpulkan poin tertentu. Contoh lainnya adalah berupa kejutan yang menarik dalam periode waktu tertentu. Mengirimkan surat tanda terima kasih atau ucapan selamat juga merupakan hal yang menyenangkan sekaligus menghargai orang lain. Konsumen yang menerima kejutan pasti merasa senang. Itu merupakan ciri khas yang unik. Jika seorang pebisnis mampu melakukannya, dapat dipastikan bisnisnya akan berkembang pesat. Karena apa yang kita berikan itulah nantinya yang akan kita terima.
Seorang pebisnis juga harus mempunyai kemampuan memanajemen, setidaknya kemampuan manajemen dasar. Berbisnis harus dilandasi oleh manajemen bisnis dan keuangan yang baik. Jika manajemen yang ia terapkan cukup baik, tertib dan disiplin, maka segala sesuatu ataupun sistem yang berkaitan dengan konsumen, kolega, maupun rekanan akan berjalan dengan baik pula. Sehingga, semua elemen yang terkait merasa puas dan senang berbisnis dengannya.
Selain memiliki kemampuan manajemen bisnis dan keuangan, seorang pebisnis haruslah mempunyai kemampuan memanajemen waktu, khususnya di awal bisnis dijalankan yang akan menguras banyak waktu. Selain fokus kepada pekerjaan, seorang pebisnis jangan lalai memberikan waktu dan perhatian terhadap keluarga. Kurangnya perhatian terhadap keluarga dapat memicu konflik dan berikutnya mempengaruhi kondisi emosional dan kebijakan bisnis yang diambil.
Untuk menjadi seorang pebisnis yang berhasil harus mempunyai kemampuan menguasai ilmu pengetahuan dan informasi tentang segala sesuatu yang berkenaan dengan bisnisnya. Ilmu pengetahuan dan informasi memungkinkan seorang pebisnis mampu melakukan dan menikmati kreativitas, contohnya: menciptakan inovasi produk baru, atau melakukan langkah-langkah guna mengantisipasi tantangan, tehnik produksi yang bertujuan untuk meningkatkan omzet. Ilmu pengetahuan dan informasi pada akhirnya sangat membantu pebisnis untuk membaca peluang yang menguntungkan, mengantisipasi kegagalan dan menciptakan daya tarik khusus dan unik bagi bisnisnya.
Seorang pebisnis juga harus mampu menyampaikan pesan tentang keunggulan produk melalui iklan atau promosi. Iklan atau promosi tentang produk maupun jasa yang baik setidaknya haruslah jelas, mudah dimengerti dan mengandung unsur humor. Bila perlu seorang pebisnis menyediakan kontak pelayanan, sehingga setiap orang yang terlibat dengan bisnisnya dapat berkomunikasi dengan jelas. Langkah tersebut sangat memudahkan usaha pebisnis memancing banyak orang untuk menggunakan jasa atau produk yang dipasarkan.
Jika pebisnis tersebut termasuk seorang pengusaha yang mempunyai karyawan cukup banyak, maka ia harus mampu menjadi pemimpin sebuah tim. Artinya, ia harus mampu menciptakan budaya yang baik di lingkungan pekerjanya sehingga produk dan layanan yang dihasilkan berkualitas spesial. Contoh budaya positif diantaranya adalah tersenyum saat melayani, produk berkualitas, garansi, dan lain sebagainya.
Semua kemampuan tersebut tentu tidak serta merta dimiliki oleh seorang pebisnis. Mungkin ada orang yang mempunyai bakat alamiah dan memiliki beberapa di antara beberapa kemampuan di atas. Tetapi tak menutup kemungkinan setiap orang diantara kita menguasai seluruh kemampuan tersebut, memiliki bisnis yang berintegritas dan mencapai puncak kejayaan jika kita mencoba menerapkannya sedikit demi sedikit. Selamat berbisnis.[aho]
* Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku bestseller.
Kram Misterius Woodgate
Middlesbrough - Sepanjang karirnya Jonathan Woodgate kerap dilanda cedera. Namun kali ini bek Middlesbrough itu dihinggapi kram yang misterius karena belum diketahui benar apa penyebabnya.
Menghadapi West Ham akhir pekan lalu, Woodgate harus ditarik keluar di menit 63 dan digantikan Robert Huth. Bek 27 tahun itu diduga mengalami kram dengan kakinya, meski bukan kram biasa.
"Problem kramnya aneh. Dia kesakitan. Saat ini kami sedang melakukan serangkaian tes untuk mengetahui penyebab cederanya. Kami baru mulai bekerja bersama untuk mengetahui akar masalahnya," jelas manajer Boro, Gareth Southgate dilansir Goal, Rabu (26/12/2007).
Sepanjang karirnya bersama Newcastle United dan Real Madrid, pemain yang memulai karir profesionalnya bersama Leeds United itu relatif tak pernah absen mengalami cedera. Kali ini meski bukan menderita cedera serius, melainkan hanya kram, problem itu malah masih misterius.
"Ini tidak terjadi kepada Woody ketika latihan, hanya situasi di pertandingan. Untungnya ini hanya kram, bukan cedera," tandas Southgate.
Middlesbrough akan melawat ke kandang Birmingham City dalam laga "Boxing Day", kemungkinan dengan Huth memulai pertandingan untuk mengisi posisi Woodgate. (krs/a2s)









No Comments/Trackbacks for this post yet...