nbfg6

Sehari setelah Idul Adha, se-dikitnya 50 orang tewas da-lam aksi bom bunuh diri di se-buah masjid di Pakistan. Sa-saran pengeboman itu diduga untuk menghabisi nyawa Menteri Dalam Negeri Pakistan, Aftab Sherpao.

Saat itu warga tengah melakukan shalat Jumat di masjid yang lokasinya tak jauh dari kediaman Sherpao di Kota Charshadda, barat laut Pakistan. Sherpao yang merupakan kepercayaan Presiden Pervez Musharraf dilaporkan tidak terluka dalam serangan itu.

“Sedikitnya 50 orang terbunuh dan puluhan lainnya terluka akibat serangan itu. Saya khawatir korban tewas bertambah,” kata kepala kepo-lisian distrik, Feroz Shah seperti diberitakan AFP, Jumat (21/12) yang turut dilansir de-tik.com.

Serangan yang diduga dilakukan oleh kelompok militan itu tergolong dahsyat setelah serangan Oktober 2007 lalu. Saat itu sepasang pengebom bunuh diri menewaskan 139 orang dalam pawai menyambut kedatangan pemimpin oposisi Benazir Bhutto. “Ledakan dahsyat pada Jumat membuyarkan para warga yang shalat. Bagian dalam masjid dipenuhi ceceran darah dan serpihan daging manusia,” kata seorang fotografer AFP.

“Pengebom berada di antara jamaah yang sedang shalat. Dia berdiri di baris kedua, di belakang mantan menteri dalam negeri,” kata kepala polisi propinsi, Muhammad Sharif Virk. Tidak diketahui bagaimana ledakan itu luput mengenai Sherpao, yang sebagai menteri dalam negeri juga mengomandoi angkatan perang. Namun petugas menyebut salah seorang anak lelaki Sherpao terluka dan di-bawa ke rumah sakit.

“Secara alami, sasaran mereka adalah Aftab Sherpao,” kata juru bicara Sherpao, Salim Shah. Serangan bunuh diri ini adalah kali keempat yang terjadi di Pakistan, setelah Jumat pekan lalu. Saat itu, Presiden Musharraf menetapkan darurat militer yang kontroversial. (dtc)

Luar Jawa Tumbuh Lebih Pesat

Akibat Melonjaknya Harga Komoditas Utama Pertanian
JAKARTA - Pulau Jawa yang selama ini dianggap sebagai kiblat ekonomi mulai tersaingi. Beberapa daerah di luar Jawa kini berpotensi menjadi kekuatan ekonomi baru. Menguatnya pertumbuhan ekonomi di luar Jawa itu terjadi setelah booming komoditas utama pertanian di pasar dunia.

Menurut pengamat ekonomi Faisal Basri, akibat meroketnya harga komoditas primer itu, tahun ini telah terjadi pembalikan kesejahteraan masyarakat di luar Jawa. "Sedangkan masyarakat di Pulau Jawa justru cenderung tertekan akibat lambatnya laju pertumbuhan industri. Buktinya, banyak buruh pabrik di-PHK," ujar Faisal tentang evaluasi ekonomi akhir tahun kepada Jawa Pos kemarin.

Menurut dia, stigma hidup di Jawa lebih makmur ketimbang bertransmigrasi ke luar Pulau Jawa tidak lagi terbukti. Perbedaan kondisi itu lambat laun akan menyebabkan ketimpangan bahwa luar Jawa lebih makmur (pendapatan lebih tinggi) daripada Jawa.

Faisal mengatakan, ketimpangan kemakmuran Jawa dengan luar Jawa itu bisa dilihat dari perbedaan upah riil buruh tani, yang merupakan mayoritas mata pencaharian masyarakat di Indonesia (43 persen dari total pekerja nasional).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa upah nominal buruh tani di Jawa Rp 13.373 per hari, sedangkan upah nominal buruh tani di luar Jawa Rp 18.771 per hari. "Di Jawa upah buruh tani cenderung turun, tapi di luar Jawa justru cenderung naik," terangnya.

Di sisi lain, berdasar data BPS, nilai upah riil buruh informal di perkotaan (yang paling banyak di Jawa) cenderung menurun pada 2007. Sebagai contoh, upah buruh bangunan turun 0,81 persen, buruh potong rambut turun 3,78 persen, dan upah pembantu rumah tangga (PRT) turun 0,91 persen dibandingkan dengan tahun lalu. "Data BPS juga menyebutkan, upah buruh industri rokok turun 7,96 persen dan buruh garmen turun 4,20 persen," lanjut Faisal.

Meskipun secara nasional semua terlihat baik-baik saja, kata Faisal, perbedaan pola pertumbuhan daya beli masyarakat di Pulau Jawa menunjukkan sesuatu yang mengkhawatirkan. Heterogenitas masyarakat di Pulau Jawa sebagai ukuran pertumbuhan nasional terbentuk melalui gejala yang tidak baik. "Masyarakat yang (daya belinya) tumbuh (di Jawa) hanya kalangan menengah atas, yang bergerak di sektor modern (formal)," tambahnya.

Namun, daya beli kalangan menengah ke bawah yang bergerak di sektor informal justru cenderung mengerut akibat turunnya upah riil. Akibat perbedaan daya beli itu, kesenjangan ekonomi antara si kaya dan si miskin di Jawa kian lebar. "Fenomena di Jawa kentara sekali dengan persoalan ketimpangan. Ini yang harus diwaspadai jika tidak ingin menjadi bom waktu," tegas Faisal.

Komoditas Unggulan

Menteri Pertanian Anton Apriantono yang dihubungi terpisah mengakui, kenaikan harga komoditas pertanian telah mendongkrak perekonomian sejumlah daerah. Beberapa komoditas yang menjadi idola tahun ini adalah sawit, jagung, dan karet.

Komoditas paling fenomenal tahun ini, kata Mentan, adalah minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) yang harganya meningkat dari USD 400 per ton menjadi USD 800 dalam dua tahun ini. "Yang menikmati tentu seperti daerah Sumatera Utara dan Riau," ujarnya.

Direktur Utama Induk Koperasi Tani Indonesia (Inkoptan) Suryo Bawono menambahkan, kenaikan harga komoditas banyak dinikmati petani jagung. Sebab, harganya melonjak dari Rp 900 per kilogram menjadi Rp 2.300. Daerah yang menikmati harga jagung adalah Gorontalo. Provinsi tersebut memang telah berkonsentrasi untuk mengembangkan komoditas jagung.

Jagung naik karena tingginya permintaan dunia untuk makanan ternak dan biofeul. "Namun, di sisi lain peternak menjerit karena pakan ternak demikian tinggi, sementara harga daging tidak naik," terangnya.

Komoditas lain yang menjadi unggulan tahun ini adalah singkong yang harganya melonjak dari sekitar Rp 250 per kilogram pada awal 2007 menjadi Rp 600 per kilogram. Beberapa daerah yang menikmati kenaikan harga itu adalah Lampung dan Madura. Akibat turunnya harga tembakau, petani Pamekasan, Madura, banyak yang beralih menanam singkong. "Madura baru tahun ini masuk ke komoditas singkong, tapi langsung menikmati hasilnya," ungkap Suryo.

Harga singkong kian meninggi setelah harga minyak dunia melonjak drastis hampir USD 100 per barel. Komoditas itu tertuama diekspor ke Eropa sebagai bahan pembuat biofuel, pengganti minyak bumi. Dengan begitu, permintaan singkong untuk kebutuhan ekspor menjadi semakin tinggi. "Eropa memberikan insentif bagi perusahaan yang memproduksi atau menggunakan biofuel," tambahnya.

Di sisi lain harga karet alam juga terus membubung, karena minyak bumi sebagai bahan pembuat karet sintetis kian menggila. Akibatnya, harga karet alam yang ditanam di Jambi dan Lampung meningkat tiga kali lipat dibanding awal tahun, dari sekitar USD 3 per kilogram menjadi USD USD 9. Bahkan, bibit karet sekarang sulit ditemui akibat tingginya permintaan dari Kalimantan. "Perkebunan mulai beralih dari Sumatera ke Kalimantan karena lahannya masih luas," jelasnya.

Pengusaha Daerah Menguat

Menguatnya ekonomi sejumlah daerah juga dibenarkan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia M.S. Hidayat. Menurut dia, secara kasat mata bermunculan anggota Kadin yang merupakan pengusaha-pengusaha baru dari daerah. Hal itu dinilai sebagai fenomena yang wajar karena persaingan bisnis di Jawa semakin ketat.

"Banyak orang kaya baru dari luar Pulau Jawa, sementara pengusaha di Jawa semakin miskin," komentarnya.

Pertumbuhan di daerah, menurut Hidayat, juga tak lepas dari peran pemerintah daerah yang semakin baik dalam pelayanan investasinya. Meski begitu, dia mengaku selama ini kebijakan investasi ke daerah tanpa melalui skema khusus. Padahal, daerah lebih banyak memiliki national resources (sumber daya nasional). "Di sana (daerah) juga ada lahan pertanian yang telah mendapat keuntungan dari tingginya harga komoditas dunia," ungkapnya.

Menyadari hal itu, dalam UU investasi yang baru, pemerintah pusat menjanjikan insentif fiskal bagi investor yang bersedia masuk daerah terpencil. Sebab, kondisi Indonesia berbeda dengan Singapura yang geografisnya sangat kecil. Di Indonesia berinvestasi di Jawa dengan di luar Jawa sangat berbeda. "Saya setuju jika ada investor yang masuk Papua dan membangun infrastruktur, nggak usah bayar pajak dulu selama 10 tahun," jelasnya. (wir/tof)

Internasional
Sang Maestro Masih Digdaya

Tak ada kejutan berarti yang terjadi dalam pentas tenis dunia di tahun 2007. Sama seperti tahun sebelumnya, Roger Federer dan Justine Henin masih membuktikan diri sebagai yang terbaik di muka bumi.

Di bagian putra, masih sulit menggeser Federer dari puncak peringkat yang telah didudukinya sejak Februari 2004. Di bawahnya, Rafael Nadal dari Spanyol masih bertahan.

Yang cukup menyenangkan adalah munculnya nama Novak Djokovic ke deretan elite. Pemain muda Serbia ini mampu menempatkan diri di peringkat ke-3, naik jauh dari ranking ke-16 setahun sebelumnya. Diharapkan dalam waktu dekat pemuda 20 tahun ini sudah bisa mengobrak-abrik dominasi Federer-Nadal.

Dominasi Federer memang nyata terlihat di tahun ini meski ia juga menderita kekalahan terbanyak sejak 2003. Pemain Swiss itu berhasil mengumpulkan delapan gelar juara dan sejumlah itu pula kekalahannya di tahun ini.

Ia berhasil menembus semua final grand slam dan menjuarai tiga di antaranya, yakni Australia Terbuka, Wimbledon, dan AS Terbuka. Hanya di Prancis Terbuka ia terjegal, lagi-lagi di tangan lawan yang sama, Nadal. Ia juga mengakhiri tahun dengan juara dari turnamen bergengsi Piala Master.

"Setiap tahun selalu ada tantangan baru dan saya bangga bisa menaikkan level permainan saat dibutuhkan. Semua itu memberi saya kepuasan dengan menjuarai tiga grand slam dan mempertahankan tahta nomor satu," tutur Federer seperti dirilis Reuters.

Henin Lagi

Di bagian putri, Henin tetap menjadi yang terbaik. Padahal, di awal tahun sempat ada kekhawatiran prestasi pemain Belgia ini bakal menurun setelah mengalami badai rumah tangga yang berujung perceraian dari Pierre-Yves Hardenne.

Namun, kekhawatiran itu tak terbukti. Pemain 25 tahun ini merajalela dengan menjuarai sembilan turnamen alias yang terbanyak dalam setahun di sejarah kariernya. Dua di antaranya dari arena grand slam, Prancis dan AS Terbuka.

Sama seperti Federer, Henin juga menutup tahun dengan gelar bergengsi dari turnamen WTA Championships. Karena kehebatan inilah maka Federer dan Henin dinobatkan sebagai pemain terbaik tahun ini.

"Sudah pasti tahun ini yang terbaik dalam karier saya dan saya gembira bisa dipilih kembali sebagai pemain terbaik," kata Henin.

Untungnya, meski Henin masih mendominasi, ada beberapa pemain yang juga menapak naik dan masuk jajaran elite. Sebut saja duo Serbia, Jelena Jankovic dan Ana Ivanovic, serta Anna Chakvetadze dari Rusia. (Rahayu Widiyarti)

PRESTASI 2007
---------------------------------------
Roger Federer: 8 gelar juara
1. Australia Terbuka
2. Dubai Terbuka
3. Master Hamburg
4. Wimbledon
5. Master Cincinnati
6. AS Terbuka
7. Swiss Indoor
8. Piala Master

Justine Henin: 9 gelar juara
1. Dubai Terbuka
2. Qatar Terbuka
3. Piala J&S
4. Prancis Terbuka
5. Piala Rogers
6. AS Terbuka
7. GP Porsche
8. Zurich Terbuka
9. WTA Championships

Grup Dunia
AS dan Rusia Bersanding

AS dan Rusia bersanding. Bukan di meja perundingan Barat-Timur, melainkan di pentas supremasi beregu tenis dunia. AS merebut Piala Davis, sementara Rusia menjuarai Piala Fed.

Kemenangan AS tahun ini memberi kesan yang mendalam. Maklum saja, sudah 12 tahun negeri adidaya ini tak pernah lagi merengkuh lambang supremasi beregu putra itu. Apalagi gelar juara tahun ini diraih di hadapan publik sendiri di Portland, dengan mengalahkan juara bertahan Rusia 4-1, 30 November-2 Desember.

"Semua ini karena komitmen. Anak-anak sudah berkomitmen untuk memberikan 100 persen yang terbaik untuk negara," jelas kapten tim AS, Patrick McEnroe, seperti dikutip situs Piala Davis.

Kuartet Andy Roddick, James Blake, serta si kembar Bob dan Mike Bryan berhasil mengulang prestasi yang pernah dibuat para legenda seperti Pete Sampras dan Andre Agassi pada 1995.

Sebaliknya, kekalahan terasa menyedihkan buat Rusia. Pasalnya Negeri Beruang Merah ini justru ingin membuat sejarah dengan menyandingkan Piala Davis dan Fed. Sayang, hanya Piala Fed yang berhasil mereka rebut setelah di final September lalu menundukkan juara bertahan Italia 4-0. Namun, prestasi ketiga ini jelas membanggakan buat negara yang baru mulai meroket di tenis pro mulai pertengahan 1990-an itu. (yuk)

Tetap di Grup II

Ternyata sungguh sulit buat tim Piala Davis Indonesia untuk menapak balik ke grup I Asia/Oseania. Setelah terdepak dari grup ini pada 2005, Prima Simpatiaji dkk. belum mampu lagi keluar dari grup II walaupun mengaku telah berusaha maksimal.

Kekhawatiran sudah mulai terlihat pada babak pertama, 9-11 Februari. Melawan tim lemah Hong Kong, Indonesia hanya bisa menang 3-2. Padahal, setahun sebelumnya di kandang sendiri, Tim Merah-Putih ini bisa menang mutlak 5-0.

Lawan berikut jelas lebih kuat, Kuwait. Mereka punya Mohammad Al Ghareeb, yang berperingkat 400-an. Apalagi pertandingan dilangsungkan di kandang lawan dan Indonesia datang dengan pemain yang semua berperingkat di luar angka 800. Satu hal lagi yang diingat tentang Al Ghareeb adalah bahwa ia hampir saja mengalahkan pemain terbaik sejagat, Roger Federer, di turnamen Dubai Terbuka 2006.

Benar saja, pada pertemuan yang berlangsung 6-8 April itu, Al Ghareeb memang menjadi monster menakutkan. Ia berhasil menyumbang tiga angka dan membuat timnya menang 4-1.

"Al Ghareeb memang bagus sekali. Orangnya tinggi besar dan pukulannya keras," ujar manajer tim Indonesia, Kresno Merdiko, saat itu.

Dengan demikian, Indonesia harus menunggu setahun lagi untuk bisa kembali berjuang merebut tiket ke grup I. Sebuah prestasi yang kini kelihatan sangat berat. Padahal, dua dekade lalu, tim kita mampu menembus grup dunia. (yuk)