
Mengapa ada orang-orang yang mempunyai energi yang begitu besar untuk meraih sesuatu? Mengapa ada orang yang penuh gairah dalam menghadapi tantangan? Mengapa ada orang yang sangat ingin berprestasi? Terlepas dari apa motivasi seseorang itu meraih prestasi, mereka selalu mempunyai kesamaan, yaitu,mempunyai energi yang melimpah, berani menghadapi tantangan dan ambisi besar untuk diwujudkan. Itu kenapa banyak pakar perilaku berpendapat bahwa keberhasilan adalah sikap. Salah satu faktor yang menyebabkan seseorang terus gigih meraih prestasi adalah kemampuannya untuk memompakan semangat untuk berprestasi. Berikut ada beberapa tips untuk memompakan semangat berprestasi.
1. Jadilah diri sendiri.
Kalau ambisi anda berprestasi adalah untuk mengalahkan orang lain, anda akan segera kehabisan energi positif dalam bekerja. Dorongan yang muncul lebih banyak bersifat negatif yang dapat mengganggu kejernihan pandangan anda.Jangan bandingkan diri anda dengan orang lain. Kenali saja siapa diri anda, dan jadilah diri anda sendiri. Itu jauh lebih sehat bagi kepribadian anda.
2. Menyusun visi, target, dan skedul pencapaian
Susunlah gambaran besar yang ingin anda raih dalam di masa depan. Buatlah sesulit mungkin, namun percayalah anda bisa mencapainya. Lalu kembangkan ke dalam target-target jangka pendek, serta tentukan waktu kapan anda akan meraihnya. Perjalanan sejauh ribuan kilometer dicapai dengan selangkah demi selangkah.
3. Belajar terus, dan berusaha mempunyai keahlian khusus
Jangan berhenti belajar, namun tak perlu mempelajari semuanya. Kenali apa kekuatan anda untuk menjadi seorang ahli agar anda mampu menuntaskan pekerjaan dengan hasil yang baik. Anda akan merasakan kesenangan jika anda mampu menyelesaikan pekerjaan sebaik-baiknya. Mempelajari semua hal memang baik untuk menambah wawasan dan kebijakan, namun jika anda tak punya sebuah keahlian yang menjadi keunikan diri anda sendiri, maka anda takkan tahu apa yang ingin anda kerjakan dengan baik. Hanya karena anda ahli, anda akan menetapkan standar yang tinggi. Sedangkan, standar tinggi adalah salah satu kualitas dari seorang yang berprestasi.
4. Melakukan apa yang anda sukai
Lakukan apa yang anda cintai. Ini akan menumbuhkan semangat dan kesenangan dalam setiap pekerjaan. Anda akan temukan bahwa keberhasilan bukan sesuatu yang ada di depan sana, namun berjalan seiring dengan apa yang anda kerjakan.
5. Jangan menyia-nyiakan peluang
Jangan terlalu banyak memikirkan masalah uang atau penghasilan yang anda peroleh. Jauh lebih penting anda memperoleh tanggung jawab yang sesuai dengan kemampuan anda. Lalu bersungguh-sungguh mengerjakannya. Pikirkan bagaimana anda bisa memperbaiki keadaan yang ada dalam tanggung jawab anda. Seringkali keberhasilan besar bersembunyi di balik sebuah peluang yang kelihatannya sepele.
6. Temukan kegembiraan dalam setiap langkah
Perhatikan anak-anak kecil belajar, mereka menunjukkan kegembiraan saat berangkat sekolah, saat di kelas, saat beristirahat, saat pulang bahkan saat mengerjakan pekerjaan rumah mereka. Temuka kegembiraan yang sama di setiap langkah anda. Jika anda tak menemukannya, mungkin anda berada di jalan yang keliru. Segera renungkan kembali apa yang ingin anda raih.
7. Berbagi atas keberhasilan yang bisa diraih
Tak apa jika anda ingin menikmati sebuah keberhasilan kecil yang bisa anda raih. Namun, jangan semata-mata melakukannya sendiri. Bagilah dengan orang lain. Berbagi kegembiraan justru melipatgandakan kegembiraan anda. Ucapan selamat yang diberikan orang lain pada anda sangat efektif untuk memompa semangat anda meraih yang lebih baik lagi.
8. Tidak bersedih atas kegagalan
Satu hal yang sangat meruntuhkan semangat adalah kegagalan. Namun, mereka yang mempunyai keinginan berprestasi yang tinggi, kegagalan justru memacu mereka untuk belajar dan berusaha lebih baik lagi. Terimalah kegagalan sebagaimana adanya. Buka kembali buku pelajaran anda, mungkin ada yang terlewatkan. Berlatih terus dan coba lagi. Keberhasilan selalu didahului oleh kegagalan. Itu mengapa orang bijak mengatakan, kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda.
Memuja Pertumbuhan
Rabu, 26-12-2007 | 00:33:22
Kualitas pertumbuhan, minimal jika dikaitkan dengan tingkat kemiskinan dan pengangguran justru sangat mencemaskan.
Oleh: Syahrituah Siregar SE MA
Fakultas Ekonomi Unlam
Banyak yang khawatir pada suatu tingkat pertumbuhan ekonomi yang rendah. Di masa orde baru, angka tujuh persen dikultuskan sebagai target minimal yang harus dicapai. Di lain pihak, implikasi sosial ekonomi angka itu jarang dikaji apalagi dijadikan fokus kebijakan. Pandangan itu berlanjut, terkesan dari pendapat beberapa kalangan birokrat saat ini.
Indikator makro itu seakan menjadi rapor pembangunan, terlebih jika hirarki pemerintah teratas telah meletakkan suatu target. Saat ini pemerintah pusat menargetkan pertumbuhan sekitar 6,5 persen, maka bagi provinsi dan lebih lanjut kabupaten/kota menjadi kewajiban untuk minimal menyamai tingkat tersebut. Skenario yang ada di kepala adalah mengundang investasi setinggi-tingginya, menguras sumberdaya alam dan menjual secepatnya agar pertumbuhan terlihat tinggi.
Kualitas pertumbuhan, minimal jika dikaitkan dengan tingkat kemiskinan dan pengangguran justru sangat mencemaskan. Selama kurun 1986-1996, pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 7,5 persen per tahun. Pada 1997-2005, setelah dilanda krisis, pun masih tumbuh positif rata-rata 2,28 persen per tahun. Jika 1986 sebagai titik dasar, maka perekonomian telah tumbuh kumulatif 103 persen.
Pada saat yang sama, penduduk Indonesia tumbuh rata-rata 1,8 persen per tahun selama 1985-1990 dan 1,4 persen sepanjang 1990-2005. Artinya, sejak 1986 sampai 2005 penduduk bertambah 30 persen. Perhitungan kasar, selama kurun 1986-2005 terdapat surplus kenaikan pendapatan riil per kapita 73 persen. Jarang yang menyadari itu suatu besaran peningkatan kemakmuran yang begitu tinggi bagi rakyat. Karenanya, sekalipun suatu saat pertumbuhan negatif, tidak akan menghanguskan hasil yang sudah ada.
Pertanyaannya, betulkah rakyat dapat menikmati hal itu? Jika tidak, tentunya hasil pertumbuhan itu hanya dinikmati oleh segelintir orang. Oleh sebab itu, persoalannya sekarang bukan lagi menumbuhkan ekonomi setinggi-tingginya melainkan bagaimana membagikan hasil tersebut secara lebih adil.
Faktanya, kemiskinan justru terus meningkat. Jika pada 1996 terdapat 22,5 juta penduduk miskin, maka sampai Maret 2006 jumlahnya mencapai 39,05 juta jiwa atau tumbuh 6,14 persen per tahun. Sementara itu, data pengangguran tidak menunjukkan perbaikan yang berarti. Pada Agustus 2004, jumlah penganggur terbuka di Indonesia sebanyak 10,3 juta meningkat pada Agustus 2006 menjadi 10,93 juta orang.
Demikianlah, jika mengejar pertumbuhan semata maka tujuan pembangunan yang sebenarnya tidak akan tercapai. Pertumbuhan yang diciptakan akan menjadi bilangan tanpa arti. Sebaliknya, konsekuensi pertumbuhan pasti dibayar dampak negatif yang tak pernah terkelola dengan baik. The costs of growth sedikitnya berbentuk kerugian lingkungan, melebarnya jurang ketimpangan, dekadensi sosial-budaya dan psikologis, kemandegan (unsustainable development) , terkurasnya SDA dan bahkan perbudakan kapitalistik.
Kesenjangan hanya teratasi melalui reformasi distribusi aset, modal, akses dan penguatan kas pemerintah agar leluasa memberikan insentif fiskal dan pelayanan berkualitas. Namun ketika berbicara masalah reformasi lahan dan aset, permodalan yang adil tanpa bunga, proteksi sumberdaya bagi kepemilikan lokal (pemerintah bersama pengusaha dan masyarakat), dan restrukturisasi skema bagi hasil SDA, semua kalangan berkompeten menjadi mati pikir.
Di saat manusia berpacu dalam pertumbuhan itu, kefanaan dunia makin tampak. Pemanasan global dan dampak bencana kian berakselerasi. Menurut informasi, tiap kenaikan satu derajat saja suhu, akan memusnahkan 30 persen spesies di bumi. Komoditas yang tercepat musnah, di antaranya palawija lahan tropis.
Paradigma unlimited wants versus limited resources dalam ekonomi makin dirujung, sesuai keserakahan manusia. Dengan mental kapitalis yang berkuasa saat ini niscaya akan mengembalikan manusia pada derajat hukum rimba barbar, berebut makan untuk survive. Ataupun kalau tidak, kita akan sama-sama menantikan kematian yang didahului orang di negara miskin yang tidak memiliki daya dukung dan deposit utilities melimpah seperti negara maju.
Untuk mengatasi hal itu, tidak mungkin berharap pada model kepemimpinan dunia yang ada sekarang. Dalam United Nation Climate Change Conference di Bali pada Desember 2007 tadi, meski dihadapkan setumpuk fakta bumi menuju kematian, sang adidaya USA, tetap tidak konsisten bersikap. Sekarang yang kita butuhkan adalah model ekonomi bertuhan, terbentuk dari pandangan hidup menyeluruh material dan spiritual. Sekian.
Semakin otentik Anda, semakin tulus ekpresi Anda, khususnya berkenaan dengan
pengalaman pribadi dan bahkan keraguan diri, semakin orang-orang dapat berhubungan
dengan ekpresi Anda dan mereka pun merasa semakin aman untuk mengekpresikan
diri mereka sendiri. Ekspresi ini pada gilirannya menjadi umpan balik bagi semangat
orang lain, dan empati kreatif yang murni terjadi, menghasilkan wawasan baru dan proses
belajar dan gairah serta petualangan yang memuat prosesnya terus berlangsung" (Covey)
Nikmati proses belajar. Adalah hebat menjadi bagus di bidang tertentu. Adalah hebat
belajar menjadi bagus di bidang tertentu" (Sean Mc Arthur)
Bersedialah membuang ide-ide lama Anda jika seseorang muncul dengan sesuatu
yang baru dan lebih baik. Ide tidak pernah setia pada siapa yang menciptakannya,
tetapi ide setia pada orang yang menjadi sahabatnya" (Brian Tracy)
"Mendengar secara empatik membutuhkan waktu, tetapi tidak sebanyak waktu yang
dibutuhkan untuk mundur dan memperbaiki kesalahpahaman, untuk mengerjakan ulang,
untuk hidup dengan masalah yang tidak terungkap dan terpecahkan, untuk berhadapan
dengan hasil dari tidak adanya pemberian udara psikologis kepada orang lain" (Covey)
"Putuskan terlebih dahulu tujuan utama dalam hidup Anda dan kemudian susunlahsemua
kegiatan-kegiatan Anda di sekitarnya. Buanglah kegiatan yang tidak sesuai dengan tujuan.
Seringkali tujuan tidak tercapai bukan karena kurangnya dukungan tetapi karena terlalu
banyak penolakan" (Brian Tracy)
"Sabarlah, gagasan yang bagus tidak dihasilkan dengan instan, namun dikembangkan
dengan tindakan" (Sean Mc Arthur)









No Comments/Trackbacks for this post yet...