Search blog.co.uk

Posts archive for: 4 December, 2007
  • Forkorus: Papua Telah Merdeka

    *Ibadah di Sentani Berjalan Aman SENTANI-Kecemasan petugas keamanan baik TNI maupun Polri akan adanya pengibaran Bintang Kejora dan gangguan lainnya terkait kegiatan 1 Desember sebagai hari yang disebut-sebut kemerdekaan bangsa Papua, akhirnya tak terbukti. Ini setelah dalam moment ibadah bersama yang dipusatkan di pendopo Alm Theys Hiyo Eluay di Jl Bis Tir Pos Sentani tidak timbul insiden menonjol, apalagi terjadi pengibaran bendera Bintang Kejora seperti yang dicemaskan tersebut.

    Sebelum kegiatan dimulai banyak masyarakat menyambut kedatangan para petinggi DAP dan PDP dengan memegang potongan kertas putih berbentuk bendera yang bertuliskan SOS (Save Our Soul). Kegiatan akhirnya dimulai sekitar pukul 09.00 WIT dibuka oleh Pdt Dimara dan dilanjutkan Pdt.Buce Wambrauw dari Supiori dengan menyanyikan lagu-lagu pujian kepada Allah serta ceramah singkat yang dikutip dari alkitab.

    "Kemerdekaan sudah diberi oleh Yesus untuk bangsa Papua, untuk itu tinggal bagaimana masyarakat bersatu dan berdoa karena dua hal tadi yang akan menjawab semua pertanyaan selama ini," tutur Pdt Buce dalam ceramah. Dalam ceramah ibadah ini, Buce juga banyak menyinggung soal bagaimana perjuangan terakhir masyarakat hingga kemarin yang masih banyak menemukan kendala, tetapi dirinya yakin dengan tujuan yang dikatakan direstui oleh Yesus, maka semuanya bisa terlaksana.

    Sementara, Ketua Dewan Adat Mamta, Forkorus Yaboi Sembut yang diminta memberikan pesan politiknya membuka sambutan dengan dibacakan selebaran surat bertuliskan bahasa Inggris yang dikutip dari Radio Nederland berisikan tentang isu Papua di luar Negeri. Namun sebelumnya Forkorus dengan gamblang menyapa tamu dan mengucapkan merdeka serta memberikan selamat ulang tahun ke 46 untuk seluruh rakyat Papua."Tuhan memberkati kita dalam perjuangan ini," katanya dalam sambutan awalnya seraya meminta masyarakat untuk lebih banyak berdoa agar apa yang dicita-citakan selama ini bisa diperoleh.

    Forkorus memberikan judul ceramahnya adalah hanya hewan sajalah yang melupakan sejarahnya. Judul tersebut lebih ditekankan kepada para pejabat dan mahasiswa dimana penilaiannya selama ini ada kalimat untuk melupakan sejarah, padahal sejarah berisikan semua nilai budaya dan ciri dari suatu bangsa."Mahasiswa jangan ada lagi berkata bahwa sejarah Papua itu tidak perlu karena itu hanya merendahkan diri sendiri dan menganggap dirinya sebagai binatang," jelasnya. Lebih dalam Forkorus menilai langkah pemerintah dalam bingkai otonomi khusus dengan membangun berbagai sarana umum dianggap belum bisa mensejahterakan rakyatnya, karena konteks sejahtera menurutnya bukan hanya berupa fisik dan material saja tetapi yang dibutuhkan rakyat saat ini mencakup perasaan batin.

    "Orang selama ini ngomong sejahtera tetapi yang model bagaimana, buktinya masih banyak rakyat yang protes dengan kebijakan pemerintah," tegas Forkorus.Dikatakan banyak pertanyaan yang timbul soal 1 Desember tentang apakah tanggal tersebut menandakan rakyat Papua sudah merdeka atau tidak dan ini dijelaskan bahwa secara rohani."Papua telah merdeka dengan bertolak dari piagam Perserikatan Bangsa Bangsa tertanggal 10 desember 1948 tentang hak-hak manusia dimana pasal 15 ayat 1 berbunyi tentang setiap orang berhak menentukan bangsanya sendiri dengan demikian kita juga harus bisa menentukan kemerdekaan itu," tutur pria bertubuh jangkung ini.

    Indonesia dalam hal ini dikatakan telah melakukan dua kesalahan, dimana pertama telah mengakui bahwa negara Papua itu ada, namun diminta untuk dibubarkan dengan demikian lanjut Forkorus bawah Presiden saat itu telah mengakui tentang keberadaan negara Papua lalu yang kedua melakukan penghinaan tentang status negara Papua yang dianggap buatan Belanda. Forkorus juga menyinggung soal kedatangan anggota Kongres Amerika Sserikat, Eni Faleomafega yang rencananya akan mendengar aspirasi masyarakat secara langsung tetapi batal karena dialihkan dengan berbagai alasan.

    Sementara Sekertaris Jendelal (Sekjend) Presidium Dewan Papua (PDP), Taha Al Hamid yang juga diberikan kesempatan maju memberikan pidato sempat mendapat aplaus meriah dari tamu yang datang. Taha lebih terfokus menceritakan penderitaan rakyat serta menyinggung kepentingan politik dari para pejabat yang hidup tanpa melihat penderitaan rakyat dimana 40% rakyat di kampung merasa diri seakan terjajah karena tidak bisa merasakan apa itu pembangunan, bahkan tidak bisa mengeyam bangku sekolah. "Situasi Papua saat ini aman dan damai karena kami bertekad akan menempuh cara damai yakni dengan kongres," tutur Taha Alhamid yang disoraki ratusan tamu.

    Lebih jauh Taha meminta agar pemerintah dan aparat tidak mengejar-ngejar masyarakat yang menyuarakan kalimat merdeka, melainkan menindak mereka yang selama ini justru menjadi biang kesengsaraan rakyat serta mendengar apa yang diteriakkan rakyat yang berada di kampung-kampung.

    Acara kemudian dilanjutkan pemotongan kue ulang tahun yang terbuat dari ubi dan di atas kue tersebut terdapat bintang berwarna merah dan terdapat lilin dengan angka 46 lalu bersama-sama menyanyikan lagu berjudul Tanahku Papua.

    Dalam kesempatan ini potongan kue pertama diberikan kepada perwakilan wartawan lalu perwakilan dewan adat yang hadir. Taha juga menyampaikan ucapan belasungkawa atas meninggalnya pejuang NKRI, Daniel Wanda sebagai Ketua Forum Gernerasi Papua di Jakarta. "Saya dari PDP mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya Tokoh Daniel Wanda walau ada perbedaan pandangan," ucapnya.

    Ditambahkan salah satu anggota DPD RI Papua, Ferdinanda IboYatipai bahwa langkah yang harus dilakukan untuk menjawab semua pertanyaan ini adalah dengan cara duduk bersama antara masyarakat dan pemerintah dan jika bangsa Papua bersalah, maka rakyat harus meminta maaf. Namun jika bangsa Indonesia yang bersalah, maka Indonesia harus bersedia memberikan apa yang diminta rakyat. Selama ibadah berjalan tak jarang sorak atau teriakan merdeka dilontarkan para tamu yang diikuti dengan sorakan lainnya hingga terdengar lebih keras.

    Diakhir acara sempat terjadi bersitegang antara panitia pelaksana dengan beberapa tamu yang mengaku sebagai mahasiswa karena tidak diberikan kesempatan menyampaikan pendapat. Ketegangan itu itu tidak berlangsung lama setelah mendenar arahan dari koordinasi pengamanan. Kegiatan akhirnya selesai sekitar pukul 13.40 WIT setelah doa bersama. Dengan menggunakan 6 buah truk, massa secara teratur membubarkan diri. Saat rombongan truk bertolak mengarah ke Abepura ini banyak kalimat merdeka yang dipekikkan dari atas truk yang hampir semuanya berasal dari masyarakat pegunungan. Sementara rencana peletakan krans bunga di makam Alm Theys entah mengapa tidak dilakukan. Padahal pantauan Cenderawasih Pos jalan menuju makam ada yang sudah dibersihkan.

    Sekedar diketahui kegiatan ibadah ini dihadiri 7 wilayah pimpinan adat diantaranya dari Ketua DAP Jayawijaya; Lemok, Ketua DAP Sarmi; Gidion Yawa, Ketua DAP Sorong; Apolos, Ketua DAP Manokwari; Yantewo Pay dan anggota DPD RI Papua, ibu Yatipai dan massa sekitar 500 orang baik dari pesisir maupun pegunungan tengah. Pengamanan terbuka maupun dalam mensikapi 1 Desember ini cukup ketat melibatkan seluruh jajaran di Polres Jayapura diback up Satuam Brimob yang berkumpul di kantor Infokom Sentani, begitu juga dengan pengamanan tertutup disekitar lokasi ibadah.

    Sementara itu seperti yang diprediksikan sebelumnya bahwa wilayah Kota Jayapura ini tidak ada pengibaran Bintang Kejora ternyata benar adanya.

    Pada Sabtu (1/12) lalu, aktifitas masyarakat Kota Jayapura berlangsung seperti biasa. Yang sekolah tetap masuk sekolah, yang aktifitas di pasar juga tetap ramai dan seterusnya. Situasi yang kondusif ini tak lepas dari kerja keras aparat Polresta Jayapura yang didukung aparat Kodim 1701 Jayapura yang selalu rutin melakukan patroli guna memantau situasi. Termasuk untuk wilayah di sekitar Lembaga Pemasyarakat Abepura juga dijaga ketat aparat Polresta Jayapura, karena tahun-tahun sebelumnya, lokasi ini menjadi tempat pengibaran Bintang Kejora.

    Kapolresta Jayapura AKBP Robert Djoenso saat ditanya wartawan, Sabtu (1/12) menyatakan, pihaknya sangat merasa bersyukur karena masyarakat mau mengikuti himbauan dan mentaati aturan hukum yang berlaku. "Untuk wilayah Kota Jayapura ini, tidak ada kegiatan pengibaran Bintang Kejora, termasuk yang ditaruh di pohon-pohon juga tidak ada," katanya. Dikatakan, jauh-jauh hari sebelum momen 1 Desember ini, pihaknya telah memberikan pemahanan dan melakukan pendekatan secara kemanusiaan atau pendekatan dari hati ke hati terhadap semua komponen yang ada. "Dengan begini, masyarakat juga mengerti dan memahami bahwa kita ini berada di dalam bingkai negara kesatuan Republik Indonesia yang merupakan negara hukum," katanya.

    Kapolresta Jayapura ini kembali menyatakan, pihaknya tidak melarang adanya penyampaian aspirasi, tetapi harus sesuai koridor hukum yang berlaku. "Kegiatan ibadah boleh-boleh saja, tetapi jangan ada orasi-orasi politiknya. Pendeta yang membawakan firman Tuhan jangan sampai menghujat atau mendiskreditkan pemerintah. Dalam Alkitab disebutkan, Pemerintah itu wakil Allah. Jadi kalau berkhotbah, sebaiknya menyampaikan apa yang ada di Alkitab dan jangan sampai disisipi dengan kepentingan- kepentingan politik," himbaunya untuk menegaskan lagi.
    Saat ditanya soal hasil sweeping di Lembaga Pemasyarakat yang dilaksanakan sebelum 1 Desember, Kapolresta Jayapura ini mengakui jika saat dilakukan sweeping di Lapas Abepura itu petugas mendapati Bendera Bintang Kejora dalam ukuran kecil dan sementara ini sudah diamankan.

    Sementara itu, Kapolda Papua, Irjen Pol. Drs. Max Donald Aer saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos, Ahad (2/12) menyatakan, secara umum situasi di wilayah hukum Polda Papua cukup kondusif. "Meski ada kejadian-kejadian di beberapa tempat seperti di Timika, Yapen, dan Manokwari, namun hal itu tidak berpengaruh pada stabilitas keamanan," ungkapnya. Menurutnya, adanya pengibaran Bintang Kejora itu merupakan upaya dari sekelompok masyarakat atau individu yang hanya ingin menarik perhatian.

    "Khusus untuk pengibaran Bintang Kejora di Timika, itu jelas merupakan pelanggaran hukum dan 6 pelakunya yang terlibat sudah ditahan untuk diproses hukum sesuai perannya masing-masing. Sedangkan 4 pelaku lainnya masih dalam pencarian atau DPO (Daftar Pencarian Orang)," tandasnya.(ade/ cr-150/fud

    Perdelapanfinal Coppa Italia
    Potensi Juventus

    Sabtu (1/12) di Giuseppe Meazza, Juventus kembali membuktikan potensi besar mereka untuk meraih scudetto. Klub promosi ini menahan Milan 0-0. Sebelumnya tim asuhan Claudio Ranieri menahan juara bertahan Inter 1-1 dan favorit lain, Roma, dengan skor 2-2.

    “Kami bekerja untuk scudetto. Kami tahu itu sulit, tapi juga sulit untuk yang lain. Saya percaya karena kami adalah Juventus,” kata penyerang I Bianconeri, David Trezeguet, setelah laga melawan Milan, seperti dilansir Datasport.

    Juventus adalah klub yang paling sering memenangi Serie A. La Vecchia Signora mengoleksi 27 scudetto. Musim lalu, klub asal kota Torino ini berada di Serie B karena terkena hukuman dari skandal pengaturan penunjukan wasit.

    Hebat jika Juventus langsung juara pada tahun pertama setelah meninggalkan Serie B. Selain Serie A, Si Nyonya Tua juga dapat meraih gelar juara di Coppa Italia. Juve termasuk dalam 16 klub yang masih bertahan.

    Kamis (6/12), pasukan Ranieri menjalani laga pertama babak perdelapanfinal melawan tuan rumah Empoli. Partai di Stadio Carlo Castellani itu menjadi satu-satunya duel ottavi di finale yang dimainkan pekan ini. Dua laga lain digelar pekan depan dan lima partai pada 19 Desember.

    Menang 3-0

    Juventus sembilan kali memenangi Coppa Italia. La Vecchia Signora terakhir kali juara pada tahun 1995. Musim ini menjadi waktu bagus untuk kembali juara. Tak seperti Roma, Inter, Milan, dan Fiorentina, Si Nyonya Tua tidak terlibat di kompetisi Eropa. Juve dapat lebih fokus di Coppa.

    Pasukan Ranieri menembus 16 besar setelah mengalahkan Parma 3-1 di putaran ketiga. Empoli tidak bermain di fase itu. Azzurri mendapat kemudahan langsung ke perdelapanfinal.

    Coppa sering dijadikan sebagai ajang untuk mencoba pemain yang jarang diturunkan di Serie A. Jika prinsip itu dijalani Ranieri, kesempatan buat pemain seperti Almiron, Tiago, dan Marco Marchionni untuk membuktikan mereka sekelas dengan pemain inti di Serie A.

    Dalam giornata 10 Serie A pada 31 Oktober lalu di Olimpico di Torino, Juventus memukul Empoli 3-0. Semua gol dicetak Trezeguet. Sekarang di kandang sendiri, Empoli tentu ingin membalas kekalahan itu. (man)

    Yes, you can do it

    Yes, you can do it. And you can begin right now.

    Sure, you've run into problems in the past. Yet there is a way to get past every one of them.

    When it is important enough to you and meaningful enough for you, you will find a way. There is a positive, effective step that you can take this very moment.

    It will require effort on your part, as well as commitment and persistence. Fortunately, you are fully capable of all those things.

    Yes, you can do it, and in the process you will more fully become the beautiful, unique person you are meant to be. You will grow more capable, more confident, more knowledgeable and experienced.

    When your objective is connected with the purpose that drives every other purpose, there is no doubt that you can do it. Begin now to work your way there.

  • Mengantar Tuan Franklin ke Parlemen

    cantik4a

    Duit Bank Indonesia diantar ke rumah 20-an anggota panitia kerja Komisi Keuangan DPR. Kurir dan notulis pertemuan telah bersaksi.

    DUA orang petinggi Komisi Keuangan dan Perbankan Dewan Perwakilan Rakyat pernah bertikai, hampir empat tahun silam. Bukan tentang kebijakan ekonomi pemerintah, menurut seorang saksi kepada Badan Kehormatan DPR, mereka berdebat tentang ”amplop” dari Bank Indonesia (BI).

    Menurut sumber Tempo, petinggi pertama berkata kencang kepada koleganya yang berbeda partai itu. ”Kenapa cuma ini yang mau dibagi-bagi, padahal masih ada yang lain?” kata petinggi itu, seperti ditirukan sang sumber. Petinggi satunya hanya terdiam.

    Pertikaian dua anggota DPR periode 1999-2004 itu merupakan bagian dari cerita mengalirnya duit dari BI ke parlemen. Pada Juni-Desember 2003, BI mengguyur sebagian anggota Komisi Keuangan DPR dengan Rp 31,5 miliar ”dana diseminasi”. Para penadah guyuran itulah yang kini sedang ditelisik oleh Badan Kehormatan Dewan.

    ”Kami akan terus memanggil saksi yang mengetahui persoalan ini,” kata Gayus Lumbuun, Wakil Ketua Kehormatan Dewan, yang memimpin pengusutan kasus ini.

    l l l

    DUIT segajah yang diambil dari rekening Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia, yayasan milik BI yang bergerak di bidang pendidikan, itu dipakai untuk mengegolkan dua tujuan. Pertama, memuluskan kepentingan bank sentral dalam perubahan Undang-Undang BI yang saat itu digodok parlemen. Kedua, membantu penyelesaian kisruh bantuan likuiditas Bank Indonesia.

    Ketika itu, di Senayan sedang seru-serunya dibahas amendemen Undang-Undang BI. Pembahasan macet di sejumlah poin, di antaranya soal pembentukan Dewan Supervisi dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Departemen Keuangan menganggap perlu pembentukan OJK untuk mengawasi bisnis perbankan. Petinggi BI berpendapat sebaliknya.

    Menurut sumber Tempo, duit untuk keperluan ini dicairkan pada 17 September (Rp 7,5 miliar dan Rp 3 miliar) serta 4 Desember 2003 (Rp 6 miliar). Hasilnya? Pada Desember itu, amendemen tersebut diketuk. Pembentukan OJK untuk mengawasi BI diundur hingga 31 Desember 2010.

    Pasal lain yang juga hilang dari pembahasan adalah aturan pemberhentian anggota Dewan Gubernur BI, begitu undang-undang hasil amendemen diberlakukan. Semula, aturan itu sempat menjadi perdebatan panas di Senayan. Karena tak tuntas, pembahasan dilanjutkan di hotel beberapa kali. Sejak itulah pasal tersebut menghilang.

    Paskah Suzetta, mantan ketua panitia kerja amendemen Undang-Undang BI yang kini menjadi Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional, tak membantah adanya aliran dana dari Bank Indonesia. Tapi, menurut dia, pengucuran dana dari bank sentral ke Dewan bukanlah gratifikasi. ”Itu diseminasi,” katanya tiga pekan lalu.

    Gayus Lumbuun menilai, gratifikasi dan diseminasi tak ada bedanya. ”Dua-duanya mengambil duit negara lalu dibagikan kepada anggota DPR,” kata anggota Dewan dari PDI Perjuangan itu.

    Kisruh BLBI juga dibahas panas di Senayan. Petinggi bank sentral berkeras bahwa bantuan likuiditas itu merupakan keputusan pemerintah. BI hanya menjalankannya. Pemerintah berkukuh sebaliknya. Pada Agustus diambillah keputusan politik: pemerintah menerbitkan surat utang Rp 144,5 triliun, sejumlah dana bantuan likuiditas itu.

    l l l

    SEBULAN sebelum keputusan itu diambil, duit dari BI mengguyur parlemen. Aliran pertama pada 27 Juni sebesar Rp 2 miliar. Berikutnya, 2 Juli (Rp 5 miliar dan Rp 0,5 miliar) serta 23 Juli (Rp 7,5 miliar). ”Kalau benar menerima aliran dana, ini kejahatan parlemen yang serius,” kata seorang anggota Badan Kehormatan Dewan.

    Selain untuk pembahasan amendemen Undang-Undang BI dan bantuan likuiditas Bank Indonesia, duit dengan jumlah yang lebih kecil juga dialirkan untuk pembahasan undang-undang lain. Di antaranya, pembahasan Rancangan Undang-Undang Likuidasi Bank, Rancangan Undang-Undang Kepailitan, dan pembahasan anggaran BI.

    Bagaimana duit itu sampai ke kantong anggota Dewan? Menurut audit Badan Pemeriksa Keuangan, dana dari BI disetorkan melalui Antony Zeidra Abidin, anggota Komisi Keuangan dan Perbankan dari Partai Golkar. Tapi politikus yang kini menjadi Wakil Gubernur Jambi itu berkali-kali membantah tuduhan itu.

    Sumber lain yang mengetahui pengusutan kasus ini menjelaskan, dana dari BI dibawa oleh seorang perantara bernama Joko. Bentuknya uang kertas nominal US$ 100 bergambar mantan Presiden Amerika Serikat Benjamin Franklin. Kabarnya, Joko telah mengakui soal ini kepada Komisi Pemberantasan Korupsi.

    Seorang pejabat Komisi Pemberantasan Korupsi mengatakan, uang selanjutnya diantar beberapa kurir ke para anggota Dewan. Para penerima uang adalah anggota panitia kerja amendemen Undang-Undang BI dan panitia kerja BLBI. ”Uang ada yang diantar ke rumah, ada juga yang ke hotel,” kata pejabat itu.

    Memang tak mudah membuktikan aliran dana tunai itu. Berharap transaksi terekam kamera keamanan hotel tentu tak mudah. Apalagi menunggu pengakuan para penerimanya. Untuk itu, kata sumber yang sama, Komisi Pemberantasan Korupsi kini memagari para kurir itu agar tetap pada pengakuannya.

    Sejauh ini ada 16 orang penerima dana BI yang dilaporkan oleh Koalisi Penegak Citra DPR—gabungan sejumlah aktivis antikorupsi. Tapi, menurut sumber Tempo, 20-an anggota panitia kerja bisa jadi dianggap melanggar kode etik DPR. Sebabnya, mereka melakukan rapat-rapat di luar gedung parlemen atas biaya Bank Indonesia.

    Untuk membahas amendemen Undang-Undang BI, panitia kerja melakukan rapat di Hotel Mulia, Hotel Hilton, Holten Sheraton Bandara, dan Hotel Imperial Aryaduta Karawaci. Agenda rapat ini diatur oleh Kepala Bagian Sekretariat Komisi Keuangan dan Perbankan Usiono—kini sudah pensiun.

    Menurut Gayus Lumbuun, semua pembicaraan dalam rapat direkam dan dicatat oleh Wagianto, Kepala Sub-Bagian Sekretariat Komisi. ”Dia bilang telah menyerahkan transkrip rekaman itu kepada Biro Kearsipan DPR. Penyerahan ini ada tanda terimanya,” kata Gayus.

    Satu rapat di hotel itu terungkap dari lembar disposisi pejabat bertajuk ”Pertemuan Pembahasan Anggaran BI” bertanggal 21 September 2004. Di situ ditulis soal rencana pembahasan anggaran, khususnya berkaitan dengan persetujuan anggaran operasional BI 2005.

    Lembar disposisi yang dikirim Biro Gubernur kepada Bun Bunan Hutapea, Deputi Gubernur BI, itu menyampaikan kesepakatan untuk bertemu 18 anggota Sub-Komisi Perbankan DPR. Tempatnya di Hotel Mulia, Jakarta, 21 September 2004. Untuk keperluan itulah diusulkan pencairan dana diseminasi Rp 540 juta. ”Sebagai apresiasi kepada anggota DPR,” tertulis dalam dokumen itu.

    Pekan ini, Badan Kehormatan rencananya akan mendengarkan rekaman rapat di hotel-hotel itu. Dari sini akan diketahui anggota DPR yang paling gencar menyuarakan kepentingan BI. Siapa tahu, dari rekaman itu bisa pula diungkap para anggota Dewan penerima uang kertas dolar bergambar Tuan Franklin.

    Budi Setyarso dan Budi Riza

    Tolak Kondom & Seks Bebas'

    Refleksi: Di mana ada seks bebas? Kalau alasan mahal untuk kondom dibeli, mungkin bisa diterima oleh pikiran sehat, tetapi kondom dikatakan tidak ilmiah, baik sebagai alat preventif terhadap penularan dan penyebaran penyakit kelamin serta mencengah ledakan demografi, tidak dimenerti berarti hanya kambing-kambing mengembik.

    Masalah kedua ialah dinayatakan bahwa terbanyak pasien AIDS/HIV terdapat di Jakarta dan Papua? Kalau Jakarta atau kota-kota besar lainnya bisa dimengerti, tetapi mengapa justeru Papua yang jauh di mata, siapa yang membawa dan menghadiahkan kepada orang Papua. Apakah ada maksud lain dengan hadiah ini?

    http://www.poskota. co.id/news_ baca.asp? id=41848&ik=3

    Tolak Kondom & Seks Bebas’

    Minggu 2 Desember 2007, Jam: 6:19:00
    JAKARTA (Pos Kota) – Ratusan pelajar SMA dan mahasiswa Jabodetabek memperingati ke-19 Hari HIV/Aids sedunia di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Sabtu (1/12) pagi.

    Mereka mengkampanyekan anti HIV/Aids dan menolak kondom sebagai upaya untuk pencegahan penyakit HIV Aids. Dalam aksinya sejumlah pelajar dan mahasiwa tersebut membagi-bagikan selebaran, pin kepada pengendara di kawasan Jalan Jenderal Sudirman dan Thamrin.

    “Kami memperingati hari HIV/Aids sedunia bertujuan memberikan penyadaran pada para pelajar dan pemuda tentang bahaya penyakit tersebut. Kami juga mengkampanyekan tolak kondom dan seks bebas, karena hal tersebut dapat menimbulkan penyakit seksual menular dan merusak budaya bangsa,”ujar Arman Zakaria, Ketua Komite Hari HIV/Aids Se dunia SMAN 91 Jakarta.

    Pengendara baik motor maupun mobil berjalan pelan lantaran massa tumpah ruah di sudut-sudut jalan sekitar Bundaran HI mereka membentangkan poster yang bertuliskan. “Gaul memang perlu, tapi harus nggak ada narkoba dan seks bebasnya kan?”. Para mahasiswa dan pelajar tersebut berorasi tentang bahaya penyakit HIV/Aids menggunakan pengeras suara.

    TERBESAR DI JAKARTA
    “Kondom terbukti secara ilmiah tidak efektif mencegah HIV/Aids, sosialisasi penggunaan kondom oleh pemerintah merupakan bentuk provokasi menuju gaya hidup seks bebas, untuk itu tolak kondom dan berikan kami pendidikan bermutu”teriak, Yudi, satu perwakilan mahasiswa Jabodetabek. Berdasarkan data dari World Vision Indonesia, saat ini penderita HIV/Aids di Indonesia berjumlah 16.288 jiwa, 500 diantaranya berusia 0-19 tahun. Penyakit berbahaya dan menular tersebut telah menelan korban jiwa hingga mencapai 2.287 orang dan korban terbesar berada di DKI Jakarta dan Papua.

    Peringatan hari HIV/Aids yang jatuh pada tanggal 1 Desember, diharapkan masyarakat dapat menekan angka penyebaran virus mematikan tersebut dengan tidak melakukan seks bebas dan memakai narkoba.

    Malouda: Pemain Chelsea Tak Berotak

    London - Florent Malouda tampkanya benar-benar mulai tak kerasan di Chelsea. Belum lama melemparkan kritikan, kini rentetan keluhan seputar porsi latihan, urusan diet, koneksi telepon serta kemacetan, dilontarkannya. Rekan satu timnya sendiri bahkan turut dituding tak berotak.

    Belum genap seminggu Malouda mengungkapkan kekesalannya kepada The Blues akibat urusan taksi dan pesawat terbang, kini keluhan lain sudah dikemukakan pemain yang didatangkan dari Lyon pada musim panas lalu itu.

    "Latihan di sini sangat menakutkan. (Latihan) Itu tak ada bedanya dengan pertandingan," ketus Malouda dilansir Daily Mail, Selasa (4/12/2007).

    Lebih jauh lagi, Malouda bahkan melempar ejekan buat para pemain Chelsea. "Sepertinya otak semua orang menjadi mati dalam pertandingan sebenarnya. Mereka bermain dengan insting, spontan, seperti ketika orang pertama kali menemukan permainan sepakbola."

    Winger asal Prancis itu juga melemparkan kritik buat Chelsea yang dinilainya sama sekali tak memerhatikan urusan diet pemain. Alhasil, asupan makanan dan minuman para pemain "Si Biru" pun tak terkontrol. "Anda bisa mengonsumsi apapun sesukanya, seperti minum Coke atau apapun. Untungnya saya ke sini pada usia 27 jadi tidak mengikuti program diet pemain lain."

    Bukan hanya persoalan seputar klub yang bikin Malouda senewen, keadaan di kota London pun tak luput jadi sasaran kekesalan. "Saya baru pasang saluran telepon. Di sini segala sesuatu tidak sesederhana seperti di Prancis. Anda tak bisa datang ke sebuah toko dan barang itu langsung siap keesokan harinya," sergah dia.

    "Tak jarang lalu lintas di London seperti siput, jadi terkadang saya harus naik Tube (kereta bawah tanah, red). Saya tak mau menghabiskan seluruh hidup saya terjebak macet, (jadi) saya menelepon taksi untuk beli makan. Atau saya menyewa seorang supir beserta mobilnya untuk membawa saya beserta anak-anak pergi jalan-jalan."

    Menjelang periode Natal dan Tahun Baru, Inggris dikenal memiliki jadwal yang padat jika dibandingkan dengan kompetisi sepakbola di negara Eropa lainnya. Hal itu juga turut bikin Malouda bete. "Saya sudah diingatkan tentang periode Natal di sepakbola Inggris. Kedengarannya buruk sekali!"

    Tak pindah saja, Malouda? (krs/a2s)

  • Hak Moral, Indikasi Asal, dan Hak Kebudayaan

    CAKEP
    Hak Moral, Indikasi Asal, dan Hak Kebudayaan

    rEFLEKSI: Apakah untuk moral dibutuhkan hak ataukah kewajiban? Bagaimana komentar Anda?

    PIKIRAN RAKYAT
    Selasa, 04 Desember 2007

    Hak Moral, Indikasi Asal, dan Hak Kebudayaan

    Oleh Miranda Risang Ayu

    Belum lama berselang, saya mengunjungi penggiat sekaligus pewaris batik pekalongan. Begitu saya mengatakan maksud saya untuk meneliti kemungkinan penguatan perlindungan atas batik mereka selain dengan Hak Cipta, kontan keluhan berhamburan.

    Puluhan tahun silam, sejumlah pebatik pekalongan diundang ke Malaysia untuk memeragakan kebolehannya membatik. Dengan hati bersih dan kebanggaan naif untuk turut mengharumkan nama bangsa, mereka memenuhi undangan itu. Akan tetapi, orang Malaysia itu murid yang bukan hanya pintar, tapi juga cerdik. Begitu memahami seluk-beluk pembuatan dan pengayaan corak khas batik pekalongan, mereka membuat pola-pola desain tersendiri dengan motif floral dan warna yang mirip sekali dengan batik pekalongan. Hasil "kreasi" itulah yang kemudian didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual mereka.

    Pemerintah Kota Pekalongan bereaksi dengan mendata berbagai corak batik khas Pekalongan lalu mendaftarkannya ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual di Tangerang. Kini, puluhan corak batik asal Pekalongan telah "diamankan" melalui perlindungan Hak Cipta.

    Tentu saja, pendaftaran itu tidak serta-merta menghapus hak para pendaftar di Malaysia. Masalahnya, mereka sudah lebih awal mendaftarkan "kreasi" batiknya, yang kini mulai dikenal luas di mancanegara sebagai batik malaysia. Tampaknya, mereka juga dapat membuktikan bahwa corak batik karya mereka memiliki orisinalitas tertentu yang beda dengan batik pekalongan.

    Dalam Hak Cipta, kreasi independen dua seniman yang mirip memang bisa sama-sama mendapat perlindungan, selama dapat dibuktikan bahwa kreasi itu tidak dihasilkan dari niat buruk mencontek. Apalagi kalau "contekan" itu berasal dari karya seni tradisional yang memang masih sulit dilindungi secara menyeluruh oleh sistem Hak Kekayaan Intelektual yang kini umum berlaku, yang umumnya diturunkan dari Perjanjian Internasional TRIPS 1994 (Agreement on Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights 1994).

    Milik bersama

    Mengapa bisa begitu? Argumen hukum yang paling mudah disodorkan adalah, karena kebanyakan karya tradisional sudah jadi milik umum. Agar dapat dilindungi, harus jelas lebih dulu siapa penciptanya. Padahal sulit menemukan individu pencipta karya seni tradisional. Kalaupun bisa, sering kali penciptanya sudah meninggal lebih dari 50 tahun lalu. Padahal, perlindungan Hak Cipta rata-rata hanya berlaku sepanjang hidup pencipta ditambah 50 tahun. Lebih dari jangka waktu itu, karya itu harus dianggap sudah menjadi milik umum.

    Kalaupun hukum Hak Cipta nasional sekarang telah melakukan terobosan dengan memungkinkan pemerintah mengambil alih pengelolaan hak untuk kepentingan pencipta yang tidak diketahui identitasnya, jangka waktu perlindungannya juga rawan perdebatan.

    Alhasil, batik pekalongan, angklung sunda, "Rasa Sayange", dan reog ponorogo, jika tampil murni sebagai karya tradisional tanpa "sentuhan baru" dari individu yang masih hidup, juga adalah kekayaan tradisional yang sudah jadi milik bersama. Inilah yang membuat perlindungan Hak Cipta yang kini berlaku bisa saja bicara, tetapi tidak banyak.

    Hak moral

    Hak Cipta juga meliputi Hak Moral. Hak Moral tercantum dalam Konvensi Bern dengan Malaysia dan Indonesia terikat di dalamnya. Hak Moral bukan hak ekonomi, tetapi ada untuk melindungi integritas ciptaan serta hak pencipta untuk tetap dicantumkan namanya, sekalipun ia sudah tidak lagi memiliki hak untuk menerima keuntungan ekonomi dari ciptaannya.

    Ahli perlindungan Hak Kekayaan Intelektual dan Hak Kebudayaan berdarah Aborigin Australia, Terri Janke menyatakan, Hak Moral sesungguhnya juga bisa dipakai, tidak hanya untuk melindungi integritas seorang pencipta dengan karyanya, tetapi juga integritas puluhan kelompok masyarakat pemangku tradisi Aborigin Australia dengan kekayaan tradisional mereka (Terri Janke dalam Sam Garkawe et.al, 2001).

    Jadi minimal, jika ada reproduksi atau pemakaian baru dari karya-karya tradisi mereka, izin harus tetap dimintakan dan nama kelompoknya juga harus tetap disertakan. Karena karakter Hak Cipta merupakan hak individu, yang terjadi kemudian biasanya, seorang seniman Aborigin yang telah memiliki otoritas dari kaumnya, membuat karya berdasarkan tradisi mereka. Lalu, ketika karya itu diumumkan, ia mencantumkan namanya sekaligus nama daerah atau kelompok masyarakat Aborigin yang memberinya otoritas, sebagai satu kesatuan pemilik.

    Hak atas Indikasi Asal

    Selain itu, ada juga potensi perlindungan lain yang ditawarkan hukum, yakni perlindungan terhadap tanda, nama atau indikasi asal suatu barang, yang disebut perlindungan Indikasi Asal. Perlindungan ini terdapat dalam Perjanjian Paris untuk Perlindungan Hak Kekayaan Industrial 1883 (The Paris Convention for Protection of Industrial Property of 1883). Perjanjian internasional tersebut melindungi hak-hak kekayaan intelektual selain Hak Cipta. Sama dengan Konvensi Bern, perjanjian itu juga mengikat Malaysia dan Indonesia. Perjanjian Paris melarang setiap barang beredar dengan menggunakan Indikasi Asal yang salah atau menyesatkan.

    Dalam hukum nasional Indonesia, Indikasi Asal sebetulnya juga telah diatur. Sayangnya, pengaturannya hanya merupakan bagian kecil dari UU No. 15 Tahun 2001 tentang Merek. Itu membuat penafsiran umum yang sempit di kalangan pakar hukum nasional, jika ada pembicaraan soal Indikasi Asal, pasti yang dibicarakan "hanyalah" sejenis merek dagang seperti Nike, Channel atau Prada.

    Umumnya, lagu, tari-tarian, atau karya-karya artistik lain, memang bukan objek langsung dari Hak Merek, tetapi Hak Cipta. Jadi, belum apa-apa, sudah timbul persepsi bahwa penghubungan perlindungan Indikasi Asal dengan karya-karya tradisional yang berwujud karya-karya seni itu sudah "salah" dari awal.

    Padahal, perlindungan Indikasi Asal tidak sesempit itu. Jika Indikasi Asal diartikan sebagai bagian dari Indikasi Geografis dalam arti luas, hanya saja belum didaftar, sejarah dan akar budaya setempat, termasuk tradisi pembuatannya, justru adalah salah satu syarat utama perlindungan, di samping faktor alamiah lainnya.

    Perlindungan ini juga tidak mensyaratkan orisinalitas sekualitas Hak Cipta atau tingkat invensi setinggi paten. Yang "hanya" perlu dibuktikan adalah, suatu nama yang disandang oleh barang atau karya material terkait punya karakter yang unik, yang berasal dari pengaruh faktor alam dan sejarah budaya setempat. Jadi, perlindungan atas Indikasi Geografis, termasuk Indikasi Asal, betul-betul menjunjung karakter lokal.

    Singkatnya, perlindungan Indikasi Geografis dan Indikasi Asal, sesuai namanya, memang hendak melindungi dan menghormati "tempat asal" karya yang sebenarnya.

    Menariknya, kepemilikan Indikasi Asal yang kini umum ditemukan dan diakui banyak negara, justru adalah kepemilikan kolektif dan bukan individual. Selain itu, sekali dilindungi, waktu perlindungannya akan berlangsung terus-menerus, selama kualitasnya terjaga. Yang perlu dilakukan hanyalah memastikan bahwa karya terkait sudah bisa disebut barang. Artinya, sudah ada dalam bentuk material, misalnya kaset.

    Selain itu, karya itu pun masih terbukti tetap dirawat, dikembangkan, dan menjadi ekspresi identitas kelompok masyarakat yang tinggal di daerah itu sebagai suatu kesatuan wilayah (cluster). Karena Indikasi Asal cakupannya paling luas, maka kesatuan wilayah itu bisa saja mencakup satu kota atau desa, beberapa desa yang bersebelahan dalam suatu provinsi, sebuah pulau dalam suatu negara, dan bahkan wilayah suatu negara. Contoh mudah, di dalam dompet atau tas Strandbag, salah satu merek terkenal Australia, biasanya juga terdapat keterangan Made in China, Imported by Strandbag, Australia. Keterangan Made in China itulah Indikasi Asal.

    Kasus keju Feta

    Kasus keju tradisional Feta mungkin adalah kasus paling menarik sekaligus kontroversial tentang "perebutan" tempat asal satu produk kekayaan tradisi. Feta adalah keju putih dari kambing atau domba yang selama ratusan tahun dihasilkan produsen lokal di Yunani. Keju ini kemudian terkenal ke mancanegara dengan nama tradisionalnya, Feta. Dalam bahasa Yunani, Feta berarti irisan. Nama tradisional itu secara tidak langsung mengaitkan produk dengan asal daerahnya, yakni Yunani. Karena terkenalnya, keju itu kemudian diproduksi juga di Perancis, Denmark, dan Jerman.

    Awalnya, nama Feta telah dianggap menjadi milik umum, setidaknya di daratan Eropa. Tetapi kemudian, kasus bergulir terus dan penelitian ilmiah, termasuk survei konsumen terbaru, yang diadakan untuk menentukan apakah nama itu sudah betul-betul menjadi milik umum di wilayah Eropa (generik) pada pertengahan tahun 2005, tampil dengan hasil mengagetkan.

    Ternyata, ciri khas keju tradisional Feta, baik dari segi tradisi pembuatan maupun asosiasi di benak sebagian besar konsumen, menunjukkan bahwa Feta masih berakar kuat di Yunani. Maka, dengan besar hati, produsen keju Feta di Perancis, Denmark, dan Jerman harus menghentikan produksi mereka. Paling tidak, mengganti sebagian unsur produksi mereka, termasuk pemakaian nama Feta yang terkenal itu, dalam jangka waktu lima tahun sekaligus mengembalikan kontrol atas produk itu kepada produsen lokal di Yunani.

    Hak Kebudayaan

    Kekayaan tradisional juga merupakan Hak Kebudayaan. Menurut Kovenan Internasional Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya yang telah diratifikasi Indonesia, Hak Kebudayaan adalah Hak Asasi. Hak Kekayaan Intelektual bisa dikatakan sebagai bagian dari Hak Kebudayaan karena kesamaan objek. Apalagi, jika objek itu juga sudah jelas terkait dengan Hak Atas Identitas, yakni sebagai salah satu faktor penentu identitas kultural. Menariknya, penegakan Hak Kebudayaan sebagai hak kolektif menuntut peran aktif pemerintah.

    Pemerintah wajib mengambil langkah konkret, tanpa menunda, melindungi, mengisi, dan menegakkan Hak Kebudayaan itu. Jika tidak, identitas suatu kelompok budaya, yang merupakan sumber kekuatan mental kolektif, akan runtuh juga. Dalam konteks Hak Kebudayaan, Indonesia sebetulnya sudah meratifikasi kovenan tersebut, sedangkan Malaysia belum.

    Singkatnya, Hak Moral, Hak Indikasi Awal, dan Hak Kebudayaan dapat dipakai untuk tetap mempertahankan kekayaan budaya Indonesia. Untuk menghormatinya, pemerintah Indonesia harus lebih tegas dan seluruh masyarakat Indonesia pun harus lebih banyak belajar.

    Masyarakat negara tetangga pun, terutama Malaysia, harus turut serta belajar. Proses pembelajaran ini tidak mudah, tetapi merupakan kemestian. Jika tidak, integritas bangsa dan harmoni hubungan antarsesama bangsa serumpun akan menjadi taruhannya.* **

    Penulis, esais, dosen Fakultas Hukum Unpad Bandung, dan kandidat Doktor di Law Faculty, University of Technology Sydney, New South Wales, Australia

    POSITIONING DIRI

    Anda bisa membantu membentuk diri yang sukses di dalam dengan memposisikan diri berdasarkan kesadaran akan mindset sukses dan rasa syukur yang besar. Sangat sulit bagi setiap orang untuk menilai diri sendiri dengan objektif karena sering kali perasaan-perasaan subjektif sangat dominan. Bisa saja Anda menilai diri sebagai seorang yang ber-mindset positif dan pemberani, namun bisa saja tindakan-tindakan Anda banyak yang didasarkan oleh perasaan takut dan khawatir. Ini sangat sering saya jumpai.

    Sekarang mari kita menciptakan suatu citra diri yang baru. Lepaskan segala macam pengenalan diri yang telah Anda akui sebagai diri sendiri. Lepaskan stigma-stigma yang secara tidak sadar Anda bawa ke mana-mana, seperti; "anak kampung", "janda kembang," "anak yatim", "perawan tua", "perjaka tua", "orang bodoh", "kurang berpendidikan" , dan lain-lain. Gunakan kesempatan ini untuk mengeksplor hal-hal yang baru dan citra-citra yang lain. Dengan sadar pandanglah diri Anda sebagai sepotong kertas putih yang bisa Anda lukis sendiri. Dalam istilah pemasaran, ini adalah positioning and branding. Seperti apa posisi maupun brand yang ingin Anda sampai kepada dunia?

    Tanggalkan segala perasaan sungkan, malu, dan kurang percaya diri. Tanamkanlah anggapan bahwa Anda orang yang serba bisa. Dengan mindset sukses yang sudah disadari penuh (lihat tulisan saya lainnya), sudah waktunya Anda memberikan objektif (tujuan) dalam posisi yang tercermin di dalam citra (brand) Anda. Apa maksudnya? Ingat ada tiga elemen: tujuan, posisi, dan citra.

    Supaya memudahkan, saya beri contoh diri saya sendiri. Tujuan paling tinggi dari hidup saya adalah menjadi orang yang mewarisi legenda kebaikan (legacy) kepada generasi-generai penerus dengan perbuatan-perbuatan amal dan etika tertinggi. Tujuan hidup ini yang juga disebut sebagai objektif, mencakup lingkungan luar dan masyarakat yang memberi makna besar bagi semua perbuatan kita.

    Posisi saya artikan secara rileks sebagai profesi dan pilihan hidup saya yang saya jalankan sebaik mungkin hingga mencapai hasil yang melebihi rata-rata. Dalam Ilmu Pemasaran, positioning mencakup target audiens dari produk maupun jasa yang diperjual-belikan. Dalam konsep sukses yang dibahas dalam tulisan ini, positioning jelas juga mencakup lingkungan internal yang hendak Anda gauli secara intens. Dengan kata lain, jenis-jenis kelompok macam apa yang hendak Anda masuki di mana Anda akan dikenal sebagai diri yang sepenuhnya dan mampu menghasilkan diri yang melebihi rata-rata?

    Kurang lebih tujuh tahun yang lalu, saya banyak bergaul dengan para humanis dari berbagai negara dan mengidentifikasikan diri sebagai seorang pasifis (pacifist). Saat itu saya banyak melakukan kegiatan-kegiatan humanis sebagai seorang sukarelawan. Memang pada masa itu hanya itu yang ada di dalam pikiran dan perasaaan saya, apalagi setelah mengalami guncangan mental yang cukup dalam sebagai justifikasi perbuatan-perbuatan saya.

    Namun, hari ini adalah hari yang berbeda. Saya tidak lagi menjadi pelaku kegiatan-kegiatan humanis secara langsung. Melainkan, saya memilih untuk memberikan dukungan moral dan finansial semampu saya. Memang benar saya adalah seorang pasifis di dalam hati terdalam, namun positioning diri saya di dalam masyarakat telah bermetamorfosa. Saya yakin sumbangsih saya kepada dunia sama besarnya atau bahkan lebih besar lagi dengan posisi yang baru ini.

    Positioning yang tepat merupakan tanah yang subur untuk tumbuh menjadi pribadi dengan segala kelebihannya. Maka, sangatlah urgen untuk menemukan posisi yang tepat agar berkembang. Dengan memilih posisi sebagai motivator dan penggerak secara mental dan sekali-kali secara finansial pula, saya mempunyai tujuan lebih lanjut yang sangat jelas mengenai apa yang sedang saya kerjakan.

    Misalnya, segala bisnis yang saya jalankan akhirnya akan bermuara untuk memuaskan nurani yang pasifis ini. Saya memilih untuk memaksimalkan kesuksesan dari dalam agar bisa memberikan kontribusi lebih jauh di dalam masyarakat dunia, sekecil apa pun itu. Mengapa saya memilih untuk berbisnis? Ini akan saya bahas secara terperinci di dalam buku kedua saya akan diterbitkan bulan Februari atau Maret 2007.

    Jelas, saya tidak menyarankan Anda untuk mengikuti jejak saya 100 persen namun Anda pasti bisa mencerna bagian-bagian dari prinsip-prinsip yang dibahas di dalam tulisan saya tersebut untuk disesuaikan dengan situasi dan kondisi Anda sendiri. Khusus bagi saya sendiri, salah satu cara untuk memenuhi tujuan hidup (objektif) yang humanis dan melengkapi panggilan posisi di dalam masyarakat sebagai motivator mental dan finansial ternyata adalah dengan melakukan bisnis sebaik-baiknya dan sejujur-jujurnya. [jsb]

    * Jennie S. Bev adalah penulis, entrepreneur, dan pengajar yang bermukim di Kalifornia Utara. Ia telah menelurkan lebih dari 1.000 dan 60 buku di mancanegara

    Have a positive day!

    Amrozi Minta Dipancung

    Tiga terpidana mati bom Bali I 2002, Amrozi, Imam Samudra, dan Ali Ghufron alias Muklas minta dieksekusi secara pancung. Terpidana bom Bali yang menewaskan lebih dari 200 orang itu menganggap tata cara eksekusi mati yang diatur UU Nomor 2/1964 melalui eksekusi regu tembak ”Tidak Islami’’. Achmad Michdan dari Tim Pembela Muslim (TPM) mengatakan, permintaan Amrozi Cs akan ditindaklanjuti melalui pengajuan uji material (judicial review) di Mahkamah Konstitusi (MK).
    ‘’Draf pengajuannya sedang disusun. Kami segera mendaftarkannya ke MK,’’ kata Michdan saat dihubungi JPNN, Ahad (2/11).

    Melalui uji material, MK diharapkan dapat menggugurkan pemberlakuan UU itu. Selanjutnya, DPR kelak dapat mengamandemen dengan memasukkan eksekusi pancung sebagai salah satu pilihan tata cara pelaksanaan hukuman mati.

    Selain sesuai dengan syariat, lanjut Michdan, eksekusi pancung lebih cepat mematikan daripada eksekusi dengan cara ditembak. ‘’Urat kematian itu dekat dengan leher, sehingga pemancungan akan lebih cepat mematikan,’’ jelas Michdan. Sebaliknya, eksekusi dengan cara ditembak membuat terpidananya mengalami siksaan luar biasa.

    Menurut Michdan, berbagai upaya uji material bukan dalih kliennya untuk menunda pelaksanaan eksekusi. ‘’Kami hanya ingin menegakkan hak-hak seorang terpidana,’’ jelas Michdan lagi.

    Selain mengajukan uji material, Michdan mengulas banyaknya kejanggalan di balik proses sidang Peninjauan Kembali (PK) kliennya. Salah satunya transparansi dalam sidang, khususnya pemenuhan hak-hak kliennya.

    ‘’Saya hanya satu kali dipanggil mengikuti persidangan. Selain itu, kami menganggap aneh, lokasi persidangannya harus digelar di Denpasar. Padahal, klien kami berada di Nusakambangan,’’ ujar pengacara yang berhobi mengenakan songkok haji itu.

    Michdan menambahkan, majelis seharusnya memberlakukan standarisasi dalam sidang PK. “Mereka seharusnya mengaca pada sidang PK yang dapat digelar sesuai dengan lokasi klien saya (Abu Bakar Baasyir, red) berada,’’ jelas Michdan. Demikian juga sidang PK Tommy Soeharto yang tidak harus dilaksanakan di PN Jakarta Pusat, tetapi dapat diselenggarakan PN Cilacap -sesuai dengan permintaan Tommy.

    Menurut Michdan, dengan adanya diskriminasi tersebut, tak berlebihan jika sidang PK Amrozi dkk melanggar prinsip-prinsip due process of law -yang menjadi roh transparansi sidang kasus-kasus pidana. ‘’Kalau ini dibiarkan, klien kami dapat menjadi korban persidangan yang tidak prosedural. Selanjutnya, bisa ditebak, bagaimana legalitas putusannya,’’ kata Michdan.(agm/ roy/uli)

    Bongkar-Pasang Sukses

    Transfer policy dan praktik bongkar-pasang Atletico Madrid pada awal musim rupanya dianggap sukses oleh pihak manajemen. Presiden Enrique Cerezo malah mengaku puas atas cara mereka membelanjakan uang hasil penjualan mantan kapten Fernando Torres ke Liverpool.

    Atleti sempat diperkirakan bakal limbung sepeninggal El Nino. Namun, mendekati jeda musim dingin, Los Indios ternyata masih baik-baik saja di Primera Division: bertengger di peringkat enam dengan koleksi poin tak terpaut jauh dari para penghuni Top 5.

    Musim lalu Los Rojiblancos justru sering panik dan kedodoran di kandang sendiri. Namun, kini penyakit tersebut mulai teratasi.

    Tercatat hanya satu kekalahan diderita pasukan Javier Aguirre di Vicente Calderon sejauh ini, yakni di jornada 11, dua pekan lalu. Ketika itu Atleti tumbang 3-4 dalam sebuah duel yang berlangsung terbuka dan amat seru.

    “Fernando Torres memang telah pergi,” kata Cerezo. “Namun, kami bisa menghadirkan pemain-penting macam Diego Forlan, Simao, dan Luis Garcia. Klub tak harus berutang ke mana-mana untuk membangun sebuah skuad hebat.”

    “Saya yakin kami telah mencapai itu,” ujarnya. “Kami sekarang semakin kuat. Skuad Atletico saat ini tak perlu lagi merasa iri kepada klub-klub lain.”

    Bijak

    Deposito 20 juta pound lebih hasil penjualan Torres dibelanjakan secara cukup bijak oleh Los Colchoneros, antara lain dengan menggaet Jose Antonio Reyes.

    Eks bintang Arsenal dan Real Madrid tersebut memang belum mendapat posisi reguler dalam skuad Atleti. Namun, Aguirre yakin potensi Reyes sebetulnya belum tergali seratus persen.

    “Ia pemain yang sangat dinamis dan eksplosif,” ucap entrenador asal Meksiko tersebut. “Ia dapat mencetak gol dan mengubah hasil pertandingan. Tapi, bukan hanya itu. Ia masih bisa menggeber performa dan menjadi pemain yang lebih hebat.”

    Salah satu pemain yang juga disanjung secara khusus oleh Aguirre adalah kapten tim, Maxi Rodriguez. “Ia sosok vital yang berpengaruh besar pada penampilan para pemain muda Atletico.”

    Musim lalu Atleti memperpanjang kontrak gelandang Argentina tersebut hingga 2010. Mereka juga menaikkan buyout clause-nya menjadi 40 juta pound.

    Kepemimpinan Maxi berhasil mendongkrak kinerja para youngster, khususnya striker Sergio Aguero. So, pihak klub bersiap menyodori perbaikan nilai kontrak. Tujuannya jelas: membuat Maxi betah di Vicente Calderon. (Barry Manembu)

    Menikmati Madrid Baru

    Jadi nomor satu wajib hukumnya buat Real Madrid. Tapi, sekadar bertengger di puncak tanpa permainan atraktif tidaklah cukup di mata Ramon Calderon. Nah, musim ini, Presiden El Real tersebut mengaku menemukan apa yang selama ini ia cari.

    Musim lalu, di era Fabio Capello, Los Blancos memang berhasil menyalip dan merebut tahta yang dikuasai Barcelona. Namun, Calderon tetap tidak puas. Ia menginginkan titel sekaligus entertaining football. Karena itu Don Fabio pun harus merelakan kursi empuknya diduduki Bernd Schuster.

    Sejauh ini Calderon mengaku menikmati suguhan Madrid baru ala Schuster. Ia bahkan sudah berani sesumbar kepada Barcelona, rival utama mereka.

    “Saya senang menyaksikan gaya bermain Madrid di bawah arahan Schuster. Saya melihat para pemain dengan sikap lain. Jauh berbeda ketimbang para pemain yang bermukim di sini beberapa tahun silam,” tutur Calderon kepada Tribal.

    “Saya suka melihat penampilan Robinho, Raul Gonzalez, Iker Casillas, dan Sergio Ramos. Kami akan mengikuti jalur ini dan saya bisa pastikan bahwa sukses sudah di depan mata.”

    Calderon hanya tertawa ketika El Barca disinggung-singgung para jurnalis sebagai tim yang juga mengalami peningkatan ketimbang musim lalu.

    Kecemburuan

    Calderon mafhum bahwa style dan metode mantan arsitek Getafe itu bukannya tak mengundang reaksi maupun kritik. Namun, ia mengaku tak terpengaruh dengan itu semua.

    “Ada banyak kecemburuan,” ujarnya. “Gaya permainan kami terbukti membuat Raul lahir kembali. Itu menyenangkan hati publik Bernabeu. Yang muncul kemudian adalah perasaan iri di hati para seteru kami.”

    Calderon menegaskan bahwa kiper Casillas takkan meninggalkan klub ibu kota tersebut. Penjaga gawang utama timnas Spanyol itu sempat dihubung-hubungkan dengan Tottenham. Pelatih baru Juande Ramos berminat memboyongnya ke White Hart Lane.

    “Tak ada peluang untuk mengeluarkan Casillas dari klub ini. Tidak dengan angka 25 juta pound, 250 juta pound, atau bahkan 2,5 miliar pound,” kata sang presiden. “Uang di dunia ini tidak cukup untuk membeli kiper terbaik di dunia.” (bry)

  • Gadis Cacat Mental Digilir Lima Berandal

    :crazy:
    Senin 3 Desember 2007, Jam: 20:23:00

    BOGOR (Pos Kota) – Siswi SMP menderita keterbelakangan mental, digilir lima lelaki berandal di Desa Jampang, Kemang, Bogor. Kasus tersebut terungkap setelah diketahui korban tengah hamil tiga bulan.

    Nasib naas tersebut dialami DK, 14, warga Gang Palem, Desa Jampang, Bogor, tiga bulan lalu. Terbongkarnya kasus ini berawal dari korban yang kerap mengeluh lantaran rasa sakit di alat vitalnya.

    Merasa curiga, Ny. Euis, 39, ibu korban bersama Saptadji 35, Kaur Trantib Desa Jampang langsung membawanya ke RSUD PMI Bogor. Awalnya korban tidak mau mengaku apa yang telah dialaminya, namun gadis ini tidak dapat menyangkal setelah diketahui dirinya tengah hamil 3 bulan.

    Diungkapkan DK, ia telah diperkosa oleh lima lelaki berandal. Tidak hanya sekali ia harus memenuhi nafsu bejat mereka. “Mereka berulang kali memperkosa saya, kadang di rumah pada saat ibu pergi, kadang juga saya diajak ke semak-semak kebun singkong,” ungkap DK dengan suara lirih.

    ABG yang masih duduk di bangku SMP ini, mengaku takut melaporkan kejadian itu lantaran para pelaku kerap mengancam mau membunuhnya.

    Sementara itu Ny. Euis masih terlihat shock dengan apa yang telah dialami anak semata wayangnya dan berharap para pelaku lekas tertangkap.

    Kapolsek Kemang, AKP Karta Atmadja mengatakan, para pelaku sedang dikejar.

    Mudah bagi Jerman dan Kroasia

    Jakarta - Dibanding grup-grup lain di putaran final Euro 2008, grup B bisa dibilang adalah grup yang paling gampang ditebak. Jerman dan Kroasia diunggulkan untuk lolos ke perempatfinal.

    Selain Jerman dan Kroasia, grup B ini juga diisi oleh Austria selaku tuan rumah. Selain itu, masih ada Polandia yang ikut menghuni grup ini.

    Jerman tampil sebagai tiga juara dunia dan tiga kali juara Eropa. Julukan sebagai tim spesialis turnamen makin membuat Der Panzer tampil sebagai unggulan. Tak hanya untuk lolos ke babak selanjutnya, namun juga untuk menjuarai turnamen empat tahunan ini.

    Bermaterikan pemain-pemain yang relatif sama dengan mereka yang mengantar Jerman ke posisi tiga Piala Dunia 2006, tim racikan Joachim Loew ini diprediksi takkan kesulitan untuk mengamankan tiket ke delapan besar.

    Persaingan keras untuk Jerman kemungkinan besar datang dari Kroasia. Dari segi keikutsertaan, negara pecahan Yugoslavia ini memang baru berpartisipasi di tahun 1996. Tapi melihat perjalanan kualifikasi mereka, tim manapun layak gentar melihat kekuatan Vatreni saat ini.

    Kroasia datang ke Austria-Swiss dengan status juara grup E. Dua kali tim besutan pelatih Slaven Bilic ini membekuk Inggris. Kemenangan terakhir di Wembley, 21 November kemarin, bahkan membuat Inggris tak mampu lolos ke Euro 2008.

    Bagaimana dengan Austria dan Polandia?

    Austria lolos ke putaran final ini dengan menyandang status sebagai tuan rumah sehingga tak harus berpeluh di kualifikasi. Kelolosan ini adalah yang pertama sejak mereka melaju ke putaran final Piala Eropa 1964 yang digelar di Spanyol.

    Tak bertarung di kualifikasi membuat Austria tidak teruji. Namun dukungan penuh dari publik tuan rumah bisa membalikkan semua prediksi. Bisa jadi motivasi tim asuhan Josef Hickersberger itu akan membumbung dan membuat mereka mampu melahirkan kejutan.

    Sementara itu, Polandia hadir ke putaran final sebagai debutan. Inilah kali pertama tim berjuluk Bialo-czerwoni (putih-merah) ini lolos ke ajang tertinggi sepakbola Eropa tersebut.

    Tidak berpengalamannya skuad racikan Leo Beenhaker itu akan jadi titik lemah utama. Namun melihat bahwa Ebi Smolarek dkk lolos dengan status juara grup A di penyisihan (di atas tim kuat Portugal), Polandia justru tidak boleh diremehkan.

    Potensi kejutan dari tim yang menjalani debut tetap ada. Polandia harus belajar dari pengalaman Kroasia saat sukses menempati posisi ketiga di Piala Dunia 1998. Padahal saat itu mereka datang ke Prancis sebagai tim debutan.

    Foto: Lukas Podolski (Jerman) diunggulkan lolos dari Grup B (AFP/Torsten Silz) (arp/key)

Footer:

The content of this website belongs to a private person, blog.co.uk is not responsible for the content of this website.