Search blog.co.uk

Saatnya Kembangkan Industri Hilir Sawit

by jakarta @ 2008-03-31 - 13:36:22

Oleh : Taufan I. D.

Melihat rumput tetangga yang lebih hijau dari milik sendiri memang membuat kita heran dan timbul hasrat sesegera mungkin untuk menghijaukan rumput sendiri, minimal sama hijaunya dengan punya tetangga. Akan tetapi, kita jarang berpikir bagaimana rumput tetangga itu bisa lebih hijau. Mungkin sikap seperti itu dapat dianalogikan dalam pengembangan industri hilir kelapa sawit di Indonesia saat ini. Pemerintah tampaknya baru menyadari bahwa industri hilir sawit Indonesia jauh tertniggal dibandingkan Malaysia si tetangga.

Suatu ironi memang bila membandingkan industri hilir sawit Indonesia dengan Malaysia. Bagaimana tidak, Malaysia kini tidak lagi semata-mata ekspor dalam bentuk CPO, tetapi tidak kurang dari 90% CPO-nya sudah diolah dan diekspor dalam bentuk oleo pangan maupun oleo kimia. Walaupun akhir-akhir ini memang ekspor CPO-nya kembali meningkat, tetapi sebenarnya bukan langkah sembarangan, karena ekspor CPO itu untuk memasok kebutuhan pabrik pengolahan milik pengusaha Malaysia yang ada di Belanda. Hal ini dilakukan untuk menyiasati kebijakan Eropa yang menaikkan bea masuk bagi produk industri hilir sawit.

Sekedar untuk diketahui, produksi CPO Indonesia pada tahun 2006 telah mencapai 15 juta ton dan yang diekspor mencapai 11,5 juta ton. Dari jumlah ekspor tersebut, sekitar 60% dalam bentuk oleo pangan (olein, stearin, dll) dan hanya sekitar 600-700 ribu ton dalam bentuk oleo kimia dan sisanya tetap dalam bentuk CPO. Malaysia lebih unggul dalam hal ini, dari 13,5 juta ton ekspor CPO-nya, sekitar 90% sudah dalam bentuk oleo pangan maupun oleo kimia. Dalam eskpor oleo kimia, Malaysia jauh lebih unggul dengan jumlah lebih dari 2 juta ton dibandingkan Indonesia yang baru mencapai 700 ribu ton.

Beberapa waktu lalu, pemerintah berniat mengembangkan industri hilir kelapa sawit. Tujuannya, mungkin biar tidak ketinggalan kereta dibandingkan dengan saudara serumpunnya. Alih-alih dapat mengembangkan industri hilir, yang terjadi malah pemerintah menaikkan pajak ekspor CPO dan menetapkan kuota ekspor CPO yang katanya dapat menekan laju naiknya harga minyak goreng dalam negeri. Kebijakan tersebut jelas-jelas tidak efektif karena sampai saat ini harga minyak goreng masih tinggi dan berfluktuasi.

Belum jelas benar dasar apa yang digunakan sehingga dua pilihan tersebut diterapkan. Sebenarnya, menaikkan pajak ekspor CPO ujung-ujungnya akan menekan harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani. Selain itu, menaikkan pajak CPO sama saja mengurangi daya saing sawit Indonesia di pasar internasional. Padahal, untuk mengalahkan Malaysia justru daya saing kita di pasar internasional harus ditingkatkan.

Penetapan kuota ekspor CPO juga bukan Indonesia yang menikmatinya. Hal ini karena harga lokal tertekan, sedangkan harga CPO dunia melambung tinggi (seperti yang diungkapkan Ibu Ida Kartini dalam Pontianak Post, 11 Maret 2008) seiring berkurangnya pasokan akibat dari pembatasan ekspor CPO Indonesia. Yang menikmati naiknya harga itu adalah negara-negara pengekpor CPO lainnya terutama Malaysia.

Adalah benar bahwa harga minyak goreng dalam negeri perlu ditekan dan industri hilir sawit perlu dikembangkan. Namun, kebijakan yang diambil hendaknya sedapat mungkin tidak merugikan industri hulu. Terlebih lagi, sebagian besar pelaku industri hulu adalah petani yang tidak lain adalah golongan yang seharusnya lebih diperhatikan dalam memutuskan suatu kebijakan.

Dengan ditingkatkannya pajak ekspor dan penetapan kuota ekspor, pemerintah bermaksud agar pasokan CPO untuk industri hilir dalam negeri tidak terganggu. Namun yang menjadi permasalahan, apakah industri hilir di dalam negeri sudah siap. Bahkan yang dikhawatirkan, industri hilir tidak sanggup menampung pasokan CPO dalam negeri yang melimpah.

Permasalahan utama industri hilir sawit bukan pada harga dan pasokan CPO, tetapi lebih banyak pada efisiensi industri hilir sawit itu sendiri. Untuk itu, masih banyak cara yang bisa mengefisienkan industri hilir tersebut selain pajak ekspor dan kuota ekspor. Pemerintah dituntut untuk lebih kreatif terutama dalam menyusun insentif-insentif fiskal yang dapat merangsang dan mendorong investor terjun ke industri hilir sawit. Beberapa terobosan yang dapat dilakukan misalnya memberikan keringanan bea masuk untuk peralatan pabrik, keringanan pajak bagi industri hilir dalam kurun waktu tertentu, dan menyediakan infrastruktur.

Disamping itu, pemerintah diharapkan mampu menggairahkan pasar produk olahan dalam negeri. Menurut Dr. Darnoko, peneliti senior dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan (dikutip dari Agro Observer) “Pemerintah seharusnya bisa berinisiatif mengembangkan pasar oleo kimia dalam negeri dengan menargetkan penggunaan oleo kimia untuk industri deterjen misalnya”.

Yang sangat disayangkan, sampai hari ini, pemerintah dinilai belum mempunyai perencanaan ataupun blueprint mengenai pengembangan industri hilir sawit. Pengembangannya harus memperhatikan semua aspek, apakah infrastrukturnya sudah memadai, bagaimana insentifnya, dan bagaimana penerapannya. Pentingnya perencanaan atau blueprint pengembangan industri hilir sawit agar begitu diputuskan dalam suatu kebijakan, semua pihak sudah siap melaksanakannya.

Takut ketinggalan kereta boleh-boleh saja, tetapi kebijakan yang diterapkan haruslah tidak merugikan salah satu pihak. Sedapat mungkin kebijakan yang diterapkan menguntungkan semua pihak.*

*

Perjanjian Ekstradisi RI-CHINA Dipastikan Tahun Ini

Maret 29th, 2008 in International |

Beijing ( Berita ) : Perjanjian ekstradisi Indonesia dengan China dipastikan akan ditandatangani tahun ini mengingat pembahasannya sudah rampung dan tinggal menunggu kesepakatan waktu menteri luar negeri (menlu) kedua negara.

“Semuanya (naskah perjanjiannya. red) sudah selesai dibahas, tinggal kapan kedua menlu bisa bertemu dan menandatangani perjanjian ekstradisi tersebut,” kata Dubes RI untuk China Sudrajat, di Beijing, Sabtu [29/03] .

Tempat penandatangan perjanjian ekstradisi, katanya, bisa dilakukan di Indonesia atau di China tergantung kapan kesempatan kedua menlu bisa bertemu pada waktu yang tepat.

Dubes mengatakan, sekalipun kedua menlu sama-sama sibuk dengan urusannya masing-masing namun penandatanganan perjanjian ekstradisi dipastikan akan ditandatangani tahun ini juga.

Ia mengatakan akan ada beberapa kali kegiatan bilateral yang melibatkan menlu kedua negara, baik di Indonesia maupun di China, dapat bertemu dan dalam pertemuan itu kemungkinan akan “disisipkan” penandatanganan ekstradisi.

Seperti dengan rencana “ASEM Summit” yang akan berlangsung di Beijing, tanggal 24-25 Oktober 2008, yang akan dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Perjanjian ekstradisi tersebut merupakan bentuk kerja sama dari aspek hukum antara kedua negara terkait dengan salah satu pilar Kerja sama Strategis yang ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Hu Jintao, pada April 2007.

Berbagai bentuk kerja sama RI-China selama ini telah berkembang baik tidak saja dari aspek ekonomi, tapi juga dari aspek politik dan keamanan. “Tahun lalu saja kedua negara telah menandatangani kerja sama pertahanan oleh masing-masing menteri pertahanan dan akan mengambil langkah-langkah konkret ke depan,” katanya.

Pemerintah Indonesia dan Pemerintah China pada 7 November 2007 di Beijing, sepakat melakukan kerja sama bidang pertahanan sebagai tindak lanjut dari Kerjasama Strategis yang ditandatangani oleh presiden kedua negara.

Penandatanganan kerja sama pertahanan kedua negara dilakukan oleh Menhan Juwono Sudarsono dengan Menhan China Cao Gangchuan.

Menurut Dubes Sudrajat, kedua menteri telah menandatangani kerja sama di berbagai bidang pertahanan, diantaranya kerjas ama di bidang kelembagaan, kerja sama di bidang teknologi, serta bidang pendidikan dan latihan. “Kedua menhan telah membuat payung kerja sama dan tentunya nanti akan ada tindak lanjut dengan pola dialog, pola seminar yang intinya kedua negara sepakat melaksanakan kegiatan bidang pertahanan,” kata Dubes Sudrajat.

Dalam kerja sama itu, katanya, juga dimungkinkan adanya pembelian senjata yang masuk dalam bidang kerja sama bidang teknologi. ( ant )Parlemen Etnis India
Riau Rawan Sindikat Narkoba Internasional →

Perjanjian Ekstradisi RI-CHINA Dipastikan Tahun Ini

Beijing ( Berita ) : Perjanjian ekstradisi Indonesia dengan China dipastikan akan ditandatangani tahun ini mengingat pembahasannya sudah rampung dan tinggal menunggu kesepakatan waktu menteri luar negeri (menlu) kedua negara.

“Semuanya (naskah perjanjiannya. red) sudah selesai dibahas, tinggal kapan kedua menlu bisa bertemu dan menandatangani perjanjian ekstradisi tersebut,” kata Dubes RI untuk China Sudrajat, di Beijing, Sabtu [29/03] .

Tempat penandatangan perjanjian ekstradisi, katanya, bisa dilakukan di Indonesia atau di China tergantung kapan kesempatan kedua menlu bisa bertemu pada waktu yang tepat.

Dubes mengatakan, sekalipun kedua menlu sama-sama sibuk dengan urusannya masing-masing namun penandatanganan perjanjian ekstradisi dipastikan akan ditandatangani tahun ini juga.

Ia mengatakan akan ada beberapa kali kegiatan bilateral yang melibatkan menlu kedua negara, baik di Indonesia maupun di China, dapat bertemu dan dalam pertemuan itu kemungkinan akan “disisipkan” penandatanganan ekstradisi.

Seperti dengan rencana “ASEM Summit” yang akan berlangsung di Beijing, tanggal 24-25 Oktober 2008, yang akan dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Perjanjian ekstradisi tersebut merupakan bentuk kerja sama dari aspek hukum antara kedua negara terkait dengan salah satu pilar Kerja sama Strategis yang ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Hu Jintao, pada April 2007.

Berbagai bentuk kerja sama RI-China selama ini telah berkembang baik tidak saja dari aspek ekonomi, tapi juga dari aspek politik dan keamanan. “Tahun lalu saja kedua negara telah menandatangani kerja sama pertahanan oleh masing-masing menteri pertahanan dan akan mengambil langkah-langkah konkret ke depan,” katanya.

Pemerintah Indonesia dan Pemerintah China pada 7 November 2007 di Beijing, sepakat melakukan kerja sama bidang pertahanan sebagai tindak lanjut dari Kerjasama Strategis yang ditandatangani oleh presiden kedua negara.

Penandatanganan kerja sama pertahanan kedua negara dilakukan oleh Menhan Juwono Sudarsono dengan Menhan China Cao Gangchuan.

Menurut Dubes Sudrajat, kedua menteri telah menandatangani kerja sama di berbagai bidang pertahanan, diantaranya kerjas ama di bidang kelembagaan, kerja sama di bidang teknologi, serta bidang pendidikan dan latihan. “Kedua menhan telah membuat payung kerja sama dan tentunya nanti akan ada tindak lanjut dengan pola dialog, pola seminar yang intinya kedua negara sepakat melaksanakan kegiatan bidang pertahanan,” kata Dubes Sudrajat.

Dalam kerja sama itu, katanya, juga dimungkinkan adanya pembelian senjata yang masuk dalam bidang kerja sama bidang teknologi. ( ant )

~

“Orang-orang yang Optimis adalah yang benar. Demikian pula halnya dengan mereka yang pesimis. Terserah kepada Anda untuk memilih ingin menjadi bagian dari kelompok yang mana”.

Hidup ini perjuangan, kata orang-orang. Kita harus berjuang untuk memenuhi setiap tantangan dan tuntutan yang datang kepada kita. Perjuangan tersebut tidak akan pernah berhasil selama kita menganggap bahwa kita telah gagal sebelum berusaha - kita telah kalah sebelum berperang. Justeru, hal tersebut tidaklah dapat disebut sebagai suatu perjuangan; karena, apa yang Anda sedang perjuangkan jika Anda sudah merasa tidak memiliki peluang untuk menang? Bagaimana anda dikatakan telah menempuh perjuangan ketika langkah Anda masih terpaku disitu?Kondisi demikian bisa kita katakan sebagai sikap yang pesimis, malas untuk berjuang dan takut untuk menang – sikap yang hanya dimiliki oleh para pecundang!

Jika ditanyakan kepada mereka – yang gagal dalam kehidupannya – apa penyebab munculnya sikap-sikap negatif tersebut, niscaya mereka akan memberikan 1001 alasan yang – dalam kacamata mereka – sangat masuk akal. Ketika kita bertanya kepada para pengangguran yang sekian lama belum memperoleh pekerjaan, misalnya, mereka biasa berdalih : “Jaman sekarang memang susah, persaingan mencari pekerjaan semakin berat... Jika ingin diterima bekerja kita harus punya kenalan ‘orang dalam’…Memang belum rejeki, kali... [dan seterusnya.. dan seterusnya.. .]”. Begitulah, para pecundang itu sudah cukup tenang dengan hanya memberikan sekumpulan alasan ‘logis’ tentang keadaan mereka.

Kita nampaknya tak dapat berbuat banyak untuk mengubah pola pikir, sikap dan pandangan mereka jika mereka telah lebih dulu menyerah pada keadaan dan menyerahkan nasibnya pada penafsiran realitas yang mereka temui. Mengapa? Karena mereka telah memilih menjadi orang yang gagal, orang yang mudah menyerah, dan merasa tak lagi memiliki harapan untuk mewujudkan impiannya. Mereka telah menjadi orang yang pesimis dalam menjalani hidup. Mereka telah menyerah pada takdir –yang mereka buat sendiri. Dan, mereka hanya selalu menanti keajaiban untuk mengubah keadaan mereka –suatu impian utopis yang berlebihan. Namun, anehnya, mereka tetap merasa tidak bersalah – minimal merasa risih – atas keadaan nahas yang mereka alami. Mereka merasa sudah berbuat yang seharusnya, dan mengira bahwa mereka sudah berbuat yang benar. Tragis! Mereka sudah mengungkung dirinya dalam penjara persepsi yang mereka bangun sendiri. Mereka telah membawa kehidupannya (serta masa depannya) ke padang gersang yang kering kerontang. Kasihan...

Di lain pihak, kita melihat orang-orang yang begitu bersemangat menjalani hidupnya... Mereka selalu antusias, energik dan penuh gairah dalam setiap pekerjaan yang mereka lakukan. Mereka adalah orang-orang yang memandang hidup dan masa depannya dengan OPTIMIS, tanpa dihantui keragu-raguan dan ketakutan akan ancaman kehidupan yang mungkin menerjang. Mengapa mereka bisa seperti demikian? Karena mereka telah memilih untuk menjadi pemenang, yang gigih berjuang, diliputi oleh harapan dan keyakinan yang kuat untuk menyongsong impiannya.

Mereka menjalani hidup ini dengan penuh percaya diri, berbekal sikap mental yang positif. Mereka berusaha membuat takdir sejalan dengan keinginannya. Dan, mereka senantiasa bekerja keras dengan tekun dan semangat serta penuh dedikasi untuk mengubah (atau memperbaiki) keadaan mereka. Mereka tak mau berharap pada “keajaiban”, “mukjizat” yang berdasarkan pada mitos dan apatisme sesat. Mereka menganut pragmatisme logis yang diikuti dengan idealisme murni yang mencerahkan.

Uniknya, mereka selalu mau memperbaiki dirinya dari kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuatnya, serta senantiasa merasa tidak tenang atas “kenyamanan-kenyaman an” yang ada –anti kemapanan. Yang ada di benak mereka adalah bagaimana mereka mampu mempersembahkan hasil yang terbaik dalam setiap kerja-karya yang mereka lakoni. Dan itu semua sebisanya mereka wujudkan melalui poros kejujuran, kebenaran dan keadilan. Menakjubkan ! Mereka bagaikan burung yang terbang bebas di hamparan alam yang luas dalam taman kehidupan yang penuh warna. Mereka laksana pelukis abadi, yang menorehkan prestasi demi prestasi berharga di atas kanvas kehidupan yang mewah. Bukan main....

Demikianlah adanya... Orang-orang yang menganut paham fatalistis-skeptis – yakni selalu “menyerah” dan bersikap pesimistik – akan menjalani kehidupan yang sengsara dan kering dari makna. Mereka telah merugikan dan mencelakakan dirinya sendiri, karena telah menempuh jalan kehidupan yang sesat! Adapun mereka yang mengikuti paham pragmatis-idealis – yakni selalu ingin berbuat, bekerja dengan antusias diikui oleh sikap optimistik dan keyakinan hakiki serta kebijaksanaan (wisdom) – akan mendapati kehidupan yang bahagia dan penuh warna. Mereka adalah orang-orang yang beruntung – dan menguntungkan orang lain – akibat meniti jalan kehidupan yang lurus lagi bersih.

Well, kini, terserah kepada kita, apakah kita akan menjadi orang yang celaka, ataukah bahagia?! “Dan Kami telah tunjukkan padanya dua jalan” (Qur'an).

Dua Pendeta Muda

Dua orang pendeta muda datang menghadap pendeta senior. Mereka mempunyai keinginan yang sama dan berniat meminta izin kepada seniornya..

Pendeta muda pertama berkata:

1. Bapa, bolehkan saya makan ketika berdoa…?

“Tidak”, tegas sang pendeta senior, “Berdoa adalah hal yang suci. Bagaimana mungkin anda berbicara dengan Tuhan di saat mulut penuh makanan ?”

Sesaat kemudian, datanglah pendeta yang kedua. Ia meminta hal yang sama dan mengucapkan.

2. Bapa, bolehkan saya berdoa ketika makan?

“Oh, Tentu saja”, jawab sang pendeta senior, “Anda dapat bertemu dengan Tuhan kapan saja”.

Dua pertanyaan diatas, kelihatan sama, ternyata menghasilkan jawaban yang berbeda…

Pada konteks yang pertama, penekanannya terletak pada kata MAKAN, yang kedua pada kata BERDOA.

Kisah di atas menunjukan, bahwa penekanan pada kata-kata yang salah dapat memberikan hasil yang berbeda.

Penerapan pada bisnis …

Biasanya, orang lebih mengingat kata yang pertama didengar. Jadi, ucapkan terlebih dahulu kata yang Anda ingin lawan bicara anda mendengarkannya.

Tips ini dapat Anda gunakan saat berbicara dengan atasan, pelanggan, client, supplier atau siapa saja …

Saya telah mempraktekannya dalam penjualan… semoga bermanfaat…

The Emperor's Seed
« on: March 25, 2008, 12:36:25 PM »

An emperor in the Far East was growing old and knew it was time to choose his successor. Instead of choosing one of his assistants or his children, he decided something different.

He called young people in the kingdom together one day. He said, "It is time for me to step down and choose the next emperor. I have decided to choose one of you."

The kids were shocked! But the emperor continued. "I am going to give each one of you a seed today, one very special seed. I want you to plant the seed, water it and come back here one year from today with what you have grown from this one seed. I will then judge the plants that you bring, and the one I choose will be the next emperor!"

One boy named Ling was there that day and he, like the others, received a seed. He went home and excitedly told his mother the story. She helped him get a pot and planting soil, and he planted the seed and watered it carefully.

Every day he would water it and watch to see if it had grown. After about 3 weeks, some of the other youths began to talk about their seeds and the plants that were beginning to grow. Ling kept checking his seed, but nothing ever grew. 3 weeks, 4 weeks, 5 weeks went by. Still nothing.

By now, others were talking about their plants but Ling didn't have a plant, and he felt like a failure. 6 months went by; still nothing in Ling's pot. He just knew he had killed his seed. Everyone else had trees and tall plants, but he had nothing.

Ling didn't say anything to his friends. He just kept waiting for his seed to grow. A year finally went by and all the youths of the kingdom brought their plants to the emperor for inspection.

Ling told his mother that he wasn't going to take an empty pot but his Mother said he must be honest about what happened. Ling felt sick to his stomach, but he knew his Mother was right.

He took his empty pot to the palace. When Ling arrived, he was amazed at the variety of plants grown by the other youths. They were beautiful, in all shapes and sizes. Ling put his empty pot on the floor and many of the other kinds laughed at him. A few felt sorry for him and just said, "Hey nice try."

When the emperor arrived, he surveyed the room and greeted the young people. Ling just tried to hide in the back. "My, what great plants, trees and flowers you have grown," said the emperor. "Today, one of you will be appointed the next emperor!"

All of a sudden, the emperor spotted Ling at the back of the room with his empty pot. He ordered his guards to bring him to the front. Ling was terrified. "The emperor knows I'm a failure! Maybe he will have me killed!"

When Ling got to the front, the Emperor asked his name. "My name is Ling," he replied. All the kids were laughing and making fun of him. The emperor asked everyone to quiet down.

He looked at Ling, and then announced to the crowd, "Behold your new emperor! His name is Ling!" Ling couldn't believe it. Ling couldn't even grow his seed. How could he be the new emperor?

Then the emperor said, "One year ago today, I gave everyone here a seed. I told you to take the seed, plant it, water it, and bring it back to me today. But I gave you all boiled seeds, which would not grow. All of you, except Ling, have brought me trees and plants and flowers. When you found that the seed would not grow, you substituted another seed for the one I gave you.

Ling was the only one with the courage and honesty to bring me a pot with my seed in it. Therefore, he is the one who will be the new emperor!"

If you plant honesty, you will reap trust.
If you plant goodness, you will reap friends.
If you plant humility, you will reap greatness.
If you plant perseverance, you will reap victory.
If you plant consideration, you will reap harmony.
If you plant hard work, you will reap success.
If you plant forgiveness, you will reap reconciliation.
If you plant openness, you will reap intimacy.
If you plant patience, you will reap improvements.
If you plant faith, you will reap miracles.

But:

If you plant dishonesty, you will reap distrust.
If you plant selfishness, you will reap loneliness.
If you plant pride, you will reap destruction.
If you plant envy, you will reap trouble.
If you plant laziness, you will reap stagnation.
If you plant bitterness, you will reap isolation.
If you plant greed, you will reap loss.
If you plant gossip, you will reap enemies.
If you plant worries, you will reap wrinkles.
If you plant sin, you will reap guilt.

So be careful what you plant now, it will determine what you will reap tomorrow.

The seeds you now scatter will make life worse or better your life or the ones who will come after. Yes, someday, you will enjoy the fruits, or you will pay for the choices you plant today.


 
 

Trackback address for this post:

authimage

Comments, Trackbacks:

No Comments/Trackbacks for this post yet...

Comments are closed for this post.

Footer

The content of this website belongs to a private person, blog.co.uk is not responsible for the content of this website.